cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2018)" : 50 Documents clear
PENGARUH MODEL TEMPAT PENGOKONAN TERHADAP KUALITAS KOKON ULAT SUTERA Samia cynthia ricini Lodong, Rusmin Umbu; Santoso, Erik Priyo; Marhaeniyanto, Eko
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cocoon is a protective pupa made of silk fibers woven by larvae when forming a cocoon. From time to time, the cocooning placemodel changes to improve the older model so the quality of cocoon, energy efficiency and place also improved. The purpose of this research was to find the best model of cocooning place that gives the highest quality to cocoonin cluding cocoon weight, cocoon length, pupa and length of pupa. The research was conducted from August to October 2016 in Aneka Ternak Laboratory of Tribhuwana Tunggadewi University Malang. The material used was Samiacynthiaricini silkworm. The study used a Completely Randomized Design with 4 treatments and 3 replications. The treatments applied were the model of net shaker (P0), model of boxing box such as labyrinth (P1), model of aqua glasses (P2), and a circle-like reproduction model (P3). Based on the research, the highest cocoon weight of P3 was 264,43 g and the lowest was P0 treatment 233,33 g. The highest pupa weight was P3 with 218.52 g and the lowest was P0 treatment with 192.66 g. The highest cocoon length was P3 55,31 mm and the lowest was P0 treatment equal to 51,68 mm. The high pupil length was P3, 50.92 mm and the lowest was P0 treatment of 48.04 mm. The cocooning place model gives a different impact on the quality of the resulting cocoon. From the quality of cocoon weight, cocoon length, pupa weight and length of pupa produced then the model treatment of circular spotting place like a mosquito repellent (P3) is the highest. Kokon merupakan pelindung pupa yang terbuat dari serat sutera yang dijalin oleh larva bila membentuk kepompong. Dari waktu ke waktu model tempat pengokonan selalu berubah yang dimaksudkan untuk menyempurnakan model lama dengan tujuan perbaikan kualitas kokon, efisiensi tenaga, tempat dan sebagainya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari model tempat pengokonan yang memberikan kualitas tertinggi terhadap kokonyang meliputi bobot kokon, panjang kokon, bobot pupa dan panjang pupa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2016 di Laboratorium Aneka Ternak Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Materi yang digunakan adalah ulat sutera Samia cynthia ricini. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Lengkap pola dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah model tempat pengokonn jaring (P0), model tempat pengokonan kotak seperti labirin (P1), model tempat pengokonan dari aqua gelas (P2), dan model tempat pengokonan berbentuk lingkaran seperti obat nyamuk (P3). Berdasarkan hasil penelitian bobot kokon tertinggi adalah P3 sebanyak 264,43 g dan jumlah kokon terendah adalah perlakuan P0 sebanyak 233,33 g. Bobot pupa tertinggi adalah P3 sebanyak 218,52 g dan yang terendah adalah perlakuan P0 sebesar 192,66 g. Panjang kokon tertinggi adalah P3 sebanyak 55,31 mm dan yang terendah adalah perlakuan P0 sebesar 51,68 mm. Panjang pupa tertinggi adalah P3 sebanyak 50,92 mm dan yang terendah adalah perlakuan P0 sebesar 48,04 mm. Pengaruh model tempat pengokonan memberikan dampak yang berbeda terhadap kualitas kokon yang dihasilkan. Kualitas bobot kokon, panjang kokon, bobot pupa dan panjang pupa yang dihasilkan maka perlakuan model tempat pengokonan melingkar seperti obat nyamuk (P3) adalah yang tertinggi.
