cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Pengaruh pemberian dosis ragi tapai terhadap sifat organoleptik dan pH tapai pisang gedah Cristin Tiara
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23412

Abstract

Salah satu jenis pisang yang banyak ditanam oleh petani di Sumatera Selatan adalah pisang gedah. Pisang gedah memiliki beberapa kelebihan seperti ketahanan perendaman, awet pada masa panen, dan ketahanan penyakit. Salah satu alternatif penggunaan pisang gedah adalah dengan membuat tapai pisang. Tapai merupakan salah satu makanan hasil fermentasi yang sangat populer di Indonesia. Pada penelitian ini bertujuan antara lain untuk melihat pengaruh pemberian dosis ragi tapai terhadap sifat organoleptik dan pH pada tapai pisang. Penelitian dilakukan pada bulan April tahun 2021 di rumah dan ruangan Laboratorium Mikrobiologi pada Laboratorium Terpadu Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. Metode penelitian yang dilakukan ialah metode deskriptif. Penelitian ini melihat pengaruh pada pemberian dosis ragi pada tapai pisang. Perlakuan 1: dosis 2,5 gram, perlakuan 2: dosis 5 gram, perlakuan 3: 7,5 gram, perlakuan 4: 10 gram, perlakuan 5: 12,5 gram. Didapatkan hasil bahwa pemberian dosis ragi pada tapai pisang gedah yang terbaik adalah perlakuan 1 dosis 2,5 gram yakni aroma sangat beralkohol, warna tapai kuning muda, tekstur tapai lembut, rasa yang manis, serta nilai pH 4,3 yang menunjukkan tapai pisang tidak terlalu asam.
Keragaman makrofungi di lingkungan Universitas Diponegoro dan potensi pemanfaatannya Wahyu Aji Mahardhika; Mada Triandala Sibero; Lutfi Hanafi; Ivan Permana Putra
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24392

Abstract

Universitas Diponegoro (UNDIP) merupakan salah satu kampus di Indonesia yang di lingkungannya masih hijau dan banyak terdapat pepohonan. Kondisi ini sangat mendukung pertumbuhan makrofungi. Jamur merupakan organisme penting bagi ekosistem berkat peranannya sebagai dekomposer. Namun, keragaman makrofungi di lingkungan UNDIP belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keragaman makrofungi di lingkungan UNDIP dan menyediakan deskripsi tubuh buahnya. Metode yang digunakan adalah purposive sampling di pinggir jalan, taman, kebun, dan gedung UNDIP. Jamur yang didapatkan kemudian diidentifikasi berdasarkan karakter makroskopis dengan beberapa literatur yang terkait. Hasil penelitian mengkonfitmasi sebanyak 16 genus jamur diantaranya Auricularia auricula-judae, Trametes sp., Daldinia sp., Cyathus sp., Lentinus sp., Ganoderma sp., Coprinus sp., Coprinellus sp., Marasmius sp., Marasmiellus sp., Schizophyllum commune, Oudemansiella sp., Tremella sp., Xylaria sp., Collybia sp., dan Parasola sp. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kampus UNDIP memiliki keragaman makrofungi yang tinggi. Laporan ini merupakan informasi pertama mengenai keragaman jamur di lingkungan kampus UNDIP. Upaya monitoring berkala masih perlu dilakukan pada berbagai wilayah lainnya di lingkungan kampus UNDIP.
Patofisiologi penyakit pada berbagai sistem organ manusia Ni'ma Ainul Fuadi; St Aisyah Sijid
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23060

