cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Hubungan Kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) Darah dengan Perkembangan Motorik Anak Usia Bawah 2 Tahun di Daerah Endemik GAKY Noor, Zulkhah; Sekundaputra, Arby Shafara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 1: January 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v16i1.4729

Abstract

Salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang mengganggu tumbuh kembang anak adalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Dalam perjalanannya pemerintah telah melakukan berbagai macam upaya penanggulangan GAKY namun kurang memuaskan. Dalam upaya membantu penanggulangan masalah GAKY dapat dilakukan dengan skrining dini, salah satunya adalah pemeriksaan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) darah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kadar TSH darah dengan perkembangan motorik bayi usia bawah 2 tahun. Penelitian ini adalah studi observsional dengan desain cross sectional. Subyek penelitian ini adalah 35 bayi usia bawah 2 tahun yang di ambil secara acak di 4 dusun, Desa Tegalrandu, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Pengukuran kadar TSH darah menggunakan metode ELISA Blood Spot. Pengukuran perkembangan motorik dilakukan dengan menggunakan tes Denver II. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil pengukuran nilai rata-rata kadar TSH darah bayi usia bawah 2 tahun di Desa Tegalrandu adalah 7,15 μIU/L (optimal: 0,7-34 μIU/L). Uji korelasi Pearson untuk hubungan TSH darah dengan perkembangan motorik kasar p = 0,021 dan nilai r = -0,389, hubungan TSH darah dengan perkembangan motorik halus p = 0,891 r = - 0,024. Disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang bermakna antara kadar TSH darah dengan perkembangan motorik kasar namun tidak terdapat korelasi yang bermakna antara kadar TSH darah dengan perkembangan motorik halus. 
Pengaruh Supportive-Educative System terhadap Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung Purnamawati, Ditha Astuti; Arofiati, Fitri; Relawati, Ambar
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18 No 2: July 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180213