Uji mikrobiologis susu sapi perah Friesh Holland : tinjauan dari sistem manajemen sanitasi yang berbeda pada sapi perah Banamtuan, Nikson Feki; Handayani, Sri; Suroto, Karunia Setyowati
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to determine the total number of Plate Count and MPN E.Koli on milk dairy Friesh Holland The experimental method was experimental by using a randomized block design with 6 treatments of 3 replications so that there were 18 experimental units consisting of P1 = (A1: river water + C1: hand washing rod + S1: udder and nipple washed) P2 = (A1: water + C2: washing hands + S1: udder and nipple in washing) P3 = (A2: well water + C1: hand washed + S1: udder and nipple washed) P4 = (A2: well water + C1: rouge not washing hands + S2: udder and nipple washed) P5 = (A3: water PDAM + C1: hand washing basin + S1: udder and nipple washed) P6 =(A3: water PDAM + C2: hand wash washed + S2: udder and nipple not washed). The variables observed in this research are Total Plate Count and MPN E.Koli Analysis of total plate count and MPN e.coli using analysis of variance (ANOVA) based on the results of this study it can be concluded that the sanitation management system to the highest total count count is found in the treatment of 1 (P1 = (A1 + C1 + S2) with the Total Plate Count 10.5x107 ± 0.59b while the highest MPN E.Koli at treatment (P1 = (A1 + C1 + S2) with MPN value 3.03 mpn / ml. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah Total Plate Count dan Most Probable Number Escherichia coli pada susu sapi perah Friesh Holland. Metode penelitian ini bersifat eksperimen dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan 3 ulangan perlakuan meliputi P1= (A1 : air sungai + C1: pemerah tidak mencuci tangan + S1: ambing dan putting dicuci) P2 = (A1: air sungai + C2: pemerah mencuci tangan + S1: ambing dan putting di cuci) P3: (A2 : air sumur +C1: pemerah tidak mencuci tangan + S1: ambing dan putting dicuci) P4 = (A2 : air sumur + C1: pemerah tidak mencuci tangan + S2 : ambing dan putting tidak dicuci) P5 = (A3 : air PDAM + C1: pemerah tidak mencuci tangan + S1: ambing dan putting dicuci) P6 = (A3: air PDAM + C2: pemerah mencuci tangan + S2: ambing dan putting tidak dicuci). Hasil penelitian ini adalah jumlah Total Plate Count yang meliputi perlakuan: P1=10,5x107 cfu/ml. P2 = 8,7x105cfu/ml. P3 = 8,6x105 cfu/ml. P4 = 8,7x105cfu/ml. P5 = 8,6x105cfu/ml. P6 = 8,5x105cfu/ml dan MPN E.koli yang meliputi perlakuan: P1=3,03 mpn/ml. P2=2,02 mpn/ml. P3=0 mpn/ml. P4=1,92 mpn/ml. P5=0 mpn/ml. P6=1,83 mpn/ml.
PENGARUH PEMBERIAN ’’PUYER HERBAL” TERHADAP BOBOT PANEN, NEKROSIS USUS HALUS, DAN pH USUS HALUS PADA AYAM BROILER Supartini, Nonok; Thiasari, Nurita; Ceunfin, Sisilia
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of different levels of herbs powder to the on slaughter weight, intestinal necrosis, and pH Intestine in broiler chickens, as well as to obtain ideal herbs powder level for broiler chickens. The feed used BR1 for 1-7 days old and feed formulations for 8-35 days old consist of: yellow corn, pollard, meat meal, soybean meal, salt, DL-Metionin and lysine. Method P0 : feed formulation without herbs powder, P1 : feed formulation + 0.3% herbs powder, P2: feed formulation + 0.6% herbs powder, P3 : feed formulation + 0.9% herbs powder. The herbs powder administration based on weekly body weight. This research method used Completely Random Design with 4 treatments and 4 replications. The results showed that the administration of herbs powder with different levels significantly affected (P
VARIASI LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI ASAM ASETAT DALAM PEMBUATAN TEPUNG CANGKANG KERANG DARAH (Anadara granosa) Lamadiko, Abdul Gani; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Clam Shell is a potential source of minerals, especially calcium that can be used as fortificant in food or animal feeding, so it can increase the added value of waste fishery. However, the researches to utilize the shell of clams have not been disclosed so far, because shells are very hard and difficult to process. Therefore, a research is needed to obtain organic solvents that can soften the shell, making it easier to process. One such type of solvent is acetic acid. The objective of this research was to get the best immersion duration and concentration of acetic acid to produce the best quality of clam shell flour and get the economic feasibility to the business of making clam shell flour on a small scale industry. This research used a Randomized Block Design (RAK) of factorial pattern with two factors: soaking period (1 day, 2 days, 3 days) and concentration of acetic acid (50%, 75%, 100%). A repetition was done 3 times, so that 27 units of experiments were obtained. The research parameters included (1) physicochemical test such as calcium content, ash content, moisture content, white degree, yield, protein