Abstract

Sistem pertahanan tubuh yang gagal melawan agen infeksi akan menyebabkan patogen tersebut dapat tubuh dan berkembang di dalam tubuh, kemudian mengganggu sistem fisiologis tubuh yang telah tersusun secara sistematik. Kegagalan tersebut menimbulkan terjadinya penyakit bagi tubuh. Penyakit umumnya menyebabkan nyeri yang terjadi dari adanya jaringan dan organ tubuh yang rusak dan terganggu fungsi kerjanya. Patofisiologi berbagai penyakit yang menyerang sistem organ manusia, seperti penyakit penyebab infeksi (sifilis), autoimun (sistemik lupus eritomatosus), kardiovaskuler (kardiomiospati dilatasi), endokrin (diabetes melitus), keganasan (leukimia), dan sistem reproduksi (penyakit infeksi menular seksual). Penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh mikroorganisme patogen. Patogen merupakan agen infeksi yang membawa zat asing atau antigen ke dalam tubuh melalui berbagai transmisi. Patogen penyebab infeksi berasal dari mikroorganisme seperti virus, bakteri, fungi, dan protista.
Epidemiologi hantavirus di Indonesia mengenai struktur serta perkembangannya Dewi Nur Anggraeni; Eti Sumiati
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24922

Abstract

Hantavirus merupakan Infeksi virus terbaru yang sedang berkembang saat ini. Penularan hantavirus melalui udara tercemar yang disebabkan oleh urine dan saliva dari hewan rodensia (tikus) yang terinfeksi, serta kontak langsung dengan hewan rodensia (tikus). Di Indonesia hantavirus masih belum banyak diketahui, terutama pada lingkungan yang padat penduduk. Infeksi hantavirus menyebabkan penyakit ringan hingga fatal. Dua gejala infeksi hantavirus yakni, HFRS (Hemorrhagic Fever With Renal Syndrom) yang menyebabkan kerusakan ginjal dan HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) yang menyebabkan kerusakan paru-paru dan limfa. Metode penelitian ini menggunakan studi literatur perbandingan yang berkaitan dengan metode pengamatan struktur hantavirus serta perkembangan hantavirus di Indonesia. Hasil yang diperoleh adalah struktur dari hantavirus yaitu memiliki bentuk lingkaran atau oval dengan diameter 80-120 nm., dan perkembangan hantavirus di Indonesia yaitu ada tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi dan Denpasar. 
Kajian etnobotani untuk menggali potensi tanaman obat Rusmadi Rukmana; Musdalifah Mukhtar; Zulkarnain Zulkarnain
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24201

Abstract

Etnobotani merupakan salah satu ilmu yang dapat digunakan untuk mempelajari hubungan antara manusia, tumbuhan dan lingkungan tumbuhan. Studi ilmu ini bersifat interdisipliner, melibatkan banyak cabang ilmu pengetahuan, seperti botani, biokimia, farmakologi, toksikologi, kedokteran, nutrisi, ekologi, evolusi, hukum, ekonomi sumber daya, sosiologi, antropologi dan lainnya. Selain itu, tujuannya adalah untuk mengeksplorasi pengetahuan masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan dalam berbagai aspek kehidupan diantaranya aspek kebutuhan kesehatan, ekonomi, budaya dan agama. Hasilnya juga bermanfaat ganda tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bermanfaat terhadap keberlangsungan biodiversitas sumber daya alam flora. Selain itu, juga bermanfaat dalam perlindungan pengetahuan dengan menggunakan jenis tanaman. Salah satu hasil penelitian etnobotani yang berfungsi untuk meningkatkan kehidupan manusia adalah pengetahuan umum tanaman obat untuk kesehatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penggumpulan data menggunakan  literatur review method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan tumbuhan diklasifikasikan berdasarkan nilai guna sebagai tanaman obat baik digunakan secara langsung maupun diolah dengan tanaman lainnya. Berdasarkan sumbernya tanaman yang dimanfaatkan berasal dari tanaman yang dibudidaya dan juga dari tumbuhan liar. Bagian yang dimanfaatkan antara lain akar, batang, daun, getah, bunga dan buah. Selain itu tumbuhan juga dimanfaatkan sebagai pangan, kesehatan, pakan ternak, tanaman hias, kelengkapan acara adat dan potensi ekonomi.Kata Kunci: Etnobotani, tanaman obat, kesehatan
Eksplorasi biji di Pulau Karimunjawa, Taman Nasional Karimunjawa Prima Hutabarat; Dian Latifah; Mimin Mimin; Harto Harto; Kuswadi Kuswadi
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24707

