cover
Contact Name
Suci tuty putri
Contact Email
Suci.putri@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
Suci.putri@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA
ISSN : 25410024     EISSN : 24773743     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia(JPKI) merupakan sarana pengembangan dan publikasi karya ilmiah bagi para peneliti, dosen dan praktisi keperawatan dan kesehatan. JPKI adalah jurnal cetak dan elektronik dengan sistem open access journal. JPKI menerbitkan artikel-artikel dalam lingkup keperawatan dan kesehatan secara luas namun terbatas terutama bidang pendidikan keperawatan. Artikel harus merupakan hasil penelitian, studi kasus, hasil studi literatur, konsep keilmuan, pengetahuan dan teknologi yang inovatif dan terbaharu dalam lingkup ilmu keperawatan baik dalam skala nasional dan internasional. Artikel akan ditelaah secara peer review oleh mitra bestari dari berbagai institusi.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
Glycemia Control Pada Pasien Paska Pembedahan Jantung: Studi Kasus Fahmi, Ismail; Nurachmah, Elly; Herawati, Tuti
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 6, No 2 (2020): VOL 6, NO 2 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v6i2.28745

Abstract

ABSTRAKCardiac surgery-associated acute kidney injury (CSA-AKI) merupakan komplikasi utama dari pembedahan jantung. Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya CSA-AKI pada pasien bedah jantung adalah ketidakstabilan kadar glukosa darah. Protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) memaparkan pentingnya glycemia control untuk mencegah komplikasi terjadinya CSA-AKI. Artikel ini merupakan studi kasus yang menggambarkan manajemen keperawatan : glycemic control untuk mencegah terjadinya CSA-AKI pada pasien bedah jantung. Setelah dilakukan intervensi keperawatan berupa glycemia control, pasien tidak mengalami CSA-AKI. Manajemen gula darah pada melalui manajemen diet dan kolaborasi manajemen insulin merupakan rekomendasi ERAS dalam mencegah CSA-AKI pada pasien pembedahan jantung.  ABSTRACTCardiac surgery-associated acute kidney injury (CSA-AKI) is a major complication of heart surgery. One of the conditions that can cause CSA-AKI in cardiac surgery patients is the instability of blood glucose levels. The Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) protocol explains the importance of glycemic control to prevent complications from CSA-AKI. This article is a case study describing nursing management: glycemic control to prevent CSA-AKI in cardiac surgery patients. After the nursing intervention in the form of glycemia control, the patient did not experience CSA-AKI. Blood sugar management through diet management and insulin management collaboration is ERAS recommendations in preventing CSA-AKI in cardiac surgery patients.
Attitudes and Barriers of Primary School Children on Cardiopulmonary Resuscitation for Drowning Victims Nurumal, Mohd. Said; Jamaludin, Thandar Soe Sumaiyah; Shamsudin, Luqman Aqiel; Ramli, Muhammad Zahir
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 2 (2021): Volume 7, Nomor 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i2.39994