content and total acid content, and (2) preference test from color and aroma. The best treatment of the study was the clam shell which was soaked for 2 days using 75% concentration of acetic acid solution. The business of clam shell flour in the small scale industry was feasible to work with BEP of Rp. 1,139,11,- and RCR of 1.15. Kulit kerang berpotensi sebagai sumber mineral terutama kalsium yang dapat digunakan sebagai fortifikan dalam pangan atau pakan ternak, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah limbah hasil perikanan. Namun demikian, penelitian untuk memanfaatkan cangkang kerang darah yang hingga saat ini belum banyak diungkapkan, karena cangkang kerang sangat keras dan sulit untuk diolah. Oleh karena itu sangat diperlukan penelitian untuk mendapatkan pelarut organik yang dapat melunakkan cangkang, sehingga lebih mudah diolah. Salah satu jenis pelarut tersebut adalah asam asetat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan lama perendaman dan konsentrasi asam asetat yang tepat untuk menghasilkan tepung cangkang kerang darah dengan kualitas terbaik serta mendapatkan perhitungan kelayakan ekonomi terhadap usaha pembuatan tepung cangkang kerang darah pada skala industri kecil. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor yaitu lama perendaman (1 hari, 2 hari, 3 hari) dan konsentrasi asam asetat (50%, 75%, 100%). Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Parameter penelitian meliputi (1) uji fisikokimia yaitu kadar kalsium, kadar abu, kadar air, derajat putih, rendemen, kadar protein dan kadar total asam, dan (2) uji kesukaan yaitu warna dan aroma. Perlakuan terbaik dari penelitian adalah tepung cangkang kerang darah yang direndam selama 2 hari menggunakan larutan asam asetat dengan konsentrasi 75%. Usaha tepung cangkang kerang darah dalam skala industri kecil layak diusahakan dengan BEP sebesar Rp. 1.139,11,- dan RCR sebesar 1,15.
SURVEI KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN ASIN: STUDI KASUS DIBEBERAPA PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN DI KOTA MALANG Untung, Umbu; Ahmadi, KGS; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Formalin is the commercial name of formaldehyde compounds with levels of 35-40% in water. The use of formalin as an additive in food has been prohibited by the ministry of health and is listed in the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No.722 / MenKes / Per / IV / 88. Nevertheless, in recent years there has been news about the rampant usage of formalin as a preservative of decaying food ingredients such as salted fish. This study aimed to obtain information about the use of formalin in some types of salted fish in traditional and modern markets in Malang. The qualitative data were used in this study, tested and observed positive and negative on salted fish containing formalin and without formalin. Samples were taken from 9 markets, that is traditional and modern markets, they were Madyopura market, Tawangmangu market, Merjosari market, Blimbing market, Bareng market, big market, Giant express Dinoyo, Hero Sawojajar, Supermarket Matahari mall. The result of researh found 3 types of salted fish that were detected of containing formaldehyde, they were salted Mackarel fish from big market, salted Dorang from Madyopuro market, and salted Jambal from Blimbing market. Based on the results obtained from 27 samples of the salted fish, 3 samples were detected with formalin or 11% and 24 samples were not detected with formalin or 89%. Formalin adalah nama komersial dari senyawa formaldehida dengan kadar 35 ? 40% dalam air. Penggunaan formalin sebagai bahan tambahan dalam makanan telah dilarang oleh kementerian kesehatan dan tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.722/MenKes/Per/IV/88. Meskipun demikian, pada beberapa tahun terakhir ini muncul pemberitaan mengenai maraknya penggunaan formalin sebagai pengawet bahan makanan yang mudah membusuk seperti ikan asin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan formalin pada beberapa jenis ikan asin di pasar tradisional dan modern kota Malang. Data kualitatif digunakan pada penelitian ini, yang diuji dan diamati positif dan negatif pada ikan asin yang mengandung formalin dan yang tidak mengandung formalin. Sampel diambil dari 9 pasar, yaitu pasar tradisional dan modern di antaranya ialah pasar madyopura, pasar tawangmangu, pasar merjosari, pasar blimbing, pasar bareng, pasar besar, giant expres dinoyo, hero sawojajar, supermarket mall matahari. Hasil penelitian ditemukan 3 jenis ikan asin yang terdeteksi mengandung formalin yaitu jenis ikan asin layang dari pasar besar, jenis ikan asin dorang dari pasar madyopuro, dan jenis ikan asin jambal dari pasar blimbing. Berdasarkan hasil yang didapat dari 27 sampel ikan asin, 3 sampel ikan asin terdeteksi formalin atau 11 % dan 24 sampel ikan asin yang tidak terdeteksi formalin atau 89 %.
