cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 505 Documents
Pola Pergeseran Penyebab Kandidiasis Vulvovaginalis Linda Astari; Zahruddin Ahmad
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.772 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.14-23

Abstract

Latar belakang: Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) merupakan penyakit infeksi dengan gejala dan keluhan keradangan pada vulva dan vagina yang disebabkan oleh jamur spesies Candida. C. albicans merupakan spesies terbanyak penyebab KVV, tetapi kejadian yang disebabkan oleh spesies non-albicans tampak semakin meningkat dengan berbagai komplikasi yang ditimbulkannya. Tujuan: Mengevaluasi pola pergeseran spesies penyebab KVV untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan pasien. Metode: Studi retrospektif dengan sumber data sekunder yang tersedia dari hasil penelitian KVV di Divisi Infeksi Menular Seksual (IMS) Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode tahun 1997 – 2017. Hasil: Sebanyak 7 penelitian mengenai KVV telah didapatkan dalam rentang waktu tersebut. Pasien KVV sebagian besar adalah wanita yang sudah menikah, usia seksual aktif, dan mengeluhkan adanya duh tubuh berwarna putih disertai rasa gatal pada kemaluan. Mayoritas C. albicans didapatkan pada penelitian tahun 1997, 2010, 2015, dan 2017, sebesar 100%, 52,8%, 71,4%, dan 62,1%, sedangkan mayoritas C. non-albicans pada penelitian tahun 2004, 2005, dan 2009, sebesar 65,2%, 52,6%, dan 52,9%. Kesimpulan: Penelitian ini telah menunjukkan pola pergeseran spesies penyebab KVV selama 20 tahun terakhir, yaitu dari dominasi C. albicans pada 1997, kemudian C. non-albicans pada tahun 2004, 2005, dan 2009, kembali lagi pada dominasi C. albicans yaitu pada tahun 2010, 2015, dan 2017.
Profil Pasien Baru Kandidiasis Apriliana Puspitasari; Arthur Pohan Kawilarang; Evy Ervianty; Abu Rohiman
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7611.725 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.24-34

Abstract

Latar Belakang: Kandidiasis adalah infeksi jamur yang bersifat oportunistik yang disebabkan oleh Candida sp. Prevalensi kandidiasis di Indonesia sekitar 20-25%, dapat menyerang rambut, kulit, kuku, selaput lendir, dan organ lain seperti mulut dan kerongkongan, namun informasi tentang faktor dan karakteristik risikonya masih terbatas. Tujuan: Mengevaluasi gambaran dan karakteristik pasien baru kandidiasis. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif yang dilakukan dengan mengevaluasi rekam medis pasien kandidiasis di Divisi Mikologi URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2013-2016. Hasil: Dalam kurun waktu tahun 2013-2016 didapatkan 298 pasien baru. Jenis kandidiasis terbanyak adalah kandidiasis intertriginosa (50,5%). Distribusi jenis kelamin yang paling banyak adalah perempuan (62,4%) dengan usia terbanyak 45-64 tahun (31,5%). Penyakit penyerta terbanyak adalah diabetes melitus. Keluhan utama terbanyak berupa gatal dengan efloresensi berupa satelit papul. Hasil laboratorium 30,2% positif untuk blastospora dan blastospora+hifa, dengan hasil kultur berupa Candida sp. Simpulan: Kandidiasis sering ditemukan dan jumlah kejadian setiap tahun berfluktuasi di Divisi Mikologi Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Akantosis Nigrikans pada Anak Kartika Kemala; Retno Danarti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.336 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.61-70

Abstract

Latar Belakang: Akantosis nigrikans (AN) merupakan kelainan kulit yang ditandai dengan patch atau plak hiperpigmentasi dengan permukaan kasar dan struktur seperti beludru yang biasanya terdistribusi simetris pada daerah lipatan. Selain merupakan tanda klinis yang kuat adanya resistensi insulin dan sindrom metabolik, AN berhubungan pula dengan keganasan, penggunaan obat-obatan, serta dapat menjadi salah satu manifestasi yang menyertai sindrom. Tujuan: Menjelaskan patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, serta klasifikasi AN. Telaah Kepustakaan: Klasifikasi AN yang ada seringkali tidak konsisten, tumpang tindih dan membingungkan. Hal terpenting dari diagnosis AN adalah membedakan apakah lesi yang ada termasuk ke dalam lesi jinak atau ganas, yang akan memengaruhi pemberian terapi dan prognosis penyakit. Terapi AN tergantung dari penyebab yang mendasari dan ditujukan untuk memperbaiki penampilan dari segi kosmetik. Simpulan: Kewaspadaan klinisi harus ditingkatkan pada kasus AN untuk memberikan penatalaksanaan yang tepat sejak dini.
Profil Pasien Dermatitis Kontak Alergi Akibat Kosmetik Marissa Astari Rubianti; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.163 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.35-40

