cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
Peranan Gemblak Dalam Kehidupan Sosial Tokoh Warok Ponorogo Andri Dwi Wahyu Wiranata; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.849 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.2036

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah perkembangan Gemblak di Kabupaten Ponorogo dan untuk menganalisis dan mendiskripsikan peranan Gemblak dalam kehidupan sosial tokoh Warok Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tempat penelitian dilaksankan di Kabupaten Ponorogo mulai bulan Mei sampai Juni 2017. Objek penelitian adalah peranan Gemblak dibalik kehidupan sosial tokoh Warok Ponorogo. Subyek penelitian yaitu pelaku sejarah, seniman daerah, serta narasumber rujukan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo dan Pengurus PERPUSDA Kabupaten Ponorogo. Pengumpulan data menggunakan tiga macam, yaitu: observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan teknik purposive sampling. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi mengasuh Gemblak sudah berkembang lama di Kabupaten Ponorogo, bahkan diperkirakan sejak berdirinya Kabupaten Ponorogo tradisi ini sudah berlangsung di lingkungan masyarakat Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini juga menunjukkan peranan Gemblak sangat penting di dibalik kehidupan sosial tokoh Warok Ponorogo. Peranan Gemblak sebagai pendamping Warok yang setia menemani dan menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan Warok dalam segala bentuk aktivitanya. Gemblak juga bisa di ibaratkan seperti istri Warok, sebab peranannya yang menggantikan sosok wanita dalam kehidupan Warok Ponorogo. Sebagai asuh yang dipelihara oleh Warok, Gemblak juga berperan sebagai lambang kejayaan  bagi Warok Ponorogo di lingkungan sosialnya.
Pola Kepemimpinan Di Pondok Modern Babussalam Desa Mojorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun Tahun 2008-2013 Mona Bonita; Anjar Mukti Wibowo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 02 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.427 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i02.832

Abstract

Penelitian ini bertujuan penelitian untuk mengetahui pola kepemimpinan di Pondok Modern Babussalam Desa Mojorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun tahun 2008 sampai 2013. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif deskriptif, sumber yang digunakan berasal dari sumber primer dan sekunder, teknik penggalian sumber dengan wawancara dan observasi, penelitian ini bentuk validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data dengan menggunakan trianggulasi sumber penelitian, dan tahap akhir adalah verifikasi. Berdasarkan penelitian dapat diperoleh bahwa perkembangan Pondok Modern Babussalam mengalami jatuh bangun, penuh dengan tantangan baik dari dalam maupun dari luar, akan tetapi dengan ketabahan dan mujahadah pendiri serta pengasuh pondok modern, pondok ini dapat dikenal masyarakat luas dan banyak yang berminat menuntut ilmu di dalamnya, yang pada akhirnya pondok ini mengalami kejayaan. Kejayaan yang telah diraih Pondok Modern Babussalam mengalami kemunduran ditinjau dari kuantitas santrinya, disamping permasalahan tersebut yaitu wafatnya pendiri, sehingga kehilangan sosok pemimpin. Kepemimpinan akhirnya dilanjutkan oleh keponakan pendiri yang bernama Ust. Ahmad Fauzani Effendy, S.Ag, M.Pd.I.  Kuantitas santri semakin tahun semakin turun, pengurus serta pemimpin berusaha sekuat tenaga demi kelangsungan pondok, yang pada akhirnya diadakan reuni akbar semua alumni, dari reuni tersebut dihasilkan keputusan untuk dibentuknya badan wakaf, keputusan badan wakaf yaitu dibentuknya tiga pimpinan, yaitu Ust. Ahmad Fauzany Effendi, Ust. Burhanuddin, Ust. Ahmadi MS
Museum Benteng Van Den Bosch (Benteng Pendem) Di Kelurahan Pelem Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi (Latar Belakang Sejarah, Nilai, Dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar) Ainur Rosikin; Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 02 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.584 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i02.1039

