cover
Contact Name
Indah Wahyu Puji Utami
Contact Email
indahwpu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsejum@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : 19799993     EISSN : 25031147     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Terbit dua kali dalam satu volume yaitu Juni dan Desember; ISSN 1979-9993 berisi tulisan ilmiah tentang sejarah, budaya dan hubungannya dengan pengajaran, baik yang ditulis dalam Bahasa Indonesia maupun asing. Tulisan yang dimuat berupa analisis, kajian dan aplikasi; hasil penelitian, dan pembahasan kepustakaan.
Arjuna Subject : -
Articles 120 Documents
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM DONGENG GAGAK RIMANG Joko Sayono; Ulfatun Nafi'ah; Daya Negri Wijaya
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.127 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5015

Abstract

Abstrak: Gagak Rimang adalah nama kuda jantan dari Arya Penangsang, pen-guasa Jipang Panolan. Semasa hidupnya Arya Penangsang terlibat konflik dengan Jaka Tingkir (penguasa Pajang, sekarang Solo) terkait dengan daerah Demak. Kisah ini yang kemudian menjadi dongeng masyarakat Desa Jipang dan diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tulisan ini akan berupaya mengupas cara kerja dari teori hermeunetik; aplikasi dari teori hermeunetik trans-formatif, reifikasi, dan gender dalam dongeng Gagak Rimang; dan nilai-nilai pendidikan karakter dalam dongeng Gagak Rimang serta bagaimana cara pena-naman nilai karakter pada masyarakat di Desa Jipang. Dongeng berguna dalam mengembangkan kesadaran sejarah pada generasi penerus sehingga mampu men-jadi pribadi yang berkarakter baik dalam hidup bermasyarakat.Kata-kata kunci: Arya Penangsang, Gagak Rimang, Pendidikan KarakterAbstract: Gagak Rimang is the male horse of Arya Penangsang, the regent of Ji-pang Panolan. The life of Arya Penangsang faced a conflict with Jaka Tingkir, the king of Pajang related the area of Demak. This story becomes a tale of Jipang society and is delivered from one generation to the next generation. This article discusses the theory of hermeneutics, the implementation of transformative her-meneutics, reification, and gender in a tale of Gagak Rimang; and the values of the character building in the tale of Gagak Rimang, in addition, some ways to shape character building values in Jipang society. The tale aims to shape the next generation’s historical consciousness therefore this might be a good personal in the society life.Keywords: Arya Penangsang, Gagak Rimang, charater building
SURVEY PERMASALAHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM NASIONAL 2013 MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI JAWA TIMUR I Nyoman Ruja; Sukamto Sukamto
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.111 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5001

Abstract

Abstrak: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan yang dihadapai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam implementasi Kurikulum Nasional 2013 yaitu 1) belum siapnya guru-guru di lapangan dalam arti sosialisasi Kurikulum Nasional 2013 dan pelatihan-pelatihan terlalu singkat, sehingga guru merasa belum siap; guru-guru mata pelajaran IPS berasal dari latar belakang salah satu disiplin ilmu, sehingga merasa kesulitan dalam mengajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial; keterampilan penggunaan teknologi sebagian besar guru masih relatif rendah; fasilitas terkait dengan informasi dan teknologi yang tersedia di sekolah masih relatif terbatas; 2) Guru masih mengalami kesulitan dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan, walaupun sudah ada silabusdan buku guru; 3) Guru masih mengalami kesulitan dalam penilaian atau  evaluasi. Sementara, harapan-harapan yang ingin dicapai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam penerapan Kurikulum Nasional 2013 adalah (1) perlunya penyederhanaan dalam penilaian; (2) untuk membuat tematik dibutuhkan sebuah tempat atau model yang wujudnya nyata, misalnya laboratorium Ilmu Pengetahuan Sosial; (3) bagaimana memprioritaskanantara kedalaman materi dengan kemampuan berpikir siswa; (4) diharapkanpembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang semula hanya 4 Jam Pelajaran bisa ditambah menjadi 6 Jam Pelajaran; (5) Perlunya menyamakan mindset tentang Kurikulum Nasional 2013.Kata-kata kunci: permasalahan, harapan, implementasi, Kurikulum Nasional 2013Abstract. The findings show that the existed problems are faced by teachers of social studies in implementing the 2013 national curriculum. Those are (1) the unpreparedness of teachers because of the short socialization of the 2013 national curriculum. The other reasons might be the teachers are come from the monodiscipline of science, the lack of technological competence, and the limited facilities of information and technology in school; (2) however the teachers have syllabi and the teacher’s guidance book but they still face a difficulty relating the lesson plan; and (3) teachers still face a difficulty in evaluating the learning outcome. In addition, the hopes of social studies teachers are (1) simplifying of the evaluation; (2) making the real model of learning such as social studieslaboratory; (3) prioritizing the depth substance based on the student’s thinking skill; 4) adding the learning time from 4 hours to 6 hours; (5) synchronizing the mindset of teacher on the 2013 national curriculum.Keywords: problem, hope, implementation, 2013 national curriculum
MODERNISASI BUDAYA POLITIK MANGKUNEGARAN Wasino Wasino
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.031 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5016

