cover
Contact Name
Hurriah Ali Hasan
Contact Email
pilar@unismuh.ac.id
Phone
+6281241852596
Journal Mail Official
pilar@unismuh.ac.id
Editorial Address
Jl. St. Alauddin, No 259, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Pilar
ISSN : 19785119     EISSN : 27763005     DOI : https://doi.org/10.26618/298dtd07
scientific publication journal that aims to support the development of Islamic studies in various fields of science, in the fields of education, economics, law, history by exploiting knowledge and practice for the benefit of humanity. Through this journal, it is hoped that the scientific community can contribute to the development of knowledge related to Islamic studies.
Articles 376 Documents
PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP (Long Life Education) Azis, Nur Ani
PILAR Vol. 4 No. 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/3b6j5z51

Abstract

AbstrakKonsep pendidikan seumur hidup sebenarnya sudah sejak lama dipikirkan oleh pakar pendidikan dari zaman ke zaman.a palagi bagi umat Islam, jauh sebelum orang-orang Barat mengangkatnya, Islam sudah mengenal pendidikan seumur hidup, sebagaimana dinyatakan oleh Hadis Nabi Muhammad saw yang berbunyi “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”. Asas pendidikan seumur hidup ini merumuskan suatu asas bahwa proses pendidikan merupakan proses kontinyu yang sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Konsep pendidikan ini mencakup pendidikan informal, formal dan nonformal.Kata kunci: lat untuk mengembangkan individu-individu yang akan belajar seumur hidup, agar lebih bernilai bagi masyarakat.
“UMMATAN WASATHAN” DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-TABARIY Muchtar, M Ilham
PILAR Vol. 4 No. 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j4a96r23

Abstract

AbstrakUmmatan Wasathan adalah konsep masyarakat ideal dalam pandangan Alqur’an, yaitu masyarakat yang hidup harmonis atau masyarakat yang berkeseimbangan. Al-wasath adalah ciri keunggulan umat atau masyarakat yang diidealkan Alqur'an karena sifatnya yang moderat dan berdiri di tengah-tengah sehingga dapat dilihat oleh semua pihak dan dari segenap penjuru. Posisi pertengahan menjadikan anggota masyarakat tersebut tidak memihak ke kiri dan ke kanan, yang dapat mengantar manusia berlaku adil. Keberadaan masyarakat ideal pada posisi tengah menyebabkan mereka mampu memadukan aspek ruhani dan jasmani, material dan spiritual dalam segala aktivitas. Wasathiyah (moderasi atau posisi tengah) mengundang umat Islam untuk berinteraksi, berdialog dan terbuka dengan semua pihak (agama, budaya dan peradaban), karena mereka tidak dapat menjadi saksi atau berlaku adil jika mereka tertutup atau menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.Kata Kunci: Al-wasath, Wasathiyah , harmonis, moderasi, spiritual global.
MENYAPA’ KEARIFAN TUHAN LEWAT TEROPONG FILSAFAT DAN Al-QUR’AN Siola, Muhammad Nasir
PILAR Vol. 4 No. 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/xtd4c452

Abstract

Abstrak Perkembangan filsafat Islam tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh pemikiran filosof sebelumnya. Seperti munculnya buku filsafat Tahafut al-Falasifah oleh al-Ghazali, Tahafut al-Tahafut dan Manahij al-Adillah oleh Ibn Rusyd. Khusus dalam Tahafut al-Tahafut Ibn Rusyd mempertahankan konsep ketuhanannya dari serangan al-Gazali. Selain itu, muncul pula golongan-golangan teologi Islam dalam perdebatannya mencari Tuhan. Sebagaimana kita kenal seperti Asy’ariyah, Mu’tazilah, Batiniyah dan Hasyiwiyah. Masing-masing memiliki kepercayaan yang berbeda tentang Tuhan. Para filosof muslim berusaha menjelaskan konsep ketuhanan yang tidak terlalu jauh dari al-Qur’an. Dalam membuktikan adanya Allah. Al-Farabi mengemukakan dalil “Wajib al-Wujud” dan mumkin al-wujud. Menurutnya segala yang ada ini hanya dua kemungkianan dan tidak ada alternatif yang ketiga Plotinus menjelaskan bahwa “Yang Esa” mengandung perlawanan. Ia melarang pensifatan dengan sifat yang bisa menimbulkan pluralitas. Ia juga mengatakan bahwa Tuhan tidak sama dengan sesuatu, karena kesempurnaannya terletak dalam Keesaan-Nya dari segala segi. Sifat-sifat yang diberikan kepada-Nya tidak sesuai dengan esensi sifat Tuhan itu sendiri. Ia juga menjelaskan bahwa alam ini keluar dengan sendiri dari pada-Nya, bukan karena kehendak-Nya. Karena kalau dikatakan dengan kehendak-Nya, berarti ada yang dikehendaki, ini berarti menimbulkan pluralitas.Kata kunci : filsof, wihdat al-wujud, al-Maujud al-Awwal, wajib al-wujud dan mumkin al-wujud, mumtani’ al-wujud
AL-MUTLAQ dan AL-MUQAYYAD DALAM HUKUM ISLAM Rajiah, Rajiah
PILAR Vol. 4 No. 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/smqkwr45

