cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
POTENSI ANTI BAKTERI MUCUS IKAN-IKAN NATIVE DI PERAIRAN DANAU LIMBOTO, GORONTALO, INDONESIA Syam S. Kumaji; Zuliyanto Zakaria
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 5, No 1: March 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v5i1.7992

Abstract

ANALISIS SENYAWA INHIBITOR ENZIM KATEPSIN KULIT IKAN PATIN TERHADAP PENUNDAAN KEMUNDURAN MUTU CUMI-CUMI Fitriana Dian Kusuma; R. Susanti; Septiana Anggraini; Dyken Dwi Arlinda
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 6, No 2: September 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v6i2.8500

Abstract

Daya simpan cumi-cumi dipengaruhi oleh aktivitas enzim katepsin yang menyebabkan kemunduran mutu cumi-cumi pada hari ke tiga setelah fase post rigor. Aktivitas inhibitor katepsin alami dari ikan patin berpotensi menghambat kemunduran mutu ikan jenis lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis senyawa inhibitor enzim katepsin dari kulit ikan patin terhadap kemunduran mutu cumi-cumi. Penelitian didesain dengan rancangan acak dengan pola dua faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi inhibitor enzim katepsin yang diekstrak dari kulit ikan patin, dengan empat variasi yaitu 1:0; 1:1; 2:3; dan 3:2. Faktor kedua adalah lama rendaman/inkubasi cumi-cumi pada fase post rigor selama 3, 7, dan 9 hari dalam ekstrak inhibitor. Setelah direndam, aktivitas enzim katepsin pada cumi-cumi diukur dengan metode spektrofotometri. Setelah didapatkan absorbansi maka aktivitas enzim dan persentase penghambatannya dihitung. Hasil uji Two Way Annova menunjukan bahwa konsentrasi berbeda nyata dengan peresentase penghambatan sedangkan lama penyimpanan tidak berbeda nyata dengan taraf kepercayaan 0,05. Konsentrasi kemudian diuji lanjut dengan Duncan dan konsentrasi yang paling efektif untuk menghambat aktivitas enzim adalah konsentrasi 3:2 dengan persentase penghambatan 57%. 
PEMANFAATAN SUSU KAMBING ETAWA DAN KEDELAI SEBAGAI BAHAN DASAR DANGKE ( KEJU KHAS INDONESIA) DENGAN KOAGULAN EKSTRAK JERUK NIPIS Titik Suryani; Fathun Niswah
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 2: September 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v1i2.877

Abstract

Dangke adalah salah satu keju  tradisional mirip  tahu yang  berwarna putih kekekuningan dari susu kerbau. Tujuan penelitian ini  untuk mengetahui pengaruh variasi  bahan dasar  dangke  dengan koagulan ekstrak jeruk nipis terhadap kandungan protein, lemak, asam total, uji organoleptik (warna, rasa, aroma dan tekstur) dan daya terima masyarakat. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 faktoryaitu kombinasi konsentrasi susu kambing etawa dan  susu kedelai  terdiri atas 5 perlakuan yaitu  K1E0 (100% susu kedelai), K0E1 (100% susu kambing etawa), K1E1 (50% susu kedelai : 50% susu kambing etawa), K8E2 (80% susu kedelai : 20% susu kambing etawa), dan K2E8 (20% susu kedelai : 80% susu kambing etawa), masing-masing 3 kali ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  kombinasi  susu kambing etawa 80% : susu kedelai 20% menghasilkan dangke terbaik  dengan  kadar protein 20,30 g, kadar lemak 7,53%, dan asam total 8,29%. Kualitas dangke yang baik adalah warna kekuningan (krem), tidak berbau amis, rasa enak dan tekstur  lembut. Dangke yang disukai pada 100% susu kedelai dan susu kambing etawa20%  : susu kedelai 80%.
PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK SERASAH LAMUN (SEAGRASS) TERHADAP KUAT TEKAN DAN ABSORBSI AIR ECO-BATAKO R. Bekti Kiswardianta; Farida Huriawati; Nurul Kusuma Dewi
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 3, No 2: September 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v3i2.5183

