Claim Missing Document
Check
Articles

AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES DARI SAMPEL PASIR GUNUNG MERAPI DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA TERHADAP BAKTERI Escherichia coli MULTIRESISTEN ANTIBIOTIK Wulandari, Wuri; Rahayu, Triastuti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 2: September 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri 10 isolat Actinomycetes dari sampel pasir Gunung Merapi menggunakan metode sumuran dan fermentasi terhadap bakteri E.coli multiresisten antibiotik dengan lama waktu fermentasi yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor perlakuan yaitu lama waktu fermentasi (L) dan jenis isolat Actinomycetes (S). Masing-masing perlakuan dengan 2 kali ulangan. Isolat Actinomycetes tersebut difermentasi dalam kultur cair yang mengandung 2% manitol, 2% pepton, dan 1% glukosa selama 6, 7, dan 8 hari, pada suhu 280C menggunakan shaker 50 rpm, selanjutnya diuji menggunakan metode sumuran terhadap E.coli multiresisten. Hasilnya ke 10 isolat mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E.coli dengan diameter zona hambat bervariasi. Aktivitas antibakteri terkuat pada hari ke-6 pada isolat D (S4) dengan diameter zona hambat iradikal 17,25 mm, pada fermentasi hari ke-7 pada isolat G (S8) dengan diameter zona hambat radikal 7 mm, dan pada hari ke-8 pada  isolat A (S1) dengan diameter zona hambat radikal 10 mm.
KUALITAS KERTAS SENI DARI PELEPAH TANAMAN SALAK MELALUI “BIOCHEMICAL” JAMUR Phanerochaete crysosporium DAN Pleurotus ostreatus DENGAN VARIASI LAMA PEMASAKAN DALAM NaOH Rahayu, Triastuti; Asifa, Aulia Asifati
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 2, No 2: September 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v2i2.2493

Abstract

Kertas seni atau biasa disebut kertas daur ulang merupakan kertas yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan kerajinan tangan. Biasanya terbuat dari limbah tanaman yang mengandung serat tinggi. Limbah pelepah tanaman salak yangtidak termanfaatkan mengandung serat tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas seni. Bahan baku tersebut diproses melalui biopulping jamur Phanerochaete crysosporium dan Pleurotus ostreatus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas kertas seni dari pelepah tanaman salak melalui biokraft jamur Phanerochaete crysosporium dan Pleurotus ostreatus dengan variasi lama pemasakan dalam NaOH dengan parameter penelitian uji daya tarik, daya sobek dan uji sensoris (tekstur, warna, kenampakan serat dan daya terima masyarakat). Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, faktor 1 yaitu lama pemasakan dalam NaOH 15% (P1=1 jam, P2= 2 jam) dan faktor 2 yaitu lama inkubasi (L1= 30 hari, L2= 45 hari) dengan 4 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kertas seni terbaik adalah pada perlakuan P2L1 (lama pemasakan 2 jam dan lama inkubasi 30 hari) yaitu 0,243 N/mm2 yang merupakan hasil uji daya tarik dan 18,711 N yang merupakan daya sobek tertinggi, tekstur halus, warna coklat muda, kenampakan serat kurang jelas dan panelis suka terhadap kertas ini.
BIOPULPING PELEPAH TANAMAN SALAK MENGGUNAKAN JAMUR PELAPUK PUTIH Phanerochaete chrysosporium Rahayu, Triastuti; Asngad, Aminah; Suparti, Suparti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 3, No 1: Maret 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v3i1.3671