Abstract

AbstrakDalam pelaksanaan hukumnya, keberlakuannya dapat bersama-sama atau masing-masing berdiri sendiri. Artinya yang muthlaq berlaku untuk yang muthlaq dan yang muqayyad berlaku untuk yang demikian. Hal itu terjadi jika perintahnya berdiri. Akan tetapi, jika perintahnya berada dalam satu rangkaian kalimat atau dalam satu ayat Al-Qur’an, sebagaimana muqayyad-nya sebagai sifat bagi yang muthlaq, maka pengemalannya dilakukan secara bersama-sama. Sebagaimana pengamalan memerdekakan hamba sahaya sebagai yang muthlaq, artinya harus hamba sahaya, sedangkan yang beriman adalah yang muqayyad jadi harus yang beriman, tidak boleh yang kufur.Syarat membawa kepada muthlaq muqayyad ialah apabila hanya terdapat satu muqayyad. Kalau lebih dari satu muqayyad, muthlaq tetap pada tempatnya sendiri. Lafal muthlaq dan muqayyad masing-masing menunjukkan kepada makna yang qath’iy dalalahnya. Karena itu bila lafadz itu muthlaq maka harus diamalkan sesuai dengan muqayyadnya.Kata kunci: Nash lafdziyah, lafadz, nash al-Muthlaq, Al-Muqayyad.
TRIPUSAT PENDIDIKAN Sukmawati, Henni
PILAR Vol. 4 No. 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/q1ywp622

Abstract

AbstrakPendidikan manusia sebagai makhluk susila, pendidikan swasta yang bernafaskan akademik maupun yang menyiapkan keterampilan kerja dibekali pula dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sebagai dasar negara. Pendidikan manusia sebagai makhluk sosial pendidikan kemasyarakatan baik secara langsung dan tidak langsung, ditumbuh kembangkan sebagai makhluk susila yang mampu menciptakan kehidupan bersama secara bertanggung jawab untuk mencapai kesejahteraan sosial yang dinamis.Pendidikan manusia sebagai makhluk religius, maka pendidikan kemasyarakatan baik yang dilakukan keluarga, kursus-kursus atau lembaga swasta lainnya khusunya yang bernafaskan keagamaan dapat memberikan pembekalan yang berhubungan dengan masalah keagamaan.Pendidikan kemasyarakatan  merupakan suatu hal yang turut berperan dalam memperluas dan mempercepat tujuan pendidikan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, Peran masyarakat selain menciptakan suasana yang dapat menunjang pendidikan nasional, ikut menyelenggarakan pendidikan non-pemerintah (swasta), membantu pengadaan tenaga, biaya, sarana dan prasaranaKata kuci :linglungan, sekolah, masyarakat, otoriter, demokratis, permisif, emotional quotient
KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH S, Hamriah
PILAR Vol. 4 No. 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/xp4rct18

