cover
Contact Name
Zaqlul Iqbal, STP, M.Si
Contact Email
zaqluliqbal@ub.ac.id
Phone
+62341580106
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang, 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 2656243X     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jkptb
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem (JKPTB) (ISSN: 2656-243X) has published the state-of-art articles which focus on both fundamental studies and applied engineering including Power and Agricultural Machinery, Mechatronics and Agro-industrial Machinery, Food and Post-Harvest Technology and Soil and Water Engineering. By providing an update issue and current topic in agricultural technology field, JKPTB becomes the reference for many scientist and stakeholders who work on Agricultural Engineering
Articles 423 Documents
Penggunaan Lindi Hitam Pada Proses Pretreatment Tandan Kosong Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis) Cahyono, Agung; Nugroho, Wahyunanto Agung; Kadarisman, Darwin; Muryanto, .
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.391 KB)

Abstract

Untuk mengurangi biaya produksi, larutan alkali bekas (lindi hitam, LH) yang diperoleh dari pretreatment tandan kosong kelapa sawit (TKKS) skala pilot plant pada kondisi optimal (NaOH 2,5 M; 150oC; 4 bar; 30 menit) dimanfaatkan sebagai pelarut pada pretreatment TKKS berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pretreatment TKKS berbasis alkaline explosion pretreatment dengan perlakuan penelitian meliputi rasio pelarut LH : NaOH 2,5 M (100% LH, 50% LH: 50% NaOH dan 30% LH: 70% NaOH) dan waktu pretreatment (30 menit, 45 menit dan 60 menit). Perbandingan massa TKKS dan volume pelarut adalah 1:5 (500 gram TKKS dan 2500 mL pelarut). Berdasarkan hasil penelitian, TKKS sebelum pretreatment mengandung 328,0 mg/g selulosa, 137,4 mg/g hemiselulosa, 301,6 mg/g lignin dan 22,3 mg/g abu. Perlakuan optimal didapatkan pada perlakuan 30% LH: 70% NaOH dan waktu pretreatment 30 menit  dengan kadar selulosa sebesar 261,31 mg/g dan kadar hemiselulosa serta lignin masing-masing sebesar 44,74 mg/g dan 55,54 mg/g. Kata kunci : Bioetanol, Delignifikasi, Lignoselulosa, Tandan Kosong Kelapa Sawitnocellulose, Empty Fruit Bunches
Uji Performansi Mesin "Spinner Pulling Oil" sebagai Pengentas Minyak Otomatis dalam Peningkatan Produktifitas Abon Ikan Patiin (Pangasius pangasius) Helmi Fadhlurrahman Felayati; Bambang Susilo; Yusron Sugiarto
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.321 KB)

Abstract

Desa banturejo merupakan desa yang berada di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Desa yang memiliki komoditas perikanan yang tinggi karena adanya Bendungan Selorejo. KOPWAN (Koperasi Wanita) Srikandi telah banyak menjual produk pengolahan pangan termasuk berbahan dasar ikan. Abon ikan patin (Pangasius pangasius) merupakan salah satu produk yang dihasilkan. Akan tetapi permasalahan yaitu mutu abon ikan yang memiliki kadar minyak yang tinggi sehingga menyebabkan daya simpan abon yang tidak tahan lama. Alat “spinner pulling oil” merupakan pengentas minyak otomatis yang memanfaatkan gaya sentrifugal. Spinner pulling oil memiliki timer sebagai pengatur waktu agar pekerjaan lebih efektif dan effisien dengan kecepatan putaran 1076 rpm serta kapasitas keranjang bahan sebesar 10 kg. Untuk mengetahui kinerja alat tersebut dilakukan uji performansi alat dengan melakukan pengujian alat secara keseluruhan dengan melakukan pengujian pada abon ikan untuk mengetahui kadar minyak yang terkandung setelah pengentasan. Pengujian dilakukan pada sampel abon ikan dengan lama waktu pengentasan yang berbeda yaitu 0,2,4,6,8, dan 10 menit. Hasil pengujian di analisa waktu optimal dan kebutuhan energinya. Pada pengujian didapatkan waktu optimal pengentasan yaitu pada menit ke 6 dengan kadar lemak 25,49%. Energi yang dibutuhkan untuk proses pengentasan selama 6 menit sebesar 0,0519 KWh, sehingga biaya yang harus dikeluarkan yaitu sebesar Rp. Rp. 55,79,-.   Kata kunci : Spinner Pulling Oil, Abon Ikan, Performansi 
Perbandingan Varietas Jagung Hibrida (Varietas P31, Varietas P35 dan Varietas Kompetitor) Terhadap Produktivitas Hasil Panen di Desa Jetis, Kab Mojokerto Melalui Magang Kerja di PT DuPont Indonesia Azhar, Wilda Aulia; Nugroho, Wahyunanto Agung; Argo, Bambang Dwi
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.974 KB)

