cover
Contact Name
Sulastrianah
Contact Email
sulastrianahmuhtadi@gmail.com
Phone
+6285242541601
Journal Mail Official
sulastrianahmuhtadi@gmail.com
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Kendari Universitas Halu Oleo Fakultas Kedokteran
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Medula
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 23391006     EISSN : 24430218     DOI : http://dx.doi.org/10.33772/medula
Core Subject : Health, Science,
MEDULA mengundang kontribusi bagi penelitian original dan fundamental pada bidang kesehatan sebagai sebuah artikel yang melewati proses review.
Articles 153 Documents
Penentuan Jenis Kelamin berdasarkan Indeks Kaninus (Sex Determination Based on Canine Index) Raja Al Fath Widya Iswara
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v7i2.11971

Abstract

Background: Identification is an effort made to determine a person's identity. One of the important things in identification is sex determination. Teeth are the hardest part of the human body and are protected in the oral cavity so they have a major role in forensic identification. Canine is the longest teeth and oftentimes used in identification. Purpose: To  determine the sex based on the canine index. Methods: An observational analytic cross-sectional study design with 250 research subjects of Halu Oleo University Medical Faculty students from October to December 2018, ages 18-25 years, who met the inclusion criteria, male (n = 125) and female (n = 125). Canine index by calculating the ratio of mesiodistal width (a measure of the width of canines measured from the two widest ends) divided by the distance between canines in four regions namely upper right jaw, upper left jaw, lower right jaw and upper left jaw. Result: Spearman correlation test results of canine index to sex, namely the upper right jaw value of p = 0.124, the upper left jaw value of p = 0.117, the right and right lower jaw with the p value = 0,000. Conclusion: The lower jaw canine index can be used in sex determination, where male have greater lower jaw canine index than female.Keywords: identification, canine index, sex ABSTRAKLatar Belakang: Identifikasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menentukan identitas seseorang. Salah satu hal penting dalam identifikasi adalah penentuan jenis kelamin. Gigi merupakan bagian paling keras dari tubuh manusia dan terlindung di dalam rongga mulut sehingga mempunyai peran besar dalam identifikasi forensik. Kaninus/gigi taring merupakan gigi yang paling panjang diantara semua gigi dan sering digunakan dalam identifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penentuan jenis kelamin berdasarkan indeks kaninus. Metode: Penelitian analitik observasional rancangan cross sectional dengan 250 subyek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo Periode Oktober-Desember 2018, usia 18-25 tahun, yang memenuhi kriteria inklusi, laki-laki (n=125) dan perempuan (n=125). Indeks kaninus dengan menghitung rasio lebar mesiodistal (ukuran lebar dari gigi taring yang diukur daripada kedua ujung yang terlebar) dibagi jarak antar kaninus pada empat regio yaitu rahang atas kanan, rahang atas kiri, rahang bawah kanan dan rahang bawah kiri. Hasil: Hasil uji korelasi Spearman indeks kaninus terhadap jenis kelamin yaitu pada rahang kanan atas nilai p=0,124, rahang kiri atas nilai p=0,117, rahang kanan dan kiri bawah dengan nilai p=0,000. Simpulan:  Indeks kaninus rahang bawah dapat digunakan dalam penentuan jenis kelamin, laki-laki mempunyai indeks kaninus rahang bawah lebih besar dibanding perempuan.Kata kunci: identifikasi, indeks kaninus, jenis kelamin
Karakteristik Penderita Tuberkulosis di Rumah Sakit Ibnu Sina Periode Januari - Desember 2018 (Characterization of Tuberculosis Patients in Ibnu Sina Hospital for January – December 2018) Rachmat Faisal Syamsu; Nurqalbi Faizal; Sandra Kariati; Muhammad Zuhal Darwis; Andi Sri Nurul Hikmah Angraini
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v7i2.11967