Abstract

AbstrakTulisan ini mengulas tentang Karakteristik Pembelajaran Agama Islam di sekolah. Berdasarkan pengertian secara bahasa di atas penulis mencoba memaknai karakteristik sebagai suatu sifat yang khas yang dapat membedakan dari yang lain. Kata karakteristik sedikit berbeda dengan kata character dan menurut bahasa Arab thabi’ah yang lebih kepada sifat dan watak manusia dalam bahasa ilmu Psikologi. Hasil pengkajian menunjukkan karateristik pendidikan agama Islam diantaranya:  Penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, penekanan pada nilai-nilai akhlak, penyesuaian terhadap perkembangan anak, pengembangan kepribadian, penekanan pada amal saleh dan tanggung jawab.      Kata kunci: universal, sistematik, integrated, ideal, akomodatif, Egaliter, humanistik
MEDIA CETAK SEBAGAI MEDIA DAKWAH KONTEMPORER P, Abd Rahman
PILAR Vol. 4 No. 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/vm1xgq53

Abstract

AbstrakKehadiran al-Qur’an sebagai “media cetak” merupakan himpunan informasi dan pesan-pesan Ilahi yang tersimpan dalam bunyi yang kemudian terabadikan di dalam teks (tulisan). Teks Alqur’an telah memainkan peran yang sangat penting bagi terjalinnya komunikasi antara Tuhan dan manusia dan antara sesama manusia itu sendiri. Di sisi lain, media cetak sebagai media komunikasi massa, selain berfungsi sebagai alat perantara individu atau golongan dengan massa, juga mempunyai fungsi kemasyarakatan, antara lain;  alat informasi, alat mendidik,  alat menghibur,  alat membimbing dan menyalurkan pendapat umum,  alat menghubungkan dan alat kontrol.Peluang dakwah dalam kehidupan di era informasi, setidaknya dapat dilihat pada tiga sektor strategis, yaitu pertama, sektor keilmuan dan teknologi dengan berkembangnya semangat religiusitas. Kedua, sektor kekuasaan politik dan birokrasi dengan tumbuhnya semangat religiusitas dari pusat pemerintahan hingga ke desa. Dan ketiga, sektor bisnis dan industri dengan mulai banyaknya keterlibatan tokoh-tokoh pelaku bisnis dan industrialisasi tingkat nasional dalam kegiatan dakwah serta pemberian fasilitas dakwah di pusat-pusat kegiatan kerja.Tantangan dakwah pada sisi lain, yaitu pertama, tantangan sosio-ekonomi yang dapat dicermati dari beberapa hal antaralain pertumbuhan penduduknya tinggi, produktivitas rendah, sumber alam yang belum terkelola baik, tingkat kesejahteraan rendah dan tingkat kematian yang tinggi. Kedua, tantangan sains dan teknologi akibat kemajuan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, maka corak kehidupan manusia akan terkurung dalam sistem kompleks dari business science technology, dengan tujuan menghasilkan produk lebih banyak dengan pekerjaan lebih sedikit. Dampak negatifnya mengakibatkan unsur emosional dan spiritual tidak diperhitungkan.  Ketiga, tantangan etis religius. Sebagai dampak modernisasi materialis, maka konsekuensinya adalah terjadinya suatu pergeseran kemauan masyarakat dari kemauan alami (natural will) menjadi kemauan rasional (rational will). Dalam proses perubahan ini, kehidupan emosional manusia mengalami erosi dan berlanjut pada pemiskinan spiritual.Kata kunci: Media Cetak, Dakwah, Modernitas.
PENGARUH TATA KELOLA TERHADAP PEROLEHAN ZAKAT BAGI KELANGSUNGAN USAHA MUSTAHIQ DI SULAWESI SELATAN Bidol, Syamsuddin
PILAR Vol. 5 No. 2 (2014): JURNAL PILAR, DESEMBER 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/19sqjh55