Abstract

Tujuan pengamatan ini adalah untuk mengamati perbandingan varietas benih jagung hibrida varietas P31, varietas P35 dan varietas kompetitor terhadap produktivitas hasil panen di desa Jetis, Mojokerto Jawa Timur. Metode penelitian ini dilakukan kerja mandiri untuk mengetahui daya tumbuh jagung hibrida dan pengambilan data. Parameter yang diamati adalah parameter pertumbuhan yang meliputi jumlah tanaman yang tumbuh, tinggi tanaman, jarak tanaman dan hama dan penyakit yang menyerang tanaman. Selain itu parameter hasil yang meliputi jumlah total tongkol jagung, kondisi fisik tongkol jagung (panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris biji) dan massa pipilan (rendemen).
PENGARUH VARIASI OVERLAP SUDU TERHADAP TORSI DAN DAYA PADA KINCIR ANGIN SAVONIUS TIPE U Ahmad, Ary Mustofa; Lutfi, Musthofa; Budiadi, Ary
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.402 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan studi tentang pengaruh variasi overlap sudu terhadap torsi dan daya pada kincir angin savonius tipe U. Posisi overlap sudu sangat mempengaruhi putaran poros kincir. Overlap sudu yang bisa menangkap kecepatan angin dengan baik, maka putaran poros akan semakin besar. Torsi yang semakin besar, maka daya akan semakin besar. Penelitian dilakukan dengan membuat model kincir angin Savonius tipe U dengan variasi overlap dan diberi aliran angin blower. Masing-masing overlap adalah +10 cm, +5 cm, 0 cm, -5 cm, dan -10 cm. Torsi terbesar terjadi pada overlap  -5 sebesar 0,108 Nm, sedangkan daya terbesar terjadi pada overlap +5 sebesar 11,467 Watt. Kondisi ini terjadi akibat adanya angin yang mengenai sudu tidak terbuang langsung dan tidak ada kebocoran angin ditengah.
KARAKTERISTIK PENGGORENGAN VAKUM JAMUR Kajian Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) dan Jamur Kancing (Agaricus bisporus) Sumarlan, sumardi Hadi; Lastriyanto, Anang; Erawati, Diana
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.657 KB)

Abstract

Produk jamur meningkat dengan cepat dan tersedia dalam berbagai bentuk. Jamur yang bisa diolah menjadi bahan makanan adalah jamur tiram putih dan jamur kancing. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perendaman larutan CaCl2 terhadap kualitas keripik jamur, mengetahui pengaruh suhu penggorengan, mengetahui besarnya rendemen keripik jamur serta mengetahui besarnya energi selama proses penggorengan. Unsur pertama adalah durasi perendaman  CaCl2 pada 0, 30 dan 45 menit. Dan unsur lainnya adalah suhu wajan pada 80oC dan 90oC. Massa setiap perlakuan adalah 500 gram yang diulang dalam 2 kali. Jenis mesin yang digunakan adalah penggorengan vakum. Pengamatan dilakukan terhadap bahan dasar dan produk akhir (keripik jamur tiram putih dan keripik jamur kancing). Pengamatan material dasar meliputi analisis dan rendemen air. Dan sisi lain, teknik analisis termasuk perubahan suhu, tekanan dan energi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan keripik jamur tiram putih dan keripik jamur kancing dengan suhu wajan 90oC dan lama terendam larutan CaCl2 0,01% dalam 45 menit kebutuhan perlakuan lebih pendek pada waktu di wajan. Kadar air keripik jamur tiram tiram putih 0,763%, sedangkan kadar air keripik jamur kancing adalah 2,745%. Rendemen tertinggi keripik jamur tiram putih adalah 10,8% dengan suhu 80 oC, tanpa merendam larutan larutan CaCl2 0,01%, sedangkan rendemen tertinggi keripik jamur kancing  adalah 11,94%.
PENDUGAAN UMUR SIMPAN PADA PENYIMPANAN DINGIN TEMPE KEDELAI (Glycine max (L.) Merill) DENGAN PENGEMASAN VAKUM MENGGUNAKAN MODEL ARRHENIUS Lastriyanto, Anang; Komar, Nur; Pratiwi, Hartati Setyo
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.497 KB)