Abstract

Latar Belakang: Kontak erat kosmetik dalam waktu yang lama dengan kulit, menginisiasi proses sensitisasi dari beberapa kandungan bahan kimia yang ada di dalamnya. Banyaknya kasus dermatitis kontak alergi (DKA) akibat kosmetik diakibatkan oleh beragamya produk kosmetik yang beredar di pasaran seperti sabun, shampoo, deodorant, pasta gigi, krim wajah, tabir surya, dan parfum. Tujuan: mengevaluasi profil pasien DKA akibat kosmetik dan pelayanan pasien DKA akibat kosmetik di Divisi Alergi Instalasi Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2014-2017. Metode: Studi retrospektif dari data sekunder rekam medik pasien baru DKA akibat kosmetik selama periode 4 tahun (2014-2017). Hasil: Pasien baru DKA akibat kosmetik terbanyak tahun 2017 sebanyak 8.6 % dari total kunjungan pasien dermatitis kontak di divisi alergi. Pasien perempuan lebih banyak daripada laki-laki dengan kelompok umur terbanyak pada usia 20-30 tahun (37,7%). Bahan penyebab terbanyak yang dilaporkan adalah krim pagi. Manifestasi klinis terbanyak bentuk makula eritematosa disertai dengan rasa gatal dengan eliminasi bahan penyebab sebagai penatalaksanaan utama pada DKA akibat kosmetik. Sebanyak 53 (18,3%) pasien dilakukan pemeriksaan uji tempel dan 20 (37,7%) pasien menunjukkan hasil yang positif dengan karakteristik hasil uji tempel 100% pasien menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan as-is dan 45% pada bahan reagen standar. Sebanyak 19,7% pasien memiliki riwayat atopi pada diri sendiri dan 6,5% pada keluarganya. Simpulan: Profil DKA akibat kosmetik dapat disebabkan karena bahan yang terkandung di dalam suatu produk kosmetik dan tidak berhubungan dengan riwayat atopi pada diri sendiri maupun keluarga pasien.
Pediculosis Capitis with Complication Sepsis and Anemia In Elderly Patient: A Case Report Rahmadewi Rahmadewi; Riyana Noor Oktaviyanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.496 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.165-170

Abstract

Background: Pediculosis is an ectoparasitic infestation of human scalp. Infestation is characterized by intense itching, secondary infection, and anemia in cases of severe infestation, and inadequate diet. Treatment of head lice includes physical methods, topical pediculicides, and oral agents. Purpose: To report a case of pediculosis capitis with complication of sepsis and anemia in elderly patient Case: A women, 80 year-old, body weight 45 kilograms, came to Emergency Room of Dr. Soetomo General Hospital with complaint about malaise, low appetite, and sometimes fever since 1 week ago. Patient also complained about itchy sensation on her scalp appeared since 3 months ago. There were many lices on her scalp. Itchy sensation was felt all day. Patient took a bath only once daily, and spent her time on bed because patient had a hemiparese since 6 months ago. History of the same disease in the family, her grandson also had the same complaint (lice on scalp). No history of bleeding or gastrointestinal bleeding. Patient had a low appetite. There were so many lices on her scalp, with erosion and crustae. Patient was treated with systemic antibiotic ceftriaxone injection 2 times 1 gram daily, metronidazole drip 3 times 500 mg, Packed Red Cell (PRC) transfusion 2 kolf /day until Hb more than10 g/dl, permethrin 1 % (Peditox). The treatments gave a good result. Discussion: Head-to-head contact is by far the most common route of lice transmission. We assumed that the infestation could stem directly from hair in hair contact, or indirectly, e.g. towels, which may have been already used by infected people. The source of contagious in this case could be from her grandson who also had the same complaint (lice on scalp). Treatment of pediculosis is permethrin 1%, other options if these treatments don’t work include malathion, benzyl alcohol, spinosad, and topical ivermectin. Conclusion: This patient was successfuly treated with permethrin 1 % (Peditox) and repeated treatment after 7 days gave good results and in this case there were no side effects. Patient education is the key in preventing pediculosis capitis and also reminding patients that they can help to prevent the spread of these parasites.
Gambaran Histopatologi Nekrobiosis Lipoidika Maylita Sari; Trisniartami Setyaningrum; Willy Sandhika
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.161 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-8

