cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Published by Universitas Riau
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 91 Documents
STUDI TENTANG IMPLEMENTASI NILAI-NILAI BUDI PEKERTI SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 21 PEKANBARU EDDISON, AHMAD
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 10, No 2 (2015)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pelanggaran dan kenakalan siswa kelas VIII di SMP Negeri 21 Pekanbaru. Banyak informasi didapat dari guru agama, PKn dan BK yang menyatakan banyak sekali siswa yang kurang atau rendahnya etika dan sopan santunnya terhadap guru maupun teman-temannya. Apalagi peneliti secara langsung mengadakan observasi di sekolah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi nilai-nilai budi pekerti siswa kelas VIII di SMP Negeri 21 Pekanbaru serta mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini sebesar 387 orang (keseluruhan siswa kelas VIII) dengan mengambil 10%, jadi sampel sebanyak 40 orang siswa dan 2 orang guru mapel. Pengambilan data dilakukan dengan teknik angket, observasi, dan wawancara. Dalam memperoleh data dari angket yang disebarkan kepada responden dalam bentuk persentase menggunakan rumus: P = F/N x 100%. Hasil penelitian diketahui bahwa implementasi nilai-nilai budi pekerti siswa kelas VIII di SMP Negeri 21 Pekanbaru yaitu sering 62,98%, kadang-kadang 32,96%, dan tidak pernah 4,05%. Sedangkan dari wawancara guru mata pelajaran disimpulkan bahwa implementasi nilai-nilai budi pekerti banyak disampaikan dalam pelajaran dan saat jam pembinaan setiap hari sabtu. Memang banyak faktor penghambat yang dirasakan oleh guru mata pelajaran, tetapi para guru sudah cukup baik dalam menyampaikan nilai-nilai budi pekerti untuk diterapkan di lingkungan sekolah seperti slogan 3S yaitu (senyum, sapa, salam). Jadi, implementasi nilai-nilai budi pekerti siswa kelas VIII di SMP Negeri 21 Pekanbaru masih cukup baik yaitu sebanyak 62,98% menurut tolak ukur pendapat Sutrisno Hadi, sehingga hipotesis yang diajukan ditolak.
PERAN P2TP2A DALAM PENDAMPINGAN ANAK-ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL BERMASALAH SOSIAL DI SIJUNJUNG KOSASSY, SITI OSA
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud mengkaji peran Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) dalam pendampingan anak-anak korban kekerasan seksual bermasalah sosial di Kabupaten Sijunjung. Tujuan penelitian yang penulis lakukan adalah: (1) untuk mengetahui bagaimana peran P2TP2A dalam menangani kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Sijunjung; dan (2) untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi P2TP2A dalam pendampingan anak-anak korban kekerasan seksual bermasalah sosial di Kabupaten Sijunjung. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan mempergunakan metode deskripsi dengan pendekatan kualitatif, dan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Melalui penelitian, diketahui bahwa pendampingan anak korban kekerasan di P2TP2A adalah pendampingan medis, psikologis dan yuridis. Pendampingan dilakukan dengan cara home visit setelah mendapatkan laporan dari pihak-pihak baik kepolisian, masyarakat maupun keluarga mengenai kasus kekerasan yang dialami anak di suatu tempat. Melalui penelitian, diketahui pula bahwa ada faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi P2TP2A dalam pendampingan anak-anak korban kekerasan seksual bermasalah sosial di Kabupaten Sijunjung. Dari hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang peneliti ajukan, yaitu: perlu ditingkatkan lagi fasilitas kegiatan pendampingan, perlu adanya penambahan pendamping, dan agar lebih dewasa dalam menyikapi tingkah laku anak.
Instrumen Hak Anak dan Rekomendasi Dalam Pemenuhan HAM Kartikowati, Sri
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 4, No 2 (2009)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya pemenuhan hak anak di Indonesia senantiasa menarik untuk dibahas bukan semata karena aspek ketergantungan anak pada orang dewasa melainkan karena anak adalah manusia bukan orang dewasa dalam ukuran kecil sehingga ada hak anak yang melekat pada dirinya. Sejumlah aturan perundangundangan telah diterbitkan untuk menjamin terwujudnya pemenuhan hak anak namun aturan tersebut tidak cukup ampuh dalam implementasinya.permasalahan makro ini dapat diatasi dengan memulainya dalam skala kecil, yakni peran "orang tua/keluarga" dalam pemenuhan hak anak. Tulisan ini bertujuan mengajak pembaca mengenal tentang hak anak, instrumen dan rekomendasi bagi orang tua dalam pemenuhan hak anak. Kajian hak anak ini dilakukan studi kepustakaan, termasuk dokumentasi tentang kebijakan-kebijakan terkait. Dengan menggunakan pendekatan yang merujuk pada hukum/instrumen hak anak, hasil tulisan ini adalah identifikasi tentang instrumen hak anak; dan rekomendasi bagi orang tua dalam implementasi hak anak, meliputi (1)Katakan bahwa 'setiap anak adalah istimewa' (every child is special); (2)Perawatan (Caring) dan (3)Pengasuhan (Nurturing)
PENGARUH ART SONG ROMANTIK KE BENTUK KREATIVITAS LOCAL GENIUS KOMPONIS INDONESIA ', NURKHOLIS
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lagu Seriosa ditinjau dari bentuk dan struktur lagu seni adalah pengaruh dari gaya art song Romantik di Eropa, atau tepatnya adaptasi bentuk lieder Jerman yang mencirikan strophic, through-composed, song cycle. Namun di Indonesia, bentuk-bentuk lieder tersebut dimodifikasi oleh kalangan komponis dengan memasukkan idiom-idiom musikal Nusantara yang mewujud ke bentuk lagu seni khas Indonesia.
URGENSI PERENCANAAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR Sahnan, Muhammad
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan adalah salah satu dari fungsi manajemen yang sangat penting. Bahkan kegiatan perencanaan ini melekat pada kegiatan sekolah. Sebuah rencana akan sangat mempengaruhi sukses atau tidaknya suatu kegiatan. Oleh karena itu pekerjaan yang baik adalah yang direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan. Bagi sebuah lembaga pendidikan, khususnya sekolah dasar, perencanaan menempati posisi strategis dalam keseluruhan proses pendidikan. Perencanaan pendidikan itu memberikan kejelasan arah dalam usaha proses penyelenggaraan pendidikan, sehingga manajemen lembaga pendidikan akan dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien. Untuk terselenggaranya pendidikan yang efektif di sekolah dasar, diperlukan perencanaan. Dengan perencanaan akan mengarahkan sekolah tersebut mencapai tujuan apa yang telah ditetapkan. Artinya, perencanaan memberi arah bagi ketercapaian tujuan sebuah sistem, karena pada dasarnya sistem akan berjalan dengan baik jika ada perencanaan yang matang. Perencanaan akan dianggap matang dan baik, jika memenuhi persyaratan dan unsur-unsur dalam perencanaan itu sendiri. Namun apabila dilihat dalam kenyataan kesehariannya, unsur perencanaan pendidikan masih lebih banyak dijadikan faktor pelengkap atau penjabaran kebijakan pimpinan, sehingga sering terjadi tujuan yang ditetapkan tidak tercapai secara optimal. Salah satu penyebabnya adalah para perencana pendidikan masih kurang memahami proses dan mekanisme perencanaan dalam konteks yang lebih komprehensif. Selain itu, posisi bidang perencanaan belum merupakan key factor keberadaan suatu institusi pendidikan. Langkah-langkah perencanaan di sekolah dasar meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai, (2) meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan, (3) mengumpulkan data-data atau informasi-informasi yang diperlukan, (4) menentukan tahapan-tahapan atau rangkaian tindakan, (5) merumuskan bagaimana masalah-masalah akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu harus diselesaikan, (5) menentukan siapa yang akan melakukan dan apa yang mempengaruhi pelaksanaan dari tindakan tersebut, dan (6) menentukan cara bagaimana mengadakan perubahan dalam penyusunan rencana.
JASA ORANG LAUT DAN ORANG-ORANG ASLI DALAM KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGAN PERADABAN KERAJAAN MELAYU RIAU Haryono, Haryono
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Kerajaan dibumi lancing kuning berjumlah 29 Kerajaan/ Kesultanan (Yose Rizal, 2018). Dalam kajian ini ditulis 5 Kerajaan yang melahirkan jasa para tokoh dan Masyarakat Orang – Orang Asli, diantaranya jasa Orang Laut, jasa Orang Talang Mamak, jasa Orang Petalangan, jasa Orang Sakai, jasa Orang Bonai, jasa Orang Akit, jasa Orang Anak Rawa serta jasa Orang Hutan/ Suku Asli. Jasa ini semua dimulai sejak awal berdiri masa kejayaan sampai redup atau hilangnya kerajaan-kerajaan melayu di Riau tersebut, yaitu Kerajaan Indragiri, Kerajaan Siak Sri Inderapura, Kerajaan Pelalawan, Kerajaan Kunto Darussalam, Kerajaan Gasib. Hasil kajian ini menemukan kesimpulan terbaru yang menyatakan bahwa (1).Tidak mungkin ada kerajaan Indragiri jika Orang laut tidak bersedia mengantar Nara Singa II sampai di tanah kerajaan leluhurnya. (2).Tidak mungkin ada kerajaan Siak Sri Inderapura jika Orang Laut tidak menyelamatkan Raja Kecik dimasa kecilnya. (3).Tidak akan lengkap prosesi penabalan sultan Indragiri jika Orang Talang Mamak tidak bersedia menjalankan prosesi pengukuhan sampai pada junjung duli. (4).Tidak akan ada perlawanan terhadap belanda jika Orang Petalangan menolak membantu Sultan Assyaidis Syarif Ali Tengku Sentol melawan belanda. (5).Tidak akan terpungut pajak jika Orang Sakai tidak bersedia memungut pajak didaratan. (6).Tidak akan ada perlawanan Sultan Syarif Kasim II terhadap belanda tanpa bantuan Orang Akit dan Sikoyan sebagai tokoh sentralnya. (7).Tidak akan ada yang memungut pajak disepanjang sungai jantan jika Orang Anak Rawa tidak bersedia memungutnya. (8).Tidak akan ada penjaga wilayah Kunto Darusalam jika Orang Bonai tidak ingin bekerjasama. (9).Tidak akan ada orang pada masa kerajaan gasib yang berani membuka tanah maupun hutan untuk mendirikan kerajaan tanpa ada izin dari Orang Hutan/ Suku Asli.
DESAIN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERMUATAN MOTIVASI DAN KARAKTER Irwandi, Irwandi
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

It is important to think that all of the learning activities are tied closely to learners’ motivation and character building. Motivationincites or stimulates the learners to attain their purpose, and while, character is the measurement of people’s perceived manners and an overall evaluation of people’s inward and outward behavior. Without having high motivation, there is no a dynamics in the class. On the contarary, motivated learners are willing to work hard, focus their attention on the tasks, and may even promote collaborative learning and stimulate others in the classroom. Learning English does not mere focus on the mastery of language skills, but it has the dimension of character building. This paper is an attempt to propose a design of instruction for learning English languageon the dimension of motivation and character building. It mostly includes the concept of motivation, character, and the model of design of instruction for English class on motivation and character building based-orientation.
LANJUT USIA DAN PERMASALAHANNYA ', SUPRIADI
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 10, No 2 (2015)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses bertambahnya usia mulai dari lahir hingga tua merupakan proses alamiah yang mesti terjadi dan tidak dapat dihalang-halangi dengan cara apapun. Sebagai manusia yang bijak, hal yang mesti dilakukan hanyalah berusaha memahami masing-masing tahap perkembangan tersebut, berikut dengan ciri-cirinya, gejala-gejalanya, dan perkembangan psikologis yang terjadi pada priodesasi tertentu.
DIVERSITAS SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN GENDER KOSASSY, SITI OSA
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is a pluralistic country that there are various tribes from Sabang to Merauke. As a result of this diversity conflicts often occur that are horizontal, such as the conflict in Poso, Sampit conflict, ethnic violence in China in 1998 and various other conflicts that resulted in deaths. Besides pluralism in Indonesia, there are also shades of the gender differences between men and women in various ways, such as education, the working world and others. to solve it is necessary for multicultural education and gender. Multicultural education as a new paradigm that was born in the late twentieth century had a vision and a program to prepare young people to face the global world community in a multicultural frame. Multicultural education as a program designed based on the dimensions: content integration, knowledge construction, prejudice ruduction, equitable pedagogy, and empowering school culture and social structure. So, the school must teach how multicultural education and gender to eliminate all the differences that occur in the community and make life full of peace and tolerance.
MEMBUDAYAKAN KESADARAN BERKONSTITUSI MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Pebriyenni, Pebriyenni
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya adalah keseluruhan sistem sosial yang membangun suatu komunitas. Sistem sosial yang diadopsi oleh bangsa Indonesia diabadikan dalam undang-undang dasar atau konstitusi Negara Republik Indonesia. Konstitusi adalah bentuk naskah legitimasi kedaulatan rakyat dan kontrak sosial yang mengikat setiap warga negara dalam membangun pemahaman tentang kedaulatan rakyat. Sekarang ini konstitusi yang berlaku di Negara Republik Indonesia adalah UUD 1945. UUD 1945 akan bisa dilaksanakan secara baik, jika ada pemahaman dan kesadaran semua warga konstitusional sehingga orang dapat melakukan kontrol atas administrasi negara. Dengan kata lain, membangun kesadaran konstitusional merupakan upaya untuk memungkinkan penerapan UUD 1945 dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara konsisten. Agar setiap institusi dan warga negara Indonesia dapat menjalankan kehidupan bernegara berdasarkan UUD 1945, maka diperlukan tumbuhnya budaya kesadaran konstitusional pada mereka. Untuk menumbuhkannya diperlukan pemahaman akan nilai dan norma yang menjadi dasar substansi konstitusi. Pemahaman itu bisa dilakukan melalui pendidikan formal dan nonformal, di antaranya yang sangat penting adalah melalui Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) atau Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Karena itu diperlukan peningkatan kompetensi pendidik di bidang disiplin tersebut, baik di level pendidikan dasar, menengah maupun tinggi.

Page 3 of 10 | Total Record : 91