Abstract

Introduction: Cardiopulmonary Resuscitation is a lifesaving procedure whenever a cardiac arrest victim. Drowning is also one of the factors that can lead to cardiac arrest, especially in coastal areas. Children who live in the coastal community are very at risk for drowning due to the nature of their playground located in the coastal zone. Empowering and educating them to skill on Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) is more important. To provide effective prevention means in reducing the mortality rate, it would require attitudes and barriers from the public especially. Objectives:   This study aimed to explore attitudes and barriers to CPR in drowning victims for primary school children aged in the coastal community of Malaysia. Method: This study follows a quasi-experimental design using the pre-and post-intervention with educational videos about CPR. The studied participants were participated in this study through an online google form survey due to the current pandemic situation. All the participants were from primary school children in the coastal area. Results: This study revealed that most of the participants (70.6%) would perform CPR for drowning victims after the intervention given to them compared to pre-intervention, which was 58.8%. As for the “Does the public need to learn CPR?”, most of the participants (88.2%) agreed that everyone needed to learn CPR procedures after giving the intervention. 76.5% of the participant want training on CPR for drowning before the intervention, but there is a slight decrease after intervention given, which is (64.7%). Around 58.8% of the participants were confident in initiating CPR for drowning victims before and after the intervention. Moreover, approximately 82.4% of the participant would perform CPR if their friends were in danger after the intervention. The majority of the participants (70.6%) thinks adults are more suitable to perform CPR in the post-intervention questionnaire compared to only 52.9% for the pre-intervention questionnaire.  Conclusion: Primary school children showed a significant change in their attitudes and barriers after receiving the intervention. Consideration should be given to integrating the CPR training or lesson in the syllabus of primary education would save more lives. Abstrak Pendahuluan: Resusitasi Jantung Paru merupakan tindakan penyelamatan jiwa pada korban henti jantung. Tenggelam juga merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan serangan jantung, terutama di daerah pesisir. Anak-anak yang tinggal di masyarakat pesisir sangat berisiko tenggelam karena karakteristik taman bermainnya yang berada di wilayah pesisir. Memberdayakan dan mendidik mereka untuk keterampilan Resusitasi Jantung Paru (RJP) sangat penting untuk memberikan sarana pencegahan yang efektif dalam menurunkan angka kematian, maka diperlukan sikap dan hambatan dari masyarakat khususnya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan hambatan CPR pada korban tenggelam pada anak usia sekolah dasar di masyarakat pesisir Malaysia. Metode: Penelitian ini mengikuti desain quasi-experimental dengan menggunakan pre-and post-intervention dengan video edukasi tentang CPR. Partisipan yang diteliti diikutsertakan dalam penelitian ini melalui survei online google form karena situasi pandemi saat ini. Semua peserta berasal dari anak-anak sekolah dasar di wilayah pesisir. Hasil: Penelitian ini mengungkapkan bahwa sebagian besar partisipan (70,6%) akan melakukan CPR pada korban tenggelam setelah diberikan intervensi dibandingkan dengan sebelum intervensi yaitu 58,8%. Untuk pertanyaan “Apakah masyarakat perlu mempelajari CPR?”, sebagian besar peserta (88,2%) setuju bahwa setiap orang perlu mempelajari prosedur CPR setelah memberikan intervensi. 76,5% peserta menginginkan pelatihan CPR untuk tenggelam sebelum intervensi, namun ada sedikit penurunan setelah intervensi diberikan, yaitu (64,7%). Sekitar 58,8% dari peserta yakin dalam memulai CPR untuk korban tenggelam sebelum dan sesudah intervensi. Selain itu, sekitar 82,4% peserta akan melakukan CPR jika teman mereka dalam bahaya setelah intervensi. Mayoritas peserta (70,6%) berpikir orang dewasa lebih cocok untuk melakukan CPR dalam kuesioner pasca-intervensi dibandingkan dengan hanya 52,9% untuk kuesioner pra-intervensi. Kesimpulan: Anak sekolah dasar menunjukkan perubahan sikap dan hambatan yang signifikan setelah menerima intervensi. Pertimbangan harus diberikan untuk mengintegrasikan pelatihan atau pelajaran CPR dalam silabus pendidikan dasar akan menyelamatkan lebih banyak nyawa.
The Relationship between Fulfilling Privacy Needs and Service Satisfaction in Adolescents with Chronic Illness Conditions in the Inpatient Room Ihsar, Aini Hayati; Mediani, Henny Suzana; Fitri, Siti Yuyun Rahayu
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 1 (2021): Volume 7, Nomor 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i1.31923

