cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
APLIKASI LARUTAN ASAM SITRAT DAN SUKROSA TERHADAP MASA KESEGARAN BUNGA KRISAN POTONG (CHRYSANTHEMUM INDICUM L.) Uyun, Nur Rohmatul; Sutoyo, Sutoyo; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chrysanthemum has high diversity, both in terms of appearance, shape, and color of flowers. Chrysanthemum flower quality standards that consumers want are large flowers, trunked upright with a height of about ± 70 cm, have clean flowers and no blotches on the flowers, and flower petals that do not fall off easily. Chrysanthemum freshener solution can maintain the freshness of flowers and reduce wilt. The research aims to extend the freshness of cut chrysanthemum flowers with a solution of citric acid and sucrose freshener. The study was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) experiment consisting of 12 treatments, the first factor consisting of 0.5 gr/L citric acid; 1.0 gr/L; 1.5 gr/L. The second factor consists of sucrose 0 gr/L (control); 10 gr/L; 20 gr/L; 30 gr/L. The results showed that administration of citric acid significantly affected the weight of chrysanthemum flowers during the 16 days storage period of 103.83 gr. The provision of citric acid significantly affected the freshness of flowers during the 16 days of storage, while the color of flowers had a significant effect on 12 days of storage. Giving sucrose has a significant effect on the freshness of the flower during the 16 days of storage. The interaction of citric acid 1.5 gr/L and sucrose significantly affected the freshness of flowers 16 days storage period. Bunga krisan memiliki keragaman yang tinggi, baik dari segi penampilan, bentuk maupun warna bunga. Standar kualitas bunga krisan yang diinginkan konsumen yakni bunga yang berukuran besar, berbatang tegak dengan tinggi sekitar ± 70 cm, memiliki bunga yang bersih dan tidak ada bercak pada bunga, serta kelopak bunga yang tidak mudah rontok. Larutan penyegar bunga krisan mampu mempertahankan kesegaran bunga dan mengurangi kelayuan. Penelitian ini bertujuan untuk memperpanjang masa kesegaran bunga krisan potong dengan larutan penyegar asam sitrat dan sukrosa. Penelitian diatur dalam Percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 12 perlakuan, yaitu faktor pertama terdiri dari asam sitrat 0,5 gr/L; 1,0 gr/L; 1,5 gr/L. Faktor kedua terdiri dari sukrosa 0 gr/L (kontrol); 10 gr/L; 20 gr/L; 30 gr/L. Hasil penelitian menunjukkan pemberian asam sitrat berpengaruh nyata pada bobot bunga krisan selama 16 hari masa penyimpanan sebesar 103,83 gr. Pemberian asam sitrat berpengaruh nyata terhadap kesegaran bunga selama 16 hari masa penyimpanan, sedangkan pada warna bunga berpengaruh nyata pada 12 hari masa penyimpanan. Pemberian sukrosa berpengaruh nyata pada kesegaran bunga selama 16 hari masa penyimpanan. Interaksi asam sitrat 1,5 gr/L dan sukrosa berpengaruh nyata terhadap kesegaran bunga 16 hari masa penyimpanan.