Abstract

Abstrak. Budaya politik tercermin dari cara elite dalam mengambil suatu kebijakan dan mengimplentasikannya. Mangkunegaran sebagai sebuah kepangeranan hasil dari perpecahan kerajaan Mataram tidak mengikuti budaya politik mataram yang feodal tradisional. Mereka tidak lagi melihat raja sebagai wakil dari Tuhan tetapi mereka berkuasa karena andil dari rakyat. Rakyat yang dimaksud adalah mereka yang berjuang  mendukung sang pangeran melawan penjajah Belanda dan Penguasa Mataram yang dianggap lalim. Terdapat tiga prinsip budaya politik di Mangkunegaran yakni mulat sarira hangrasa wani, rumangsa melu handarbeni, melu hangrungkebi. Ketiga hal ini yang kemudian membuat Mangkunegaran terkesan memodernisasi birokrasi pemerintahan dan secara tidak langsung merubah etiket yang ada.Kata-kata kunci. Budaya politik, elite, kebijakan, MangkunegaranAbstract. The way of elites in issuing and executing a policy reflects the political culture of a state. Mangkunegaran as a principality, from the court of Mataram disintegration, does not imitate the political culture of Mataram which has the traditional-feodal system. They do not look a king as a representation of God but they have a power from people. The people is who is pursuing and supporting the prince to face the Dutch and the corrupt king of Mataram. There are three principles of Mataram political culture. Those are (1) mulat sarira hangrasa wani, (2) rumangsa melu handarbeni, (3) melu hangrungkebi. This shapes Mangkunegaran seemed modernizing governmental bureaucracy and changing the etiquette indirectly.Keywords. Political culture, elite, policy, Mangkunegaran
PELESTARIAN KEKUASAN PADA MASA MATARAM ISLAM: SEBHA JAMINAN LOYALITAS DAERAH TERHADAP PUSAT1 Ari Sapto
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.129 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.4997

Abstract

Abstrak. Masa lalu mengandung perubahan dan keberlanjutan. Seringkali kesinambungan realitas masa lalu mengalami perbedaan tampilan, namun subtansinya tetap. Penguasa Mataram Islam me-miliki mekanisme untuk menjamin loyalitas penguasa-penguasa di daerah yang menjadi yuridiksin-ya. Jaminan loyalitas ini penting mengingat konsep kekuasaan yang dianut dan luas wilayah kera-jaan. Setelah berhasil menyatukan hampir seluruh dan beberapa wilayah di luar Jawa, Mataram mulai menata pemerintahan dan kewilayahannya. Penataan itu menghasilkan struktur pemerintahan dan kewilayahan yang pengaruhnya dapat dilihat hingga masa sekarang.Kata-kata kunci: sebha, jaminan loyalitas, kekuasaanAbstract. Learning from the past would be depicted the change and the continuity. The continuity of the past reality has the different form, however the substance continues till today. The Sultans of Mataram have a mechanism to guarantee the loyalty of remote areas. The guarantee of loyalty is important concept which is used in the remote areas. After succeeding to unite almost all Java Is-land and some areas outside of Java Island, Mataram started to organize the government and the areas. This arrangement produced the governmental structure and the structure of areas. Today, the influence could be seen clearly.Keywords: sebha, guarantee of loyalty, power
PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN IPS SEJARAH BERBASIS CRITICAL PEDAGOGY DI SEKOLAH Muhammad Iqbal Birsyada
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.819 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5002