Abstract

ABSTRACTIntroduction : Privacy needs for adolescents with chronic disease conditions are important, including secure information, psychological information, and social privacy. Violations against privacy will bring discomfort, stress, and dissatisfaction. Patients' satisfaction is one of the most important indicators that show the quality of ward services that include the dimensions of tangibility, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Objectives : This study was conducted to analyze the relationship between the fulfilment of privacy needs and service satisfaction in adolescents with hospitalized chronic conditions. Methods : This correlational study was conducted using a cross-sectional approach. Samples were 72 adolescents aged 12-21 years with chronic disease conditions were selected using the consecutive sampling method. Data of this study were collected using questionnaires. Bivariate data analysis was performed using chi-square analysis. Result : The results showed that the most unfulfilled need for privacy security was information privacy (70.8%), followed by psychological privacy (63.9%), physical privacy (58.3%), and the least unfulfilled one was social privacy (51.4%). Respondents were most dissatisfied with the dimension of empathy (87.5%), followed by assurance (84.7%), reliability (83.3%), tangibility (80.6%), and responsiveness (76.4%). This study also confirmed a meaningful relationship between service satisfaction with information privacy (p-value 0.001) and physical privacy (p-value 0.021 0.05). Discussion : Whereas service satisfaction is associated with neither psychological privacy nor social privacy. The role of nurses is very important in carrying out patient-centered care, especially in meeting the privacy needs to achieve service satisfaction for adolescents with chronic disease conditions.ABSTRAKPendahuluan : Kebutuhan privasi pada remaja dengan kondisi penyakit kronis merupakan suatu hal yang penting  meliputi privasi informasi, fisik, psikologis dan sosial karena jika tidak terpenuhi akan menimbulkan ketidaknyamanan, stress dan ketidakpuasan. Kepuasan merupakan salah satu indikator paling penting untuk menunjukan kualitas pelayanan di ruang rawat inap mencakup dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Tujuan : Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan pemenuhan kebutuhan privasi dengan kepuasan layanan pada remaja kondisi penyakit kronis di ruang rawat inap. Metode : Desain penelitian studi korelasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah remaja usia 12-21 tahun dengan kondisi penyakit kronis berjumlah 72 orang dengan metode consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data bivariat menggunakan chi square. Hasil : Hasil penelitian menunjukan bahwa paling banyak kebutuhan privasi yang tidak terpenuhi adalah privasi informasi sebanyak 70,8%, diikuti privasi psikologis sebanyak 63,9%, privasi fisik 58,3%, dan paling sedikit tidak terpenuhi adalah privasi sosial sebanyak 51,4%. Responden paling banyak tidak puas dalam dimensi emphaty sebanyak 87,5%, urutan kedua dimensi assurance sebanyak 84,7%, urutan ketiga dimensi reliability sebanyak 83,3%, urutan keempat dimensi tangibles sebanyak 80,6%, dan yang kelima dimensi responsiveness sebanyak 76,4%. Terdapat hubungan antara kepuasan layanan dengan privasi informasi (p-value 0,001) dan privasi fisik (p-value 0,021 0,05), sedangkan dengan privasi psikologis dan sosial tidak memiliki hubungan. Diskusi. Peran perawat sangat penting dalam melakukan asuhan dengan berpusat pada pasien terutama dalam memenuhi kebutuhan privasi agar tercapainya kepuasan layanan terhadap remaja dengan kondisi penyakit kronis.
Attitude Towards E-Learning Among Nurses in Continuing Education Mulyadi, Doddy; Pujiati, Riska Yulia; Eka, Ni Gusti Ayu; Cicilia, Sarah Lidya
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 1 (2021): Volume 7, Nomor 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i1.29007