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang sejarah Benteng Van Den Bosch (Benteng Pendem) dan nilai-nilai sejarah yang bisa diwariskan kepada masyarakat sebagai sumber belajar sejarah. Lokasi penelitian ini di Benteng Van Den Bosch (Benteng Pendem) dan sekitarnya Kelurahan Pelem Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan induktif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber. Analisis data menggunakan analisis model interaktif miles dan huberman.Hasil penelitian diperoleh yaitu Benteng Van Den Bosch merupakan salah satu jejak peninggalan Kolonialisme Belanda di Kabupaten Ngawi. Benteng Van Den Bosch dibangun pada tahun 1839-1845 dibawah pimpinan Gubernur Jendral Van Den Bosch pada waktu menjajah daerah Ngawi. Benteng Van Den Bosch sering disebut Benteng Pendem. Hal ini dikarenakan bangunan Benteng Van Den Bosch dikelilingi gundukan tanah yang tingginya hampir menutupi bangunan. Benteng Van Den Bosch dibangun dengan tujuan untuk menguasai jalur transportasi air Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, serta untuk menghambat serangan lanjutan dari perang Diponegoro. Setelah Indonesia merdeka Benteng Van Den Bosch ditempati dan dikelola oleh satuan Yon Armed Kostrad 12 Ngawi sampai saat ini. Benteng Van Den Bosch mulai tahun 2011 dijadikan sebagai tempat wisata edukasi di Kabupaten Ngawi.Keberadaan Benteng Van Den Bosch mempunyai nilai-nilai luhur yang harus diwariskan kepada generasi muda. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Benteng Van Den Bosch seperti nasionalisme, patriotisme, cinta tanah kelahiran, semangat jiwa berjuang, dan pantang menyerah. Nilai-nilai tersebut dapat dijabarkan ke dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), sehingga memiliki potensi menjadi sumber belajar sejarah. Penerapannya dengan mengajak peserta didik berkunjung dan melakukan kegiatan observasi di Benteng Van Den Bosch tentang peninggalan-peninggalan bangsa Belanda di Indonesia.
Penggunaan Sumber Belajar Digital Exelsa Moodle dan Komik Toondo Dalam Meningkatkan Kreativitas Belajar Sejarah Brigida Intan Printina
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1352.016 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i2.1489

Abstract

Pembelajaran sejarah saat ini menjadi sangat penting bagi dunia pendidikan. Semakin banyak masyarakat yang tidak menyadari jati dirinya sebagai warga negara Indonesia karena tidak memiliki pengetahuan tentang perjuangan bangsa di masa lalu.Penyampaian pesan masa lalu dapat dikemas dengan menarik jika para pendidik sejarah mau bertransformasi lewat media pembelajaran tanpa menghilangkan esensi dari nilai dan karater bangsa. Menyadari betapa kencangnya arus teknologi dan digitalisasi peneliti ingin membuka konseksi untuk memanfaatkan media sebagai bahan penunjang pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan sumber belajar digital lewat exelsa moodle dan komik Toondo sebagai sarana yang tepat menggali sejarah secara efektif dan mampu meningkatkan kreativitas belajar yang sudah diujikan di Universitas Sanata Dharma khusunya pada mata kuliah Multimedia Pembelajaran Sejarah dan Sejarah Gereja. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Metode penelitian dilakukan melalui dua siklus, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi, dan dilanjutkan dengan perencanaan siklus berikutnya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa media pembelajaran sejarah melalui Exelsa Moodle dan Komik Toondo memberi pengaruh yang besar bagi kreativitas peserta didik dan pembelajaran sejarah dapat divisualisasikan dengan mudah sehingga lebih menarik dan inovatif baik bagi pengajar maupun peserta didik.
METODE ILMIAH DALAM ILMU-ILMU SOSIAL John Sabari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.486 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v1i1.140

