cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Intizar
ISSN : 14121697     EISSN : 24773816     DOI : -
Intizar Journal (ISSN: 1412-1697) and (E-ISSN: 2477-3816) is a peer-reviewed journal which is published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang publishes biannually in June dan December. This journal publishes current concept and research papers on Islamic Studies and Muslim Communities from interdisciplinary perspective, especially in Education; Culture; Politic; Law; Tafsir; Sufism; and Fiqh.
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia Abad 19 dari Ortodoksi ke Politisasi Muhammad Noupal
Intizar Vol 22 No 2 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i2.943

Abstract

Setidaknya ada beberapa hal penting dalam tulisan ini; pertama, perkembangan tarekat Naqsabandiyah pada abad 19 terjadi secara luas. Tidak hanya di Indonesia tetapi di hampir seluruh wilayah muslim. Hal ini disebabkan karena dominasi faham wujudiyah (tasawuf falsafi) yang melekat pada tarekat Syattariyah mulai ditinggalkan oleh masyarakat muslim akibat serangan gencar kaum tradisionalis (tasawuf sunni). Proses peralihan dalam kurun ini menyebabkan tarekat Naqsabandiyah menjadi diminati. Kedua, kritik pedas kaum tradisionalis juga dilakukan oleh para ulama fikih kepada bid’ah tarekat. Kesesuaian dengan al-Quran dan sunnah seperti yang menjadi landasan tasawuf sunni akhirnya membuat tarekat Naqsabandiyah (dan terekat non faham wujudiyah) diminati oleh masyarakat muslim. Ketiga, kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda terhadap tarekat, terutama Naqsabandiyah saat itu, diarahkan kepada tarekat dalam arti politik, termasuk di dalamnya gerakan Pan-Islamisme. Tetapi sepanjang tidak berpolitik, pihak konial tidak membatasi tarekat.At least there are some important things in this article; First, the development of widespread Naqsabandiyah congregation in the 19th century. It happens not only in Indonesia but also in almost all Muslim lands. This is due to the dominance of ideology Wujudiyah (Sufism philosophical) attached to Syattariyah congregation begins to be abandoned by the Muslim community as a result of the onslaught of the traditionalists (Sufism of Sunni). The process of transition in this period leads Naqsabandiyah to be desirable. Second, harsh criticism of the traditionalists is also done by the jurists to heretical congregation. Compliance with the Quran and the Sunnah as the basis of Sufism Sunni finally made Naqsabandiyah congregation (and congregation of non wujudiyah’s thought) demand by the Muslim community. Thirdly, the Dutch colonial government fears the congregation, especially Naqsabandiyah. Then, it is directed to the congregation in a political sense, including the movement of Pan-Islamism. But as long as there are no politics, colonial party does not restrict the congregation.
Membentuk Madrasah Diniyah Sebagai Alternatif Lembaga Pendidikan Elite Muslim Bagi Masyarakat Zulfia Hanum Alfi Syahr
Intizar Vol 22 No 2 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i2.944

Abstract

Madrasah Diniyah sebagai lembaga pendidikan nonformal berbasis keagamaan yang pelaksanaannya dilakukan sore hari setelah jam sekolah formal. Kurikulum Madrasah Diniyah yang sederhana dan alokasi waktu belajar yang pendek tidak menjadi hambatan bagi Madrasah Diniyah untuk menghasilkan peserta didik yang berpendidikan dan intelek. Sehingga, keberadaan Madrasah Diniyah mampu berkembang menjadi salah satu sekolah elite muslim yang dapat mengakomodasi kebutuhan pendidikan agama Islam oleh masyarakat menengah ke bawah karena biaya pendidikannya yang murah. Selain itu, Madrasah Diniyah juga mampu bersaing dengan sekolah elite muslim lainnya yang memiliki biaya pendidikan lebih mahal. Oleh sebab itu, di era modernisasi sekarang ini pengelola Madrasah Diniyah harus mampu menghindari godaan materi dan sekuleritas kurikulum dalam penyelenggaraan pendidikannya. Tujuannya adalah untuk mencetak para muslim generasi muda yang cerdas pengetahuan serta iman dan taqwanya.Diniyaa Madrasaa as a non-formal educational institutions based on religious activities which are carried out at evening after formal school hours. DiniyaaMadrasaa’s simple curriculum and short period learning activity is not being a barrier for producingeducated and intellectualstudents. Thus, the existence of DiniyaaMadrasaa can be developed into one of the moslem elite schools that can accomodate the education needed oflower middle classpeople because the tuition fee is cheap. DiniyaaMadrasaaalso able to compete with other moslem elite school that has more expensive tuition fees. Therefore, now in the era of modernization, the manager of Diniyaa Madrasaa should avoid the temptation of material and secularism curricullum in the education activity. The purpose is to create the smart young moslem generation in knowledge and faith. 
Perilaku Konsumsi Upaya Meningkatkan Potensi Produk Deposito di Bank Syariah Tri Mulanto
Intizar Vol 22 No 2 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i2.945

