cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
Konsep Nasionalisme Soekarno Dalam PNI 1927-1930 Guntur Arie Wibowo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 02 (2013)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.25 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v3i02.1463

Abstract

Pemikiran Soekarno dipengaruhi oleh potensi intelektual, kemampuan berpikir bebas, pengaruh latar belakang sosial budaya, serta perkenalkannya dengan dunia luar atau pemikiran orang lain yang digunakan sebagai pembanding. Soekarno juga melakukan pengamatan yang cermat terhadap masyarakat sebelum melahirkan masyarakatnya. Faktor-faktor yang mewarnai pemikiran politik Soekarno adalah Nasionalisme, Tradisionalisme Jawa,  Sosialis-Demokratis, Islam, dan Komunisme. Soekarno berhasil merangkai nilai-nilai dasar yang terkandung di berbagai aliran pemikiran yang hidup dan tumbuh di dalam masyarakatnya, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, kemudian dirangkum dalam suatu pemikiran yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakatnya. Dalam prakteknya, secara tidak langsung Soekarno mengatakan bahwa Nasionalisme lebih diutamakan daripada Islam dan Marxisme. Hal ini terbukti dengan didirikannya PNI pada tahun 1927 yang berideologikan nasionalisme sekuler.
KEARIFAN LOKAL TRADISI UYEN SAPI PERAJUT INTEGRASI SOSIAL (STUDI KASUS DI DESA JONGGOL KECAMATAN JAMBON KABUPATEN PONOROGO) Yudi Hartono; Dewi Setiana
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.572 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i1.767

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam tentang prosesi, makna simbolis, fungsi, dan pelestarian tradisi Uyen Sapi di Desa Jonggol Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo sebagai bentuk kearifan masyarakat lokal dalam merajut integrasi sosial. Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data terdiri dari sumber primer dan sekunder. Data primer berupa informasi dari warga masyarakat, kepala desa, tokoh adat, dan tokoh agama. Sumber sekunder berupa bahan pustaka dengan kualifikasi tinggi untuk melengkapi data primer. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, mencatat dokumen dan arsip. Validitas data diperoleh melaui trianggulasi sumber, dan teknik. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Uyen Sapi dilaksanakan pada hari Jumat Wage Wuku Wuye. Hari tersebut dianggap hari kelahiran sapi. Prosesi diawali dengan ikrar hajat oleh tokoh adat dalam Bahasa Jawa, dilanjutkan doa oleh tokoh agama dalam Bahasa Arab; pembagian bahan-bahan selamatan secara merata kepada warga yang diundang, termasuk warga yang tidak bisa datang; dan terakhir pemberian minuman dawet kepada sapi di kandang. Bahan-bahan selamatan mengandung makna simbolik tersendiri. Makna simbolik tersebut tidak lepas dari ekspresi harapan dan doa syukur, keselamatan, dan keberkahan rizki yang diberikan Tuhan. Tradisi tersebut menjadi media bagi masyarakat dalam merajut integasi sosial. Tradisi Uyen Sapi dilestarikan oleh masyarakat yang bersangkutan dan melibatkan pemerintah daerah setempat.
Pengaruh Candi Cetho Sebagai Obyek Wisata Sejarah Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar Danang Finantoko; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 02 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.605 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i02.888