Abstract

ABSTRACTIntroduction: The rapid development of technology encourages learning methods that are more practical, efficient, and fast. E-learning is believed to be an effective learning method for nurses in the hospital environment. The e-learning module requires adequate facilities and positive learner characteristics. Understanding nurses' needs and learning perspectives will facilitate e-learning implementation, especially for continuing nursing education. Objectives: This study aimed to analyze the relationship between experiences and the importance of e-learning, barriers, motivation, and nurses' attitudes towards the e-learning method in a private hospital. Methods: This study applied a quantitative method with a correlation design and conducted a purposive sampling technique with 66 samples. This study used an attitude questionnaire towards e-learning which was adapted from Chong. Results: This study revealed that most of the nurses already had experienced e-learning (98.5%). In addition, half of the nurses had positive attitudes towards e-learning (53%), almost two-thirds of nurses were motivated (74.2%), more than half perceived that e-learning is less critical (51.5%), and nurses reported a few obstacles to participating in e-learning (57.6%). Moreover, there was no significant relationship between experience, barriers, motivation, the importance of e-learning, and nurses' attitudes towards e-learning (p value 0.05). On the other hand, nurses also reported the main barriers to participating in e-learning included lack of time and minimum computer access to the internet ( 70%). Discussion: It is noted that nurses have the motivation to continue learning in the scope of clinical practice using e-learning. Only some nurses show a positive attitude towards e-learning. Thus, some improvements are needed to support e-learning for nurses, such as more time for learning, additional knowledge about computer use, and adequate internet networking.ABSTRAK Pendahuluan: Perkembangan teknologi yang pesat mendorong metode pembelajaran yang lebih praktis, efisien dan cepat. Pemanfaatan metode e-learning diyakini sebagai metode pembelajaran yang efektif bagi perawat di lingkungan rumah sakit. Modul e-learning membutuhkan fasilitas yang memadai dan karakteristik peserta didik yang positif. Memahami kebutuhan dan sudut pandang pembelajaran perawat akan memfasilitasi penerapan e-learning yang efektif, terutama untuk pendidikan keperawatan yang berkelanjutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengalaman dan pentingnya e-learning, hambatan, motivasi dan sikap perawat terhadap metode e-learning di sebuah rumah sakit swasta. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasi serta menggunakan teknik purposive sampling dengan 66 sampel. Penelitian ini menggunakan kuesioner sikap terhadap e-learning yang diadaptasi dari Chong. Hasil: Studi ini mengungkapkan bahwa sebagian perawat sebagian besar sudah mempunyai pengalaman dengan e-learning (98.5%). Selain itu, perawat juga sebagian memiliki sikap positif terhadap e-learning (53%), hampir dua per tiga perawat termotivasi (74.2%), lebih dari separuh memandang bahwa e-learning kurang penting (51.5%) dan perawat melaporkan adanya sedikit hambatan dalam pembelajaran (57.6%). Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengalaman, hambatan, motivasi dan pentingnya e-learning dengan sikap perawat terhadap e-learning (p value 0.05). Namun, perawat juga melaporkan hambatan utama untuk berpartisipasi dalam e-learning adalah kurangnya waktu dan akses komputer dengan internet (70%). Diskusi: Terlihat bahwa perawat mempunyai motivasi untuk terus belajar di lingkup praktik klinik menggunakan e-learning. Hanya sebagian perawat yang menunjukkan sikap positif terhadap e-learning, sehingga beberapa perbaikan diperlukan untuk mendukung e-learning untuk perawat, seperti lebih banyak waktu belajar, tambahan pengetahuan tentang penggunaan komputer, dan jaringan internet yang baik.
Systematic Literature Review: Could Plasma Convalescent Prevent Death on COVID-19? Widjaja, Jordan Steven; Utami, Prawesty Diah; Putri, Jeanaya Hedya Alfara; Kusbijantoro, Yemima Billyana
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 2 (2021): Volume 7, Nomor 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i2.38945

