cover
Contact Name
Wakhidah Kurniawati
Contact Email
ruang@live.undip.ac.id
Phone
+6224-7460054
Journal Mail Official
ruang@live.undip.ac.id
Editorial Address
Gedung A lantai 3, Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, Jl. Prof Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ruang
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18583881     EISSN : 23560088     DOI : 10.14710/ruang
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Studi Efektifitas Lapangan Pancasila Simpang Lima sebagai Ruang Publik Djoko Suwandono
Ruang Vol 3, No 2 (2017): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.3.2.%p

Abstract

Kawasan Simpanglima Semarang merupakan salah satu ikon utama untuk kota Semarang, karena berbagai fasilitas sarana kota yang dapat dilayani di kawasan ini, antara lain Pusat Perbelanjaan, Perhotelan, Rekreasi dan Hiburan, dan Olah Raga. Lapangan Pancasila merupakan lapangan (Field) yang berada di tengah kawasan Simpanglima ini; yang berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau, Pengatur arus lalu lintas dan fungsi secara umum sebuah lapangan untuk interaksi sosial, olah raga, rekreasi, mobilisasi masa, upacara dsb. Sekarang kawasan Simpanglima sedah berkembangmenjadi Central Bussiness District (CBD) dan pusat keramaian kota Semarang, Lapangan Pancasila sebagai ruang orientasi akan mengalami perubahan yang sejak awal merupakan ruang terbuka aktif akan terganggu oleh kegiatan bisnis di sekitar lapangan tersebut, atau justru menjadi semakin meningkat fungsinya. Berdasarkan fungsi tersebut maka boleh dikatakan bahwa Lapangan Pancasila berfungsi sebagai Ruang Publik, namun apakah memang benar fungsi Lapangan Pancasila sesuai dengan pelayanannya sebagai Ruang Publik secara optimal, atau hanya sekedar Ruang Terbuka Hijau dan lapangan saja. Hal ini akan menimbulkan pertanyaan:”Apakah Lapangan Pancasila  sudah efektif sebagai Ruang Publik?”. Dan studi ini adalah untuk mengukur seberapa efektifitas Lapangan Pancasila tersebut sebagai Ruang Publik. Adapun metodologi penelitiannya memakai positivisme yakni kuantitatif, yang akan mengukur variabel Kualitas Pelayanan Secara Umum, Misi Ruang Publik, Kondisi Fisik dan Jenis Aktivitas yang ada. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata Lapangan Pancasila secara keseluruhan belum menjadi Ruang Publik yang efektif, tapi terhitung hanya cukup efektif saja sebagai Ruang Publik. Sehingga masih diperlukan peningkatan peningkatan prasarana dan sarana pelayanan agar Lapangan Pancasila benar-benar menjadi efektif untuk Ruang Publik.
Dampak Pembangunan Apartemen Paltrow City Berdasarkan Persepsi Masyarakat Kelurahan Pedalangan, Banyumanik Ariani Suwandi; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 3 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.729 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.3.196-206

Abstract

Pembangunan Apartemen Paltrow City merupakan salah satu pembangunan hunian baru berupa properti di Kelurahan Pedalangan yang berada di tengah-tengah permukiman padat penduduk yang dapat menimbulkan berbagai dampak bagi lingkungan di sekitarnya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kombinasi model (concurrent embeded) antara kuantitatif dan kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan yaitu statistik deskriptif dengan alat analisis (crosstabs) dan distribusi frekuensi. Berdasarkan analisis diperoleh bahwa pembangunan Apartemen Paltrow City kurang sesuai dengan RTRW dan RTBL yang berlaku dari segi ketinggian bangunan. Namun, Keterangan Rencana Kota (KRK) yang dikeluarkan melihat kesesuaian bangunan terhadap persyaratan KKOP (Kawasan Keselamatan Oprasional Penerbangan) dan skyline bangunan disekitarnya. Sedangkan menurut masyarakat terkait ketinggian bangunan Apartemen Paltrow City, sebanyak 38% masyarakat merasa terganggu. Dampak pembangunan Apartemen Paltrow City yang ditimbulkan pada kegiatan konstruksi sebanyak 72% masyarakat merasakan dampak gangguan kebisingan, tidak mendapatkan peningkatan pendapatan gangguan kenyamanan, kekhawatiran akan ketersediaan air, gangguan lalu lintas dan kecelakaan kendaraan dan getaran. Sedangkan dampak pasca konstruksi sebanyhak 76% masyarakat merasakan dampak kekhawatiran akan ketersediaan air, gangguan lalu lintas dan kecelakaan kendaraan, peningkatan pendapatan, gangguan kenyamanan, kebisingan, kesempatan kerja baru, perubahan gaya hidup dan perubahan harga lahan.
Analisis Perubahan Penggunaan dan Harga Lahan di Koridor Semarang-Mranggen Anita Ratnasari
Ruang Vol 2, No 2 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.733 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.2.621-630