Abstract

Serat pelepah tanaman salak yang menjadi limbah perkebunan salak di Kabupaten Sleman Yogyakarta sama sekali belum dimanfaatkan dan menjadi sampah/limbah padahal mengandung selulosa 42%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh JPP (Jamur Pelapuk Putih) P. chrysosporium pada proses biopulping serat pelepah salak. Rancangan penelitian menggunakan RAL 1 faktor yaitu jenis inokulum (J0=kontrol, J1= P.chrysosporium).  Pelepah tanaman salak dicacah dengan pencacah sampah kemudian disterilkan dalam autoclave selama 45 menit pada suhu 121°C. Serpih pelepah salak  (150 g berat kering) dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas kemudian diinokulasi 10% inokulum jamur dan diinkubasi dalam suhu ruang (29-30˚C) selama 45 hari. Serpih pelepah tanaman salak yang telah diinkubasi sampai masa inkubasi berakhir dimasak dengan NaOH 10%  L: W = 1:5 (L=berat serpih, W=larutan pemasak), lama pemasakan 1 jam. Setelah dimasak, serpih direndam dalam air dingin 1 L selama 24 jam untuk mengoptimalkan sisa-sisa bahan pemasak dalam melunakkan serpih. Selanjutnya serpih dicuci sampai bebas alkali dan diblender menjadi serbuk untuk analisis bilangan Kappa dan kadar holoselulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P.chrysosporium dapat tumbuh bagus pada substrat serat pelepah salak untuk biopulping dan dapat menurunkan bilangan Kappa 5% setelah 45 hari inkubasi tetapi kadar holoselulosa sama dengan kontrol.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES DARI SAMPEL PASIR GUNUNG MERAPI DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA TERHADAP BAKTERI Escherichia coli MULTIRESISTEN ANTIBIOTIK Wulandari, Wuri; Rahayu, Triastuti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 2: September 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v1i2.878

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri 10 isolat Actinomycetes dari sampel pasir Gunung Merapi menggunakan metode sumuran dan fermentasi terhadap bakteri E.coli multiresisten antibiotik dengan lama waktu fermentasi yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor perlakuan yaitu lama waktu fermentasi (L) dan jenis isolat Actinomycetes (S). Masing-masing perlakuan dengan 2 kali ulangan. Isolat Actinomycetes tersebut difermentasi dalam kultur cair yang mengandung 2% manitol, 2% pepton, dan 1% glukosa selama 6, 7, dan 8 hari, pada suhu 280C menggunakan shaker 50 rpm, selanjutnya diuji menggunakan metode sumuran terhadap E.coli multiresisten. Hasilnya ke 10 isolat mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E.coli dengan diameter zona hambat bervariasi. Aktivitas antibakteri terkuat pada hari ke-6 pada isolat D (S4) dengan diameter zona hambat iradikal 17,25 mm, pada fermentasi hari ke-7 pada isolat G (S8) dengan diameter zona hambat radikal 7 mm, dan pada hari ke-8 pada  isolat A (S1) dengan diameter zona hambat radikal 10 mm.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES DARI SAMPEL PASIR GUNUNG MERAPI DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA TERHADAP BAKTERI Escherichia coli MULTIRESISTEN ANTIBIOTIK Wuri Wulandari; Triastuti Rahayu
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 2: September 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v1i2.878

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri 10 isolat Actinomycetes dari sampel pasir Gunung Merapi menggunakan metode sumuran dan fermentasi terhadap bakteri E.coli multiresisten antibiotik dengan lama waktu fermentasi yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor perlakuan yaitu lama waktu fermentasi (L) dan jenis isolat Actinomycetes (S). Masing-masing perlakuan dengan 2 kali ulangan. Isolat Actinomycetes tersebut difermentasi dalam kultur cair yang mengandung 2% manitol, 2% pepton, dan 1% glukosa selama 6, 7, dan 8 hari, pada suhu 280C menggunakan shaker 50 rpm, selanjutnya diuji menggunakan metode sumuran terhadap E.coli multiresisten. Hasilnya ke 10 isolat mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E.coli dengan diameter zona hambat bervariasi. Aktivitas antibakteri terkuat pada hari ke-6 pada isolat D (S4) dengan diameter zona hambat iradikal 17,25 mm, pada fermentasi hari ke-7 pada isolat G (S8) dengan diameter zona hambat radikal 7 mm, dan pada hari ke-8 pada  isolat A (S1) dengan diameter zona hambat radikal 10 mm.
KUALITAS KERTAS SENI DARI PELEPAH TANAMAN SALAK MELALUI “BIOCHEMICAL” JAMUR Phanerochaete crysosporium DAN Pleurotus ostreatus DENGAN VARIASI LAMA PEMASAKAN DALAM NaOH Triastuti Rahayu; Aulia Asifati Asifa
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 2, No 2: September 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v2i2.2493