Abstract

Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang penting di Indonesia. Kebutuhan akan kedelai meningkat dari 1.2-1.4 juta ton menjadi ± 1,8 juta ton setiap tahunnya, sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Komoditas per kapita kedelai saat ini ± 8 kg/kapita/tahun (Anonim, 2008a). Tempe adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang rhizopus (ragi tempe). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui umur simpan tempe kedelai yang dikemas vakum selama penyimpanan pada kondisi suhu ruang, dingin dan beku dengan menggunakan perhitungan model Arrhenius. Parameter yang digunakan untuk pengamatan adalah parameter fisik, meliputi kadar air, rendemen, kadar protein, dan uji inderawi. Metode eksperimental dilakukan dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah suhu penyimpanan (T) terdiri dari 3 suhu, yaitu : T1 = 25 °C, T2 = 8 °C, dan T3 = -8 ºC. Faktor perlakuan kedua adalah fase kematangan tempe (F) , terdiri dari tiga fase, yaitu : F1 = 9 jam setelah diberi ragi, F2 = 18 jam setelah diberi ragi, danF3 = 27 jam setelah diberi ragi. Bahan pengemas yang digunakan adalah polyetilen dengan ketebalan 0,08 mm, dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan pengemasan vakum tempe yang disimpan dingin (8 ˚C) lebih tahan lama daripada yang hanya disimpan pada suhu ruang (25 ˚C). Prediksi umur simpan pada masing-masing suhu, yaitu suhu 25 ˚C pada tempe 9 jam setelah diragi prediksi umur simpan 0.089 hari, tempe 18 jam setelah diragi 0.094 hari, dan tempe 27 jam setelah diragi 0.074 hari. Suhu 8 ˚C pada tempe 9 jam setelah diragi 0.311 hari, tempe 18 jam setelah diragi 0.281 hari, dan tempe setelah 27 jam diragi 0.272 hari. Sedangkan suhu -8 ˚C pada tempe 9 jam setelah diragi 1.164 hari, tempe 18 jam setelah diragi 0.899 hari dan pada F3 tempe 27 jam setelah diragi 1.069 hari.
UJI KINERJA DAN ANALISA FINANSIAL ALAT PEMBUAT LUBANG TANAM BERPENGGERAK TRAKTOR RODA DUA PADA LAHAN JATI Ary Mustofa Ahmad; Doddy Perkasa Putra
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.069 KB)

