cover
Contact Name
Suci tuty putri
Contact Email
Suci.putri@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
Suci.putri@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA
ISSN : 25410024     EISSN : 24773743     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia(JPKI) merupakan sarana pengembangan dan publikasi karya ilmiah bagi para peneliti, dosen dan praktisi keperawatan dan kesehatan. JPKI adalah jurnal cetak dan elektronik dengan sistem open access journal. JPKI menerbitkan artikel-artikel dalam lingkup keperawatan dan kesehatan secara luas namun terbatas terutama bidang pendidikan keperawatan. Artikel harus merupakan hasil penelitian, studi kasus, hasil studi literatur, konsep keilmuan, pengetahuan dan teknologi yang inovatif dan terbaharu dalam lingkup ilmu keperawatan baik dalam skala nasional dan internasional. Artikel akan ditelaah secara peer review oleh mitra bestari dari berbagai institusi.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG MANAJEMEN PELAYANAN HOSPITAL HOMECARE DI RSUD AL-IHSAN JAWA BARAT Rahmi, Upik; Ramadhanti, Dewi
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7488

Abstract

ABSTRAKHomecare merupakan layanan kesehatan yang dilakukan dirumah pasien. Konsep ini telah dikembangkan oleh William Rathon sejak tahun 1859 di liverpool yang dinamakan perawatan dirumah dalam bentuk kunjungan tenaga keperawatan ke rumah untuk mengobati pasien yang sakit dan tidak bersedia dibawa ke rumah sakit. Di Indonesia, konsep homecare ini merupakan solusi paling tepat untuk mengantisipasi jumlah pasien yang tidak tertampung di rumah sakit. Dengan konsep homecare maka pasien yang sakit dengan kriteria tertentu (terutama yang tidak memerlukan peralatan rumah sakit) tidak lagi harus ke rumah sakit, tetapi tenaga kesehatan yang mendatangi rumah pasien dengan fokus utama pada kemandirian pasiendan keluarganya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan perawat tentang manajemen pelayanan hospital homecare di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat pada tanggal 26-27 Mei 2016 dengan jumlah populasi 10 orang serta jumlah sampel 10 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran pengetahuan perawat tentang menejemen pelayanan hospital homecare di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat diperoleh kategori terbanyak yaitu lima orang responden (50%) memiliki pengetahuan cukup, kategori kurang tiga orang responden (30%) memiliki pengetahuan kurang dan untuk pengetahuan dengan kategori baik sebanyak dua orang responden (20%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan perawat tentang manajemen pelayanan hospital homecare di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat adalah kategori cukup yaitu lima orang responden (50%). Oleh karena itu maka peneliti merekomendasikan agar pihak kesehatan lebih mengembangkan pengetahuan tentang homecare agar tercipta kesehatan yang holistik.ABSTRACTHomecare is supportive care provide in the home. The modern concept of providing nursing care in the home was developed by William Rathbone of Liverpool, England, in 1859. In Indonesia, The concept of homecare is solution for anticipate amount of patient in the hospital. In manner of this concept for patient have a spesific character like unneed some hospital’s instrumentation, patient unneed to go to hospital but a nurse come to a patient’s home, but a nurse have to come to a patient home for a focus, that is a patient to be autonomous in activity daily living. This research for find out of nurse’s knowledge about hospital homecare service management (HHSM) in Al-Ihsan Provience’s Hospital Jawa Barat. It is conducted using descriptive quantitative study in 26-27 May 2016, and involved 10 population and 10 samples. Simple total sampling was used as the technique and closed questionnaire was used as the instrument. The findings of the study show that most nurse’s in Al-Ihsan Provience’s Hospital Jawa Barat ( five respondents) have adequate knowledge about HHSM (50%); next, three respondents (30%) have low knowledge about HHSM; and two respondents (20%) have good knowledge about HHSM. To conclude, the nurse in Al-Ihsan Provience’s Hospital Jawa Barat’s knowledge about HHSM is adequate. Therefore, the health professionals are suggested to actively conduct more counseling and re-evaluation about homecare, especially about HHSM, in hospital settings. 
GAMBARAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DENGAN SEKSIO SESAREA BERDASARKAN KARAKTERISTIK DI RUMAH SAKIT SARININGSIH BANDUNG Rutiani, Clara Ega Ayu; Fitriana, Lisna Anisa
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4750

