cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Air
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN TANAMAN TEH (Camellia sinensis) DI DESA PURWOSARI, KAPANEWON GIRIMULYO, KABUPATEN KULON PROGO, D.I.YOGYAKARTA Bekti Astuti; R Agus Widodo; Djoko Mulyanto
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v19i1.9464

Abstract

Desa Purwosari Kapanewon Girimulyo merupakan salah satu kawasan pengembangan perkebunan teh di Kapanewon Girimulyo Kabupaten Kulon Progo, D.I.Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lahan, mengevaluasi dan memetakan tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman teh di Desa Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, D.I.Yogyakarta. Penelitian menggunakan metode survey untuk mengetahui kondisi wilayah, metode purposive sampling untuk penentuan titik sampel berdasarkan Peta Sistem Lahan yang dibuat dengan overlay peta jenis tanah, peta tata guna lahan dan peta kemiringan lereng. Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan metode pembandingan (matching) karakteristik lahan dengan kriteria kesesuaian lahan. Parameter penelitian meliputi temperatur rerata, curah hujan, kelembaban, lama masa kering, drainase, tekstur, bahan kasar, kedalaman tanah, KPK tanah, kejenuhan basa, pH H2O, C-organik, N-Total, P2O5, K2O, kemiringan lereng, bahaya erosi, genangan, batuan permukaan, dan singkapan batuan. Karakteristik lahan diperoleh temperature rerata 21,5-24,2oC, curah hujan 2,087,9 mm/tahun, kelembaban udara 78% dan masa kering 4,5 bulan. Drainase tanah baik, tekstur tanah agak halus sampai kasar, bahan kasar sedikit sampai banyak, KPK tanahnya rendah dengan kejenuhan basa sangat rendah sampai sedang, pH tanah 5,3-7,2, C-Organik tanah sangat rendah sampai tinggi, N-Total tanah tinggi sampai sangat tinggi, kadar P2O5 sangat rendah sampai sangat tinggi dan kadar K2O sangat rendah. Bahaya erosinya sangat ringan dan tidak ada bahaya banjir. Batuan permukaan dan singkapan batuan hampir tidak ada. Hasil penilaian kesesuaian lahan dari total luas 459,947 Ha untuk tanaman teh menghasilkan kelas kesesuaian lahan S3wa (Marginal Suitable water availability) 36,11% dan S3warc (Marginal Suitable water availability, root condition) 13,64%.
KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN PISANG DI DESA JETIS KEPANEWON SAPTOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA Binardi Binardi; Partoyo Partoyo; Djoko Mulyanto
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v18i2.9476

Abstract

Kabupaten Gunungkidul memiliki sebagian wilayah yang mempunyai karakteristik lahan yang unik, yaitu termasuk kawasan karst. Kawasan karst pada umumnya tandus,  sulit untuk dilakukan kegiatan bercocok tanam. Hal tersebut terjadi karena sedikitnya air dipermukaan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kesesuaian lahan untuk tanaman pisang di Desa Jetis, Kepanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I. Yogyakarta dan mempelajari faktor pembatas untuk budidaya tanaman pisang serta mengusulkan upaya untuk peningkatan kesesuaian lahan di daerah penelitian. Penelitian ini menggunakan metode survey. Penentuan titik sampel dilakukan berdasarkan Peta Satuan Lahan (PSL) yang dibuat dengan overlay peta tata guna lahan, peta jenis tanah, dan peta kemiringan lereng. Hasil dari overlay didapatkan 22 satuan lahan dan dipilih untuk titik sampel sebanyak 11 satuan lahan. Satuan lahan yang dipilih meliputi tegalan/ladang, kebun, dan semak belukar. Satuan lahan yang tidak diambil meliputi hutan konservasi, pemukiman, dan  hutan produksi. Analisis kesesuaian lahan menggunakan metode matching berdasarkan tabel kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman pisang menurut Djaenudin et al., (2011). Parameter yang diamati meliputi tekstur, KPK tanah, kejenuhan basa, pH H2O, temperatur udara, curah hujan, kelembaban udara, drainase tanah, kedalaman tanah, C-Organik, kemiringan lereng, batuan dipermukaan, dan singkapan batuan besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian lahan di wilayah penelitian untuk tanaman pisang termasuk kelas S3 (re, nr) seluas 105,78 ha (10,75 %), S3 (re) seluas 217,66 ha (22,13 %) dan N (re) seluas 556,07 ha (56,55 %). Perbaikan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki saluran drainase di saat musim hujan dan memperkirakan waktu penanaman, serta membuat terasering.
INDEKS KUALITAS TANAH SAWAH TERALIRI LIMBAH CAIR PABRIK GULA MADUKISMO DI DESA TIRTONIRMOLO KECAMATAN KASIHAN KABUPATEN BANTUL Septia Danar Purnama Sari; Didi Saidi; R Agus Widodo
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v18i1.9470