Abstract

Kertas seni atau biasa disebut kertas daur ulang merupakan kertas yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan kerajinan tangan. Biasanya terbuat dari limbah tanaman yang mengandung serat tinggi. Limbah pelepah tanaman salak yangtidak termanfaatkan mengandung serat tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas seni. Bahan baku tersebut diproses melalui biopulping jamur Phanerochaete crysosporium dan Pleurotus ostreatus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas kertas seni dari pelepah tanaman salak melalui biokraft jamur Phanerochaete crysosporium dan Pleurotus ostreatus dengan variasi lama pemasakan dalam NaOH dengan parameter penelitian uji daya tarik, daya sobek dan uji sensoris (tekstur, warna, kenampakan serat dan daya terima masyarakat). Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, faktor 1 yaitu lama pemasakan dalam NaOH 15% (P1=1 jam, P2= 2 jam) dan faktor 2 yaitu lama inkubasi (L1= 30 hari, L2= 45 hari) dengan 4 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kertas seni terbaik adalah pada perlakuan P2L1 (lama pemasakan 2 jam dan lama inkubasi 30 hari) yaitu 0,243 N/mm2 yang merupakan hasil uji daya tarik dan 18,711 N yang merupakan daya sobek tertinggi, tekstur halus, warna coklat muda, kenampakan serat kurang jelas dan panelis suka terhadap kertas ini.
BIOPULPING PELEPAH TANAMAN SALAK MENGGUNAKAN JAMUR PELAPUK PUTIH Phanerochaete chrysosporium Triastuti Rahayu; Aminah Asngad; Suparti Suparti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 3, No 1: March 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v3i1.3671

Abstract

Serat pelepah tanaman salak yang menjadi limbah perkebunan salak di Kabupaten Sleman Yogyakarta sama sekali belum dimanfaatkan dan menjadi sampah/limbah padahal mengandung selulosa 42%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh JPP (Jamur Pelapuk Putih) P. chrysosporium pada proses biopulping serat pelepah salak. Rancangan penelitian menggunakan RAL 1 faktor yaitu jenis inokulum (J0=kontrol, J1= P.chrysosporium).  Pelepah tanaman salak dicacah dengan pencacah sampah kemudian disterilkan dalam autoclave selama 45 menit pada suhu 121°C. Serpih pelepah salak  (150 g berat kering) dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas kemudian diinokulasi 10% inokulum jamur dan diinkubasi dalam suhu ruang (29-30˚C) selama 45 hari. Serpih pelepah tanaman salak yang telah diinkubasi sampai masa inkubasi berakhir dimasak dengan NaOH 10%  L: W = 1:5 (L=berat serpih, W=larutan pemasak), lama pemasakan 1 jam. Setelah dimasak, serpih direndam dalam air dingin 1 L selama 24 jam untuk mengoptimalkan sisa-sisa bahan pemasak dalam melunakkan serpih. Selanjutnya serpih dicuci sampai bebas alkali dan diblender menjadi serbuk untuk analisis bilangan Kappa dan kadar holoselulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P.chrysosporium dapat tumbuh bagus pada substrat serat pelepah salak untuk biopulping dan dapat menurunkan bilangan Kappa 5% setelah 45 hari inkubasi tetapi kadar holoselulosa sama dengan kontrol.
Potensi Bakteri Endofit Asal Tanaman Pisang Klutuk (Musa balbisiana Colla) Sebagai Pendukung Pertumbuhan Tanaman Triastuti Rahayu; Yekti Asih Purwestri; Siti Subandiyah; Donny Widianto
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 14, No 2 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v14i2.19140