Abstract

Pengolahan tanah telah ada sejak manusia mengenal bercocok tanam. Salah satu kegiatan dalam pengolahan tanah adalah penggalian lubang tanam. Di Indonesia umumnya untuk perkebunan skala industri telah dikembangkan alat penggali lubang tanam dengan menggunakan tenaga penggerak traktor roda empat, dimana alat penggali digandengkan pada tiga titik gandengan yang berada dibelakang traktor. Tenaga putar untuk menggerakkan mata bor penggali bersumber dari PTO yang dihubungkan ke perubah putaran (gear box) dan diteruskan ke mata bor, akan karena harganya mahal maka pengembangan selanjutnya diarahkan pada traktor roda dua. Karena traktor roda dua keberadaannya dimasyarakat cukup banyak, alat ini tinggal disambung dan dirangkai dengan mesin pembuat lubang tanam ini yang berbentuk bor ini, akan tetapi traktor yang digunakan harus traktor roda dua yang mempunyai PTO Selama ini petani di indonesia membuat lubang tanam sepenuhnya dengan tenaga manusia dengan hanya menggunakan alat bantu seperti cangkul, tugal, dan garu yang dalam pengunaannya belum termasuk alat yang efektif. Oleh karena itulah dicoba untuk didesain dan mengkonstruksi mesin pelubang tanam dengan penggerak traktor roda dua. Alat ini secara teknis laboratorium bisa digunakan, akan tetapi jika diterapkan pada budidaya tanaman tertentu misalnya tanaman jati pada lahan tadah hujan maka masih perlu diteliti lebih lanjut kelayakannya dari aspek teknisnya, serta dari aspek finansialnya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mempelajari uji kinerja alat pembuat lubang tanam berpenggerak traktor roda dua pada lahan jati 1 ha. (2) Melakukan analisa finansial alat ini. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Desa Karang Widoro, Kec. Dau, Kab. Malang, serta di “Lab. Daya dan Mesin Pertanian” Universitas Brawijaya. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah ; traktor roda dua, alat pembuat lubang tanam, cangkul, fuel meter, roll meter, stop watch, pengaris. Parameter pengujian yang dilakukan untuk mesin penggali lubang tanam dengan penggerak traktor roda dua adalah sebagai berikut : konsumsi bahan bakar (ml/s), kualitas penggalian (diameter & kedalaman lubang), kapasitas kerja, Perhitungan analisa finansial alat, uji t test Perhitungan analisa finansial dilakukan berdasarkan pengoperasian mesin pembuat lubang tanam berpenggerak traktor roda dua selama 1,5 jam dalam periode tersebut, alat ini mampu menghasilkan 27 lubang dengan selip actual 24,21%. Berdasarkan kondisi operasi ini, perhitungan menghasilkan biaya kerja per ha adalah Rp. 1.360.800. Mempertimbangkan tingginya selip, biaya kerja dapat diturunkan dengan jalan mengurangi selip.
Karakterisasi Kimia Keripik Apel Manalagi Hasil Penggorengan Vakum Dengan Menggunakan Minyak Goreng Berulang Anang Lastriyanto; Rini Yulianingsih; Sumardi Hadi Sumarlan; Rizka Mega Melati
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.261 KB)

Abstract

Di Indonesia banyak terdapat daerah potensial penghasil buah apel salah satunya adalah Kota Batu. Permasalahan yang akan ditimbulkan saat panen raya adalah tingginya tingkat kerusakan pada buah apel. Oleh karena itu diperlukannya upaya untuk mengurangi kerusakan pada buah apel, salah satunya dengan pembuatan keripik apel. Pembuatan keripik apel dilakukan dengan metode penggorengan vakum. Pada kondisi vakum suhu penggorengan dapat diturunkan karena penurunan titik didih minyak. Dengan demikian kerusakan pada produk dapat dikurangi. Namun pemakaian minyak secara berulang dan penggunaan perubahan suhu pada proses penggorengan mempengaruhi produk yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemakaian minyak berulang dan pengaruh perubahan suhu terhadap karakteristik kimia keripik apel dengan penggorengan vakum. Pada penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu penggunaan minyak goreng berulang sebanyak 10x ulangan (pengambilan sampel pada hasil penggorengan ke 1, 4, 7, dan 10) dan faktor kedua yaitu perubahan suhu (80, 90, dan 100oC). Data yang diperoleh dianalisa dengan metode ANOVA menggunakan Software SPSS Statistics 18.0 trial version. Jika diperoleh hasil yang berbeda nyata maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggorengan vakum dengan menggunakan ulangan minyak ke 1, 4, 7, dan 10 berpengaruh nyata terhadap kandungan vitamin C keripik apel. Sedangkan penggorengan vakum dengan menggunakan ulangan minyak ke 1, 4, 7, dan 10 tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan kadar air, lemak, dan Free Fatty Acid (FFA) pada keripik apel. Pada penggorengan vakum dengan menggunakan suhu 80, 90, dan 100oC berpengaruh nyata terhadap kadar lemak keripik apel. Sedangkan pada penggorengan vakum dengan menggunakan suhu 80, 90, dan 100oC tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan kadar air, vitamin C, dan Free Fatty Acid (FFA) pada keripik apel.
EFEK PENGEMASAN VAKUM PADA KUALITAS BENIH KEDELAI (Glycine max, L) VARIETAS ANJASMORO SELAMA PENYIMPANAN Lastriyanto Anang; Bambang Dwi Argo; Dhika Aringtyas
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.566 KB)

