cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Potensi koleksi kebun raya Purwodadi sebagai agen neuroproteksi Elok Rifqi Firdiana
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15783

Abstract

Penyakit-penyakit neurodegeneratif telah menjangkiti jutaan orang di seluruh dunia dengan angka kejadian yang semakin meningkat. Hingga saat ini belum ada pendekatan terapeutik untuk menghentikan perkembangan penyakit-penyakit neurodegeneratif tersebut. Di sisi lain, produk-produk alami, terutama yang berasal dari tumbuhan, memiliki senyawa-senyawa dengan aktivitas anti-neurodegeneratif. Kebun Raya Purwodadi (KRP), sebagai salah satu lembaga konservasi tumbuhan ex situ, diduga menyimpan kekayaan plasma nutfah yang berpotensi sebagai agen neuroproteksi. Penulisan ini bertujuan untuk menginventarisasi koleksi KRP yang berpotensi sebagai agen neuroproteksi melalui studi literatur dan penelusuran katalog KRP. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa sebanyak 53 jenis koleksi KRP dari 21 suku berpotensi sebagai agen neuroproteksi. Lima di antaranya memiliki senyawa aktif lebih dari satu, yaitu Intsia bijuga (resveratrol & dihydromyricetin), Syzygium cumini (kaempferol & dihydromyricetin), Curcuma aeruginosa, C. xanthoriza (curcumin & β-carryophyllene), dan Punica granatum (amurensin, kaempferol, & dihydromyricetin). Selain itu, tiga tumbuhan koleksi KRP sudah terbukti memiliki aktivitas anti-neurodegeneratif, yaitu Centella asiatica, Sophora tomentosa, dan Zingiber zerumbet.
Karakteristik kandungan minyak atsiri tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) Murni Murni; Ludia Rustin
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15835

Abstract

Negara Indonesia memiliki sekitar 40 jenis dari 80 jenis tanaman aromatik penghasil minyak atsiri yang diperdagangkan dunia. Minyak atsiri adalah minyak yang berasal dari tanaman yang dikenal juga dengan nama lain minyak terbang (ethereal oil, volatile oil). Tanaman sereh wangi dapat digunakan untuk membuat minyak atsiri karena pada jaringan parenkim terdapat sel (kelenjar) minyak. Penelitian ini tentang optimasi metode analisis menggunakan instrument kromatografi gas (GC) yang bertujuan untuk menentukan kualitas dan karakteristik secara fisik dan kimia kandungan minyak atsiri sereh wangi (Cymbopogon nardus L.). Pengambilan sampel tanaman dan pembuatan minyak atsiri dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Balai Penelitian Pengembangan Kesehatan Donggala Sulawesi Tengah dan karakterisasi minyak atsiri dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat. Pembuatan minyak atsiri dengan metode penyulingan langsung. Berdasarkan hasi analisis kromatografi gas, dapat disimpulkan bahwa kandungan utama senyawa penyusun kimia dalam minyak atsiri sereh wangi yaitu sitronelal, sitronelol, dan geraniol.
Potensi makanan fermentasi khas Indonesia sebagai imunomodulator Tias Pramesti Griana; Larasati Sekar Kinasih
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15939

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan berbagai suku dan budaya. Perbedaan budaya menyebabkan berbeda jenis makanan khas yang ada di Indonesia. Makanan hasil pengolahan dengan fermentasi dapat dijumpai hampir di setiap daerah. Pengolahan makanan dengan bioteknologi konvensional yang berupa fermentasi melibatkan berbagai mikroorganisme. Senyawa hasil metabolisme mikroba yang hidup pada bahan baku pangan merupakan prebiotik yang memiliki manfaat bagi kesehatan. Begitu pula mikroba yang hidup pada makanan terfermentasi yang masuk ke dalam tubuh, disebut sebagai probiotik, mampu meningkatkan fungsi imun. Sehingga makanan terfermentasi memiliki potensi sebagai pengatur sistem imun (imunomodulator) di dalam tubuh manusia. Artikel ini mengulas potensi bahan makanan dengan pengolahan fermentasi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sebagai agen imunomodulator.
Komposisi makrofauna tanah di Taman Hutan Raya Abdul Latief Sinjai Mawadda Turrahmi; Hasyimuddin Hasyimuddin; St. Aisyah Sijid
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.16948

