cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 505 Documents
Angka Kejadian Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi pada Pasien Akne Vulgaris Sedang Tipe Kulit IV-V yang Diterapi Gel Benzoil Peroksida 2,5% Uji Klinis, Acak, Buta Ganda Irma Bernadette S. Sitohang; Putu Siska Virgayanti; Shannaz Nadia Yusharyahya
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.995 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.71-77

Abstract

Latar belakang: Akne vulgaris (AV) merupakan peradangan kronis folikel pilosebasea dengan manifestasi klinis berupa komedo, papul, pustul, nodus dan pseudo kista yang bersifat swasirna. AV digolongkan atas tiga kategori, yaitu akne vulgaris ringan (AVR), sedang (AVS) dan berat (AVB). Rekomendasi Global Alliance dalam penanganan AVS meliputi antibiotik, asam retinoat, dengan atau tanpa benzoil peroksida (BPO). Kombinasi antibiotik dan BPO direkomendasikan untuk mengatasi masalah tersebut meskipun pada tipe kulit IV-V, hiperpigmentasi pasca inflamasi merupakan masalah yang sering dikeluhkan pada penggunaan BPO. Tujuan: Membandingkan efektivitas, efek samping dan kejadian hiperpigmentasi pasca inflamasi (HPI) pada penggunaan BPO sebagai paduan terapi lini pertama AVS pada tipe kulit IV-V Fitzpatrick. Metode: Penelitian analitik dengan desain uji klinis acak tersamar ganda membandingkan dua sisi wajah yang diberikan paduan terapi lini pertama. Sisi wajah perlakuan diberikan gel BPO 2,5% sedangkan kelompok kontrol gel plasebo. Hasil: Pada minggu ke-2,4,6,8 didapatkan penurunan persentase total lesi sebesar 51,47%, 71%, 75%, 82,84% pada kelompok BPO dan 30%, 53,75%, 62,28, 71%  pada kelompok plasebo (p<0,001) Efek samping dan kejadian HPI pada minggu ke 2,4,6 dan 8 tidak berbeda bermakna. Simpulan: Penggunaan BPO sebagai bagian dari paduan terapi lini pertama AVS lebih efektif, tidak meningkatkan efek samping ataupun kejadian HPI.
Perbedaan Dermatitis Seboroik dan Psoriasis Vulgaris Berdasarkan Manifestasi Klinis dan Histopatologi Astindari Astindari; Sawitri Sawitri; Willy Sandhika
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.04 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-7

Abstract

Latar belakang: Dermatitis seboroik (DS) dan psoriasis sering sulit dibedakan baik secara klinis maupun secara histopatologi. Anamnesis yang tepat dengan memperhatikan usia, riwayat keluarga, dan pemeriksaan klinis yang teliti serta ditunjang dengan pemeriksaan histopatologi, dapat menentukan diagnosis yang tepat. Tujuan: Mengevaluasi perbedaan DS dan psoriasis supaya klinisi dan patolog bisa membuat diagnosis yang benar.Telaah kepustakaan: Secara epidemiologi, terdapat berbagai perbedaan antara DS dan psoriasis. Hal itu bisa dilihat dari usia saat timbulnya lesi, jenis kelamin, ras, maupun genetik. Lokasi lesi dan manifestasi klinis juga mempunyai ciri yang berbeda. Biopsi kulit dibutuhkan untuk membantu menegakkan diagnosis yang tepat.Gambaran histopatologi DS bervariasi sesuai dengan perjalanan penyakitnya: akut, sub-akut, dan kronis, sedangkan psoriasis mempunyai ciri khas berupa pemanjangan rete ridges, abses Munro atau adanya abses Kojog. Simpulan: Terdapat beberapa perbedaan antara DS dan psoriasis dari usia pertama kali muncul lesi, lokasi lesi, manifestasi klinis dan gambaran histopatologi.Kata kunci: dermatitis seboroik, psoriasis, manifestasi klinis, gambaran histopatologi.
Oral Corticosteroid Therapy in Leprosy's new patients with Type 2 Reaction Irma Tarida Listiyawati; Sawitri Sawitri; Indropo Agusni; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 27 No. 1 (2015): BIKKK APRIL 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.721 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V27.1.2015.48-54

