cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
PUJANGGA: Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 24431478     EISSN : 24431486     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 171 Documents
Dekolonisasi Citra Nyai: Representasi Perempuan Dalam Sistem Kolonial Dan Feodal Hindia Belanda Pada Tokoh Nyai Ontosoroh Fairuz, Fairuz
Pujangga Vol. 11 No. 2 (2025): Volume 11 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v11i2.4334

Abstract

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer menghadirkan realitas sosial pada era Hindia Belanda, ketika sistem kolonial dan feodalisme Jawa menimbulkan ketimpangan gender dan kelas. Sebutan “Nyai” dilekatkan dengan stereotip negative, seperti rendahnya pendidikan, materialisme, pengkhianatan terhadap bangsa, serta dianggap melanggar norma agama dan sosial. Namun, Nyai Ontosoroh dalam novel ini justru ditampilkan sebagai sosok perempuan pribumi yang cerdas, dan terdidik, sekaligus menantang konstruksi stereotip kolonial. Tujuan penelitian untuk menganalisis representasi identitas dan strategi perlawanan tokoh Nyai Ontosoroh terhadap dominasi kolonial dan patriarki dengan menekankan dimensi interseksionalitas gender, ras, dan kelas. Penelitian menggunakan teori feminisme postkolonial Spivak, Mohanty dan Crenshaw dengan metode deskriptif kualitatif melalui analisis naratif terhadap teks sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyai Ontosoroh direpresentasikan sebagai perempuan yang melampaui konstruksi sosial kolonial. Ia mengunakan pengetahuan dan bahasa kolonial Belanda sebagai strategi resistensi, meskipun tetap terikat batas hukum dan norma kolonial feodal. Pramoedya melalui tokoh Nyai Ontosoroh tidak hanya menampilkan perlawanan terhadap sistem penindasan, tetapi juga melakukan dekonstruksi terhadap citra Nyai sebagai simbol subordinasi. Temuan ini memperluas pembacaan feminisme dalam sastra kolonial Indonesia melalui perspektif interseksional dan naratif.
Konflik Batin Tokoh Seongsam Dalam Cerita Pendek Hak Karya Hwang Sun-Won: Psikologi Sastra Devi, Redita; Gisella Tyara Sagita
Pujangga Vol. 11 No. 2 (2025): Volume 11 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v11i2.4335

Abstract

Psikologi sastra adalah pendekatan interdisipliner yang mengkaji karya sastra melalui pemahaman terhadap aspek kejiwaan manusia yang tercermin dalam tokoh, konflik, dan peristiwa cerita. Pendekatan ini digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis konflik batin tokoh Seongsam dalam cerita pendek Hak (학) karya Hwang Sun-won. Cerita Hak berlatar Perang Korea dan merepresentasikan dampak psikologis konflik ideologis terhadap individu. Fokus penelitian diarahkan pada pergulatan batin Seongsam ketika ia berhadapan dengan teman masa kecilnya yang kini berada di pihak yang berseberangan secara ideologis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis deskriptif terhadap teks, khususnya pada aspek penokohan dan konflik. Analisis didasarkan pada teori psikoanalisis Sigmund Freud, terutama konsep id, ego, dan superego. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik batin Seongsam terbentuk dari pertentangan antara dorongan naluriah, pertimbangan rasional terhadap realitas, serta tuntutan moral dan nilai kemanusiaan. Konflik tersebut mencerminkan trauma psikologis akibat perang dan dilema moral individu dalam situasi konflik ideologis. Dengan demikian, cerita pendek Hak tidak hanya menggambarkan tragedi personal, tetapi juga menyuarakan kritik humanistik terhadap dampak perang terhadap kondisi psikologis manusia.
Proses Penamaan Gerai Kopi di Jakarta Selatan: Analisis Sintaksis Harared, M.A., Nico; Syahruri; Pamungkas, Wisnu Danureksa; Riyanto
Pujangga Vol. 11 No. 2 (2025): Volume 11 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v11i2.4337

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan nama gerai kopi berdasarkan bentuk lingual dan proses sintaksisnya. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi pada beberapa gerai kopi di Jakarta Selatan. Metode pengumpulan data dalam penelitian diperoleh dengan teknik observasi dan dokumentasi dengan menggunakan kamera gawai (smartphone). Berdasarkan hasil analisis bentuk lingual dan proses sintaksis penamaan kedai kopi di Jakarta Selatan, dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Terdapat tiga bentuk lingual penamaan, yakni bentuk kata, frasa dan kalimat majemuk. (2) Terdapat 10 struktur sintaksis pada penamaan gerai kopi di kota Jakarta Selatan, yakni nomina, nomina + nomina, nomina + adjektiva, nomina + verba, nomina + preposisi + nomina, verba + nomina, adjektiva + nomina, nomina+nomina+numeralia, dan konjungsi +nomina+verba. Pola penamaan gerai kopi cenderung menggunakan kata KOPI atau COFFE sebagai CTA atau call to action bagi penggemar kopi di daerah urban, sedangkan nama jenama sendiri memiliki sebuah value sehingga didapatkan struktur penamaan yakni, value + CTA ataupun sebaliknya karena struktur seperti ini dinilai lebih berterima di masyarakat perkotaan. Penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya berfokus pada penamaan gerai bisnis lainnya untuk memperkaya penelitian lanskap linguistik mengenai penamaan pada sektor bisnis lainnya. Hal ini terjadi karena di era sekarang, penamaan bisnis sedang berkembang pesat dan menarik perhatian. Kata kunci: Sintaksis, Penamaan, Gerai Kopi, Jakarta Selatan
Membaca Ulang Identitas Indonesia Melalui Persepktif Pascakolonial Dalam Para Priyayi Karya Umar Kayam Dan Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan Swandayani, Nyoman Elly
Pujangga Vol. 11 No. 2 (2025): Volume 11 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v11i2.4343

Abstract

Penelitian ini mengkaji dimensi pascakolonial dalam pembentukan identitas dan transformasi budaya Indonesia sebagaimana direpresentasikan dalam Para Priyayi karya Umar Kayam dan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri bagaimana kedua novel tersebut menggambarkan pengaruh kolonialisme yang masih membekas terhadap struktur sosial, pembentukan identitas, dan nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia pascakemerdekaan. Analisis penelitian ini berlandaskan pada teori pascakolonial, khususnya konsep hibriditas dan mimikri dari Homi K. Bhabha serta psikologi kolonial dari Frantz Fanon. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang didukung oleh analisis tekstual, penelitian ini menelaah bagaimana ideologi kolonial diinternalisasi, dilawan, dan ditafsirkan kembali melalui struktur naratif, penggambaran tokoh, serta representasi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Para Priyayi menggambarkan keberlanjutan mentalitas kolonial di kalangan elite Jawa yang masih mereproduksi hierarki sosial kolonial dalam masyarakat pascakemerdekaan, mencerminkan proses dekolonisasi yang belum sepenuhnya tuntas. Sebaliknya, Cantik Itu Luka menyingkap luka mendalam akibat kekerasan kolonial dan munculnya identitas hibrid yang lahir dari trauma sejarah, dengan memanfaatkan gaya realisme magis untuk mengkritik sistem kolonial sekaligus patriarkal. Kedua novel tersebut memperlihatkan bahwa sastra pascakolonial Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai bentuk perlawanan budaya, tetapi juga sebagai ruang rekonstruksi identitas nasional dan kesadaran historis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa narasi pascakolonial dalam sastra Indonesia merefleksikan proses negosiasi yang berkelanjutan antara tradisi, modernitas, dan ingatan kolektif, sekaligus menegaskan pentingnya dekolonisasi imajinasi kultural dan struktur sosial.
AN ANALYSIS OF ENGLISH-SPEAKING MATERIAL IN THE TEXTBOOK ENGLISH FOR NUSANTARA BASED ON THE REVISED BLOOM'S TAXONOMY Hernalia citra Dewi; Dwinesa Anggareni
Pujangga Vol. 12 No. 1 (2026): Volume 12 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v12i1.4371