Abstract

Limbah cair Pabrik Gula Madukismo mengaliri ±33,39% tanah sawah di Desa Tirtonirmolo. Keberadaan limbah pada air irigasi dapat mempengaruhi kualitas tanah sawah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik air irigasi dan menentukan Indeks Kualitas Tanah (IKT) sawah di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Pengambilan sampel tanah menggunakan metode purposive sampling dan pengambilan sampel air irigasi menggunakan metode grab sample. Penilaian karakteristik air irigasi berpatokan pada PP No.82 Tahun 2001 dengan parameter yang diamati yaitu: COD, Nitrat, Nitrit, Ammonium, Phosphate, TSS, dan pH. Penilaian IKT didasarkan pada kriteria Mausbach dan Seybold. Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik air irigasi telah memenuhi baku mutu air irigasi kecuali untuk parameter COD. Air irigasi yang teraliri limbah spiritus memiliki nilai COD sebesar 1029 mg/L sedangkan air irigasi yang teraliri campuran limbah gula dan spiritus memiliki nilai COD se besar 122 mg/L. Hasil IKT memiliki kriteria baik dengan nilai 0,637 area sawah tidak teraliri limbah; 0,688 area sawah teraliri limbah spiritus; dan 0,714 sawah teraliri campuran limbah spiritus dan gula.
EFEK BIOCHAR PADA BERBAGAI PERSENTASE AIR TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI SERTA SIFAT-SIFAT KIMIA TANAH INCEPTISOL Nurlaeny, Nenny; Setiawan, Ade; Kusumadewi, Bintang Hari; Riana, Risti; Dzulfikar B.A., M; Putra, Ranu Manggala
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v19i2.9465

Abstract

Sifat fisikokimia tanah yang mampu mendukung ketersediaan air selama pertumbuhan tanaman dapat ditingkatkan melalui input komponen organik yang dapat menambah daya pegang air oleh partikel tanah. Penelitian tentang aplikasi biochar pada berbagai persentase air tanah pada Inceptisols asal Jatinangor dilakukan untuk mengamati bagaimana komponen pertumbuhan serta hasil tanaman kedelai (Glycine max L. Merr) kultivar Anjasmoro, kadar air dan bahan organik tanah, kapasitas tukar kation (KTK), konsentrasi dan serapan N, K dipengaruhi oleh kedua perlakuan tersebut. Percobaan dilaksanakan dalam Rumah Plastik Laboratorium Kultur Terkendali, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial. Dosis biochar sebagai faktor pertama terdiri dari empat taraf (0, 5, 10, dan 15 t ha-1) dan persentase air tanah dari kapasitas lapang (KL) sebagai faktor kedua terdiri dari empat taraf (100, 80, 60 dan 40%) yang diulang tiga kali. Interaksi perlakuan biochar 15 t ha-1 pada kondisi 100% KL berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, nodula akar, N total dan serapan N serta kadar air tanah pada 6 minggu setelah tanam (MST). Kadar bahan organik tanah dipengaruhi oleh dosis biochar 5–15 t ha-1 dan jumlah daun trifoliat serta bobot kering tanaman pada fase vegetatif akhir dipengaruhi oleh persentase air tanah 60–100% KL. Dosis biochar dan berbagai persentase air tanah tidak berpengaruh nyata terhadap KTK, K-dd dan serapan K.
STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA PADA LAHAN BEKAS GALIAN INDUSTRI BATU BATA Sarirotul 'Alim; Ali Munawar; Djoko Mulyanto
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v19i1.9460