Abstract

Abstract Introduction: The COVID-19 pandemic is still a global health problem, and the lack of effective and efficient treatment standards is one of the causes of the high morbidity and mortality rates. One approach that is often used in various cases of COVID-19 is convalescent plasma therapy. The administration of convalescent plasma is one of the treatment options that are often used in cases of COVID-19 with mild, moderate, severe, chronic, and critical symptoms. Objectives: The article review’s objective is to analyze of convalescent plasma transfusion in various cases of COVID-19 can prevent death and improve clinical outcomes. Methods: The PRISMA flowchart is applied to filter the literature that meets the inclusion criteria: published articles with experimental or observational research discussing the use of convalescent plasma in COVID-19 patients; published January 2020 - March 2021. We conducted article searches through PubMed, Google Scholar, and Science Direct. Assessment of the quality of the articles using the EPHPP form, and we chose ten articles. Result: The results of the qualitative analysis prove that convalescent plasma administration in various COVID-19 cases significantly reduces viral load, clinical improvement and prevents death in mild, moderate, and severe COVID-19s, but for terminal or critical cases, it does not show significant results. Discussion: The success rate of convalescent plasma therapy is determined by the high antibody titer in plasma donors, the distance between its administration and the onset of symptoms, and the patient's baseline condition before plasma administration. Based on these results, further research is needed to determine the standard dose and method of administration of convalescent plasma referring to the varied baseline conditions of patients. Abstrak Pendahuluan : Pandemik COVID-19 masih menjadi masalah kesehatan global, dan belum ditemukannya standar pengobatan yang efektif dan efisien menjadi salah satu penyebab tingginya angka morbiditas serta mortalitasnya. Salah satu pendekatan yang sering digunakan pada berbagai kasus COVID-19 adalah terapi plasma konvalesen. Pemberian plasma konvalesen  menjadi salah satu pilihan terapi yang sering digunakan pada kasus COVID-19 dengan gejala ringan, sedang, berat, kronis serta fase kritis. Tujuan : Tujuan penulisan artikel ini untuk menganalisis hasil penelitian lain yang mengulas tentang pemberian plasma konvalesen di berbagai kasus COVID-19. Metode : Metode penyusunan sistematik literatur review ini menggunakan diagram alir PRISMA untuk menyaring literatur yang memenuhi kriteria inklusi: artikel publikasi berupa penelitian eksperimental atau observasional yang membahas penggunaan plasma konvalesen pada pasien COVID-19; terbit bulan Januari 2020 – Maret 2021. Pencarian artikel dilakukan melalui tiga sumber: Pub Med, Google Scholar dan Science Direct. Penilaian kualitas artikel menggunakan formulir EPHPP, sehingga terdapat 10 artikel yang terpilih. Hasil : Hasil analisis kualitatif membuktikan bahwa pemberian plasma konvalesen pada berbagai kasus COVID-19 secara signifikan menurunkan viral load, perbaikan klinis, serta mencegah kematian pada pasien COVID-19 yang ringan, sedang dan berat, namun untuk kasus terminal atau kristis tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Diskusi : Tingkat keberhasilan terapi plasma konvalesen ditentukan oleh tingginya titer antibodi dalam donor plasma, jarak pemberiannya dengan awal gejala serta kondisi awal pasien sebelum pemberian plasma. Berdasarkan hasil tersebut diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai dosis dan cara pemberian plasma konvalesen mengacu pada kondisi awal pasien yang bervariasi.
Increased Emotional Spiritual Quotient through Reflective Learning in Clinical Nursing Students at Syarif Hidayatullah State Islamic University Setiowati, Dwi; Utomo, Waras Budi
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 1 (2021): Volume 7, Nomor 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i1.30322

Abstract

ABSTRAKIntroduction: Reflection is carried out in the realm of practice, the role of professionals, such as teaching and education. Reflection is also used in the health sector, especially nursing practice. Reflection is important in clinical learning for professional and students' intellectual development. The nursing program on nurses learning with the Competency-Based Curriculum at Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta has only begun from 12th generation which is still running in hospitals with scientific and Islamic integration. Aims:  the purpose and significance of this research is to determine the effect of Reflection on ESQ clinical nursing students of Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta. Method: the research method used was a pre-experimental design. Respondents were 36 nursing students, with purposive sampling. Interventions used Gibbs’s reflective learning step and ESQ questionnaire The analysis data used t dependent test. Results:  the results showed that there were significant differences in the ESQ of Nurse students before and after they were given reflective learning. Discussion:  self-reflection learning as part of clinical nurse learning is able to develop student ESQ and is in line with the integration of science and Islam at UIN Syarif Hidayatullah. It is needed the sustainable development and monitoring of learning with reflective learning in nurses study programs for nurses students so that ESQ as a student soft skill can be optimally achieved to improve the quality of nurses' education in Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta.ABSTRAKPendahuluan: refleksi dilakukan pada ranah praktik, peran peran professional seperti bidang pengajaran dan pendidikan. Refleksi juga digunakan pada bidang kesehatan terutama praktik keperawatan. Refleksi merupakan hal yang penting dalam pembelajaran klinik untuk pengembangan professional dan intelektual mahasiswa. Program studi ilmu keperawatan dengan kurikulum berbasis kompetensi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baru dimulai pada angkatan 12 dan pembekajaran Ners yang masih berjalan di rumah sakit dengan integrasi keilmuan dan keislaman. Tujuan: tujuan dan signifikansi penelitian ini adalah mengetahui pengaruh refleksi terhadap ESQ mahasiswa ners psik Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode: Metode penelitian yang digunakan menggunakan desain pra eksperimen dengan 36 sampel,  purposive sampling, dan uji t dependent.  Hasil: Hasil penelitian didapatkan terdapat perbedaan signifikan ESQ mahasiswa program Ners sebelum dan sesudah diberikan perlakuan reflektive learning. Pembahasan: Perlunya pengembangan dan monitoring berkelanjutan pembelajaran dengan reflektive learning pada program studi Ners pada mahasiswa Ners sehingga ESQ sebagai softskill mahasiswa dapat optimal dicapai dalam upaya peningkatan mutu pendidikan Ners UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
The Spiritual Distress of Adolescents "Men Sex Men"(MSM) Infected with HIV in Bandung Aisyah, Popy Siti; Lusiani, Eli; Widiayanti, Anggriyana Tri
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 1 (2021): Volume 7, Nomor 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i1.30184