Abstract

Background: Tuberculosis is a disease caused by Mycobacterium tuberculosis. These pathogenic bacteria attack the lungs and other body organs. The TB incidence rate in Indonesia determines the third highest in the world after India and China. Estimated every year an estimated 528,000 new TB cases with approximately 91,000 deaths. Purpose: The aims of this study was to determine the characteristics of tuberculosis sufferers in Ibnu Sina Hospital in the period January-December 2018. Methods: This research examines research using observational research by looking at secondary data from the medical records of Ibnu Sina Hospital . The population was 53 patients, taking a sample using the total sampling method. The study was conducted in January 2020 at Ibnu Sina Hospital. Data were analyzed electronically using Microsoft Excel 2016 computer software with a descriptive display and presented in tabular form. Patients with Tuberculosis were obtained (63,75%) and women (36,25%). Result: Terms of BMI obtained underweight sufferers (52,5%), normal (36,25%), overweight (7,5%), and obecitas 1 (3,75%). Of the age categories ≤ 5-14 years (5%), 15-24 years (16,25%), 25-44 years (21,25%), 45-64 years (36,25%), dan ≥ 65 years (21,25%). Based on the occupational groups obtained by employees (12,5%), self-employed (8,75%), laborers (21,25%), IRT (27,5%), students (10%), civil servants (1,25%), lecturer (1,25%), retired (1,25%), fisherman (1,25 %) and unemployed (13,75%). Conclusion: The criteria for tuberculosis sufferers from this study came fromgender. The scales of males were more than females, in terms of age at most at age  45-64 years, from IMT the most tuberculosis patients were thin, and from work suffered more by housewives and laborers.Keywords: tuberculosis, gender, body mass index, age, work ABSTRAKLatar Belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri patogen ini menyerang paru-paru dan organ tubuh lainnya.. Angka kejadian TB di Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB baru dengan kematian sekitar 91.000 orang. Tujuan: untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita Tuberkulosis RS Ibnu Sina periode Januari-Desember 2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan observasional dengan melihat data sekunder dari rekam medik RS Ibnu Sina. Jumlah populasi adalah 53 pasien, pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2020 di RS.Ibnu Sina. Data dianalisa secara elektronik menggunakan perangkat lunak komputer program Microsoft Excel 2016 dengan tampilan deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil: Didapatkan Penderita Tuberculosis laki-laki (63,75%) dan perempuan (36,25%). Dari segi IMT didapatkan penderita underweight (52,5%), normal (36,25%), overweight (7,5%), dan obesitas 1 (3,75%). Dari kategori umur ≤ 5-14 tahun (5%), 15-24 tahun (16,25%), 25-44 tahun (21,25%), 45-64 tahun (36,25%), dan ≥ 65 tahun (21,25%). Berdasarkan kelompok pekerjaan didapatkan karyawan (12,5%), wiraswasta (8,75%), buruh (21,25%), IRT (27,5%), pelajar / mahasiswa (10%), PNS (1,25%), dosen (1,25%), pensiunan (1,25%), nelayan (1,25%), dan yang tidak bekerja (13,75%).  Simpulan: Kriteria penderita Tuberculosis dari penelitian ini didapatkan dari jenis kelamin menunjukkan laki-laki lebih banyak dari perempuan, dari segi umur paling banyak pada usia 45-64 tahun, dari IMT paling banyak penderita Tuberculosis yang underweight, dan dari pekerjaan lebih banyak diderita oleh ibu rumah tangga dan buruh.Kata Kunci: tuberculosis, jenis kelamin, indeks massa tubuh, umur, pekerjaan 
Sosiodemografi Persalinan dengan Seksio Sesarea di RS dr. Ismoyo Kendari (Sociodemographic Profile of Caesarean Birth in dr. Ismoyo Hospital Kendari) Juminten saimin; Lianawati Lianawati; Monovalentino Yohanis; Steven Ridwan
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v7i2.11972