DESAIN TAMAN LINGKUNGAN BERBASIS BUDAYA MELAYU DI JALAN BATU DAYA I, KABUPATEN KAYONG UTARA Hidayatullah, Wawan; Setyabudi, Irawan; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayong Utara Regency is an area that is under construction but ironically the development is not accompanied by the construction of green open space in the form of an environmental park which is one of the needs for the community to express and move. The process of community development and development increasingly shifts the characteristics of the cultural landscape so that Kayong Utara Regency does not have an identity in architectural or cultural landscape characteristics. This study aims to design a Melayu-based environmental park to fulfill the existence of green open space and to show the identity of the Melayu cultural landscape. The research consisted of the stage of historical search to explore elements of Melayu culture using descriptive methods through alliteration, field surveys and interviews and design activities that refer to the Booth (1983) design process with stages namely reviewing the location of research and data inventory, analysis and synthesis, design process, planning and design drawings. This park is designed with a recreational and cultural-value park concept with a form inspired by durian batik motifs and forest flowers applied to the park and circulation patterns and amphitheater and sclupture formations which have the meaning of a story about the meeting of Princess Junjung Buih from Kalimantan and Prince Indrawijaya from The Majapahit Kingdom is called the Pupuk Teguih story. Kabupaten Kayong Utara merupakan daerah yang sedang dalam masa pembangunan tetapi ironinya pembangunan tersebut tidak disertai dengan pembangunan ruang terbuka hijau berupa taman lingkungan yang menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat untuk berekspresi maupun beraktivitas. Proses pembangunan dan perkembangan masyarakat semakin menggeser karakteristik lanskap budaya sehingga Kabupaten Kayong Utara tidak memiliki identitas dalam karakteristik arsitektur maupun lanskap budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain taman lingkungan berbasis budaya Melayu untuk memenuhi keberadaan ruang terbuka hijau serta untuk menunjukkan identitas lanskap budaya Melayu. Pelaksanaan penelitian terdiri dari tahap penelusuran sejarah untuk menggali unsur budaya Melayu menggunakan metode deskriptif melalui aliterasi, survei lapang dan wawancara dan kegiatan desain yang mengacu pada proses desain Booth (1983) dengan tahapan-tahapan yaitu peninjauan lokasi penelitian dan inventarisasi data, analisis dan sintesis, proses desain, gambar perencanaan dan perancangan. Taman ini didesain dengan konsep taman yang bersifat rekreatif dan bernilai budaya dengan bentukan yang terinspirasi dari motif batik durian dan bunga hutan yang diaplikasikan pada pola taman dan sirkulasi serta amphitheater dan bentukan sclupture yang memiliki makna cerita tentang pertemuan Putri Junjung Buih dari Kalimantan dan Pangeran Indrawijaya dari Kerajaan Majapahit yang disebut dengan kisah Pupuk Teguih.
EVALUASI PRODUKSI KARKAS DAN NON KARKAS SAPI DI PERUSAHAN DAERAH RUMAH POTONG HEWAN KOTA MALANG Wetu, Nensita Ara; Supartini, Nonok; Darmawan, Hariadi
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the evaluation of local cow carcass and non-carcass production. The material used was 100 limosin cows at the age of 3 years.The equipment used was a scale, a set of tools for slaughtering process, a GOOD stamp for carcasses. The variables measured were life weight, carcass and non carcass weight, percentage carcass and non carcass. The results showed that the number of slaughtered local cows on slaughterhouse at Malang City is 100 cows/month, the live weight of local cows aged 3 years ranged from 53.116 kg per head. The average carcass weight was 290,18 kg, with the carcass percentage of 54,63 %, while the average non carcass weight was 103,92 kg with non carcass percentage 19,56 %. It can be concluded that the percentage of carcasses were quite good.To get a better percentage of carcasses, it was recommended to increase the slaughter weight of cows. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi produksikarkasdannon karkassapilokal di PD RPH Kota Malang. Materi yang digunakan adalah ternak sapi lokal sebanyak 100 ekor yang berumur 3 tahun. Peralatan yang digunakan adalah timbangan, seperangkat alat untuk proses penyembelihan, stempel BAIK untuk karkas. Variabel yang diukur adalah bobot hidup sapi limosin, bobot karkas, bobot non karkas, Persentase karkas, dan persentase non karkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pemotongan sapi lokal di PD RPH Kota Malang sebanyak 100 ekor/bulan, bobot hidup sapi lokal umur 3 tahunberkisar 53.116 kg per ekor. Rata-rata bobot karkas, sapi lokal umur 3 tahun adalah 290,18 kg, dan persentase karkas 54,63 %, sedangkan rata-rata bobot non karkas sebesar 103,92 kg dengan persentase non karkas 19,56 %. Dapat disimpulkan bahwa persentase karkas tergolong baik. Untuk mendapatkan persentase karkas yang lebih baik, disarankan meningkatkan bobot potong ternak sapi.