Abstract

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan tanaman kedelai adalah tersedianya benih bermutu dengan penanganan pasca panen yang tepat, antara lain sistem pengemasan selama penyimpanan. Oleh karena itu diperlukan adanya teknologi penyimpanan dan pengemasan yang baru seperti sistem pengemasan vakum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perubahan kadar air benih kedelai yang disimpan pada jenis pengemas polietilen, polipropilen dan aluminium foil lebih kecil dibanding kadar air benih kedelai kontrol yang disimpan pada karung goni. Kadar air awal benih sebesar 10.44%, dan setelah disimpan selama 3 bulan, kadar air benih yang disimpan dalam karung goni naik menjadi 15.44%. Benih yang disimpan dalam polietilen dengan 3 luasan yang berbeda kadar airnya menjadi (11.52, 11.99, dan 11.79%), untuk kemasan polipropilen kadar airnya menjadi (11.83, 11.63, dan 11,51%), untuk kemasan aluminium foil dengan 3 luasan berbeda kadar airnya menjadi (11. 48, 11.38, dan 11.53%). Daya tumbuh benih kedelai yang disimpan pada ketiga jenis bahan pengemas vakum lebih baik dibandingkan dengan benih kedelai sebagai kontrol. Daya tumbuh awal benih yaitu 98% dan setelah 3 bulan daya tumbuhnya kontrol menurun menjadi 88.25%. Benih yang disimpan dalam  polietilen dengan 3 luasan yang berbeda daya tumbuhnya menurun menjadi (95, 95.25, dan 94.5%), untuk kemasan polipropilen menjadi daya tumbuhnya menurun (94.5%, 94.75%, 95.5%), dan untuk kemasan aluminium foil daya tumbuhnya menurun menjadi (95, 95.75, dan 95.5%). 
SISTEM PENGEMBANGAN “ DESA MANDIRI ENERGI “ (DME) DI DESA SUMBER BENDO, SARADAN, KABUPATEN MADIUN Taufiq .; Bambang Susilo; La Choviya Hawa
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.665 KB)

Abstract

Desa Mandiri Energi adalah sebuah program agar desa bisa memenuhi kebutuhan energinya sendiri, penciptaan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran serta kemiskinan dengan mendorong kemampuan masyarakat dan pengguna sumber daya setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Penelitian mengambil sampel di Desa Sumber Bendo- Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun. Data yang diambil berupa kebutuhan bahan bakar oleh masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan masyarakat terhadap pemakaian bahan bakar tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner pada masyarakat yang dijadikan sampel. Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 30 responden. Data hasil kuesioner kemudian diolah dengan menggunakan model analisis kuantitatif TEV. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh informasi Faktor-faktor yang dipertimbangkan masyarakat Desa Sumber Bendo dalam penggunaan bahan bakar adalah harga, daya beli, kebutuhan, keamanan, kenyamanan, kemudahan, keterjangkauan, lama pemakaian, ketersediaan, efektifitas pemakaian, kondisi riel, Pendapatan. Dari hasil analisis TEV diketahui bahwa pengembangan Desa Sumber Bendo menjadi Desa Mandiri Energi (DME) memiliki nilai harapan (expected value) sebesar 3.41 (masuk dalam kategori tinggi) dari seluruh total penilaian. Penggunaan bahan bakar yang harus dioptimalkan untuk perwujudan Desa Sumber Bendo menjadi Desa Mandiri Energi (DME) adalah dengan mengoptimalkan penggunaan bahan bakar Biogas. Hal ini tercermin dari hasil analisis TEV menunjukkan bahwa nilai pengharapan (expected value) terhadap bahan bakar biogas cukup tinggi yaitu sebesar 4.04, masuk dalam kategori penilaian tinggi baik dari kelompok pakar maupun responden disamping juga dari segi nilai keekonomianya yang relatif terjangkau dari pada jenis bahan bakar lainya (416.667,00/tahun). Untuk pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) khususnya biogas perlu adanya kemitraan berkelanjutan antara warga dan instansi pemerintah agar biaya pembuatan reaktor bisa didanai secara bersama-sama. Sistem arisan biogas seperti yang sudah berjalan di Desa Argosari Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, bisa ditiru untuk mengatasi keterbatasan dana dalam pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) biogas. Rekomendasi yang dapat ditawarkan berdasarkan analisis sistem yang dilakukan adalah: 1). peningkatan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahan bakar alternatif, khususnya biogas; 2). mengadakan program diseminasi biogas yang meliputi pendidikan, pelatihan, dan pengenalan alsin biogas kepada masyarakat Desa Sumber Bendo; dan 3). pengembangan usaha ternak sapi rakyat melalui integrasi sapi- tanaman- biogas- pupuk organik.