Abstract

Background: The government made various efforts to reduce MMR, including improving maternal health services during pregnancy, childbirth and the puerperium. Caesarean birth is performed to reduce complications of pregnancy and childbirth and reduce maternal and infant mortality. Purpose: To determine the sociodemographic profile of caesarean birth in one of the private hospitals in Kendari City. Methods: This wa a descriptive study which was conducted in January 2020. Samples were patients who gave caesarean birth in dr. Ismoyo Kendari Hospital from 1 January 2019 to 31 December 2019. Data were obtained from medical records and abstracted into questionnaires, consisting of maternal characteristics and care. Data was tabulated and presented with a table with an explanation. Result: The number of deliveries at dr. Ismoyo Hospital Kendari during the period 1 January 2019 to 31 December 2019 was 914, consisting of 569 were vaginal deliveries (62.3%) and 345 were caesarean deliveries (37.7%). The majority of caesarean birth deliveries were performed at the age of 20-35 years (77.1%), the level of education was high (66.1%), multiparous (57.7%), as housewives (46.7%), and using insurance (96.5%). Almost all respondents used health insurance (96.5%), were treated in class 1 (36.2%), more than half brought referrals from doctors' practices (55.4%) and emergency actions were taken. Conclusion: Percentage of caesarean birth in dr. Ismoyo Hospital Kendari is 37.7%, the majority are aged 20-35 years, highly educated, multiparitas, and as a housewife. The majority of care is done in class 1, referral from a doctor's practice and an emergency action.Keywords: caesarean birth, care, characteristics, labor ABSTRAKLatar belakang: Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan AKI, termasuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu selama kehamilan, persalinan dan nifas. Tindakan seksio sesarea dilakukan untuk mengurangi komplikasi kehamilan dan persalinan serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Tujuan: mengetahui gambaran sosiodemografi persalinan dengan SC di salah satu Rumah Sakit swasta di Kota Kendari. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif yang telah dilakukan pada bulan Januari 2020. Sampel yaitu pasien yang melahirkan dengan SC di RS dr.Ismoyo Kendari mulai 1 Januari 2019 sampai 31 Desember 2019. Data diperoleh dari catatan medik dan diabstraksi ke dalam kuesioner, terdiri dari karakteristik ibu dan perawatan SC. Data ditabulasi dan disajikan dengan tabel disertai penjelasannya. Hasil: Jumlah persalinan di RS dr. Ismoyo Kendari selama periode 1 Januari 2019 sampai 31 Desember 2019 adalah 914 persalinan, terdiri dari persalinan pervaginam 569 (62,3%) dan dengan SC 345 (37,7%). Mayoritas persalinan SC dilakukan pada umur 20-35 tahun (77,1%), tingkat pendidikannya tinggi (66,1%), multipara (57,7%), dan sebagai ibu rumah tangga (46,7%) serta menggunakan asuransi (96,5%). Hampir semua responden menggunakan asuransi kesehatan (96,5%), dirawat di kelas 1 (36,2%), dan lebih dari separuh membawa rujukan dari praktek dokter (55,4%) serta dilakukan tindakan emergensi. Simpulan: Persentase persalinan SC di RS dr. Ismoyo Kendari sebesar 37,7%, mayoritas berumur 20-35 tahun, berpendidikan tinggi, multiparitas, dan sebagai ibu rumah tangga. Perawatan tindakan SC mayoritas dirawat di kelas 1, rujukan dari praktek dokter dan dilakukan tindakan emergensi. Kata kunci: karakteristik, perawatan, persalinan, seksio sesarea
Optimasi Kadar Fenilbutazon dalam Pembawa Vesikular Etosom (Optimization of Concentration of Phenylbutazone in Ethosomes Vesicular Carrier) Nur Illiyyin Akib; Muhammad Handoyo Sahumena; Yunita Dawu; Vica Aspadiah; Indria Hafizah; Halimahtussaddiyah Ritonga
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v7i2.11968

