cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Tajdida
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
PENGORGANISASIAN IBU-IBU JAMAAH AISYIYAH DALAM PENGENTASAN MASYARAKAT DARI BELENGGU RENTENIR DI KELURAHAN KALIJUDAN SURABAYA Syahrul Ramadhan
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 15, No 1 (2017): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pengorganisasian ibu – ibu jamaah Aisyiyah. Adapun fokus untuk riset dalam pemberdayaan ini adalah Ibu – ibu jamaah Aisyiyah Kelurahan Kalijudan, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya, yang memiliki potensi dan asset yang dapat diberdayaan untuk mengatasi masalah yang ada. Faktor penyebab keterbelengguan ibu ibu jamaah Aisyiyah adalah pertama, tidak adanya lembaga yang bekerja sama untuk meminjami pinjaman modal usaha tanpa bunga, sehingga ibu – ibu jamaah Aisyiyah tidak mempunyai pilihan lain selain meminjam ke rentenir dengan bunga 20%/bulan. Kedua, tidak adanya kelompok usaha kecil menengah dan simpan pinjam di Aisyiyah untuk wadah pengembangan usaha ibu – ibu jamaah Aisyiyah. Dalam prosesnya fasilitator dan ibu – ibu jamaah Aisyiyah membentuk kelompok usaha kecil menengah “Pena Surya” untuk membangun kesadaran bersama dan melaksanakan program. Kelompok Pena Surya menjalin kerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah dalam hal pinjaman modal usaha tanpa bunga ibu – ibu jamaah Aisyiyah. Hasil dari program kerja sama dengan Lazismu Kota Surabaya dan pembentukan kelompok Pena Surya ditandai dengan ibu – ibu jamah Aisyiyah tidak lagi meminjam uang ke rentenir
PERBANDINGAN KURIKULUM MENTORING AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN ANTARA TAHUN 2008 DAN 2015 DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Iftihatur Rohmah
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 14, No 2 (2016): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang memiliki ciri khusus yaitu adanya Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Dalam rentang tahun perjalanan, Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sudah beberapa kali mengalami perubahan kurikulum, yaitu kurikulum tahun 2001, 2003, 2008, dan 2015. Penulis merasa tertarik untuk meneliti “Perbandingan Kurikulum Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan antara Tahun 2008 dan 2015 di Universitas Muhammadiyah Surakarta”. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Apa perbedaan, persamaan, kelebihan, dan kekurangan kurikulum Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan antara tahun 2008 dan 2015?” Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, karena data yang dikumpulkan di lapangan berupa kata-kata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kurikulum mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dari tahun 2008 dan2015 didasarkan pada keadaan dan kondisi adik mentor ketika mengikuti Tes Baca Al-Qur’an dan Salat (TBAS) yang dilakukan sebelum masa perkuliahan aktif di semester satu, hasilnya menunjukkan bahwa banyak di antara mereka yang belum bisa membaca Al-Qur’an dan salat yang belum sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Oleh karena itu, perubahan kurikulum Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di tahun 2015 lebih difokuskan pada keduanya. Dengan demikian, perubahan tersebut dirasa lebih efektif untuk diterapkan dalam pelaksanaan Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Surakarta
INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK (Studi Kasus di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kriyan Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Toni Ardi Rafsanjani; Muhammad Abdur Rozaq
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 17, No 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam terhadap perkembangan anak di SD Muhammadiyah Kriyan Jepara. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan mengambil latar SD Muhammadiyah Kriyan Jepara. Metode pengumpulan datanya adalah indept interviews, observasi partisipan dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis data diskriptif yang mencakup tiga kegiatan bersamaan, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah 1) Internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dengan penanaman teori/ ilmu yang dikuatkan dengan firman Allah SWT dan hadis Nabi Muhammad SAW; 2) Internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dilakukan dengan kisah-kisah teladan dan hikmah kehidupan; 3) Internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dilakukan dengan pembelajaran materi agama dan umum yang saling terkoneksi melalui sinergitas kurikulum pendidikan nasional dan Kemuhammadiyahan; 4) Internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dilakukan melalui program pembiasaan intelektualitas, spiritualitas dan humanitas. Sedangkan wujud keberhasilannya adalah pembiasaan kesalehan membentuk siswa menjadi pelajar yang berkemajuan. Para siswa melaksanakan upaya internalisasi itu karena memercayai dan menganutnya sebagai bekal membawa pada ketenangan pikir dan zikir. Upaya internalisasi berhasil dilakukan bukan karena penekanan pendidikan yang keras, melainkan usaha pembiasaan nilai-nilai pendidikan agama Islam yang humanis religius dan dilakukan sesering mungkin, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah
MUHAMMADIYAH: GERAKAN MODERNISME ISLAM Haedar Nashir
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 14, No 1 (2016): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper reveals about the Muhammadiyah movement which is very strategic, it is reformist-modern Islamic movement that takes the mid position with Islamic view “progressive fondation”.  Muhammadiyah view can be used as the fondation of the modern world enters a new era of the twenty-first century, which has entered the second century with the theme "progressive Islam" and "Enlightenment Movement". The agenda is how to give the epistemological and methodological foundation for Muhammadiyah movement in the second century more strongly so as to present an alternative praxis.
