cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
JURNAL INTEGRASI PROSES
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal integrasi proses (JIP) diterbitkan oleh Jurusan Teknik Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dua kali dalam setahun. JIP menerima artikel dalam bidang teknik kimia berupa original research papers, reviewed papers dan short communications dari para peneliti, akademisi, industri dan praktisi.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2024)" : 16 Documents clear
PEMANFAATAN LIMBAH FLY ASH PABRIK KELAPA SAWIT SEBAGAI ADSORBEN LOW-COST UNTUK PEMUCATAN CRUDE PALM OIL Dyah Nirmala; Elda Pelita; Desniorita Desniorita; Rita Youfa; Regna Tri Jayanti; Anang Baharuddin Sahaq; Resi Levi Permadani
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.28882

Abstract

Penggunaan fly ash (FA) pabrik kelapa sawit (PKS) sebagai adsorben dapat meningkatkan nilai guna dalam pengolahan limbah padat PKS. Penelitian ini bertujuan mengkaji kemampuan FA sebagai adsorben untuk pemucatan (bleaching) crude palm oil (CPO). Adsorben FA diharapkan dapat mengurangi atau menjadi alternatif pengganti adsorben komersial bleaching earth (BE) di industri refinery minyak sawit. Penelitian diawali dengan proses aktivasi adsorben FA secara kimia (penambahan larutan asam oksalat) dan fisika (pemanasan menggunakan furnace). CPO dilakukan degumming terlebih dahulu menggunakan asam fosfat. Selanjutnya, adsorben hasil aktivasi dan adsorben komersial BE digunakan dalam proses bleaching CPO dengan jumlah adsorben dan suhu bleaching yang divariasikan. CPO hasil bleaching dilakukan uji warna dengan lovibond tintometer untuk menentukan kemampuan penyerapan adsorben. Penurunan warna CPO terendah diperoleh pada adsorben FA dengan aktivasi kimia pada konsentrasi asam oksalat 1,5 M (FA 1,5 M) dan aktivasi fisika pada suhu 400°C (FA 400°C) masing-masing sebesar 16R/16Y dengan jumlah adsorben 1,5% dan suhu pemucatan 120°C. Berdasarkan hasil uji gum, penggunaan dosis adsorben 1,5% menunjukkan tidak adanya sisa gum pada CPO hasil bleaching. Selain itu juga dikaji kemampuan penyerapan dari kombinasi adsorben FA dan BE dengan rasio yang divariasikan. Penurunan warna CPO terbaik sesuai standar mutu industri refinery sebesar 17R/17Y diperoleh pada rasio adsorben BE:FA sebesar 1:3 (adsorben campuran BE:FA 1,5 M dan BE:FA 400°C). Kadar FFA CPO hasil bleaching secara keseluruhan mengalami kenaikan dibanding dengan CPO awal yaitu sebesar 7,719%.
PEMANFAATAN LIMBAH ECENG GONDOK MENJADI SELULOSA ASETAT SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN FILTER MASKER DENGAN METODE PELAT KACA SEDERHANA Annisa Kurnia Pratiwi; Sultan Tora Fattahu Majid; Titi Susilowati
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.27164