Abstract

ABSTRACTIntroduction: The prevalence of cases of HIV infection in the group of adolescents “Men Sex Men (MSM) in Indonesia has continued to increase from 2015 to 2019. The problem of decreasing physical health, feeling depressed, social stigma, stress and inconsistent behavior with religious values will create prolonged distress that hinders the quality of life. Objectives: The purpose of this study was to identify spiritual distress in adolescents infected with HIV with MSM. Methods: This study was conducted with a cross-sectional approach to 84 young people living with HIV/AIDS. The sample selection technique used snowball sampling with a Spiritual questionnaire. Data analysis was conducted by using frequency distribution and Lambda test processed using a computer system. Results: The results showed that 56% were in a state of spirituality with no disturbance, 38.1% were in moderate spiritual distress, and 6% were severe spiritual distress. The SSI score mean of respondents was 16.3 ± SD 4.9. There was a correlation between the length of diagnosis and the incidence of spiritual distress with a p-value of 0.000 and a value of r = 0.459. Spiritual distress tended to occur a lot in the early days of being diagnosed with HIV. There was no correlation between age and the incidence of spiritual distress (p = 0.097). Discussion: This study showed that spiritual care support for adolescents MSM would help overcome existential problems related to HIV.ABSTRAKPendahuluan : Prevalensi kasus infeksi HIV pada kelompok remaja dengan  Lelaki seks sesama Lelaki (LSL) di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun 2015 – 2019. Permasalahan penurunan kesehatan fisik, perasaan tertekan, stress stigma sosial serta pertentangan perilaku dengan nilai- nilai agama akan menjadikan distress berkepanjangan yang menghambat peningkatan kualitas hidupnya. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi distress spiritual pada Remaja terinfeksi HIV dengan LSL. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional terhadap 84 remaja ODHA LSL. Tehnik pemilihan sampel menggunakan snowball sampling dengan kuesioner Spiritual Scale Injury. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan Uji lambda yang diolah menggunakan sistem komputer. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 56 % berada pada kondisi spiritualitas tidak ada gangguan, 38,1 % menunjukkan distress spiritual sedang dan 6 % menunjukkan distress spiritual berat. Rata-rata skor SSI responden mean 16,3 ± SD 4.9.  Terdapat  korelasi antara lama terdiagnosa dengan kejadian distress spiritual dengan nilai p 0,000 dan nilai r = 0,459. Distress spiritual cenderung banyak terjadi pada awal awal terdiagnosa HIV. Tidak ada korelasi antara usia dengan kejadian distress spiritual (p=0,097). Diskusi : Penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan spiritual care pada remaja LSL akan membantu mengatasi masalah eksistensial berkaitan dengan HIV. 
The Effectiveness of The Kangaroo Mother Care for Low Birth Weight Baby in Maintaining Thermoregulation Stabilization: a Case Study Anggeriyane, Esme; Noorhasanah, Evy; Nurhayati, Indah
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 2 (2021): Volume 7, Nomor 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i2.39191

