cover
Contact Name
Zaqlul Iqbal, STP, M.Si
Contact Email
zaqluliqbal@ub.ac.id
Phone
+62341580106
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang, 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 2656243X     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jkptb
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem (JKPTB) (ISSN: 2656-243X) has published the state-of-art articles which focus on both fundamental studies and applied engineering including Power and Agricultural Machinery, Mechatronics and Agro-industrial Machinery, Food and Post-Harvest Technology and Soil and Water Engineering. By providing an update issue and current topic in agricultural technology field, JKPTB becomes the reference for many scientist and stakeholders who work on Agricultural Engineering
Articles 423 Documents
Daya Tahan Tanaman Jagung Terhadap Serangan Penyakit Bulai Pada Benih Jagung Hibrida Varietas P31 dan Varietas P35 di PT. DuPont Pioneer Surya Putra; Musthofa Lutfi; Darwin Kadarisman
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.406 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengamati daya tumbuh benih jagung hibrida varietas P31, varietas P35 dan varietas kompetitor, dan mengamati daya tahan benih jagung hibrida varietas P31, varietas P35 dan varietas kompetitor terhadap serangan penyakit Bulai. Metode pengamatan yang dilakukan di perusahaan yang pertama adalah penanaman benih jagung meliputi persiapan alat dan bahan sebelum tanam, persiapan lahan pengamatan, penanaman, pemberian pupuk pertama, dan penyiangan. Langkah kedua adalah pengamatan dan pengambilan data meliputi pengamatan daya tumbuh, proses inokulasi dan pengambilan data intensitas serangan penyakit Bulai. Dari hasil pengamatan pada 10 HST (Hari Setelah Tanam) diketahui bahwa daya tumbuh varietas P31 (93%), varietas P35 (98%) dan varietas kompetitor (92%). Kemudian tanaman jagung yang tergolong sangat tahan bulai adalah varietas P35 (9,18%), tanaman varietas P31 (13,98%) tergolong tahan dan varietas kompetitor agak tahan (36,94%), pada pengamatan intensitas serangan penyakit Bulai 40 HST. Kata kunci: Penanaman, Daya Tumbuh, Inokulasi, Daya Tahan Benih
PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK PASAR DENGAN PENGONTROLAN SUHU TETAP DAN SUHU SESUAI FASE PENGOMPOSAN Sutrisno Hadi Wibisono; Wahyunanto Agung Nugroho; Evi Kurniati; Joko Prasetyo
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.882 KB)

Abstract

Proses pengomposan secara alami membutuhkan waktu lama untuk membuat kompos dari bahan organik. Pengembangan pengomposan dengan cara yang benar perlu mempercepat dan memperbaiki proses pengomposan untuk mendapatkan kompos berkualitas. Pengomposan dengan mengendalikan suhu kompos dapat memberi efek pada proses pengomposan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode pengomposan pengendalian suhu menurut warna, bau, suhu, analisis kandungan kimia rasio N, P, K, C / N, bahan organik, C. Organik dan pH, serta mengetahui perbedaannya. dari suhu kompos kontrol terkendali dan kontrol suhu berdasarkan pengomposan fasa melalui pengujian kandungan kimia kompos. Hasil akhir diharapkan dapat mengetahui proses pengomposan dan hasil kompos dengan mengendalikan suhu dengan kontrol suhu dan pengendalian suhu tetap berdasarkan fase pengomposan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan dengan dua perlakuan kontrol suhu tetap dengan suhu 40-43oC dan pengatur suhu berdasarkan fase pengomposan. Mengontrol suhu fase mesofilik dengan suhu 37-40oC untuk periode 1-2 dan 7-14 hari sedangkan fase termofilik pada suhu 41-44oC untuk periode 3-6 hari. Hasil kompos dengan mengendalikan suhu tetap tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol berdasarkan suhu fase pengomposan kecuali kadar air, susut dan phosfor. Hal ini diketahui dengan perhitungan menggunakan analisis keragaman. Hasil pengendalian suhu perlakuan kompos tetap berwarna coklat kehitaman, ketebalan penyusutan 56,75% dan berat 63,33%, kadar air 53,65%, pH 7,6, kadar N 1,82%, C Organik 12,10%, rasio C / N 6 , bahan organik 20,94%, P 1,47% dan K 0,12%. Tahap perlakuan kontrol suhu pengomposan berdasarkan kehitam-hitaman coklat; mengecilkan ketebalan 59,55% dan berat 68,75%, kadar air 56,10%, pH 7,3, kadar N 1,83%, C. Organik 13,48%, C / N ratio 7, bahan organik 23,31%, P 3,68% K 0,71%.
Rancang Bangun Alat Perajang Otomatis Ubi Kayu (Manihot Esculenta) sebagai Bahan Dasar Keripik Berbasis Mikrokontroler AT89S52 Wahyunanto Agung Nugroho; Mochamad Bagus Hermanto; Rohganga Bahwono; Joko Prasetyo
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.005 KB)

