cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
METODE KOMUNIKASI PADA PENYULUHAN PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN TANAMAN PADI DI KECAMATAN RUTENG. Jenarung, Refli Firman; Muljawan, Rikawanto Eko; Pudjiastuti, Agnes Quartina
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kegiatan penyuluhan pertanian, komunikasi menjadi sebuah faktor penting yang dapat menunjang tercapainya tujuan-tujuan penyuluhan. Penyuluh dituntut untuk memiliki sebuah metode komunikasi agar objek penyuluhan dapat menerima pesan dengan baik dan tidak terjadi missunderstanding dalam proses penyuluhan. Dalam menunjang kegiatan penyuluhan dibutuhkan sarana dan prasarana kegiatan seperti LCD, laptop, print, Banner, papan, tempat pertemuan, lahan, kendaraan dan gedung dan peralatan kantor lainya. Penelitian ini dilaksanakan di BPK Kecamatan Ruteng. pelaksanaan penelitian dimulai dari tanggal 7 Januari sampai 27 Maret 2016. Teknik pengambilan data dengan mengadakan pengamatan secara langsung obyek yang diteliti untuk mengetahui fakta fakta yang ada di lapangan dan memberikan pertanyaan berupa kuisioner. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode komunikasi yang digunakan dalam penyuluhan 70% menyatakan cukup baik, sedangkan 20% menyatakan baik dan 10% menyatakan tidak baik. Sedangkan sarana dan prasarana kegiatan penyuluhan menunjukan 30% menyatakan baik, 50% menyatakan cukup baik, dan 10 % tidak baik.
PENGARUH JENIS SUSU DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP KUALITAS KEFIR Susilo, Setiawan; Ahmadi, KGS; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kefir is one of the fermented milk produce by using lactic acid bacteria and yeast. Quality of kefir was influenced by type of raw meterial and fermentation time. Therefore, this study was conduct to determine the type of milk and fermentation time to produce good kefir. Research using plot design divided (split plot) arranged as factorial by 2 factors. Factor 1, which is the type of milk (main plot), which consists of two types of milk (cow's milk and goat's milk) and factor 2 is a long fermentation (sub plot), which consists of 5 levels (24 hours, 36 hours, 48 hours, 60 hours, and 72 hours) with 2 replications. The results showed that the best treatment is kefir made from goat's milk and fermentation time of 36 hours with 4.94% fat content, protein content of 2.90%, 2.14% total acid, pH 3.77%, the viscosity of 460.00, favorite color 4.30 (like ), a scent of 3.82 (Like) a 4.02 texture (like), and favorite flavor of 3.35 (neutral). Goat's milk raw material capacity 18 liters /day and kefir grain 900 grams /day well worth the effort in the household for HPP 12052.08 /packaging. The selling price of 15,500 packs. Net profit earned per day is 216,937.44, BEP is Rp 87,096,774 and RCR 1.25 which means kefir business is profitable and worth the effort because the RCR> 1. Kefir merupakan salah satu minuman fermentasi susu yang dibuat dengan menggunakan bakteri asam laktat dan yeast. Faktor yang menentukan kualitas kefir adalah jenis susu dan lama fermentasi yang tepat untuk memproduksi kefir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis susu dan lama fermentasi yang tepat untuk memproduksi kefir. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (Split Plot) yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor. Faktor 1 yaitu jenis susu (main plot) yang terdiri dari 2 jenis susu (susu sapi dan susu kambing) dan faktor 2 yaitu lama fermentasi (sub plot) yang terdiri dari 5 taraf (24 jam, 36 jam, 48 jam, 60 jam, dan 72 jam) dengan 2 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik yaitu kefir berbahan baku susu kambing dan lama fermentasi 36 jam dengan kadar lemak 4,94 %, kadar protein 2,90 %, total asam 2,14 %, pH 3,77 %, viskositas 460,00, kesukaan warna 4,30 (suka), kesukaan aroma 3,82 (suka), kesukaan tekstur 4,02 (suka), dan kesukaan rasa 3,35 (netral). Kapasitas bahan baku susu kambing 18 liter/hari dan grain kefir 900 gram/hari layak untuk diusahakan dalam skala rumah tangga karena HPP 12.052,08 /kemasan. Harga jual kemasan 15.500. Keuntungan bersih per hari yang diperoleh adalah Rp 216.937,44, BEP sebesar Rp 87.096.774 dan RCR sebesar 1,25 yang artinya usaha kefir ini menguntungkan dan layak untuk diusahakan karena RCR > 1.
