cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 505 Documents
Penuaan Kulit: Patofisiologi dan Manifestasi Klinis Ahmad Zahruddin; Damayanti Damayanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.722 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.208-215

Abstract

Latar belakang: Proses penuaan kulit merupakan proses fisiologis yang tidak dapat dihindari. Kulit merupakan bagian tubuh yang paling sering terpapar oleh faktor-faktor luar terutama radiasi sinar ultraviolet, dan karena terlihat oleh orang lain sehingga akan memengaruhi kehidupan sosial individu. Tujuan: Mengetahui patofisiologi dan manifestasi klinis penuaan kulit. Telaah Kepustakaan: Penuaan kulit yang terjadi pada seorang individu merupakan gabungan dari penuaan kulit intrinsik dan penuaan kulit ekstrinsik. Penuaan kulit intrinsik merupakan proses alami yang terjadi seiring bertambahnya usia, dipengaruhi oleh ras, jenis kelamin, gen, hormon, dan sebagainya, sedangkan penuaan kulit ekstrinsik dipengaruhi oleh berbagai faktor dari lingkungan, seperti gaya hidup, polusi, serta terutama paparan sinar ultraviolet (photoaging). Kedua proses penuaan tersebut akan menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas, kerusakan sel, penurunan sintesis matriks ekstraseluler, serta peningkatan aktivitas enzim yang mendegradasi kolagen. Simpulan: Dasar patofisiologi penuaan kulit terutama disebabkan oleh peningkatan radikal bebas, akibat pertambahan usia maupun paparan sinar ultraviolet, sehingga menyebabkan kerusakan sel dan jaringan pada lapisan-lapisan dan adneksa kulit yang akan tampak sebagai manifestasi klinis penuaan kulit.
Studi Retrospektif: Alopesia Areata Agatha Anindhita Ayu Ardhaninggar; Trisniartami Setyaningrum
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.161 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.255-263

Abstract

Latar Belakang: Alopesia areata (AA) adalah penyakit yang ditandai dengan kerontokan rambut pada kulit kepala secara tiba-tiba. Penegakan diagnosis AA dengan pemeriksaan fisik dan dermoskopi cukup mudah, namun penatalaksanaan pasien AA cenderung sulit.Terapi hanya merangsang pertumbuhan rambut yang baru, tetapi tidak memengaruhi perjalanan penyakit. Tujuan: Mengevaluasi gambaran umum dan penatalaksanaan pasien AA. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dalam kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2012-2016 di Divisi Kosmetik URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hasil:  Jumlah pasien baru AA di Divisi Kosmetik Medik URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2012-2016 sebesar 0,6% dari 4875 pasien Divisi Kosmetik Medik. Sebesar 70% pasien baru AA adalah pria dan didominasi oleh kelompok usia 25-44 tahun (40%). Keluhan pasien AA terbanyak berupa kerontokan atau kebotakan rambut setempat pada 27 pasien (90%). Lama sakit terbanyak pasien baru AA adalah 0-6 bulan, yaitu sebanyak 20% pasien dengan riwayat tanpa pengobatan sebelumnya sebanyak 76,7%, kriteria diagnosis terbanyak adalah area kecil tidak berambut yang didapatkan pada 90% pasien. Subtipe AA yang paling banyak ditemukan adalah subtipe klasik sebanyak 90% pasien. Terapi AA yang banyak digunakan adalah pemberian topikal minoxidil (96,7%) dan suplemen kombinasi. Sebanyak 46,7% pasien melakukan kontrol ulang. Simpulan: AA banyak menyerang pria pada usia produktif. Terapi pertama yang diberikan adalah topikal minoxidil. Hasil terapi pada pasien yg melakukan kontrol ulang 50% menunjukkan perbaikan yaitu pertumbuhan rambut baru pada lesi AA.
Perbandingan Kadar 8-Hydroxydeoxyguanosine (8-OhdG) Urin pada Dermatitis Atopik Anak dan Non-Dermatitis Atopik Anak Shinta Dewi Rahmadhani Soetojo; Iskandar Zulkarnain; Trisniartami Setyaningrum
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.681 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.216-223