Abstract

Latar belakang: Nekrobiosis Lipoidika (NL) merupakan keadaan dermatologis idiopatik yang menjadi masalah secara kosmetik dan berhubungan erat dengan penyakit diabetes mellitus. Pemahaman tentang patogenesis dan diagnosis NL sangat penting karena adanya komplikasi yang bisa terjadi seperti ulserasi dan karsinoma sel skuamosa, disamping kesulitan penegakan diagnosis NL melalui histopatologi. Tujuan: Memahami patofisiologi, gambaran klinis, dan histopatologi NL serta diagnosis banding granuloma non infeksi. Telaah kepustakaan: Perubahan vaskular dan degenerasi kolagen serta faktor lain adanya Antibody Mediated Vasculitis diduga terjadi pada patogenesis NL. Prinsipnya didapatkan kerusakan mikrosirkulasi pada individu non diabetik dengan NL. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan terdapat granuloma interstitial dan palisade yang melibatkan jaringan subkutan dan dermis. Granuloma tersusun berlapis-lapis (tierlike, layered) dan bercampur dengan area degenerasi kolagen, terdiri dari histiosit, beberapa diantaranya limfosit berinti banyak, sel plasma, dan eosinofil. Penebalan dinding pembuluh darah dan pembengkakan sel endotel pada dermis bagian tengah sampai dalam. Imunofluoresens direk didapatkan immunoglobulin M, Ig A, C3, dan fibrinogen pada pembuluh darah. Manifestasi klinis ditandai dengan plak berbatas jelas dengan area atrofi kekuningan pada tengahnya dan tepi menonjol berwarna merah sampai ungu, yang bisa mengalami ulserasi, bilateral, dan multipel. kesimpulan: NL merupakan suatu penyakit degeneratif kronis pada jaringan konektif dermis, dengan etiologi yang tidak diketahui dan terjadi hampir seluruhnya pada penderita diabetes mellitus. Diagnosis ditegakkan secara klinis dan histopatologi. Gambaran histologi NL hampir sama dengan granuloma annulare, namun manifestasi klinis berbeda.Kata kunci: nekrobiosis lipoidika, diabetes melitus, histopatologi, granuloma.
Profile of Scabies in Children Kartika Paramita; Sawitri Sawitri
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 27 No. 1 (2015): BIKKK APRIL 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.621 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V27.1.2015.41-47

Abstract

Background: Scabies is a common parasitic infestation of the skin caused by Sarcoptes scabiei. Scabies is a common public health problem that occurs throughout the world with an estimated prevalence of 300 million individuals. Factors that lead to the high prevalence of scabies include high humidity, lack of sanitation, overcrowding, malnutrition, poor personal hygiene, knowledge, attitude, and behaviour of less supportive healthy lifestyle. Although scabies is not fatal or life-threatening, but the disease can be severe and persistent, which may lead to weakness and secondary skin infections. Purpose: To evaluate the clinical presentation, diagnosis, and treatment of scabies in children at Dermatovenereology outpatient clinic of Dr. Soetomo General Hospital Surabaya. Methods: A retrospective study within 2009 to 2011 using medical record of new patients, aged < 14 years old. Results: The total patients of scabies were 282 patients (5,9% of all pediatric patients in outpatient clinic). Most common group of age was 5-14 years old with the total 180 patients (63,8%), the majority of complaint was itching at night (90,1%), the most frequent location of the lesions was in the web of the fingers and the most common source of transmission is the patient's family  (51,4%). The most given topical scabisid was Permethrin cream 5% (97,3%). Conclusions: The diagnosis of scabies could be established by anamnesis and physical examination. Patient's education is needed to reduce the reinfection and cut the source of transmission.Key words: scabies, children, Sarcoptes scabiei, retrospective study.
Evaluasi Penggunaan Terapi Topikal Tretinoin 0,1% pada Striae Albae Densy Violina Harnanti; M Yulianto Listiawan; Linda Astari; Willy Sandhika
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.9 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.98-103