Abstract

This study aims to determine the cognitive dimensions of speaking material in the English for Nusantara textbook for seventh-grade junior high school students based on the Revised Bloom's Taxonomy. The focus of this study is to identify the cognitive dimension levels (C1-C6) in speaking material and to classify whether the material is categorized as LOTS (Lower Order Thinking Skills) or HOTS (Higher Order Thinking Skills). This study used a qualitative approach with descriptive analysis methods. The results show that most speaking material falls at the cognitive level of the Revised Bloom's Taxonomy C3 "Applying" at 57.1%, followed by level C6 "Creating" at 28.6%, and the remaining 14.3% at level C2 "Understanding." This indicates a shift from understanding to independent application and production of language. This indicates that Chapter 1 has supported the development of communicative and functional speaking skills and begun to introduce students to higher-order thinking skills (HOTS), particularly in personal and social contexts. Keywords: Speaking Material, Cognitive Dimension, Revised Bloom's Taxonomy, Textbook
FEMALE LEADERS IN NATURE AND INDUSTRY IN THE MOVIE PRINCESS MONONOKE (1997) Nadiah Surya Nahari
Pujangga Vol. 12 No. 1 (2026): Volume 12 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v12i1.4378

Abstract

This research explores the relationship between female leader, nature, and industry in Princess Mononoke (1997), directed by Hayao Miyazaki. The film presents a complex interplay between environmentalism and industrialization through the characters of San (Princess Mononoke), a warrior raised by wolves who fights to protect nature, and Lady Eboshi, the leader of Iron Town who seeks to expand human civilization through industrial progress. Between the two female leaders there is a male character: Ashitaka. The plot makes him as a bridge for the conflict of two female leaders. This research uses qualitative method which focusing on dialogs between characters. By employing ecofeminist theory (Shiva, 1988; Warren, 1997) and gender studies (Butler, 1990), this study examines how the film challenges traditional gender roles while addressing the ethical and ecological dilemmas of modernization. Princess Mononoke challenges traditional gender stereotypes by positioning women as influential decision-makers who shape the course of social and environmental conflicts. Keywords: ecofeminism, gender studies, female leader, nature, industry.
The Real, the Imaginary, and Childhood Anxiety in Neil Gaiman's Coraline A Lacanian Psychoanalytic Analysis Sri Saraswati; Yudhanita Pratiwi; Arroyo Estrelle, T.
Pujangga Vol. 12 No. 1 (2026): Volume 12 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the representation of childhood anxiety in Neil Gaiman's Coraline through the lens of Jacques Lacan's psychoanalytic theory. Drawing upon Lacan's triadic model of the Imaginary, the Symbolic, and the Real, the research explores how Coraline's journey through the alternate world reflects a process of psychological maturation and subject formation. Employing qualitative textual analysis, the study investigates the relationship between fantasy, desire, anxiety, and identity construction in the novel. The findings reveal that the alternate world functions as the Imaginary Order, offering an illusion of completeness and fulfillment that initially satisfies Coraline's desires. The Other Mother embodies the fantasy of perfect maternal care while simultaneously concealing a predatory desire for possession and control. As Coraline uncovers the hidden truths of the alternate world, she encounters manifestations of the Real that disrupt the coherence of fantasy and generate anxiety. These encounters force Coraline to confront the limitations of desire and the impossibility of complete satisfaction. Ultimately, the novel portrays anxiety not as a destructive force but as a necessary condition for psychological growth. Through her confrontation with the Real, Coraline develops a more mature understanding of herself and her relationship to reality. This study contributes to children's literature scholarship by demonstrating how Lacanian psychoanalysis provides valuable insights into the psychological dimensions of fantasy narratives and the role of anxiety in childhood development.
NATURE, NATIONALISM, FAITH: MAGELANG CULTURAL IDENTITY THROUGH STUDENTS’ LOCAL FOLKTALE-BASED CREATIVE WRITING Puri Bakhtawar; Muhammad Nur Hanif; Desy Fitrianingsih; Catur Wulan Sari
Pujangga Vol. 12 No. 1 (2026): Volume 12 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v12i1.4395