Abstract

AbstrakSalah satu instrumen yang secara konseptual mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan taraf hidup orang miskin adalah zakat. Zakat memiliki dua dimensi yaitu vertikal dan horisontal, yaitu merupakan  ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah  (vertical) dan  sebagai kewajiban kepada sesama manusia (horizontal). Karim (2001) menjelaskan bahwa zakat sebagai wujud kepedulian sosial yang berkeadilan.Keberhasilan pengelolaan zakat  telah dibuktikan pada masa pemerintahan Rasulullah saw. Khulafaur Rasyidin dan juga Khilafah di zaman dinasti islam lainnya. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Abd Aziz, tidak ditemukan lagi masyarakat yang layak untuk menerima zakat, karena semua telah mampu menjadi  muzakki, sehingga zakat yang ada dibagikan kepada masyarakat di negara lain.Orang yang membayar zakat, tidak akan pernah habis dan yang telah membayar setiap tahaun atau periode waktu yang lain akan terus membayar. Ketiga, zakat secara emperik dapat menghapus kesenjangan sosial dan sebaliknya dapat menciptakan redistribusi aset dan pemerataan pembangunan.Zakat yang diberikan kepada mustahiq akan berperan sebagai pendukung peningkatan ekonomi mereka manakala dikonsumsikan kepada yang produktif. Pendayagunaan zakat produktif sesungguhnya mempunyai konsep perencanaan dan pelaksanaan yang cermat seperti mengkaji penyebab kemiskinan, ketidakadaan modal kerja, dan kekurangan modal kerja, dengan adanya masalah tersebut maka perlu adanya perencanaan yang dapat mengembangkan zakat bersifat produktif tersebut.Kata kunci:  qardul hasan, zakat produktif, konsumtif, good corporate  Governance, muzakki, mustahiq, amil.
MAJELIS ULAMA DAN TEORI PEMINTAAN PASAR MASYARAKAT EKONOMI ASIA (MEA) Yasen, Syahruddin
PILAR Vol. 5 No. 2 (2014): JURNAL PILAR, DESEMBER 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/h2j2d534

Abstract

AbstrakAdalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus bekerja keras menjelang diberlakukannya pasar bebas di Asia. Kini masyarakat Asia, khususnya Indonesia mau atau tidak harus merespon pemberlakuakn kesepakatan bilateral dalam sebuah organisasi bersanama yang dikenal dengan ‘’Masyarakat Ekonomi Asia’’ (MEA), yang mulai berlangsung pada 2015. Para pengusaha dalam negeri pun mulai gelisah, khususnya para pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Sebenarnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan atas kehadiran MEA, sepanjang produksi dalam negeri memenuhi standar kualitas yang diinginkan pasar Asia.Tulisan ini bertujuan untuk mengantarkan kita pada informasi, bagaimana kondisi organisasi pengusaha di Asia menghadapi kesepakatan bersama di bidang perdagangan ini. Apakah MEA akan benar-benar bisa memberikan arah bagi pembangunan kesejahteraan masyarakat Indonesia khususnya, dan masyarakat asia pada umumnya. Ataukah sebaliknya, malah akan merugikan produksi dalam negeri, khususnya bagi produksi yang tidak memiliki daya saing tinggi atau standar yang diinginkan pasar Asia. Di sisi lain, apakah barang-barang impor tersebut harus melalui standar kehalalan melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI), khususnya bagi barang-barang pangan dan sandang, selain papan.Bahwa setiap barang pangan impor seperti daging, gula-gula, snack, dan semacamnya harus memiliki logo majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai bukti bahwa barang dimaksud sudah mememuhi standar kehalalan menurut syatiat Islam.Kata kunci: market share, qardul hasan, ceteris paribus, supply, demand, great depression. halal, dan  haram.
MEMOTRET ‘GELIAT’ HUKUM ISLAM DI INDONESIA: SEBUAH PERTARUNGAN KONSTITUSIONAL Sadat, Anwar
PILAR Vol. 5 No. 2 (2014): JURNAL PILAR, DESEMBER 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/8p9kcq11

Abstract

AbstrakPada saat para pendiri Negara ini akan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, muncul keberatan dari penduduk bagian timur Indonesia yang kebanyakan non-Muslim. Mereka khawatir bila Piagam Jakarta dijadikan dasar Negara maka mereka yang non Muslim akan termarjinalisasikan dan akan menjadi warga Negara kelas dua. Mereka mengancam akan keluar dari Indonesia bila hal itu dipaksakan. Untuk itu melalui tindakan yang bijak, para pendiri Negara setuju agar sila pertama dalam Piagam Jakarta yang menyatakan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya diganti dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama ditambah  dengan empat sila yang lain yang dikenal dengan sebutan Pancasila kemudian dijadikan  sebagai dasar Negara. Kompromi seperti menjadikan Indonesia tidak murni menjadi Negara sekuler tapi juga tidak menjadi Negara Islam. Indonesia kemudian memperkanalkan dirinya sebagai Negara Pancasila.  Dalam Negara Pancasila semua pemeluk agama ditempatkan dalam posisi yang sama. Semua warga berhak menjalankan agamanya dan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.Akan tetapi keputusan yang ‘bijak’ ini tidak menjadikan semua umat Islam merasa lega dan puas. Sebagian umat Islam masih menginginkan dan terus memperjuangkan agar Piagam Jakarta atau lebih tepatnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta masuk dalam konstitusi. Sebab dengan masuknya tujuh kata dalam Piagam Jakarta maka Indonesia dengan sendirinya, dilihat dari konstitusinya, telah menjadi Negara Islam.Kata kunci: rule of law, activist, tyranny majority, qonunisasi, common law, continental law,  

