cover
Contact Name
Nia Kurniasih
Contact Email
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Gedung Sosioteknologi, Labtek VII, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132 Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sosioteknologi
ISSN : 18583474     EISSN : 2443258X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Sosioteknologi is a journal that focuses on articles that discuss results of an intersection of research fields of science, technology, arts, and humanities as well as the implications of science, technology, and arts on society. It is published three times a year in April, August, and December. Jurnal Sosioteknologi is a collection of articles that discuss research results, conceptual ideas, studies, application of theories, and book reviews. Jurnal Sosioteknologi has been indexed by Google Scholar and Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474 Jurnal Sosioteknologi adalah jurnal yang memfokuskan pada tulisan berupa penelitian interseksi bidang ilmu sains, teknologi, seni, dan ilmu kemanusiaan serta implikasi sains teknologi dan seni terhadap kehidupan masyarakat. Terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. Jurnal Sosioteknologi berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Jurnal Sosioteknologi telah terindeks oleh Google Scholar, Citerseerx, dan Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol. 18 No. 3 (2019)" : 21 Documents clear
KOPI PRIANGAN: PENGUKUHAN IDENTITAS MELALUI BUDAYA NGOPI DAN BERMEDSOS (MEDIA SOSIAL) Lina Meilinawati Rahayu; Ritma Fakhrunnisa; Safrina Noorman
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.8

Abstract

Tulisan ini membahas konstruksi identitas kopi Priangan dan bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dipopulerkan melalui media sosial. Kopi Priangan menjadi populer di kalangan penggemar kopi ketika harganya melambung di kancah perkopian internasional. Popularitas ini berdampak pada penghadiran kopi Priangan di kedai kopi di Jawa Barat, dalam hal ini di Bandung dan Jatinangor. Di kedua tempat ini ngopi di kedai kopi telah menjadi gaya hidup para mahasiswa yang bersekolah di sana. Tulisan ini memeriksa bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dihidupkan kembali dalam wacana kopi yang telah turut membangun gerakan budaya baru di daerah tersebut. Budaya baru berkopi ini dianggap mengandung interaksi kompleks yang memuat dikotomi lokal-global dan/atau lama-baru. Melalui kuesioner yang dibagikan di kafe-kafe dan wawancara kelanjutannya, ditemukan bahwa gerakan budaya berkopi sebagai gaya hidup tidaklah menguatkan identitas yang ajeg bagi kopi Priangan. Gaya hidup dengan ngopi ternyata tidak serta merta melahirkan penggemar kopi. Oleh karena itu, untuk membangungidentitas kopi Priangan yang lebih ajeg, para pengopi perlu"dididik". Selain itu, peran sosial media perlu dioptimalkan untuk mengangkat dan menyadarkan adanya vatian kopi lokal, khususnya kopi Priangan.  ABSTRACTThis article discusses the identity construction of Priangan coffee and how it is reflected in the way it is consumed as part of a lifestyle and is later popularized via the social media. Priangan coffee has gained popularity among coffee enthusiasts as it was valued at a higher price in comparison to other Indonesian local coffee. The renewed interest has brought the coffee to the many coffee shops in West Java, in particular Bandung and Jatinangor, where going to coffee shops becomes part of the university students living there. The article looks into the way (or ways) Priangan coffee is consumed and revamped in the coffee discourse which might have partly constituted a new cultural movement in the area. The new culture surrounding coffee is assumed to contain complex interactions of dichotomies such as local-global and given-new. Through questionnaires distributed in coffee shops in Bandung and Jatinangor and interviews that follow, it was found that the cultural movement built around the idea of coffee as part of a new life lifestyle has not strengthened a solid identity for Priangan coffee. Going to coffee shops has become part of a lifestyle which does not necessarily lead to the making coffee enthusiasts. Therefore, there is a need to "educate" coffee goers and to optimize the role played by social media in developing awareness on the local coffee variants, especially Priangan coffee.Tulisan ini membahas konstruksi identitas kopi Priangan dan bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dipopulerkan melalui media sosial. Kopi Priangan menjadi populer di kalangan penggemar kopi ketika harganya melambung di kancah perkopian internasional. Popularitas ini berdampak pada penghadiran kopi Priangan di kedai kopi di Jawa Barat, dalam hal ini di Bandung dan Jatinangor. Di kedua tempat ini ngopi di kedai kopi telah menjadi gaya hidup para mahasiswa yang bersekolah di sana. Tulisan ini memeriksa bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dihidupkan kembali dalam wacana kopi yang telah turut membangun gerakan budaya baru di daerah tersebut. Budaya baru berkopi ini dianggap mengandung interaksi kompleks yang memuat dikotomi lokal-global dan/atau lama-baru. Melalui kuesioner yang dibagikan di kafe-kafe dan wawancara kelanjutannya, ditemukan bahwa gerakan budaya berkopi sebagai gaya hidup tidaklah menguatkan identitas yang ajeg bagi kopi Priangan. Gaya hidup dengan ngopi ternyata tidak serta merta melahirkan penggemar kopi. Oleh karena itu, untuk membangungidentitas kopi Priangan yang lebih ajeg, para pengopi perlu"dididik". Selain itu, peran sosial media perlu dioptimalkan untuk mengangkat dan menyadarkan adanya vatian kopi lokal, khususnya kopi Priangan.  ABSTRACTThis article discusses the identity construction of Priangan coffee and how it is reflected in the way it is consumed as part of a lifestyle and is later popularized via the social media. Priangan coffee has gained popularity among coffee enthusiasts as it was valued at a higher price in comparison to other Indonesian local coffee. The renewed interest has brought the coffee to the many coffee shops in West Java, in particular Bandung and Jatinangor, where going to coffee shops becomes part of the university students living there. The article looks into the way (or ways) Priangan coffee is consumed and revamped in the coffee discourse which might have partly constituted a new cultural movement in the area. The new culture surrounding coffee is assumed to contain complex interactions of dichotomies such as local-global and given-new. Through questionnaires distributed in coffee shops in Bandung and Jatinangor and interviews that follow, it was found that the cultural movement built around the idea of coffee as part of a new life lifestyle has not strengthened a solid identity for Priangan coffee. Going to coffee shops has become part of a lifestyle which does not necessarily lead to the making coffee enthusiasts. Therefore, there is a need to "educate" coffee goers and to optimize the role played by social media in developing awareness on the local coffee variants, especially Priangan coffee.
PERAN AUGMENTED REALITY DALAM MENINGKATKAN PERSEPSI VISUAL GENERASI DIGITAL NATIVE Rizki Taufik Rakhman
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.15