Abstract

Gagal jantung adalah fase kronis yang menyebabkan kerusakan fungsional jantung akibat banyaknya gejala yang terjadi, sehingga akan berdampak pada kuali-tas hidup. Gagal jantung memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan diharapkan dapat mencegah perburukan penyakit. Intervensi yang diberikan dapat berupa tera-pi farmakologi dan non farmakologi, diantaranya supportive-educative system. Sistem ini membantu pasien memperoleh informasi kesehatan, serta dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh supportive-educative system terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung. Penelitian ini merupa-kan penelitian kualitatif dengan metode quasi eksperiment. Rancangan penelitian yang adalah  pre-posttest with control group. Sebanyak 34 pasien gagal jantung dipilih dengan teknik non probability sampling, dibagi menjadi dua kelompok secara acak, kelompok intervensi diberikan supportive-educative system, kelompok kontrol diberi-kan program discharge planning yang ada di ruangan, minggu pertama intervensi (pre-test) untuk mendapatkan data kualitas hidup, minggu kedua dan ketiga observasi apakah responden melakukan kegiatan yang sudah diajarkan, minggu terakhir evaluasi (post-test) kualitas hidup setelah intervensi. Diuji menggunakan Wilcoxon test (data berdistribusi tidak normal) dan Paired Samples Test (data berdistribusi normal). Hasil uji beda menunjukkan kelompok intervensi lebih berpengaruh dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan ρ value sebesar 0,000. Terdapat pengaruh pem-berian supportive-educative system terhadap kualitas hidup, kualitas hidup pada kelompok intervensi lebih baik daripada kelompok kontrol.
Derajat Peradangan Duodenum Mencit BALB/c setelah Pemberian Ekstrak Etanol Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) Diinduksi Ovalbumin Prinarbaningrum, Arinta; Makiyah, Sri Nabawiyati Nurul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16 No 1: January 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ipomoea batatas L. mengandung antosianin yang tergolong flavonoid. Flavonoid berpotensi sebagai agen aintiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji derajat peradangan duodenum mencit setelah diinduksi ovalbumin dan diberi perlakuan ekstrak etanol I. batatas L. (EEIB). Penelitian bersifat eksperimental dengan posttest only control group design. Hewan uji adalah mencit BALB/c jantan sebanyak 28 ekor dibagi menjadi 7 kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kontrol negatif dengan ovalbumin, 4 kelompok perlakuan (ekstrak etanol I. batatas L. dosis 0.21g, 0.42g, 0.84g, 1.65g) dan kelompok kontrol positif (antihistamin + ovalbumin). Kelompok perlakuan dan antihistamin diberikan selama 28 hari. Pada hari ke-29 mencit dikorbankan dan diambil duodenumnya untuk dibuat sediaan histologi dengan teknik pewarnaan HE. Data berupa derajat peradangan duodenum dianalisis dengan Anava satu jalan dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan derajat peradangan tertinggi pada kelompok kontrol negatif, derajat peradangan menurun pada kelompok perlakuan EEIB dan obat antihistamin secara bermakna (p<0.05). Pemberian EEIB pada semua dosis tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol normal dan kelompok kontrol positif (p>0,05). EEIB dosis 0,84 g/kg memiliki derajat peradangan duodenum paling rendah tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol normal (p>0,05). Disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol I. batatas L. mampu menurunkan derajat peradangan duodenum mencit BALB/diinduksi ovalbumin dengan dosis efektif 0.84 g/kg.
Tingkat Kerusakan Mukosa Lambung pada Tikus Model yang Dinduksi Etanol Usman, Sherly
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16 No 1: January 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gastritis merupakan salah satu gangguan pencernaan yang sering ditemukan dalam masyarakat. Kerusakan mukosa lambung dapat diinduksi oleh berbagai faktor salah satunya konsumsi alkohol. Alkohol sebagian dikonsumsi oleh penduduk dunia termasuk Indonesia. Penelitian mengenai kerusakan mukosa lambung, banyak dilakukan dengan menggunakan tikus model yang diinduksi etanol. Mekanisme kerusakan mukosa lambung yang diinduksi etanol masih belum sepenuhnya jelas. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji tingkat kerusakan mukosa lambung pada tikus model yang diinduksi etanol. Penelitian ini menggunakan tikus (Rattus norvegicus)galur Spraque Dawley sebanyak 24 ekor dibagi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol akuades (KA), kelompok perlakuan dengan etanol terminasi hari pertama (EH1), etanol terminasi hari ke-3 (EH3), etanol terminasi hari ke-5 (EH5). Semua kelompok dipuasakan dan diinduksi peroral dengan etanol dosis 100% 1ml/200 gr BB. Data tingkat kerusakan mukosa lambung didapatkan dari hasil pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Ulkus dengan perdarahan tampak pada mukosa kelompok etanol terminasi hari pertama dengan tingkat kerusakan mukosa lambung paling berat. Disimpulkan bahwa tingkat kerusakan lambung diinduksi etanol paling berat pada awal setelah induksi, kemudian berangsur menurun mengalami perbaikan mukosa.
The Influence of Dry Cupping toward Heart Rate Variability (HRV) in Male Obesity adolescence Syahruramdhani, Syahruramdhani; Agustiningsih, Denny; Sofro, Zaenal Muttaqien
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16 No 2: July 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cardiovascular disease defines as a disease related to heart and blood vessel. One of high risk in the disease of cardiovascular is its on people with obesity. Heart Rate Variability (HRV) indicator is an important sign to identify cardiovascular risk and provide early information related to change of heart autonomy controlling. This indicator was influenced by several factors such as cupping therapy. Study found that HRV increased after cupping therapy by wet cupping treatment in healthy people. The aims of this research is to investigate the influence of dry cupping toward increased HRV in male obesity adolescence. The study was experimental with pre-post test design by using consecutive sampling of 30 male adolescence aged 18-24 years old with BMI  25 kg/m2. They were divided into 2 groups, control and intervention group with cupping therapy. Data result used in SDDN and RMSSD level. Analysis Data were used paired and independent t test. The result showed SDNN and RMMSD level before intervention were 73,95 ms dan 67,11 ms. Whereas SDNN and RMMSD level after intervention were 69,66 ms dan 61,95 ms. In paired (p=0,52 and p=0,38) and independent t test (p=0,30 and p=0,56) showed that there were no significant difference between SDNN and RMSSD in intervention group and control group (p>0,05). The conclusion of this study is dry cupping had no effects toward increased HRV level in male obesity adolescence.
Captopril Mencegah Stres Oksidatif pada Tikus Wistar Jantan dengan Diet Tinggi Lemak Jenie, Ikhlas Muhammad; Afrian, Rizki; Pramono, Barii Hafidz
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 1: January 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v16i1.4723