Abstract

Sistem transportasi dan penggunaan lahan mempunyai sifat saling mempengaruhi, perubahan sistem transportasi akan berpengaruh pada penggunaan lahan dan demikian sebaliknya. Penggunaan lahan yang terjadi di suatu wilayah cenderung bersifat dinamis. Sebab, perubahan penggunaan lahan di suatu wilayah merupakan cerminan upaya dan interaksi manusia dalam memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam beserta kondisi lingkungan yang menyertainya. Pola penggunaan lahan menjadi masukan ke dalam sistem transportasi. Distribusi guna lahan menghasilkan distribusi aktivitas, aktivitas ini membutuhkan interaksi spasial atau pergerakan. Hal ini dipertegas oleh Iacono bahwa struktur jaringan transportasi dan pola aktifitas merupakan determinan penting pada perubahan penggunaan lahan dan akhirnya mempengaruhi struktur spasial kota (Lacono & Levinson, 2011). 
Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) pada Titik Transit Trase Light Rail Transit (LRT) Provinsi Sumatera Selatan Hendry Natanael Gumano; Yudi Basuki
Ruang Vol 4, No 1 (2018): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.323 KB) | DOI: 10.14710/ruang.4.1.75-84

Abstract

Salah satu urgenitas pengembangan sistem transportasi massal LRT di Provinsi Sumatera Selatan adalah untuk mendukung pergelaran ASIAN GAMES tahun 2018 di Kota Palembang. Selain itu, keperluan pembangunan LRT juga sebagai solusi bagi masalah transportasi dan pembangunan Kota Palembang yang berkelanjutan. Keberadaan LRT perlu dianggap sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan hal tersebut, melalui konsep pembangunan yang berorientasi transit (TOD). Kondisi ini kemudian menjadi pertanyaan penelitian yaitu “bagaimana pengembangan TOD pada jalur LRT dalam mendukung perwujudan transportasi dan pembangunan kota yang berkelanjutan?”. Tujuan penelitian adalah untuk menyusun konsep pengembangan TOD berdasarkan tipologi kawasan titik transit di trase LRT Provinsi Sumatera Selatan. Metode yang digunakan yaitu skoring, pembobotan serta analisis spasial yang dinilai berdasarkan pada prinsip TOD: diversity & destination, density, distance & design, dan demand management yang terbagi atas 14 variabel penilaian.  Hasil penelitian menunjukkan 3 tipologi TOD dari 12 kawasan transit yang dinilai yaitu 1 kawasan sebagai TOD Kota, 6 kawasan transit sebagai TOD Sub-Kota, dan 5 kawasan transit sebagai  TOD Lingkungan. Kawasan transit yang kecenderungannya sebagai TOD Kota perlu pengembangan dan peningkatan pada prinsip density, sedangkan di kawasan transit yang kecenderungannya sebagai TOD Sub-Kota perlu pengembangan dan peningkatan pada prinsip demand management.
Pendekatan Responsif Gender Dalam Penyediaan Sarana Lingkungan Perkotaan Landung Esariti; Diah Intan Kusumo Dewi
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.976 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.4.324-330

Abstract

Peran perencana kota dalam penyediaan infrastruktur perkotaan adalah perlunya memahami penyediaan infrastruktur berdasarkankebutuhanpenggunanya. Disinilah, pendekatanresponsif gender menjadi penting karena pendekatan ini menekankan pada upaya untuk mengetahui bagaimana keadilan dapat diterapkan dengan menemukenali relasi gender yang membentuk sistem aktivitas, yang diamati pada semua kelompok masyarakat pengguna infrastruktur perkotaan. Artikel ini ditulis dengan membandingkan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 534/KPTS/M/2001 Tanggal: 18 Desember 2001 tentang jenis sarana lingkungan perkotaan dan observasi yang dilakukan di sekitar KecamatanTembalang, Semarang. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada penyediaan sarana lingkungan perkotaan yang terdiri dari sarana niaga, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana pelayanan umum, sarana sosial budaya dan ruang terbuka hijau dapat diketahui beberapa indikator pelayanan yang harus dipenuhi. Indikator yang dimaksud adalah jangkauan pelayanan, pengguna usia produktif dan tidak produktif, tata guna lahan eksisting dan rencana, dan kondisi sistem social masyarakat.
Hubungan Keberadaan Ruang Terbuka Hijau dengan Kualitas Udara di Kota Semarang Galih Maulidia Nawangsari; Mussadun Mussadun
Ruang Vol 4, No 1 (2018): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.722 KB) | DOI: 10.14710/ruang.4.1.11-20