PRODUKSI TANAMAN SAWI PERIODE TANAM KEDUA PASCA REMEDIASI DENGAN TANAMAN LULANGAN (ELEUSINE INDICA L.) DAN KARMILA (CARMI;A SP) Wendo, Wira Firdaus; Hamzah, Amir; Agastya, I Made Indra
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efforts to improve land with biochar as ameliorant materials can improve the physical, chemical and biological properties of the soil. Biochar in the long term can increase soil fertility, especially on degraded soil. Soil is degraded not only because of its low fertility but also contamination especially heavy metals. This study aims to determine the growth of mustard plants on soil after remediation of the second planting period. This research was conducted in Sumberbrantas Village, Bumiaji District, Batu City. The study used factorial Randomized Block Design (RBD) method consisting of 3 replications. Factor I is wild plant species (T) consisting of 2 types, namely: T1: Lulang (Eleusine indica L.) and T2: Karmila (Carmila sp). Factor II is post-remediation soil with biochar (B), consisting of 4 types, namely: B0 = No Biochar, B1 = Biochar Straw Rice, B2 = Biochar Jengkok Tobacco, and B3 = Biochar Rice Husk + Jengkok Tobacco. Variables observed included plant height (cm), number of leaves (strands), fresh weight of plants (g) and dry weight of plants (g). The data obtained from the research results were analyzed descriptively and continued with statistical analysis to compare the two treatment averages carried out further tests with the Smallest Significant Difference test (LSD) level of 5%. The results showed that the treatment of biochar jengkok tobacco + rice husk after remediation of planting lulang plants was able to increase the growth of mustard plants. This can be seen in the variable plant height 4 weeks after planting at 29.23 cm. The same thing can be seen in the number of leaves of 10.17 leaves. Parameters, wet weight and root weight were 118.73 g and 12.56 g / plant, respectively. Upaya perbaikan lahan dengan biochar sebagai bahan amelioran dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Biochar dalam jangka panjang mampu meningkatkan kesuburan tanah, terutama pada tanah yang terdegradasi. Tanah terdegradasi tidak hanya karena kesuburannya rendah tetapi juga tercemar terutama logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman sawi pada tanah pasca remediasi periode tanam kedua. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas 3 ulangan. Faktor I adalah Jenis tanaman liar (T) terdiri dari 2 jenis yaitu : T1 : Lulangan (Eleusine indica L.) dan T2 : Karmila (Carmila sp). Faktor II adalah Tanah pasca remediasi dengan biochar (B), terdiri dari 4 jenis yaitu : B0 = Tanpa Biochar, B1 = Biochar Jerami Padi, B2 = Biochar Jengkok Tembakau, dan B3 = Biochar Sekam Padi + Jengkok Tembakau. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), bobot segar tanaman (g) dan bobot kering tanaman (g). Data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan dilanjutkan analisis statistik untuk membandingkan dua rata-rata perlakuan dilakukan uji lanjutan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pemberian biochar jengkok tembakau + sekam padi pasca remediasi penanaman tanaman lulangan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman sawi. Hal ini terlihat pada variabel tinggi tanaman umur 4 minggu setelah tanam sebesar 29,23 cm. Hal yang sama terlihat pada jumlah daun sebesar 10,17 helaian daun. Parameter , berat basah dan berat akar masing-masing sebesar 118,73 g dan 12,56 g/tanaman.
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KERIPIK TALAS (STUDI KASUS PADA CV. JESSI MUJI JAYA DI DESA MULYOREJO, KEC. NGANTANG, KAB. MALANG) Carolina Sukacita, Maria Fatima; Mutiara, Farah; Dyanasari, Dyanasari
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This search is motivated that one of the food plants that can be used as supplement of rice and flour is taro. Indonesian people do not yet understand the benefits of taro and how to process it so that it has a sale value. One of the industrial houses that produce taro chips is the industrial house CV. Jessi Muji Jaya. The home industry is taking advantage of this opportunity to develop the taro business. The purpose of this study is to determine internal factors, external factors that support business development and to find all the business development strategies in the home industry CV. Jessi Muji Jaya. The method of data analysis using SWOT analysis is the analyzing the IFE matrix, EFE matrix, IE matrix and SWOT matrix. The results showed the main strength factor is the product has got a PIRT number. The main weakness factor is the price is more expensive than competitors and the supply of raw materials is reduced. The main opportunity factor is the existence of a food safety policy for a product. The main threat factor is rising raw material cost. Alternative strategies from the results of the IE matrix are guard and defense strategies, avoiding sales and profits. Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa salah satu tanaman pangan yang dapat digunakan sebagai suplemen beras dan terigu yaitu talas. Masyarakat Indonesia belum memahami tentang manfaat talas dan bagaimana cara mengolahnya sehingga memiliki nilai jual. Salah satu rumah industri yang memproduksi keripik talas adalah rumah industri CV Jessi Muji Jaya. Rumah industri tersebut memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan bisnis talas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor internal, faktor eksternal yang mendukung pengembangan usaha dan untuk mengetahui strategi pengembangan usaha pada rumah industri CV. Jessi Muji Jaya. Metode analisis data menggunakan analisis SWOT yaitu menganalisis matriks IFE, matriks EFE, matriks IE dan matriks SWOT. Hasil penelitian menunjukkan faktor kekuatan utama yaitu produk sudah mendapat nomor PIRT. Faktor kelemahan utama adalah harga lebih mahal dibandingkan pesaing dan persediaan bahan baku berkurang. Faktor peluang utama adalah adanya kebijakan keamanan pangan suatu produk. Faktor ancaman utama adalah biaya bahan baku meningkat. Alternatif strategi dari hasil matriks IE yaitu strategi jasa dan pertahanan, menghindari penjualan dan keuntungan.