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Candi Cetho sebagai obyek wisata sejarah terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar Tahun 2001-2012. Penelitian dilakukan selama 6 bulan, mulai Februari sampai dengan bulan Juli. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara observasi dan dokumentasi. Dalam menganalisis data digunakan metode Analisis Interaktif dengan berpegangan pada tiga komponen yaitu: Reduksi data, Sajian data, kesimpulan-kesimpulan: penarikan/verifikasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh gambaran beberapa pengaruh Candi Cetho sebagai obyek wisata sejarah terhadap kehidupan sosial ekonomi di Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar. Sebelum dijadikannnya Candi Cetho sebagai obyek wisata sejarah, kehidupan sosial ekonomi masyarakat masih sangat rendah karena masyarakat masih tergantung dari bertani. Setelah Candi Cetho dijadikan sebagai obyek wisata pada masa orde baru. Berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi dalam memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sehingga meningkatkan kesejahteraan dan juga potensi desa. Tetapi kurangnya perhatian pemerintah dalam pengembangan Candi Cetho sebagai obyek wisata mengakibatkan pembangunan yang kurang bisa merata dan belum bisa dirasakan oleh masyarakat Desa Gumeng. Perbaikan jalan harus lebih diperhatikan oleh pemerintah agar memudahkan pengunjung untuk datang ketempat obyek wisata. Perkembangan sosial ekonomi masyarakat Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar juga meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari pendapatan perkapita penduduk yang relatif naik dari tahun ke tahun dan bertambahnya jumlah keluarga sejahtera dalam rentang waktu tahun 2001-2012.
Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat di Jawa 1830-1870 Wafiyatu Maslahah; Arif Wahyu Hidayat
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 02 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.793 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i02.1454

Abstract

Kegagalan sistem sewa tanah yang dilakukan pada pemerintahan Inggris, menjadikan pelajaran bagi pemerintah Belanda yang telah kembali menduduki Hindia-Belanda. Situasi keuangan Belanda pada saat itu sangat terpuruk sehingga Johanes van den Bosch sebagai Gubernur Jendral yang baru mendapatkan tugas untuk meningkatkan produk tanaman ekspor, meskipun pada saat pemerintahan Belanda sebelumnya sudah menerapkan hal tersebut. Gagasan pemecahan  untuk mengatasi keterpurukan keuangan yang dicetuskan oleh van den Bosch walaupun sama dengan pemerintahan yang lama tetapi terdapat perbedaan yakni pengenalan sistem tanam paksa, yang kemudian terkenal dengan nama Cultuurstelsel. Aturan mengenai pelaksanaan sistem tanam paksa pada dasarnya masih dapat diterima karena masih berada dalam koridorkoridor kewajaran yang masuk akal. Permasalahannya ialah dalam praktiknya sistem tanam paksa menyimpang dari aturan yang ditetapkan. Hal ini berakibat penderitaan rakyat yang dikarenakan sebagian tanah milik petani harus ditanami tanaman ekspor yang kurun waktunya sama dengan waktu masa tanam padi. Pelaksanaan sistem tanam paksa telah mempengaruhi dua unsur pokok kehidupan agraris pedesaan Jawa, yaitu tanah dan tenaga kerja. Selain itu, tanam paksa juga mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di Jawa 1830-1870.
Tradisi Sawer Panganten Sunda Di Desa Parigi Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran Yadi Kusmayadi
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.619 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i2.2470

Abstract

Secara garis besar tradisi sawer panganten dilakukan setelah selesai akad nikah, pasangan pengantin duduk di kursi yang disimpan di depan rumah mempelai wanita yang disaksikan ratusan pasang mata. Tempat yang digunakan untuk upacara sawer merupakan tempat terbuka yang biasa disebut tempat panyaweran.  Pasangan pengantin tersebut didampingi oleh seorang pemegang payung dan didepannya berdiri juru sawer atau biasa disebut penyawer.  Juru sawer ini umumnya kaum wanita.Upacara sawer diawali dengan mengucapkan ijab kabul oleh penyawer, kemudian dilanjutkan dengan melantunkan syair/puisi sawer. Puisi sawer adalah puisi yang biasa dilagukan pada waktu upacara sawer seperti pada waktu upacara khitanan dan perkawinan. Kata sawer mengandung arti tabur atau sebar. Setelah melantunkan satu bait syair sawer, penyawer menyelinginya dengan menaburkan beras, irisan kunir, permen, uang logam dan bermacam – macam bunga rampai yang disimpan di dalam baskom (tempat menyimpan benda saweran) ke atas payung atau ke arah pengantin. Sehingga dalam waktu bersamaan, anak-anak ataupun orang dewasa yang bergerombol di belakang pengantin saling berebut memungut uang sawerdan permen.
Pendidikan Dan Kebijakan Politik (Kajian Reformasi Pendidikan Di Indonesia Masa Orde Lama Hingga Reformasi) Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 01 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.717 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i01.879