Abstract

Background: Phenylbutazone is a class of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) used in the treatment of rheumatoid arthritis. Phenylbutazone is used by the transdermal route to reduce the irritating effect on the gastrointestinal tract. Purpose: This study aims to obtain phenylbutazone suspensions with optimal levels in the ethosome vesicular carrier. Methods: Preparation was carried out by the hot method (40oC) and cold method (30oC) as well as variations in the concentration of phosphatidylcholine (2% and 3%) and ethanol (30%, 35%, and 40%). Characterization of vesicles, namely the shape and size of vesicles using optical microscopy and entrapment efficiency using the spectrophotometer method with λ maks 266.6 nm. Optimization of phenylbutazone levels was carried out at a concentration of 0.1%; 0.15%; 0.2%; and 0.25%. The optimum formula was obtained at a concentration of phosphatidylcholine 3% and ethanol 35% prepared by the hot method. Results:. The form of a Small Unilamellar Vesicle (SUV), a size of 23.7 nm, and entrapment efficiency is 88.358%. Optimization of phenylbutazone levels was obtained at a concentration of 0.1% with entrapment efficiency of 88.358%. Conclusion: The optimum level of phenylbutazone in the vesicular carrier ethosome was 0.1%.Keywords: ethosome, optimation, phenylbutazone, transdermal ABSTRAKLatar Belakang: Fenilbutazon merupakan golongan obat antiinflamasi non stroid (AINS) yang digunakan pada pengobatan penyakit rheumatoid arthritis. Fenilbutazon digunakan melalui rute transdermal untuk mengurangi efek iritasi pada saluran cerna. Tujuan: Penelitian ini bertujuan memperoleh suspensi fenilbutazon dengan kadar yang optimal dalam pembawa vesikular etosom. Metode: Preparasi dilakukan dengan metode panas (40oC) dan metode dingin (30oC) serta variasi konsentrasi fosfatidilkolin (2% dan 3%) dan etanol (30%, 35%, dan 40%). Karakterisasi vesikel yaitu bentuk dan ukuran vesikel menggunakan mikroskop optik serta efisiensi penjerapan menggunakan metode spektrofotometer pada λmaks 266,6 nm. Optimasi kadar fenilbutazon dilakukan pada konsentrasi 0,1%; 0,15%; 0,2%; dan 0,25%. Diperoleh formula optimum pada konsentrasi fosfatidilkolin 3% dan etanol 35% yang dipreparasi dengan metode panas Hasil: Vesikel yang diperoleh berbentuk Small Unilamellar Vesicle (SUV), ukuran 23,7 nm, dan efisiensi penjerapan 88,358%. Optimasi kadar fenilbutazon diperoleh pada konsentrasi 0,1% dengan efisiensi penjerapan 88,358%. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa kadar optimum fenilbutazon dalam pembawa vesikular etosom adalah 0,1%.Kata kunci: etosom, optimasi, fenilbutazon, transdermal
Uji Aktivitas Antioksidan Hidrolisat Protein Kerang Pasir (Semele cordiformis) dengan Metode DPPH (Antioxidant Activity of Protein Hydrolisate from Semele cordiformis Using DPPH Methode) Ummi Kalsum; Indria Hafizah; Pranita Aritrina; Sulastrianah Sulastrianah
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v7i2.11969

