Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik (Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Pharmacy)
Selamat datang di situs e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas (Universitas Wahid Hasyim) Semarang. Situs ini berisi kumpulan publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Farmasi Unwahas. Publikasi berasal dari jurnal-jurnal serta hasil prosiding seminar yang dilaksanakan oleh Fakultas Farmasi Unwahas.
Articles
342 Documents
AKTIVITAS MUKOLITIK IN VITRO EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocotum Ruiz dan Pav.) PADA MUKOSA USUS SAPI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIANYA
Yulias Ninik Windriyati;
Aqnes Budiarti;
Igustin Azmi Syahida
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Peranan dan Kontribusi Herbal dalam Terapi Penyakit Degeneratif"
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.758 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.381
Daun sirih merah (Piper crocotum Ruiz and Pav.) merupakan salah satu obat tradisional yang digunakan sebagai obat batuk. Dasar penggunaan tanaman tersebut sebagai mukolitik (pengencer dahak) belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas mukolitik ekstrak etanol daun sirih merah terhadap mukosa usus sapi secara in vitro dan mengidentifikasi golongan senyawa aktifnya. Ekstrak etanol daun sirih merah diperoleh dengan metode maserasi menggunakan penyari etanol 70%. Ektrak etanol yang diperoleh kemudian dibuat berbagai konsentrasi larutan uji yaitu 0,1%; 0,3%; 0,5%; 0,7% dan 0,9% dalam 80% mukus sapi. Viskositas larutan uji diukur dengan viskosimeter rion. Aktivitas mukolitik in vitro ditunjukkan oleh kadar ekstrak yang mampu menurunkan viskositas larutan mukus dan sebagai kontrol positif digunakan larutan 0,1% asetilsistein. Identifikasi golongan senyawa aktif dilakukan dengan kromatografi lapis tipis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mukolitik ekstrak etanol daun sirih merah pada konsentrasi 0,3% setara dengan asetilsistein 0,1%. Ekstrak etanol daun sirih merah mengandung senyawa golongan alkaloid, saponin, flavonoid dan polifenol. Kata kunci : Daun sirih merah, mukolitik, mukosa usus sapi
AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK HEKSANA, DIKLOROMETANA DAN METANOL DAUN KEJI BELING (Sericocalyx crispus. L) TERHADAP Artemia salina Leach
Musyirna rahmah Nst;
Sri Hardianti;
Emma Susanti
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Peranan dan Kontribusi Herbal dalam Terapi Penyakit Degeneratif"
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (63.583 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.382
Tumbuhan kejibeling (Sericocalyk crispus L.) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen kemopreventif kanker. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek ekstrak n-heksana, diklorometana dan metanol daun keji beling terhadap Artemia Salina Leach. Uji sitotoksik dilakukan dengan metoda Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil uji sitotoksik menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana, diklorometana dan metanol daun Keji beling mempunyai efek sitotoksik dengan LC50 33,49 µg/ml, 244,34 µg/ml, 143,88 µg/ml. Kata kunci: Sitotoksik, Keji beling, Brine Shrimp Lethality Test, LC50
UJI SITOTOKSISITAS FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK ETANOL HERBA ALFALFA (Medicago sativa L.) TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA T47D DAN SEL KANKER LEHER RAHIM (SEL HeLa) SERTA UJI KANDUNGAN SENYAWA KIMIANYA
Devi Nisa Hidayati;
Ibrahim Arifin;
Sri Susilowati Susilowati
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Peranan dan Kontribusi Herbal dalam Terapi Penyakit Degeneratif"
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.076 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.383