Abstract

AbstrakBakteri endofit yang terdapat di tanaman pisang Klutuk dan keterkaitannya dengan sifat ketahanan tanaman pisang Klutuk pada cekaman biotik dan abiotik belum dilaporkan dalam publikasi ilmiah. Sebanyak 93 isolat bakteri endofit telah diperoleh dari pisang Klutuk, tetapi belum diketahui kemampuannya sebagai pendukung pertumbuhan tanaman (PPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter isolat-isolat bakteri endofit dari pisang Klutuk sebagai pendukung pertumbuhan tanaman. Kelompok bakteri Gram positif dan negatif ditentukan dengan metode pewarnaan Gram. Kemampuan memfiksasi nitrogen (N2), memproduksi asam indol asetat (AIA), dan antagonisme terhadap Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) diuji untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri endofit sebagai pendukung pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 87,10% isolat bakteri endofit dari tanaman pisang Klutuk merupakan kelompok bakteri Gram negatif dan 82,80% (77 isolat bakteri) menunjukkan karakter tunggal atau ganda sebagai PPT. Di dalam kelompok isolat tersebut, terdapat berturut-turut 60, 38, dan 20 bakteri yang mampu memfiksasi N2, menghasilkan AIA, dan antagonisme terhadap Foc. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa bakteri endofit dari pisang Klutuk didominasi oleh bakteri kelompok Gram negatif yang memiliki kemampuan sebagai pendukung pertumbuhan tanaman.Abstract The role of endophytic bacteria on the biotic and abiotic resistance of Klutuk banana plants has never been reported. A total of 93 endophytic bacterial isolates were obtained from Klutuk banana plants in a previous study, but their potency as Plant Growth Promoting Bacteria (PGPB) is not elucidated. This study aims to characterize those 93 endophytic bacterial isolates. Gram staining was performed to differentiate between Gram-positive and negative bacteria among the isolates. The ability to fix nitrogen (N2), produce indole acetic acid (IAA) and antagonize Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) were also examined to determine their potency as PGPB. The results showed that 87.1% of the endophytic bacterial isolates were Gram-negative bacteria and 83.87% (78 bacterial isolates) had single or multiple traits of PGPB. Among the isolates, 60, 38, and 20 bacteria were able to fix N2, produce IAA, and antagonize Foc, respectively. The results indicated that the endophytic bacteria inhabiting Klutuk banana plant are dominated by Gram-negative PGPB.
Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Rizosfer Pohon Kamboja (Plumeria acuminata) di TPU Pracimaloyo sebagai penghasil IAA Sahasika Sean Putra; Triastuti Rahayu; Erma Musbita Tyastuti
BIOEDUSCIENCE Vol 7 No 1 (2023): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jbes/7111375

Abstract

Background: Cambodian trees are known to be resistant to biotic and abiotic stresses which may be influenced by the presence of rhizosphere bacteria as Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR). This study aims to isolate and characterize Cambodian tree rhizosphere bacteria from burial soils that have the potential to produce IAA. Methods: Rhizospheric soil samples were taken from Pracimaloyo TPU, Surakarta, Central Java, at 5 points attached to the surface of the frangipani tree roots to be inoculated using the scattering cup method at 10-5 and 10-6 dilutions in NA (nutrient agar). After 48 hours, colonies were counted to obtain population data. The ability of rhizosphere bacteria to produce IAA was carried out qualitatively and quantitatively at the age of 24 and 48 hours of culture. Rhizospheric bacteria isolates potential to produce IAA were characterized macroscopically (colony morphology) and microscopically by Gram staining. Results: The population of frangipani tree rhizosphere bacteria in all blocks did not show a significant difference and was detected to have a population between 1.9 – 10.4 x 106. Qualitative test of the ability to produce IAA, it was detected that 34.88% of isolates produced very high IAA. The highest concentration of IAA was produced by isolate P37, followed by P38 and P24 at 48 hours of age, namely 113.58 ppm, 77.95 ppm, and 55.69 ppm. All potential isolates to produce IAA are cocci-shaped gram-negative bacteria. Conclusion: The population of frangipani tree rhizosphere bacteria in Pracimaloyo TPU ranged from 1.9-10.4 x 106 CFU/g and 34.88% had the ability to produce IAA. The concentration of IAA produced was higher at 48 hours of culture compared to 24 hours with the highest concentration by isolate P37 (83.098 ppm and increased to 113.588 ppm). Isolate P37 is a gram-negative cocci-shaped bacterium and irregular colonies.
Keragaman dan Resistensi Antibiotik Isolat Bakteri Tanah di Dalam dan Luar TPU Bonoloyo, Surakarta Jawa Tengah Yusnita Rahmawati; Triastuti Rahayu; Erma Musbita Tyastuti; Yasir Sidiq
Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Vol 20, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/pharmacon.v20i1.22572