Abstract

Abstrak. Pengampu mata pelajaran IPS-Sejarah sebagai salah satu matapelajaran yang mengembangkan kecerdasan sosial peserta didik memerlukanterobosan pendekatan pengajaran yang lebih merangsang minat peserta didikdalam belajar sejarah di sekolah. Oleh karena itu, para perserta didik harusdidekatkan dengan isu-isu sosial di sekitar lingkunganya sehingga timbulkesadaran kritis dalam memandang persoalan-persoalan sosial dalam masyarakat.Dalam hal inilah model pendidikan IPS sejarah di sekolah haruslah berbasiskritis. Peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran tidaklah lagiterdominasi oleh setiap instruksi dan wacana pemikiran dari guru. Namun,peserta didiklah yang akan mengkonstruksi pengetahuanya sendiri secara sadardan kritis tanpa dominasi dari siapapun. Artikel ini ingin memberikan pandanganpemikiran tentang model pendidikan IPS sejarah berbasis critical pedagogy disekolah. Pendekatan critical pedagogy dapat mengantarkan peserta didik menjadipribadi warga negara yang baik.Kata-kata kunci: Pembelajaran, IPS Sejarah, Critical Pedagogy, SekolahAbstract. The teacher of social studies-history as a subject to develop pupils’social quotient needs an alternative of teaching approach. This would stimulatespupils’ motivation in learning history. Therefore, pupils have to be engaged withsocial issues to encourage the critical awareness. The teaching model of socialstudies-history should be based on the critical thinking. The pupils should not bedominated by the thinking of teachers. However, the pupils should construct theirown knowledge. This article wants to give a perspective on the teaching model ofsocial studies-history based on critical pedagogy. This approach could lead thepupils to be the well citizensKeywords : Learning, Social Studies, Critical Pedagogy, School
NAPAK TILAS PERSPEKTIF INDONESIASENTRIS JACOB CORNELIS VAN LEUR Daya Negri Wijaya
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2016): JURNAL SEJARAH DAN BUDAYA, JUNI 2016
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.007 KB) | DOI: 10.17977/sb.v10i1.5914

Abstract

Abstrak: J.C. van Leur adalah salah satu orientalis yang turut memperkenalkan cara pandang dari dalam. Dia, seperti halnya tradisi Weberian, mencoba melihat modernitas dari kacamata masyarakat setempat. Dia menyanggah pendapat bahwa sejarah Nusantara adalah keberpengaruhan dari masyarakat Barat. Masyarakat Nusantara harus dilihat dari dinamika mereka sendiri. Baik masyarakat Barat maupun Timur telah mengalami modernisasi sekaligus menikmati modernitas pada masa tertentu. Asumsi inilah yang dia pakai untuk melihat perkembangan masyarakat Nusantara. Tulisan ini berupaya membahas kehidupan van Leur, pendekatan weberian dan historiografi Indonesiasentris, perdagangan dan embrio kapitalisme, Hinduisasi Nusantara, Islamisasi Nusantara, dan Oksidentalisme Nusantara. Abstract: J.C. van Leur is one of orientalists introducing the perspective from within. He, as like as the Weberian tradition, tries to look at the modernity from the surrounded society. He criticizes the argument of “the history of Nusantara is the continuation of the Western”.   The people should be viewed from their dynamics. Either occidental or oriental societies have face the modernization and the modernity in a different time. This assumption leads him to realize the development of Nusantara. This article will discusses the life of J.C. van Leur; the Weberian approach and Indonesia centric point of view; the trade and the substance of capitalism; Hinduization of Nusantara; Islamization of Nusantara; and Occidentalism of Nusantara
KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN DI TAMANSISWA Yuliati Yuliati
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2016): JURNAL SEJARAH DAN BUDAYA, JUNI 2016
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.063 KB) | DOI: 10.17977/sb.v10i1.5919