Abstract

Latar belakang: Etiologi dan patogenesis dermatitis atopik (DA) masih belum jelas hingga saat ini. Banyak faktor diduga dapat memengaruhi terjadinya DA, salah satunya adalah peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS) yang dapat dinilai dengan mengukur konsentrasi 8-hydroksi-2’-deoksiguanosine (8-OHdG) urin.Penelitian analitik mengenai hubungan 8-OHdG urin pasien DA dan non-DA masih jarang ditemukan dan sampai saat ini belum ada publikasi yang serupa di Indonesia. Tujuan: Membandingkan kadar 8-OHdG urin pada pasien DA anak yang sedang eksaserbasi dan non-DA anak. Metode: Desain penelitian adalah analitik observasional dengan  membandingkan kadar 8-OHdG sebagai penanda urin pada pasien DA dan  non-DA anak sebagai kontrol. Populasi penelitian adalah semua pasien anak (£12 tahun) dengan diagnosis DA yang sedang mengalami eksaserbasi dan non-DA yang dikonfirmasi melalui anamnesis, manifestasi klinis, dan kriteria diagnosis Hanfin Rajka di Divisi Dermatologi Anak Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada November 2017 sampai Februari 2017. Hasil: Nilai rerata kadar 8-OHdG urin pada pasien DA adalah 79,77 ± 31,79 ng/mg kreatinin. Nilai rerata kadar 8-OHdG urin pada pasien kontrol adalah 16,92 ± 11,18 ng/mg kreatinin. Kadar 8-OHdG urin pada pasien DA lebih besar daripada kelompok kontrol. Simpulan: Pasien DA mengalami stress oksidatif. 8-OHdG merupakan produk yang banyak ditemukan di dalam tubuh dan mudah terdeteksi akibat kerusakan DNA oksidatif, karena itu dianggap sebagai penanda yang berguna dan relevan untuk stress oksidatif.
Eksisi dengan Rhomboid Flap pada Karsinoma Basoskuamosa di Area Temporal: Laporan Kasus Arif Widiatmoko; Sinta Murlistyarini; Silfia Mandasari
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.469 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.71-78

Abstract

Latar belakang: Karsinoma basoskuamosa merupakan varian agresif karsinoma sel basal (KSB) yang jarang serta memiliki kecenderungan rekuren dan metastasis. Teknik Rhomboid flap merupakan salah satu teknik penutupan luka eksisi luas di area temporal. Tujuan: Mengevaluasi kasus jarang karsinoma basoskuamosa dan salah satu tatalaksananya. Kasus: Seorang perempuan usia 43 tahun datang dengan keluhan benjolan pada pelipis kiri yang mudah berdarah sejak 6 bulan. Status dermatologis pada regio temporal sinistra didapatkan tumor soliter berbentuk bulat dengan diameter 1,2 cm disertai erosi dan krusta kehitaman. Pemeriksaan dermoskopi menunjukkan telangiektasis tidak teratur, masa keratin, area keputihan dan ulserasi. Pemeriksaan Fine Needle Aspiration Biopsy menunjukkan sebaran dan kelompok sel-sel dengan inti bulat-oval, pleomorfik hiperkromatik, membran inti ireguler. Eksisi dengan jarak irisan 5 mm dari tepi tumor dan Rhomboid flap dilakukan untuk mengangkat tumor dan menutup luka. Pemeriksaan histopatologis sesuai gambaran karsinoma basoskuamosa yang menunjukkan proliferasi sel-sel berinti bulat-oval, pleomorfik, hiperkromatik, dengan nukleolus prominen. Sel di bagian tepi tersusun palisading dengan retraction spacer menginfiltrasi stroma. Tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening dan tidak didapatkan metastasis pada foto rontgen toraks. Pembahasan: Karsinoma basoskuamosa merupakan bentuk agresif dari KSB. Eksisi dengan jarak irisan > 4 mm bisa digunakan untuk terapi KSB non-morpheaform dengan diameter < 2 cm. Rhomboid flap berbentuk belah ketupat digunakan untuk menutup luka di area temporal dan memberi hasil yang baik secara kosmetik dengan sedikit komplikasi. Simpulan: Eksisi dengan jarak irisan 5 mm dan Rhomboid flap memberikan hasil yang baik untuk karsinoma basoskuamosa area temporal.
Studi Retrospektif : Profil Infeksi Gonore Dyah Ayu Pitasari; Sunarko Martodiharjo
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.243 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.41-45

