cover
Contact Name
Sulastrianah
Contact Email
sulastrianahmuhtadi@gmail.com
Phone
+6285242541601
Journal Mail Official
sulastrianahmuhtadi@gmail.com
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Kendari Universitas Halu Oleo Fakultas Kedokteran
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Medula
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 23391006     EISSN : 24430218     DOI : http://dx.doi.org/10.33772/medula
Core Subject : Health, Science,
MEDULA mengundang kontribusi bagi penelitian original dan fundamental pada bidang kesehatan sebagai sebuah artikel yang melewati proses review.
Articles 153 Documents
Perbandingan Visual Analogue Scale antara Pemberian Analgetik Asam Mefenamat, Paracetamol dan Ibuprofen Peroral Sebelum Sirkumsisi Agussalim Ali; Zida Maulina; Raja Al Fath; Muh. Zainsa Asfar
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 6, No 3 (2019): Edisi Suplemen
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.609 KB) | DOI: 10.46496/medula.v6i3.9637

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Nyeri akibat operasi merupakan  keadaan  yang sangat dikuatirkan oleh pasien sebelum menjalani operasi. Warfield  dan  Kahn melaporkan  57% dari pasien  yang  akan dioperasi menaruh perhatian yang serius terhadap kekuatiran nyeri pasca operasi dan 80% dari mereka ternyata mengalami nyeri sedang sampai berat setelah operasi. Dalam sirkusmsisi analgesik yang biasa digunakan yaitu Asam Mefenamat, Paracetamol, dan Ibuprofen. Tujuan: Penelitian ini beetujuan untuk mengetahui perbandingan visual analogue scale (VAS) 1 jam setelah sirkumsisi (T1),2 jam setelah sirkumsisi (T2) dan 3 jam setelah sirkumsisi (T3) antara pasien dengan pemberian analgetik  asam  mefenamat,  paracetamol,  dan  ibuprofen  peroral  pre  sirkumsisi.  Metode:  Jenispenelitian  ini  termasuk  penelitian  quasi-experimental  dengan  model     posttest  design  only  yang dilakukan di wilayah Kec. Abuki. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 30 sampel, yang terdiri dari 10 sampel asam mefenamat, 10 sampel paracetamol, dan 10 sampel ibuprofen. Penelitan ini dianalisis menggunakan SPSS dengan uji kruskal-wallis. Hasil: Pada T1 menunjukan bahwa terdapat perbedaan rata – rata pada tiap kelompok pemberian obat. Asam mefenamat memiliki nilai rata - rata VAS 2,50, paracetamol 3.00 dan ibuprofen 2,30 dengan p-value 0,018. Pada T2 rata – rata VAS yaitu asam mefenamat 4,30, paracetamol 4,70 dan ibuprofen 4,10 dengan p-value 0,252. Pada T3 rata – rata VAS tiap kelempok obat yaitu, asam mefenamat 7,00, paracetamol 7,50, dan ibuprofen6,40 dengan p-value 0,003. Simpulan: Terdapat perbedaan rata-rata VAS pada T1, T2 dan T3, dengan kelompok terendah yaitu pada kelompok ibuprofen.Kata kunci : Asam mefenamat, Ibuprofen, Paracetamol, Sirkumsisi, Visual analogue scale.
Activity Antidiabetic Of The Ethanol Extract Green Gedi Leaves Medical) On Mice (Mus musculus Parawansah Parawansah
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 6, No 3 (2019): Edisi Suplemen
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.659 KB) | DOI: 10.46496/medula.v6i3.9653