Abstract

Perbankan syari’ah saat ini telah memiliki payung hukum yang kuat dengan hadirnya undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syari’ah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi dari perbankan syari’ah yang semakin diminati oleh banyak kalangan.Bank syari’ah membutuhkan dana dalam menjalankan produk pembiayaannya. Deposito merupakan salah satu produk penghimpunan di bank syariah. Deposito di bank syariah terus mengalami pertumbuhan. Walaupun demikian bank syariah tetap harus meningkatkan produk deposito, untuk mencapai market share 5 persen. Untuk meningkatkan volume deposito bank syariah perlu memahami bentuk perilaku konsumsi masyarakat. Dari data yang ada kontribusi dana pihak ketiga bank syariah diberikan oleh produk deposito sebesar 71,15 persen.Penulisan ini menggunakan jenis deskriptif kualitatif, Batasan dalam tulisan ini difokuskan pada produk deposito di bank syari’ah perilaku konsumen.Tulisan ini menggunakan studi pustaka kajian dari berbagai sumber. Hasil dari tulisan ini bahwa deposito di bank syariah terus mengalami perkembangan, pada tahun 2015 pertumbuhan deposito di bank syariah mencapai 4,12 persen. Perilaku konsumsi memiliki banyak faktor dan bisa memberi pengaruh terhadap peningkatan produk deposito di bank syariah. Sehingga bank syariah perlu memahami perilaku konsumsi masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi pengembangan produk deposito di bank syariah.potensi pengembangan produk pembiayaan mudharabah di bank syari’ah masih sangat besar.Potensi pengembangan produk deposito masih sangat besar dan sangat luas.Bank of Shariah now has a solid legal with the presence of the law number 21 in 2008 about Bank of Shariah.  This adversely affects the existence of the Shari'ah Bank that increasingly catches interest many people. Bank of Shari'ah requires funds in running financing products. Deposits are ones’ product accumulation in Islamic banks. Deposits in Islamic banks continued to grow. Nevertheless, Islamic banks still have to increase deposit products, to achieve a 5 percent market share. To increase the volume of deposits of Islamic banks need to understand the behaviors of consumption. From the available data the contribution of third party funds provided by the Islamic banks deposits amounted to 71.15 persen. This study uses a descriptive qualitative limitation. This paper is focused on products in Consumers Islamic bank deposits. This study uses literature review of various sources. The results of this paper that the deposits in Islamic banks continued to experienced growth, in 2015 the growth of deposits in Islamic banks reaches 4.12 percent. Consumer behavior has many factors and can give effect to an increase in deposit products in Islamic banks. So that Islamic banks need to understand the behavior of private consumption in order to increase the potential for product development of deposits in Bank of Shariah. The advantage of product development in Islamic bank financing is still enormous. The advantage of deposit product development is still very large and very spacious.
Konsep Ketuhanan (T’ien) dan Relevansinya dengan Pembentukan Etos Kerja dalam Ajaran Kong Hu Cu (Konfusius) Nazwar Nazwar
Intizar Vol 22 No 2 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i2.946

Abstract

Artikel ini membahas konsep Ketuhanan Konfusius yang berkaitan dengan etika kerja para penganutnya. Konsep ketuhanan yang dianalisa berdasar pada perspektif Filsafat, kemudian ditarik kepada realita tindakan sosial penganut ajaran Konfusius, dengan menggunakan data yang diperoleh berupa semangat kerja dan pemenuhan kebutuhan hidup para penganut pandangan hidup ini. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa konsep ketuhanan yang terdapat dalam ajaran Konfusius adalah paradigma fungsional. Dalam keyakinan tersebut, relasi antara Tuhan dan manusia didasarkan pada nilai fungsi. Tuhan diyakini berdasar pada peranannya terhadap kehidupan manusia. Begitupun sebaliknya, manusia diyakini berperan dalam pemenuhan keinginan Tuhan. Sehingga dalam ibadahnya yang paling menonjol adalah ritual korban. Semakin banyak korban yang dipersembahkan, maka kehidupanpun akan semakin subur dan makmur. Berdasarkan paradigma demikian, para penganut Konfusius kemudian mempunyai semangat kerja tinggi. Dengan tujuan selain  pemenuhan kebutuhan hidup, juga merupakan usaha pemenuhan kebutuhan spiritual dalam rangka ibadah kepada T’ien (Tuhan).This article discusses the concept of God Confucius relating to the work ethic of its adherents. The concept of God that is analyzed based on the perspective of philosophy, then pulled to the reality of social action adherents of Confucianism, using the data obtained in the form of morale and subsistence adherents of this view of life. Based on this research, it was found that the concept of God contained in the teachings of Confucius is the functional paradigm. In that belief, the relationship between God and man is based on the value of the function. God is believed, based on its role in human life. Vice versa, humans are believed to play a role in the fulfillment of God's will. Thus, in the worship of the most prominent is the ritual sacrifice. The more sacrifices be offered, the more fertile and prosperous life will be. Based on such a paradigm, the Confucians then have a high morale. For purposes other than the needs of life, is also a spiritual business needs in order to the worship to T'ien (God).
Merebut Kursi Impian Partisipasi Perempuan di Tengah Intervensi Negara dan Dinasti Politik Adek Risma Dedees
Intizar Vol 22 No 2 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i2.947

Abstract

Kebijakan affirmative action merupakan bentuk diksriminasi positif bagi perempuan di Indonesia untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan dan pengambilan kebijakan di parlemen. Dengan kebijakan ini kesadaran gender di parlemen pelan tapi pasti memberikan harapan bagi perjuangan dan keadilan perempuan. Kebijakan affirmative action diharapkan mampu mengubah wajah parlemen yang bias kepentingan patriarki menuju kebijakan-kebijakan yang lebih ramah kepada perempuan. Sementara itu, partisipasi perempuan melalui dinasti politik sebagai sandaran tidak bisa disebut jelek atau tidak memiliki modal atau pengetahuan berpolitik. Sebagai tahap awal dan lewat jalur apapun, lebih baik rakyat melihat perempuan di posisi paling tinggi di pemerintahan, perusahaan, dan organisasi daripada tidak sama sekali. Jenis penelitian ini kualitatif interpretatif dengan kajian pustaka perihal persoalan partisipasi perempuan dalam ranah politik.Affirmative action policies are forms of positive discrimination for women in Indonesia to be directly involved in the manufacturing process and policy making in parliament. With this policy of gender awareness in parliament, it slowly but surely gives hope to women's struggle and justice. Affirmative action policies are expected to change the face of parliament biased towards the interests of patriarchal policies that are more friendly to women. Meanwhile, the participation of women through political dynasty as the backrest cannot be called bad, or does not have the capital or knowledge of politics. As an early stage and through any path, it is much better people's view of women is in the highest positions in the government, companies, and organizations than nothing at all. This type of research is qualitative interpretive literature review regarding the issue of women's participation in the political sphere.
Kultur Asrama Berbasis Sekolah Sebagai Pusat Pembinaan Karakter (Studi Kasus di SMPIT Al-Furqon Palembang) Munir Munir
Intizar Vol 22 No 2 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i2.948

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang mendeskripsikan tentang kultur asrama di SMPIT Al-Furqan Palembang, memahami makna filosofis asrama bagi masyarakat belajar SMPIT Al-Furqan Palembang, serta memahami sistem nilai dalam kultur tersebut pada konteks pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, yakni dengan menjadikan SMPIT Al-Furqan Palembang sebagai objek penelitian. Sedangkan sumber primer dalam penelitian ini, yakni berasal dari hasil observasi dan didukung juga dengan hasil wawancara. Sedangkan yang menjadi informan dalam kajian ini adalah para siswa dan para tenaga pendidik, pembina dan kepala asrama, kepala sekolah, pengurus dapur, petugas keamanan dan ketertiban asrama, kantin dan toko di sekitar asrama, serta beberapa orang wali siswa. Artikel ini menyimpulkan bahwa karakter yang ingin ditanamkan kepada setiap siswa/ peserta didik di SMPIT Al-Furqan Palembang, yakni: religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, peduli lingkungan, peduli sosial, dll. Karakter ini akan dicapai dengan membuat tata tertib peraturan, panduan dan sangsi atas setiap pelanggaran.                              This article is the result of research that describes about the dormitory culture at Al-Furqan SMP IT Palembang, understanding the philosophical meaning of hostels for people to learn SMPIT Al-Furqan Palembang, as well as understanding the value system of the culture in the context of contemporary Islamic education. This research is a field study, by making SMP IT Al-Furqan Palembang as research objects. While the primary source in this study is derived from the observation and supported also by the results of the interview. While the informants in this study are students and educators, teachers and matron, principals, kitchen staffs, security guards and order cafeterias and shops around the dormitory, as well as several students’ parents. The article concludes that the character who wants to be imparted to each student / learner in SMP IT Al-Furqan Palembang, namely: religious, honest, tolerant, disciplined, hard work, creative, independent, democratic, environmental care, social care, and so on. These characters will be achieved by making the disciplinary regulations, guidelines and sanctions for any violations.
Relevansi Sistem Khilafah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Dengan Sistem Negara Islam Modern Muhammadin Muhammadin
Intizar Vol 22 No 2 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i2.949

Abstract

Hizbut Tahrir adalah organisasi politik Islam yang independen. Organisasinya memiliki kekhasan seperti; berasaskan syari’at Islam, ide dan aksi politiknya bukan politik praktis tetapi politik-ideologis, konseptual, rasionalis dan non-kekerasan. Hizbut Tahrir mengkonsepsikan politik sebagai al-ri’ayah al-syuuni al-ummah; tanggung jawab untuk menguasai kepentingan dan kemaslahatan umat. Sebab itu, pemikiran dan aktivitasnya dimantapkan pada tataran politik sebagai wujud pelaksanaan urusan umat. Dalam konteks gerakan pendirian khilafah menurut Hizbut Tahrir Indonesia ada dua. Pertama, gagasan-gagasan tentang sistem pemerintahan Islam harus berbentuk khilafah artinya bukan berbentuk republik, diktator, kekaisaran, monarkhi, federal atau sistem demokrasi; pilar-pilar pemerintahan Islam harus ditegakkan atas dasar kedaulatan di tangan syara’, kekuasaan hanyalah milik umat, mengangkat satu khalifah hukumnya wajib dan hanya Khalifah yang berhak mengadopsi terhadap hukum-hukum syara’; struktur lembaga negara Khilafah harus ada Khalifah, Muawin at Tafwidh, Mu’awin at Tanfidz, Wali, Amir al Jihad, Al Qadhi, Mashalih Daulah,  dan Majelis Umat; rancangan undang-undang dasar dan sistem Islam memiliki keunggulan-keunggulan di bidang politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan dan pidana.  Kedua, strategi Hizbut Tahrir dalam upaya penegakan Khilafah berupa pembinaan intensif melalui halqah-halqah; pembinaan umum melalui pengajian-pengajian umum di masjid-masjid, gedung-gedung dan tempat-tempat umum, melalui media massa, buku-buku dan selebaran-selebaran dan penerbitan majalah bulanan dan bulletin mingguan; pergolakan pemikiran untuk menentang kepercayaan, aturan dan pemikiran-pemikiran kufur; perjuangan politik berbentuk berjuang menghadapi negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi negara-negara Islam, mengadopsi kemaslahatan umat dan melayani seluruh urusannya sesuai dengan hukum-hukum syara’. Sistem khilafah tetap relevan dengan sistem negara Islam modern sehingga sangat rasional untuk diperjuangkan dan didukung oleh seluruh umat Islam.  Dalam melakukan aktivitasnya Hizbut Tahrir hanya membatasi aktivitasnya dalam dua aspek yaitu dakwah intelektual (fikriyah) dan dakwah politis (siyasiyah) serta tidak menggunakan kekuatan fisik (laa madiyah). Semua pemikiran dan aktivitasnya senantiasa muncul dan berlandaskan pada aqidah Islamiyah.Hizb ut-Tahrir is an independent Islamic political organization. His organization has its peculiarities such as; berasaskan Shari'ah, ideas and political action is not practical politics but political-ideological, conceptual, rationalists and non-violence. Hizb ut-Tahrir political conceived as al-ri'ayah al-syuuni al-umma; responsibility for the control of the interest and benefit of the people. Therefore, thinking and activity strengthened at political level in terms of carrying the affairs of the people. In the context of the establishment of Khilafat movement Hizb ut-Tahrir Indonesia by two. First, the ideas of the Islamic system of government must take the form of caliphate means not a republic, dictator, empire, monarchy, federal and democratic system; the pillars of the Islamic government must be established on the basis of sovereignty in the hands of Personality ', power belongs to the people, lifting the caliph is obligatory and only Khalifah has the right to adopt the laws Personality'; structure of the Khilafah state institutions there should be Caliph, Muawin at Tafwidh, Mu'awin at tanfidh, Wali, Amir al Jihad, al-Qadi, Mashalih Daulah, and the Assembly of the People; the draft constitution and Islamic system has advantages in the fields of politics, economics, education, and criminal association. Second, the strategy of the Hizb in efforts to uphold the Caliphate in the form of intensive training through halqah-halqah; general guidance through common study groups in mosques, buildings and public places, through the mass media, books and leaflets and publishing a monthly magazine and weekly newsletter; upheaval rationale for opposing beliefs, rules and ideas of kufr; political struggle shaped battling imperialist infidel countries who control and dominate the Islamic countries, adopted the benefit of the people and serving the whole affair in accordance with the laws of Personality'. Caliphate system remains relevant to modern Islamic state system so it is rational to be fought and supported by all Muslims. In conducting its activities Hizb just restrict its activities in two aspects: intellectual da'wah (fikriyah) and political propaganda (Siyasiyah) and do not use physical force (laa Muhammadiyah). All the thoughts and activities continue to emerge and be based on aqidah Islamiyah.
Meneropong Wajah Studi Islam dalam Kacamata Filsafat: Sebuah Pendekatan Alternatif Toni Pransiska
Intizar Vol 23 No 1 (2017): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v23i1.1270