Abstract

Pembuatan filter masker dengan memanfaatkan selulosa asetat dari eceng gondok (Eichhornia crassipes) bertujuan untuk mendapatkan bahan alternatif pembuatan filter masker selain kapas. Pemilihan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) sebagai bentuk pemanfaatan gulma perairan yang masih sedikit pengolahannya. Faktor pembanding dalam penelitian ini untuk menghasilkan selulosa asetat yang sesuai dengan standar filter masker adalah kecepatan pengadukan dan waktu asetilasi saat proses asetilasi. Variasi kecepatan pengadukan yang digunakan adalah 350, 450, 550, 650, dan 750 rpm, serta waktu asetilasi pada rentang 15, 20, 25, 30, dan 35 menit.  Kadar asetil yang dihasilkan dari selulosa asetat memiliki potensi sebagai bahan pembuatan filter masker dengan rentang 36,5%-42,2%. Penelitian ini berhasil memperoleh kadar asetil yang sesuai dengan standar pembuatan filter masker yaitu 550 rpm selama 15 menit dan 20 menit sebesar 39,45% dan 38,45%. Hasil penelitian menunjukan semakin tinggi kecepatan pengadukan maka kadar asetil yang terbentuk akan semakin kecil.  Semakin   lama   waktu asetilasi maka kadar asetil yang terbentuk akan semakin kecil. Kedua kondisi tersebut berbanding lurus terhadap kadar asetil yang dihasilkan. Selulosa asetat dengan kadar asetil 39,45% dilakukan pencetakan dengan pelat kaca sederhana dan berhasil memperoleh nilai particle filtration efficiency (PFE) sebesar 83,6% dan sudah sesuai dengan SNI.
OPTIMASI WAKTU DISTILASI AIR DAN RASIO BAHAN BAKU PADA EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DAUN SERAI DAPUR (Cymbopogon citratus) Novita Indahyani; Luky Natasha; Ardika Nurmawati; Erwan Adi Saputro
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.29086

Abstract

Serai dapur (Cymbopogon citratus) adalah tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak atsiri dengan aroma lemon yang kuat karena mengandung kadar sitral tinggi (44,3-91,4%) sehingga dinamakan lemongrass oil. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan minyak atsiri yang didapat dengan mutu SNI 06-3953-1995 dan menentukan kondisi optimum rasio bahan terhadap pelarut dan waktu distilasi air pada rendemen minyak atsiri serta menentukan model persamaan dengan RSM pada software Design Expert 13. Penelitian ini menggunakan proses ekstraksi metode distilasi air selama 30, 60, 90, 120, dan 150 menit dengan rasio bahan dan pelarut sebesar 1:4, 1:8, 1:12, 1:16, dan 1:20 (g/ml). Daun serai dapur kering sebanyak 300 gram dilakukan pretreatment dengan proses ultrasonik selama 10 menit pada suhu 40°C dan frekuensi 40 kHz dengan akuades kemudian didistilasi hingga diperoleh minyak atsiri. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan rendemen tertinggi yaitu 1,2734% pada rasio bahan dengan pelarut 1:20 (g/ml) dan waktu distilasi air 120 menit. Hasil optimasi diperoleh pada kombinasi rasio bahan dengan pelarut 1:19,997 (g/ml) dan waktu distilasi air 131,941 menit dihasilkan rendemen sebesar 1,245% dan nilai desirability 1,000 pada model kuadratik. Dari hasil analisis minyak atsiri berwarna kuning pucat–kuning kecoklatan, densitas 0,8671-0,9803 g/ml, rendemen 0,3803-1,2734 %, indeks bias 1,4747, kelarutan dalam alkohol 1:2, dan kadar sitral 56%. Minyak atsiri daun serai dapur yang diperoleh hasilnya memenuhi mutu SNI nomor 06-3953-195.
THE EFFECT OF OIL PALM EMPTY FRUIT BUNCH (OPEFB) FILLER ON THE IMPACT STRENGTH, SURFACE MORPHOLOGY, AND THERMAL PROPERTIES OF HIGH IMPACT POLYSTYRENE (HIPS)/OPEFB COMPOSITES Silvia Silvia; Safira Afrilia; Khadijah Sayyidatun Nisa; Desi Budi Ariani
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.28392

