cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Pembangunan Pedesaan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 199 Documents
PENAMPILAN FENOTIP DAN BEBERAPA PARAMETER GENETIKA GENOTIP JAGUNG KOMPOSIT DI GORONTALO PERFORMANCE OF PHENOTYPE AND SOME GENETIC PARAMETERS OF COMPOSITE MAIZE GENOTYPE IN GORONTALO Rusliyadi, M. ; Azra, M.
Pembangunan Pedesaan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this research was to evaluate phenotypic performance and genetic parameter of yield character, yield components, and growth of composite maize in Gorontalo. Fourteen maize genotypes from Balitser and two comparer varieties were sown for evaluation from August 2007 up to November 2007 using a randomized block design with three replication. Result of the research indicated that seven genotypes gave higher yield than Sukmaragaocal (comparer-2), namely, MSK 2 (RSS) C5, MS - 1, MS 3, BK (HS) C2, MSJ 2 (RRS) C5, MSJ 1 (RRS) C6, and SATP - 1 (S2) C7. No genotypes produced lower yield than Lamuru (comparer-1). Two genotypes showed higher yield of 7 t ha , namely, MS - 1 (7.01 t ha) and MSJ 1 (RRS) C6 (7.33 t ha ). Values of coefficient of variance from all characters were lower except for downy mildew percentage. High heritability estimate was observed for 50% male and female flowering and downy mildew percentage while for other characters were medium category, except for ASI (Anthesis-silking interval). Ear placement and weight of 1,000 grain had significant and positive correlation with yield, while downy mildew percentages had negative correlation with yield.
EVALUASI KRITERIA KESESUAIAN SISTEM PERKEBUNAN KARET DI DAERAH KERINCI DAN SEKITARNYA EVALUATION OF SUITABILITY CRITERIA FOR THE RUBBER PLANTATION SYSTEM IN KERINCI AND ITS SURROUNDING AREA Nasrul, Besri; , Sudarsono; Ardiansyah, M.
Pembangunan Pedesaan Vol 5, No 3 (2005)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Identification of land characteristics to evaluate the rubber plantation system was carried out at the Kerinci and its surrounding area, Riau from May 2002 up to October 2003. The objectives of this research were to identify land characteristics of plantation system influencing its production and benefit value, and to compile criteria of site specific. Location was identified by the Land-sat 7 ETM+ band 347 RGB designed in the land use utilization type (LUT): garden and estate. In each LUT it was done by measurement of land characteristics, cost the inputs, and price the benefits. The land characteristics were evaluated by parametric method; the benefit value was calculated by benefit-cost ratio (BCR); the suitability criteria of site specific were compiled by cluster analysis. The results showed that the production suitability criteria were (kg wet rubber/ha/yr): I (2,062.28-2,099.56); II (1,523.44-2,062.28); III (996.88-1,523.44); IV (933.13-996.88), the economic suitability criteria were (BCR): I (2.44-2.58); II (1.83-2.44); III (1.51-1.83); IV (1.32-1.51), and would be determined by drainage, base saturation, exchangeable Al, and organic-C. These criteria could be used for evaluating suitability of the rubber plantation system at the Kerinci and its surrounding area.
DAMPAK KEGIATAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN (HPH) TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR DI KABUPATEN SIAK THE EFFECT OF FOREST COMMERCIAL RIGHT TOWARD SOCIOECONOMIC OF SIAK COMMUNITY Syahza, Almasdi
Pembangunan Pedesaan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Siak merupakan salah satu daerah di propinsi Riau yang memiliki potensi hutan yang cukup tinggi, sehingga banyak perusahaan yang mempunyai Hak Pengusahaan Hutan (HPH), melakukan kegiatan menggali potensi hutan. Penelitian yang merupakan Development Research ini bertujuan mengkaji dampak kegiatan HPH terhadap sosial ekonomi masyarakat sekitarnya, antara lain: terhadap lembaga ekonomi, mobilitas penduduk, pemilikan lahan, peluang usaha, kesempatan kerja, dan distribusi pendapatan masyarakat. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan HPH menyebabkan: semakin sempitnya lahan pertanian; berkurangnya pemilikan lahan bagi masyarakat tempatan; sering terjadi konflik, baik antara masyarakat tempatan dengan pendatang, maupun dengan perusahaan HPH; berkembangnya kegiatan penebangan kayu ilegal (illegal logging); serta tingginya mobilitas penduduk. Di sisi lain, kegiatan penebangan hutan dapat menciptakan peluang usaha, kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat sekitarnya, dan pertumbuhan ekonomi.
