cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,224 Documents
Eontemporary Islamie Renewal in Indonesia Azumardi Azra
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 59 (1996)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1996.3459.41-58

Abstract

Artikel ini memfokuskan perhatianya pada kajian tentang kebangkitan Kembali dan reinvigurasi Islam dalam kehidupan soeial dan politik di Indonesia sebelum membahas masalah tersebut  Azvumardi Azra mengemukakan serangkaian kebijakan Pemerintah yang keres terhadap umat Islam sehingga menyebabkan terjadinva ketegangan dan konflik antara pihak yang perama dengan pihak yang kedua Di bidang politik, kebiiakan-kebijakan pemerintah sangat ketat  dan keras berkaitan dengan penolakannya terhadap rehabilitasi partai Masyumi, pembersihan terhadap Mereka yang diasosiasikan sebagai penganut politik gerakan Darul Islam/tentara Islam Indonesia, penumpasan gerakan 'Komando Jihad' dan penangkapan terhadap para penentang kebijakan asas tunggal Paneasila.kebijakan pemerintah ini terkesan seolah-olah telah terjadi proses 'depolitisasi' Islam di Indonesra Di bidang kehidupan sosial keagamaan, Pemerintah juga mengambil sikap, ketat dan kebiiakan keras, yang serupa terhadap umat Islam. Hal ini misalnya dapat di lihat dari kebijakan pemerintah ketika mengajukan RUUP (Rancangan Undang-Undang Perkawinan) ke DPR pada tahun 1973. Yang di pandang oleh umat Islam sebagai muatan sekuler karena tidak mengindahkan nilai-nilai perkawinan yang Islami. Kebijakan lain yang diambil Pemerintah adalah mengakui secara resmi dan memasukkan aliran kepercayaan ke dalam GBHN. Yang ditanggapi oleh kalangan lslam sebaqai telah menempatkan aliran kepercayaan itu setingkat dengan agama. Secara pelan tetapi pasti, keadaan tersebut di atas mulai berubah pada akhir tahun 1980-an menyusul penerimaan kebijakan asas tunggal oleh umat Islam. Menurut penulis, faktor-faktor internasional dan domestik telah ikut memberikan kontribusi terhadap terjadinya perubahan ini " Artikel ini lebih mengkonsentrasikan  untuk menyoroti indikator-indikator internal bagi munculnya Kembali lslam kultural ini dapat disebut antara lain  pembentukan Yayasan Amal Bhakti muslim Pancasila, pengiriman da'i ke daerah-daerah transmigrasi, pembentukan Bank Mu'almalat. Maraknya pembentukan kelompok-kelompok remaja maslid, merebaknya kajian-kajian Islam di berbagai kampus Perguruan tinggi, Meningkanva jumlah umat lslam yang menunaikan haji dan berkembangnya aktivitas-aktivitas dakwah dan pengajian-pengajian baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan para birokrat dan para eksekutif. Reinvigorasi Islam di bidang politik ditandai dengan pembentukan ICMI (lkatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia) yang pendirianya mendapat persetujuan dan restu dari Presiden Soeharto sendiri Banvak tokoh-tokoh ICMI yang mendapatkan posisi-posisi penting dalam jabatan politik dan pemerintahan. Indikator-indikator di atas, dalam pandangan penulis, merupakan tanda-tanda yang baik bagi kebangkitan Kembali islam untuk menuju kearah kebangkitan yang sebenarnya adalah bagaimana menghilangkan. paling tidak mengurangi  anggapan entusiasme agama dan praktik-praktik sosial pada dataran kehidupan nyata. Hal ini penting disadari oleh umat Islam. karena masih banvak praktik yang tidak Islami yang harus dihadapi dan ditanggulangi oleh mereka seperti korupsi. ketidakadilan, penvalahgunaan kekuasaan. dan etos sertadisiplin kerja yang lemah. Oleh karena itu, menurut penulis, jika umat Islam benar-benar serius untuk membangkitkan kembali lslam dan umatnya, mereka harus membangun suatu korelasi yang lebih baik antara entusiasme agar mereka dengan kerja-kerja sosial pada dataran kehidupan nyata. Jika tidak, revivalisme Islam dalam arti yang sesungguhnya hanya akan merupakan suatu illusi.
Wanita dan Proses Industrialisasi Susiloningsih Kuntowijoyo
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 42 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.042.81-97

