cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Kadar hormon estradiol dan testosteron ikan Ringau (Datnioides microlepis) serta sifat monomorfisme Ahmad Musa; Mochammad Zamroni
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24688

Abstract

Ikan ringau atau tigerfish (Datnioides microlepis) merupakan ikan yang belum dapat ditentukan jenis kelaminnya secara morfologi (monomorfik). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hormon estradiol dan testosteron dalam darah ikan ringau berkaitan dengan jenis kelamin. Enam ekor ikan ringau dengan panjang total 20-25 cm dan bobot 121-260 yang terdiri dari 2 jantan, 2 betina dan 2 yang belum diketahui seksnya. Untuk identifikasi masing-masing ikan diberi tag chip yang diimplan pada bagian punggung. Analisis hormon estradiol-17β dan testosteron dalam darah ikan dilakukan dengan teknik ELISA menggunakan kit komersil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik jantan maupun betina memiliki hormon estradiol dan testosteron dengan pola yang tidak beraturan. Adapun pada ikan yang diberi rangsangan hormon estradiol terjadi penurunan testosteron. Hasil ini menguatkan dugaan sebelumnya bahwa ikan ini bersifat monomorfik
Delima (Punica granatum L.): Salah satu koleksi Kebun Raya Purwodadi berpotensi obat Elok Rifqi Firdiana
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23410

Abstract

Delima (Punica granatum L.) merupakan semak dengan tinggi mencapai 5 meter yang termasuk dalam suku Lythraceae. Tumbuhan ini berasal dari Iran dan kini tersebar hingga ke seluruh dunia. Pemanfaatan tumbuhan ini untuk pengobatan tradisional telah lama dikenal, termasuk oleh masyarakat di Indonesia. Kebun Raya Purwodadi sebagai salah satu kawasan konservasi ex situ juga mengoleksi tumbuhan ini. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan delima sebagai koleksi Kebun Raya Purwodadi, menelusuri pemanfaatan delima dalam pengobatan tradisional di Indonesia, dan memaparkan penelitian eksperimen ilmiah yang mendukung potensi delima sebagai obat. Data diperoleh melalui studi literatur dengan menelusuri katalog koleksi Kebun Raya Purwodadi sedangkan informasi mengenai pemanfaatan delima sebagai bahan obat tradisional dan penelitian eksperimen ilmiah mengenai manfaat delima secara medis diperoleh melalui jurnal-jurnal yang relevan. Kebun Raya Purwodadi memiliki empat nomor koleksi delima pada yaitu XIV.G.I. dan XXII.A.I. Delima telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional masyarakat Indonesia, terutama di daerah Madura, Luwu Timur, Baubau, dan Bima. Beberapa penyakit yang dapat diobati dengan delima di antaranya sariawan, demam, cacingan, hipertensi, dan batuk dengan bagian tumbuhan yang sering digunakan adalah buah dan biji. Penelitian-penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa delima memiliki aktivitas antibakteri mulut sehingga dapat menjaga kesehatan mulut dan memiliki potensi sebagai obat antikanker. Penggalian informasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai kemanfaatan delima dan mendorong masyarakat untuk ikut melestarikannya melalui upaya budidaya.
Potensi enam tanaman buah lokal terpilih koleksi Kebun Raya Purwodadi Agustin Dinda Prameswary; Melisnawati H. Angio
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24274