Abstract

ABSTRACTBackground: Green  gedi leaves  (Abelmoschus manihot (L.)  Medik)  is one plant that has efficacy in treating various diseases one of which is antidiabetic. The nature of the active substance green gedi leaves that capable lower blood glucose levels are flavonoids. Purpose: The purpose of this  study  was  to  determine  the effective  concentration  of  the  extract  of  green  gedi  leaves (Abelmoschus  manihot  (L.)  Medik)  to  lower  the  blood  glucose  levels on  mice  Induced  by Streptozotocin. Method: This type of research is experimental research that consists of 5 treatments with 3 variations dose and 2 controls. The study was conducted by measuring the blo od glucose levels in mice, blood glucose levels after induction to return normal blood glucose levels after oral administration with a suspension of Na. CMC as a control, and the suspension glibenclamid as a comparison with the extract of green gedi leaves concentration of 30 mg/KgBB, 60 mg/KgBB and 90 mg/KgBB with a time of observation for seven days. Result: The data obtained were analyzed using ANOVA and LSD. Conclusion: From this study that the green gedi leaf extract (Abelmoschus manihot (L.) Medik) at a concentration of 90 mg/kgBB is more effectife to give antidiabetic effect with the average reduction in blood glucose levels reach 68,67 mg/dL to mice.Keywords: antidiabetic, abelmoschus manihot (L.) Medik, green gedi leaves, Streptozotocin
Description of Food Comsumption Patterns in Pregnant Women in the Coastal Area of Kendari City Juminten Saimin; Ade Rizky Amalia; Amalia Nur Azizah; Muhammad Faisal; Defa Agripratama Ali
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 6, No 3 (2019): Edisi Suplemen
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.845 KB) | DOI: 10.46496/medula.v6i3.9647

Abstract

ABSTRAKKebutuhan gizi ibu hamil meningkat seiring dengan bertambahnya umur kehamilan. Pemenuhanasupan gizi dan  pola  makanan  yang  tepat berperan  penting  terhadap  kesehatan  ibu dan  janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola konsumsi makanan   pada ibu hamil didaerah pesisir Kota Kendari. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan metode cross-sectional.  Pengambilan sampel secara consecutive sampling yang dilakukan pada ibu hamil trimester ketiga di daerah pesisir Kota Kendari pada bulan September-Desember 2016. Data diambil menggunakan  food  frequency  questionaire  (FFQ)  pada  50  responden  ibu  hamil.  Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa makanan yang tersering dikonsumsi adalah nasi (100%) dan ikan segar (94%). Sayuran yang paling sering dikonsumsi adalah bayam (52%). Makanan yang jarang dikonsumsi adalah ikan asin (34%). Sebagian besar responden tidak pernah mengkonsumsi kerang (98%). Sumber karbohidrat yang tersering dikonsumsi adalah nasi (100%) dengan skor 50, sumber protein tersering adalah ikan segar (94%) dengan skor 46,5 dan sayuran tersering adalah bayam (52%) dengan skor 31,8.Simpulan: Ibu hamil di daerah pesisir Kota  Kendari mempunyai pola  konsumsi makanan yang banyak dari sumber karbohidrat dan protein, serta sayuran. Perlu senantiasa dilakukan penyuluhanpemenuhan gizi seimbang dan variasi makanan dari bahan makanan lokal. Kata kunci: daerah pesisir, food frequency questionnaire, ibu hamil, pola konsumsi
Formulasi Sediaan Krim Anti Jerawat Ekstrak Etanol Biji Pepaya Muda (Carica papaya L.) Serta Uji Aktivitasnya Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosaATCC 27825 dan Staphylococcus aureusATCC 25923 (Anti Acne Cream Formulation for Young Papaya Seed (Carica papaya L.) Ethanol Extract and Activity Test Against Pseudomonas aeruginosa ATCC 27825 and Staphylococcus aureus ATCC 25923) Nuralifah Nuralifah; Feri Indradewi; Parawansah Parawansah; Satriana Nasrun
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.139 KB) | DOI: 10.46496/medula.v7i1.11493