Abstract

Ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang sudah dikenal luas di Indonesia, karena mudah dalam penanaman dan perawatan, ubi kayu dapat tumbuh dengan baik di berbagai kondisi tanah. Usaha pengolahan ubi kayu menjadi keripik yang sudah berkembang masih banyak menggunakan tenaga manusia khususnya pada proses perajangan. Penggunaan tenaga manusia ini tentunya memiliki beberapa kekurangan diantaranya hasil ketebalan potongan tidak seragam, kapasitas kecil dan membutuhkan waktu yang lama. Permasalahan diatas memberi ide untuk merancang dan membuat alat pemotong ubi kayu dengan menggunakan mikrokontroler AT89S52 sebagai otomatisasi dan otak (processor) dari suatu alat. Dengan adanya alat pemotong otomatis dengan mikrokontroler AT89S52 ini diharapkan akan banyak membantu pemotongan bahan keripik secara efektif dan efisien.
The EC (Electro Conductivity) Value of Plant Age for Green Leaf Lettuce (Lactuca sativa L.) Using NFT (Nutrient Film Technique) Hydroponic Systems Ni Nyoman Padang Cakra Binaraesa; Sandra Malin Sutan; Ary Mustofa Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.95 KB)

Abstract

This study in September 2016 to November 2016 at the Institute for Agricultural Technology Jawa Timur, Jl. Kingdom Karangploso KM 4, Malang. This study aims to determine the relationship with the large volume hydroponic nutrient value of EC (electro conductivity) and know the value of EC (electro-conductivity) based on the age of the green leaf lettuce plants with NFT hydroponics system. EC treatment used in the study, namely 1200, 1500, 1800 and 2100 μs / cm with the pH of the solution is always controlled ranged from 5.5 to 5.8. The results showed that the relationship with large volume hydroponic nutrient EC value is proportional and showed a linear graph. Yields of lettuce plants with the parameters of the long end of the plant, plant height, leaf number, root length, root mass and the mass of the plant with the plant without roots showed the best results with the treatment of EC 1800 μs / cm. Great value EC berdarkan age of the plant to get the lettuce crop yields good ie aged 5 days ie 1200 μS / cm, 10 days at 2100 μS / cm and at the age of 15 days to 35 days ie 1800 μS / cm. Keywords: EC, Hydroponics, hydroponic nutrients, NFT, pH, Lettuce
PENGARUH METODE PENGERINGAN TERPHADAP KARAKTERISTIK KUPASAN KEMIRI (Aleurites moluccana.L Willd) Bambang Dwi Argo; Sumardi Hadi Sumarlan; Asdin .
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.892 KB)