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan serbuk serasah lamun (seagrass) terhadap pasir pada nilai kuat tekan dan absorbsi air eco-batako.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni eksperimen dengan sampel eco-batako (20 x 10 x 6) cm dalam 4 variasi penambahan serbuk serasah lamun.Variasi pertama tanpa penambahan serbuk serasah lamun (0%), kedua dengan penambahan 5%, ketiga dengan penambahan 15%, dan yang keempat dengan penambahan 25%. Pengujian kuat tekan dan absorbs air dilakukan pada eco-batako umur 28 hari dengan sepuluh kali pengulangan dan diambil nilai rata-ratanya. Hasil penelitian menunjukan nilai kuat tekan untuk setiap variasi adalah 12,102 MPa untuk yang tanpa penambahan serbuk serasah lamun (0%), 11,011 MPa untuk penambahan 5%, 7,6044MPa untuk penambahan 15%, dan 5,3872MPa untuk penambahan 25%. Untuk data pengujian absorsi air adalah 12,439% untuk yang tanpa penambahan serbuk serasah lamun (0%), 13,81% untuk penambahan 5%, 15,215% untuk penambahan 15%, dan 16,019% untuk penambahan 25%. Kesimpulan yang diperoleh adalahsemakin banyak konsentrasi penambahan serbuk serasah lamun semakin rendah nilai kuat tekan eco-batako dan sebaliknya semakin sedikit penambahan konsentrasi serbuk serasah lamun dalam eco-batako semakin rendah daya absorbsi airnya
The Percentage of Epiphytes Cover on The Seagrass Beds in Sepanjang Beach, Indonesia Vina Listiawati; Siti Naily Rohmah; Dheny Choirul Alfan
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 4, No 2: September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v4i2.6889

Abstract

Seagrasses are foundation plant species as they not only create their own habitat but also for other marine organisms. In estuarine and marine environments, they form beds and their leafy structure are the excellent substrate for the epiphytes. In this study, we aimed to investigate the percentage cover of epiphytes on the seagrass beds in Sepanjang Beach, Indonesia. 5 transect lines with 20 m in length with the 50 x 50 cm quadrat at the interval of 5 m were placed at the perpendicular angle to the shoreline. These transects were positioned from the furthermost of the western part to the middle part of the beach, represented the gradation level of human activities. The result showed that the percentage cover of epiphytes was significantly higher on the middle part of the beach compared to the side of the beach. This present study suggest that human activities could lead to the increasing of epiphytes cover on the seagrass beds.
Pemanfaatan Biji Turi Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kecap Secara Hidrolisis dengan Menggunakan Ekstrak dan Nanas Aminah Asngad; Vanda Fikoeritrina; Widya Primerika
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 1: March 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v1i1.314

Abstract

Selama ini pemanfaatan tanaman turi oleh  masyarakat masih terbatas, bagian dari tanaman turi yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat hanya bunganya.  Padahal biji turi yang berbentuk bulat berwarna kuning kecoklatan mempunyai rasa dan aroma khas jenis kacang-kacangan juga dapat dimanfaatkan karena kaya dengan mineral dan vitamin serta mengandung protein. Biji dari tanaman turi dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif  dalam pembuatan  kecap karena biji tanaman turi tersebut  mempunyai komposisi  kandungan gizi yang tidak jauh berbeda dengan kedelai, terutama kandungan  protein biji turi sebesar 36,21%  yang setara  dengan kandungan protein kedelai sebesar 37,5% Pembuatan kecap dengan menggunakan ekstrak pepaya dan nanas dapat mempercepat waktu pembuatan kecap secara hidrolisis protein karena adanya enzim papain pada pepaya dan enzim bromelin pada nanas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein kecap biji turi dengan menggunakan ekstrak pepaya dan nanas serta untuk  mengetahui organoleptik kecap biji turi dengan menggunakan ekstrak pepaya dan nanas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor tersebut yaitu jenis ekstrak yang digunakan (ekstrak pepaya dan ekstrak nanas) dan penambahan volume ekstrak (80 ml, 100 ml, dan 120 ml) dengan 6 kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak pepaya dan nanas berpengaruh pada kadar protein kecap. Hasil kadar protein tertinggi pada perlakuan J1V1 yaitu 12,11%,  sedangkan  kadar protein terendah pada perlakuan J2V1 yaitu 7,53 %. Kecap dengan perlakuan menggunakan ekstrak nanas, volume 120 ml merupakan kecap yang dapat diterima oleh masyarakat.
Pengaruh Suhu dan pH Ekstraksi Pektin dari Limbah Kulit Buah Prabandhani Pamikatsih; Gerald Dewa Agcaya; Akida Mulyaningtyas
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 7, No 2: September 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v7i2.11028