Abstract

Ekosistem laut dan terrestrial Kepulauan Karimunjawa membentuk hubungan yang kompleks, dinamis, sekaligus rawan. Aktivitas masyarakat lokal seperti pemanfaatan lahan untuk pertanian, pemanfaatan sumber daya hutan, pembangunan jalan dan pariwisata, mengancam kelestarian tumbuhan di Kepulauan Karimunjawa. Salah satu strategi dalam konservasi ex situ yaitu melalui pengoleksian dan penyimpanan biji (bank biji). Eksplorasi biji di Pulau Karimunjawa, Taman Nasional Karimunjawa adalah bertujuan untuk mengoleksi material tumbuhan berupa biji dari flora Kepulauan Karimunjawa. Pencatatan jenis flora, data lingkungan dan analisis lanjutan mengenai karakter biji dan penyimpanannya juga akan memperkaya informasi ilmiah yang kelak akan bermanfaat baik bagi kegiatan penelitian bidang botani, konservasi, maupun pengelolaan Taman Nasional Karimunjawa. Hasil eksplorasi biji menemukan 27 jenis tumbuhan yang berbunga dan berbuah pada kegiatan eksplorasi biji pada bulan Oktober–November di Pulau Karimunjawa, yang didominansi biji berkarakter ortodok. Eksplorasi di hutan primer di bagian timur Pulau Karimunjawa lebih direkomendasikan karena diduga memiliki keragaman jenis yang lebih tinggi.
Review: Mengenal metode sample pooling untuk pemeriksaan spesimen SARS-CoV-2 Syaiful Rizal
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23642

Abstract

Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 telah mengakibatkan kerugian hingga kematian di berbagai negara. Peningkatan metode tes untuk skrining COVID-19 merupakan suatu keharusan untuk mencegah penyebaran virus. Ulasan ini bertujuan untuk menjelaskan secara prinsip perbedaan antara metode uji individual dengan metode sample pooling, serta kelebihan dan manfaatnya. Terdapat beberapa uji yang umum digunakan untuk deteksi SARS-CoV-2 antara lain tes rapid antibody, tes rapid antigen, dan tes swab PCR. Tes swab PCR merupakan tes yang direkomendasikan oleh World Health Organization karena sensitivitas dan spesifisitasnya dapat mencapai 100%. Namun uji tersebut juga memiliki beberapa kekurangan yaitu biaya uji mahal, memerlukan fasilitas terstandarisasi, tingginya resiko paparan, serta preparasi dan prosedur pengujian sampel memerlukan sumber daya manusia terlatih. Metode sample pooling merupakan modifikasi dari uji individual karena pada prosesnya spesimen swab suatu individu dicampur dengan spesimen individu yang berbeda secara bersama-sama, kemudian dilakukan ekstraksi RNA dan diuji dengan RT-PCR. Menurut beberapa sumber referensi, hasil RT-PCR dengan metode sample pooling tetap mampu mendeteksi adanya gen SARS-CoV-2 meskipun terjadi pergeseran CT value yang tidak signifikan dengan kondisi tertentu. Metode ini terbukti mampu meningkatkan pengujian SARS-CoV-2 secara masif dan lebih efektif dari segi ekonomi.
Analisis morfologi dan kadar protein ikan bandeng (Chanos chanos) dari tambak budidaya monokultur dan polikultur (Gracilaria sp.) di Kecamatan Bua Kabupaten Luwu Lilis Minarseh; Suhaeni Suhaeni; Syarif Hidayat Amrullah
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24534

Abstract

Chanos chanos alias ikan bandeng populer di Indonesia sebab mempunyai daging yang pulen serta harga terjangkau. Mudahnya pembudidayaan pada tambak monokultur serta polikultur menjadi salah satu penyebab melimpahnya ikan bandeng di Indonesia. Tujuan penelitian ini guna mengetahui (1) perbandingan morfologi dan parameter abiotik habitat (fisiko–kimia); (2) kandungan protein ikan bandeng yang dibudidayakan secara monokultur serta polikultur (Gracilaria sp.) di Kecamatan Bua Kabupaten Luwu. Penelitian ini menggunakan prosedur deskriptif kuantitatif dengan membandingkan morfologi dan abiotik habitat (fisiko–kimia; pH, salinitas, suhu) serta kandungan protein ikan bandeng dengan analisis metode Kjeldahl. Hasil penelitian pada ikan bandeng (umur 6 bulan dan berat 1 kg) diperoleh bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Perbedaan hanya pada sisi dorsal tubuh berwarna hitam kebiruan dan sisi ventral tubuh berwarna putih bersih serta warna nampak berkilau (dari budidaya monokultur) dengan pH 6,2–6,3, salinitas 3,6‰–3,9‰ dan temperatur 29,3℃–31,3℃, sedangkan sisi dorsal tubuh ikan bandeng yang nampak berwarna coklat kekuningan dan sisi ventral tubuh berwarna putih kekuningan serta warna nampak pucat (dari budidaya polikultur) disertai pH 6,0–6,5, salinitas 2,8‰–3,0‰ dan temperatur 29,0℃–33,0℃. Protein total tertinggi pada ikan bandeng budidaya monokultur yakni 23,20% dan polikultur yakni 23,12%. Besar kandungan protein total tersebut membuktikan bahwa ikan bandeng yang berasal dari habitat tambak budidaya secara monokultur maupun polikultur sama baiknya untuk dikonsumsi sebagai sumber protein untuk tubuh manusia. 
Patofisiologi penyakit infeksi tuberkulosis Khusnul Mar'iyah; Zulkarnain Zulkarnain
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23169

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh agen infeksi bakteri Gram positif Mycobacterium tuberculosis yang bersifat aerob obligat yang umumnya menyerang organ paru pada manusia. Penyakit ini ditularkan oleh penderita BTA positif yang menyebar melalui droplet nuclei yang keluar saat penderita batuk atupun bersin. Patofisiologi penyakit tuberkulosis dimulai dari masuknya bakteri ke dalam alveoli lalu Sistem imun dan sistem kekebalan tubuh akan merespon dengan cara melakukan reaksi inflamasi. Fagosit menekan bakteri, dan limfosit spesifik tuberculosis menghancurkan bakteri dan jaringan normal. Reaksi tersebut menimbulkan penumpukan eksudat di dalam alveoli yang bisa mengakibatkan bronchopneumonia. Selanjutnya terbentuk granulomas yang diubah menjadi fibrosa, Bagian sentral dari massa tersebut disebut ghon tuberculosis dan menjadi nekrotik membentuk massa seperti keju dan membentuk jaringan kolagen kemudian bakteri menjadi dorman. Penularan tuberkulosis dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, kebiasan merokok, pekerjaan, status ekonomi dan lingkungan. Penderita tuberkulosis umumnya akan mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, sesak nafas, mudah lelah, nafsu makan turun, dahak bercampur darah, demam, dan berat badan menurun.
Deteksi MRSA (methicilin resistant Staphylococccus aureus) dengan metode PCR pada pasien ulkus diabetikum Sugireng Sugireng; Rosdarni Rosdarni
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15232

Abstract

Salah satu komplikasi diabetes melitus adalah ulkus yaitu terjadi infeksi superfisial pada kulit penderita yang disebabkan oleh bakteri. Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri yang dapat menginfeksi luka pada penderita ulkus diabetikum. Saat ini S. aureus banyak ditemukan mengalami resisten terhadap antibiotik golongan methicilin atau disebut dengan MRSA (Methicilin-resistant Staphylococcus aureus). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya gen mecA yang merupakan gen pengkode daerah yang mengalami resistensi pada bakteri S. aureus yang menginfeksi pasien ulkus diabetikum. Penelitian ini dilakukan dengan 3 tahapan yaitu pengambilan sampel swab luka pasien ulkus diabetikum, kultur pada media MSA, proses isolasi DNA, proses PCR dan elektroforesis serta dokumentasi dengan gel doc transluminator. Berdasarkan hasil penelitian pada 8 pasien penderita ulkus diabetikum diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa semua sampel dinyatakan sudah terinfeksi Staphylococcus aures yang sudah mengalami resistensi terhadap antibiotik golongan methicilin dengan terbentuknya pita DNA pada ukuran 533 bp.