SELEKSI GENOTIPE KEDELAI HASIL MUTASI PADA GENERASI M2 TERHADAP TIGA LINGKUNGAN RAWAN SELECTION OF SOYBEAN GENOTYPES IN M2 MATATION GENERATION UPON THREE ENVIRONMETS STRESS Farid, Noor; , Suprayogi
Pembangunan Pedesaan Vol 2, No 3 (2002)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai ditanam di lahan kering mempunyai sejumlah kendala seperti kekeringan, kemasaman, salin dan kesuburan. Pada sejumlah mutasi dapat dihasilkan tanaman yang toleran lingkungan rawan biotik dan abiotik, sehingga ada harapan untuk memperoleh kedelai toleran tanah masam dan hasil tinggi. Penelitian bertujuan mendapatkan: (1) studi toleransi kedelai mutan M2 terhadap lingkungan rawan abiotik (kekeringan, masam (Al), dan salin) dan (2) mutan yang toleran lingkungan rawan abiotik (kekeringan, masam dan salin). Hasil penelitiana dalah: Ada perubahan toleransi terhadap lingkungan rawan abiotik (kekeringan, masam, salinitas) mutan kedelai yang dicoba. Mutan yang tergolong toleran terhadap li ngkungan: (a) kekeringan adalah MS2, MS3, MKl; (b) masam(Al) : MS2, MLl, ML2, ML3, MKI; dan (c) salinitas: MSl, MS2, MNl, ML2, MAl.
PENGENDALIAN HAMA KUBIS Crocidolomia pavonana F. MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT BUAH JERUK CONTROL OF THE CABBAGE PEST Crocidolomia pavonana F. BY USING ORANGE SKIN EXTRACT , Herminanto
Pembangunan Pedesaan Vol 6, No 3 (2006)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A research has been done to know effects of orange skin extract on mortality, development, fecundity, and fertility of the cabbage pest Crocidolomia pavonana. The results performed that purut extract could kill 26.67% larvae in laboratory condition, decrease feeding activity, inhibit feeding up to 44.70%, rd th increase developmental time of the 3 and 4 larval instars until 7.00 and 6.67 days. Tested extracts reduced numbers of pupae and adults emerged up to 73.33-85 and 68.33-78.33%. The purut orange skin extract was the most effective to decrease egg fertility and fecundity of female moths.
PENGINVENTARISAN KEARIFAN LOKAL DALAM PRAKTIK WANATANI KOPI DALAM DEBAT KELESTARIAN FUNGSI HIDRO-OROLOGIS WILAYAH RESAPAN DI LAMPUNG BARAT INVENTORY OF THE LOCAL KNOWLEDGE IN COFFEE AGROFORESTRY FOR SUSTAINABILITY DEBATE OF HYDRO-OROGICAL FUNCTION AT THE RECHARGE AREA IN WEST LAMPUNG Nurhaida1, Ida ; Hariyanto, Sugeng Prayitno; Bakri, Samsul; Junaidi, Akmal; Syah, Pairul
Pembangunan Pedesaan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data base provided for a bottom-up development communication program and for given farmer voice in a debate of recharge area function sustainability at West Lampung, was conducted by inventory to local knowledge of agroforestry practices in August up to September 2004. Based upon the tribe dominant existed in the areas, four villages have been chosen as the area of study, i.e., Way Mengaku (Lampungese), Sukananti (Semendonese), Sidomakmur (Javanese), and Fajar Bulan (Sundanese). Four or five informants from 25 farmers visited have been founded in each village. The survey also intended to observe physical, socioeconomical and cultural characteristic. The main result achieved was 1) The Tao of local knowledge in the agroforestry practices needed to be affirmed was (a) seed selection, planting space for both coffee and shading trees, and multi-strata planting system exist in four tribes; (b) minimum tillage and litter basalt ground covering (Lampungese and Semendonese); (c) legume cover cropping (Javanese); (d) tuakh sakhak (Lampungese), kapak kulai (Semendonese), pungkak and stek of both tribes as the practices of coffee crop rejuvenation; (e) sheep, chicken, goose, duck poultry (Lampungese, Javanese, and Sundanese); and (f) fishery existed in Sudanese tribe. 2) The wrong practices in coffee agroforestry that need to be halted were (a) land clearing, cutting tree in the forest, slash and burn that existed in four tribes; (b) intensive soil tillage (Javanese); (c) litter basalt removing from land surface (Javanese). 3) The custom and the habituation found such as ngumbai (Lampungese), tunggu tumbang (Semendonese), and the custom in determination of planting event based on part of crop anatomy (Lampungese) or the star revolution (Semendonese) did not need to be halted.