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam dan komprehensif tentang metode ilmiah dalam studi ilmu-ilmu sosial. Dari telaah kritis yang dilakukan terhadap hubungan obyek-metode diperoleh gambaran, bahwa prosedur kinerjanya ilmiah ilmu-ilmu sosial menggunakan metode linier (persepsi, konsepsi, dan prediksi) dan untuk mengungkap kebenarannya menggunakan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif dan metode kualitatif dalam studi ilmu-ilmu sosial tidak perlu dipertentangkan secara radikal, namun perlu pemanduan agar hasil yang diharapkan lebih optimal. Dengan kuantitatif, masalah obyektivitas lebih mudah terjaga dan dengan kualitatif, realitas ganda dapat diungkap, lebih sensitif dan adaptif terhadap pola-pola nilai yang diteliti. 
Sejarah Tari Keling Dan Upaya Pelestariannya (Studi Historis Sosiologis Di Dusun Mojo Desa Singgahan Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo Tahun 1942-2012) Yudi Prasetiyo; Hartono Hadi Wasito
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 01 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.171 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i01.823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah kesenian Tari Keling di Dusun Mojo Desa Singgahan Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo. Selain itu peneliti juga ingin mengetahui bagaimana pelestarian kesenian Tari Keling tersebut. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan yaitu antara bulan Februari sampai Juni berlokasi di Dusun Mojo Desa Singgahan Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo. Bentuk dari penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu sebuah penelitian yang datanya tidak berbentuk angka dan biasanya menekankan untuk memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia. Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis studi kasus. Teknik pengambilan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan sampel menggunakan teknik snowball sampling. Sumber data yang dipakai yakni sumber data primer dan sumber data sekunder. Validasi yang dipergunakan untuk menguji kebenaran data menggunakan trianggulasi sumber. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman yaitu melalui proses reduksi data, sajian data dan verifikasi atau proses penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah kesenian Tari Keling Di Dusun Mojo pada awalnya dirintis oleh Khasan Ngali dan beberapa masyarakat Dusun Mojo lainnya. Tarian tersebut pada awalnya diciptakan untuk menghibur masyarakat yang pada saat hari raya Idul Fitri tidak mempunyai cukup biaya untuk mengadakan pesta hiburan dikarenakan gagal panen atau paceklik. Pada masa kini Tari Keling dipentaskan setiap Hari Raya Idul Fitri, Satu Syuro dan acara-acara lainnya. Bentuk pelestarian yang dilakukan masyarakat adalah dengan berdirinya suatu paguyuban Tari Keling yang diberi nama Guno Joyo dan juga pementasan rutin yang diadakan setiap Idul Fitri, Satu Suro dan acara Agustusan. Selain itu juga diadakan regenerasi dengan diikutsertakanya para generasi muda untuk ikut ambil bagian pada saat pementasan Tari Keling, pembuatan rekaman CD dan juga kaos yang bergambarkan ciri khas Tari Keling.
Sejarah Perkembangan Kesenian Tari Gaplik Di Desa Kendung Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi Tahun 1966-2014 Anjar Mukti Wibowo; Shoffikha Cahyanul Janah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.039 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.899

Abstract

Keberadaan tari gaplik diperkirakan sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Gaplik ini merupakan singkatan dari gambaran petunjuk liwat kesenian. latar belakang ditarikannya tari ini karena desa Kendung mengalami bencana pagebluk dan huru hara, dan setelah diadakan tari gaplik keadaan menjadi lebih baik. Tari Gaplik di desa Kendung ditarikan pada hari Jumat Wage. Orang yang menarikannya saat ini adalah saudara Hartono, yang menjadi penerus ayahnya yaitu saudara Kasno. Pada tahun 1966 tari gaplik mulai ditampilkan dalam acara-acara Nyadran di desa-desa yang lain. Diantaranya adalah desa Mbayem, desa Kincang kabupaten Magetan, desa Suratmajan Maospati, dan desa Kinandang kabupaten Magetan. Pada tahun 2005  tari gaplik mulai mewakili kota Ngawi dalam festival kesenian tradisional di Surabaya. Pada bulan januari 2006 tari gaplik kembali mengikuti festival kesenian tradisional se jawa timur di Surabaya. Setelah itu pada tahun 2008  tari gaplik dipercaya kembali dan diikut sertakan dalam lomba kesenian tradisional se Jawa Timur di Bojonegoro, dan untuk ke empat kalinya tari gaplik kembali diikutkan dalam lomba pada Agustus 2010 di Kediri. Setelah dikenal luas oleh masyarakat dan menjadi tari tradisional yang menghibur serta menarik banyak penonton, pada bulan Juni 2013 tari gaplik ditampilkan dalam hari jadi Ngawi di Benteng Pendem kota Ngawi.
Studi Sosio Religi Wisata Alas Ketonggo Desa Babadan Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi Anis Nuryani; Muhammad Hanif
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 02 (2013)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.187 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v3i02.1464