Abstract

Organisme yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam maupun di permukaan tanah atau sering disebut fauna tanah. Makrofauna tanah dapat berperan aktif dalam menguraikan bahan organik dan dapat mengembalikan dan mempertahankan produktivitas tanah dengan didukung oleh faktor di sekitarnya. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui komposisi jenis makrofauna tanah yang terdapat di kawasan Taman Hutan Raya Abdul Latief Sinjai Borong Kabupaten Sinjai. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-September 2020 pada tiga blok kawasan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Pitfall trap dan Hand shorting. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 18 ordo, 30 famili dari 36 spesies makrofauna tanah. Spesies makrofauna tanah yang ditemukan yaitu, Pheretima hamayana, Helix sp., Dermacentor variabilis, Gnaphosa sericata, Typostola barbata, Trochosa terricola, Oedothorax apicatus, Acari sp., Valanga nigricornis, Valanga sp., Tetrigidea lateralis, Gryllus pennsylvanicus, Gryllus sp., Anisolabis maritima, Liriomyza sp., Agrotis ipsilon, Phyllobius roboretanus, Blatella asahinai, Dolichoderus taschenbergi, Brachinus sp., Scapanes australis, Haplorhynchites aeneus, Oryctes rhinoceros, Tenebrio molitor, Nicrophorus orbicollis, Nicrophorus humator, Lobopterella dimidiatipes, Coptotermes sp., Cygnus atterinus, Orchetia sp., Mesomachilis sp., Armadillidium vulgare, Oniscus sp., Geophilus hadesi, Cormocephalus sp., dan Cormocephalus esculatus.
Potensi fitoremediasi tanah tercemar arsenik koleksi tumbuhan paku kebun Raya Purwodadi Elga Renjana
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.21166

Abstract

Berbagai aktivitas manusia seperti perindustrian, pertambangan, pertanian, dan sebagainya telah menyebakan peningkatan pencemaran logam berat pada lingkungan. Tanah merupakan komponen abiotik yang paling sering mengalami kontaminasi logam berat akibat aktivitas-aktivitas tersebut. Pencemaran arsenik (As) saat ini paling banyak disoroti di Asia Tenggara karena dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam kesehatan manusia. Fitoremediasi merupakan salah satu teknologi remediasi logam berat di lingkungan tercemar dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai agen utamanya. Beberapa penelitian telah mengungkap bahwa tumbuhan paku dapat mengakumulasi As ke dalam jaringan tubuhnya. Sekitar 36 jenis tumbuhan paku telah dikonservasi secara ex situ di Kebun Raya Purwodadi (KRP). Namun saat ini belum terdapat informasi tentang potensi koleksi tersebut sebagai agen fitoremediasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap potensi fitoremediasi tanah tercemar As oleh koleksi tumbuhan paku KRP. Penelitian diawali dengan menginventarisasi data jenis koleksi tumbuhan paku KRP. Penelusuran informasi potensi akumulasi As dilakukan dengan metode studi pustaka. Sekitar tujuh jenis koleksi tumbuhan paku KRP diketahui berpotensi mengakumulasi As, yaitu Asplenium nidus, Diplazium esculentum, Equisetum ramosissimum, Nephrolepis biserrata, N. cordifolia, Psilotum nudum, dan Pteris vittata. Kemampuan fitoremediasi paling baik dimiliki oleh P. vittata karena mampu mengakumulasi As dengan konsentrasi mencapai 5877 mg/kg di bagian daun dan 2643 mg/kg di bagian akarnya. Proses akumulasi terjadi melalui penyerapan dan translokasi As pada vakuola sel akar maupun daun dengan mekanisme khusus yang melibatkan transporter spesifik. Oleh karena itu, P. vittata merupakan tumbuhan paku hiperakumulator yang patut direkomendasikan untuk kegiatan rehabilitasi, reklamasi, dan restorasi tanah tercemar As.
Jerawat (Acne vulgaris): Review penyakit infeksi pada kulit Nur Sifatullah; Zulkarnain Zulkarnain
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.22212