Abstract

Pendidikan dan politik memiliki hubungan yang dinamis. Pendidikan dan politik berhubungan erat dan saling memengaruhi. Berbagai aspek pendidikan senantiasa mengandung unsur-unsur politik, begitu juga sebaliknya, setiap aktivitas politik ada kaitannya dengan aspek-aspek kependidikan. Pada masa awal kemerdekaan, kebijakan pendidikan pada masa Orde Lama ditujukan pada pendidikan sosialisme Indonesia. Kebijakan pendidikan pada masa Orde Baru diarahkan pada penyeragaman di dalam berpikir dan bertindak. Pendidikan di era reformasi 1999 mengubah wajah sistem pendidikan Indonesia melalui UU No 22 tahun 1999, dengan ini pendidikan menjadi sektor pembangunan yang didesentralisasikan. Untuk dapat memahami berbagai persoalan pendidikan yang ada di tengah masyarakat tidak hanya diperlukan dasar pengalaman dan pengetahuan pendidikan, tetapi juga diperlukan pengetahuan tentang aspek-aspek dan konteks politik dari persoalan-persoalan kependidikan tersebut.
Kesenian Gembrungan Di Desa Kaibon Kecamatan Geger Kabupaten Madiun (Kajian Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sebagai Pembelajaran Sejarah Lokal) Riza Khoirur Roda`i; Novi Triana Habsari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 02 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.034 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i02.1043

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal apa saja yang terkandung dalam kesenian gembrungan di Desa Kaibon Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dan potensinya sebagai pembelajaran sejarah lokal. Lokasi yang dijadikan objek penelitian adalah desa Kaibon Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Peneliti menggunakan jenis pendekatan kualitatif. Adapun untuk jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder, pustaka juga wawancara. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber dan analisis data menggunakan analisis model interaktif. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu sebagai berikut, kesenian gembrungan di Desa kaibon ada sekitar tahun 1968. Kesenian ini digunakan untuk memperingati hari-hari besar islam juga acara hajatan warga seperti contohnya, Isra’ Mi’raj, Maulud Nabi Muhammad SAW, Suro, khitanan, tingkeban, 7 bulanan, aqiqah. Kesenian ini memiliki banyak sekali nilai-nilai kearifan lokal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan jika kita mampu memahami dan menerapkannya. Nilai-nilai tersebut dntara lain : nilai pendidikan, nilai etika, nilai religi, nilai spiritual, nilai seni, nilai kekeluargaan, dan nilai budaya. Upaya untuk melestarikan kesenian gembrungan yaitu terdapat sebuah perkumpulan yang dinamakan perkumpulan seniman gembrung Desa Kaibon. Perkumpulan ini bertujuan untuk membahas tentang keberlangsungan kesenian gembrungan. Yang dibahas dalam upaya melestarikannya adalah untuk perawatan alat-alat musiknya, apakah terdapat kerusakan yang perlu diganti atau tidak. Jika terdapat kerusakan yang cukup serius, bersama-sama mencari solusi yang tepat untuk menggantinya. kesenian ini masuk dalam kategori materi ajar yang membahas tentang masa Hindu-Budha dan Islam. Dengan kompetensi dasar (KD) yaitu, mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia serta peninggalan-peninggalannya.
Literasi Kemandirian Sikap Mahasiswa Melalui Pembelajaran Entreprenuer Sejarah Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Madiun Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.964 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i2.1497