PROSPEK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DI DESA TUMIYANG KABUPATEN BANYUMAS (Studi Evaluasi Implementasi Program P2MPD) PROSPECT OF WOMEN EMPOWERMENT IN TUMIYANG VILLAGE OF BANYUMAS REGENCY (Evaluation Study of The Implementation P2MPD Program) Isna, Alizar; Firdaus, Syah
Pembangunan Pedesaan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan telah berpartisipasi secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan program P2MPD. Partisipasi perempuan tersebut tidak berawal dari kesadaran, tetapi lebih karena memenuhi ketentuan program dan pelaksana. Pada tahapan selanjutnya partisipasi perempuan telah dilandasi keinginan untuk belajar dan memenuhi kepercayaan pemilih. Faktor-faktor penghambat proses pemberdayaan perempuan adalah belum ada kesepakatan di antara para pelaksana program; mekanisme yang “memaksa” perempuan berpartisipasi sebagai anggota Tim Sembilan; masih besar peran aparatur desa dan pelaksana program; Program lebih berorientasi pada aspek fisik; masih besarnya orientasi pemerintah desa pada elit desa dan elit organisasi desa; kurangnya dukungan keluarga terhadap keterlibatan perempuan dalam kegiatan Tim Sembilan dan program P2MPD. Sedangkan faktor-faktor pendukungnya adalah ketegasan prinsip pemberdayaan perempuan pada program mampu mendorong partisipasi perempuan dalam Tim Sembilan dan pelaksanaan program P2MPD; anggota perempuan Tim Sembilan mempunyai kemauan untuk belajar.
TANGGAPAN BEBERAPA VARIETAS TERUNG TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI DAN PENGENDALIAN HAYATINYA DENGAN Pseudomonas fluorescens RESPONSE OF SOME VARIETIES OF EGGPLANT ON BACTERIAL WILT DISEASE AND ITS BIOCONTROL ASING Pseudomonas fluorescens Soesanto, Loekas; Utami, Darini Sri; Mawarni, Trini
Pembangunan Pedesaan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tanggapan beberapa varietas terung terhada p enyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia Solanacearum dan pengadilan hayatinya dengan Pseudemanos fluorescens, dilakukan dilaboratorium dan rumah kaca pandak, bantul, Jogjakarta. Penelitian in vitro dirancang dalam bentuk rancangan acak lengkap, dengan perlakuan antagonis P. fluorescen dihadapkan dengan R. soalanacearum dalam medium agar, dan diulang 10 kali, pengujian secara in planta dirancang dalam bentuk rancangan Acak kelompok, dengan factor yang dicoba :1) variates terung, yaitu marunasu, chunasu, mitonasu, dan kopek (control), dan 2) konsentrasi P. fluorescens, yaitu control, 106, 107, dan 108 upk/ml. setiap kombinasi perlakuan diulang 3x. variable yang diamati adalah zona penghambatan, masa inkubasi, intensitas penyakit, jumlah koloni P. flourescens. Tinggi tanaman, jumlah daun bobot basah tanaman, dan bobot kering tanaman, hasil penelitian menunjukan bahwa variates terung kopek (variates local)merupakan variates yang tahan dan diantara variates jepang. Mitonasu adalah variates yang tahan. Konsentrasi P. fluorescens yang efektif terhadap empat terung adalah 108 upk/ml, dengan intensitas penyakit yaitu 5,90 persen.