Abstract

Kulit merupakan lapisan jaringan yang menyebar di seluruh permukaan tubuh. Di permukaan kulit, kelenjar keringat mengeluarkan produk limbah melalui pori-pori kulit berupa keringat. Jerawat (Acne vulgaris) merupakan suatu kondisi dimana pori-pori tersumbat dan menyebabkan kantong nanah menjadi meradang. Penyebab pasti dan patogenesis A. vulgaris masih belum jelas. Namun, banyak faktor yang berhubungan dengan patogenesis jerawat, seperti peningkatan sekresi sebum, hiperkeratosis folikel rambut dan koloni bakteri Propionibacterium acnes, dan inflamsi serta faktor lain yaitu stres, iklim/suhu/kelembaban, kosmetik, diet dan obat-obatan. Acne vulgaris dipicu oleh P. acnes pada masa remaja, di bawah pengaruh sirkulasi normal dehydroepiandrosterone (DHEA). Mekanisme pembentukan jerawat (A. vulgaris), yaitu stimulasi pada kelenjar sebasea yang menyebabkan sebum berlebih biasanya dimulai pada masa puberta, proliferasi keratinosit yang abnormal, adhesi dan diferensiasi cabang bawah folikel folikel, dan pembentukan lesi inflamasi berperan pada bakteri P. acnes. Pengobatan jerawat (A. vulgaris) dilakukan dengan cara memperbaiki folikel yang abnormal, mengurangi produksi sebum, mengurangi jumlah koloni P. acnes atau hasil metaboliknya, dan mengurangi peradangan pada kulit.
Review: Tinea Pedis Haerani Haerani; Zulkarnain Zulkarnain
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23061

Abstract

Tinea pedis merupakan salah satu penyakit dermatofitosis. Tinea pedis atau lebih sering disebut sebagai kutu air merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita yang menginfeksi kulit pada bagian sela-sela jari kaki, telapak kaki dan bagian lateral kaki. Trichopyton rubrum menjadi spesies jamur utama penyebab Tinea pedis. Review ini menggambarkan bagaimana T. rubrum menginfeksi kulit melalui penghancuran keratin dengan produksi enzim oleh jamur yang kemudian menimbulkan berbagai masalah klinis seperti maserasi, gatal, bearair, menimbulkan bau, fisura, serta pada tingkat parah dapat menimbulkan komplikasi. Kebersihan, sosial ekonomi, pekerjaan dan pendidikan menjadi faktor pendukung terjadinya Tinea pedis. Menjaga kebersihan personal menjadi langkah pencegahan infeksi, pengobatan yang dapat dilakukan yaitu dengan antijamur oral maupun tropikal.  
Vulvitis: Gambaran klinis, etiologi dan pilihan pengobatan (Tinjauan literatur) Eveline Widjaja; Rendy Singgih
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23101

Abstract

Vulvitis merupakan peradangan pada organ reproduksi vulva wanita yang ditandai dengan gejala gatal, perih dan keluarnya cairan kental dari kemaluan. Penyebab vulvitis dapat disebabkan karena iritasi kemudian menyebabkan infeksi, ataupun infeksi itu sendiri. Penyebab infeksi meliputi jamur, virus, bakteri dan parasit. Penyebab tersering dari infeksi adalah vulvovaginitis bakterialis dan penyebab tersering akibat non-infeksi adalah iritan dan alergi. Faktor risiko dari vulvitis antara lain usia muda, kondisi hormonal, aktivitas seksual yang sering bergonta-ganti pasangan, riwayat penyakit seperti diabete melitus, HIV ataupun alergi, penggunaan produk pembersih area kewanitaan yang dapat menyebabkan iritasi, kebiasaan douching, menggunakan pakaian dalam terlalu ketat, kebiasaan higiene buruk dan merokok. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan vulvitis dapat diarahkan dengan anamnesis, pemeriksan fisik terarah dan juga untuk membantu dapat dilakukan pemeriksan penunjang. Terapi untuk vulvitis antara lain dapat dilakukan terapi non farmakologis dan farmakologis, kunci dari terapi tersebut yaitu higienitas dari bagian organ reproduksi. Oleh karena kaum wanita perlu dibekali pengetahuan mengenai kondisi ini mengingat kejadiannya yang seringkali terjadi dan apabila sudah terjadi, penatalaksanaan yang tepat dapat mengurangi keparahan yang ada.
Edible mushroom potency to alleviate stunting through gut microbiota modulation: A review Ryan Haryo Setyawan; Rafli Zulfa Kamil
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23424