Abstract

Sikap kemandirian merupakan salah satu pilar keberhasilan seseorang dalam berwirausaha. Seiring dengan ketatnya persaingan kerja, maka perguruan tinggi memiliki tugas untuk mempersiapkan lulusan untuk siap dalam  menghadapi persaingan dengan membekali mahasiswa dengan teori dan konsep entrepreneur. Diperlukan literasi entrepreneur kepada mahasiswa melalui proses belajar mengajar entrepreneur yang berupa literasi entrepreneur dalam dimensi ketrampilan, dimensi fungsi serta  dimensi media. Melalui literasi tersebut peluang ekonomi akan mudah untuk dipahami oleh mahasiswa. Namun demikian, dalam implementasi kurikulum entrepreneur diperlukan kesadaran akan kontribusi mata kuliah keahlian program studi pendidikan sejarah untuk memperkuat wawasan didalam membaca peluang ekonomi secara kritis.
TATA KELOLA INDUSTRI GULA DI SITUBONDO MASA KOLONIAL DAN KEBIJAKAN PERGULAAN MASA KINI Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.708 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v1i2.708

Abstract

Industri gula merupakan industri manufaktur yang berorientasi ekspor bermodal asing. Ketika industri gula mengalami masa jaya tahun 1930, ada 179 pabrik gula yang beroperasi. Pada saat krisis ekonomi, agro industri ini paling parah terkena dampaknya. Tata kelola industri gula sejak masa kolonial sampai sekarang tidak terlepas dengan kebijakan pemerintah. Beroperasi maupun ditutupnya pabrik gula di Situbondo pada masa krisis berkait erat dengan manajemen strategi perusahaan. Dalam hal ini mencakup manajemen produksi dan operasional, tenaga kerja, penelitian dan pengembangan, keuangan dan akuntansi serta pemasaran. Keberadaan pabrik gula di Situbondo berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya. Tidak efisiennya industri gula masa kini, selain rendahnya produksi hablur, juga karena industri gula menghadapi kendala yang tidak kecil. Kebijakan impor gula berpengaruh terhadap kondisi pergulaan nasional serta program revitalisasi pabrik.
Kehidupan Sosial Ekonomi Juru Pelihara Situs Cagar Budaya Di Madiun Tahun 2013 Hermawan Purwo Sasmito; Muhammad Hanif
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 02 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.693 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i02.827

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kehidupan sosial ekonomi yang dialami juru pelihara situs cagar budaya tahun 2013. Selain itu sejarah keberadaan juru pelihara di madiun. Juru pelihara kebanyakan berasal dari juru kunci benda cagar budaya setempat. Adapun juru pelihara terbagi menjadi juru pelihara BPCB Trowulan, Provinsi dan juru pelihara sukarela. Pada tahun 2013 kehidupan sosial juru pelihara sudah mengalami peningkatan namun juga ada sebagian dari juru pelihara masih memerlukan perhatian. Perkembangan yang terjadi saat ini juru pelihara telah mampu meningkatkan kehidupan ekonomi mereka melalui pekerjaan mandiri. Disamping itu ada juga juru pelihara yang sudah mampu mengembangkan potensi wilayahnya. Ini merupakan salah satu wujud dari kehidupan sosial yang dapat meningkatkan tperekonomian masyarakat sekitar. Selain itu contoh lain yaitu dengan diadakannya kegiatan tradisi upacara adat di sekitar benda cagar budaya yang dibantu pemerintah daerah telah mampu memberikan pengaruh dalam sendi ekonomi. Untuk pihak pemerintah khususnya pemerintah daerah setempat memang belum memberikan anggaran khusus terhadap benda cagar budaya dan juru pelihara. Namun tetap memberikan perlindungan dan pengawasan terhadap keberadaan mereka. Selain itu juga tetap memberikan bingkisan sebagai rasa terima kasih kepada juru pelihara. Kemudian dari pihak BPCB Trowulan dan pemerintah provinsi telah memberikan perhatian yang banyak kepada keberadaan juru pelihara sebagai bagian dari satuan kerja dalam bidang kebudayaan. Ini dibuktikan dengan di berikannya tunjangan secara berkala dan penyediaan kebutuhan untuk pemeliharaan benda cagar budaya