Abstract

Background: Leprosy type 2 reactions is an acute inflammatory episode in lepromatous leprosy patient that ascociated with deposition of immune complexes. Standard regiment for severe reaction is corticosteroid. Almost Leprosy type 2 reactions patients become chronic and recurrent so it implicates to more complications if it was not managed well. Purpose: To determine the distribution of type 2 reactions patients which treated with oral corticosteroid in leprosy division of dermatovenereology outpatient clinic of Dr. Soetomo General Hospital. Methods: Retrospective study using new patient's medical record during the period of January 1 2009 until December 31 2013 and the observation continued until December 31 2013. Results: The total type 2 reactions patients with oral corticosteroid was 112 patients, mostly were male aged between 25-64 years and has the Lepromatous Leprosy (LL) type (33%), the reactions happened after RFT  (43.8%), 65.2% had metil prednisolon medication, the initial equivalent dose was 30 mg in 32.1% patient. 21.4% patient had more than one cycle  of corticosteroid therapy and 8.9% patient had the steroid side effect. Conclusion: Leprosy's type 2 reactions tend to be chronic and recurrent and the impact were patients got longterm continuously corticosteroid medication, so the patients need to be monitored including side effects.Key words: leprosy's type 2 reaction, oral corticosteroid, side effects.
Hubungan antara Kadar CD4+ dengan Angka Kejadian Infeksi Menular Seksual pada Pasien HIV/AIDS Ancella Soenardi; Prasetyadi Mawardi
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.498 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.104-110

Abstract

Latar Belakang: Infeksi menular seksual (IMS), termasuk infeksi Human immunodeficiency virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), merupakan masalah utama di negara berkembang. Koinfeksi IMS pada pasien HIV merupakan faktor komorbid peningkatan risiko transmisi HIV dan IMS. Kadar sel limfosit T CD4+ digunakan untuk menentukan imunitas pasien HIV/AIDS. Studi yang menghubungkan jumlah sel CD4+ dan angka kejadian IMS pada pasien HIV/AIDS hingga kini hanya sedikit. Tujuan: Mengevaluasi profil IMS pada pasien HIV/AIDS di RSUD dr. Moewardi dan mengevaluasi hubungan antara kadar sel limfosit CD4+ dengan angka kejadian IMS pada pasien HIV/AIDS. Metode: Penelitian retrospektif menggunakan data sekunder rekam medik klinik Voluntary Conseling and Testing (VCT) RSUD dr. Moewardi periode Januari 2014 - Maret 2016. Diagnosis IMS ditegakkan berdasarkan pendekatan sindrom. Data CD4+ pasien IMS dengan HIV/AIDS dicatat untuk diolah secara statistik. Hasil: Kasus terbanyak adalah kondiloma akuminata (44%), ulkus genital nonherpes (12%), dan herpes genitalis (12%). Pemeriksaan sel limfosit CD4+ berdasar data rekam medis,13 pasien memiliki nilai CD4+ ≤ 350 sel/mm3, 2 pasien memiliki nilai CD4+ >350 sel/mm3, dan nilai CD4+ pada 7 pasien lainnya tidak diketahui. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara CD4+ dan angka kejadian IMS (p=0,562), tetapi kelompok nilai CD4+ rendah berisiko 1,16 kali untuk terkena IMS dibandingkan kelompok nilai CD4+ tinggi (0,67 kali). Simpulan: Hubungan bermakna antara kadar sel limfosit T CD4+ dan angka kejadian IMS belum dapat ditegakkan, meskipun kadar CD4+ rendah berisiko 1,16 kali untuk terkena IMS. Skrining kasus IMS pada pasien HIV/AIDS disertai perubahan perilaku dan pengobatan IMS yang tepat diharapkan dapat mencegah penularan HIV/AIDS.
Uji Tempel Pasien Dengan Riwayat Dermatitis Kontak Alergi Kosmetik di URJ Kesehatan Kulit Dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya Antoni Miftah; Cita Rosita Sigit Prakoeswa; Hari Sukanto
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.031 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-7

Abstract

Latar belakang: Kasus dermatitis kontak alergi kosmetik (DKAK) relatif signifikan, diperkirakan 10% dari seluruh kasus dermatitis kontak di RSUD Dr. Soetomo Surabaya cenderung meningkat. Tahun 2008 ditemukan 24 (6%) penderita DKAK dari 267 pasien DKA, sedangkan tahun 2009 ditemukan 36 (15%) dari 230 pasien DKA yang datang berobat. Tujuan: Mengetahui bahan kosmetik penyebab dermatitis kontak akibat kosmetik dan mengetahui relevansi klinis hasil uji tempel. Metode: Penelitian retrospektif terhadap 30 sampel dengan riwayat DKAK periode November 2010 – November 2011 di Divisi Alergi Imunologi URJ Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo. Uji tempel menggunakan 12 bahan standar alergen kosmetik. Hasil: Enam belas pasien dari 30 sampel (53,33%) didapatkan hasil positif dengan satu atau lebih alergen dan 14 pasien (46,67%) negatif terhadap alergen yang ditempelkan. Hasil uji tempel positif terbanyak dari 16 pasien tersebut adalah alergen pewarna rambut yaitu 13 pasien (43,3%), diikuti pewangi 6 pasien (20%) dan pengawet 5 pasien (16,7%). Simpulan: Uji tempel alergen standar kosmetik dapat digunakan sebagai pemeriksaan penunjang terhadap penderita dermatitis kontak alergi kosmetik di Divisi Alergi Imunologi URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kata kunci: dermatitis kontak alergi, alergen kosmetik, uji tempel, relevansi klinis.
Patch Test and Repeated Open Application Test (ROAT) in Allergic Contact Dermatitis Anggraeni Noviandini; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.13 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-9