Abstract

Background: Sand shell (Semele cordiformis) is commonly found in South East Sulawesi marine area. This species traditionally used for treatment of several disease. Nevertheless, there is less publication about bioactivity of S. cordiformis as asource of drugs. Purpose: The aims of this research is to determine the activity of protein hydrolysate of S. cordiformis as an antioxidant. Methods: This research was conducted by pre-experimetal study with post test only control group design. Antioxidant activity was measure by DPPH method and spectrophotometry. The sample was hydrolyzed by using papain enzyme. The sample was made in to concentration 200 ppm, 400 ppm, 600 ppm, 800 ppm, and 1000 ppm and vitamin C was used as positive control. The IC50 was used to measure antioxidant activity. Results: Concentration of 200 ppm showed 36,68% of inhibition percentage, 400 ppm showed 47,69%, 600 ppm showed 60,19%, 800 ppm showed 65,63%, and 1000 ppm showed 72,69 %. The IC50 value of was obtained for 453,777 ppm. Conclusion: The protein hydrolysate of S. cordiformis have an antioxidant activity and the hydrolisat concentration is directly proportional with inhibition activity.Keyword: antioxidant, protein hydrolysate, Semele cordiformis ABSTRAKPendahuluan: Kerang pasir atau Semele ccordiformis merupakan jenis kerang yang banyak ditemukan di perairan Sulawesi Tenggara. Kerang ini merupakah salah satu jenis kerang yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal untuk pengobatan. Meskipun demikian, belum ditemukan publikasi ilmiah mengenai bioaktifitas S. ccordiformis dalam bidang kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas antioksidan hidrolisat protein S. cordiformis. Metode: Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan post-test only control group. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan prinsip spektrofotometri. Sampel dari penelitian ini adalah S. cordiformis yang diperoleh dari perairan Pulau Bokori, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara yang kemudian dihidrolisis menggunakan enzim papain. Sampel dibuat menjadi beberapa konsentrasi yaitu 200 ppm, 400 ppm, 600 ppm, 800 ppm, and 1000 ppm dan vitamin C digunakan sebagai kontrol positif. Nilai IC50 digunakan untuk mengetahui aktifitas antioksidan. Hasil: Konsentrasi 200 ppm menghasilkan persen inhibisi sebesar 36,68%, 400 ppm sebesar 47,69%, 600 ppm sebesar 60,19%, 800 ppm sebesar 65,63%, dan 1000 ppm sebesar 72,69 %. Nilai IC50 yang diperoleh adalah 453,777 ppm. Simpulan: hidrolisat protein S. cordiformis memiliki aktivitas antioksidan dengan konsentrasi hidrolisat berbanding lurus terhadap aktifitas inhibisi.Kata Kunci: antioksidan, hidrolisat protein, Semele cordiformis
Analisis Hubungan Merokok dan Konsumsi Kopi Terhadap Tingkat Kejadian Stroke di RSUD Kota Kendari Melaha Ray Sampebulu; Tety Yuniarty Sudiro; H. M. Zamrud
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v8i1.15023

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang. Stroke adalah gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak atau secara cepat dengan tanda dan gejala klinis baik fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam yang disebabkan karena terhambatnya aliran darah ke otak karena perdarahan ataupun karena sumbatan dengan gejala dan tanda sesuai di bagian otak yang terkena. Banyak faktor yang dapat meningkatkan kejadian stroke diantaranya perilaku merokok dan konsumsi kopi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan merokok dan konsumsi kopi terhadap kejadian stroke di RSUD Kota Kendari. Metode. Rancangan penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain studi cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan bagian Poli Saraf tahun 2019 di RSUD Kota Kendari yang berjumlah 78 pasien. Dengan menggunakan rumus Slovin besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 65 sampel dengan teknik pengambilan sampel secara Incidental Sampling. Data diperoleh dari hasil pengajuan pertanyaan dengan menggunakan alat kuisioner secara terstruktur dengan persetujuan dari subjek yang ingin diteliti dan data sekunder diperoleh dari data rekam medis pasien yang ingin diteliti. Analisis data menggunakan program SPSS dengan uji Chi square dengan derajat kemaknaan 0,05. Hasil. Analisis univariat menunjukkan bahwa dari 65 responden, terdapat 37 responden yang mengalami stroke (56,9 %) dan terdapat 28 responden yang tidak mengalami stroke (43,1 %). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara merokok dan kejadian stroke dengan p value sebesar 0,000 (p value < 0,05) dan tidak ada hubungan antara konsumsi kopi dan kejadian stroke dengan p value sebesar 0,062 (p value > 0,05). Kesimpulan. Ada hubungan antara merokok dengan kejadian stroke, dan tidak ada hubungan antara konsumsi kopi dan kejadian stroke.Kata Kunci: Stroke, Merokok, Konsumsi kopi
Evaluasi Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Angkatan Darat dr. R. Ismoyo Kendari Tahun 2018 Sabarudin Sabarudin; Sunandar Ihsan; Fifi Nirmala; Andi Nafisah Tendri Adjeng; Dzulhijjah Dzulhijjah
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v8i1.15024