Abstract

Indonesia berkontribusi 25% kategori tumbuhan berbunga di tingkat dunia dengan jumlah mencapai 30.000 spesies. Tanaman buah lokal Indonesia adalah jenis tanaman berbuah yang tumbuh secara alami di wilayah Indonesia dan pada umumnya dibudidayakan oleh masyarakat. Pemanfaatan potensi dari tingginya keanekaragaman jenis dan sumber plasma nutfah buah-buahan asli Indonesia dinilai belum optimal. Tujuan penulisan ini adalah untuk memperkenalkan morfologi dan potensi enam buah lokal terpilih koleksi Kebun Raya Purwodadi (K.R. Purwodadi) (Garcinia dulcis, Diospyros discolor, Stelechocarpus burahol, Flacourtia rukam, Eugenia uniflora, dan Muntingia calabura). Pengumpulan data dilakukan pengamatan langsung di lapang. Potensi dan pemanfaatan berdasarkan studi literatur. Bentuk buah lokal memiliki bentuk yang beragam, seperti buah berbentuk apel dan berbulu halus, berbentuk kantong, dan buah berbentuk bunga dengan kulit buah tebal. Tanaman buah lokal berpotensi anti kanker, anti inflamasi, antioksidan, antidiare, analgesik, dan dapat meredakan beberapa penyakit. Banyak potensi yang didapat dari tanaman buah lokal oleh masyarakat. Perlu adanya upaya konservasi dalam menjaga kelestarian.
Kajian budidaya tanaman anggrek Dendrobium sp. menggunakan teknik kultur meristem serta pengaruh penambahan berbagai ekstrak terhadap pertumbuhannya Syifara Chika; Feby Kurniawati; Tara Puri Ducha Rahmani
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24915

Abstract

Produksi budidaya anggrek Dendrobium sp di Indonesia relatif lambat, sedangkan peminatnya selalu meningkat pada setiap tahunnya. Perbanyakan tanaman anggrek dengan cara konvensional memerlukan waktu yang cukup lama untuk memperoleh hasil anakan tanaman dalam jumlah yang banyak, oleh karena itu dibutuhkan alternatif budidaya menggunakan teknik kultur jaringan. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan sel, jaringan atau organ tanaman dengan ditumbuhkan pada medium buatan (in vitro) secara aseptik. Salah satu teknik dalam kultur jaringan tanaman adalah kultur meristem. Kultur meristem ini menggunakan eksplan yang terdapat pada jaringan meristem. Pada teknik kultur meristem dapat menggunakan meristem tunas aksilar atau meristem pada pucuk terminal. Pemilihan ekstrak suplemen pertumbuhan yang tepat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan planlet. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji mengenai pengaruh penambahan ekstrak ragi, ekstrak jagung (Zea mays L.), ekstrak air kelapa (Cocos nucifera L.), ekstrak tomat (Solanum lycopersicum L.) pada pertumbuhan kultur anggrek Dendrobium sp. Metode yang dilakukan yaitu studi literatur dan pengumpulan data dari berbagai sumber artikel terdahulu. Dari hasil studi literatur, didapatkan bahwa pemberian ekstrak ragi yang mengandung nutrisi dapat memberikan pengaruh pada jumlah daun dan tinggi planlet. Pada penambahan ekstrak jagung terdapat pengaruh pada jumlah daun, tinggi planlet dan jumlah tunas. Pemberian air kelapa memberi pengaruh yang efektif pada pertumbuhan jumlah tunas planlet, tetapi tidak mempengaruhi banyaknya jumlah daun dan tinggi planlet. Sedangkan pada penambahan ekstrak tomat memberikan hasil terbaik untuk meningkatkan tinggi planlet, jumlah daun, dan pertumbuhan tunas. Pemilihan bahan organik untuk regenerasi tanaman anggrek Dendrobium sp dipilih berdasarkan jenis tanaman anggrek Dendrobium sp yang akan ditanam dengan tujuan untuk mendapatkan jumlah tunas planlet yang diinginkan. Hal tersebut disebabkan karena penggunaan bahan organik tertentu memberikan hasil yang spesifik dan bisa berbeda hasilnya saat diaplikasikan pada jenis anggrek Dendrobium sp lainnya.
Catatan tambahan keberadaan Strobilomyces di Indonesia Ivan Permana Putra; Ferry Augustinus
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.22494

