cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
Makam Kuno Belanda (Kerkhof) di Kabupaten Ngawi dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal Novi Triana Habsari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.113 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i2.1490

Abstract

Makam Kuno Belanda (Kerkhof) merupakan salah satu jejak peninggalan Kolonialisme Belanda di Kabupaten Ngawi. Latar belakangsejarah Makam Kuno Belanda (Kerkhof), memiliki nilai-nilai sejarah yang bisa diwariskan ke generasi sekarang  sebagai sumber belajar sejarah. Lokasinya terletak Kelurahan Pelem Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi. Makam Kuno Belanda dibangun pada tahun 1885 dibawah pimpinan Gubernur Jendral Van Den Bosch pada waktu menjajah daerah Ngawi. Makam Kuno Belanda dibangun dengan tujuan untuk menguburkan tentara Belanda beserta keluarganya yang telah mati. Sebagai sumber belajar sejarah Ngawi dengan wilayahnya yang strategis merupakan daerah yang penting bagi Belanda untuk mendirikan benteng sehingga mempermudah untuk menguasai daerah sekitar.
CONTROVERSY IN HISTORY EDUCATION: EXPERIENCES OF JAPAN AND INDONESIA Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.569 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v1i2.705

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk membandingkan kontroversi sejarah yang terjadi di Jepang dan di Indonesia. Meskipun kedua negara ini memiliki masalah yang sama dalam kaitannya dengan kontroversi penulisan dan pengajaran sejarah, namun ada beberapa aspek yang berbeda. Kontroversi sejarah Jepang terkait dengan negara-negara tentangga khusunya Korea dan Cina dalam kaitannya dengan kekejaman-kekejaman Jepang selama Perang Dunia, sedangkan kontroversi sejarah dan pembelajaran sejarah di Indonesia terkait dengan masalah internal bangsa khususnya yang berhubungan dengan peristiwa Gerakan 3 September tahun 1965. Tulisan ini akan menganalisis pengalaman kedua negara tersebut dalam menangani kontroversi tersebut dan termasuk di dalamnya pengalaman guru dan murid.
Pola Kepemimpinan Kepala Desa Dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Umat Beragama (Studi Di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan) Octavian Hendra Priyatno; Anjar Mukti Wibowo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 01 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.238 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i01.824

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kepemimpinan kepala desa terhadap masyarakat lintas agama di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Jenis penelitian yang dipakai yaitu penelitian lapangan (field study research). Sumber data berasal dari sumber data primer dan sekunder dengan teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Informan ditentukan melalui teknik bertujuan (purposive sample). Validasi untuk menguji kebenaran data yakni trianggulasi sumber, sedangkan analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil penelitian diketahui pola kepemimpinan kepala desa terhadap masyarakat lintas agama di Desa Balun berorientasi pada perilaku kepemimpinan demokratis. Penekanan pola perilaku tersebut dapat mengakomodasi berbagai kepentingan golongan sehingga terjalin interaksi yang positif antara lembaga pemerintahan, lembaga kemasyarakatan, dan lembaga keagamaan. Kepemimpinan demokratis ini tercermin dalam berbagai aktivitas yang berlandaskan musyawarah dengan melibatkan masyarakat bersangkutan. Hasil penelitian lainnya ditemukan bahwa kerukunan umat beragama di Desa Balun tidak bisa dilepaskan dari prinsip kekeluargaan, pendidikan, kultur masyarakat, peranan tokoh agama, serta dukungan dari pemerintah desa. Selain itu, dalam mempertahankan kerukunan umat beragama di Desa Balun memerlukan kharakter kepemimpinan desa yang secara umum berkecenderungan komunikatif, fleksibel, terbuka, peduli, dan partisipatif untuk meminimalkan benih-benih konflik di tubuh masyarakat.
Persepsi Masyarakat Desa Jiwan Terhadap Kalender Jawa Dalam Membangun Rumah Berti Fitri Permatasari; Novi Triana Habsari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.71 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.900