Abstract

Background: Young papaya seeds (Carica papaya L.) contained terpenoids, alkaloids karpain and flavonoids that have been examined has antibacterial activity. Purpose: This study aims to obtain anti-acne cream from extract of young papaya seeds (Carica papaya L.) that possess antibacterial activity against Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Pseudomonas aeruginosa ATCC 27825. Methods: Extract of young papaya seeds (Carica papaya L.) was obtained by maceration process using ethanol 96% and the antibacterial activity of extract conducted by well diffusion method. then the extract formulated into anti acne cream dosage and then tested to characteristic properties including pH test, dispersive power test, organoleptic test, homogeneity test, viscosity test and irritation test. Result: The results showed anti acne creams of extract young papaya seeds (Carica papaya L.) produced qualified standard and did not cause irritation. Conclusion: Anti acne cream containing extract concentration of 10% can inhibited bacteria of S. aureus ATCC 25923 with inhibition zone of 17,5 mm and P. aeruginosa ATCC 27825 with inhibition zone of 19,3 mm.Keyword: seeds of papaya (Carica papaya L.), anti acne creamLatar Belakang: Biji pepaya muda (Carica papaya L) mengandung terpenoid, alkaloid karpain dan flavonoid, yang telah diteliti memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh sediaan krim anti jerawat dari ekstrak biji pepaya muda (Carica papaya L) yang memiliki aktivitas anti bakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aureginosa ATCC 27825. Metode: Ekstrak biji pepaya muda (Carica papaya L) diperoleh melalui proses maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, serta uji aktivitas antibakteri ekstrak dilakukan dengan metode sumuran. Ekstrak selanjutnya diformulasikan menjadi sediaan krim anti jerawat dan dilakukan uji karakterisasi meliputi uji pH, uji daya sebar, uji organoleptik, uji homogenitas, uji viskositas dan uji iritasi. Hasil: Hasil pengamatan menunjukkan sediaan krim anti jerawat ekstrak biji pepaya muda (Carica papaya L) yang dihasilkan memenuhi syarat standar nilai pH, daya sebar dan viskositas. Hasil uji iritasi memperlihatkan formula krim tidak menimbulkan iritasi. Simpulan: Sediaan krim anti jerawat dengan konsentrasi ekstrak 10% dapat menghambat bakteri S.aureus ATCC 25923 dengan hambatan sebesar 17,5 mm dan P. aeruginosa ATCC 27825 dengan hambatan sebesar 19,3 mm.Kata Kunci: biji pepaya muda (Carica papaya L), krim anti jerawat
Aktivitas Antibakteri Sabun Cuci Tangan yang Mengandung Ekstrak Metanol Rumput Laut Eucheuma spinosum (Antibacterial Activity Test of Eucheuma spinosum Methanol Extract Hand Wash) Nur Illiyyin Akib; Mariani Triwatami; Andi Eka Purnama Putri
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.357 KB) | DOI: 10.46496/medula.v7i1.11494

Abstract

Background: Eucheuma spinosum seaweed contain flavonoid, triterpenoid, alkaloids and polyphenol which has been widely used in antibacterial activity. Purpose(s):The aim of the research are to determine antibacterial activities of metanol extracts of E. spinosum against Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Escherichia coli ATCC 25922; to formulate hand wash of seaweed of methanol extract E. spinosum that has antibacterial activity and has physical and chemical stability. Methods: Seaweed E.spinosum methanol extract was derived by maceration method. Antibacterial