INTERNALISASI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH PADA GURU DAN KARYAWAN DI SEKOLAH DASAR MUHAMAMDIYAH GEDONGAN COLOMADU KARANGANYAR TAHUN 2018 Dian Ardiyani; Syamsul Hidayat
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 16, No 2 (2018): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jenis penelitian termasuk penelitian kualitatif diskriptif, dengan metode pengumpulan data memalui wawancara, observasi dan dokumen SDMPU. Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Muhammadiyah Program Unggulan Gedongan Colomadu Karanganyar.analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif, dengan tiga komponen yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan penelitian,proses internalisasi ideologi Muhammadiyah SDMPU dimulai dengan mewajibkan guru dan karyawan mengikuti kajian tendik setiap hari sabtu di sekolah dan wajib bagi guru dan karyawan mengikuti Baitul Arqom yang diselenggarakan SDMPU.Metode yang dipakai oleh kepala sekolah dalam rangka internalisasi ideologi pada guru dan karyawan SDMPU yaitu dengan keteladanan kepala sekolah dan membangun sistem bermuhammadiyah di lingkungan Sekolah.Faktor pendukung dalam internalisasi ideologi Muhammadiyah pada guru dan karyawan SDMPU diantaranya adalah (1) Peran Kepala Sekolah di SDMPU ini berfungsi sebagainama mestinya, (2) Tidak ditemukan kesenjangan interaksi sosial antara guru dan karyawan.Faktor Penghambat dalam intrnalisasi ideologi Muhammadiyah di SDMPU diantaranya adalah (1) Ada beberapa guru dan karyawan memiliki latar belakang bukan dari Muhammadiyah diantaranya salafi, PKS, NU. (2) Guru dan karyawan SDMPU sebagian besar adalah usia produktif yang masih memiliki anak kecil, masih menyusui dan dalam kondisi hamil
PENGANGGURAN SEBAGAI PERHATIAN UTAMA EKONOMI MUHAMMADIYAH Bambang Setiaji
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 13, No 1 (2015): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic teachings emphasize the reduction of unemployment in religious terminology is called the needy, the people who do not posses income. The indigent are entitled to charity or public funds from the government.Reduction of unemployment caused or inclusive of other economic targets such as the flow of revenue to the public and simultaneously reduce poverty, and reduce social problems. It is a concern of the Qur'an and is expressed in many verses. Alleviation of poverty in Islam, not based on charity, but based on the work (full employment).The complex problem of unemployment in this country should be a priority in religious movements, particularly Muhammadiyah. Because without getting a job and eventually dignity of one's faith itself would be problematic. It can directly reproduce the movement of employers or improve competence, quality, and skills of learners. 