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi atau pandangan masyarakat Desa Jiwan terhadap adanya Primbon dan Kalender Jawa dalam membangun rumah. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian interaksi simbolik yaitu terdapat makna-makna sosial yang akan diwariskan dan dilestarikan oleh masyarakat selanjutnya. Sumber data yang digunakan adalah sumber dara primer yaitu masyarakat yang dianggap paling memahami pengetahuan tentang tradisi Jawa atau sesepuh dan masyarakat Desa Jiwan pada umumnya. Sedangkan sumber sekunder adalah dokumen berupa profil desa. Teknik pengumpulan data melalui  wawancara dan observasi. Teknik analisis data menggunakan komponen model interaktif melalui proses pemilihan data, penyajian data kemudian baru disimpulkan. Pandangan masyarakat Jiwan terhadap kelender Jawa dalam membangun rumah masih dianggap penting. Terbukti bahwa ketika akan membangun atau pindah rumah masyarakat menentukan hari baik berdasarkan weton dari kalender Jawa dengan menghindari hari naas yaitu hari meninggalnya orang tua atau nenek. Mereka mempercayai hal tersebut dengan alasan mengikuti nasihat orang tua yang telah berpengalaman dan merupakan suatu adat sebagai masyarakat yang tinggal di tanah Jawa.  Terdapat balutan kain berwarna merah putih sebagai ciri khas Bangsa Indonesia. Masyarakat melakukan slametan ketika membuat pondasi dan setelah rumah berdiri dengan menyiapkan sesaji berupa ayam panggang beserta perlengkapannya yang kemudian mengundang tetangga terdekat untuk melakukan doa bersama.
Pengembangan Bahan Ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun Berbasis Kemandirian Belajar Mahasiswa Yudi Hartono; Esthi Puspitasari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 02 (2013)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.011 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v3i02.1465

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun. Bahan ajar selama ini masih berupa diktat dan sumber-sumber lain yang bukan diarahkan untuk tujuan pembelajaran. Diktat Mata Kuliah Sejarah Madiun perlu dikembangkan menjadi buku ajar sehingga mendukung kemandirian belajar mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian dan pengembangan atau sering disebut dengan research and development (R & D). Penelitian dilakukan dalam dua tahap. Model pengembangan dalam penelitian ini adalah model prosedural. Prosedur atau langkah-langkah penelitian dan pengembangan merujuk pada siklus R & D dari Borg dan Gall. Indikator capaian dari penelitian ini adalah dihasilkannya naskah buku ajar Sejarah Madiun yang siap terbit. Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi pada perkembangan historiografi Madiun dan pembelajarannya terutama di Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN. Berdasarkan pengumpulan informasi dan identifikasi masalah terkait dengan bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun di Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN. Data dikumpulkan dari dosen pengampu mata kuliah Sejarah Madiun. Beberapa masalah yang teridentifikasi adalah minimnya sumber, masalah pembabakan yang kurang komperehensif, dan kurangnya data kekinian. Masalah-masalah tersebut selanjutnya menjadi acuan untuk mengembangkan bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka dibuat draf awal bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun yang disusun berdasarkan temuan masalah-masalah di lapangan. Setelah melalui uji ahli, uji skala kecil dan skala besar, maka dihasilkan produk akhir bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun yang siap dipublikasikan dan diimplementasikan dalam pembelajaran.
PENINGKATAN MINAT BELAJAR IPS SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN THE POWER OF TWO PADA SISWA KELAS VII B MTs NEGERI KEMBANGSAWIT TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Anjar Mukti Wibowo; Wiwik Lailatur Rodliyah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.433 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i1.769

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat belajar siswa dan peningkatan keaktifan serta prestasi siswa pada pelajaran IPS Sejarah dengan menggunakan strategi pembelajaran The Power Of Two Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII B MTs Negeri Kembangsawit Tahun Pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 37 siswa, yang terdiri dari 22 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dirancang dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data menggunakan metode angket, observasi dan tes. Data yang diperoleh adalah data angket minat belajar siswa, keaktifan siswa serta prestasi belajar siswa. Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui presentase hasil angket minat belajar siswa pada IPS Sejarah siklus I adalah 46% meningkat pada siklus II menjadi 92%, begitu pula dengan keaktifan siswa yang mengalami peningkatan, pada siklus I presentase keaktifan siswa 41% naik pada siklus II menjadi 84%, dan prestasi belajar siswa pra siklus 35% meningkat pada siklus I 46% dan pada siklus II menjadi 92%.
Perkembangan Radio Sebagai Pers Elektronik Di Madiun Tahun 1998-2013 Yara Ardiningtyas; Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 02 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.053 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i02.890