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen rumah sakit yang sangat penting dalam penyediaan pelayanan kesehatan secara paripurna. Ketidakefisienan dalam pengelolaan obat akan memberi dampak negatif bagi rumah sakit, baik secara medik, sosial maupun secara ekonomi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Angkatan Darat dr. R. Ismoyo Kendari Tahun 2018 yang meliputi tahap seleksi, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi dan penggunaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif dan concurent menggunakan metode randomized sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan panduan wawancara. Lembar observasi digunakan untuk mendokumentasikan data yang diperoleh terkait data pengelolaan obat sedangkan panduan wawancara digunakan untuk mendukung data observasi yang diperoleh melalui lembar observasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa kesesuaian item obat yang tersedia dengan DOEN sebesar 59,06%, presentase jumlah item obat yang direncanakan dan yang diadakan sebesar 100%, presentase kesalahan faktur sebesar 3,22%, frekuensi tertundanya pembayaran faktur 0%, ketepatan data jumlah obat pada kartu stok 100%, presentase stok mati sebesar 1,64%, nilai Turn Over Ratio (TOR) adalah 4,85 kali, presentase peresepan dengan nama generik sebesar 90,5% dan presentase peresepan antibiotik sebesar 20,83%. Simpulan: Pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Angkatan Darat dr. R. Ismoyo Kendari Tahun 2018 pada tahap perencanaan dan tahap penggunaan sudah efisien, sedangkan tahap seleksi, pengadaan, penyimpanan dan  tahap distribusi belum efisien.Kata Kunci: Pengelolaan Obat, Instalasi Farmasi, RSAD dr. R. Ismoyo
Ukuran Omfalokel: Apakah Berhubungan dengan Anomali Kongenital ? Prajitno Sugianto
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v8i1.15015

Abstract

ABSTRACT                                                                     Background: Omphalocele (also known as exomphalus) is a condition that is seen in newborn infants, and is thought to result from failure of the intestines to return to the abdomen after the migration into the umbilical cord. Omphalocele is often associated with the presence of other congenital anomalies. One study says that a small of defect omphalocele is often accompanied by intestinal disorders and have a better prognosis. Purpose(s): Based on this study the researcher wants to review the relationship between the size of  omphalocele defect and the presence of associated congenital anomaly in Hasan Sadikin Hospital. Methods: This is a retrospective cross-sectional study. All patient with omphalocele between February 2007 – March 2012 were included in this study. Data collected were patient demographics, size of omphalocele defect and congenital anomalies identified. In this study, patients were  designated as those with large (greater than 4 cm) or small (4 cm and less) defect omphaloceles. This study analyzed correlation between size of defect with associated anomaly using Fisher exact test  and  p < 0.05 is considered to be significant. Results: There were 52 omphalocele cases (24 girls, 28 boys), median birth weight 2710gr (range 1300gr–4000gr). Twenty seven patients were classified as small defect, with 25 classified as large defect. Anomaly found in the small defect groups consists of facial anomaly (7%); cardiac anomaly (7%); intestinal disorder (22%,P=0,02) include patent omphalomesentericus duct, anorectal malformation and cloaca extrophi; limb anomaly (7%). Meanwhile, anomalies identified in the large defect group consist of facial anomaly (8%); cardac defect (32%) include dextrocardi and tetralogi Fallot; limb anomaly (16%).In this study, cardiac defects was significantly higher in the large defect group, meanwhile intestinal diorder is statistically significant in small defect groups. Conclusion: Small defect omphalocele correlates with an increased prevalence of associated gastrointestinal anomalies and a lower prevalence of cardiac anomalies.Keyword: Omphalocele; Exomphalus; Associated congenital anomalies; Defect size
Perbandingan Skor Insersi LMA antara Pemberian Petidin-propofol dan Fentanil-propofol Intravena Agussalim Ali; Syafruddin Gaus; Muhammad Ramli Ahmad
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v8i1.15025