Abstract

Introduction: Low Birth Weight (LBW) is the condition when a baby is born weighing less than 2,500 grams. LBW is one of the public health problems that get special attention because effected short and long-term problems. One of the problems is the infant's thermoregulation, such as hypothermia which can cause death. The intervention that can be done is Kangaroo Mother Care (KMC) that chosen because able to increase temperature through a heat transfer and enhance parent-baby bonding. Objectives: the study aimed to analyze the KMC of low birth weight babies in maintaining thermoregulation stabilization. Method: The research used an evaluative design is a case study with data analysis using descriptive-analytic. Results: The case study was conducted on one baby born at 32 weeks' gestation spontaneously and birth weight 1420 gr. The client has a risk of hypothermia, so the kangaroo method is treated for three days. Discussion: Evaluation from 3 days of implementation is the increase in body temperature before and after the KMC for 1st day was 36.4o C to 36.9o C, on 2nd day was 36.6o C to 36.8o C, on 3rd day was 36.8o C to 37.1o C. The KMC is recommended for increasing the baby's body temperature, so it is hoped this method can be carried out by health workers and the baby's parents.ABSTRAKLatar belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah kondisi bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram. BBLR merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian khusus karena menimbulkan masalah jangka pendek dan jangka panjang. Salah satunya adalah masalah termoregulasi bayi seperti hipotermia yang dapat menyebabkan kematian bayi. Intervensi yang dapat dilakukan adalah Kangaroo Mother Care (KMC) yang dipilih karena mampu meningkatkan suhu melalui perpindahan panas dan meningkatkan bonding orang tua-bayi. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan evaluative dalam bentuk studi kasus dengan analisa data menggunakan deskriptif analitik. Hasil: Studi kasus yang dilakukan pada seorang bayi yang lahir pada usia kehamilan 32 minggu secara spontan dan berat lahir 1420 gr. Klien memiliki resiko hipotermia sehingga dilakukan perawatan metode kanguru selama 3 hari. Diskusi: Evaluasi dari 3 hari implementasi, peningkatan suhu tubuh sebelum dan sesudah tindakan KMC pada hari 1 ialah 36,4o C menjadi 36,9o C, pada hari 2 ialah 36,6o C menjadi 36,8o C, pada hari 3 ialah 36,8o C menjadi 37,1o C. Berdasarkan data tersebut perawatan metode kanguru direkomendasikan untuk meningkatkan suhu tubuh bayi, sehingga diharapakan metode ini bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan dan orang tua bayi.
The Effect of Knowledge Management in Healthcare Services: A Systematic Review Ayatulloh, Daviq; Nursalam, Nursalam; Kurniawati, Ninuk Dian
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 1 (2021): Volume 7, Nomor 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i1.35132

Abstract

Introduction : The quality of service at health facilities needs to be improved, one of the main keys is the service provided by health workers. Objective : The aim of this systematic review was to analyze the effectiveness of knowledge management in healthcare. Methods : The systematic review was carried out in March-April 2020 with a range of article search times from 2016-2020 using 5 electronic databases (Scopus, PubMed, Science Direct, CINAHL and ProQuest). The Center for Review and Dissemination and the Joanna Briggs Institute Guideline were used to assess the quality and PRISMA's checklist for this review guide. The literature search described four keyword groups based on Medical Subject Heading (MeSH) and the search description was (knowledge management*' OR 'SECI knowledge management') AND ('health care' OR hospital). Result : The article searched was found 13 articles suitable with the eligibility criteria, the results of the systematic review found that knowledge management had the effectiveness to provide information and knowledge processes, improve decision-making abilities, improve performance and quality of health services and increase organizational effectiveness. Discussion : As health service providers, hospitals and other health care institutions must continue to improve the quality of services. By improving the quality of services, it is expected to be able to answer the demands of the community to always provide optimal health services. With the application of good knowledge management, ideas and creativity from the workforce will be created in creating health service innovations. ABSTRAKPendahuluan : Kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan perlu ditingkatkan, salah satu kunci utamanya adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Tujuan : Tujuan dari tinjauan sistematis ini adalah untuk menganalisis efektivitas manajemen pengetahuan dalam perawatan kesehatan. Tinjauan sistematis dilakukan pada bulan Maret-April 2020 dengan rentan waktu pencarian artikel adalah 2016-2020 menggunakan 5 database elektronik (Scopus, PubMed, Science Direct, CINAHL dan ProQuest). Center for Review and Dissemination dan Joanna Briggs Institute Guideline digunakan untuk menilai kualitas dan daftar periksa PRISMA untuk panduan ulasan ini. Pencarian literatur menggambarkan empat kelompok kata kunci berdasarkan Medical Subject Heading (MeSH) dan deskripsi pencarian adalah (manajemen pengetahuan*' ATAU 'manajemen pengetahuan SECI') AND (efek ATAU dampak ATAU) DAN ('perawatan kesehatan' ATAU rumah sakit).  Hasil : Artikel yang dicari ditemukan 13 artikel yang sesuai dengan kriteria kelayakan, hasil tinjauan sistematis menemukan bahwa manajemen pengetahuan memiliki efektivitas untuk memberikan informasi dan proses pengetahuan, meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan, meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan kesehatan dan meningkatkan organisasi efektivitas. Diskusi : Sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan, rumah sakit dan institusi pelayanan kesehatan lainnya harus terus meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan peningkatan mutu pelayanan diharapkan mampu menjawab tuntutan masyarakat untuk selalu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal. Dengan penerapan manajemen pengetahuan yang baik akan tercipta ide dan kreativitas dari tenaga kerja dalam menciptakan inovasi pelayanan kesehatan.
The Effectiveness of An Appreciated Inquiry-Based Intervention to Improve Nursing Handover Process: A Queasy Experimental Study Lindayani, Linlin; Yetti, Krisna
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 7, No 1 (2021): Volume 7, Nomor 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v7i1.30964