activities of the extract were tested by liquid dilution and solid dilution method. Hand wash was formulated by mechanical dissolved methods. Antibacterial activity of hand wash were tested by liquid dilution and solid dilution method. Physical and chemical stabilities were conducted by cycling test. Results:. These were showed through minimum inhibitory concentration (MIC) of ethanol extracts of E. spinosum against S. aureus ATCC 25923 at concentrations of 6% and E. coli ATCC 25922 at concentrations of 6%. The minimum bactericidal concentration (MBC) of ethanol extracts of E. spinosum against S. aureus ATCC 25923 at concentrations of 8% and E. coli ATCC 25922 at concentrations of 8%. Formulation of hand wash seaweed E. spinosum methanol extract at concentrations of 8% and 10%. The test of stabilities results of hand wash changes were organoleptic, viscosity, pH, and foaming ability were accordance to qualified standard. The antibacterial activity of hand wash contains seaweed E. spinosum methanol extract at concentration of  8% and 10% have bactericidal activity againts S. aureus ATCC 25923 and E. coli ATCC 25922. Conclusion: Overall, these results suggested that formula of hand wash contains E. spinosum metanol extracts have antibacterial properties against S. aureus ATCC 25923 and E. coli ATCC 25922.Keywords: antibacterial, Eucheuma spinosum, hand wash, physical and chemical stability Latar Belakang: Rumput laut Eucheuma spinosum mengandung flavonoid, triterpenoid, alkaloid, dan polifenol yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol E. spinosum terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Escherichia coli ATCC 25922; membuat sediaan sabun cuci tangan dari ekstrak metanol E. spinosum yang memiliki aktivitas antibakteri dan stabil secara fisika dan kimia. Metode: Ekstrak metanol E. spinosum diperoleh dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri ekstrak dilakukan dengan metode dilusi cair dan dilusi padat. Sabun cuci tangan diformulasi dengan metode pencampuran mekanik. Uji aktivitas antibakteri sabun cuci tangan dilakukan dengan metode dilusi cair dan dilusi padat. Uji stabilitas fisika kimia dilakukan dengan metodecycling test. Hasil: Konsentrsi Hambat Minimum (KHM) ekstrak metanol E. spinosum terhadap S. aureus ATCC 25923 adalah 6% dan terhadap E. coli ATCC 25922 adalah 8%. Ekstrak metanol E. spinosum dapat diformulasi menjadi sabun cuci tangan dengan konsentrasi 8% dan 10%. Uji stabilitas menunjukkan bahwa perubahan organoleptik, viskositas, pH, dan kemampuan membentuk busa masih berada dalam nilai yang dipersyaratkan. Uji aktivitas antibakteri sabun cuci tangan yang mengandung ekstrak metanol E. spinosum dengan konsentrasi 8% dan 10% memiliki aktivitas antibakteri terhadap ATCC 25923 and E. coli ATCC 25922. Simpulan: Formula sabu cuci tangan yang mengandung ekstrak metanol E. spinosum memiliki aktivitas antibakteri terhadap ATCC 25923 and E. coli ATCC 25922.Kata kunci: antibakteri, Eucheuma spinosum, sabun cuci tangan, stabilitas fisika kimia
Uji Daya Hambat Fraksi N-Heksan dan Etil Asetat Rumput Laut Cokelat (Sargassum sp.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus (Inhibitory Effect of N-Hexane and Ethyl Acetate Fraction of Sargassum sp. Seaweeds against Staphylococcus aureus) Amiruddin Eso; Sufiah Asri Mulyawati; Eka Rahmawati
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.14 KB) | DOI: 10.46496/medula.v7i1.11829