Abstract

Gejala proses industrialisasai di negara kita, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan peradaban modern akhir-akhir ini, semakin kentara. Naiknya tingkat taraf hidup masyarakat pada sepuluh dasa warsa terakhir ini mulai dapat dilihat. Kemudahan-kemudahan masyarakat pada sepuluh dasa watsa terakhir ini mulai dapat dilihat. Kemudahan-kemudahan masyarakat dengan adanya peralatan hasil teknologi modern, misalnya alat-alat rumah tangga, tranportasi, pertaniaan, mulai dapat dirasakan. Itulah proses perubahan social dari masyarakat agraris menuju masyarakat Industri. Namun kenyataannya juga, proses perubahan social itu membawa juga dampak social budaya berupa perubahan bentuk dari system nilai, pola piker, serta sikap hidup dan prilaku masyarakat yang terjadi secara evolotif. Dampak social budaya dalam proses industrialisasi dapat terjadi apabila suatu bangsa kurang memiliki landasan pemikiran yang kuat. Landasan pemikiran merupakan syarat mutlak  bagi setiap perubahan besar-besaran di Indonesia ini. (Prof. Soedjito S.SH.MA., Transformasi Sosial, 1986, Hal.79). dampak social yang timbul dalam masyarakat antara lain munculnya sikap individualistis, yang berlawanan dari ciri khas masyarakat antara lain munculnya sikap individualistis, yang berlawanan dari ciri khas masyarakat agraris yang memiliki sakap gotong royong. Di samping itu sikap menuju masyarakat industry juga dapat menimbulkan sikap hidup kwantitatif, kompetitif, serta konsumtif, yang merupakan akibat dari proses obyektifasi manusia. Pada perkembangan selanjutnya sikap hidup tersebut akan menumbuhkan pola piker rasionalitas dan pragmatis, yang kemudian akan berkembang kepada sikap hidup  matrealistis. Keadan selanjutnya akan mendorong timbulnya filsafat hidup non-metafisis, yang hanya mementingkan unsur materi, tidak ada penekanan pada hubungan antar manusia dengan tuhan dan manusia dengan manusia, yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa ‘hampa jiwa’ pada manusia.
Robin G. Collingwood dan Karyanya the Idea of History A. Munir Umar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.1-52

Abstract

R.G. Collingwood adalah seorang ahli filsafat terkemuka, terutama dalam bidang filsafat sejarah. Padamasa hayatnya dia adalah Guru Besar dalam bidang filsafata metafisika yang dijabatnya dari tahun 1935 sampai dengan tahun 1941 di Universitas Oxford Inggris. Namun pada masa Hidupnya dia tidak begitu terkenal, tetapi setelah meninggal tahun 1943, barulah para ahli sejarah mengakui kehebatannya didalam bidang sejarah dan mereka merasa berhutang budi kepadanya. Tulisan-tulisannya yang berupa makalah-makalah yang disampaikannya didalam ceramah-ceramah, diterbitkan secara anumerta sehingga para ahli menamakan bukunya ini sebagai”one of the great voices of oure time”sebagai suatu pemikiran besar pada masa sekarang ini. Collingwood menganggap ide modern terhadap sejarah dimulai pada masa Herodotus sampai kepada masa sekarang ini. Baginya sejarah bukanlah apa yang dapat dibaca dari buku-buku dan dokumen-dokumen, karena itu hanya merupakan keinginan dari orang sekarang. Dalam pemikiran ahli sejarah adalah apabila dia memberikan kritik dan intepretasi dokumen-dokumen itu, yang dengan demikian memberikan bayangan baginya mengenai ciri-ciri dari pemikiran-pemikiran yang diselidikinya. Mengingat banyaknya minat dari ahli filsafat dan ahli sejarah terhadap uraiaannyaini, maka buku ini secara anumerta disunting dan disusun oleh Professor T.M. Knox yang sekaligus juga memberi kata pengantar.disamping itu Collingwood juga mempunyai karyanya yang lain yaitu The Principles of Art, The Idea of Nature dan An Autobioraphy, yang kesemuanya diterbitkan di Oxford University Press. Secara singkat T.M. Knox menjelaskan bahwa dari keseluruhan makalah yang pernah disajikan oleh Collingwood dalam masalah filsafat sejarah, pada mulanya dibagi menjadi dua: 1. Mengenai ide modern yang berkembang semenjak Herodotus sampai abad ke 20. 2. Gambaran-gambaran filsafat mengenai sifat, isi, dan metode sejarah. Dari dua buku yang direncanakannya itu, maka buku kedua yang berjudul The Principles of History ditulisnya tahun 1939 ketia dia berada di jawa. Didalam buku ini diuraikannya mengenai ciri sejarah sebagai suatu ilmu khusus, kemudian dihubungkannya dengan ilmu-ilmu lain, terutama ilmu filsafat dan ilmu alam yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
The Dialogue Decalogue: Ground Rule Interreligious, Interideological Dialogue Leonard Swidler
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.141-145