Kanker payudara dan kanker leher rahim merupakan jenis penyakit ganas di Indonesia maupun dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sitotoksik fraksi etil asetat dari ekstrak etanol herba alfalfa terhadap sel kanker payudara (sel T47D) dan sel kanker leher rahim (sel HeLa) serta mengetahui kandungan kimianya. Proses ekstraksi herba alfalfa dilakukan dengan metode sokletasi menggunakan pelarut etanol kemudian dilanjutkan fraksinasi secara bertingkat menggunakan n-heksan, kloroform, dietil eter dan etil asetat. Uji sitotoksisitas menggunakan metode MTT dengan seri konsentrasi fraksi uji 1000; 500; 250; 125; 62,5 µg/ml terhadap kultur sel T47D dan sel HeLa. Data berupa absorbansi sel hidup digunakan untuk menghitung persentase kehidupan sel T47D dan sel HeLa kemudian ditetapkan IC50 dengan analisis probit menggunakan SPSS 16 for Windows. Uji kandungan kimia dilakukan dengan pereaksi kimia kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat ekstrak etanol herba alfalfa memiliki efek sitotoksik terhadap sel T47D namun tidak memiliki efek sitotoksik pada sel HeLa. Potensi sitotoksik fraksi etil asetat ekstrak etanol herba alfalfa terhadap sel T47D yang dinyatakan dalam nilai IC50 sebesar 1893,4 µg/ml. Fraksi etil asetat dari ekstrak etanol herba alfalfa mengandung flavonoid. Kata kunci: Uji sitotoksisitas, fraksi etil asetat ekstrak etanol herba alfalfa (Medicago sativa L.), sel T47D, sel HeLa, flavonoid
UJI AKTIVITAS ANTIFUNGI MINYAK ATSIRI RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb.) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans
Heru Sudrajad;
Firman Al Al Azar
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Peranan dan Kontribusi Herbal dalam Terapi Penyakit Degeneratif"
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.499 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.384
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman obat-obatan yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae) sering dimanfaatkan masyarakat baik sebagai bumbu masakan maupun digunakan sebagai bahan obat.Temu lawak diketahui mengandung senyawa kimia kurkuminoid dan minyak atsiri. Negara Indonesia memiliki iklim tropis dengan udara lembab dan panas. Jamur merupakan salah satu penyebab infeksi terutama di negara-negara tropis. Tujuan penelitian untuk mengetahui aktivitas minyak atsiri rimpang temu lawak terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Penelitian dengan menggunakan konsentrasi minyak atsiri masing-masing 0,25; 0,3; 0,35; 0,4; 0,45 dan 0,5%. Ketokonazol 2% dan metanol sebagai baku pembanding kontrol positif dan negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri rimpang temu lawak dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Semakin besar konsentrasi maka rata-rata diameter pertumbuhan jamur semakin menurun. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri konsentrasi 0,25 sampai 0,5% dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans. Diamater daya hambat paling besar diperoleh pada minyak atsiri rimpang temu lawak dengan konsentrasi 0,5% dan diamater daya hambat paling kecil diperoleh dari minyak atsiri rimpang temulawak dengan konsentrasi 0,25%. Kata kunci: Curcuma xanthorriza Roxb., Candida albicans,minyak atsiri, invitro
ANALISIS KUANTITATIF ANDROGRAFOLID DALAM EKSTRAK SAMBILOTO (Andrographis paniculata Ness) SECARA KLTKT-DENSITOMETRI
Awal P;
Mujahid R;
Yuli W
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Peranan dan Kontribusi Herbal dalam Terapi Penyakit Degeneratif"
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (143.876 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.385
Telah dilakukan penelitian penetapan kadar andrografolide dalam ekstrak sambiloto (Andrographis paniculata Ness). Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui kadar andrografolide dalam ekstrak sambiloto dengan menggunakan metode KLTKT-Densitometri. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan etanol 90%. Ekstrak etanol dan baku senyawa andrografolide ditotolkan pada plat KLTKT Silika gel-F254, dengan menggunakan Linomat 5, kemudian dieluasikan dalam chamber yang berisi campuran CHCl3: MeOH (9:1), sebagai fase geraknya. Setelah proses eluasi, plat kemudian dikeringkan. Deteksi noda serta kuantifikasi dilakukan dengan Densitometer Scanner Camag- Wincat 4. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa panjang gelombang serapan maksimal antara noda ekstrak dan larutan baku adalah sama, yaitu pada panjang gelombang 230 nm. Kadar andrografolide pada ekstrak adalah 15,54 + 0,16 % b/b dengan KV 1,01%. Kata kunci: Ekstrak sambiloto, KLTKT-Densitometri, adrografolid
PENGARUH CARA EKSTRAKSI TERHADAP KADAR SARI DAN KADAR SYLIMARIN DALAM BIJI Silybum marianum (L.) GAERTN.