Abstract

Lebih banyak digunakan pada berbagai industri, hampir 100% kebutuhan pektin di Indonesia lebih penting karena belum ada produsen pektin dalam negeri. Penelitian ini membahas pentingnya suhu (pH dan suhu) pada proses isolasi pektin dari campuran limbah kulit buah. Beberapa kulit buah dengan jumlah yang cukup melimpah yang diperlukan digunakan sebagai bahan baku pembuatan pektin di atas adalah kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), pepaya (Carica papaya), melon (Cucumis melo), nanas (Ananas comosus), serta jeruk ( Citrus sinensis). Dalam penelitian ini isolasi pektin dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut asam oksalat 1 N pada pH 1, 2, 3, 4 dan 5. Proses ekstraksi dilakukan pada suhu 70 ° C, selama 90 menit, dengan kecepatan pengadukan 500 rpm. Selain itu, proses ekstraksi juga dilakukan pada variasi suhu 60 ° C, 70 ° C, 75 ° C, 80 ° C dan 90 ° C untuk mengetahui variasi suhu terhadap karakteristik pektin yang dihasilkan. Karakterisasi pektin dilakukan dengan uji berat, kadar metoksil dan kadar abu. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kondisi operasi yang terbaik untuk ekstraksi pektin dari campuran limbah kulit buah adalah pH 2 dan suhu 70 ° C, di mana pada kondisi ini diperoleh hasil pektin sebesar 9,58-10,37%, kadar metoksil 4,03- 10,54%, berat setara 608,33-702,54mg, serta kadar abu 6,13-6,38%.
BIOPULPING PELEPAH TANAMAN SALAK MENGGUNAKAN JAMUR PELAPUK PUTIH Phanerochaete chrysosporium Triastuti Rahayu; Aminah Asngad; Suparti Suparti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 3, No 1: March 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v3i1.3671

Abstract

Serat pelepah tanaman salak yang menjadi limbah perkebunan salak di Kabupaten Sleman Yogyakarta sama sekali belum dimanfaatkan dan menjadi sampah/limbah padahal mengandung selulosa 42%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh JPP (Jamur Pelapuk Putih) P. chrysosporium pada proses biopulping serat pelepah salak. Rancangan penelitian menggunakan RAL 1 faktor yaitu jenis inokulum (J0=kontrol, J1= P.chrysosporium).  Pelepah tanaman salak dicacah dengan pencacah sampah kemudian disterilkan dalam autoclave selama 45 menit pada suhu 121°C. Serpih pelepah salak  (150 g berat kering) dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas kemudian diinokulasi 10% inokulum jamur dan diinkubasi dalam suhu ruang (29-30˚C) selama 45 hari. Serpih pelepah tanaman salak yang telah diinkubasi sampai masa inkubasi berakhir dimasak dengan NaOH 10%  L: W = 1:5 (L=berat serpih, W=larutan pemasak), lama pemasakan 1 jam. Setelah dimasak, serpih direndam dalam air dingin 1 L selama 24 jam untuk mengoptimalkan sisa-sisa bahan pemasak dalam melunakkan serpih. Selanjutnya serpih dicuci sampai bebas alkali dan diblender menjadi serbuk untuk analisis bilangan Kappa dan kadar holoselulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P.chrysosporium dapat tumbuh bagus pada substrat serat pelepah salak untuk biopulping dan dapat menurunkan bilangan Kappa 5% setelah 45 hari inkubasi tetapi kadar holoselulosa sama dengan kontrol.
Analisis Kedalaman Laut Purba Batu Gamping Gorontalo Berdasarkan Kandungan Fosil Foraminifera Bentonik Aang Panji Permana; Sunarty Suly Eraku
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 6, No 1: March 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v6i1.10428

Abstract

Efektivitas Pupuk Cair Pseudomonas fluorescens Agensia Pengendali Hayati Terhadap Penyakit Mosaik Tanaman Kakao Wiwit Probowati; Ika Afifah Nugraheni; Titin Aryani
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 7, No 1: March 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v7i1.10245

Abstract

Cocoa is a strategic commodity for plantation in Indonesia. However, pest and disease infections are inevitably common constrains for the cocoa cultivators. Cocoa mosaic disease is one of disease which is cause cocoa trees suffering. Pseudomonas fluorescens are obligate aerobic bacteria that are very valuable for agricultural technology. The bacteria also protects plants from pathogens infection by producing secondary metabolites that kill bacteria and other fungi. The bacteria can used as safe and environmentally friendly biological control agents. This study aims to determine P. fluorescens liquid fertilizer formulation and its effectiveness in suppressing mosaic disease in cocoa plants. The research method was carried out by making a liquid formula from P. fluorescens and then applying it to cocoa plants that were attacked by mosaic disease. Bacterian isolates grown in conch broth medium were incubated for 3 days. Then the fertilizer formula was applied to mosaic symptomatic cocoa plants with fertilizer concentrations of 25%, 50% and 75% compared to spraying using chemical insecticides. The results showed that the liquid formula concentration of 75% can suppress the most effective mosaic symptoms and the optimal growth of cocoa plants for 7 treatments.