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang Pemberian adjuvan seperti opioid, lidokain, midazolam dan pelumpuh otot dosis kecil bersama propofol mampu meningkatkan keberhasilan insersi LMA. Petidin adalah opioid yang memiliki aktivitas seperti anestetik lokal dengan harga relatif murah dibanding opioid lain.  Tujuan penelitian Membandingkan skor insersi LMA antara antara pemberian petidin-propofol intravena dengan fentanil-propofol intravena.Metode Lima puluh empat pasien ASA PS 1 dan 2 dengan rentang umur 17-60 tahun, BMI 18,5-30 kg/m2 dan mallampati I-II yang direncanakan operasi elektif dengan prosedur GA-LMA diacak kedalam 2 grup dengan menggunakan desain acak tersamar ganda. Grup P mendapatkan petidin 1 mg/kgBB 10 menit sebelum induksi dan grup F mendapatkan fentanil 1 µg/kgBB 3 menit sebelum induksi. Induksi menggunakan propofol 2 mg/kgBB selama 60 detik. Ventilasi dengan oksigen 100% melalui sungkup muka selama 60 detik dilakukan setelah refleks bulu mata hilang, selanjutnya dilakukan insersi LMA dan penilaian skor insersi LMA berdasarkan Lund & Stovener (gerakan anggota tubuh, laringospasme, menelan, batuk dan tersedak).Hasil Skor insersi LMA sangat memuaskan pada kelompok P lebih kecil dibandingkan kelompok F (29,6% vs 48,1%), namun tidak bermakna setelah uji statistik Chi-Square (p=0,264).Simpulan Skor insersi LMA dengan pemberian petidin-propofol intravena samabaiknya dengan pemberian fentanil-propofol intravena.Kata kunci :laryngeal mask airway, fentanyl, petidin, , propofol,
Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Jumlah Luka Kasus Kekerasan Fisik pada Anak Waode Sitti Asfiah Udu; Murni Safitri M; Raja Al Fath Widya Iswara
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v8i1.15014

Abstract

Latar Belakang: kekerasan terhadap anak mencakup semua bentuk perlakuan yang salah baik secara fisik dan/atau emosional, seksual, penelantaran, dan eksploitasi yang berdampak atau berpotensi membahayakan kesehatan anak, perkembangan anak, atau harga diri anak dalam konteks hubungan tanggung jawab. Kekerasan fisik merupakan salah satu jenis kekerasan yang masih mendominasi sebaran jenis kekerasan pada anak. Berdasarkan jenis kelamin, kasus kekerasan terhadap anak lebih banyak terjadi pada anak perempuan di semua jenis kekerasan Tujuan : Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anakMetode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Subyek terdiri dari 120 anak yang tercatat dalam Visum et Repertum korban kekerasan fisik pada anak di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Data yang dikumpulkan mencakup karakteristik jenis kelamin, usia, jenis perlukaan dan jumlah luka. Untuk melihat keeratan hubungan dilakukan analisis dengan menggunakan uji Chi Square.Hasil : Subyek terdiri dari 85 (70,8%) anak laki-laki dan 35 (29,2%) dengan rentang usia 0-10 tahun sebanyak 5 (4,2%) anak dan usia 10-18 tahun sebanyak 115 (95,8%) anak. Jenis luka didominasi oleh luka memar sebanyak 45 (37,5%) dan gabungan antara jenis luka memar dan lecet sebanyak 31 (25,8%). Mayoritas subyek memiliki satu jenis luka tunggal sebanyak 52 (43,3%) anak. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan  jumlah luka kekerasan fisik pada anak (p> 0,05).Kesimpulan : Jenis kelamin tidak berhubungan dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anak. Kata kunci:  Jenis kelamin, Jumlah Luka, Kekerasan fisik, Anak.

Page 11 of 16 | Total Record : 153