Abstract

bstrak. perempuan memiliki peran penting untuk mendewasakan anak-anak. Mereka sudah sewajarnya untuk dilengkapi dengan berbagai kemampuan terutama kemampuan pedagogis. Tamansiswa menyadari hal ini. Mereka melihat perempuan harus diperlakukan sesuai dengan kodratnya. Namun demikian, perihal emansipasi juga harus diarahkan dengan tidak menyalahi kodratnya. Beragam permasalahan yang menimpa perempuan kini karena mereka telah mengingkari kodratnya. Oleh karena itu, sistem among begitu dianjurkan untuk diterapkan. Materi yang diajarkan adalah pendidikan kebangsaan, idealisme, dan cinta tanah air.Kata-kata kunci: perempuan, sistem among, pendidikan perempuanAbstract. Women have the important role to nurture the children. They have already directed to have many competencies, especially the competence of pedagogy. Tamansiswa realizes this thing. They look that women should be treated as their nature. However, they could struggle for emancipation but they cannot ignore their nature. Many problems coming out at present is caused by ignoring the nature. Therefore, the among system is really suggested to be implemented. The taught material is education for nation, idealism, and nationalism.Keywords: woman, among system, education for woman
S.K. TRIMURTI: PEJUANG PEREMPUAN INDONESIA Ipong Jazimah
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2016): JURNAL SEJARAH DAN BUDAYA, JUNI 2016
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.067 KB) | DOI: 10.17977/sb.v10i1.5915

Abstract

Abstrak. S.K. Trimurti adalah seorang tokoh perempuan yang memiliki peran sangat besar dalam perjuangan Indonesia. Berguru langsung kepada Soekarno dan berpartisipasi aktif dalam Partindo adalah salah satu fase penting yang membentuk kepribadian dan jiwa perjuangannya. Dikenal berani, lantang, dan sangat nasionalis S.K. Trimurti saat itu cukup merepotkan pemerintah Belanda. Kesimpulan dari artikel ini menunjukkan bahwa perempuan juga mempunyai tempat yang sama pentingnya dengan laki-laki di masa perjuangan kemerdekaan dan setelahnya. Dibuktikan dengan posisi S.K. Trimurti sebagai ketua Partai Buruh Indonesia, ketua Barisan Buruh Wanita, Ketua Gerwis, Menteri Perburuhan, dan juga pemimpin surat kabar seperti Pesat dan Mawas Diri.  Sebagai bagian dari historiografi, tulisan singkat ini tidak mengabaikan metode penelitian historis yang terdiri dari 4 langkah yaitu: (1) heuristik (pengumpulan sumber) yang berupa buku dan surat kabar; (2) kritik sumber dalam rangka mendapatkan sumber yang akurat; (3) interpretasi atau penafsiran terhadap data-data; (4) historiografi atau penyajian data.  Abstract. S.K. Trimurti is a figure having a significant role in pursuing Indonesian Independence. She inspired by Soekarno and actively participating in Partindo is one phase shaping her personality and her spirit of struggle. She is well-known as a brave and nationalistic woman. She is also known as a stone for the Dutch government. It could be clearly seen that woman has also a place in the period of Indonesian revolution. S.K. Trimurti roles as a chair of Indonesian Labour party, a chair of Women Labour, a chair of Gerwis, a Ministry of labour, and a chair of some newspapers of Pesat and Mawas Diri. As a part of historiography, this short article does not ignore the historical method. This method consisted of four steps of (1) heuristic of books and newspapers; (2) verification in searching accurate data; (3) interpretation on teh data; and (4) historiography.
KAITAN LATAR BELAKANG PENDIDIKAN GURU TER-HADAP PEMANFAATAN CANDI KOTES SEBAGAI SUMBER BELAJAR Mia Juwita Kayuningtyas
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2016): JURNAL SEJARAH DAN BUDAYA, JUNI 2016
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.259 KB) | DOI: 10.17977/sb.v10i1.5920