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan radio yang ada di Madiun pada tahun 1998-2013. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis pendekatannya adalah pendekatan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara (interview), dokumentasi dan observasi lapangan. Dalam menganalisis data menggunakan metode wawancara (interview) dan penelitian lapangan (research). Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman yang didalamnya terdapat 3 tahapan yaitu melalui proses reduksi data, sajian data dan verifikasi atau proses penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa perkembangan radio di Madiun dari tahun 1998-2013 mengalami perkembangan. Indikasi mengalami perkembangan adalah radio-radio di Madiun dalam segi teknologi penyiaran sudah tudak lagi menggunakan analog melainkan sudah menggunakan komputerisasi. Program acara yang dimiliki setiap radio di Madiun juga mengalami perkembangan yaitu dengan munculnya program-program baru yang lebih kreatif dan inovatif sehingga digandrungi oleh pendengar radio. Setiap radio kini juga mempunyai pemancar yang permanen yang terletak di studio siarannya, sehingga jangkauan siaranya lebih luas dan lebih jelas dan dapat dinikmati oleh semua masyarakat Karisidenan Madiun. Informasi dari segala bidang (pendidikan, ekonomi, sosial budaya, politik dan kewirausahaan) dapat diperoleh oleh masyarakat dari berbagai golongan. Berkembang dan bertahanya radio di era modern ini juga merupakan bukti bahwa masyarakat juga masih percaya dengan radio. Sebagai sarana publikasi dan memperoleh informasi dengan cepat dan relatif murah dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga radio dapat dikonsumsi dari berbagai kalangan masyarakat. Radio yang ada di Madiun juga menjalankan fungsinya sebagai sosial kontrol, sumber informasi, dan sebagai hiburan.
Anomali Desentralisasi Etnisitas Memancing Disintegrasi? Suhartono W. Pranoto
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.708 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i2.1456

Abstract

Pelaksanaan desentralisasi yang meluas memunculkan akibat-akibat yang tidak diharapkan. Munculnya gejala etnosentrisme yang menimbulkan sparatisme mengawali keraguan pusat pemerintahan untuk mengurangi kebebasan kewenangan desentralisasi seperti kerusuhan, korupsi, oligarki, politik dinasti, yang semua itu sebenarnya sudah berlangsung di pusat pemerintahan, tetapi kemudian diimitasi dan menyebar ke daerah. Kejadian ini semua membuat keraguan desentralisasi yang mereduksi secara involutif dari nasionalisme kembali ke etnosentrisme. Menguatnya etnisitas dapat memancing disintegrasi. Selama ada komitmen kuat dari daerah-daerah lewat local wisdom yang sudah ditransformasikan ke dalam nasiosentrisme, maka regionalism dapat ditanggulangi dan nasionalisme tetap terjaga. Dengan demikian etno-character menjadi penyangga nation-character yang melanggengkan unity in diversity. Revitalisaswi karakter bangsa mutlak harus dilakukan. Pancasila harus diajarkan kembali karena sila-sila didalamnya mengajarkan kepada manusia baru Indonesia untuk rukun dan gotong royong dalam kebersamaan. Bhinneka Tunggal Ika tetap membingkai kebersamaan.
Industrialisasi Dan Berkembangnya Kota Malang Pada Awal Abad ke-20 Winin Maulidya Saffanah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.74 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i2.2646