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak wisata terhadap kehidupan sosio religi masyarakat Desa Babadan. Penelitian ini diadakan di Desa Babadan Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Tepatnya objek penelitian ini berada di Dusun Nanggalan Rt. 10 Rw.02 di area perhutani RKPH Kuncen Babadan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian studi kasus. Teknik pengambilan data yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan sampel dengan purposive sampling. Sumber data yang dipakai yakni sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik keabsahan data yang digunakan untuk menguji kebenaran data yaitu trianggulasi sumber. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa kunjungan wisata ke Alas Ketonggo merupakan tradisi turun temuru dan sudah berakar kuat di kalangan masyarakat Jawa. Meskipun muncul kritik yang mencurigai praktek semacam itu dapat menodai tauhid ajaran agama, tetapi dalam faktanya kegiatan mengunjungi wisata religi tidak pernah pudar sama sekali bahkan cenderung makin ramai terutama setelah terbukti makin keramatnya wisata religi ini. Kepercayaan pengunjung memang mengkeramatkan beberapa tempat di Alas Ketonggo tersebut. Meskipun demikian, kepercayaan tersebut tidaklah tunggal karena sangat tergantung pada pola pikir, pemahaman keagamaan dan tradisi yang melingkupinya. Penelitian ini sampai pada kesimpulan adanya kepercayaan yang berbasis pada pola tradisional Islam, kepercayaan mistis yang berbasis pada tradisi, dan kepercayaan yang berdasar pada pemikiran-rasional belaka yang di yakini oleh masyarakat Desa Babadan dan para pengunjung. 
PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DESA PURWODADI KECAMATAN BARAT KABUPATEN MAGETAN TAHUN 1990-2010 Debi Setiawati; Warih Yudo Sanjoyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.63 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i1.768

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perkembangan sosial budaya Desa Purwodadi Kecamatan Barat Kabupaten Magetan tahun 1990-2010. Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, mencatat dokumen dan arsip. Validitas data diperoleh melaui trianggulasi sumber, dan teknik. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum tahun 1990-an hampir seluruh masyarakat Desa Purwodadi menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian. Perubahan sosial diawali dengan semakin menyempitnya lahan pertanian serta sektor pertanian tidak lagi menjanjikan kemapanan status sosial. Yang dilakukan masyarakat Purwodadi adalah menyewakan lahan kepada penyewa perorangan maupun PG Purwodadie. Struktur sosial perlahan mulai berubah. Nilai-nilai sosial gotong royong mulai luntur. Satu-satunya yang masih tersisa adalah tradisi Bersih Desa. Desa Purwodadi sebagai bekas pusat Pemerintahan Kadipaten Purwodadi yang berlatar belakang agama Islam membawa dampak pada tumbuh dan berkembangnya kesenian-kesenian yang bernafaskan Islam, antara lain terbang, gembrung, dan jedor. Kesenian-kesenian tersebut pernah ada di Desa Purwodadi sebelum tahun 1990-an, saat ini mulai tergeser oleh bentuk-bentuk kesenian modern yang lebih mementingkan aspek hiburan.
Dampak Kunjungan Wisatawan Terhadap Pelestarian Museum Trinil Tahun 2010-2013 Yuli Astutik; Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 02 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (853.261 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i02.889

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kunjungan wisatawan terhadap pelestarian Museum Trinil tahun 2010-2013. Lokasi penelitian ini berada di Musuem Trini dan sekitarnya Dukuh Pilang Desa Kawu Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan induktif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber datar primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Sedangkan analisis data menggunakan analisi model interaktif miles dan hubbermain. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu semakin banyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Museum Trinil yang terjadi pada tahun 2010 hingga 2013 menyebabkan Museum Trinil semakin tidak lestari. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya dampak negatif kuat daripada dampak positif. Berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa keinginan dari sebagian besar wisatawan asing untuk memiliki benda-benda cagar budaya yang asli bukan replika buatan manusia sebagai sebuah souvenir. Sehingga hal ini menyebabkan sebagian besar koleksi-koleksi yang ada di Museum Trinil hanya sebuah replika atau tiruan dari fosil yang sebenarnya yang dapat mengurangi keaslian bukti peninggalan sejarah yang ada Kabupaten Ngawi khususnya di Museum Trinil itu sendiri. Sedangkan wisatawan lokal sering meninggalkan sampah disekitar Museum Trinil khususnya di taman belakang yang lokasinya jauh dari pengawasan pengelola museum. Selain itu, banyaknya coretan-coretan menggunakan aerosol semprot benda-benda yang ada di sekitar Museum Trinil. Terbukti dari banyaknya coretan pada replika hewan-hewan purba yang ada di taman belakang gedung serta pada tugu peresmian berdirinya Museum Trinil. Meskipun peningkatan jumlah wisatawan yang terjadi mulai tahun 2010 hingga 2013 membawa dampak positif dengan perenovasian gedung Museum Trinil yang dilakaukan oleh Pemerintah Pusat, dampak negatif akan tetap ada dan kemungkinan juga akan merusak hasil perenovasian tersebut apabila tidak diimbangi dengan peraturan-peratuan yang jelas untuk para wisatawan baik asing maupun lokal.