PENGGUNAAN PAKAN KONSENTRAT HIJAU TERHADAP TINGKAT KONSUMSI DAN KECERNAAN BAHAN KERING, PROTEIN KASARDAN SERAT KASAR PADA KAMBING PERANAKAN ETAWA Ta'ena, Adelfina; Susanti, Sri; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of research was study the effect using 10-30% leaf meal on Green concentrate to feed intake and digestibility Etawah Croosbreed goat. The research was conducted in Klampok Village Singosari Subdistrict. The feed material used were rice bran, milled corn flour, soybean meal, coconut meal, mineral, molasses, and mixed of Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, Calliandra calothyrsus, Artocarpus heterophyllus leaf meal (1: 1: 1: 1 ratio) of 10%, 20% and 30% in green concentrate. Sixty male Etawah Croosbreed goat at the average body weight of 26,63 ± 2,07 kg arranged in Randomized Block Design (RBD) with 4 treatments and 4 groups. The treatments applied were P0 (basal diet+concentrate 18% crude protein/CP, without leaf meal), P1(basal diet+green concentrate 18% CP with 10% mixed leaf meal), P2 (basal diet+green concentrate 18% CP with 20% mixed leaf meal), P3(basal diet+green concentrate 18% CP with 30% mixed leaf meal). Basal diet concists of various kinds of leaves(Tithonia diversifolia, mixed grass, nimba leaf, groundnut straw, Centrosema pubescens, lier leaf, avocado leaf, mindi leaf, Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, cassava leaf, and Calliandra calothyrsus).The results showed that the use of 20% mixed leaf meal in green concentrate (CP 18%) gave to produce good levels of feed intake and digestibility in Etawah Crossbreed Goat. Penelitian bertujuan mempelajari penggunaan10-30% tepung daun dalam konsentrat hijau terhadap tingkat konsumsi pakan dan kecernaan kambing Peranakan Etawa.Penelitian dilaksanakan di Desa Klampok Kacamatan Singosari, analisis proksimat dilakukan di laboratorium nutrisi dan makanan ternak, Universitas Brawijaya. Bahan pakan yang digunakan adalah bekatul, jagung giling, bungkil kedelai, bungkil kelapa, mineral, molases dan campuran tepung daun Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, Calliandra calothyrsus, Artocarpus heterophyllusdengan perbandingan 1:1:1:1 sebanyak daun 10-30% dalam konsentrat hijau. Materi percobaan sebanyak 16 ekor kambing Peranakan Etawa jantan dengan bobot badan 26,63 ± 2,07 kg, dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan yang diuji adalah: P0 (Pakan basal + Konsentrat tanpa campuran daun dengan PK), P1(Pakan basal+ Konsentrat hijau (tepung daun tepung gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% penggunaan tepung daun 10%),P2(Pakan basal + konsentrat hijau (tepung daun gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% penggunaan tepung daun 20%), P3(Pakan basal + konsentrat hijau (tepung daun gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% tepung daun 30%). Pakan basal yang diberikan paitan, rumput campuran, daun nimba, jerami kacang tanah, daun sentrosema, daun lier, daun alpukat, daun mindi, gamal, lamtoro, daun singkong, dan kaliandra. Hasil penelitian menunjukan penggunaan tepung daun gamal, lamtoro, kaliandra dan nangka dengan perbandingan (1:1:1:1) sebanyak 20% dan PK 18% dalam pakan konsentrat hijau dapat menghasilkan konsumsi dan kecernaan yang baik pada kambing peranakan etawa.