PROPORSI TEPUNG SUWEG (Amorphophallus campanulatus B1) TERMODIFIKASI DENGAN JAGUNG PULUT PADA PEMBUATAN MIE INSTAN SERTA ANALISA USAHANYA Memet, Antonius; Wirawan, Wirawan; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the best treatment proportion of modified Suweg flour with sticky corn in the manufacture of instant noodles. This research use dan experimental design of Completely Randomized Design (CRD) with one factor. The factor wasthe proportion of modified Suweg flourwith sticky corn, M1 = 90% Suweg starch + 10% sticky corn, M2 = 80% Suweg starch + 20% sticky corn, M3 = 70% Suweg starch + 30% sticky corn, M4 = 60% Suweg starch + 40% sticky corn, M5 = 50% Suweg starch + 50% sticky corn. The results of this study showed that the best treatment contained was in M3 proportion (70% modiefied Suweg starch : 30% sticky corn) with water content of 14,15%, ash content of 1,68%, a broken power (elasticity) of 0,76 N. Tujuan penelitian ini untuk menentukan perlakuan terbaik proporsi tepung umbi suweg termodifikasi dengan jagung pulut dalam pembuatan mie instan. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, faktornya yaitu proporsi tepung umbi suweg termodifikasi dengan jagung Pulut, M1 = 90% tepung umbi suweg + 10% jagung pulut, M2 = 80% tepung umbi suweg + 20% jagung pulut, M3 = 70% tepung umbi suweg + 30% jagung pulut, M4 = 60% tepung umbi suweg + 40% jagung pulut, M5 = 50% tepung umbi suweg + 50% jagung pulut. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan terbaik pada proporsi M3 (70% Tepung umbi suweg termodifikasi : 30% jagung pulut) dengan kadar air 14,15%, kadar abu 1,68%, daya patah 0,76 N.
PENGELOLAAN KAWASAN WISATA PREDATOR FUN PARK Di TLEKUNG, KOTA BATU suma sala, Melkisedek syukur EL; Alfian, Rizki; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research can are conducted for 1 month starting in April until the month of May 2015. This study aimed to determine and compare the combination treatment in feed rations Ducks Mojosari with duck egg production. The study used a completely randomized design because what if there was a very noticeable difference then continued by real difference. and each treatment can be repeated three times resulting in 21 experimental unit, The results showed that consumption is highest in treatment A0B2 which is a mixture of feed materials between Conch rice field 25% Rice bran 75% with the average of the highest value in the treatment of A0B2 gr / head / day. At intake and feed conversion with the highest value of 7.07%. Average feed conversion highest in A0B3 treatment (without the use of parched rice paddy conch + 45%), the effect of treatment (conch rice fields and parched rice) to feed conversion. It means giving different treatment would result in an average feed conversion was significantly different. Average feed conversion highest in A0B3 treatment (without the use of parched rice paddy snail + 45%). Average daily production of eggs The highest research results on A0B3. and the lowest in treatment A1B1. Based on the results of analysis of variance has been done, note that there is no effect of parched rice and paddy snails to total egg production. Average egg production research results reach the highest egg production in A0B3, and the lowest in treatment A1B1. Based on the results of analysis of variance has been done, it is known that there is no effect of parched rice and paddy snails to total egg production. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun suatu konsep Kegiatan pemeliharan pada kawasan Predator Fun Park. Hal ini dapat terlihat dari kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada tapak, baik pada kegiatan pemeliharaan elemen keras dan kegiatan pemeliharaan elemen lunak. Agar eksistensi kawasan Predator Fun Park dapat berfungsi dengan baik,maka diperlukan adanya pengelolaan lanskap, Penelitian ini menggunakan metode Swot observasi/pengamatan secara langsung,wawancara serta penyebaran kuisioner dan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi terkait (pemerintah desa). Hasil penelitian menunjukan bahwa Rekomendasi strategi yang diberikan adalah strategi di verisifikasi, artinya pengelolaan eksisting berada dalam kondisi baik namun desain ini akan mengalami tantangan yang dari lingkungannya untuk terus berlanjut (sustainable) apabila hanya bertumpu pada strategi sebelumnya. Oleh sebab itu dalam pengelolaan kawasan wisata Predator Fun Park direkomendasikan untuk memperbanyak ragam strateginya. Prioritas Pertama, Dalam pengelolaan kawasan wisata Predator Fun Park, aspek yang pertama perlu dipertimbangkan adalah aspek biofisik tapak.Prioritas kedua, Pengembangan identitas kawasan. Kawasan wisata predator fun park yang berpotensi untuk menjadi area wisata ekologi atau rekreasi perlu untuk membentuk identitas kawasannya. Identitas ini dapat diaplikasikan dalam bentuk elemen-elemen desain pembentuk lanskap. Dalam hai ini seperti kandang buaya dan vegetasi pendukungnya.Prioritas ketiga, pengelolaan kawasan wisata predator fun park perlu pengelolaan bangunan maupun tata hijau di kawasan yang nyaman dan aman bagi masyarakat. Prioritas keempat, Mendesain fasilitas dan utilitas penunjang bagi kawasan wisata predator fun park. Prioritas kelima, Menyusun tata letak bangunan baik kandang buaya, kandang ular, caffe, dan lainnya yang sesuai bagi kawasan wisata predator fun park.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROFESIONALISME PENYULUH PERTANIAN DI KABUPATEN MALANG M. Mur, Rido Kurniawan; Suwasono, Son; Sa?diyah, Ana Arifatus
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyuluh pertanian di Indonesia sangat diperlukan, akan tetapi masih banyak faktor-faktor kendala yang dihadapi oleh seorang penyuluh pada saat menjalankan tugasnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi profesionalisme penyuluh pertanian yang ada di Kabupaten Malang. Metode yang digunakan adalah random acak sampling yang diperoleh dengan mengusulkan pertanyaan kuisioner. Responden penelitian ini adalah masyarakat di Kabupaten Malang yang berada diempat Kecamatan, yaitu Tumpang, Pakisaji, Dau dan Pujon, total responden ada 36 orang. Hasil penelitiaan ini menunjukkan yang paling dominan adalah faktor pendidikan non formal dan diikuti oleh umur.
STUDI IDENTIFIKASI LANSKAP ALUN-ALUN MERDEKA SEBAGAI IDENTITAS KOTA MALANG Minggu, Hendrikus; Setyabudi, Irawan; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The square is the identity of the city and district in Java in general. The concept of spatial Alun-alun is a symbol of unity of activities that are philosophical-religious, political, economic and cultural, but in its development from the time of the kingdom until now it has always undergone changes and shifts in meaning. Merdeka Square Malang is one of the administrative centers of Malang Regency in the past and also the location of the initial growth of Malang city area. This research aims to internalize and identify landscapes in Merdeka Malang. Identification of the history and development of Malang City Square was carried out to find conservation potential in the plaza area, as a form of respecting cultural heritage, the realization of identity and inheriting historical values. in this study researchers used descriptive analysis methods, synchronous-diachronic analysis of regional development and conservation potential with an assessment of cultural meaning, use value and regional development. The results of the identification of the landscape of the Merdeka Malang square found that Merdeka Malang Square was one of the identities of Malang City. The law on sugar and agrarian policy in 1870 and decentralization in 1903 affected the