Nita Supriyati;
Ika Yanti M. Sholikhah
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Peranan dan Kontribusi Herbal dalam Terapi Penyakit Degeneratif"
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (144.17 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.386
Silybum marianum (L.) Gaertn.atau dikenal dengan nama milk thistle digunakan dalam pengobatan hepatitis kronik dan akut serta sirosis yang disebabkan alkohol, obat-obatan maupun racun. Komponen aktif yang terdapat dalam marianum adalah silymarin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara ekstraksi yang tepat dari biji marianum dengan berbagai metode ekstraksi sederhana. Serbuk biji marianum diekstraksi dengan cara seduh, maserasi, infusa, dan dekokta dengan pelarut air kemudian dihitung kadar sari dan kadar silymarin. Dari hasil penelitian diketahui bahwa cara ekstraksi tidak berpengaruh terhadap kadar sari yang diperoleh, namun berpengaruh terhadap kadar silymarin dari ekstrak biji marianum (L.) Gaertn. Kadar silymarin tertinggi diperoleh dengan cara dekokta yaitu 0,44 ± 0,05%. Kata kunci : Silybum marianum (L.) Gaertn, cara ekstraksi, silymarin, kadar sari.
PENGARUH PENAMBAHAN SITOKININ PADA SENYAWA FLAVONOID KALUS (Echinacea purpurea L)
Heru Sudrajad;
Saryanto )
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Peranan dan Kontribusi Herbal dalam Terapi Penyakit Degeneratif"
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.031 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.387
Kultur jaringan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan metabolit sekunder. Echinacea purpurea L merupakan salah satu tanaman obat yang berkhasiat merangsang sistem kekebalan tubuh (imunostimulator). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh Benzyl aminopurin terhadap kalus dan senyawa flavonoid Echinacea purpurea L pada media Murashige dan Skoog (MS). Pelaksanaan penelitian yaitu eksplan dari daun Echinacea purpurea L ditumbuhkan pada media MS yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh Benzyl aminopurin (BAP) dengan konsentrasi 1, 2, 3 dan 4 mg/l. Hasil kalus yang diperoleh kemudian dilakukan uji reaksi warna dengan kertas kromatografi (kuantitatif), kemudian dilanjutkan dengan spektrofotometri (kuantitatif). Sebagai pembanding daun tanaman asal Echinacea purpurea L juga dilakukan uji yang sama. Hasil yang diperoleh menunjukkan keberhasilan membentuk kalus 80% pada konsentrasi BAP 3 dan 4 mg/l dengan rata-rata waktu induksi kalus 4,7 - 5,6 hari. Hasil reaksi warna menunjukkan noda warna merah yang menunjukkan adanya flavonoid. Kadar flavonoid total kalus Echinacea purpurea L pada konsentrasi 4 mg/l yaitu 0,28%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan BAP dapat meningkatkan pertumbuhan kalus secara kultur jaringan dan mempunyai kadar flavonoid 0,28 % sama dengan daun Echinacea purpurea L. Kata kunci : Echinacea purpurea L, Benzyl aminopurin , Murashige dan Skoog
UJI AKTIVITAS HIPOGLIKEMIK EKSTRAK ETANOL DAUN TEH (Camellia sinensis L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR
Katno );
Dian Anistyani;
Saryanto )
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Peranan dan Kontribusi Herbal dalam Terapi Penyakit Degeneratif"
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (64.541 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.388
Telah dilakukan penelitian tentang uji aktivitas ektrak etanol 70% daun teh (Camellia sinensis L.) terhadap penurun kadar glukosa darah pada tikus jantan galur Wistar yang diinduksi dengan aloksan dengan dosis 100mg/kg BB dan disuntikkan secara intraperitonial. Tujuan penelitian untuk mengetahui sejauhmana pengaruh pemberian ekstrak daun the terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus putih dibandingkan kontrol. Penelitian ini menggunakan metode pre test and post test with control design. Sebagai hewan coba digunakan tikus putih jantan galur Wistar usia 2-3 bulan dengan berat 160-190 g per ekor, dikelompokkan menjadi 7 kelompok masing-masing 5 ekor (yaitu kelompok normal dan kelompok perlakuan). Sebagai kelompok perlakuan adalah pemberian ekstrak etanol daun teh (yang diekstraksi secara Soxhletasi), dosis 72mg/200g BB, 144mg/200g BB, 288mg/200g BB, 576mg/200g BB, kontrol positif dan kontrol negatif. Pemberian secara peroral setiap hari selama 9 hari setelah disuntik dengan aloksan. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada hari ke-0 (sebelum perlakukan), hari ke-3, ke-6 dan hari ke-9 setelah perlakuan. Sebagai kontrol positif digunakan glibenklamid dosis 0,09 mg/200g BB. Analisis data menggunakan An0va satu jalan dilanjutkan uji t dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil perhitungan Anava diperoleh F hitung 127,02 sedangkan F table 2,77. Sehingga F hit > F tab menunjukkan bahwa paling tidak terdapat dua kelompok data yang mempunyai perbedaan bermakna. Dari hasil uji t diketahui bahwa t-hitung terbesar pada dosis 576 mg/200g BB. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak etanol daun teh dosis 72; 144; 288 dan 576 mg/200g BB dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus putih berbeda secara bermakna dibandingkan control negative dan sebanding dengan control positif. Kata kunci : Efek hipoglikemik, ekstrak etanol daun teh, tikus putih jantan galur Wistar