Abstract

ABSTRAK Bendungan ASI merupakan salah satu masalah pada masa nifas. Bendungan ASI adalah penyempitan pada saluran ASI yang disebabkan karena air susu mengental sehingga menyumbat lumen saluran. Masa pemulihan pada ibu post seksio sesarea berangsur lebih lambat, beberapa hari setelah tindakan ibu masih merasakan nyeri. Kondisi tersebut menyebabkan ibu merasa cemas, bila ibu merasa tertekan (stress) maka akan terjadi pelepasan adrenalin yang menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah pada alveoli. Akibatnya terjadi hambatan let-down reflex sehingga air susu tidak mengalir dan menalami bendungan ASI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran bendungan ASI pada ibu nifas dengan seksio sesarea di Rumah Sakit Sariningsih Bandung. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif, rancangan penelitian cross sectional, pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Jumlah sampel sebanyak 26 orang ibu nifas dengan seksio sesarea. Alat ukur penelitian ini menggunakan kuesioner six point engorgement scale (SPES). Hasil penelitian menunjukan 19 orang (73,1%) ibu nifas terdapat bendungan ASI. Berdasarkan kelompok usia ibu nifas yang terdapat bendungan ASI terbanyak adalah kelompok usia 20-35 tahun sebanyak 18 orang (69,2%). Berdasarkan kelompok pendidikan ibu nifas yang terdapat bendungan ASI terbanyak adalah kelompok pendidikan SMA yaitu sebesar 13 orang (50%). Berdasarkan kelompok pekerjaan ibu nifas yang terdapat bendungan ASI terbanyak adalah kelompok ibu yang bekerja sebesar 10 orang (38,5%). Berdasarkan kelompok paritas yang terdapat bendungan ASI terbanyak yaitu kelompok primipara sebanyak 11 orang (42,3%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu nifas dengan seksio sesarea di Rumah Sakit Sariningsih Bandung terdapat bendungan ASI. Dengan hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dilakukannya perawatan payudara dan penyuluhan mengenai bendungan ASI secara rutin di Rumah Sakit Sariningsih Bandung. Kata kunci: Bendungan ASI,  ibu nifas, seksio sesaria ABSTRACT Breast engorgement is one of a problem in postpartum period. A few days after getting the act of seksio caesarea, mother are usually pain and will being anxious.  If mothers feel stress, there will be the release of the adrenaline causing vasoconstriction veins at alveoli and causing breast engorgement.  The aim of this study is to identify the breast engorgement in mothers with seksio caesarea in Sariningsih Hospital in Bandung. The methods used the quantitative descriptive. The sample used accidental sampling. The number of samples are 26 people of mothers with seksio caesarea. The instrument used Six-point Engorgement Scale. The results showed that 19 people (73,1%) mothers is breast engorgement. Based on age groups, mother with breast engorgement were age groups 20-35 year (69,2%) . Based on the education, the most were the group of education high school is as much as 13 people (50 %) . Based on the capital work, the most were group of mothers who works as much as 10 people ( 38,5 % ) . Based on the parity that is most dam breastfeeding groups primipara about 11 people (42,3%). We can conclude that the majority of mothers with seksio caesarea in Sariningsih Hospital are breast engorgement. With the result of research is expected did care breast and information about the breast engorgement routinely in Sariningsih hospital in Bandung.Keywords: Breast engorgement, Mother parturition,  Seksio caesarea
Pengetahuan Siswa kelas XI Tentang Penyakit Menular Seksual Rahmi, Upik; Gustini, Kiki; Puspita, Asih Purwandari Wahyoe
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 2 (2015): Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v1i2.9748