Abstract

Background: The clinical relevance of patch test reaction is often difficult to determine. Repeated Open Application Test (ROAT) have been developed to further evaluate the significance of patch test result. Purpose: Understanding methods, procedures, and reactivity of patch test and ROAT, so thatmay be used to help identify with a high risk of developing allergic contact dermatitis. Reviews: The validity of patch test is limited. Various attempts have been made at modifying the patch test, primarily in order to increase the sensitivity of the skin and thus enhance the reliability and validity of the results, such as ROAT. Several experimental studies have compare the result of patch testing with the outcome of ROATs and these have defined correlations between the threshold concentration at patch testing (MEC) and outcome of ROAT, and also shed light on some factors that may influence the outcome of ROATs. Results of patch testing with serial dilutions of colophony, cinnamic aldehyde, and isoeugenol have shown concordance with the outcome of ROATs. On the other hand, poor correlation between patch test reactivity and ROAT were demonstrated in another study on isoeugenol,hydoxycitronellal, formaldehyde dan chromium. Conclusion: Patch test and ROAT are two methods that may be used toidentify allergen exposure and MEC Allergic Contact Dermatitis reaction.Key words: patch test, repeated open application test (ROAT), allergic contact dermatitis (ACD).
Occupational Contact Dermatitis: Retrospective Study Dinar Witasari; Hari Sukanto
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.237 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-7

Abstract

Background: Occupational skin disease is the second largest occupational disease in Europe after musculoskeletal injury.Most common occupational skin disease is contact dermatitis as many as 70-90%. Determining the cause of contact dermatitis in occupational environment is very important to avoid causing substances and to establish healing as well as reducing the recurrence rate. Purpose: To evaluate the management of new patients with occupational contact dermatitis in Allergy Immunology Division, Dermatology and Venerology outpatient clinic Dr. Soetomo General Hospital Surabaya in period of 2010-2012. Methods: Retrospective study of new patients with occupational contact dermatitis in Allergy Immunology Division during 2010-2012. Results: New patient of occupational contact dermatitis during the period of 2010-2012 were 50 new persons, predominantly occured in male in reproductive age (25-44 year old), irritant contact dermatitis (ICD) occured more frequent than allergic contact dermatitis (ACD). The majority of subjects were factory workers, with the most suspected ingredients was chemicals. About 21.7% patients underwent patch test. The therapy mostly given were antihistamines and topical steroids. There were 46% of patients who did not visit outpatient clinic again. Conclusions: New patients of occupational contact dermatitis in Allergy Immunology Division during the period of 2010-2012 were as many as 50 new patients. Patch test should be performed to establish the diagnosis and determine the cause of contact dermatitis materials.Key words: occupational contact dermatitis, patch test, retrospective study.
Kualitas Hidup Pasien Dewasa Muda dengan Akne Vulgaris Derajat Sedang di Indonesia Diah Mira Indramaya; Menul Ayu Umborowati; Amanda Gracia Manuputty; Ridha Ramadina Widiatma; Eva Lydiawati; Trisniartami Setyaningrum; Rahmadewi Rahmadewi
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.802 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.110-115