Abstract

Buah kemiri (Aleurites moluccana Willd), mempunyai nilai ekonomis yang baik. Biji kemiri banyak digunakan masyarakat sebagai bumbu masak atau diambil minyaknya untuk keperluan industri, seperti bahan baku pembuat pernis, sabun, kosmetika, dan obat-obatan. Selama ini, proses pengolahan kemiri yang dilakukan petani masih sederhana, yaitu pengeringan di bawah sinar matahari dan pengupasan dengan rotan. Hal ini mengakibatkan hasil kupasan kemiri banyak yang pecah sehingga harga jual kemiri menjadi rendah. Penelitian ini merupakan  studi tentang perbandingan efektivitas pengeringan kemiri antara pengeringan dengan mesin pengering dan pengeringan sinar matahari dalam menghasilkan kupasan kemiri utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangeringan dengan mesin pengering memberikan hasil yang lebih baik daripada pengeringan dengan sinar matahari. Persentase kemiri utuh yang dikupas melalui pengeringan dengan mesin pengering sebesar 20,2% (7 kg) dari 34,5 kg kemiri yang dipecahkan, sedangan dengan sinar matahari 1,5% (0,5 kg) dari 33,25 kg kemiri. Kemiri pecah kulit sebesar 43,4% (15 kg) dengan mesin pengering dan 3% (1 kg) dengan sinar matahari. Kemiri terbelah dua sebesar 10,1% (3,5 kg) dengan mesin pengering 12,7% (4,25 kg) dengan sinar matahari. Kemiri tidak pecah sebesar 26% (9 kg) dengan mesin pengering dan 75,1% (25 kg) dengan sinar matahari.
DESAIN KONTROL OTOMATIS SUHU DAN KELEMABABAN PADA RUANGAN JAMUR TIRAM (Pleurotusostreatus) MENGGUNAKAN MK AT-89S52 Nur Komar; La Choviya Hawa; Yudha Al Maarif
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.393 KB)

Abstract

Jamur merupakan salah satu sumber kehidupan biologis yang dikenal di alam bebas. Tanaman ini banyak digunakan sebagai makanan disamping pembuatan obat-obatan. Permasalahan yang menjadi kendala dalam proses budidaya adalah kondisi lingkungan yang kurang baik atau kurang dari 70%. Kelembaban buatan sering dilakukan untuk mengatasi masalah ini, yakni dengan memberikan semprotan berkala secara manual. Teknik yang ditawarkan ini adalah aplikasi kontrol otomatis pada pengaturan kelembaban dan suhu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur, mengendalikan kelembaban dan suhu di kisaran 70-80% and 25-27o C. Mendapatkan pilihan biaya yang lebih rendah antara dua alternatif. Berdasarkan hasil yang diperoleh dijelaskan spesifikasi modul kontrol yang memiliki massa desain fisik dan built-in 760.00 gram 850.00 gram. Panjang, lebar, tinggi hasil perancangan instrumen masing-masing 22,5, 10,5, 14,5 cm. Alat ini terdiri dari komponen yang membentuk sistem Minimum AT-89S52, Modul LCD dan Keypad, modul kipas dan pemanas dengan driver ICULN2803, sensor perpindahan modul timer, dua motor servo standar, kipas pengukuran, dua motor DC yang diarahkan, dan heater. Performa mekanisme dari modul kontrol bisa digerakkan sesuai dengan perintah program yang disematkan di dalamnya. Program puls motor driver dan ditampilkan dalam bentuk pergerakan aktuator. Cyclical dan continuous motion control kelembaban dan suhu ruangan. Dalam hal mengairi biaya jamur dalam ruangan satu pekerja dibandingkan dengan peralatan kontrol otomatis dalam satu tahun. Ada pengurangan biaya hingga 87,98% dibandingkan dengan penyiraman manual. Dan terjadi peningkatan keuntungan sebesar 18,73% atau Rp.9,398,156, -.
Rancang Bangun dan Uji Performansi Mesin Pemintal Sabut Kelapa Ekoyanto Pudjiono; Musthofa Lutfi; Achmad Anas Thohir
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.193 KB)