Abstract

Perkembangan teknologi beriringan dengan perkembangan media. Augmented reality (AR) merupakan sebuah sistem terintegrasi antara elemen digital dengan dunia nyata secara realtime. Media picture book kini dapat dinikmati oleh generasi digital native seolah-olah hidup dan bergerak secara 3 dimensi dengan sistem AR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peran AR dalam meningkatkan persepsi visual generasi digital native. Metode eksperimental dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dipakai pada penelitian ini. Wawancara dan diskusi secara langsung dengan setiap subjek pada kelompok eksperimen pertama dan kedua. Kedua kelompok mendapat perlakuan berbeda dengan harapan hasil yang didapat akan berbeda sehingga analisa terhadap peluang dan kemungkinan menjadi terbuka. Teori persepsi visual dari Gestalt sangat berperan dalam membantu menganalisa temuan eksperimen. Temuan dalam penelitian ini berupa persepsi visual generasi digital native terbentuk dari: persepsi bentuk, persepsi kedalaman, persepsi gerak dan persepsi konstanta. Simpulan dari penelitian ini adalah AR memiliki peran dalam meningkatkan persepsi visual generasi digital native.
SEMIOTIKA VISUAL DALAM PERTUKARAN TANDA DAN MAKNA SOSIAL POLITIK PADA BATIK KARYA HARDJONAGORO GO TIK SWAN Suyin Pramono
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.16