SELEKSI INDIVIDU HASIL PERSILANGAN TERBUKA PADA TANAMAN UBIJALAR (Ipomoea batatas L.) Widarsono, Kasianus; Lestari, Sri Umi; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to evaluate and selected genotypes in the halfsib populations obtained from open crosses to the high yield potential with the criteria of ?0.5 kg / plant. This research was conducted in al of Brawijaya university, located Jatikerto Village, Kromengan District, Malang. The research was conducted in May 2016 until September 2016. Five open-ended halfsib families were used in this study, including 73-6/2 OP (62 genotypes), Sukuh OP (56 genotypes), Cilembu OP (67 genotype), Yellow Red OP (57 genotype), and Yellow White OP (56 genotype). The five families were planted on a single 60 cm long Single Row plot arranged in 5 experimental blocks. Each family was placed in 1 experimental block, planted together with five female parent clones, namely 73/6-2, Sukuh, Cilembu, Red Brass, and White Brass. Each parent in each experimental block was planted 10 cuttings. Plants were harvested at the age of 3.5 to 4 months and observed the number of root / tubers, fresh tuber weight (kg/plant), fresh weight of stems (kg / plant),% dry weight of root,% dry weight of stover,/plant), dry weight of stubble (kg/plant), dry weight of biomass (kg/plant) and harvest index. Data analysis based on observation parameters was done using analytical method based on Augmented Randomized Trial Design. The results of this research explain that based on root selection criteria ?0.5 kg/plant of 298 genotypes can be selected 53 genotypes, and 18 genotypes including weight of root ?0.75 kg/plant and 11 genotypes have root weight ?1.00 kg/plant. The halfsib red brass family of OPs has the highest number of selected genotypes of 28 selected genotypes among other halfsib families. The number of genotypes that have the highest yield of root ?0.5 kg/plant is obtained in half family of Red Brass OP, which is 24.56% compared to the other four families of halfsib. The average number of root and the highest root weight was found in the half-family of Red Brass OP ie each of 4.00 bulbs and 0.78 kg of fresh root / plants. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan menyeleksi genotipe-genotipe terpilih pada populasi halfsib yang diperoleh dari persilangan terbuka terhadap potensi hasil tinggi dengan kriteria ?0.5 kg/tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Brawijaya, yang berlokasi di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2016 sampai dengan bulan September 2016. Lima famili halfsib hasil persilngan terbuka digunakan dalam penelitian ini , meliputi 73-6/2 OP ( 62 genotipe), Sukuh OP (56 genotipe), Cilembu OP (67 genotipe), Kuning Merah OP (57 genotipe), dan Kuning Putih OP ( 56 genotipe). Kelima famili tersebut ditanam pada petakan Single Row yang berukuran lebar 60 cm yang disusun dalam 5 blok percobaan. Setiap famili diletakan dalam 1 blok percobaan, ditanam bersama-sama dengan 5 klon induk betinanya, yakni 73/6-2 , Sukuh, Cilembu, Kuningan Merah, dan Kuningan Putih. Masing-masing induk pada setiap blok percobaan ditanam 10 stek. Tanam dipanen pada umur 3,5 sampai 4 bulan dan diamati Jumlah umbi/tanaman, Bobot umbi segar (kg/tanaman), Bobot segar brangkasan (kg/tanaman), % bobot kering umbi, % bobot kering brangkasan, Bobot kering umbi (kg/tanaman), Bobot kering brangkasan (kg/tanaman), Bobot kering biomassa (kg/tanaman) dan Indeks panen. Analisis data berdasarkan parameter pengamatan dikerjakan menggunakan metode analisis berdasarkan Rancangan Percobaan Acak Kelompok Augmented. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan kriteria seleksi hasil umbi ?0.5 kg/tanaman dari 298 genotipe dapat dipilih 53 genotipe, dan 18 genotipe diantaranya memiliki bobot umbi ?0.75 kg/tanaman serta 11 genotipe memiliki bobot umbi ?1.00 kg/tanaman. Famili halfsib Kuningan Merah OP memiliki jumlah genotipe terseleksi paling tinggi yakni 28 genotipe terseleksi diantara famili halfsib lainnya. Jumlah genotipe yang memiliki potensi hasil umbi ?0.5 kg/tanaman tertinggi diperoleh pada famili halfsib Kuningan Merah OP, yakni sebesar 24,56% dibandingkan dengan ke empat famili halfsib lainnya. Rerata jumlah umbi dan bobot umbi tertinggi ditemukan pada famili halfsib Kuningan Merah OP yaitu masing-masing sebesar 4,00 umbi dan 0,78 kg umbi segar/tanaman.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG LIMBAH IKAN TERHADAP PERTAMBAHAN BERAT BADAN DAN KONVERSI PAKAN TERHADAP FASE FINISHER AYAM PEDAGING Deba, Yusak; Supartini, Nonok; Darmawan, Hariadi