development of the Merdeka Malang plaza. the development of Merdeka Malang square is very visible in changes in building mass, building style, building functions, changes in land use, physical condition of the square and activities. Based on the history and results of registration and identifying it can be concluded that the Malang Merdeka Square Landscape is one of the identities of Malang City Alun-alun merupakan salah satu identitas kota maupun kabupaten. Konsep keruangan Alun-alun merupakan simbol kesatuan aktivitas yang bersifat filosofis-religius, politis, ekonomis dan kultural, namun dalam perkembangannya dari jaman kerajaan hingga sekarang selalu mengalami perubahan maupun pergeseran makna. Alun-alun Merdeka Malang termasuk salah satu kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Malang pada masa lalu dan juga menjadi lokasi pertumbuhan awal wilayah kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengiventarisasi dan mengidentifikasi lanskap pada Alun-alun merdeka malang. Identifikasi terhadap sejarah dan perkembangan Alun-alun Merdeka Malang dilakukan untuk menemukan potensi pelestarian pada kawasan alun-alun, sebagai wujud menghargai warisan budaya, perwujudan identitas dan mewarisi nilai sejarah. dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode analisis deskriptif, analisis sinkronik-diakronik perkembangan kawasan serta potensi pelestarian dengan penilaian makna kultural, nilai guna serta perkembangan kawasan. Hasil dari identifikasi lanskap menemukan bahwa alun-alun merdeka malang merupakan salah satu Identitas Kota Malang. UU tentang kebijakan gula dan agraria pada tahun 1870 dan desentralisasi pada tahun 1903 berpengaruh terhadap perkembangan kawasan alun-alun merdeka malang. perkembangan alun-alun merdeka malang sangat terlihat pada perubahan massa bangunan, gaya bangunan, fungsi bangunan, perubahan guna lahan, kondisi fisik alun-alun serta aktivitas. Berdasarkan dari sejarah dan hasil iventarisasi serta mengidentifikasi dapat menyimpulkan bahwa Lanskap Alun-alun Merdeka malang merupakan salah satu dari identitas kota malang.
Penggunaan Biochar Dari Biomassa Tembakau Untuk Peningkatan pH Tanah Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Di Tanah Masam Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan Lodan, Agustinus; Hamzah, Amir; Wisnubroto, Erwin Ismu
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aimed to determine the change of acid pH from biochar. This research was conducted in oil palm plantation owned by PT. Surya Cipta Kahuripan (SCK), Musi Banyuasin Regency, South Sumatera Province. Soil sampling was conducted at different ages of oil palm plantations. The study was conducted in a greenhouse (light house). The soil used in this experiment was taken from oil palm plantations at plant age of 10 years (planting year 2006), 7 years (planting year 2009), 4 years (planting year 2012) and control (not yet planted with oil palm). This experiment uses Randomized Block Design (RAK) factorial. The main factor is the type of soil at different ages, while the second factor is the biochar dose respectively; 0 g.kg-1, 10 g.kg-1, 20 g.kg-1, 30 g.kg-1, and 40 g.kg-1. The results showed that the dosage of biochar based on tobacco waste on acid soil of was able to increase soil pH. The highest increase of soil pH was found on land not yet planted with oil palm, while the lowest soil pH was found on soil that had been planted after 28 days incubation period, 5 g.kg-1 biochar dose (equivalent 9 ton.ha-1) Soil pH is equal to a biochar dose of 40 g.kg-1 (equivalent to 72 ton.ha-1). This indicates that the dose of biochar 9 ton.ha-1 is effective enough to increase the pH in acid soil. Enhancement soil Ph showed a positive effect on the growyh of mustard, increase soil CEC that increases the availability of nutrients by plants. In