Abstract

The latest Creative Writing learning paradigm highlights the importance of the integration of sociocultural dimensions in the Creative Writing learning process. The integration of sociocultural dimensions can be conducted through the use of local folktales as the base in students’ Creative Writing works. Although previous studies have examined the use of local folktales in Creative Writing, limited attention has been given to how cultural identities are represented through students’ Creative Writing based on local folktales. This study aims to investigate the cultural identity of Magelang as represented in students’ Creative Writing works adapted from Magelang local folktales. This study employed a qualitative research design with qualitative content analysis to investigate the representation of Magelang cultural identity in students’ local folktale-based Creative Writing short stories. Through the analysis of 18 students’ Creative Writing works, the findings of this study reveal three dominant narrative patterns that represent Magelang’s cultural identity, including: narratives of nature, narratives of nationalism, and narratives of faith. Narratives of nature highlight that nature is seen as a sacred site: a source of life in Magelang society’s worldview. Narratives of nationalism show that Magelang is rich with historical values and nationalism as its cultural and societal identity. Narratives of faith show that faith and religion are one of the core values in building Magelang cultural identity. It can be concluded that the students’ Creative Writing serves not only as a literary expression, but also as a medium of preserving and reaffirming Magelang cultural identity.
ARKETIPE KETIDAKSADARAN KOLEKTIF DAN PROSES INDIVIDUASI TOKOH HIBINO KAFKA DALAM MANGA KAIJU NO. 8 KARYA NAOYA MATSUMOTO Emma Rahmawati Fatimah; Jihaan Istiqamaah; Ni Made Savitri Paramita
Pujangga Vol. 12 No. 1 (2026): Volume 12 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the psychological conflict represented by Hibino Kafka in Naoya Matsumoto's manga Kaiju No. 8 through Carl Gustav Jung's psychoanalytic approach. The kaiju phenomenon, originally a representation of collective trauma, has evolved into a symbol of individual inner conflict, with Kafka embodying the struggle between social identity and the unconscious. Using a qualitative descriptive method grounded in the concepts of persona, shadow, anima-animus, self, and individuation, the study finds that all four archetypes manifest progressively throughout the narrative. Kafka's persona shifts from the mask of "someone who has given up" to a deeper denial of his kaiju side. The shadow embodied in Kaiju No. 8 is both personal and collective, carrying centuries of human hatred and helplessness toward kaiju. The anima projected onto Ashiro Mina acts as a guide that stabilizes Kafka's psyche at his most critical moments. Through the stages of individuation ego inflation, alienation, confrontation with the shadow, integration, and the attainment of self Kafka ultimately integrates every aspect of his personality into a unified identity. His journey thus becomes a universal symbol of how true identity is formed through the courage to embrace all aspects of the self, even the darkest.
ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN EJAAN BUKU CERITA DONGENG “SERI FABEL INSPIRATIF” Eka Septiani; Nur Indah Sari
Pujangga Vol. 12 No. 1 (2026): Volume 12 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v12i1.4403

Abstract

Dongeng merupakan salah satu karya sastra berupa cerita yang sarat dengan pesan moral dan dapat meningkatkan daya imajinasi anak-anak sehingga diharapkan pesan yang disampaikan dapat menginspirasi anak-anak untuk melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Diperlukan adanya aturan penulisan dalam menulis dongeng, yakni dengan memperhatikan penggunaan ejaan agar pesan moral yang ingin disampaikan sepenuhnya dapat dipahami terutama bagi anak-anak. Masih banyak ditemukan kesalahan dalam penggunaan ejaan pada cerita dongeng yang sudah diterbitkan kepada khalayak. Kesalahan penggunaan ejaan yang ditemukan dilihat dari tiga aspek, yaitu fonologis, morfologis, dan sintaksis. Peneliti menganalisis kesalahan penggunaan ejaan pada cerita dongeng dengan menggunakan jenis penelitian penelitian kualitatif deskriptif. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk mengetahui kesalahan penggunaan ejaan pada cerita dongeng dengan berpedoman pada kaidah Ejaan Yang Disempurnakan Edisi V. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik simak catat. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles dan Huberman, meliputi 1) reduksi data, 2) penyajian data, 3) penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan adanya kesalahan penggunaan ejaan pada cerita dongeng “Seri Fabel Inspiratif”. Ada banyak kesalahan penggunaan ejaan yang ditemukan melalui tiga aspek kesalahaan penggunaan ejaan. Kesalahan penggunaan ejaan pada aspek fonologis ditemukan sebanyak 44 kesalahan. Kesalahan penggunaan ejaan pada aspek morfologis ditemukan sebanyak 27 kesalahan. Kesalahan penggunaan ejaan pada aspek sintaksis ditemukan sebanyak 17 kesalahan.