Abstract

Dialogue is a conversation on a common subject between two or more persons with differing views, the primary purpose of which is for each participant to learn from the other so that he or she can change and grow. This very definition of dialogue embodies the first commandment of dialogue. In the religious-ideological sphere in the past, we came together to discuss with those differing with us, for example, Catholics with Protestants, either to defeat an opponent, or to learn about an opponent so as to deal more effectively with him or her, or at best to negotiate with him or her. If we faced each other at all, it was in confrontation-sometimes more openly polemically, sometimes more subtly so, but always with the ultimate goal of defeating the other, because we were convinced that we alone had the absolute truth. But dialogue is not debate. In dialogue each partner must listen to the other as openly and sympathetically as he or she can in an attempt to understand the other's position as precisely and, as it were, as much from within, as possible. Such an attitude automatically includes the assumption that at any point we might find the partner's position so persuasive that, if we would act with integrity, we would have to change, and change can be disturbing. 
Post Modernisme Perspektif Pemikiran Kultural Keagamaan M. Masyhur Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.104-109

Abstract

Dunia pemikiran biasanya dihadapkan kepada dua kubu yang dikhotomis, yaitu tradisionalisme dan modernism, baik yangmenyangkut pemikiran keagamaan maupun social budaya. Tradisionalisme diidentikkan dengan sikap budaya dan pemikiran keagamaan yang konservatif, tertutup, kurang menghargai waktu, percaya pada tahayul, lamban dalam mengantisipasi perubahan, dan sebgainya. Sementara itu, modernism diidentikkan dengan progress, terbuka, menghargai waktu, mempunyai perencanaan program yang matang, melihat kedepan, cepat mengantisipasi perubahan, dan seterusnya. Ada kesan, seakan-akan tradisionalisme itu lambing keterbelakangan, sementara modernism lambing kemajuaan, tanpa melihat lebih dalam, filosofi yang melatari pemikiran tradisionalisme dan modernism itu, bahkan juga buta terhadap kebaikan yang terdapat dalam tradisionalisme dan kelemahan modernism.
Religious Courts In Indonesia: Judicial Development and Islamic Revival Ratno Lukito
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.203-223