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): JURNAL PILAR, DESEMBER 2025 Vol 16, No 1 (2025): JURNAL PILAR, JUNI 2025 Vol. 16 No. 1 (2025): JURNAL PILAR, JUNI 2025 Vol 15, No 2 (2024): JURNAL PILAR, DESEMBER 2024 Vol. 15 No. 2 (2024): JURNAL PILAR, DESEMBER 2024 Vol. 15 No. 1 (2024): JURNAL PILAR: JUNI 2024 Vol 15, No 1 (2024): JURNAL PILAR: JUNI 2024 Vol 14, No 2 (2023): JURNAL PILAR: DESEMBER 2023 Vol. 14 No. 2 (2023): JURNAL PILAR: DESEMBER 2023 Vol. 14 No. 1 (2023): JURNAL PILAR, JUNI 2023 Vol 14, No 1 (2023): JURNAL PILAR, JUNI 2023 Vol. 13 No. 2 (2022): JURNAL PILAR, DESEMBER 2022 Vol 13, No 2 (2022): JURNAL PILAR, DESEMBER 2022 Vol 13, No 1 (2022): JURNAL PILAR, JUNI 2022 Vol. 13 No. 1 (2022): JURNAL PILAR, JUNI 2022 Vol 12, No 2 (2021): JURNAL PILAR, DESEMBER 2021 Vol. 12 No. 2 (2021): JURNAL PILAR, DESEMBER 2021 Vol. 12 No. 1 (2021): JURNAL PILAR, JUNI 2021 Vol 12, No 1 (2021): JURNAL PILAR, JUNI 2021 Vol 11, No 2 (2020): JURNAL PILAR, DESEMBER 2020 Vol. 11 No. 2 (2020): JURNAL PILAR, DESEMBER 2020 Vol. 11 No. 1 (2020): JURNAL PILAR, JUNI 2020 Vol 11, No 1 (2020): JURNAL PILAR, JUNI 2020 Vol 10, No 2 (2019): JURNAL PILAR, DESEMBER 2019 Vol. 10 No. 2 (2019): JURNAL PILAR, DESEMBER 2019 Vol. 9 No. 2 (2018): JURNAL PILAR, Desember 2018 Vol 9, No 2 (2018): JURNAL PILAR, Desember 2018 Vol 9, No 1 (2018): JURNAL PILAR, JUNI 2018 Vol. 9 No. 1 (2018): JURNAL PILAR, JUNI 2018 Vol 5, No 2 (2014): JURNAL PILAR, DESEMBER 2014 Vol. 5 No. 2 (2014): JURNAL PILAR, DESEMBER 2014 Vol 4, No 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013 Vol. 4 No. 2 (2013): JURNAL PILAR, DESEMBER 2013 Vol 3, No 2 (2012): JURNAL PILAR, DESEMBER 2012 Vol. 3 No. 2 (2012): JURNAL PILAR, DESEMBER 2012 Vol. 3 No. 1 (2012): JURNAL PILAR PILAR, JUNI 2012 Vol 3, No 1 (2012): JURNAL PILAR PILAR, JUNI 2012 Vol. 2 No. 1 (2011): JURNAL PILAR, JUNI 2011 Vol 2, No 1 (2011): JURNAL PILAR, JUNI 2011 Vol 1, No 2 (2010): JURNAL PILAR, DESEMBER 2010 Vol. 1 No. 2 (2010): JURNAL PILAR, DESEMBER 2010 More Issue