addition, the increase in soil pH also decrease the availability of Al so as to become the optimum growth medium of mustard plants. Penelitian ini bertujuaan untuk mengetahui perubahan pH tanah masam akibat pemberian biochar. Penelitian ini dilakukan di perkebunan kelapa sawit milik PT. Surya Cipta Kahuripan (SCK), Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada umur tanaman kelapa sawit yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca (light house). Tanah yang digunakan pada percobaan ini diambil dari perkebunan kelapa sawit pada umur tanaman 10 tahun (tahun tanam 2006), 7 tahun (tahun tanam 2009), 4 tahun (tahun tanam 2012) dan control (belum ditanami kelapa sawit). Percobaan ini mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) factorial.Faktor utama adalah jenis tanah pada umur yang berbeda, sedangkan faktor kedua adalah dosis biochar masing-masing ; 0 g.kg-1, 10 g.kg-1, 20 g.kg-1, 30 g.kg-1, dan 40 g.kg-1. Hasil penelitian menunjukan pemberian dosis biochar berbahan dasar limbah tembakau mampu meningkatkan pH tanah. Peningkatan pH tanah tertinggi terdapat pada tanah yang belum ditanam kelapa sawit, sedangkan pH tanah terendah terdapat pada tanah yang telah 10 tahun ditanami setelah 28 hari masa inkubasi, Dosis biochar 5 g.kg-1 (setara 9 ton.ha-1) menunjukkan nilai pH tanah yang sama dengan dosis biochar 40 g.kg-1 (setara 72 ton.ha-1). Hal ini menunjukkan bahwa dosis biochar 9 ton.ha-1 cukup efektif untuk meningkatkan pH pada tanah masam. Peningkatan pH tanah menunjukkan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman sawi, meningkatkan KTK tanah berarti meningkatkan ketersediaan unsur hara yang diperlukan tanaman. Selain itu, peningkatan pH tanah juga menurunkan ketersediaan Al sehingga mampu menjadi media pertumbuhan tanaman sawi yang optimum.
KAJIAN BIODIVERSITAS CACING TANAH PADA BERBAGAI POLA AGROFORESTRI Kanang, Kanang; Hamzah, Amir; Hapsari, Ricky Indri
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli sampai dengan Desember 2014 di hutan alami dan agroforestri sengon di Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo serta agroforestri kopi dan pinus di Desa Sumberejo Kecamatan Batu Kota Batu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter cacing tanah (populasi dan ukuran tubuh cacing tanah), mengukur serta mempelajari pengaruh masukan seresah dan kandungan C-Organik terhadap karakter cacing tanah pada berbagai pola agroforestri. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan ditunjang data sekunder, serta menggunakan analisis koefisien korelasi untuk mencari hubungan antar variabel penelitian.Variabel yang diukur antara lain kerapatan populasi (ha-1), diameter tubuh (mm), berat tubuh cacing tanah (g), masukan seresah (Mg.ha-1.th-1), dan kandungan C-Organik (%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan antar berbagai pola agroforestri menghasilkan masukan seresah, kandungan C-Organik, serta karakter cacing tanah yang berbeda. Populasi cacing tanah tertinggi ditemukan pada lokasi hutan alami sebanyak 250000 ekor per hektar, seresah yang terukur sebesar 8.97 Mg.ha-1.th-1, dan kandungan C-Organik sebesar 1.50%. Berat tubuh cacing tanah yang diperoleh rata-rata 0.92 g, dengan rata-rata diameter tubuh 0.25 mm. Populasi cacing tanah terendah ditemukan pada lokasi agroforestri sengon sebanyak 112000 ekor per hektar, seresah yang terukur sebesar 6.90 Mg.ha-1.th-1, dan kandungan C-Organik sebesar 1.10%. Berat tubuh cacing tanah yang diperoleh rata-rata 0.76 g, dengan rata-rata diameter tubuh 0.17 mm. Populasi cacing tanah yang ditemukan pada lokasi agroforestri kopi dan pinus sebanyak 120000 ekor per hektar, seresah yang terukur sebesar 5.18 Mg.ha-1.th-1, dan kandungan C-Organik sebesar 1.30%. Berat tubuh cacing tanah yang diperoleh rata-rata 0.11 g, dengan rata-rata diameter tubuh 0.25 mm.