SERAPAN NITROGEN DAN BEBERAPA SIFAT FISIOLOGI TANAMAN PADI SAWAH DARI BERBAGAI UMUR PEMINDAHAN BIBIT ( NITROGEN UPTAKE AND SEVERAL PHYSIOLOGICAL CHARACTERS OF LOWLAND RICE FROM VARIOUS AGE SEEDLINGS) Faozi, Khavid; Wijonarko, Bambang Rudianto
Pembangunan Pedesaan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research was conducted to study the appropriate age seedlings and suitable nitrogen fertilizer dose for increasing physiological characters and lowland rice yield. The research was a pot experiment in a plastic house, Faculty of Agriculture, Unsoed Purwokerto, from May to September Factors tested were the age of seedlings, i.e., 7, 14 and 21 days, and dose of nitrogen fertilizers, i.e., 0, 150, and 300 kg urea/ha. Variables observed were nitrogen uptake, nitrate reductase activity (NRA) of leaves, leaf chlorophyll content, leaf greenness, plant growth rate (LPT), net assimilation rate (LAB), plant dry weight, grain weight per clump, and harvest index. Observation data were analyzed by F test to determine the diversity and followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT) and regression test at level 5% to determine the age of seedlings and the proper dose of nitrogen fertilizer. Result of the research showed that uptake of nitrogen in urea fertilizer treatment depended on the age of the seeds used. Age appropriate seed was 12.17 days with the weight of grain per clump maximum of 35.23 g. Fertilization of 300 kg urea/ha gave the best yield of 49.38 g of rice per clump compared to 150 kg urea/ha of 32.32 g or without fertilization of 16.42 g.
KARAKERITIK SELAI BUAH PALA: PENGARUH PROPORSI GULA PASIR, GULA KELAPA DAN NENAS , Karseno; Setyawati, Retno
Pembangunan Pedesaan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daging buah pala merupakan bagian terbesar dari buah pala segar yaitu 80%, namun baru sebagian kecil saja yang sudah dimanfaatkan. Selai pala merupakan alternatif pemanfaatan daging buah pala. Daya oles yang kurang merata dan selai yang tidak disukai merupakan kendala dalam pembuatan selai pala. Substitusi gula kelapa dan penambahan nenas bertujuan untuk memperbaiki daya oles dan rasa sehingga produk selai pala dapat disukai.Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menentukan proporsi yang tepat antara gula pasir dengan gula kelapa sehingga dihasilkan selai pala yang mudah dioleskan dan disukai; 2) menentukan proporsi yang tepat antara daging pala dengan nenas sehingga dihasilkan selai pala dengan warna coklat kekuningan dan disukai; 3) menentukan kombinasi perlakuan terbaik untuk menghasilkan selai pala dengan warna coklat kekuningan, aroma pala yang kuat, mudah dileskan dan disukai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penggunaan proporsi gula pasir dengan gula kelapa 25:75 menghasilkan selai pala dengan selai mudah dioleskan (3,17) dan tingkat kesukaan suka (3,33) .2) Penggunaan proporsi daging pala dengan nenas 7:3 menghasilkan selai pala dengan warna coklat tua (1,1) dan tingkat kesukaan suka. 3) Penggunaan proporsi gula pasir dengan gula kelapa 25:75 dan penambahan nenas dengan proporsi daging pala dengan nenas 7:3 merupakan kombinasi terbaik dengan warna coklat tua (1,1), aroma pala agak kuat (2,20), mudah dioleskan (3,17) dan tingkat kesukaan suka (3,33)