Abstract

Salah satu fenomena yang paling menonjol pada pasca era kolonialisme  di sebagian besar negara-negara Islam di dunia adalah semakin meningkatnya gerakan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Islam, sebagaimana yang biasa didengungkan dengan slogan "Kembali kepada Qur'ān dan Sunnah." Pada dataran politis, hal ini tidak lain merupakan tindak lanjut dari kesadaran untuk kembali membangun identitas diri setelah dasar-dasar filsafah hidup .mereka dirusak oleh nilai-nilai Barat. Muara aplikasi yang paling menonjol dari gerakan ini adalah usaha pembumian Kembali prinsip-prinsi Peradilan Islam Dalam latanan System peradilan Suatu negara. Fenomena tersebut Tampaknya juga Merembes ke Indonesia. Pengundanganbeberapa Peraturan baru yang menguntungkan umat Islam akhir-akhir ini, seperti Undang-undang nomor 1/1989 tentang Pengadilan Agama dan Keputusan Presiden tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, merupakan gambaran yang sangat jelas dari kebangkitan Islam di negeri ini. Sebagaimana yang terjadi pula di negara-negara Islam yang lain, pengundangan tersebut dapat dilihat sebagai respon terhadap kebutuhan kaum Muslimin untuk dapat merealisasikan ajaran Islam, khususnya dalam praktek system peradilannya. Perjalanan sejarah Institusi Pengadilan Agama di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda hingga tahun delapan puluhan menjadi gambaran yang jelas betapa ide untuk Kembali kepada kemurnian lslam sesungguhnya pada prakteknya tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan untuk juga mengadopsi nilai-nilai dari Barat. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan yang terjadi di masing-masing negara Islam (seperti apa yang bisa kita lihat dari perkembangan eksistensi Peradilan Agama di Mesir dan Pakistan), dimana sejauh apapun semangat untuk kembali kepada kemurnian Islam itu ada, mereka tetap tidak dapat membendung pengaruh system peradilan barat dalam praktek peradilan Islaminya. Kenyataan ini tentu saja juga didorong oleh factor intern masing-masing negara-negara Islam tersebut untuk beradaptasi dengan nilai-nilai local mereka. Dalam kasus peradilan agama di Indonesia, pengaruh nilai-nilai barat justru tampak begitu menonjol. Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa usaha peningkatan kualitas peradilan islam sebagai Langkah praktis dari ide kebangkitan islam  tersebut tidaklah berarti harus Kembali kepada model klasik pengamalan peradilan islam, tetapi pengapdopsian system barat justru dipandang sebagai Langkah terbaik untuk memenuhi kebutuhan umat Islam.
Ibn’ Arabi Adalah Seorang Mistik R Romdon
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 43 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.043.26-37

Abstract

Untuk menamakan Ibn'Arabi sebagai mistik, atau orang mistik, maka perlulah kiranya lebih dahulu dipastikan apa maksud mistik dan juga mistikisme. Untuk itu akan dilihat beberapa kamus dan juga encyclopedia. Dari sana akan diidentifikasi apa-apa saja kiranya aspek mistikisme itu. Mistikisme adalah kepercayaan atau pengalaman dari seseorang mistik, kepercayaan bahwa pengetahuan terhadap Tuhan atau kebenaran yang nyata dapat dicapai melalui meditasi atau kesadaran batin terleps dari akal pikiran.) Di situ yang dipersoalkan hanyalah pengetahuan tentang Tuhan atau hakekat segala sesuatu. jadi belum mempersoalkan menjadi Tuhan atau bersatu, menyatu dengan Tuhan. Tentang jalan mistik juga di situ baru menyebutkan jalan meditasi, belum atau tidak menyebutkan jalan atau cara yang lain. Berikut ini akan dikemukakan uraian dalam Dictionary of Philosophy.  Setelah dikemukakan uraiannya, seterusnya akan dicoba pula untuk memetic pokok-pokoknya. Mistikisme dalam arti yang paling sederhana dan pokok adalah suatu bentuk agama yang menekankan kesadaran yang langsung dan intim akan kehadiran Tuhan. Jadi merupakan agama pada taraf yang sangat kuat dan mendalam. Perkataan itu mempunyai asal-usul dari Mystery Religions. Pemeluk agama yang telah mengetahui segala rahasia dinamakan mystes. 
Reformasi, Birokrasi, dan Reorientasi Fakultas dan IAIN Suka Sebagai Organisasi Umiah dan Diniyah Jahdan Ibnu Humam Saleh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 48 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.048.82-93

Abstract

Sejarah peradaban manusia mengenal berbagai gerakan reformasi tidak hanya dalam lapangan politik sematia, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan agama. Pada umumnya orientiasi gerakan-gerakan itu bermaksud membangun struktur nilai dan norma baru, sebagai bentuk penyesuaian dengan struktur yang telah ada, atau membongkar konservatisme dalam berbagai bentuknya dan menggantikannya dengan yang baru sama sekali. Reformasi yang bermaksud merubah, menggantikan, memperbaiki secara radikal, guna memperoleh hasil yang jauh lebih baik di berbagai bidang kehidupan (sosial, sosial-ekonomi, politik, budaya, militer dan agama), pada akhirnya sulit untuk tidak mengesankan, bahwa hal itu merupakan gerakan msabaqoh. Essai Weber (18-1920) yang Sangat ma'ruf itupun terasa sulit untuk melepaskan kesan seperti disebut di atas, paling tidak hal itu merupakan hasil dari satu gerakan musabaqoh dalam bidang agama. Begitu pula dengan politik Al Mahdi (775-785), yang rupa-rupanya tepat untuk menggambarkan kelengkapan dari satu gerakan sebagaimana diterangkan itu. Sifat radikal di dalam bentuk reformasi mungkin sangat bijaksana jika tidak terburu-buru diartikan dengan tekanan makna yang negatif, sebagaimana ketergesa-gesaan di dalam setiap memberi arti konflik, baik itu konflik kepentingan, peranan maupun batin. Sungguh arif dan bijaksana seandainya muncul gagasan untuk mengartikannya sebagai upaya perbaikan untuk menghasilkan keadaan yang lebih baik secara mendasar setelah mencermati ketimpangan, kesimpangsiuran, kesalahfahaman, misinterpretasi, dan persepsi-persepsi sejenis lainnya.
Jalaluddin Rumi (604-672H/1207-1273M) S Subagyo
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.59-69