Abstract

Latar Belakang: Gonore merupakan suatu penyakit infeksi pada mukosa yang disebabkan oleh bakteri kokus gram negatif Neisseria gonorrhoeae yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual atau perinatal. Gonore merupakan infeksi menular seksual tersering kedua di seluruh dunia. Tujuan: Untuk mengevaluasi gambaran infeksi gonore selama 3 tahun terakhir di Divisi Infeksi Menular Seksual  (IMS) Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode tahun 2013 sampai dengan 2015. Metode: Bahan penelitian diambil dari status rekam medik pasien gonore di Divisi IMS URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2013-2015. Hasil: Jumlah pasien baru gonore 125 (0,18%) dari jumlah kunjungan baru URJ Kesehatan Kulit dan kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kelompok umur tersering 15-24 tahun (60,8%), jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (93,6%). Obat yang paling banyak digunakan untuk terapi adalah sefiksim, diberikan pada 75 pasien (28,2%). Simpulan: Gonore merupakan IMS yang banyak didapatkan pada usia produktif dan lebih sering menimbulkan gejala pada laki-laki. Diperlukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang tepat untuk penatalaksanaan, pencegahan komplikasi dan resistensi.
Clinicoepidemiological Profile of Severe Cutaneous Adverse Drug Reaction: A Retrospective Study Damayanti Damayanti; Menul Ayu Umborowati; Sylvia Anggraeni; Cita Rosita Sigit Prakoeswa; Marsudi Hutomo; Hari Sukanto
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2926.113 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.1-6

Abstract

Background: Drug eruption were varied from mild to severe reaction. Few studies have assessed the severe cutaneous adverse drug reaction (SCADR), especially in the setting of general hospital. Purpose: To evaluate clinicoepidemiological profile of SCADR at Dermatology and Venereology Ward Dr. Soetomo Hospital, Surabaya, Indonesia. Methods: All SCADR patients at Dr. Soetomo Hospital, Surabaya, Indonesia in the period of January 2016 – June 2017 was evaluated. Stevens-Johnson Syndrome (SJS), Toxic Epidermal Necrolysis (TEN), Acute Generalized Exanthematous Pustulosis (AGEP), Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) and exfoliative dermatitis cases were included in the study. Results: There were 24 patients in this study, consisted of 11 SJS cases, 1 TEN case, 2 SJS/TEN-overlap cases, 10 exfoliative dermatitis cases. The mean of latent period between drug intake and onset of symptoms was 15.8 days. The most common offending drug was mefenamic acid (20.9%), followed by cefadroxil and phenytoin (each 16.7%). Antibiotics was the highest frequent offending drug-groups (62.5%), followed by non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAIDs). Prompt withdrawal of the offending drugs, systemic corticosteroid, and supported therapy were given to all patients, which gave good results in 21/24 patients (87.5%). Conclusion: Antibiotics were the most common offending drug-groups. SCADR might give high mortality rate, but early diagnosis, prompt withdrawal of the suspected drugs, closed monitoring to evaluate complications can improve the prognosis of SCADR.
Erythema Annulare Centrifugum mimicking tinea corporis: A Case Report Rahmadewi Rahmadewi; Riyana Noor Oktaviyanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.766 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.79-83