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted on May 08, 2016 until finished on June 22, 2016 at Tribhuwana Tunggadewi Malang University Laboratory in KarangMloko Village, Junrejo Sub-district, Malang Regency. The purpose of this study is to determine the nutrient content contained in fish waste disposal waste and to determine the effect of wheat flour to the weight gain fish meal fish meal. The materials used are 100 day broiler (DOC), Lohman Platinum strain, PT.Multibreeder Adirama Indonesia., Which is maintained for 40 days. This research used 5 treatments: P0 (formulation feed), P1 (feed formulation mixed with 18% fish waste), P2 (feed formulation mixed with 19% fish waste), P3 (feeding formula mixed with 20% flour fish) P4, Formulation Feed mixed with 21% tepug fish waste) and repeated 4 times. The variables observed were weight gain (feed consumption and feed conversion). The method used in this research is the field experimental method using Completely Randomized Design (RAL). From the results of the study of the addition of broiler chicken weight given wheat flour, it can be concluded that the protein content and crude fiber in fish meal flour is still high enough to be proven from the influence of use. Fish waste powder can produce an average increase in body weight of broiler 9.774 kg with an average 0.62% weight gain. Based on the data, it was found that feeding with 15% fish meal gave the highest influence on feed consumption, weight gain and feed conversion (P0 3452, P1 3396, P2 3511, P3 3477, P4 3472 kg) (P0 1,231, P1 1,124, P2 1.065, P3 1.009, P4 1.064%). And (P0 1,64 P1 1,71 P2 1,91 P3 2,00 P4 2,02) For that, it is suggested to need more research about the use of fish powder feed with proportion 18% in ration Low protein content again And Need further test to know the capacity of flour fish meal. Penelitian dilaksanakan tanggal 08 mei 2016 sampai tanggal 22 juni 2016 di Laboratorium Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang di Desa Karang Mloko, Kecamatan Junrejo,Kabupaten Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nutrisi yang terdapat pada Tepung limbah limbah ikan serta mengetahui pengaruh tepung limbah ikan terhadap pertambahan bobot badan yang diberi pakan tepung limbah ikan. Materi adalah 100 ekor broiler umursehari (DOC), strain Lohman Platinum, PT. Japfa Comfeed Indonesia tbk, yang dipelihara selama 40 hari. Penelitian menggunakan 5 perlakuan: P0 (pakan formulasi), P1 (pakan formulasi dicampur dengan 18 % limbah ikan),P2 (pakan formulasi dicampur dengan 19% tepung limbah ikan ), P3 (pakan formulasi dicampur dengan 20% tepung limbah ikan) P4, (pakan formulasi dicampur dengan 21% tepung limbah ikan ).Variabel yang di amati adalah pertambahan bobot badan (Konsumsi pakan dan Konversi pakan ). penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL). Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kandungan protein dan serat kasar pada pakan yang tepung limbah ikan masih cukup tinggi sehingga terbukti pengaruh penggunaan tepung limbah ikan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan broiler 9,774 kg dengan pertambahan bobot badan 0,62 %. pemberian pakan yang tepung limbah ikan 15% memberikan pengaruh tertinggi pada Konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan Konversi pakan yaitu berurutan (P0 3452, P1 3396, P2 3511, P3 3477, P4 3472 kg) (P0 1.231, P1 1.124, P2 1.065, P3 1.009, P4 1.064%). dan (P0 1,64 P1 1,71 P2 1,91 P3 2,00 P4 2,02 ) Untuk itu, disarankan untuk perlu penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan pakan tepung limbah ikan dengan proporsi 18% dalam ransum yang kandungan proteinnya lebih rendah lagi dan perlu uji lanjut untuk mengetahui daya simpan dari limbah tepung ikan.