Abstract

Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair sufi terbesar dari Persia. Ia dilahirkan di kola Balkh pada tahun 604 H/l207 M. Menurut pengakuan keluarganya, nenek moyangnya berasal dari keturunan Arab; nasabnya bersambung hingga Abu Bakar al-Shiddiq Khalifah Islam yang pertama. Berkat tali perkawinan, keluarganya mempunya ikatan hubungan yang kuat dengan keluarga kerajaan Kwarizm. Faktor-faktor inilah yang menjadikan keluarganya mendapatkan kehormatan yang tinggi dari masyarakat pada waktu itu. Pada usianya yang ketiga tahun (607 H/1210 M), ayahnya Bahauddin Walad membawanya meninggalkan Balkh karena konfliknya dengan raja Muhammad Qutb al-Din Kwarizm shah menuju ke Nishabur. Di kota inilah keluarganya bertemu dengan Fariduddin Atthar dan ia diserahkan kepadanya. Konon, berdasarkan legenda, Atthar pada pertemuannya dengan. Jalaluddin yang petama kali itu meramalkannya, bahwa ia kelak akan menjadi scoring yang masyhur yang akan menyalakan api gairah ketuhanan di seluruh dunia, karena ia terpesona melihat sorot matanya dan benih kejeniusannya dan pada akhimya Atthar memberinya sebuah kitab tasawwuf Asrar Nama.  Di balik kisah legenda ilu, dapatlah diambil benang sarinya; yakni bahwa Jalaluddin secara faktual pernah menjadi anak angkatnya Faridduddin Atthar, berada dalam lingkungan kehidupannya. Pengalaman yang demikian, tentunya ikut membekali persepsi hidupnya dan membekali khazanah pengalaman kesufiannya di masa mendatang kehidupannya. Sebab bagaimanapun, pengalaman di masa kanak-kanak akan mermpunyai titik persambungannya di masa remaja dan orang tua.
The Writing of the Biography of Muhammad Barmawy Munthe
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.18-25

Abstract

Andrew Rippin says that, "biography   is a powerful mirror   for the reflection of the ideals, as well as the standards, of the age in which it is written, and thus may be seen to reflect the contemporary situation of its authors in the very construction of the facts which the work   intends to records".'  Also, biography   tend to idealize a person or his life and often serves a medium for expressing the ideas and ideals of the writer. Muhammad  has been a man about  whom  many studies  have been done. Discussion   on Muhammad   reflects   the image and   inspiration of writers whether they be medieval Muslims and Christians or modem   Muslims and modern scholars. Depending on the time to which different writers belong, the writing of biography of Muhammad has different trends which depend on the writer's backgrounds and interest or for different purposes   using different starting points. This paper examines some scholars' inequality ideas and ideals and their illustration on Muhammad on the different times they belong. It seems that medieval Muslim writers have discussed the biography of Muhammad in a mythical and apologetic view.  Among them that be becomes extraordinarily significant; as a Holy Prophet, as the Messenger of God and as the example of the ideal practice of the teachings of Islam.  Ibn Ishaq (702-767), in his The Life of Muhammad, says that being a messenger of God. Muhammad was a statesman and a great diplomat who established a good relationship with the Jews of Madinah and was victorious in many maghazis (wars) with the help of supernatural power. Ibn Ishaq provides  a richly embellished life of Muhammad   which concentrates on the many miracles which God made him perform, especially those in the early part of his life.

Page 90 of 123 | Total Record : 1224


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue