cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Published by Universitas Riau
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 91 Documents
Studi Perbandingan Motivasi Berprestasi Antara Mahasiswa Jurusan Pendidikan IPA Jurusan Penddikan IPS Yakub, Elni
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 4, No 2 (2009)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mencoba mencari jawaban dari keresahan yang ditemui dalam proses pembelajaran dikelas, tentang motifasi berprestasi pada dua kelompok mahasiswa yaitu jurusan Pendidikan IPA dan Pendidikan IPS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan motifasi berprestasi antara mahasiswa jurusan Pendidikan IPA dan  Pendidikan IPS serta hasil belajarnya. Teknik analisa data yang dipakai adalah menggunakan uji t. Analisa dilakuan dengan sistim komputerisasi memakai program SPSS versi 11. Data diambil dari respon menggunakan teknik angket untuk menjaring skor motifasi berpestasi, serta  teknik dokumentasi untuk mendapatkan hasil belajar. Hasil penelitian ini menggunakan rata-rata skor motifasi berprestasi mahasiswa jurusan Pendidikan IPA lebih tinggi dibandingkan dengan jurusan Pendidikan IPS. Sedangkan hasil hipotesis membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan skor motofasi berprestasi antara mahasiswa jurusan Pendidikan IPA dengan Pendidikan IPS. Begitu juga prestasi belajar yang mereka peroleh menjukuan perbedaan.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATERI MENJAGA KEUTUHAN NKRI MELALUI METODE BERMAIN PERAN DENGAN MODEL COOPERATIVE LEARNING KELAS V SDN 138 PEKANBARU IRIANTY, SRIE
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

dipelajari yaitu menjaga keutuhan NKRI. Melalui bermain peran di antara siswa dalam pembelajaran ini, ternyata dapat meningkatkan hasil belajar. Siswa tidak cepat bosan, bahkan berantusias dalam pembelajaran ini. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya hasil belajar siswa. Pada pra siklus hanya 33,33% siswa yang meraih ketuntasan, meningkat ketuntasan menjadi 58,33% pada siklus I dan pada siklus II sebanyak 82,31%. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan yang signifikan apabila kita menggunakan metode dan cara belajar yang tepat sehingga siswa dapat belajar dengan semangat dan meraih prestasi yang kita harapkan.
MORALITAS: PERSPEKTIF KONSEP, TEORITIS DAN FILOSOFIS Hambali, Hambali
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 8, No 1 (2013)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter bangsa merupakan inisiatif yang bertujuan membentuk suasanakepekaan secara serius dengan lingkungan sosial dan masyarakat agar seseorang menjadiindividu yang bertanggungjawab dengan mematuhi prinsip-prinsip kabajikan. MenurutLickona (1996), Ryan & Bohlin (1999) bahwa gerakan pendidikan karakter menekankanaspek kognitif, afektif dan tingkahlaku yang sejalan dengan landasan nilai dan agama bagimewujudkan amalan dan prilaku yang baik. Menurut Huffman (1994), pembangunanwatak seorang murid tidak dapat dipisahkan daripada interaksi mereka dalam masyarakat.Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau keperibadian seseorang yang terbentuk darihasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagailandasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atassejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, danhormat kepada orang lain
URGENSI PENDIDIKAN MORAL SEBAGAI PEMBENTUK WARGA NEGARA YANG BAIK ', HENDRIZAL
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud menjelaskan tentang perlunya diprogramkan pendidikan moral yang lebih luas sebagai pembentuk warga negara yang baik di Indonesia. Hal ini dengan tujuan menyiapkan generasi muda yang lebih bersih. Pendidikan moral yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana cara mengajarkan moral kepada seseorang agar ia bisa mengetahui sesuatu hal yang baik atau buruk dari apa yang dia lakukan, dan agar ia terhindar dari perilaku-perilaku yang melanggar moral. Melalui pendidikan moral dengan model-modelnya akan lebih terarah pembentukan moral generasi muda, karena akan menyentuh semua domain pendidikan, baik kognitif, afektif maupun psikomotorik. Dengan pendidikan moral itu diharapkan dapat tercapai peningkatan kualitas moral.
PENGGUNAAN MEDIA KOMPUTER DENGAN SOFTWARE VMWARE UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI BELAJAR SISTEM OPERASI PADA SISWA KELAS X TKJ1 SMKN 1 BANGKINANG M. Hanif, Fajri
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), berdasarkan hasil sebelumnya bahwa kompetensi belajar system operasi pada siswa kelas X TKJ1 Bangkinang menunjukan hanya 45 % siswa yang nilainya berada diatas kriteria ketuntasan minimal (KKM), setelah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas pada pembelajaran siklus 1 naik  menjadi 58 % dan pada siklus 2 naik lagi menjadi 94 %. Hal ini juga membuktikan bahwa pemilihan media pelajaran yang tepat akan membantu guru dan siswa dalam memahami materi pelajaran yang diberikan, membantu siswa belajar lebih kreatif dan mandiri, siswa lebih leluasa praktek dan tidak takut akan kerusakan alat serta siswa dapat mengembangkan ilmu yang diperdapat melalui penggunaan media komputer dengan software vmware. Dari hasil penelitian Tindakan Kelas dapat disimpulkan bahwa penggunaan media komputer dengan software vmware dapat meningkatkan kompetensi belajar sistem operasi siswa kelas X TKJ I SMK Negeri 1 Bangkinang
KEPEMIMPINAN NASIONAL BERNUANSA ISLAMI DALAM ERA REVOLUSI MENTAL Muslim, Muslim
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia yang sedemikian luas wilayahnya dan beragam budaya serta agamanya membutuhkan sosok pemimpin nasional yang punya wawasan keislaman, kebangsaan dan mampu memberdayakan masyarakatnya dalam era revolusi mental. Revolusi mental merupakan sasaran bagi setiap insan agar menjurus kepada memiliki mental yang baik, sesuai dengan ajaran Islam. Revolusi mental yang baik itu diharapkan dapat “meniru” cara apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW pada zaman jahiliyah dahulu di negeri Arab. Mengapa revolusi mental ini sangat penting? Ternyata mental/akhlak ini mempunyai kedudukan tertinggi dan sangat menentukan baik atau buruknya seseorang dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepemimpinan nasional bernuansa Islami itu sangat penting dalam memimpin negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, karena dengan bernuansa Islami mereka akan terjauh dari korupsi, perbuatan maksiat serta membawa kepada kehidupan yang lebih baik dan masyarakat pun akan merasakan hidup tentram, damai dan sejahtera, terutama dalam era revolusi mental yang sedang giat-giatnya digerakkan pemerintah. Revolusi mental dimulai dari pendidikan, mengingat peran pendidikan sangat strategis dalam membentuk mental anak bangsa. Pengembangan kebudayaan maupun karakter bangsa diwujudkan melalui ranah pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses berkelanjutan dan tidak pernah berakhir (never ending process). Selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis, pendidikan harus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih generasi. Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional, sebagai usaha kita bersama untuk mengubah nasib bangsa Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil dan makmur. Kita harus berani mengendalikan masa depan bangsa kita sendiri dengan restu Allah SWT. Sebab, sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.