Abstract

Membahas tentang motif dalam sehelai kain batik berarti mengamati unsur lambang dan arti yang saling membuat korelasi. Penelitian ini memaparkan tentang adanya relasi antara falsafah, unsur  kehidupan, sosial politik  dan unsur batik karya Hardjonagoro Go Tik Swan melalui semiotika visual. Dasar utama pemikiran yang digunakan dalam mencari relasi tersebut mengacu pada filsafat makna, seperti model analisis yang dikembangkan oleh Charles Sanders Pierce yaitu perspektif simbolik, suatu usaha menafsirkan simbol-simbol. Hasil kajian ini diharapkan dapat menunjukkan hubungan simbolik dan pemaknaan antara karya batik  sebagai ekspresi budaya Jawa sekaligus sebagai bahasa sosial politik melalui studi kasus batik karya Hardjonagoro Go Tik Swan. Dengan demikian diharapkan juga dapat sumbangan kreatif pada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sosial politik secara non verbal. Kata kunci: semiotika visual, batik Hardjonagoro Go Tik Swan, sosial potitik
Emotive Expressions on Social Chatbot Lia Maulia Indrayani; Rosaria Mita Amalia; Fauzia Zahira Munirul Hakim
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.17

Abstract

Building social chatbots to address users' needs for communication and affection is of great value to society (Shum et al., 2018). One of which, Replika, attempts to become an artificial intelligent companion by demonstrating sufficient social and emotional skills through emotive expressions. Emotive expressions are imperative in human-computer interaction, since they tend to elicit social cooperation. The present article aims to survey emotive expressions developed on Replika in order to determine the chatbot's active-reactive skills. They are collected by means of participant observation and are analysed with qualitative method. The present article observes six emotive expressions which Replika can process. These expressions include apologizing, thanking, condoling, complimenting, greeting, and welcoming. The generation of each expression is dependent of the context of each interaction. 
PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP IMPLEMENTASI PROGRAM JABAR DIGITAL DALAM AKUN INSTAGRAM RIDWAN KAMIL SEBUAH KAJIAN SOSIO-DIGITAL Chairil Nur Siregar; Sutiadi Rahmansyah
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.5

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkap persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap implementasi program Jabar Digital melalui akun resmi gubernur Jawa Barat periode 2018-2023, Ridwan Kamil, di Instagram @ridwankamil. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan terdiri dari 20 (dua puluh) gambar yang diunggah oleh Ridwan Kamil berkaitan dengan program Jawa Barat Digital dari bulan Januari hingga Mei 2019. Dari 20 (dua puluh) data tersebut, dua buah gambar dijadikan sampel dalam penelitian ini. Pemilihan sampel dilakukan berdasarkan jumlah dan relevansi data tentang persepsi dan partisipasi masyarakat Jawa Barat. Komentar masyarakat dalam kedua unggahan ini berjumlah 1.666 (seribu enam ratus enam puluh enam). Komentar tersebut kemudian dianalisis dan digunakan sebagai data utama dalam mengungkap persepsi dan partisipasi masyarakat pada program yang diselenggarakan oleh Ridwan Kamil sebagai gubernur Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak masyarakat berpersepsi positif terhadap program Jabar Digital dan masyarakat mau berpartispasi dan berperan serta dalam program tersebut.
PENGELOLAAN AIR ASAM TAMBANG DARI DINDING BEKAS PENAMBANGAN SEBAGAI ALTERNATIF PENANGGULANGAN PENCEMARAN LINGKUNGAN: STUDI KASUS TAMBANG BATU HIJAU, NUSA TENGGARA BARAT Muhammad Suryadi
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.10

Abstract

Tulisan ini akan menunjukkan dan membuktikan bahwa dinding tambang merupakan sumber penghasil air asam terbesar setelah kegiatan penambangan selesai. Kegiatan pembukaan lahan yang menyentuh batuan yang mengandung mineral sulfida berpotensi menghasilkan air yang bersifat asam. Air asam ini dapat mencemari lingkungan apabila mengalir ke perairan. Air asam tambang yang dihasilkan dari dinding tambang memiliki kontribusi yang paling besar dalam pencemaran lingkungan apabila tidak dikendalikan. Limpasan air asam dari dinding tambang ke lingkungan akan menimbulkan masalah lingkungan serius antara lain hilangnya biota air yang sensitif terhadap keasaman sehingga akan mengganggu rantai makanan yang ada. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya antisipatif sebelum hal itu terjadi. Upaya inilah yang akan ditunjukan dari  hasil penelitian ini. Lokasi penelitian dipilih di Tambang Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan tambang terbuka terbesar di Indonesia yang 80% dinding tambangnya menghasilkan air asam. Langkah awal penelitian ini adalah menghitung besarnya potensi air asam yang dihasilkan setelah penambangan selesai dengan menggunakan metode sampling. Setelah itu, akan dilakukan upaya pencegahan agar air asam yang dihasilkan tersebut tidak melimpah dan mengalir ke lingkungan yang dapat mencemari perairan. Dari hasil penelitian diperoleh dua metode pengelolaan untuk mencegah agar air asam yang dihasilkan tersebut tidak melimpah dan mengalir ke lingkungan. Metode pencegahan terdiri atas dua, yaitu metode statis (pasif) dan dinamik (aktif). Hasil penelitian membuktikan bahwa kedua metode ini efektif untuk mengendalikan air asam tambang dan dapat dijadikan alternatif pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan dari bekas kegiatan penambangan.  
PENGARUH WAKTU LATIHAN TERHADAP KAPASITAS VITAL PARU DITINJAU DARI PARAMETER METEOROLOGI Iwa Ikhwan Hidayat; Samsul Bahri
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.7