Abstract

The biggest problem in Semarang City these days is the increase of population. This happenes because of the increase the birth rate and urbanization. The impact from this phenomenon is the need of spaces that encorage people to convert the land use of their area, mostly green space. In addition, an increasing number of the population is also increasing the number of motor vehicle which may cause air pollution. This condition imply that there is a relation between the avaibility of open green space with air quality in Semarang City. In this study, three sub-districts being choosen, which is Banyumanik sub-district, Pedurungan sub-district and Tugu subdistrict. These sub-districts, was choosen because they can represent every sector of their land use. Banyumanik sub-district represent central bussiness distirct, Pedurungan sub-distict represent settlement area and Tugu sub-district represent industrial area. Methods of analysis that used in this study is quantitative method, which is regretion analysis and descriptive quantitative analysis. The results of this study, it is known that there is a corelation between the open green space and air quality in Semarang city with every differences from each sub-district. The most influential parameter in Banyumanik sub-distric is CO, in Pedurungan sub-distric is O3 and in Tugu sub-district is dust. The expansion of open green space and the selection of appropiate vegetation for every sub-district are the right solution to make a better air quality in Semarang City.
Studi Adaptasi Teori Defensible Space Pada Kawasan Kampus Universitas Diponegoro Tembalang Hastin Hapsari; Djoko Suwandono
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.176 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.4.243-252

Abstract

Pemindahan kampus Universitas Diponegoro ke Kecamatan Tembalang, Kota Semarang memberikan peningkatan lalu lintas dan aktivitas pada kawasan di sekitarnya. Hal ini selanjutnya menimbulkan permasalahan baru, salah satunya yaitu peningkatan angka kejahatandalam kawasan Universitas Diponegoro Tembalang. Teori defensible space dicetuskan pertama kali oleh Oscar Newman pada tahun 1972 menjelaskan bahwa tindak kejahatan dapat diminimalisir melalui intervensi fisik dalam perancangan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adaptasi teori defensible space untuk meminimalisir tindak kejahatan pencurian dalam kawasan kampus Universitas Diponegoro, Tembalang. Metode penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Selanjutnya, data diolah dengan teknik analisis skoring,  zoning, dan visibilitas. Dari penelitian yang dilakukan, diketahui komponen-komponen defensible space yang ada dalam kawasan kampus Universitas Diponegoro Tembalang sudah tersedia. Namun, terdapat beberapa kondisi yang masih berpotensi memunculkan peluang tindak kejahatan dalam kawasan kampus, sehingga dalam  penelitian ini dihasilkan rekomendasi adaptasi teori defensible space pada kawasan Universitas Diponegoro Tembalang. 
Mitigasi Permukiman Tepi Sungai di Kelurahan Mlatiharjo H.N. Nugroho; N. Alfibrian; M.R.D. Sabana; D. Labiba; T. Mintiea; S.E. Gunawan; A.M. Ulfa; N. Perwitasari; I.N. Sinaga; N.M. Samosir
Ruang Vol 5, No 2 (2019): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.198 KB) | DOI: 10.14710/ruang.5.2.94-103

Abstract

Semarang City is passed by Sungai Banjir Kanal Barat dan Sungai Banjir Kanal Timur which is the purpose of development of these two canals as a form of flood prevention in Semarang city because Semarang city is prone to flood disaster. Floods that occur in Semarang city can be divided into three sources, namely flood shipment generally comes from the upper regions such as Semarang regency, especially Ungaran District, local floods that are the result of river water flows and times, and rob floods coming from tidal water area Coastal Semarang. Although the construction of artificial river has been done by the government of Semarang City, until now the flood is still one of the main problems that hinder the growth and development of Semarang City. The government has made efforts to normalize the Sungai Banjir Kanal Barat, but until now has not been able to do the normalize Sungai Banjir Kanal Timur. The method used in this research is quantitative method that uses secondary data to be processed and qualitative method in the form of gathering perspective of people living on the banks of BKT River, precisely in Mlatiharjo RW IV and RW V Village by way of interview and direct observation. The final result of this research is siteplan design area, the result of design analysis, management and financing management, and recommendation. The concept offered is Mlatiharjo Eco Riverfront Settlement Mitigation, a design concept that focuses on reducing flooding with disaster mitigation efforts.
Potensi Pengembangan Rusun Bagi MBR di Kawasan Perkotaan Jawa Tengah Novia Sari Ristianti
Ruang Vol 2, No 3 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.2.3.741-750

Abstract

.
Yang Menarik Bagi Masyarakat Tentang Kondisi Bangunan Kuno Di Kota Lama Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 4, No 2 (2018): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.912 KB) | DOI: 10.14710/ruang.4.2.%p

Abstract

This study was conducted to determine the public perception of the condition of the buildings in the old city of Semarang, what is appealing to the public. Quantitated method is used for this research, data obtained from questionnaires distributed randomly to the 100 respondents who met and are conducting activities in the Old City. The questionnaire contains ratings (based on public perception) of the elements considered most attractive, from a few choice elements of the building include building orientation, ornament, colour and facade, dimensions, architectural style, doors and windows, ceiling, walls and columns, floors, and roof. The assessment uses a Likert scale 1-5 where 1 to the lowest value (strongly disagree) and 5 for the highest value (strongly agree). The results showed that there are five components of the building are considered attractive and are of particular concern to the people; ornament; colour and façade; architectural style; doors and windows; as well as the shape of the roof of the building, it is seen that the value reached over 300, meaning that leads to agree and strongly agree as building components are interesting and deserve to be the basis of conservation.

Page 10 of 19 | Total Record : 185