Abstract

Persentasi kandungan dari buah kelapa berbeda-beda tetapi rata-rata adalah sabut 35%, tempurung 12%, daging buah 28% dan air buah 25%. Bagian dari buah kelapa yang seringkali dilupakan adalah sabut kelapa yang merupakan bagian terbesar dari buah kelapa. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan membuat mesin pemintal sabut kelapa dan melakukan uji kinerja terhadap rancangan tersebut. Mesin pemintal sabut kelapa yang dirancang terdiri dari beberapa bagian yaitu: sistem transmisi (pulley dan V-belt), rol penggulung (diameter 25 mm dan panjang 450 mm), spindel (diameter 15 mm dengan panjang 250 mm), inverter, tempat bahan (70x200x350 mm), kerangka (900x600x350 mm) dan motor listrik (0,5 HP). Prinsip kerja mesin pemintal sabut kelapa yang dirancang adalah memilin, menggabungkan dan menggulung. Diameter benang yang dihasilkan berkisar antara 2.6 mm sampai 4.5 mm. Kapasitas gaya tarik benang hasil pemintalan terbesar pada putaran motor 160 rpm sebesar 73.17 N. Kemuluran benang hasil pemintalan terbesar terjadi pada putaran motor 220 rpm sebesar 203.11%. Kapasitas kerja tertinggi terdapat pada putaran motor dengan 220 rpm yaitu sebesar 81.6 m/jam dan 426 g/jam.
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Cincau Hijau (Premna Oblongifolia L.) Sebagai Edible Coating dan Lama Pencelupan terhadap Kualitas Stroberi (Fragaria Sp.) Yusuf Hendrawan; Sumardi Hadi Sumarlan; Nabila Az-Zalikhah Ilham
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.072 KB)

Abstract

Tanaman cincau termasuk tanaman asli Indonesia dan mempunyai nama lain, dipulau Jawa biasa disebut camcao, juju dan kepleng. Cincau hijau mempunyai komponen utama pembentuk gel berupa polisakarida pektin yang bermetoksi rendah. Pektin tersebut termasuk dalam kelompok hidrokoloid pembentuk gel. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi ekstrak cincau yang tepat sebagai edible coating untuk stroberi pada skala laboratorium. Pelapisan stroberi dengan edible coating ini menggunakan metode pencelupan. Pembuatan edible coating cincau hijau dimulai dari pembuatan bubuk cincau hijau kemudian bubuk cincau hijau diekstraksi, lalu pembuatan edible coating dengan menggunakan 4 gram tapioka, ekstrak cincau hijau (0,2%, 0,4% dan 0,6% b/b tapioka), sorbitol 1 b/v, dan CMC 1% b/b ekstrak cincau. Lama pencelupan stroberi (5, 10, dan 15 menit). Analisis yang dilakukan pada penelitian ini yaitu analisa organoleptik (warna, aroma dan tekstur), analisa viskositas larutan edible, analisa fisik (kekerasan), analisa kimia (susut bobot dan laju respirasi) dan karakterisasi ekstrak cincau hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dengan penambahan konsentrasi ekstrak cincau hijau 0,2% dan lama pencelupan 5 menit.
Pengaruh Distribusi Ukuran Agregat Tanah Terhadap Umur Efektifitas Pengolahan Tanah Ary Mustofa Ahmad; Gunomo Djoyowasito; Roni Hadi Wijaya
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.763 KB)