Abstract

Strobilomyces merupakan kelompok boletoid yang unik karena memiliki sisik pada bagian atas tudungnya. Jamur ini merupakan genus kecil dari famili Boletaceae dan telah dilaporkan dari berbagai tempat di seluruh dunia. Namun informasi mengenai distribusi Strobilomyces di Indonesia masih sangat sedikit. Hanya ditemukan 3 laporan mengenai Strobilomyces hingga saat ini yakni pada tahun 1951, 1960 dan 2016 dari Kebun Raya Cibodas (Jawa Barat) dan Lembah Anai (Sumatera Barat) secara berurutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi, membuat deskripsi, dan mendokumentasikan keberadaan Strobilomyces dari daerah lain di Indonesia. Penelitian dilakukan pada tahun 2018 di Bukit Peramun Pulau Belitong. Hasil identifikasi berdasarkan karakter makroskopik menunjukkan bahwa terdapat satu jenis Strobilomyces sect. Strobilomyces yang memiliki karakter berbeda dengan 3 jenis yang telah dilaporkan sebelumnya pada penelitian ini dan berpotensi menjadi spesies baru dari Indonesia. Pendekatan molekuler yang dilengkapi dengan data observasi mikroskopik perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi posisi taksonomi dari jamur yang ditemukan pada penelitian selanjutnya. Informasi dari penelitian ini menambah catatan Strobilomyces di Indonesia.
Pengaruh model pembelajaran Giving Question and Getting Answer terhadap hasil belajar biologi konsep sistem sirkulasi darah pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Makassar Muhammad Wajdi; Dian Firdiani
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24180

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk (1) Mengetahui pengaruh model pembelajaran Giving Question and Getting Answer terhadap hasil belajar biologi konsep sistem sirkulasi darah pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Makassar; (2) Mengetahui hasil belajar biologi konsep sirkulasi darah pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Makassar. Penelitian ini menggunakan desain penelitian “Pretest Posttest Control Group Design”. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 2 Makassar dan sampel penelitian yaitu XI MIPA 3 sebagai kelompok eksperimen dan XI MIPA 4 sebagai kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel dengan cara sampling jenuh. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu model Giving Question and Getting Answer sedangkan variabel terikat yaitu hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dari hasil tes belajar siswa melalui pretest dan posttest, yang kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Uji hipotesis yang digunakan adalah Normalitas Gain dan Independent Sample t-Test. Hasil menunjukkan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen yaitu 77,04 sedangkan pada kelompok kontrol yaitu 65,45. Hasil uji analisis Independent Samples T-Test, diperoleh nilai signifikan p = 0,002 < α = 0,05. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, dengan demikian model Giving Question and Getting Answer berpengaruh terhadap hasil belajar biologi siswa kelas XI SMA Negeri 2 Makassar.
Analisis functional feeding group pada makrozoobentos di Situ Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Aiman Ibrahim; M. Faisal Rapsanjani; Isni Nurruhwati; Zahidah Zahidah
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24706

Abstract

Makrozoobentos merupakan biota yang berperan dalam fungsi ekosistem perairan dan umumnya digunakan dalam bioasesmen. Peranan dari makrozoobentos dalam fungsi ekosistem perairan dapat diketahui dengan menggunakan analisis Functional Feeding Group (FFG). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Functional Feeding Group pada makrozoobentos di Situ Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2019 di lima stasiun meliputi inlet dari kawasan industri dan pemukiman, midlet, kawasan pertanian, dan outlet. Pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan dengan menggunakan Ekman grab sebanyak tiga kali dikompositkan. Selain itu, dilakukan pula pengukuran parameter fisik kimiawi perairan dan substrat dasar. Berdasarkan hasil penelitian, secara keseluruhan ditemukan 22 spesies makrozoobentos yang tergolong ke dalam tiga kelompok FFG meliputi scrapers, collector gatherer, dan collector filterers. Kelompok scrapers memiliki kelimpahan tertinggi di semua stasiun pengamatan, diikuti kelompok collector gatherers dan collector filterers. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa kelompok collector gatherers memiliki korelasi yang sangat kuat dengan parameter kedalaman perairan, turbiditas, dan oksigen terlarut (r > 0,7).
Survei pangan nabati berpotensi sebagai galaktogogum Alin Liana
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24726