Abstract

Pusat Olahraga Lebak Siliwangi atau Sarana Olahraga Ganesa (SARAGA) ITB merupakan miniatur dari Kota Bandung karena berada di daerah cekungan dan memiliki kecenderungan terpapar polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor. Dengan demikian perlu dilakukan kajian tentang efek polusi udara terhadap kesehatan masyarakat yang melakukan aktifitas olahraga di SARAGA  ITB. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode observasional studi. Sampel adalah para pengunjung  yang SARAGA yang rutin berolahraga pada pagi, siang, dan sore hari sebanyak 30 orang dengan menggunakan purposive sampling yang diukur kapasitas vital parunya sebelum dan sesudah berolahraga dengan alat Spirometer contecTM  SP10. Pada  Masing-masing waktu latihan diukur parameter meteorologi yaitu PM2.5 (polusi) dengan  Laser Egg Origins Smart Air Quality Monitor, Suhu, dan Kelembaban  menggunakan alat Weather Station W200. Hasil Nilai berturut-turut dari parameter meteorologi  yaitu PM2.5, Suhu, dan Kelembaban ditinjau dari waktu latihan yaitu pagi, sore, dan malam adalah pagi PM.2.5 (10), Suhu (280C), Kelembaban (55%); sore PM.2.5 (29), Suhu (25.10C), Kelembaban (77%); malam PM.2.5 (94), Suhu (21.70C), Kelembaban (89%).  Sedangkan kapasitas vital paru untuk ketiga waktu latihan (pagi, sore, dan malam) mengalami penurunan sesaat yang signifikan, dengan nilai pagi (3.49:3.22),sore (3.48:3.20),malam (3.58:3.39).  Kesimpulan Trend paparan dominan polusi  tertinggi di Saraga ITB terjadi pada malam hari, peningkatan paparan polusi malam hari disebabkan oleh meningkatnya arus lalu lintas kendaraan di jalan Siliwangi. Suhu dan kelembaban dari ketiga waktu latihan berkorelasi dengan penurunan kapasitas vital paru.
Pemanfaatan Abu Kayu sebagai Bahan Aditif Glasir Suhu Tinggi Natas Setiabudhi Daryono Putra; Deni Yana
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.20