Abstract

Islam sebagai penebar kedamaian dan kasih sayang (rahmatan li al-‘ālamīn). Tentunya, memiliki beberapa konseptual, dogma, nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran yang komprehensif. Hal inilah yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan dan kehancuran. Oleh sebab itu, nilai-nilai dan ajaran islam harus selaras dengan norma-norma hidup manusia dan akomodatif terhadap kemajuan zaman kontemporer saat ini (shālih li kulli zamān wa makān). Islam dituntut untuk dapat memberikan sumbangsih pemecahan permasalahan (problem solving). Salah satu upaya tersebut adalah mengkaji islam dengan pendekatan filsafat (philosophy approach). Pendekatan ini memandang problematika keagamaan dari perspektif filsafati dan mencoba memberikan tawaran solusi dan pemecehan masalah dengan metode analitis-kritis. Dengan begitu, Islam sebagai agama yang berisi dogma dan ajaran, dapat dipahami dan dikaji secara mendalam, komprehensif dan mengungkap hikmah dibalik ritual dan ajarannya.
Arah Pengembangan Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural Akmal Hawi; Qolbi Khoiri
Intizar Vol 23 No 1 (2017): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v23i1.1271

Abstract

Agama, pemahaman keagamaan, sikap keberagaman adalah tiga pengertian yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Agama adalah persoalan ketuhanan yang diturunkan kepada manusia untuk dipahami, dijadikan pegangan dan prinsip mengatur kehidupannya. Agama sesungguhnya secara normatif adalah ajaran suci, penuh kedamaian, kemuliaan dan menghargai kemanusiaan. Masalah mendasar menyangkut persoalan keagamaan antar pemeluk agama satu dengan lainnya. Pendidikan Agama diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai multikulturalisme dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa, sehingga peran pendidikan agama menjadi sangat penting dalam pembangunan bangsa dan negara dalam bingkai prinsip-prinsip keadilan, toleransi, kerjasama, kerja keras, dan saling memahami perbedaan.
Implementasi Program Rehabilitasi Narkoba Berbasis Masyarakat di Pusat Rehabilitasi Narkoba ar-Rahman Tegal Binangun Palembang Miswanto Miswanto; Tarya Tarya
Intizar Vol 23 No 1 (2017): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v23i1.1272

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pusat rehabilitasi narkoba di Sumatera Selatan yang dalam proses penerapannya berbasis masyarakat dengan menggunakan pendekatan Comunity yang berujung pada proses spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertama, implementasi program rehabilitasi narkoba melalui tiga tahap yaitu, tahap biologis-medis, psikoterapi-psikologi, dan tahap moral-spiritual. Pada tahap biologis-medis meliputi; detoksifikasi, mandi, dan memotong rambut serta kuku. Tahap psikoterapi-psikologi meliputi; isolasi dan motivasi, tahap terakhir adalah tahap moral-spiritual meliputi; pendidikan dasar-dasar agama, sholat berjama’ah, zikir dan membaca al-Qur’an. Kedua, faktor pendukung dan penghambat, faktor pendukung yaitu; sarana prasarana yang mendukung, adanya perhatian dan kasih sayang pembimbing, dan adanya dukungan dari pemerintah. Faktor penghambat yaitu; keadaan pecandu yang parah dan tidak adanya dukungan dari orang tua. Ketiga, Output program rehabiilitasi narkoba yaitu; adanya perubahan perilaku dan mental, munculnya kesadaran untuk berhenti mengkonsumsi narkoba, munculnya ketaatan dalam beribadah, dan meningkatnya jumlah anak bina yang dinyatakan selesai menjalani proses rehabilitasi.

Page 9 of 22 | Total Record : 213