Abstract

Pengolahan tanah menghasilkan berbagai ukuran agregat tanah (distribusi ukuran agregat tanah). Distribusi ukuran agregat tanah akan mempengaruhi porositas tanah, keteguhan agregat tanah akan mempengaruhi kesetabilan porositas tanah, sedangkan ukuran besar kecilnya agregat tanah akan mempengaruhi persentase pori mikro dan pori makro tanah.  Semakin banyak ukuran agregat tanah yang besar akan meningkatkan pori makro tanah sehingga peningkatan level permukaan tanah akan lebih tinggi dibanding jika tanah ukuran agregatnya lebih kecil. UEPT dipengaruhi oleh sifat fisik tanah, khususnya kemantapan agregat tanah. Sedangkan kemantapan agregat dipengaruhi oleh kandungan bahan organik tanah, tekstur tanah. Oleh karena itu perlu dipelajari nilai distribusi ukuran agregat yang nilai UEPTnya paling tinggi. Dari hasil penelitian didapatkan nilai distribusi ukuran agregat tanah yang berbeda pada tiap perlakuan, dimana dari keempat perlakuan tersebut tinggi permukaan tanahnya mengalami kenaikan permukaan tanah, tetapi berbeda-beda kenaikan antar perlakuan. Tinggi permukaan tanah sebelum diolah untuk M1R1=11,88 cm, M1R2=12,13 cm, M2R1=12,09 cm, dan M2R2=11,34 cm. setelah diolah semua perlakuan mengalami kenaikan permukaan tanah untuk M1R1=13,73 cm, M1R2=12,44 cm, M2R1=18,7 cm, M2R2=14,48 cm. Penurunan permukaan tanah tersebut juga mempengaruhi sifat fisik tanahnya antara lain porositas dan tegangan geser tanah. Dimana nilai porositas tanah setelah diolah mengalami kenaikan, tetapi dari minggu ke minggu mengalami penurunan nilainya. Sedangkan untuk tegangan geser setelah diolah mengalami penurunan nilainya, tetapi untuk setiap minggunya nilainya mengalami perubahan, dalam 8 minggu nilainya mulai naik. Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan berjalannya waktu, tanah akan mengalami perubahan baik tinggi permukaan tanahnya ataupun sifat fisik tanahnya.
UJI KINERJA TUNGKU BIOMASSA MENGGUNAKAN BLOWER BERDASARKAN VARIASI TEGANGAN DAN JENIS BAHAN BAKAR Wahyunanto Agung Nugroho; Musthofa Lutfi; Indra Braga Adi Nuriawan
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.273 KB)

Abstract

Penggunaan tungku hemat energi akan berdampak positif terhadap penurunan tingkat konsumsi kayu bakar. Tungku harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain sifat fisik bahan bakar yang dipergunakan dalam tungku tersebut, suhu pembakaran yang dilakukan dalam tungku, dan waktu pembakaran. Selain itu, besarnya efisiensi pembakaran juga merupakan salah satu hal yang paling penting, karena efisiensi pembakaran yang rendah dapat berakibat pada energi pembakaran. Dimana semakin rendah efisiensi pembakaran, maka energi pembakaran yang hilang akan semakin besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa sistem termal pada tungku biomassa, yang terdiri dari kehilangan panas pada tungku biomassa, efisiensi tungku biomassa, efisiensi pembakaran. Penelitian menggunakan perlakuan sistem tegangan tiga level dan tiga jenis bahan bakar, untuk rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Dengan 2 faktor, dimana faktor 1 adalah jenis bahan bakar, A (sekam padi), B (arang), C (kayu pinus). faktor 2 adalah beda tegangan D (12V), E (9V) dan, F (7,5), Sehingga pada penelitian ini terdapat 9 model perlakuan dimana tiap perlakuan dilakukan 3 kali ulangan sehingga terdapat 27 kali pengamatan dengan 9 kali perlakuan dan 3 kali ulangan pada tiap-tiap perlakuan Adapun tungku tanpa blower digunakan sebagai kontrol. Parameter yang diukur antara lain: (1) suhu; (2) massa; (3) waktu; dan (4) kecepatan angin. Efisiensi tungku tertinggi rata-rata dari ketiga bahan bakar didapat dari bahan bakar arang dengan tegangan 9 volt yaitu 70.76℅. Berdasarkan perhitungan dapat diketahui bahwa nilai efisiensi tungku berbanding lurus dengan efisiensi pembakaran. Bahan bakar dan sistim tegangan yang dianjurkan dalam tungku mengunakan blower adalah bahan bakar arang dengan mengunakan tegangan 9Volt.