PENAMBAHAN LIMBAH PASAR PADA FORMULASI PAKAN AYAM KEDU DENGAN METODE DAN KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP KONSUMSI PAKAN KONVERSI DAN IOFC Ndakunau, Ronal Lapu; Handayani, Sri; Santoso, Erik Priyo
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine feed consumption, conversion and income over feed cost on kedu?s chicken. The method used in the study was Randomized Block Design (RBD), with 5 treatments i.e P0, P1, P2, P3, P4. Each treatment was repeated 4 times and gained 20 experimental units. Each replication consists of 1 chicken which laided separately. The treatment of feed consisted of P0: 100% feed without waste, P1: 85% formulated feed and 15% market waste, 80 formulation feed and 20% market waste, P2: 85% formulated feed and market waste flour 15 %, feed formulation 80% and market waste flour 20%, P3: fomulation feed 85% and market waste boiled 15% fomulation feed 80% and market waste boiled 20%, P4: feed formulation 85% and market waste steamed 15% feed formulation 80% and market waste is steamed 20%. The variables observed in the study were feed consumption, conversion and the value of income over feed cost. The research showed that the best feed consumption as 85% formulated feed and added with 15% boiled market waste. This feed was feeded 123,475 g/each/day. The best conversion was the lowest conversion value using 85% formulated feed plus 15% dried market waste and found in the treatment of P1 (4.52 g). The best treatment of Income Over Feed Cost (IOFC) was 85% formulated feed and added with 15% market waste is found in treatment of P1 (24,300 Rupiah). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi pakan, konversi dan income over feed cost pada ayam kedu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 5 perlakuan yaitu P0, P1, P2, P3, P4, dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga terdapat 20 unit percobaan. Setiap ulangan terdiri dari 1 ekor ayam yang dikandangkan sendiri-sendiri. Pakan perlakuan yang digunakan terdiri dari : P0 : pakan jadi 100% tanpa limbah, P1 : pakan formulasi 85% dan limbah pasar dijemur 15%, pakan formulasi 80 dan limbah pasar dijemur 20%, P2 : pakan formulasi 85% dan tepung limbah pasar 15%, pakan formulasi 80% dantepunglimbah pasar 20%, P3 : pakan fomulasi 85% dan limbah pasar direbus 15% pakan fomulasi 80% dan limbah pasar direbus 20%, P4 : pakan formulasi 85% dan limbah pasar dikukus 15% pakan formulasi 80% dan limbah pasar dikukus 20%. Variabel yang diamati dalam penelitian adalah konsumsi pakan, konversidannilai income over feed cost.Penelitian menunjukan bahwa konsumsi pakan terbaikyaitu dengan menggunakan pakan formulasi 85% ditambah limbah pasar 15% yang direbusterdapat pada perlakuan P3. 123,475 gram/ekor/hari. Konversi terbaik yaitu nilai konversi terendah dengan menggunakan pakan formulasi 85% ditambah limbah pasar yang dijemur 15%terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 4,52 gram. Sedangkan perlakuan terbaik dari Income Over Feed Cost (IOFC)dengan menggunakan pakan formulasi 85% ditambah limbah pasar yang dijemur 15% terdapat pada perlakuan P1 yaitu Rp. 24.300.