Abstract

Stres oksidatif berperan dalam terjadinya penyakit-penyakit kardiovaskular. Stres oksidatif ditandai dengan peningkatan radikal bebas dan penurunan sistem antioksidan. Sumber utama radikal bebas pada sirkulasi adalah enzim NAD(P)H oksidase. Enzim tersebut dimodulasi oleh angiotensin II. Angiotensin II dihasilkan dari konversi Angiotensin I oleh enzim angiotensin converting enzyme (ACE). Timbul pertanyaan apakah pemberian captopril, suatu penghambat ACE, dapat mencegah stres oksidatif. Untuk itu dilakukan penelitian pra-eksperimental pada hewan coba dengan rancangan post test only measurement. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan dikelompokkan ke dalam 3 kelompok: kelompok I mendapat diet normal 20g/hr, kelompok II diet tinggi lemak (10%) 20g/hr dan kelompok III diet tinggi lemak (10%) 20g/hr dan captopril 50 mg/kgBB/hr. Perlakuan diberikan selama 2 bulan. Variabel yang diukur adalah berat badan, kadar kolesterol total, kadar hidrogen peroksida (H2O2) dan histopatologi aorta. Data dianalisis dengan ANOVA satu arah. Berat badan tikus antarkelompok tidak berbeda bermakna pada awal dan akhir perlakuan. Kadar kolesterol total antarkelompok berbeda bermakna, dengan kadar kolesterol total pada tikus kelompok III lebih rendah secara bermakna daripada kelompok I dan II. Kadar H2O2 antarkelompok berbeda bermakna, dengan kadar H2O2) pada tikus kelompok II lebih tinggi secara bermakna daripada kelompok I dan III. Pada pemeriksaan histopatologi, lesi aterosklerotik ditemukan pada kelompok II dan III. Disimpulkan bahwa pemberian captoprildapat mencegah stres oksidatif pada tikus Wistar jantan dengan diet tinggi lemak.  
Hubungan Faktor Genetik dan Gaya Hidup dengan Astigmatisma pada Anak Setyandriana, Yunani; Meida, Nur Shani; Ikliludin, Ahmad; Ayuputri, Amalia Nindya
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 2: July 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180216

Abstract

Astigmatisma merupakan kelainan refraksi akibat bentuk kornea atau lensa yang tidak teratur, yang sering terjadi pada anak usia sekolah. Hingga saat ini penyebab astigmatisma belum diketahui walaupun faktor genetik dan gaya hidup diduga berperan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor genetik dan gaya hidup dengan astigmatisma pada anak. Penelitian dilakukan di RS JIH dan PKU Muhammadiyah Gamping, dari bulan Januari hingga Desember 2016. Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan metode potong lintang. Didapatkan sampel sebanyak tujuh puluh enam anak, yang kemudian dilakukan pemeriksaan virus dan mengisi kuesioner tentang faktor genetic dan gaya hidup pasien. Data dianalisis menggunakan Uji Regresi Linear Berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor genetik dan gaya hidup dengan astigmatisma pada anak. Faktor genetik merupakan faktor yang paling berhubungan dengan astigmatisma pada anak (p=0,003, 95% CI for B=0,52-1,18) dibandingkan dengan faktor gaya hidup yaitu kebiasaan menggunakan gadget (p=0,015, 95% CI for B= 0,50-1,01), kebiasaan membaca (p=0,204, 95% CI for B= -0,49-0,46), dan kebiasaan menonton televisi lebih dari dua jam sehari (p=0,211, 95% CI for B= -0,55-0,25).
Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Tungkai Bawah Perkutan pada Mahasiswa Ras Jawa Usia Pertumbuhan Pamukti, Hendra Pamuji; Soularto, Dirwan Suryo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 1: January 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v16i1.4726