Abstract

Background: Staphylococcus aureus is a gram positive bacterium that causes pyogenic infectious disease, such as boils, pimples, endocarditis and sepsis. Resistance of S. aureus is continued growth that made it becomes a very serious problem that need to be solved by looking for another effective alternative for this infection. Several of marine life can be used as a source of antibacterial medication, antiviral, and antifungal. One alternative of antibacterial that comes from water resources is brown seaweed (Sargassum sp.). Purposes: This study aimed to find out the inhibitory fraction of n-hexane and ethyl acetate of Sargassum sp. against the growth of S. aureus Methods: This study applied quasi experimental method which used posttest-only control design. Samples used in the form of brown seaweed treatment of fraction n-hexane and Ethyl acetate derived from Desa Bungin Permai Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. The fraction inhibition test was conducted by diffusion agar method used variant concentration (20%, 40%, 60%, 80%, 100%) with three repetitions. Erythromycin as control (+) and DMSO 10% as control (-).Result: The study result showed that the n-hexane and Ethyl acetate fraction of Sargassum sp. extract was able in inhibiting the growth of S. aureus that seen with the clear zone around the paper disc. Based on this result, the minimum inhibitory fraction of n-hexane and ethyl acetate obtained in this study was at the concentration of 20%. The diameter average of inhibition zone in both fractions in the concentration 20%, 40%, 60%, 80%, 100% were 9.3 mm, 12.3 mm, 25.6 mm, 27 mm, 27.7 mm for n-hexane fraction, mean while the diameter average of inhibition zone in the ethyl acetate fraction was 4.6 mm, 16 mm, 19.3mm, 27.6mm, 29.6 mm. ethyl acetate fraction at a concentration of 40%, 80%,100% inhibitory zone diameter higher than the fraction of n-hexane while at a concentration of 20% and 60% inhibitory zone diameter higner than the fraction of ethyl acetate. Conclusion: Based on the result of the study, it was concluded that the fraction of n-hexane and ethyl acetate of Sargassum sp. has an inhibitory effect against the growth of S. aureus. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of n-hexane and ethyl acetate fraction was at the concentration of 20%. Fraction of n-heksan and ethyl acetate equally have a strong inhibition of the growth of S. aureus bacteria. Keywords : ethyl acetate fraction, minimum inhibitory concentration, n-hexane fraction, Sargassum sp, Staphylococcus aureus Latar Belakang: Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif penyebab terjadinya penyakit infeksi yang bersifat piogenik seperti bisul, jerawat, endokarditis dan sepsis. Kejadian resistensi antibakteri terhadap S. aureus terus meningkat sehingga menjadi masalah yang sangat serius sehingga diperlukan alternatif lain untuk mengatasi penyakit infeksi yang lebih efektif. Beberapa hasil biota laut dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, antivirus dan antijamur. Salah satu bahan alternatif sebagai antibakteri yang berasal dari sumber perairan yakni rumput laut cokelat (Sargassum sp.). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat fraksi N-Heksana dan Etil Asetat Sargassum sp. terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan desain post test-only control. Sampel yang digunakan berupa perlakuan fraksi N-Heksan dan Etil Asetat Sargassum sp. yang berasal dari Desa Bungin Permai Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode difusi agar dalam berbagai konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, 100% dengan tiga kali pengulangan. Eritromisin yang digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 10% (Dimetil sulfoksida) sebagai kontrol negatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi Sargassum sp. mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus yang dilihat dengan adanya zona bening disekitar kertas cakram. Konsentrasi hambat minimum dari kedua fraksi pada konsentrasi 20%. Perbedaan rerata diameter zona hambat pada kedua fraksi dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, 100% yaitu sebesar 9,3 mm,12,3 mm, 25,6 mm, 27 mm, 27,7 mm pada fraksi n- heksan dan 4,6 mm, 16 mm, 19,3 mm, 27,6 mm, 29,6 mm pada fraksi etil asetat. Fraksi etil asetat pada konsentrasi 40%, 80%, 100% diameter zona hambatnya lebih tinggi dari pada fraksi n-heksan sedangkan pada fraksi n-heksan konsentrasi 20% dan 60% diameter zona hambatnya lebih tinggi dibandingkan fraksi etil asetat. Simpulan: Simpulan dari penelitian ini bahwa fraksi n-heksan dan fraksi etil asetat Sargassum sp. mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus ekstrak rumput laut cokelat mengandung senyawa flavonoid, steroid, saponin dan tannin. Konsentrasi hambat minimum (KHM ) dari kedua fraksi yaitu pada konsentrasi 20 %. Fraksi n-heksan dan etil asetat mempunyai daya hambat yang kuat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureusKata Kunci : fraksi etil asetat, fraksi n-heksan, Kadar Hambat Minimun, Sargassum sp,  Staphylococcus aureus
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Turi (Sesbania grandiflora (L.)Press) terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella thypi dan Streptococcus mutans (Antibacterial Activity of Turi Leaf Extract (Sesbania grandiflora (L.) Press) against Salmonella thypi and Streptococcus mutans) Arimaswati Arimaswati; Wa Ode Amrina Wulan Safitri; Hartati Hartati
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.691 KB) | DOI: 10.46496/medula.v7i1.11487