Abstract

Abstrak. Penelitian ini menjelaskan tentang kaitan antara latar belakang pendidikan guru terhadap pemanfaatan candi Kotes sebagai sumber belajar. Candi Kotes merupakan salah satu sumber belajar sejarah berbasis lingkungan yang dapat digunakan guru guna memaksimalkan pembelajaran sejarah. Namun, pada kenyataannya candi Kotes kurang dimanfaatkan oleh guru sebagai sumber belajar sejarah. Salah satu faktor penyebab minimnya pemanfaatan candi Kotes sebagai sumber belajar sejarah adalah pengetahuan guru. Pengetahuan guru terbentuk melalui pengalaman dan pendidikan. Mayoritas latar belakang pendidikan guru bukan berasal dari pendidikan sejarah, sehingga guru kurang memahami sejarah candi Kotes. Hal tersebut berdampak terhadap ketidakmampuan guru dalam memanfaatkan candi Kotes sebagai sumber belajar, sehingga salah satu unsur pembelajaran sejarah yaitu memanfaatkan sumber belajar semaksimal mungkin kurang terpenuhi. Abstract. This study is concern on the correlation between teacher education background and the use of Kotes Temple as the learning resource. Candi Kotes is one of a learning resource based on environment that can used by teacher to improve the learning of history. In fact, the use of Kotes Temple as history learning resource is low. One of the causal factor is teacher knowledge. Teacher knowledge is built from an experience and an education background. Most of teachers have no history education background. Consequently, teachers have no knowledge about Kotes Temple. It is also influenced teacher’s ability to use Kotes Temple as historical learning source, therefore the using of learning source might not be filled.
PERKAWINAN DALAM SEJARAH KEHIDUPAN KELUARGA JAWA 1920AN-1970AN Mutiah Amini
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2016): JURNAL SEJARAH DAN BUDAYA, JUNI 2016
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.383 KB) | DOI: 10.17977/sb.v10i1.5916

Abstract

Abstrak. Tulisan ini mendiskusikan tentang perkawinan keluarga Jawa dalam periode 1920an-1970an. Sebuah periode ketika perkawinan mengalami tarik menarik kepentingan, baik bagi perempuan sendiri, organisasi sosial-politik, maupun negara. Hal itu tampak melalui solusi atas permasalahan sosial yang muncul terkait dengan perkawinan. Perempuan memiliki cara sendiri untuk hadir di dalam mengatasi permasalahan tersebut. Demikian juga organisasi sosial-politik dan negara. Solusi atas permasalahan perkawinan, dengan demikian, menunjukkan bagaimana perempuan menarasikan dirinya sendiri, bagaimana pula sebenarnya perempuan dinarasikan oleh organisasi sosial-politik dan negara. Untuk menemukan realitas historis terkait dengan perkawinan di masa lalu, tulisan ini menggunakan data tertulis, baik buku, artikel, maupun gambar yang dihasilkan dari surat kabar dan majalah yang terbit dalam kurun waktu tersebut. Abstract. This paper will discuss the Javanese family’s marriage in the period between 1920’s and 1970’s. The marriage faces some interests comprising the women’s interest, social-political organization’s and nation’s interest. This is seemed by the solution of the appeared social problem related to the marriage, social-political organization, and the nation. Therefore, women describe themselves, likewise women are described by social-political organization and the nation. To find the historical phenomena related to the past marriage, this paper used the written data like books, articles, and pictures produced by the newspaper and magazine which were published in this period.    

Page 9 of 12 | Total Record : 120