Abstract

ABSTRAK            Prevalensi PMS di negara berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di negara maju. Usia remaja (15 – 24 tahun) merupakan 25% dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi memberikan kontribusi hampir 50% dari semua kasus PMS. Di Indonesia, berdasarkan Laporan Survei Terpadu dan Biologis Perilaku (STBP) oleh Kementrian Kesehatan RI (2011), prevalensi penyakit menular seksual (PMS) pada tahun 2011 dimana infeksi gonore dan klamidia sebesar 179 % dan sifilis sebesar 44 %. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui  pengetahuan siswa  kelas XI tentang penyakit menular seksual. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 24 Bandung pada tanggal 4, 5, 8, 9 dan 11 Juni 2015 dengan jumlah populasi 359 orang serta jumlah sampel 190 orang.  Pengambilan sampel menggunakan   random sampling. Instrumen yang digunakan  kuesioner . Hasil penelitian ini menunjukkan  pengetahuan siswa  kelas XI tentang Penyakit Menular Seksual di SMA  diperoleh     119 orang   (62,63%)   pengetahuan cukup  59 orang  (31,05%)  pengetahuan kurang  12 orang   (6,32%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan siswa  kelas XI tentang penyakit menular seksual di SMA Negeri 24 Bandung adalah cukup 119 orang (62,63%). Oleh karena itu  peneliti merekomendasikan agar petugas kesehatan dapat lebih aktif lagi dalam memberikan penyuluhan tentang sistem reproduksi khususnya mengenai penyakit menular seksual di lingkungan sekolah. ABSTRACT The prevalence of Sexually Transmitted Disease (STD) in developing countries is higher than in advanced countries. The adolescence (15-24 years old) contributes for 25% to all sexually active population, but contributes 50% to all STD cases. According to Report of Integrated and Biologic Behavior Survey conducted by Health Ministry of Indonesian Republic (2011), the prevalence of STD in Indonesia in 2011 shows that gonorrhea and Chlamydia infection is 179% and syphilis is 44%. This study aims at discovering XI grade students of 24 Senior High School Bandung’s knowledge about STD. It is conducted using descriptive quantitative study in 4, 5, 8, 9 and 11 June 2015, and involved 359 population and 190 samples. Simple random sampling was used as the technique and closed questionnaire was used as the instrument. The findings of the study show that most XI grade students of 24 Senior High School Bandung (119 respondents) have adequate knowledge about STD (62.63%); next, 59 respondents (31.05%) have low knowledge about STD; and 12 respondents (6.23%) have good knowledge about STD. To conclude, the XI grade students of 24 Senior High School Bandung’s knowledge about STD is adequate. Therefore, the health professionals are suggested to actively conduct more counseling about reproduction system, especially about STD, in school settings.
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STROKE DI RSUD INDRAMAYU Wayunah, Wayunah; Saefulloh, Muhammad
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4741

Abstract

ABSTRAKStroke merupakan penyakit neurologik yeng terjadi karena gangguan suplai darah menuju suatu bagian otak. Angka kejadian stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia, semakin tinggi usia seseorang semakin tinggi kemungkinan terjadi stroke. Menurut penyebabnya stroke dibagi dua yaitu stroke hemoragik akibat pecahnya pembuluh darah otak dan stroke iskemik (stroke non hemoragik) akibat adanya trombus atau embolus pada pembuluh darah otak. Banyak faktor yang menyebabkan stroke, yang terdiri dari faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah. Tujuan  penelitian untuk mengidentifikasi dan menjelaskan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stroke. Penelitian ini merupakan penelitian observasonal analitik dengan rancangan cross sectional study. Sampel sebanyak 103 responden yang diambil dengan tehnik consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara hipertensi (p = 0,035) dan aktivitas fisik (p = 0,011) dengan jenis stroke. Aktivitas fisik merupakan faktor risiko paling dominan yang berhubungan dengan jenis stroke dengan OR = 5,8. Penelitian ini menyimpulkan riwayat hipertensi dan aktivitas fisik merupakan faktor risiko independen yang berhubungan dengan jenis stroke. Rekomendasi dari penelitian ini ditujukan kepada rumah sakit untuk meningkatkan kegiatan penyuluhan untuk mencegah faktor risiko terjadinya stroke. Selain itu meningkatkan peran perawat dalam  pemberian pelayanan keperawatan, dimana perawat memfokuskan asuhan pada kebutuhan kesehatan pasien secara holistik.ABSTRACT Stroke is a neurological disease that occurs due to disruption of the blood supply to a part of the brain. The incidence of stroke increases with age, that the older the person the possibility of stroke. According to the cause of stroke divided into two hemorrhagic stroke due to rupture of blood vessels of the brain and ischemic stroke (stroke non hemoragik) due to thrombus or embolus in the blood vessels of the brain. Many factors cause a stroke, which consists of factors that can not be changed and the factors that can be changed. The aim of research to identify and explain the risk factors associated with the occurrence of stroke.This research is an analytic observational study with cross sectional study. The sample of this study as many as 103 respondents is taken with consecutive sampling technique. The results showed significant relationship between hypertension (p = 0,035) and physical activity (p = 0.011) with the type of stroke. Physical activity is the predominant risk factor associated with this type of stroke with OR = 5.8. The study concluded a history of hypertension and physical inactivity is an independent risk factor associated with this type of stroke. Recommendations from this study aimed to hospitals to improve education activities to prevent risk factors for stroke. Besides increasing the role of nurses in the delivery of nursing services, where nurses care focuses on the health needs of patients holistically.
Kualitas Tidur Pasien Kanker Payudara Berdasarkan Terapi yang Diberikan di RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung Alifiyanti, Devita; Hermayanti, Yanti; Setyorini, Dyah
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9418