PERAN MUHAMMADIYAH DALAM MEMBACA REALITAS KEUMATAN Furqan Mawardi
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 15, No 2 (2017): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umat muslim Indonesia sebagai bagian dari anak bangsa ini tentu memiliki tanggung jawab akan keterjagaan dan keutuhan terlebih lagi kesejahteraan dari bangsa ini. Munculnya berbagai persoalan terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan atau politik, kemiskinan atau ekonomi dan masalah budaya atau pendidikan adalah tanggung jawab pokok bagi seluruh elemen yang ada di bangsa ini. Apalagi Muhammadiyah, sebagai sebuah organisasi yang telah bisa dikatakan organisasi pendiri, penggerak dan penjaga negeri ini harus mampu menjadi teladan di depan dalam upaya penemuan terhadap segala persoalan itu.Muhammadiyah, sebagai sebuah organisasi yang identik dengan tajdid memiliki dua ciri utama, yakni purifikasi terhadap ajarannya, namun dinamis terhadap realitas sosial dan keilmuan. Identitas inilah yang sangat melekat di dalam tubuh Muhammadiyah, terlebih lagi di dalam diri para aktivis, simpatisan dan siapapun yang berada dekat dengan organisasi itu. Oleh karena itu, semangat tajdid inilah yang menjadi semangat utama di dalam upaya penemuan solusi atas berbagai permasalahan yang ada
MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA MELALUI MATAKULIAH AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN (AIK) di UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO Puspita Handayani; Ima Faizah; Mu’adz Mu’adz
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 18, No 2 (2020): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) course is a spirit of Muhammadiyah colleges. In its implementation, AIK courses are taken by students in four semesters or at least 8 credits with a maximum of 12 credits. With the distribution model AIK1, 2, 3, and 4 in its implementation it has not been able to provide significant changes to the formation of student character. The indications are, there are still many students who are undisciplined, break the rules, still find dishonest behavior during exams, the low religious students seen from their active running prayer in congregation at the campus mosque, and clean living patterns in the campus environment. The formation of UMSIDA student character will be realized when there is a support program to build character, so the Al-Islam Kemuhammadiyahan Institute conducts a Character Education program for new students (PKMU) through several changes in the implementation model. This program is implemented as a form of AIK course mentoring.
KEADILAN GENDER DALAM RANAH KEPEMIMPINAN MUHAMMADIYAH (Studi Terhadap Struktur Kepengurusan di IMM Sleman Yogyakarta) Muhammad Ridha Basri
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 12, No 2 (2014): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muhammadiyah is a movement that introduced himself as a reform movement. One of which contains an autonomous organization since 1917 is Aisyiyah, as a representation of women in particular. This became evident that Muhammadiyah upholds degrees women and put them in strategic positions. In the long run, Muhammadiyah through the Legal Affairs Committee and Tajdid trying to rise decisions and edicts in favor of gender equality. Among them, women are allowed to go into politics and become involved in the leadership structure. Not only in the political field iconic public sphere, women are also allowed to lead in the realm of worship to become a priest prayer for the men in particular contekt. Essential staple of gender justice can be understood by the majority of cadres, especially in the PC. IMM Sleman period 2014-2015.
PROBLEMATIKA PERKADERAN DI PERGURUAN TINGGI MUHAMMADIYAH (PTM) Ari Anshori
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 15, No 1 (2017): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada hakikatnya ber-Muhammadiyah, ialah memimpinkan Islam kepada warga Muhammadiyah, dalam konteks Civitas Akademika PTM ialah memimpinkan Islam kepada segenap warga almamater di lingkungan PTM. Dalam konteks persyarikatan, kini ke depan yang diperlukan adalah pengayaan (enrichment) dalam tajdid Muhammadiyah, baik yang berdimensi purifikasi maupun dinamisasi, termasuk dalam memaknai pendekatan bayani, burhani, dan irfani dalam manhaj tarjih Muhammadiyah. Terpaku dalam dinamisasi dan purifikasi sebagai jalan tengah tidak boleh bersifat pasif-doktriner belaka, karena keduanya memerlukan pengayaan dalam subtansi dan metodologinya. Pemurnian dan pembaruan yang berjargon belaka apalagi kering dari teori dan metodologi hanya akan menjadi lapuk dalam slogan moderasi yang pasif