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOLIK KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn.) TERHADAP KADAR High Density Lipoprotein (HDL) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR HIPERLIPIDEMIA
Maria Ulfah;
Aristha Puji Wahyuningrum
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik JURNAL ILMU FARMASI DAN FARMASI KLINIK VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (330.435 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v7i2.639
ABSTRACT Empirical experience-based, Rosella (Hibiscus sabdariffa linn) have a special efficacy as anticholesterol. The objectives of this research were to find out whether the effect of ethanolic extracts of rosella flowers, have an effect in increasing HDL cholesterol levels in male rats of wistar strain of hyperlipidemia and to discovering of increased HDL cholesterol effect from the extract on the experiment. This experimental research used 30 male wistar strain white mice divided into 5 groups. The negative control group was feed with 0.5% CMC Na solution and high-lipid meals. The positive control group was feed with 151 mg/kg BW gemfibrozil solution. The three experimental groups were feed orally with ethanol extracts of rosella flowers of 18.9 mg/kg BW, 37.8 mg/kg BW and 75.6 mg/kg BW dosages, respectively, for 14 days. The HDL levels in the subject animals were measured using Precipitation methods for the LDL, VLDL and Chylomicron. The data in the evaluation of HDL cholesterol levels after administration of test preparations and the percentage increase in HDL levels. Data obtained by the HDL cholesterol levels were analyzed by using One Way Anova test and it continued by using Tukey test. The result showed that the ethanolic extracts of rosella flowers dose 18.9 mg/kg BW (p = 0.016), 37.8 mg/kg BW (p = 0.004) and 75.6 mg/kg BW (p = 0.004) can increase levels HDL wistar strain male rats were significantly hyperlipidemia when compared with negative control group. The optimum dose of the ethanolic extract of rosella flowers which can increase HDL levels in the dose of 75.6 mg/kg BW with a percentage increase in HDL Levels of 29.87%. Key words: Hyperlipidemia, HDL, Ethanolic Extracts of Rosella Flowers
IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) YANG POTENSIAL MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS TERAPI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II RAWAT INAP DI RSUD TUGUREJO SEMARANG PERIODE 2007-2008
Sri Susilowati;
wiwit pamuji rahayu
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik JURNAL ILMU FARMASI DAN FARMASI KLINIK VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.277 KB)
|
DOI: 10.31942/jiffk.v7i2.640
ABSTRACT The management of Type II Diabetes Mellitus with prolonged drug therapy might affect the life qualities of patients and lead to Drug Related Problems (DRPs). Several types of DRPs frequently occur and they result in sub-optimum treatment, increased side effects and expensive costs. Objective of this study was to know about the uses of anti-diabetic drugs, prevalence of DRPs, the numbers of DRPs cases and the factors causing DRPs having the potentials to affect the therapeutic effectiveness for Type-II Diabetes Mellitus treated at Semarang Tugurejo Hospitals during the period of 2007-2008. The possible factors that might lead to DRPs were inaccuracy in the drug selection and sub-therapeutic. Non experimental, retrospective and non analytical observational study design was done. The population for this study consisted of 43 Type-II Diabetes Mellitus patients hospitalized in Tugurejo Hospital, Semarang. Sample collected by retrospectively from Hospital’s medical records of the 2007-2008 period in the whole population. The results showed there were 23,3% of the patient experienced DRPs which had the potentials to affect the therapeutic effectiveness for Type-II Diabetes Mellitus. Eleven cases of inaccuracies in selecting the drugs affected the effectiveness of the therapies. These cases of inaccuracies consisted of 5 cases of ineffective drugs, 4 cases of effective but expensive drugs, 2 cases of unnecessary combinations of drugs and one case of sub-therapeutic dosages. Key words : Drug Related Problems (DRPs), diabetes mellitus