MENGURAI HAKIKAT PENDIDIKAN, BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ARFANI, LAILI
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud mengurai hakikat pendidikan, belajar dan pembelajaran. Hal ini dengan tujuan memberi wawasan kepada para pihak di dunia pendidikan untuk semakin memahami hakikat pendidikan serta hakikat belajar dan pembelajaran. Untuk memahami hakikat pendidikan, dibahas pendidikan dalam tinjauan filsafat, konsep pendidikan, dan pendidikan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada hakikatnya, pendidikan merupakan upaya untuk memanusiakan manusia. Mengurai hakikat pendidikan dari ketiga konteks seperti di atas, maka tersirat pula tuntutan untuk memahami hakikat belajar dan pembelajaran. Dalam proses pendidikan, pendidik dan peserta didik merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Di sinilah terjadinya proses belajar dan pembelajaran. Disarankan kepada praktisi pendidikan untuk semakin memahami hakikat pendidikan serta hakikat belajar dan pembelajaran sehingga lebih bisa melakukan upaya untuk memanusiakan manusia.
FAKTOR PENDORONG TERJADINYA TINDAK KEJAHATAN OLEH ANAK DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK TANJUNG PATI Vovriyenti, Rini
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mendorong terjadinya tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tanjung Pati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik dan alat pengum-pulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi; informan dipilih secara purposive sampling; teknik analisis data yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik menjamin keabsahan data digunakan teknik trianggulasi dengan sumber data. Hasil penelitian ditemukan bahwa faktor yang mendorong terjadinya tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tanjung Pati sebagai berikut: Pertama, faktor intrinsik: (a) faktor intelegentia, (b) faktor usia, (c) faktor kelamin, dan (d) faktor kedudukan anak dalam keluarga. Kedua, faktor ekstrinsik: (a) faktor keluarga, (b) faktor pendidikan dan sekolah, (c) faktor pengaruh pergaulan anak, dan (d) faktor pengaruh mass media.
KEDUDUKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN TANPA TANDA TANGAN PRESIDEN SY, HELMI CHANDRA
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menjawab tiga permasalahan, yaitu: Pertama, bagaimanakah pengundangan undang-undang tanpa tanda tangan presiden. Kedua, apakah latar belakang presiden tidak menandatangani Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Ketiga, bagaimanakah akibat hukum dari tindakan presiden yang tidak menandatangani Undang-Undang Penyiaran. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum ini adalah pendekatan yuridis, historis dan konseptual, yang penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, diketahui bahwa pengundangan undang-undang tanpa tanda tangan presiden yaitu diberikan kalimat pengesahan yang berbunyi: “Undang-undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”. Kalimat pengesahan tersebut harus dibubuhkan pada halaman terakhir undang-undang sebelum pengundangan naskah undang-undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Alasan yang menjadi latar belakang sehingga presiden tidak menandatangani Undang-Undang Penyiaran yaitu: (1) adanya materi yang tidak disetujui oleh presiden, dan (2) adanya penolakan dari berbagai kelompok masyarakat. Undang-undang yang lahir tanpa tanda tangan presiden menimbulkan akibat hukum di antaranya yaitu: (a) sebelum undang-undang berlaku telah terjadi permohonan judicial review, dan (b) undang-undang dapat dibatalkan.
Terminal Bis di Sumatera Barat Studi Kasus: Terminal Regional Bingkuang A, Efrianto; Ahmal, Ahmal
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 4, No 2 (2009)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teminal merupakan kebutuhan utama dalam dunia transportasi, keberadaan terminal menjamin lancarnya arus perpindahan manusia dan barang dari suatu tempat ketempat lain. Kegagalan dalam pembangunan terminal memiliki dampak sangat besar dalam kehidupan masyrakata seperti yang dialami mayarakata di Kota Padang. Hampir Sebelas ( 11) tahun mereka mengalami kehidupan tanpa sebuah terminal yang respersentatif. Kajian ini mencoba menjawab kenapa Terminal Regional Bingkung (TRB) yang telah dibangun oleh Pemerintahan Kota Padang sampai gagal berjalan dengan maksimal.

Page 8 of 10 | Total Record : 91