Abstract

A cemetery acts as an active decomposition site and contains bacteria which most likely have antibiotic resistance. However, related data to the phenomenon is limited. This study aimed to compare the diversity of bacteria inside and outside the cemetery and examine bacterial antibiotic resistance. First, samples were collected from three different spots inside and outside the Bonoloyo public cemetery in Surakarta, Central Java. Then, the bacteria were isolated by spread plate method on NA medium and were observed using Gram staining after 48 hours of incubation. Also, bacterial resistance against cefepime, bacitracine, and ampicilin were examined. As the results, bacterial populations inside and outside the cemetery area are 3.4x106 and 4.6x106 CFU/gram, respectively, with a diversity of 38% and 34%, while 28% of isolates are collected from both areas. The result of morphological observation showed that 15 and 21 isolates are respectively round and irregular, white to yellow colour with raised (16 isolates) and flat (19 isolates) elevation. Gram staining showed 48 isolates are coccus and 2 are bacilli, with 23 isolates of Gram negative and 27 isolates of Gram positive. Bacterial isolates showed resistance against cefepime (50%-50%)  and against bacitracine (52%-43%) each from both areas of the cemetery, while resistance against ampicilin was relatively low (33%-21%). The number of bacterial populations and bacterial diversity inside and outside the cemetery area are not significantly different. In fact, the resistance of the soil bacteria population collected from cemetery soil are higher than that collected from soil outside the cemetery.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Adihaningrum, Hidayah Adityaradja, Bagas Agus Supriadi Alanindra Saputra Amanah, Firda Aminah Asngad Andika, M. Reisa Anggita Juniar Laspartriana Anggun Dwi Nur Annisa Anhari, Minhatul Ulya Anjani, Nofa Ariyanti, Olivia Puja Arum Dyah Ripdianti Asifa, Aulia Asifati Asifa, Aulia Asifati Aulia Asifati Asifa Aurelia, Fanisha Chairunnisa, Maurizka Defina Anggita Silviani Desfika Ardia Putri Dewianty, Ratih Diajeng Ukhty Mahirro Donny Widianto Donny Widianto Elvina Sophia Ranti Erma Musbita Tyastuti Erma Musbita Tyastuti Erma Musbita Tyastuti Erma Musbita Tyastuti Erma Musbita Tyastuti Erma Musbita Tyastuti Ernawati, Devi Fadilah, Fari Fari Fadilah Febriyanti, Vika Finarsih, Fita Guntur Nurcahyanto Halim, Ilham Surya Halimah, Syarifah Nur Hapsari, Lativa Restu Hardianto, Alden Ganendra Madhava Priya Haryanto Haryanto Husniah, Salissatul Ima Aryani Imragaa, Abdelqader Insani, Qori Tsaniyah Ainun Jamil, Nazia Kistantia Elok Mumpuni Kistantia Elok Mumpuni Kun Harismah Kusala, Katrin Vidya Laspartriana, Anggita Juniar Latih, Garin Puspa Lestari, Ulfa Putri Listy Hasti Mandiri Mandiri, Listy Hasti Maurisa Yuant Khairani Muhamad Wisnu Muhammad Halim Maimun Ningsih, Ike Warti Ninik Nihayatul Wahibah Ninik Nihayatul Wahibah Nisa, Melita Arofatun Nofa Anjani Nurul Aini Perdana, Aprilia Putri Pujiati Putra, Sahasika Sean Putri Agustina Putri Agustina Putri Salwa Salsabilla Putri, Salsabilla Ardilia Ratih Dewianty Rika Dini Saputri Rina Astuti Rini, Heni Sulistyo Ripdianti, Arum Dyah Risnasari, Wanda Datik Sabdina, Berlian Achya Putri Sahasika Sean Putra Santhyami Sari, Siti Kartika Seno, Hernandito Aryo Siddiq, Yasir Silviani, Defina Anggita Siti Kartika Sari Siti Nur Syarifah Siti Subandiyah Sofyan Anif Suparti - - Suparti Suparti Suparti Suparti Taufiq Satria Mukti Titik Suryani Titik Suryani Trio Ageng Prayitno Tyastuti , Erma Musbita Tyastuti, Erma Musbita Ucik Mardini Vika Manda Putri Vina Listiawati Viryateja, Gavin W Wahyuni, W Wahid, Hafiyan Zahroh Al Wahyu Purwo Raharjo Wardhani, Dea Wieda Indrajaya Wibowo, Vina Noviasanti Putri Wijayanti, Dinda Ayu Wuri Wulandari Wuri Wulandari, Wuri Yasir Sidiq Yayuk Mundriyastutik Yekti Asih Purwestri Yulianti, Anisa Yusnita Rahmawati Zainulmuttaqin, Ariki Zulperi, Dzarifah