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh filler Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) terhadap sifat mekanik dan termal komposit High-Impact Polystyrene (HIPS). Polimer HIPS, yang dikenal karena ketahanan impaknya, dikombinasikan dengan filler TKKS untuk dikaji perubahan yang terjadi terhadap kekuatan impak, suhu transisi kaca (Tg), suhu leleh (Tm), entalpi pelelehan (ΔHm), dan morfologi permukaan. Komposit HIPS/TKKS, dengan variasi persentase TKKS 0%b, 10%b, 15%b, dan 20%b, disiapkan menggunakan Compounder dan Manual Forming Machine. Pengujian kekuatan impak dilakukan dengan metode Charpy unnotched, sementara pengujian morfologi serta sifat termal dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan Differential Scanning Calorimetry. Hasil pengujian menunjukkan penurunan kekuatan impak seiring dengan meningkatnya kandungan TKKS yang disebabkan oleh lemahnya ikatan antarmuka antara matriks HIPS yang bersifat hidrofobik dan filler TKKS yang bersifat hidrofilik. Analisis termal menunjukkan penurunan Tg, Tm, dan ΔHm yang mengindikasikan perubahan pada kristalinitas dan mobilitas rantai polimer akibat penambahan filler TKKS pada matriks HIPS. Observasi morfologi permukaan menunjukkan adanya pori-pori ukuran besar dan tidak merata, terutama pada pengisian TKKS yang lebih besar, yang berkontribusi pada penurunan performa kuat impak komposit. Penelitian ini memberikan wawasan signifikan mengenai penggunaan TKKS tanpa modifikasi sebagai filler dalam komposit HIPS. Penelitian ini mengungkap tantangan yang timbul akibat sifat hidrofilik filler TKKS dan dampaknya terhadap sifat termal dan mekanik komposit HIPS/TKKS. Temuan ini menekankan pentingnya peningkatan kompatibilitas antarmuka untuk mendukung pengembangan material komposit HIPS/TKKS yang berkelanjutan dan ekonomis.
PENURUNAN KADAR BOD, COD, DAN TSS DALAM LIMBAH CAIR TAHU DENGAN METODE AERASI DAN OZONASI Adinda Putri Cahyani; Dwi Ayu Febrianti; Suprihatin Suprihatin
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.28788

Abstract

Limbah cair industri tahu biasanya belum diolah secara optimal, sehingga mengandung kadar bahan pencemar yang tinggi. Berdasarkan hasil analisa diketahui limbah cair tahu di daerah Candi, Sidoarjo memiliki kadar COD sebesar 7704mg/L, BOD 4726mg/L, dan TSS 94mg/L. Limbah dengan bahan pencemar yang tinggi tidak dapat dibuang secara langsung ke lingkungan sehingga membutuhkan suatu pengolahan. Metode pengolahan yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar pencemar yaitu metode aerasi dan ozonasi. Proses pengolahan limbah dengan metode aerasi dan ozonasi yaitu limbah cair tahu dilakukan proses pengenceran sebanyak 10 kali, kemudian dilakukan proses aerasi selama 6 jam dengan laju alir 6 L/menit. Hasil dari proses aerasi akan dilakukan penyesuaian pH dengan menambahkan larutan NaOH 1 M dengan variasi pH 6; 7; 8; 9; dan 10, setelah itu dilakukan proses ozonasi dengan laju alir ozon 400 mg/jam dan waktu kontak selama 60; 80; 100; 120; 140 menit. Hasil analisa BOD, COD, dan TSS pada limbah cair tahu yang telah dilakukan proses aerasi dan ozonasi menunjukkan hasil penurunan kadar tertinggi yaitu pada pH 10 dengan waktu kontak selama 140 menit yang menghasilkan kadar COD 662mg/L, BOD 241mg/L dan TSS 36mg/L.
OPTIMASI WAKTU DAN KONSENTRASI PELARUT BASA DALAM PROSES HIDROLISIS GELATIN DARI TULANG CEKER AYAM KAMPUNG Bintang Arya Sena; Indah Dwi Asti; Nur Aini Fauziyah; Sintha Soraya Santi
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.28267

Abstract

Limbah pangan termasuk limbah yang mudah terurai dengan bantuan mikroorganisme. Sebagian besar limbah pangan skala rumah tangga yang dihasilkan belum mendapatkan perlakuan pengolahan limbah dengan baik yang menyebabkan dampak yang merugikan bagi lingkungan. Pengolahan limbah pangan menjadi produk bernilai mutu tinggi salah satunya dengan mengolah menjadi gelatin. Limbah yang memiliki kandungan kolagen yang tinggi merupakan bahan baku untuk menghasilkan gelatin. Salah satu bahan yang dapat digunakan yaitu tulang ceker ayam kampung yang mengandung protein yang tinggi. Proses untuk mengolah tulang ceker ayam kampung menjadi gelatin melalui proses ekstraksi dan hidrolisis kolagen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui titik optimum konsentrasi pelarut basa dan lama waktu perendaman dalam proses hidrolisis pada tulang ceker ayam kampung terhadap gelatin yang dihasilkan. Titik optimum dapat diketahui berdasarkan hasil yield yang diperoleh dari setiap variabel. Penentuan titik optimum ini dengan menggunakan metode response surface method (RSM) yang diperoleh berdasarkan hasil yield tertinggi. Kandungan gelatin pada sampel dianalisis menggunakan FTIR. Kondisi optimal dari proses hidrolisis gelatin dari tulang ceker ayam kampung menggunakan metode RSM, yaitu pada rasio waktu perendaman 3,1121 jam dan konsentrasi pelarut 1,1151 M dihasilkan sebesar 0,4156 gram.
PENGARUH SUHU DAN PERBANDINGAN PEREAKSI PADA SINTESIS TRIASETIN DARI GLISEROL DAN ASAM ASETAT Soni Candra; Nuryoto Nuryoto; Widya Ernayati Kosimaningrum
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.25857

Abstract

Cadangan energi fosil terus mengalami penurunan dan konsumsi terus mengalami peningkatan, sehingga menciptakan energi alternatif dapat menjadi pilihan untuk mengatasi kondisi tersebut. Salah satu energi alternatif yang sekarang masif dikembangkan adalah biodiesel. Sintesis biodiesel menghasilkan gliserol sebagai produk samping. Ketika produksi biodiesel mengalami peningkatan, akan diikuti dengan semakin meningkatnya gliserol. Pengolahan gliserol harus dilakukan untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkan, salah satunya dengan mengubahnya menjadi produk triasetin. Triasetin sendiri dapat dimanfaatkan sebagai bahan aroma makanan, pelarut pada parfum, plasticizer untuk resin, dan dapat juga digunakan sebagai zat aditif dalam bahan bakar cair sebagai anti knocking pada mesin. Tujuan dari kajian ini adalah melakukan reviu dan menganalisis dampak suhu reaksi dan perbandingan pereaksi pada sintesis triasetin berdasarkan referensi. Hasil kajian menunjukkan bahwa semakin meningkat perbandingan pereaksi dan suhu reaksi akan diikuti dengan kenaikan konversi produk triasetin.
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PT ENERGI AGRO NUSANTARA DENGAN METODE HIDROLISIS BASA DAN FERMENTASI Rachma Putri Salsya Dilla; Salsa Bila Naris Danur Putri; Ni Ketut Sari
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.27607

Abstract

Bioetanol merupakan salah satu sumber energi yang didapatkan dari proses fermentasi nabati. Pembuatan bioetanol memanfaatkan limbah cair hasil proses fermentasi sebagai bahan baku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kadar bioetanol yang tinggi dan kadar glukosa yang rendah dari limbah cair hasil proses fermentasi dengan cara hidrolisis basa dan fermentasi anaerobik. Proses fermentasi dilakukan dengan penambahan kadar turbo yeast pure 48 masing-masing sebanyak 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; dan 0,7 (g/ml) dengan waktu fermentasi selama 4, 6, 8, 10, dan 12 hari. Limbah cair diproses hidrolisis basa menggunakan larutan NaOH 8N. Proses fermentasi dilakukan secara anaerobik dengan penambahan urea dan NPK 0,6 g/ 600ml dan kondisi pH 4. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kadar bioetanol tertinggi sebesar 10% dengan kadar glukosa sisa sebesar 12% dan penambahan kadar turbo yeast pure 48 sebanyak 0,5 g/ml pada hari ke-8. Hasil optimasi menggunakan response surface methodology (RSM) didapatkan hasil terbaik diperoleh pada kadar turbo yeast pure 48 sebanyak 0,419 g/ml dengan waktu fermentasi 11,978 hari akan mendapatkan kadar glukosa 21,231% dan kadar bioetanol sebesar 4,087%. Penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan kadar turbo yeast dan waktu fermentasi berpengaruh signifikan terhadap kadar glukosa dan bioetanol. Penambahan turbo yeast meningkatkan kadar bioetanol dan menurunkan kadar glukosa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengurangi limbah yang dihasilkan dari PT Energi Agro Nusantara dan menghasilkan kadar glukosa sisa yang rendah serta kadar bioetanol yang tinggi.
EFFECT OF CONCENTRATION ON KINETICS AND THERMODYNAMICS PARAMETER IN THE Cu (II) REMOVAL BY ACTIVATED ZEOLITE Moh. Azhar Afandy; Fikrah Dian Indrawati Sawali
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.25316

Abstract

Adsorption is a commonly used technique for removing heavy metals, particularly Cu (II), due to its efficiency, cost-effectiveness, simple operation, high stability, and excellent selectivity. This study aims to investigate the impact of varying Cu (II) concentrations on the kinetic and thermodynamic parameters during the adsorption process. The adsorption of Cu (II) by activated zeolite was conducted in several batches, using various initial concentrations (20-120 mg/L) and for varied operating time (30-180 minutes). Various kinetic models have been used to evaluate kinetic rate parameters and maximum adsorption capacity, calculated using linear regression equations. Thermodynamic studies were conducted at different temperatures (303-318 K). The study's results indicate that the concentration has a comparable impact on Cu (II) adsorption by activated zeolite, suggesting a pseudo-second-order equation. As the concentration of Cu (II) increases, so do the adsorption capacity (qe) and adsorption rate. At a Cu (II) concentration of 120 mg/L, the adsorption capacity and rate were the maximum, with qe= 5.6054 mg/g, k2 = 64.2279 g.mg-1.min-1, and Coefficient Correlation value (R2) = 0.9998. The ΔG° value suggests that the adsorption process happens spontaneously and through physical adsorption. On the other hand, the ΔH° value reveals that it happens endothermic.
INFLUENCE OF SOLVENT TYPE ON PATCHOULI OIL EXTRACTION EFFICIENCY USING MICROWAVE-ASSISTED METHOD Sanjaya, Andri; Mustafa, Mustafa; Sweatenia, Elisabeth Grace; Aulia, Siti Aisyah Rahimah; Rahmawati, Disty; Valiendra, Dhanda Ahmad; Damayanti, Damayanti; Fahni, Yunita; Auriyani, Wika Atro; Saputri, Desi Riana
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.28559

Abstract

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) is an essential oil-producing plant with high economic value. Patchouli oil consists of components with a high boiling point, so it is very well used as a binding agent in the perfume industry. Patchouli oil is also used in the cosmetics and perfume industry, as well as in the food and beverage industry and the pharmaceutical industry.  This study aims to determine the effect of solvent type and extraction time on the obtained patchouli oil yield and the composition of patchouli oil through gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) analysis. Patchouli leaves were extracted using the microwave-assisted extraction (MAE) method at 375 W microwave power with 30, 45, 60, 75, and 90-minute time variations. The solvents used in this study were hexane and ethanol with a raw material to solvent ratio of 1:15. The results showed that patchouli oil yield increased with increasing extraction time until it reached the optimum value. However, after reaching the optimum value, the yield decreased with increasing time. Patchouli oil with ethanol has the highest yield at 75 minutes of extraction time, with a yield of 28.45%, and patchouli oil with hexane has the highest yield at 45 minutes, which is 6.25%. Based on GC-MS test, patchouli oil contains patchouli alcohol, trans-caryophyllene, α-guaiene, α-patchoulene, β-patchoulene, δ-guaiene and veridiflorol. The patchouli alcohol (PA) content contained in patchouli oil with ethanol is 5.192%, while patchouli oil with hexane contains patchouli alcohol of 2.445%.

Page 1 of 2 | Total Record : 16