Abstract

Teknik pengukuran antropometri dengan pengukuran kerangka yang kering telah lazim digunakan oleh ahli antropologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara panjang tungkai bawah perkutan dengan tinggi badan dan menentukan suatu rumus perhitungan tinggi badan pada populasi saat ini. Jenis penelitian adalah noneksperimental dengan desain cross sectional. Subyek penelitian adalah mahasiswa S1 Pendidikan Dokter FKIK UMY berusia 20-22 tahun, ras Jawa, tidak cacat pada leher, badan dan anggota gerak bawah. Data tinggi badan dan panjang tungkai bawah perkutan diambil dengan cara pengukuran langsung kemudian dianalisis dengan uji korelasi dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan tinggi badan rata-rata subyek penelitian 163,33 ± 10,78 cm. Panjang tungkai bawah perkutan rata-rata adalah 36,76 ± 2,76 cm. Rata-rata tinggi badan laki-laki adalah 172,66 ± 6,18 cm. Rata-rata tinggi badan perempuan adalah 154,50 cm dengan standar deviasi 4,91 cm. Rata-rata panjang tungkai bawah laki-laki adalah 39,11 ± 0,90 cm. Rata-rata panjang tungkai bawah perempuan adalah 34,36 cm dengan standar deviasi 1,56 cm. Disimpulkan bahwa tingkat korelasi (r) antara tinggi badan dengan panjang tungkai bawah perkutan laki-laki adalah 0,85 dan pada perempuan 0,70 dan pada populasi laki-laki dan perempuan adalah 0,94.
Penerapan Sunnah Rasul Sebelum Tidur Meningkatkan Kualitas Tidur Pasien Kanker Payudara Putri, Diyanah Syolihan Rinjani; Makiyah, Sri Nabawiyati Nurul; Puspita, Dewi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18 No 2: July 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180217

Abstract

Pasien kanker payudara mendapatkan penatalaksanaan kemoterapi. Salah satu efek kemoterapi adalah kualitas tidur buruk. Seseorang yang mengalami gangguan tidur bisa mengakibatkan kelelahan, depresi, kecemasan. Penerapan sunnah Rasul sebelum tidur mempunyai efek positif bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tidur pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi dengan penerapan sunnah Rasul sebelum tidur. Quasi experiment pretest-postest with intervention control group design. Sampel sebanyak 26 responden kanker payudara dengan teknik Purposive Sampling. Penilaian kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index. Intervensi yang diberikan penerapan sunnah Rasul sebelum tidur selama 7 hari. Data kualitas tidur dianalisis menggunakan Independent t-test. Kualitas tidur kelompok kontrol pretest 9,83 dan  posttest 11,83, kualitas tidur kelompok intervensi pretest 12,93 dan posttest 7,00. Hasil posttest pada kedua kelompok dengan p palue=0,003. Penerapan sunnah Rasul sebelum tidur efektif untuk meningkatkan kualitas tidur  pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi.
The Radiology Characteristic of Pleural Thickening Lesion: Mesothelioma Compared to the Other Pleural Diseases Majdawati, Ana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 2: July 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180219

Abstract

Mesothelioma is a malignancy pleural mass characterized by pleural thickening, that difficult to distinguish from other pleural disorders, such as infection, asbestosis, pleural effusion/empyema. This case report is interesting and important because chest x-ray and chest CT have characteristics of pleural abnormalities that can be used as guidelines for the diagnosis of Mesothelioma. A 56 years old woman with cough, chest pain and breathlessness since a few days ago, and it was getting worse. In the chest auscultation, vesicular voices weaken in both lungs. In chest x ray finding a thin opacity on both hemithorax. The left sinus costophrenicus was blunt. Chest CT finding a pleural thickening in the posterobasal of the chest wall and disseminating to the mediastinum –paraaortic and found an osteodestruction of rib bones. Pleural thickening is circumferensial, lobulated, irregular nodular opasities and calsification. The histopathology is malignant epitheloid cell forms a cohesive nest, glandular structure and a lot of micropapillae in accordance with malignant mesothelioma. Malignant pleural thickening has lesion characteristic of “irregular nodular opacities” on the periphery with or without pleural effuse in chest x ray and in chest CT shows the form of lesions are circumferential, lobulated, encase lung parenchyma.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue