cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
PUJANGGA: Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 24431478     EISSN : 24431486     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 154 Documents
Pop Culture Through Lyrics: How Songs Reflect Social Trends Yuliasari, Ria; Rika Virtianti; Ferdias Prihatna Sari
Pujangga : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2025): Volume 11 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v11i1.4065

Abstract

This study explores how popular culture is reflected in the songs Anti-Hero by Taylor Swift, Happier Than Ever by Billie Eilish, and Traitor by Olivia Rodrigo. The research aims to identify which social trends are depicted in these songs and analyze their similarities and differences in reflecting societal concerns. Using a descriptive qualitative method, the study applies the framework of T.A. Writer, which identifies six key social trends in modern society: mental health awareness and reducing stigma, redefining family and relationships, digital detox and mindful technology use, individual activism and social responsibility, sustainable and ethical consumerism, and shifting work culture to remote and hybrid models. The findings reveal that not all six social trends are present in the selected songs. Each song reflects different aspects of societal change, with mental health issues and redefining relationships emerging as the most prominent themes. While Anti-Hero focuses on self-perception and emotional struggles, Happier Than Ever portrays personal growth after a toxic relationship, and Traitor reflects betrayal and emotional turmoil. The analysis highlights how pop music serves as a mirror of contemporary issues, particularly in the realms of mental health and interpersonal relationships. These songs resonate with audiences by providing an emotional connection to real-life struggles, reinforcing the role of music in shaping and reflecting cultural narratives. This research contributes to the understanding of music as an expression of social change and personal identity. Keywords: pop culture, song lyric, social trends
Melanggengkan Patriarki: Pembingkaian Media terhadap Kasus Perundungan Perempuan dalam Wacana Berita Digital Anggraini, Indrani Dewi; Sarah, Nani Nuraini
Pujangga : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2025): Volume 11 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v11i1.4106

Abstract

Abstract News about the bullying of women is a serious issue that affects the emotional and psychological well-being of victims and can even lead to tragic deaths. However, media coverage is not always objective due to biases in how news is structured and presented. The media frames these cases by emphasizing certain aspects through word choice, narratives, visuals, and perspectives that shape audience understanding. Bias in news framing can influence public opinion and reinforce gender stereotypes. This study analyzes six news reports on the bullying of women in the digital media platform detik.com in 2024 using a qualitative descriptive method and a critical discourse analysis approach based on content analysis. Utilizing Sara Mills' theory, the analysis focuses on three aspects: subject-object positioning, gender roles, and socio-cultural context. The media often reinforces patriarchal dominance by portraying women as passive objects while men are positioned as dominant subjects who control the narrative. This representation reflects the structure of patriarchal power in society, where men have greater control over social discourse, including in the media. As a result, gender inequality continues to be reproduced, positioning women as victims who lose their agency and weakening their ability to confront bullying. Keywords: framing, gender, bullying, digital mass media.
Masyarakat Risiko dalam Novel Candra Kirana Karya Ajip Rosidi: Mengkaji novel Candra Kirana karya Ajip Rosidi dengan Masyarakat Risiko Sasabilah, Adam Romy; Budiyono, Sunu Catur
Pujangga : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2025): Volume 11 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v11i1.4107

Abstract

Masyarakat risiko adalah masyarakat yang dihadapkan dengan kehidupan dalam ketidakpastian. Ketidakpastian ini disebabkan oleh risiko yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Namun, akan juga menghasilkan refleksivitas yang memungkinkannya untuk mempertanyakan dirinya sendiri dan risiko yang dihasilkan, sedangkan risiko menampilkan efek bumerang dalam penyebaranya bahkan setiap individu di kelas atas maupun di kelas bawah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep masyarakat risiko yang digambarkan dalam novel Candra Kirana karya Ajip Rosidi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian ini berupa kata-kata dan kalimat yang terdapat dalam novel Candra Kirana karya Ajip Rosidi. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Candra Kirana karya Ajip Rosidi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa teknik dokumentasi dan catat. Teknik penganalisisan dalam penelitian ini melalui reduksi data, penyajian data, dan perumusan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam novel Candra Kirana karya Ajip Rosidi ditemukan 1) risiko, meliputi risiko fisik ekologi (adanya kehilangan harta benda diakibatkan oleh bencana alam), risiko sosial (egoisme dan peperangan), dan risiko mental (efek traumatis dan bunuh diri); 2) refleksivitas, berupa pernikahan politik; 3) efek bumerang, berupa pengorbanan tahta.
Transgresi Ketidaksantunan Tutur Game Streamer di Youtube sebagai Bentuk Pergeseran Norma Linguistik: Kajian Cyber-Pragmatik Rahmayanti, Indah; Tarmini, Wini; Hidayati, Deasy Wahyu; Mulyani, Sri
Pujangga : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2025): Volume 11 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pujangga.v11i1.4111

Abstract

Fenomena game streaming di Indonesia, terutama melalui platform YouTube, memiliki segmentasi penggemar besar dengan tokoh kreator seperti Jess No Limit dan Frost Diamond yang memiliki jutaan pengikut. Para kreator ini sering menggunakan bahasa santai yang cenderung melanggar prinsip kesantunan berbahasa. Namun, ketidaksantunan ini diterima oleh audiens mereka sebagai bagian dari hiburan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk ketidaksantunan dalam tuturan para game streamer yang justru menjadi teknik komunikasi yang berterima dalam komunitas online. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis pragmatik. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan pada video streaming dari Jess No Limit dan Frost Diamond. Analisis data dilakukan dengan merujuk pada 10 prinsip kesantunan Leech untuk mengidentifikasi pelanggaran terhadap prinsip-prinsip kesantunan dalam komunikasi. Hasil penelitian menuunjukkan bahwa dalam konten game streaming di YouTube, ketidaksantunan yang melanggar prinsip kesantunan diterima sebagai bagian dari hiburan dan interaksi sosial yang membangun kedekatan antara kreator dan audiens. Penerimaan ini terjadi karena adanya kesepakatan sosial dalam komunitas game yang menganggap bahasa kasar, umpatan, panggilan kasar, dan ejekan sebagai humor. Meskipun demikian, kreator perlu bijak dalam menggunakan ketidaksantunan untuk menjaga keharmonisan komunikasi dan meminimalkan dampak negatif terhadap hubungan sosial.