NILAI EKONOMIS BUDIDAYA ULAT SUTERA Samia cynthia ricini PEMAKAN DAUN SINGKONG DENGAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN YANG BERBEDA (Study Kasus Model Budidaya Ulat Sutera Dikota Malang) Saramoni, Riswanto; Sumarno, Sumarno; Setiyawan, Ahmad Iskandar
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The frequency of silkworm feeding requirements will affects the nutritional needs, the percentage of yarn and the resulting cocoon quality, which impact on the economic value of the development of silkworm breeding. This study aimed to determine the efficient economic value of silkworm breeding with different feeding frequency. The research was conducted from August to September 2016 in Aneka Ternak Laboratory of Tribhuwana Tunggadewi University of Malang. The material used was a silkworm typed Samia cynthia ricini. The experiments were grouped into 4 treatments. The feeding frequency treatment given was P1 (feeding every 3 hours/day), P2 (feeding every 4 hours/day), P3 (feeding every 5 hours/day), P4 (feeding every 6 hours/day). The variables observed were feed consumption, weight of cocoon, production cost, revenue, and profit. The results showed that the highest feed consumption was P4 treatment of 3378.5 g and the lowest was P1 treatment of 2980.6 g. The highest cocoon weight was P4 treatment of 326.15 g and the lowest was P1 treatment of 283.38 g. The highest production cost is P4 treatment of Rp. 37.026 and the lowest is P1 treatment of Rp. 35.226. The highest acceptance is P4 treatment of Rp. 6,523 and the lowest is P1 treatment of Rp. 5.667. The highest loss is P4 treatment of Rp.30,503 and the lowest is P1 treatment of Rp.- 29,559. The economic value of silkworm cultivation of Samia cynthia ricini with different feeding frequency was not efficient because silkworm breeding had a loss. This was due to the high variable cost of silkworm feeding cost incurred during the production period could not be covered by the number of profits obtained. Frekuensi pemberian pakan ulat sutera akan mempengaruhi kebutuhan nutrisi, persentase benang dan kualitas kokon yang dihasilkan, yang berimbas terhadap nilai ekonomis dari pengembangan budidaya ulat sutera. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai ekonomis yang efisien dari budidaya ulat sutera dengan pemberian frekuensi pakan yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2016 di Laboratorium Aneka Ternak Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Materi yang digunakan adalah ulat sutera Samia cynthia ricini. Percobaan dikelompokan menjadi 4 perlakuan. Perlakuan frekuensi pemberian pakan yang diberikan adalah P1 (pemberian pakan setiap 3 jam/hari), P2 (pemberian pakan setiap 4 jam/hari), P3 (pemberian pakan setiap 5 jam/hari), P4 (pemberian pakan setiap 6 jam/hari). Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, bobot kokon, biaya produksi, penerimaan dan keuntungan. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsumsi pakan yang tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar 3378,5 g dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar 2980,6 g. Bobot kokon tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar 326,15 g dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar 283,38 g. Biaya produksi tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar Rp. 37.026 dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar Rp. 35.226. Penerimaan tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar Rp. 6.523 dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar Rp. 5.667. Kerugian tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar Rp.-30.503 dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar Rp.- 29.559. Nilai ekonomis dari budidaya ulat sutera Samia cynthia ricini dengan frekuensi pemberian pakan yang berbeda tidak efisien karena mengalami kerugian. Hal ini disebabkan karena tingginya biaya variabel (biaya pakan) yang dikeluarkan selama masa produksi tidak dapat ditutupi dengan keuntungan yang diperoleh.
KAJIAN POTENSI DAN PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA COBAN RONDO SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA KABUPATEN MALANG Kogoya, Wes; Setyabudi, Irawan; Alfian, Rizki
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is an agrarian country with all its natural and cultural resources. Indonesia's strategic location is a major factor that is very influential on the development of the nation and state. Currently, tourism is growing rapidly along with the increasing number of visitors visiting. In addition, tourism is also an important sector for economic growth in Indonesia. In this research is done by collecting data by direct observation to the object to know the daily activities of the local community. The management in Coban Rondo area development as ecotourism. From the results of research on the potential assessment and development of Coban Rondo area as an ecotourism area of Malang Regency. Can be concluded in the form of sustainable development strategy of Coban Rondo natural tourist area. The main one is an aggressive management strategy that is a very profitable strategy because it addresses opportunities and strengths so that it can take advantage of existing opportunities in the form of local government policy in the implementation of natural ecotourism area management Coban Rondo. Indonesia merupakan negara agraris dengan segala potensi sumber daya alam dan budaya yang dimiliki. Letak Indonesia yang strategis merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh pada pembangunan bangsa dan negara. Saat ini pariwisata berkembang pesat seiring meningkatnya jumlah wisatan yang berkunjung. Selain itu pariwisara juga merupakan sektor penting bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dalam penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung ke objek untuk mengetahui aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. Pihak pengelola dalam pengembangan kawasan Coban Rondo sebagai ekowisata. Dari hasil penelitian tentang kajian potensi dan pengembangan kawasan Coban Rondo sebagai kawasan ekowisata Kabupaten Malang. Dapat di simpulankan berupa strategi pengembangan secara berkelanjutan kawasan wisata alam Coban Rondo. Yang utama yaitu strategi pengelolaan yang agresif yaitu strategi yang sangat menguntungkan karna menujukan peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada berupa kebijakan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan ekowisata alam Coban Rondo.