KAJIAN LANSKAP KAWASAN WISATA PANTAI TANJUNG BASTIAN SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA DI KEFAMENANU KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Niis, Maria Sofiana; Setyabudi, Irawan; Nuraini, Nuraini
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanjung Bastian Beach has an important role for the development and Kefamenanu community in terms of the economic aspects of the beach, the socio-cultural and ecological aspects have the potential to bring benefits to the local community. But the beach is less attention from the government and surrounding communities. the condition of the beach is poorly maintained, has not been well ordered and the culture is increasingly extinct. In this research a study is needed to identify the area of cultural tourism. The results of the study of the development of the Tanjung Bastian coastal tourism area as a cultural tourism area will be useful in the management, preservation, and development and cultural potential. This analysis process uses a SWOT Analysis to find out more about the development of cultural tourism, as well as the possibilities that can be done relating to strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the development of Cultural tourism. From the research results obtained several strategies from the SWOT matrix which are categorized into a number of strategies to develop Tanjung Bastian Beach Tourism area, namely the community must make Pokdarwis and develop local culture as cultural attractions, then the Government plays an active role in the tourist areas and provides facilities to support cultural activities on the Tanjung beach. Bastian, the Government cooperates with the local community, so that the community participates in protecting its nature and enhancing its social culture. Based on the results of a study of the cultural tourism area, it can be concluded that the Tanjung Bastian Beach is not in accordance with the criteria as a Cultural Tourism area. Pantai Tanjung Bastian mempunyai peranan penting bagi pembangunan dan masyarakat Kefamenanu ditinjau dari aspek ekonomi Pantai, sosial budaya dan aspek ekologi sangat berpotensi mengutungkan masyarakat setempat. Namun pantai tersebut kurang perhatian dari pemerintah dan masyarakat sekitar. kondisi pantai tidak terawat, belum tertata dengan baik dan kebudayaannya semakin punah. Dalam penelitian ini perlu diadakan suatu kajian untuk mengidentifikasi kawasan wisata budaya. Hasil kajian pengembangan kawasan wisata pantai Tanjung Bastian sebagai kawasan wisata budaya akan berguna dalam kegiatan pengelolaan, pelestarian, serta pengembangan dan potensi budaya. Proses analisis ini menggunakan Analisis SWOT untuk mengetahui lebih lanjut dari perkembangan wisata budaya, serta kemungkinan yang dapat dilakukan berkaitan dengan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan wisata Budaya. Dari hasil penelitian diperoleh beberapa strategi dari matriks SWOT yang dikategori menjadi beberapa strategi pengembangan kawasan Wisata Pantai Tanjung Bastian yaitu Masyarakat harus membuat pokdarwis dan mengembangkan budaya lokal sebagai atraksi budaya, kemudian Pemerintah berperan aktif akan daerah wisata dan menyediakan fasilitas untuk mendukung kegiatan budaya di pantai Tanjung Bastian, Pemerintah bekerja sama dengan masyarakat setempat, sehingga masyarakat ikut dalam menjaga alamnya serta meningkatkan sosial budaya. Berdasarkan hasil kajian dari kawasan wisata budaya dapat menyimpulkan bahwa Pantai Tanjung Bastian belum sesuai dengan kriteria sebagai kawasan Wisata Budaya.
STUDI KOMPARATIF PERMINTAAN BERAS DI MALANG COMPARATIVE STUDY OF RICE DEMAND IN MALANG Kurniasih, Defa; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Mutiara, Farah
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the function of rice demand and the factors that influence it as well as price elasticity, income elasticity, and cross elasticity. The research location was set in Mulyoagung and Tlogomas Village. Data were analyzed by multiple linear regression models. The results showed the price of rice had an effect on the demand for rice in Tlogomas with price elasticity of 0,051, income elasticity of 0,006 and cross elasticity of -0,004. The factors of rice price, total income, and number of family members influence the demand for rice in Mulyoagung with price elasticity of 0,105, income elasticity of 0,367 and cross elasticity of 1,481. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi permintaan beras dan faktor ? faktor yang mempengaruhinya serta elastisitas harga, elastisitas pendapatan, dan elastisitas silang. Lokasi penelitian ditetapkan di Desa Mulyoagung dan Kelurahan Tlogomas. Data dianalisis dengan model regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan harga beras berpengaruh terhadap permintaan beras di Kelurahan Tlogomas dengan elasitisitas harga 0,051, elastisitas pendapatan 0,006 dan elastisitas silang -0,004. Harga beras, jumlah pendapatan, dan jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap permintaan beras di Desa Mulyoagung dengan elasitisitas harga 0,105, elastisitas pendapatan 0,367 dan elastisitas silang 1,481.