Abstract

Latar belakang: Striae distensae (SD) adalah jaringan parut linier pada epidermis dan dermis akibat peregangan kulit yang melebihi batas elastisitasnya. Striae albae (SA) ditandai dengan garis hipopigmentasi dan terjadinya atrofi pada epidermis dan dermis. Hal tersebut dapat mengganggu fungsi sawar kulit bahkan gangguan transepidermal water loss (TEWL). Tujuan: Mengevaluasi perubahan klinis dan luas kolagen pasien SA sebelum dan setelah  terapi  tunggal krim tretinoin 0,1% selama 3 bulan. Metode: Penelitian eksperimental analitik yang membandingkan perubahan klinis dan persentase luas kolagen pasien SA sebelum dan setelah  terapi  tunggal krim tretinoin 0,1% selama 3 bulan di Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin Divisi Kosmetik dan Tumor Bedah Kulit Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Dr. Soetomo Surabaya. Hasil: Panjang lesi SA sebelum dan setelah terapi krim tretinoin 0,1% tidak didapatkan perbedaan bermakna (p=0,341), begitu pula lebar lesi SA sebelum dan setelah terapi juga tidak didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,341). Persentase luas  kolagen sebelum dan setelah terapi krim tretinoin 0,1% didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,0001). Visual Analog Scale (VAS) Improvement grade dengan skala 2 didapatkan pada 10 (90,9%) sampel penelitian sedangkan skala 3 didapatkan pada 1 (9,1%) sampel penelitian. Hasil penilaian VAS patient satisfaction grade didapatkan 10 (90,9%) sampel penelitian memberikan skala 6 dan 1 (9,1%) memberikan skala 7. Simpulan: Penggunaan krim tretinoin 0,1% pada SA selama 3 bulan tidak menunjukkan perubahan klinis yang bermakna, tetapi dapat meningkatkan persentase luas kolagen secara bermakna. 
Perbedaan antara Uji Transformasi Limfosit dengan Uji Tempel Obat pada Pasien Erupsi Obat Dhita Karina; Rahmadewi Rahmadewi; Saut Sahat Pohan
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.981 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-6

Abstract

SurabayaABSTRAKLatar belakang:Diagnosis erupsi obatseringditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaanklinis sajasehingga sulit untuk mengetahui obat penyebabnya. Pemeriksaan penunjang diperlukan untukdiagnosis yang lebih pastidan mengetahui penyebabnya. Uji Tempel Obat (UTO) adalah prosedur in vivoyang sering digunakan di praktek sehari-hari dan sensitivitasnya sebesar 30-50%. Uji Transformasi Limfosit (UTL) adalah suatu pemeriksaan laboratorium dengan prosedur invitroyangsensitivitasnya dilaporkan 70-90% dalam mendiagnosis erupsi obat. Tujuan:Menganalisis perbedaan antara hasil UTO dan UTL pada pasienerupsi obat.Metode:Penelitian cross sectionaldilakukan terhadapduapuluh dua pasien dengan riwayat erupsi obat di Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. DilakukanUTO pada punggung pasiendanpengambilandarah venapasien untuk pemeriksaan UTL. Hasil:Dari duapuluh duapasiendidapatkan hasil positif UTO pada tujuhpasiendan negatifpada lima belaspasien, sedangkan hasil positif UTL pada dua puluh pasien dan negatif pada duapasien.Simpulan:Terdapatperbedaan yang signifikan antara UTO dan UTLpada pasien erupsi obat. Kesesuaian dua pemeriksaan ini sebesar 40,9%,yang berarti UTL dapat dilakukan bila hasil UTO negatif atau meragukan.
Urticaria and Angioedema: Retrospective Study Nadia Wirantari; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.918 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-7

Abstract

Background: Urticaria is a common disorder that often presents with angioedema. Angioedema which may lead to laryngeal involvement, asphyxiation, and urticaria lasting more than 72 hours, are indications of hospitalization. Purpose: To describe the distribution, duration of hospitalization, trigger factor, clinical form, diagnostic, and therapeutic approach in urticaria and angioedema patients in Dermaro-venerelogy Departement Dr. Soetomo General Hospital during year 2011-2013. Methods: Retrospective study using medical records of new patients with urticaria and/ or angioedema in Dermatovenereology Ward st thduring 1 January 2011 until 31 December 2013. Basic data, anamnesis, physical examination, diagnostic, and therapeutic approach are recorded. Results: There were 42 new patients with urticaria and/or angioedema (2.3% of all Dermatoveneorology inward patients), with mean length of stay 4-6 days (57.1%), chief complaint of itch, hives, and swelling (42.8%), lesions occur for less than 6 weeks (92.9%), for the first time (54.8%), with episodes of less than 72 hours (45.3%). Urtica and angioedema were the most often clinical findings (38.1%), complete blood count and urinalysis were routinely examined (100% and 97.6% respectively). Treatment combination of corticosteroid and antihistamin H1 was the most commonly prescribed (64.0%). Conclusion: Urticaria along with angioedema was the most common condition in inward patients, thus combination therapy of antihistamin H1 and corticosteroid were most often needed.Key words: urticaria, angioedema, retrospective study.