PENGARUH LEVEL PEMBERIAN “PUYER HERBAL” TERHADAP BOBOT HIDUP, KARKAS, GIBLET DAN LEMAK ABDOMEN PADA AYAM BROILER Bebhe, Gabriela; Sumarno, Sumarno; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the best dosage of puyer herbal in variable addition of herb powder which consists of kencur flour, turmeric powder and wild ginger flour against live weight, carcass, giblet and abdominal fat. The material used is 80 broiler chickens purchased from PT. Panca Patriot Prima kept in postal cage. The feed used is BR1 for 1-7 days old and feeding age 8-35 days formulation consisting of yellow corn, pollard, meat meal, soybean meal, salt, Dl-methionine and lysin. The research treatment P0: feed formulation without puyer herbal, P1: feed formulation + 0.3% puyer herbal, P2: feed formulation + puyer herbal 0.6%., P3 feed formulation + puyer herbal 0.9%. Provision of puyer herbal based on weekly body weight. The research method was Rancangan Randomized Design (RAL) with 4 treatments and 4 replications. The variables studied were live weight, carcass, giblet and abdominal fat. The results showed that the provision of puyer herbal with different levels did not have a significant effect (P>0.05) on live weight, giblet weight and abdominal fat weight in broiler. The weight of carcass had a very significant effect (P0,05) terhadap bobot hidup, bobot giblet dan bobot lemak abdomen pada ayam broiler. Bobot karkas berpengaruh yang sangat nyata (P
RESPON TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) TERHADAP PUPUK BOKASHI DAN NPK Jumadi, Jumadi; Astutik, Astutik; Sutoyo, Sutoyo
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the fertilization combination effect of Bokashi and NPK on growth and yield of peanut. The research was conducted on land Gading Kulon village,Dau Subdistrict, Malang District in July to September 2014. The study was conducted using a randomized block design (RAK), which consists of two factors: 1) Factor 1 Type Bokashi: B1 = Bokashi chicken manure and B2 = Bokashi husk, 2) factor 2 dose NPK: D0 = Without NPK, D1 = 50 kg / ha of NPK and D2 = 100 kg / ha NPK. There were six combinations of treatments, each treatment was repeated 4 times, so there were 24 experiments. The variables measured were plant height, leaf number, number of branches, biomass plants, pods, pods wet weight, dry weight of pods. Each plot experiment was observed 5 plants. The results showed that there were an interaction between Bokashi type and NPK fertilizer on the plant height age of 21 days, the number of leaves 14 days old, 14 days old branch number and weight of pods wet and dry peas weight. Separately, NPK fertilizer effect on plant height age of 21 days while Bokashi fertilizer effect on plant biomass. The best result of Peanut yield (pod wet, dry pods) is obtained at treatment Bokashi chicken manure with NPK 50 kg / ha (B1D1) and did not differ with Bokashi husk without NPK (B2D0) and Bokashi rice husk with NPK 100 kg / ha (B2D2 ). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pemupukan bokashi dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di lahan Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang pada bulan Juli sampai bulan September 2014. Penelitian dilakukan dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor yaitu: 1) Faktor 1 Jenis Bokashi:B1 = Bokashi kotoran ayam dan B2 = Bokashi arang sekam, 2) Faktor 2 Dosis NPK: D0 = Tanpa NPK, D1 = 50 kg/ha NPK dan D2 = 100 kg/ha NPK. Jadi terdapat 6 kombinasi perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 4 kali, sehingga terdapat 24 perlakuaan.Variabel yang diamati, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, biomassa tanaman, jumlah polong, bobot polong basah, bobot polong kering. Setiap petak percobaan diamati 5 tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat interaksi antara jenis bokashi dan pupuk NPK terhadap tinggi tanaman umur 21 hari, jumlah daun umur 14 hari, jumlah cabang umur 14 hari, berat polong basah dan berat polong kering. Secara terpisah pupuk NPK berpengaruh terhadap tinggi tanaman umurn 21 hari sedangkan pupuk bokashi berpengaruh terhadap biomassa tanaman.Hasil kacang tanah (polong basah dan polong kering) terbaik diperoleh pada bokashi kotoran ayam dengan NPK 50 kg/ha (B1D1) dan tidak berbeda dengan bokashi arang sekam tanpa NPK (B2D0) maupun dengan NPK 100 kg/ha (B2D2).