PENDUGAAN MASA KADALUARSA KUE BAKPIA KERING MENGGUNAKAN METODE ACCELERATED SHELF LIFE TESTING DENGAN PENDEKATAN ARRHENIUS DI CV. TOULIP MALANG Nuruddin, Nuruddin; Santosa, Budi; Tantalu, Lorine
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakpia is a food made from a mixture of green beans with sugar, which is wrapped in flour, then baked. During the process of storing, food ingredients will have a decrease in quality caused by direct contact with oxygen or caused by the constituent ingredients of themselves. The purpose of this study was to determine the rate of decline in quality, determine the critical parameters, and estimate the shelf life of dried bakpia produced by CV. Toulip using the ASLT method with the Arrhenius model. The temperatures used in this study were 25 oC, 35 oC, and 45 oC in the storage box. The parameters observed included water content, aW, FFA and Organoleptic (taste, aroma and texture). The results obtained by the difference of each level by taking the highest R2 and the lowest Activation Energy (Ea) is found in the water content with R2 = 0.9976 and Ea = 20594.82 cal/mol with linear regression y = -10370x + 27.432, with the shelf life for 4 months and the temperature is 25 oC. Kue bakpia merupakan suatu makanan yang terbuat dari campuran kacang hijau dengan gula, yang dibungkus dengan tepung, lalu dipanggang. Selama proses penyimpanan bahan makanan akan mengalami penurunan mutu dan yang disebabkan oleh kontak langsung dengan oksigen atau disebabkan oleh bahan penyusunnya sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan laju penurunan mutu, menentukan parameter kritis, dan menduga umur simpan dari kue bakpia kering yang diproduklsi oleh CV. Toulip dengan menggunakan metode ASLT dengan model Arrhenius. Suhu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 25 oC, 35 oC, dan 45 oC dalam kotak penyimpanan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, aW, FFA dan Organoleptik (rasa, aroma dan tekstur). Hasil penelitian diperoleh selisih dari masing-masing kadar dengan megambil R2 tertinggi dan Energi Aktivasi (Ea) terendah ialah terdapat pada kadar air dengan R2 = 0,9976 dan Ea= 20594,82 kal/mol dengan regresi linier y= -10370x+27,432, dengan umur simpan selama 4 bulan dan suhu adalah 25 oC.
APLIKASI PUPUK DAUN GANDASIL D SEBAGAI PENGGANTI AB MIX PADA HIDROPONIK TANAMAN BAYAM MERAH (AMARANTHUS TRICOLOR L.) Naikofi, Maria Grasela T.; Astutik, Astutik; Fikrinda, Wahyu
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Red spinach was one type of vegetable plant that contains anthocyanin. Anthocyanin was red spinach acts an antioxidant that works to prevent the formantion of free radicals (Rangkuti, 2017). The aim of this research was to find out the dosage of gandasil D fertilizer which can replace AB Mix in hydroponic red spinach growth. This research was carried out on the Telaga warna, Tlogomas, Lowokwaru district, Malang. The research lasted for 1 month from March 2019 to April 2019. The method used in the study was a Completely Randomized Design (CRD). Factor 1: Mix AB concentration ie A0 = Control ml / l and A1 = 5 ml / l, Factor 2: Concentration of Gandasil D G1 = 1 g/l, G2 = 2 g/l and G3 = 3 g/l. Observation variables included plant height, number of leaves, leaf length, leaf width, leaf area, plant wet weight, plant root weight and leaf chlorophyll. Fertilizer research results Gandsil D 1 g/l can be used as a substitute for AB Mix nutrients in red spinach hydroponic. Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang mengandung antosianin. Antosianin pada bayam merah berperan sebagai antioksidan yang berfungsi untuk mencegah pembentukan radikal bebas (Rangkuti, 2017). Penelitian bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk gandasil D yang dapat menggantikan AB Mix pada pertumbuhan bayam merah secara hidroponik. Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Telaga Warna, Tlogomas Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian berlangsung selama 1 bulan terhitung sejak bulan Maret 2019 sampai dengan April 2019. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor I : dosis nutrisi Mix AB yang terdiri dari 2 taraf yakni :A0: 0 ml/l, A1: 5 ml/l. Faktor II : Dosis pupuk Gandasil D yaitu :G1: 1 g/l, G2: 2 g/l, G3: 3 g/l. Parameter pengamatan: tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, luas daun, bobot basah tanaman, berat bobot akar dan klorofil daun. Hasil penelitian pupuk Gandasil D 1 g/l dapat digunakan sebagai pengganti nutrisi AB Mix pada hidroponik bayam merah.