Abstract

Background: Infectious diseases are still one of the important public health issues in developing countries. Most infections are caused by bacteria, fungi, viruses and parasites. The relatively high use of antibiotics gives many problems especially resistance. So the use of traditional medicinal plants is needed as an alternative treatment. One of the traditional medicine that can be used for treatment is turi leaf (Sesbania grandiflora (L.) Pers). The potential of turi leaves is as antibacterial because its have contains alkaloids, flavonoids, saponins and tannins. The purpose of this research is to knowing about antibacterial activity of turi leaf extract (S. grandiflora (L.) Pers) on Salmonella thypi and Streptococcus mutans bacteria growth. Methods: This research uses post test only control design, independent variable is turi leaf extract and dependent variable is bacterial growth inhibition zone. Lean ethanol extract of turi leaf was obtained by maceration method after waiting for 3 x 24 hours. Testing of antibacterial activity using wells diffusion method. Results: showed that the fraction of ethyl acetate and n-hexane of turi leaves of had antibacterial activity on S. thypi and S. mutans growth with the gratest concentration value capable of inhibiting bacterial growth of 100%. The fraction of ethyl acetate and n-hexane of turi leaves inhibited S. thypi bacteria growth of 11 mm and 4 mm, while for S. mutans were 4.67 mm and 4mm. Minimum Stress Levels of ethyl acetate and n-hexane fractions on groeth of S. thypi and S. mutans bacteria were at concentrations of 10%. Conclusion: From this research it can be concluded that the fraction of ethyl acetate and turi leaf n-hexane fraction (S. grandiflora (L.) Pers) has antibacterial activity against S. thypi and S. mutans growth. with Minimum Stress Levels being at a concentration of 10%. The antibacterial activity is more sensitive to S. thypi than S. mutans. Keywords: Minimum Inhibitory, Turi Leaf (Sesbania grandiflora (L.) Pers), Salmonella typhi, Streptococcus mutans Latar Belakang: Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh bakteri, fungi, virus dan parasit. Penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan global terutama resistensi. Sehingga penggunaan tanaman obat tradisional diperlukan sebagai pengobatan alternatif. Salah satunya adalah S. grandiflora (L.) Pers. Potensi daun turi sebagai antibakteri karena mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak S. grandiflora (L.) Pers terhadap pertumbuhan bakteri S. thypi dan S. mutans. Metode: Penelitian ini menggunakan desain post test only control, variabel bebas adalah ekstrak daun turi dan variabel terikat adalah zona hambat pertumbuhan bakteri. Ekstrak etanol daun turi diperoleh dengan metode maserasi selama 3 x 24 jam. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan S. grandiflora (L.) Pers memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri S. thypi dan S. mutans dengan nilai konsentrasi terbesar yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri yaitu 100%. Fraksi etil asetat dan n-heksan daun turi menghambat pertumbuhan bakteri S. thypi sebesar 11 mm dan 4 mm, sedangkan untuk S. mutans berturut-turut sebesar 4,67 mm dan 4 mm. Kadar Hambat Minimum dari fraksi etil asetat dan n-heksan terhadap pertumbuhan bakteri S. thypi dan S. mutans berada pada konsentrasi 10%. Simpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan S. grandiflora (L.) Pers memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan S. thypi dan S. mutans dengan Kadar hambat Minimum berada pada konsentrasi 10%.Aktivitas antibakteri lebih peka pada S. thypi dibandingkan S. mutans.Kata kunci:  daun turi (Sesbania grandiflora (L.) Pers), Salmonella thypi, Streptococcus mutans, kadar hambat minimum
Pengaruh Ekstrak Bawang Putih Terhadap Kadar Serum Kreatinin Tikus Hipertensi Two Kidney One Clipp (Effect of Allium sativum Extract to Serum Creatinine of Two Kidney One Clipp Hypertension Rat) Sapto Raharjo; Gustavita Maria Bandong; Tien Tien; Andi Noor Kholidha Syarif; Agus Chahyadi; Pranita Aritrina
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.047 KB) | DOI: 10.46496/medula.v7i1.11831