Abstract

Introduction: Many interventions were developed to improve the handover process, but most of them were generally target information transfer directly, individual behavior, or the more comprehensive system. Objectives : The purpose of this study was to evaluate the effectiveness of an appreciated inquiry based on improving the handover process among nurses in the medical-surgical ward, Indonesia. Methods: A quasi-experimental with one group pre-test and post-test design was conducted at a medical-surgical ward at a tertiary hospital in Jakarta, Indonesia. Results: A total of 36 nurses participated in this study, including the head and registered nurse. The intervention was designed to improve the implementation of the handover process among nurses in the medical-surgical ward based on the philosophy of appreciated inquiry using four learning activities. A total of 36 nurses were joined in the study. The handover process was done on time for more than 90%, the proportion of leadership was increased 13% become 95% from 82%.Further, the use of the SBAR communication pattern improved significantly from 72% to 89%, and documentation of handover using SBAR was increased by about 20%. Discussion: The tailored intervention based on appreciated inquiry was effectively to improve the quality of the handover process, including implementation of handovers on time, and ethical leadership, communication, and documentation. Nursing management needs to continue the intervention to optimize the role and function of nurses in handover.ABSTRAKPendahuluan: Banyak intervensi dikembangkan untuk meningkatkan proses serah terima, tetapi kebanyakan dari intervensi tersebut umumnya merupakan transfer informasi target secara langsung, perilaku individu, atau sistem yang lebih komprehensif. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas penyelidikan yang dihargai berdasarkan peningkatan proses serah terima pada perawat di bangsal bedah medis, Indonesia. Metode: Sebuah eksperimen semu dengan desain pre-test dan post-test satu kelompok dilakukan di bangsal bedah-medik di sebuah rumah sakit tersier di Jakarta, Indonesia. Hasil: Sebanyak 36 perawat berpartisipasi dalam penelitian ini, termasuk kepala dan perawat. Intervensi dirancang untuk meningkatkan pelaksanaan proses serah terima di antara perawat di bangsal bedah medis berdasarkan filosofi inkuiri dihargai dengan menggunakan empat kegiatan pembelajaran. Sebanyak 36 perawat bergabung dalam penelitian ini. Proses serah terima dilakukan tepat waktu lebih dari 90%, proporsi kepemimpinan meningkat 13% menjadi 95% dari 82%. Selanjutnya, penggunaan pola komunikasi SBAR meningkat secara signifikan dari 72% menjadi 89%, dan dokumentasi serah terima menggunakan SBAR meningkat sekitar 20%. Diskusi: Intervensi yang disesuaikan berdasarkan penyelidikan yang diapresiasi efektif untuk meningkatkan kualitas proses serah terima, termasuk pelaksanaan serah terima tepat waktu, dan kepemimpinan etis, komunikasi, dan dokumentasi. Manajemen keperawatan perlu melanjutkan intervensi untuk mengoptimalkan peran dan fungsi perawat dalam serah terima.