Abstract

Kegiatan industri batu bata sering kurang memperhatikan kelestarian lingkungan dan mengakibatkan kerusakan sifat-sifat tanah, sehingga menurunkan produktivitas lahan bekas galian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis kegiatan dalam industri batu bata yang menyebabkan kerusakan sifat-sifat tanah, menentukan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa, dan memetakan status kerusakan lahan bekas galian di Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Oktober 2021 menggunakan metode survey. Titik sampel pewakil ditentukan secara purposive, yakni pada lahan bekas galian yang belum difungsikan dan yang difungsikan kembali untuk budidaya. Parameter kriteria baku kerusakan tanah meliputi kedalaman jeluk , kebatuan permukaan, komposisi fraksi, berat isi (BV), porositas total, permeabilitas, pH, daya hantar listrik (DHL), redoks potensial (Eh), dan jumlah mikroba. Penetapan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa melalui tahap matching dan scoring sesuai ketentuan Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia (2009). Hasil penetapan diperoleh dua status kerusakan yaitu Rusak Ringan (R.I) dan Rusak Sedang (R.II) dengan faktor pembatas kedalaman jeluk (s), komposisi fraksi (f), porositas total (v), permeabilitas (p), dan redoks potensial (r). Status Rusak Ringan dengan faktor pembatas f dan r seluas 9 ha, Rusak Ringan dengan faktor pembatas f, p, dan r seluas 43,9 ha, Rusak Ringan dengan faktor pembatas s, f, p, dan r seluas 6 ha, dan Rusak Sedang dengan faktor pembatas s, f, v, p, dan r seluas 5 ha.
PENGARUH PEMBERIAN MACAM BAHAN ORGANIK DAN SP-36 TERHADAP KETERSEDIAAN FOSFOR LATOSOL Agung Sutrisno; Didi Saidi; Lelanti Peniwiratri
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v18i2.9477

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi macam bahan organik dan pupuk SP-36 terhadap ketersediaan Fosfor pada Latosol. Penelitian ini dilakukan di laboratorium UPN “Veteran” Yogyakarta dilanjutkan dengan analisis. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor yaitu faktor pertama macam bahan organik sebagai berikut B0: tanpa bahan organik, B1: menggunakan kotoran sapi, B2: menggunakan kotoran ayam, B3: menggunakan jerami, B4: menggunakan glereside, dan faktor kedua pupuk fosfor yaitu P0: tanpa SP-36 dan P1: menggunakan SP-36 Parameter yang diamati antara lain P-Tersedia, Kandungan C-Organik, Kapasitas Pertukaran Kation (KPK), pH. Penentuan pengaruh perlakuan terhadap parameter digunakan ANOVA (Analisis of varians) taraf 5%, sedangkan untuk membandingkan antar perlakuan digunakan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT).Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian SP-36 (P1) pada Latosol dapat meningkatkan ketersediaan Fosfor Latosol, kombinasi perlakuan yang terbaik adalah kotoran ayam 100 g/pot (B2) dan SP-36 0,06g/pot (P1) dapat meningkatkan ketersediaan Fosfor Latosol.
HUBUNGAN KEMATANGAN GAMBUT DENGAN KADAR LENGAS TERHADAP EMISI KARBON DIOKSIDA (CO2) PADA GAMBUT KALIMANTAN TENGAH Rahma Dania Ayushinta; Susila Herlambang; Dyah Arbiwati; Maswar Maswar
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v18i1.9471

Abstract

Gambut tersusun oleh material organik lebih dari 45% dengan kandungan air yang relatip banyak. Gambut memiliki tingkat kematangan dan kadar lengas yang berbeda akan menentukan besarnya emisi CO2 terutama pada pembukaan lahan untuk budidaya pertanian. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh tingkat kematangan dan kadar lengas gambut terhadap sifat kimia tanah gambut dan produksi gas karbon dioksida (CO2). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor dengan 3 ulangan. Masing-masing faktor yaitu tingkat kematangan gambut (Fibrik, Hemik dan Saprik) dan kadar lengas gambut 100%, 150%, 200%, 250%, dan 300%. Analisis data dengan analysis of variance dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test pada jenjang 5%. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kematangan gambut saprik berpengaruh terhadap penurunan emisi CO2, C-Organik dan peningkatan kadar abu, tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai Eh. Perlakuan kadar lengas tidak berpengaruh terhadap emisi CO2, C-Organik dan kadar abu, tetapi pada kadar lengas 300% berpengaruh terhadap penurunan Eh. Terjadi interaksi pada kombinasi perlakuan gambut saprik dengan kadar lengas 300% memberikan perubahan nilai pH tanah dan N total tertinggi, serta C/N paling rendah
PENGARUH PEMBERIAN ZEOLIT DAN BATUAN FOSFAT ALAM TERHADAP KETERSEDIAAN P LATOSOL DAN SERAPANNYA OLEH JAGUNG Irwanto, Didi; Saidi, Didi; Peniwiratri, Lelanti
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v19i2.9466

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian Zeolit dan Batuan Fosfat Alam terhadap ketersediaan P Latosol dan serapannya oleh Jagung (Zea Mays L). Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama dosis zeolit adalah Z0:0 ton/ha, Z1:1 ton/ha, faktor kedua dosis fosfat batuan P0:0 ton/Ha, P1 :0,4 ton/Ha, dan P2 : 0,8 ton /Ha sehingga kombinasi perlakuan menghasilkan 9 macam kombinasi dengan 3 ulangan akan diperoleh 27 pot percobaan. Parameter awal dan akhir analisis tanah meliputi P-tersedia dan P total pada latosol, P-jaringan, pH H2O latosol, KTK latosol, kandungan P2O5 dalam batuan fosfat, analisis tinggi, dan berat kering tanaman. Penentuan pengaruh perlakuan terhadap parameter digunakan ANOVA (Analisis of varians) taraf 5%, sedangkan untuk membandingkan antar perlakuan digunakan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zeolit dan batuan fosfat alam berpengaruh nyata terhadap P-tersedia, berat basah tanaman jagung, berat kering tanaman jagung, dan serapan P tanaman jagung, akan tetapi kedua perlakuan ini tidak berpengaruh nyata terhadap pH H2O, KPK Latosol, tinggi tanaman jagung dan P tanaman jaringan jagung.
PENGARUH PENGGUNAAN LAHAN DAERAH TANGKAPAN AIR TERHADAP VOLUME SEDIMEN DI WADUK SEMPOR KABUPATEN KEBUMEN Vivi Rizqi Hapsari; Muhamad Kundarto; Susila Herlambang
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v19i1.9461

Abstract

Waduk Sempor merupakan kawasan penampungan air yang memiliki kapasitas 52 juta m3 dengan luas Daerah Tangkapan Air (DTA) 42,31 km2. Air yang masuk ke dalam waduk membawa sedimen dan menyebabkan waduk mengalami pendangkalan. Perubahan penggunaan lahan di sekitar waduk dapat menyebabkan laju sedimentasi meningkat dan mengakibatkan pengendapan sedimen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap volume sedimen di Waduk Sempor. Penelitian dilaksanakan di DTA Waduk Sempor Kabupaten Kebumen pada bulan September 2020 sampai April 2021. Data penggunaan lahan diperoleh dari Citra Satelit Quickbird tahun 1984, 1994, 2013, 2015 dan 2019, sedangkan data volume sedimen diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak pada tahun yang sama. Hasil interpretasi menunjukkan terjadi perubahan penggunaan lahan di DTA Waduk Sempor dari tahun 1984 hingga 2019. Perubahan penggunaan lahan terjadi pada area dengan luas 1.805,05 ha, yang terdiri dari hutan 689,91 ha, sawah 163,8 ha, kebun 39,19 ha, permukiman 857,24 ha dan waduk 55 ha. Perubahan penggunaan lahan tersebut memiliki kecenderungan menjadi permukiman, yaitu dari luas 39,9 ha menjadi 892,14 ha. Volume sedimen terus meningkat dengan rata-rata 0,035 juta m3/tahun. Hasil analisis menunjukkan penggunaan lahan permukiman berpengaruh terhadap volume sedimen.
PENGATURAN FASE TERMOFILIK PADA PENGOMPOSAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT: IMPLIKASINYA TERHADAP AKTIVITAS JASAD PEROMBAK DAN PEMBENTUKAN HUMAT Ares Try Putra Handrah; Yanisworo Wijaya Ratih; R Agus Widodo
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v18i2.9478

Abstract

Tandan kosong kelapa sawit banyak mengandung lignin. Senyawa lignin adalah  komponen dasar penyusun humat. Pada proses pengomposan, perombakan lignin terjadi pada fase termofil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaturan fase termofilik pada pengomposan tandan kosong kelapa sawit terhadap aktivitas perombak dan pembentukan humat. Fase termofil diatur pada suhu 55°C menggunakan inkubator. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dua faktor. Faktor pertama berupa waktu inkubasi pada fase termofil, terdiri atas empat aras yaitu inkubasi selama 0 minggu, 1 minggu, 2 minggu, dan 3 minggu. Faktor kedua berupa jenis bioaktivator, yaitu Orgadec dan Promi. Parameter yang diamati yaitu warna kompos, pH, kadar C dan N, rasio C/N, pembentukan humat, evolusi CO₂ dan kehilangan berat TKKS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan waktu inkubasi fase termofil 55°C berpengaruh nyata terhadap perubahan warna kompos, peningkatan evolusi CO₂ dan kandungan N-total serta penurunan kandungan C-organik dan berat kompos TKKS. Pengaturan waktu inkubasi fase termofil suhu 55°C berpengaruh terhadap penurunan pH dan pembentukan asam humat, meskipun tidak secara signifikan. Jenis bioaktivator tidak berpengaruh terhadap semua parameter yang diamati.

Page 6 of 12 | Total Record : 115