Abstract

Background: Garlic (Allium sativum) has long been used both as a food and traditional medicine. Several studies have shown  potential of garlic (Allium sativum) as an antihypertensive. In previous in vitro study found that dipeptide on garlic extract after hydrolyzed by the enzyme papain have ACE inhibitory activity. Induction of hypertension with 2 Kidney One Clip (2K1C) methodcauses the kidneys lose their physiological functions. A.sativum is expected to ameliorate kidney function. This study aimed to analyze creatinine levels in rat induced by 2K1C. Method: These study was an in vivo study with Pre-Post Test Only Control group Design. Before treatment, 30 subjects induced hypertension by 2K1C method. Treatment was conducted for four weeks. The recent study was conducted on 36 Rattus norvegicus, Wistar strain were divided into 6 groups. Measurement of creatinine was conducted by spectrophotometry method. Result: The results showed that there were significant differences in creatinine levels between groups (p < 0.05) both in the pre-test and post-test. The normal group and hypertension group did not have significant differences in creatinine pre- and post-test levels (p > 0.05). A.sativum 75m/kgBB gave the best decrease in creatinine levels up to 1.75 mg/dL compared to the A.sativum 25mg/kgBB and A.sativum group 50 mg/kgBB. There were significant differences in creatinine levels A.sativum 75 mg/kgBB and captopril (p <0.05). Conclusion: There was significant differences in creatinine levels of hypertensive rats between groups and the most effective dose was 75 mg / kg. Keywords: A.sativum, hypertension, creatinine, 2K1C Latar Belakang: Bawang putih (Allium sativum) telah lama digunakan, baik sebagai bahan masakan maupun sebagai obat tradisional. Beberapa studi menunjukkan potensi bawang putih (A. sativum) sebagai antihipertensi. Pada penelitian sebelumnya secara in vitro ditemukan bahwa dipeptida pada ekstrak bawang putih setelah dihidrolisis dengan enzim papain memiliki aktivitas inhibisi terhadap ACE. Induksi hipertensi 2 Kidney One Clip (2K1C) menyebabkan ginjal kehilangan fungsi fisiologisnya. Pemberian A.sativum  diketahui mampu memperbaiki fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar kreatinin pada tikus yang diinduksi 2K1C. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian in vivo dengan menggunakan rancangan Control Group Time Series Experimental. Parameter dalam penelitian ini adalah tekanan darah. Sebelum perlakuan, subjek diinduksi hipertensi dengan metode 2K1C. Perlakuan dimulai pada minggu ke-enam setelah induksi. Perlakuan berlangsung selama empat minggu. Subjek yang digunakan dalam penelitian adalah tikus putih (Rattus norvegicus, strain Wistar), sebanyak 36 ekor dibagi dalam 6 kelompok: normal/sehat (tidak diinduksi), hipertensi yang diberi kaptopril, hipertensi yang diberi ekstrak A.sativum 25mg/kgBB, hipertensi yang diberi ekstrak A. sativum 50mg/kgBB, hipertensi yang diberi ekstrak A. sativum 75mg/kgBB, dan hipertensi tanpa perlakuan. Pengukuran kreatinin dilakukan menggunakan metode spektrofotometri. Hasil: Analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan kadar kreatinin signifkan pada setiap kelompok (p < 0.05) baik pre-test maupun post-test. Kelompok normal dan hipertensi tidak memiliki perbedaan signifikan pada kadar kreatinin pre dan post-test (p > 0.05). Kelompok A. sativum 75m/kgBB menunjukkan penurunan kadar kreatinin yang sangat signifikan hingga 1.75 mg/dL dibanding kelompok  A. sativum 25mg/kgBB and A. sativum group 50 mg/kgBB. Terdapat perbedaan kadar kreatinin yang signifikan antara kelompok A. sativum 75 mg/kgBB dan captopril (p <0.05). Simpulan: Terdapat perbedaan kadar kreatinin yang signifikan antar kelompok dan penurunan kadar kreatinin terbaik yaitu pada dosis  75 mg / kg. Kata Kunci: A.sativum, hipertensi, kreatinin, 2K1C
Hubungan Kebiasaan Merokok dan Kondisi Lingkungan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Guali Tahun 2016 (The Relationship Between Smoking Habits and Environmental Conditions with The Incidence of Pulmonary Tuberculosis in the Work Area of Guali Public Health Center in 2016 Saida Saida; Syamsiar Syamsiar
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.435 KB) | DOI: 10.46496/medula.v7i1.11488