Abstract

Stunting telah menjadi hal yang patut diperhatikan bagi Indonesia, karena 30,8% balita di Indonesia mengalami stunting pada 2018. Stunting menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan, terutama kapasistas inteligensi, anak menjadi tidak optimal. Di kemudian hari, stunting akan memengaruhi produktivitas anak tersebut di masa dewasanya hingga kualitas sumber daya manusia nasional. Stunting menunjukkan tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi anak terutama pada 1.000 hari pertama kehidupannya, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Asupan nutrisi yang tidak mencukupi dan terkena penyakit menular menjadi penyebab langsung seorang anak mengalami stunting. Penelitian terkini telah mempelajari bahwa mikroorganisme yang menghuni saluran pencernaan manusia dapat memengaruhi kesehatan tubuh manusianya itu sendiri. Kemudian, ditemukan perbedaan komposisi jenis-jenis mikroorganisme pada usus manusia yang sehat dan yang mengalami stunting. Sehingga, terdapat hipotesis bahwa stunting dapat ditanggulangi dengan mengubah komposisi mikrobiota usus. Di Indonesia, berbagai jenis jamur pangan telah umum dikonsumsi. Jamur pangan tidak hanya mengandung serat pangan, vitamin dan mineral yang tinggi, namun juga telah dikenal memiliki efek immunomodulatory. Jamur pagan juga mengandung berbagai jenis karbohidrat yang berpotensi memiliki aktifitas prebiotik, seperti kitin, hemiselulosa, β- dan α- glukan, manan, xylan, dan galaktan. Sehingga jamur pangan dapat berpotensi memodulasi mikrobiota usus dan memberikan efek kesehatan terhadap tubuh manusia. Artikel ini akan menunjukkan beberapa kajian potensi prebiotik dari jamur pangan, potensinya dalam mengubah komposisi mikrobiota usus dan menanggulangi stunting. Artikel ini juga akan tantangan dalam penggunaan jamur pangan untuk menanggulangi stunting untuk memberikan potensi penelitian lebih lanjut di bidang ini.
Respons pertumbuhan Mentha spp. terhadap penambahan air kelapa dan 6-Benzylaminopurine pada media in vitro Apriliana Dyah Prawestri; Resa Sri Rahayu; Indira Riastiwi
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23479

Abstract

Hingga saat ini sebanyak 600 kultivar mint telah berhasil dikembangkan dari 25 spesies Mentha, namun hanya empat spesies mint yang dibudidayakan secara komersial untuk produksi minyak esensial di dunia, dua diantaranya adalah peppermint (Mentha × piperita L.) dan spearmint (M. spicata L.). Tanaman mint umumnya dibudidayakan melalui perbanyakan secara vegetatif karena memiliki pollen yang steril dan tingkat ploidi yang tinggi sehingga metode perbanyakan secara generatif sering kali tidak berhasil. Oleh karena itu, dalam upaya mengoptimalkan perbanyakan vegetatif khususnya secara in vitro, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan tanaman mint, yaitu peppermint dan spearmint yang ditumbuhkan pada media pertumbuhan in vitro dengan penambahan air kelapa dan BAP secara tunggal maupun kombinasi. Eksplan buku batang dari planlet in vitro peppermint dan spearmint ditumbuhkan pada media in vitro dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok 1 faktor, yaitu media pertumbuhan dengan 4 taraf: 1) MS (kontrol, tanpa penambahan air kelapa dan BAP); 2) MS ditambah 50 mL air kelapa (MS + AK); 3) MS ditambah 0,25 mg/L BAP (MS + BAP); 4) MS ditambah 50 mL air kelapa dan 0,25 mg/L BAP (MS + AK + BAP). Masing-masing perlakuan terdiri atas 5 ulangan dan 5 eksplan setiap ulangan. Kultur diinkubasi selama delapan minggu dan diamati parameter pertumbuhan dan parameter fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons pertumbuhan biak in vitro peppermint terbaik pada media yang ditambah air kelapa, sementara pada biak spearmint penambahan air kelapa maupun BAP tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan. Air kelapa dan BAP meningkatkan kadar klorofil total daun biak peppermint maupun spearmint. Kombinasi penambahan air kelapa dan BAP secara simultan justru menghasilkan respons penghambatan pertumbuhan biak in vitro peppermint maupun spearmint.