Abstract

Background: Erythema annulare centrifugum (EAC) is a rare cutaneous disease characterized by erythematous and violaceous annular plaques that usually involved the thighs and the legs  with unknown etiology. EAC has a clinical similar to tinea corporis but different in terms of therapy. Case: A 52-year-old woman was complain redness patches on her both legs and abdomen since 2 month. Redness patches appeared suddenly. Firstly,  small patch like insect bite appeared  in her abdomen, but rapidly spread into her extremities especially at lower legs accompanied with itchy. She never complains about pain and burning sensation on his rash. No complain about ear, nose and throat disturbances, She has complain about toothache since 3 month ago. Physical examination showed on extremities inferior dextra and sinistra, there were erythematous macules sharply marginated that is varying in size. Regio abdomen and extremitas superior there were hyperpigmentasi macule sharply marginated that is varying in size. A potassium hydroxide microscopic, examination showed a negative result for a fungal infection. A skin biopsy was performed and the histologic examination revealed epidermis with spongiosis and in dermis with  infiltration hystiosit, eosinofil and lymphosit on capiler blood vessel. The clinical and histopathological features, with a supportive history of recurrent lesions, led to the diagnosis of EAC. We give patient with dexamethasone and cetirizine, the lesions regressed spontaneously 3 months after onset. Discussion: The main differential diagnosis in our patient include tinea corporis. Histopathology of the skin lesions was classical for EAC. EAC resolves either spontaneously or once the underlying disease has been successfully treated. Systemic glucocorticoids usually suppress EAC, but recurrence is common when these drugs are stopped.
Studi Retrospektif: Sifilis Laten Bernadya Yogatri Anjuwita Saputri; Dwi Murtiastutik
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.942 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.46-54

Abstract

Latar Belakang: Sifilis laten merupakan stadium sifilis tanpa gejala klinis namun menunujukkan hasil pemeriksaan serologis yang reaktif. Sifilis laten merupakan stadium yang asimtomatik dan tidak didapat adanya gejala-gejala sifilis primer ataupun sekunder. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil uji serologi treponemal dan non treponemall yang reaktif. Tujuan: Mengevaluasi angka kejadian dan penatalaksanaan pasien baru sifilis laten. Metode: Penelitian ini adalah studi deskriptif retrospektif. Data berasal dari rekam medis pasien baru sifilis laten di Divisi Infeksi Menular Seksual (IMS) Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode tahun 2009-2017. Hasil: Selama tahun 2009-2017, didapatkan 37 pasien baru sifilis laten. Pasien terbanyak berusia 26-35 tahun, mayoritas adalah pria dan berstatus menikah. Berdasarkan anamnesis, sebesar 64,9% pasien sifilis laten datang berobat tanpa keluhan dengan membawa hasil laboratorium serologi sifilis yang reaktif. Hasil pemeriksaan penunjang, sebesar 32,4% pasien baru sifilis laten menunjukkan nilai titer VDRL 1:4 dan sebanyak 21,6% pasien baru sifilis laten menunjukkan hasil serologi treponemal TPHA 1:640. Sifilis laten lanjut merupakan diagnosis terbanyak sebesar 75,8%. Sekitar 62,2% pasien sifilis laten mendapat terapi dan 56,5 % pasien dari pasien tersebut mendapat terapi injeksi Benzatin Penisilin G. Simpulan: Penegakan diagnosis sifilis laten dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan serologi. Sifilis laten sebagian besar ditatalaksana dengan injeksi Benzatin Penisilin G sebagai terapi pilihan pertama dari berbagai rekomendasi. Evaluasi hasil serologi non treponemal setelah terapi didapatkan yang paling banyak adalah pasien melakukan kunjungan ulang pada bulan ke 3 sebanyak 9 orang dengan penurunan titer dari 1: 4 menjadi 1:2 sebanyak 4 pasien.
Hubungan Kadar Survivin Serum Berdasarkan Kadar Insulin-Like Growth Factor-1 dengan Derajat Keparahan Akne Vulgaris Yessy Farina Salim; Satya Wydya Yenny; Sri Lestari
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.539 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.7-13