Abstract

Penambahan abu pada glasir masih jarang dilakukan oleh seniman, desainer atau kriawan keramik Indonesia. Padahal abu memberikan tekstur permukaan yang unik, berbeda dengan karakter glasir pada umumnya. Output penelitian ini adalah formula/resep glasir dan table analisis abu yang nantinya bisa digunakan oleh pihak yang berkepentingan. Pada dasarnya abu identik dengan glasir. Keduanya melapis tipis (menyerupai kaca) permukaan bodi keramik. Hanya lapisan kaca yang terbentuk dari abu tidak sepadat jika menggunakan glasir. Abu mengandung unsur-unsur seperti yang terdapat dalam glasir, seperti kapur, zink, mangan, kuarsa, cooper dan iron. Secara praktik abu tidak dapat digunakan sebagai unsur tunggal, harus diberi unsur lain agar titik leburnya menjadi lebih rendah. Dalam penelitian ini, abu diperoleh dengan cara membakar kayu menggunakan tungku bata merah sederhana (rocket stove). Cara tersebut bisa memperoleh abu yang bersih tidak terkontaminasi oleh unsur-unsur lain.  Efek yang diperoleh dari abu pada glasir tergantung dari kandungan unsur-unsur yang terdapat dalam tanah. Abu yang berasal dari tanaman yang hidup di lingkungan tropis diasumsikan berbeda dengan iklim yang mengenal 4 musim. Hal ini membutuhkan penelitian lebih dalam lagi untuk menjawab fenomena tersebut. Diharapkan penelitian ini juga dapat digunakan oleh kalangan perajin IKM yang ada di Indonesia. Sentra keramik Plered Purwakarta merupakan pilot project untuk penelitian ini. Sebagaimana diketahui sentra keramik ini dikenal sebagai sentra gerabah pembuat guci/pot yang memiliki suhu bakaran rendah. Diharapkan jika memberikan nilai ekonomis lebih, perajin satu ini (mitra IKM) dapat menularkan ke yang lainnya sehingga menciptakan diversifikasi produk di sentra keramik Plered.Kata kunci: Abu, Kayu, Glasir, Keramik
PEMETAAN JALUR DAN TINGGALAN PERKERETAAPIAN MASA KOLONIAL BELANDA DI WILAYAH CIREBON TIMUR Iwan Hermawan; Revi Mainaki
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.21

Abstract

Cirebon is one of the regions in West Java Province with a coastal landcape, its strategic location and fertile land makes Cirebon rich in agricultural resources. These conditions encouraged the Dutch Government to exploit and occupy in Cirebon. The relatively abundant exploitation of commodities has led to the establishment of efficient transportation facilities for transporting agricultural products. Railroad is an efficient transportation transportation technology that at that time developed, so railroad lines, stations and stops were built with all the facilities. The first development was the Semarang - Cirebon route with the tram class of 1897 and continued to experience development. Through a qualitative approach with a descriptive explorative research method this research seeks to map and identify railroad relics in the Cirebon Region, based on Geographic Information System technology (GIS) to obtain historical social information on the development of the Cirebon Region during the Dutch Colonial period. Data was collected through observation by tracing rail tracks so that railroad relics were found in the form of railroad tracks, stations and stops that were still functioning or those that were no longer active. The tracing data was strengthened with literature studies, literature studies and documentation studies and then analyzed with the Geographic Information System so that a map of the railroad distribution was obtained and described in written form. The results of the study found railroad relics in the form of former railroad tracks, former station buildings and former stops with various supporting facilities including the former buildings of Mundu Station, Warudurur, Kanci, Sindanglaut, Karangsuwung, Jatiseeng, Ciledug, Losari and Babakan. Then stop at Jatipiring, Cibogo, Waled, Luwunggajah, and Titik Simpang Bedilan. The remains are scattered along the former railroad tracks, both those that are still functioning and those that are no longer active.
KENDI INDONESIA, BENTUK DAN TRADISI Gita Winata
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.19

Abstract

Kendi merupakan salah satu benda gerabah tradisional Indonesia. Keberadaan kendi tidak hanya di Indonesia, tetapi tersebar luas di daratan Asia Tenggara, Asia, Timur Tengah, dan sebagian Eropa, namun kendi sangat erat kaitannya dengan budaya Asia Tenggara. Bentuknya yang unik dengan varian yang banyak, mendorong dilakukannya kajian lebih jauh. Penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi fakta-fakta tentang kendi Indonesia terutama berkaitan dengan bentuk dan perkembangan tradisinya. Analisis bentuk kendi dilakukan dengan pendekatan morphological berdasarkan identifikasi tipologi bentuk objek, identifikasi anatomi bentuk objek, dan identifikasi varian bentuk objek menurut historical timeline. Dari hasil analisis diketahui bahwa bentuk dasar kendi secara umum adalah bentuk globular dengan penambahan bentuk silindris pada bagian atas yang berfungsi sebagai pegangan. Anatomi bentuk kendi terdiri dari bagian mulut, leher, corot, badan, dan kaki. Selain itu juga diperoleh data ilustrasi tentang evolusi bentuk kendi di Indonesia yang dikomparasi dengan beberapa negara lain, serta perkembangan tradisi kendi yang hingga saat ini masih dugunakan sebagai benda ritual maupun profan.Kata Kunci: kendi, bentuk, tradisi, gerabah

Page 2 of 3 | Total Record : 21


Filter by Year

2019 2019