Abstract

Breast milk is an ideal food for babies because of its unique nutritional content. So, every baby should be sought to get exclusive breastfeeding until the age of 6 months. To achieve this, the baby's mother must try to increase the volume and quality of her milk. These efforts must be supported by providing appropriate nutritional intake for breastfeeding mothers. This study is a survey study to determine the type of food consumed by mothers as galactogogums. Questionnaires were distributed openly to breastfeeding mothers and the breastfeeding community. There are 50 respondents who are breastfeeding mothers who have filled out the survey. Respondents came from 17 cities in Indonesia. The data obtained were analyzed descriptively to reveal the types of food used as galactogogums by breastfeeding mothers in Indonesia. The survey results show that there are 15 plant foods consumed by breastfeeding mothers as galactogogums. The dominant vegetable foods consumed are katuk leaves, nuts, moringa leaves, spinach leaves, and banana blossoms. Other types of food, although they are not widely consumed by the community as galactogogums, these foods should still receive the attention of researchers for further study.
Mini Review: Pendekatan molekuler DNA barcoding: Studi kasus identifikasi dan analisis filogenetik Syzygium (Myrtaceae) Irfan Martiansyah
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23712

Abstract

Syzygium adalah salah satu genus terbesar dalam famili Myrtaceae yang terdiri dari sekitar 1200-1800 spesies. Spesiesnya hanya diketahui sebanyak 1.123 spesies (81,7%) dan sebanyak 240 (17,5%) adalah sinonim dari nama spesies tersebut. Hal ini disebabkan sulitnya identifikasi spesies Syzygium berdasarkan karakter morfologis. Beberapa spesies menunjukkan karakter yang tumpang tindih, terutama bunganya. Tingkat kepercayaan penempatan taksa untuk Syzygium adalah 98,0%. Identifikasi berbasis karakter morfologis terkadang tidak dapat diandalkan, karena dapat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga menyebabkan kesulitan dalam proses identifikasi. DNA barcoding sebagai salah satu pendekatan molekuler yang dapat diandalkan mampu mengidentifikasi spesimen menggunakan fragmen sekuen gen yang sangat pendek (gen penanda). Gen MaturaseK (matK), Rubisco (rbcL), internal transcribed spacer (ITS) adalah gen-gen penanda yang digunakan dalam DNA barcoding tanaman. Gen-gen tersebut memiliki peran penting dalam identifikasi spesies, distribusi genetik spesies serta dalam rekonstruksi filogenetik tanaman. Dalam ulasan ini, penggunaan gen-gen dalam pendekatan DNA barcoding di genus Syzygium akan dipaparkan dengan jelas. Pada Myrtaceae, khususnya genus Syzygium, gen penanda daerah internal transcribed spacer (ITS), ETS, trnL-trnF intergenic spacer, psbA-trnH intergenic spacer, matK, rbcL, dan ndhF telah berhasil diaplikasikan. Meskipun tidak ada satu sekuen spesifik penanda (barcode) yang relatif cocok dan direkomendasikan sebagai standar untuk DNA barcoding genus Syzygium. Namun demikian, ada beberapa kandidat sekuen yang menjanjikan, seperti yang disebutkan di atas yang telah terbukti bermanfaat dalam beberapa kondisi.Syzygium adalah salah satu genus terbesar dalam famili Myrtaceae yang terdiri dari sekitar 1200-1800 spesies. Spesiesnya hanya diketahui sebanyak 1.123 spesies (81,7%) dan sebanyak 240 (17,5%) adalah sinonim dari nama spesies tersebut. Hal ini disebabkan sulitnya identifikasi spesies Syzygium berdasarkan karakter morfologis. Beberapa spesies menunjukkan karakter yang tumpang tindih, terutama bunganya. Tingkat kepercayaan penempatan taksa untuk Syzygium adalah 98,0%. Identifikasi berbasis karakter morfologis terkadang tidak dapat diandalkan, karena dapat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga menyebabkan kesulitan dalam proses identifikasi. DNA barcoding sebagai salah satu pendekatan molekuler yang dapat diandalkan mampu mengidentifikasi spesimen menggunakan fragmen sekuen gen yang sangat pendek (gen penanda). Gen MaturaseK (matK), Rubisco (rbcL), internal transcribed spacer (ITS) adalah gen-gen penanda yang digunakan dalam DNA barcoding tanaman. Gen-gen tersebut memiliki peran penting dalam identifikasi spesies, distribusi genetik spesies serta dalam rekonstruksi filogenetik tanaman. Dalam ulasan ini, penggunaan gen-gen dalam pendekatan DNA barcoding di genus Syzygium akan dipaparkan dengan jelas. Pada Myrtaceae, khususnya genus Syzygium, gen penanda daerah internal transcribed spacer (ITS), ETS, trnL-trnF intergenic spacer, psbA-trnH intergenic spacer, matK, rbcL, dan ndhF telah berhasil diaplikasikan. Meskipun tidak ada satu sekuen spesifik penanda (barcode) yang relatif cocok dan direkomendasikan sebagai standar untuk DNA barcoding genus Syzygium. Namun demikian, ada beberapa kandidat sekuen yang menjanjikan, seperti yang disebutkan di atas yang telah terbukti bermanfaat dalam beberapa kondisi. 
Optimasi pembentukan biofilm Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa melalui penambahan glukosa dan NaCl Masrukhin Masrukhin; Ruby Setiawan; Mia Kusmiati; Sugiyono Saputra
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24700