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris (AV) adalah suatu peradangan kronis pada unit pilosebasea dengan gambaran klinis polimorfik. Survivin merupakan inhibitor of apoptosis protein, berperan dalam pengaturan apoptosis dan pembelahan sel. Insulin-like growth factor-1 (IGF-1), secara tidak langsung mengatur ekspresi survivin. Peningkatan sinyal IGF-1 berhubungan dengan peningkatan ekspresi survivin melalui aktivasi jalur phosphatidylinositol 3-kinase/protein kinase B pada keratinosit dan sebosit yang berperan dalam etiopatogenesis AV. Tujuan: Mengetahui hubungan kadar survivin serum berdasarkan kadar IGF-1 dengan derajat keparahan AV. Metode: Penelitian cross sectional study. Tiga puluh satu pasien laki-laki dengan AV berusia 14-17 tahun dengan body mass index normal sebagai sampel penelitian. Kadar IGF-1 dan survivin serum diukur dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay. Hasil: Usia rerata pasien pada penelitian ini 15,54 ­± 0,77 tahun. Akne vulgaris derajat ringan (54,8%) merupakan yang terbanyak ditemukan. Rerata kadar IGF-1 pada kelompok AV derajat berat lebih tinggi 128,03±17,43 ng/ml dibandingkan dengan derajat sedang 115,66±18,67 ng/ml dan 77,47±17,18 ng/ml  pada derajat ringan (p<0,05). Rerata kadar survivin pada kelompok AV derajat berat lebih tinggi 2804,41±1311,17 pg/ml dibandingkan derajat sedang 1173,52±459,37 pg/ml dan 477,90±232,52 pg/ml pada derajat ringan (p<0,05). Peningkatan IGF-1 serum diikuti oleh peningkatan survivin serum dan memiliki korelasi positif dengan derajat keparahan AV (p<0,05 r=0,528). Simpulan: Terdapat hubungan korelasi positif kuat antara kadar survivin serum berdasarkan kadar IGF-1 dengan derajat keparahan AV.
The Effect of Media Exposure, Family Closeness, and Knowledge about Sexually Transmitted Disease on Sexually Transmitted Disease Risk Behaviors in Senior High School Students Oki Wihardiyanto; Flora Ramona Sigit Prakoeswa; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.429 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.55-59

Abstract

Background: Sexually Transmitted Diseases (STDs) is one of the reproductive health problems that caused by unsafe sexual behavior. STDs can be caused by multiple factors, such as influenced by media exposure, family closeness, and the knowledge about STDs. The aim of this research is to evaluate the correlation between media exposure, family closeness, and knowledge about STDs on STDs risk behaviors in senior high school students. Methods: This study used cross sectional method, with 92 subjects of senior high school students, using family closeness questionnaire, media exposure questionnaire, and sexual knowledge and behavior questionnaire. The data were analyzed by Wilcoxon test and logistic regression test. Results: Based on the Wilcoxon test, the relation of media exposure, family closeness, and the knowledge about STDs with STDs risk behaviors obtained z scores 3.316 (p=0.001), -8.352 (p=0.000), -5.000 (p=0.000), respectively. The regression test showed a correlation value between media exposure, closeness, and the knowledge about STDs with STDs risk behavior of each 3.561 (p=0.040), 1.417 (p=0.011), 5.553 (p=0.037). Conclusion: There is a relationship between media exposure, family closeness, and the knowledge of STDs on STDs risk behaviors in senior high school students. Knowledge about STDs is the most influential factor in STDs risk behavior compared to media exposure and family closeness.