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris (AV) adalah penyakit inflamasi kronik yang menyerang unit pilosebasea yang paling banyak menyerang pasien dewasa muda di hampir seluruh negara. Pasien dengan akne vulgaris dapat mengalami tekanan psikologis sehingga memengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan: Mengevaluasi kualitas hidup pasien akne vulgaris derajat sedang. Metode: Merupakan penelitian potong lintang observasional dengan menggunakan kuesioner yang melibatkan pasien AV derajat sedang yang mendapatkan terapi AV standar dan penambahan fototerapi sinar biru pada periode Desember 2017 hingga Februari 2018 di Divisi Kosmetik Medik Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Hasil: Sejumlah 40 pasien berusia 16 – 25 tahun dengan rata-rata 19,22 ± 2,76 tahun. Subjek merasakan AV berefek berat terhadap kualitas hidupnya (65%), diikuti dengan yang merasakan berefek sedang (20%), berefek ringan (10%), berefek sangat berat (2,5%), dan tidak ada efek terhadap kualitas hidup (2,5%). Skor total kuesioner Dermatology Life Quality Index (DLQI) dianalisis korelasi dengan variabel lama sakit dan usia subjek menggunakan uji Spearman’s rho. Analisis tersebut menunjukkan adanya korelasi yang bermakna antara skor DLQI total dengan lamanya subjek menderita AV (p = 0,037; CI 95%). Kekuatan korelasi antar kedua variabel (r) negatif lemah. Hal tersebut berarti semakin lama durasi menderita AV maka semakin kecil skor DLQI total. Skor DLQI total dikatakan tidak berkorelasi dengan usia subjek (p = 0,318; CI 95%). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan penurunan kualitas hidup pada pasien akne derajat sedang, dan kualitas hidup berkorelasi dengan lama durasi menderita AV.
Profil Pasien Kusta Baru pada Anak I G.A. Kencana Wulan; Indropo Agusni; Cita Rosita
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 2 (2014): BIKKK AGUSTUS 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.047 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.2.2014.1-6

Abstract

Latar belakang: Kusta hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Kusta pada anak merupakan indeks epidemiologis untuk menentukan transmisi penyakit serta sebagai salah satu indikator dalam keberhasilan program pemberantasan penyakit kusta nasional. Tujuan: Mengevaluasi profil pasien kusta pada anak. Metode: Penelitian retrospektif terhadap semua kasus kusta baru pada anak (0-14 tahun) yang datang ke Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr.Soetomo Surabaya mulai Januari 2009 sampai Desember 2011. Hasil: Didapatkan 37 pasien anak (5,5%) dari 677 kasus kusta baru. Kasus paling banyak (70,3%) terdapat pada kelompok usia 10-14 tahun. Laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Berdasarkan klasifikasi WHO, sebanyak 29 kasus (78,4%) adalah kusta multibasiler (MB) dan 8 kasus (21,6%) adalah kusta pausibasiler (PB). Tipe terbanyak adalah kusta tipe BB (59,5%) pada kelompok MB dan diikuti tipe TT (16,2%) pada kelompok PB. Seluruh kasus mendapat pengobatan Multidrug Therapy (MDT) sesuai panduan WHO. Kontak serumah didapatkan 68,7% kasus. Simpulan: Ditemukan 37 kasus kusta baru pada anak di RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama tiga tahun, terutama pada kelompok umur 10-14 tahun, dengan kasus terbanyak berupa kusta MB tipe BB. Kontak serumah masih memegang peranan yang penting pada transmisi kusta.Kata kunci: kusta, anak-anak, retrospektif.
Studi Retrospektif: Reaksi Kusta Tipe 1 Ridha Ramadina Widiatma; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.976 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.144-149

Abstract

Latar Belakang: Reaksi kusta tipe 1 terjadi akibat perubahan keseimbangan antara cell mediated immunity (CMI) dan basil Mycobacterium leprae di saraf dan kulit pasien kusta dengan hasil akhir berupa upgrading atau reversal. Pasien kusta tipe subpolar memiliki imunitas yang tidak stabil sehingga sering mengalami reaksi tipe 1 yang berulang terutama tipe Borderline Borderline (BB). Gejala klinis reaksi tipe 1 berupa peradangan kulit maupun saraf dapat menimbulkan kecacatan bila tidak ditangani secara tepat. Tujuan: Mengevaluasi gambaran umum, diagnosis, dan terapi reaksi kusta tipe 1. Metode: Studi retrospektif terhadap rekam medis kunjungan baru pasien kusta selama 4 tahun (2014 – 2017) di Divisi Kusta Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr Soetomo Surabaya. Hasil: Total 68 pasien baru kusta dengan reaksi tipe 1 (13,2% dari seluruh pasien baru Divisi Kusta), 60,3% berjenis kelamin laki-laki, 41,2% berusia 15–34 tahun, dan tipe kusta terbanyak adalah tipe BB (72,1%). Gejala reaksi pada kulit berupa keluhan penebalan bercak merah lama (80,9%), reaksi terutama terjadi saat masih dalam pemberian multidrug therapy (66,2%). Gejala saraf tepi pada reaksi tipe 1 yang terbanyak adalah tanpa gejala (66,7%). Terapi terbanyak yang diberikan adalah obat antiinflamasi nonsteroid (45,6%) dan kortikosteroid (29,4%). Simpulan: Diagnosis reaksi tipe 1 perlu ditegakkan dengan benar melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menentukan penatalaksanaan yang tepat. Penggalian riwayat tentang faktor pemicu sangat penting untuk mencegah reaksi tipe 1 berulang atau berkepanjangan.