Abstract

Kehadiran Kota Malang sebagai Kotapraja pada tahun 1914 tidak dapat dilepaskan dari industrialisasi yang terjadi di kota tersebut pada awal abad ke-20. Kehadiran dua pabrik gula yaitu Kebon Agung dan Krebet Baru pada dekade 1900-an telah mendorong pertumbuhan Kota Malang dengan infrastruktur yang cukup memadai dan penduduk yang cukup padat. Pada dekade 1930-an, industri gula ini diganti dengan industri rokok sebagai salah satu penopang perkembangan kota Malang. Salah satu penyebab dari berdirinya pabrik-pabrik ini adalah diterbitkannya Undang-undang Gula dan Undang-undang Agraria pada tahun 1870. Kedua undang-undang ini menyebabkan wilayah Malang yang berada di dekat gunung dan cukup subur dibanjiri oleh modal swasta yang mendirikan berbagai perkebunan. Wilayah yang kelak menjadi Kota Malang sendiri merupakan titik pengumpulan yang juga ditinggali oleh banyak pemilik perekebunan sehingga akhirnya dibentuk infrastruktur yang memadai. Diresmikannya Kota Malang pada 1914 sendiri sangat terpengaruh dengan berdirinya banyak perkebunan dan industrialisasi ini. Kebutuhan akan infrastruktur yang memadai serta transportasi yang lancar membuat Kota Malang akhirnya berkembang sangat pesat dan memiliki segala fasilitas pendukung yang memadai. Seiring berjalannya waktu, industri ini tetap menjadi salah satu tulang punggung yang mendorong perekembangan Kota Malang.
Situs Ngurawan: Sejarah Dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal Novi Triana Habsari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 01 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.288 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i01.881

Abstract

Madiun merupakan sebuah wilayah di Propinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Ponorogo dan Ngawi. Keistimewaan yang dimiliki oleh Madiun ini salah satunya banyak terdapat peninggalan-peninggalan bersejarah. Diantaranya terdapat prasasti Mruwak, Prasasti Klagen Serut, Prasasti Sendang Kamal, Situs Candi Wonorejo dan Situs Gelang-Gelang atau yang lebih dikenal sebagai Situs Ngurawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah dan potensi dari Situs Ngurawan sebagai sumber belajar sejarah lokal khusus nya untuk siswa SMP di Madiun. Hal tersebut dimaksudkan karena masih banyak masyarakat Madiun khususnya generasi muda yang kurang mengetahui sejarah lokal disekitarnya. Berdasarkan hasil penelitian, Keberadaan Ngurawan dan Gelang Gelang secara jelas termuat dalam prasasti Mula Malurung bertarikh 1255M. Prasasti ini antara lain menyebut sanak kadang dan keturunan Seminingrat yang dinobatkan sebagai raja di Negara bagian Tumapel Singasari. Di antaranya menyebutkan Nararya Turukbali, putri sang prabu Seminingrat yang menjadi permaisuri Jayakatwang, ditetapkan sebagai ratu kerajaan Gelang Gelang di daerah Wurawan. Prasasti ini belum menulis Jayakatwang sebagai raja Gelang Gelang. Prasasti ini baru menulis Jayakatwang sebagai kemenakan sang prabu Seminingrat dan menantunya. Tentu ini karena Jayakatwang adalah putra mahkota raja Kediri Sastrajaya. Pada masa itu Kertanegara jadi raja Daha atau di timur sungai Brantas, sementara Sastrajaya jadi raja Kediri di barat sungai Brantas. Baru pada tahun 1271M Sastrajaya digantikan putranya bernama Jayakatwang [Buku Girindra: Pararaja Tumapel-Majapahit]. Pada tahun ini Sri Kertanegara mengangkat Jayakatwang sebagai raja Kadiri menggantikan ayahnya Sastrajaya, sementara Turukbali tetap bersemayam di Gelang Gelang. Sampai kemudian pada tahun 1292M, Jayakatwang yang berkuasa atas Kediri dan Gelang Gelang berhasil menghancurkan pemerintahan Kertanegara di Singasari. Tapi setahun kemudian Jayakatwang dihancurkan raden Wijaya. Sejak saat itu perlahan keberadaan Gelang Gelang surut. Ketika Majapahit berdiri, bekas wilayah Gelang Gelang berganti nama sebagai keraton Pandansalas. Adanya situs Ngurawan di Madiun tersebut tentunya bisa dijadikan sumber belajar sejarah lokal. Dengan datang langsung ke lokasi situs tentunya para siswa lebih leluasa dalam mempelajari situs tersebut sekaligus akan mengetahui banyak hal tentang sejarah lokal yang terdapat di lingkungan sekitarnya.