Abstract

Background: Tuberculosis is an infectious disease caused by Microbacterium Tuberculosis, bacteria aerobic rods and acid resistance can be a pathogenic organism or pathogen microbacterium saprofit there are several, but only bovine and human strains are pathogenic to humans. Purpose: The purpose of the study was to examine the relationship between smoking habit and environmental conditions with the incidence of pulmonary tuberculosis in the work area of Guali public health Center in 2016. Method: The design of this research was analytic with cross sectional approach. The population in this study was 94 tuberculosis patients and the total sampling technique was used. Result: The statistical analysis between smoking and environmental conditions with the incidence of pulmonary tuberculosis has p value of 0.007 and 0.030 consecutively. Conclusion: There was a correlation between smoking habit and environmental condition with the incidence of pulmonary tuberculosis the work area of Guali public health Center in 2016. It is recommended to families especially family members who suffer from pulmonary TB to adhere to appropriate treatment, and to motivate other family members to check contacts to prevent transmission early.Keywords : environmental conditions, smoking habit, tuberculosis Latar belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Microbacterium tuberculosis, kuman bentuk batang, aerob dan tahan asam. Kuman ini merupakan organisme pathogen dan saprofit. Ada beberapa microbacterium pathogen, tetapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok, kondisi lingkungan dengan kejadian Tuberkulosis paru di wilayah Kerja Puskesmas Guali Tahun 2016. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional, yakni untuk mencari hubungan antara kebiasaan merokok, kondisi lingkungan dengan kejadian Tuberkulosis paru di wilayah Kerja Puskesmas Guali Tahun 2016. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 94 orang. Adapun tehnik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik total sampling yaitu berjumlah 94 orang. Hasil: Hasil analisis statistik antara kebiasaan merokok (p= 0,007) dan kondisi lingkungan (p=0,030) dengan kejadian Tuberkulosis Paru. Simpulan: Terdapat hubungan antara kondisi lingkungan dengan kejadian Tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Guali tahun 2016. Disarankan bagi keluarga yang mempunyai angota keluarga yang menderita penyakit Tuberkulosis Paru dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kontak untuk pencegahan secara dini.Kata Kunci : kebiasaan merokok, kondisi lingkungan, kejadian tuberkulosis paru
Hubungan antara Kadar Low Density Lipoprotein dengan Tekanan Darah Sistolik saat Puncak Exercise pada Personil Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (The Relationship between Low Density Lipoprotein Levels and Systolic Blood Pressure during Peak Exercise of Police Personnel in Southeast Sulawesi) Dina Fitriana; Hilma Yuniar; Jamaluddin Jamaluddin
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v7i2.11970

Abstract

Background: Systolic blood pressure during exercise is the blood pressure as measured by aneroid sphygmomanometer at the peak exercise (treadmill), namely when the subject has experienced fatigue or heart rate has reached > 85% of Maximum Heart Rate. Purpose:This research purpose is to determine the relationship between LDL level and systolic blood pressure at the exercise peak of  police personnel in Southeast Sulawesi. Methods: This research used analytical-observasional study with cross sectional aproach. The independent variables used in this research are LDL level while the dependent variables was systolic blood pressure during the peak exercise. Research location is in Maxima Laboratory Kendari.The subjects of this study were 95 people based on the inclusion and exclusion criteria that selected by Purposive Sampling method. Data collection was gained by taking the secondary data and was processed by using statistical test data of Independent T-test with a significance p-value <0.05. Result: The result of bivariate analysis showed that there was a relationship between LDL level and systolic blood pressure at the exercise peak on the police personnel in Southeast Sulawesi with a p-value = 0,000 (<0.05). Conclusion: This study can be conlcuded that there was a relationship between LDL level and systolic blood pressure at the peak exercise of police personnel in Southeast Sulawesi.Keywords: low density lipoprotein, systolic blood pressure, peak exercise. ABSTRAKLatar belakang : Puncak tekanan darah sistolik pada saat exercise adalah tekanan darah sistolik yang diukur dengan menggunakan sfignomanometer air raksa pada saat puncak exercise, dimana subyek sudah mengalami kelelahan atau denyut jantung telah mencapai 85% dari denyut jantung maximal. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kadar LDL plasma dengan tekanan darah sistolik pada puncak exercise pada personil Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara. Metode: penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan metode cross sectional. variabel independen adalah kadar LDL plasma dan dependen variabel adalah tekanan darah sistol pada puncak exercise. penelitian dilakukan di Laboratorium Klinik Maxima Kendari. sebanyak 95 sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diambil dengan metode purposive sampling. Data tekanan darah saat puncak exercise dan kadar LDL plasma diambil dari data sekunder rekam medik pasien. Data kemudian dianalisa dengan uji statistik Independent T-test dan bermakna bila nilai p <0,05. Hasil: Analisa statistik menunjukkan adanya hubungan antara kadar LDL plasma dengan tekanan darah sistolik pada puncak exercise pada personil POLDA Sulawesi Tenggara, dengan nilai p=0,000. Simpulan : Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kadar LDL plasma dengan tekanan darah sistolik pada puncak exercise pada personil POLDA Sulawesi Tenggara.Kata Kunci: low density lipoprotein, tekanan darah sistolik, puncak exercise

Page 10 of 16 | Total Record : 153