Abstract

Biofilm merupakan bentuk agregasi sel mikroorganisme yang terbentuk dan terorganisir guna membuat lingkungan mikro dari mikroorganisme tersebut. Biofilm pada umumnya juga digunakan sebagai mekanisme bertahan pada suatu kondisi lingkungan, sehingga pada biofilm tersebut mikroorganisme dapat memerangkap nutrisi memanfaatkannya. Selain itu biofilm berkontribusi pada peningkatan resistensi terhadap antimikroba. Pada penelitian ini dilakukan pengujian pembentukan biofilm secara in-vitro dengan suplementasi glukosa dan NaCl sehingga dapat diketahui kondisi optimum dalam pembentukan biofilm tersebut. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui kondisi optimum pembentukan biofilm pada bakteri S. aureus InaCC B4 dan P. aeruginosa InaCC B3, sehingga kedepannya dapat digunakan sebagai kondisi acuan dalam pengujian karakteristik biofilm maupun senyawa anti-biofilm. Uji pembentukan biofilm dilakukan pada 96-well microtiter plate, dengan menggunakan media trypticase soy agar (TSB) yang disuplementasi glukosa dan NaCl dengan rentang konsentrasi 0-2% untuk glukosa dan 0-4% untuk NaCl. Pengujian dilakukan dengan tiga ulangan dalam satu plate. Hasil pengujian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 595 nm menggunakan multimode microplate reader. Hasil pengujian menunjukkan penambahan 1% glukosa memberikan hasil terbaik untuk pembentukan biofilm S. aureus InaCC B4. Adapun pada P. aeruginosa InaCC B3, suplementasi glukosa 0,125, 0,5 dan 1 % tidak memberikan pengaruh nyata pada pembentukan biofilm, jika dibandingkan dengan kontrol (suplementasi 0%). Selain itu, secara umum suplementasi NaCl tidak memberikan pengaruh nyata pada pembentukan biofilm S. aureus, sedangkan ada P. aeruginosa suplementasi NaCl dengan konsentrasi 0,125, 0,25 dan 1 % dapat meningkatkan pembentukan biofilm, sehingga perlu dilakukan konfirmasi lebih lanjut.