Abstract

ABSTRAK  Tidur berkualitas dibutuhkan oleh pasien kanker payudara agar kondisi dan daya tahan tubuh dapat dipertahankan optimal. Pada saat tidur  sel yang rusak  dapat diperbaiki. Perawat harus memfasilitasi kebutuhan tersebut dan harus mengetahui kualitas tidur pasien dengan terapi yang berbeda, sebagai dasar perencanaan asuhan. Penelitian ini bertujuan untuk meggambarkan kondisi kualitas tidur pasien yang sedang menjalankan terapi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik consecutive sampling (n=31). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Kualitas tidur dikatakan baik bila skor total ≤ 5, dan kualitas tidur buruk bila skor total 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden (100%) memiliki kualitas tidur yang buruk. Komponen yang paling banyak berkontribusi dalam penilaian tersebut adalah latensi tidur, durasi tidur, efisiensi kebiasaan tidur, dan disfungsi siang hari. Kualitas tidur terburuk dengan skor 18 terjadi pada responden yang menjalani radioterapi dengan mastektomi (2 orang) dan responden stadium lanjut (3 orang). Kesimpulan, bahwa terapi pengobatan yang dijalani dan kondisi kanker berkontribusi terhadap kualitas tidur pasien kanker payudara. Sejak pasien masuk perawat harus mengkaji kebutuhan tidur, menggali masalah kesulitan tidur, menjelaskan pengaruh tidur terhadap perbaikan sel, dan memberikan informasi tentang cara tidur berkualitas kepada pasien dan keluarganya untuk setting rumah sakit dan di rumah. Rumah Sakit harus memfasilitasi kebutuhan pasien agar tidak terganggu saat tertidur selama dalam perawatan.  ABSTRACT Deep sleep is needed by breast cancer patients to maintain health quality  optimally.  During that time the damaged cells can be repair. Nurses should facilitate the need and should know the sleep quality as the basis for nursing care. This study aims to describe  sleep quality of breast cancer patients with the treatmen at Dr. Hasan Sadikin Bandung.  This research uses quantitative descriptive method with consecutive sampling technique (n = 31). Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Sleep quality was good when the total score ≤5.  Sleep quality was  poor when the total score 5. The results show that all respondents (100%) had poor sleep quality. The components which contribute to the condition were sleep latency, sleep duration, sleep efficiency and daytime dysfunction. The worst score sleep quality was 18 which occurred on mastectomy patient with radiotherapy (2) and  advanced stage patients (3).  To  conclude that treatment for cancer contribute to sleep quality of breast cancer patients.  Nurses should assess the needs of sleep, explore the problem of sleeping difficulties, explain the effect of sleep on cell repair, and provide information about  getting a good sleep at the  hospital or home settings. Hospital should  facilitate  the infrastructure to full fill tne  need.  
A NOVEL OF BIOMEDICAL APPROACH FOR HIV PREVENTION: AN INTEGRATED LITERATURE REVIEW Lindayani, Linlin
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7478

Abstract

ABSTRAKSecara global, jumlah kasus baru terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sudah mengalami penurunan yang signifikan. Akan tetapi dibeberapa wilayah negara seperti Afrika dan Asia Tenggara, jumlah kasus baru terinfeksi HIV masil mengalami peningkatan. Upaya pencegahan seperti promosi penggunaan kondom, sunat bagi laki-laki, dan skrining HIV sudah diimpementasikan dengan baik. Tetapi, pendekatan tersebut tetap saja tidak menghilangkan seseorang terkena resiko HIV bahkan mungkin untuk pasangan yang hidup dengan penderita HIV malah meningkatan resiko mereka tertular HIV. Sehingga dibutuhkan suatu pendekatan lain yang efekti dan mampu meminimalkan sekecil-kecilnya resiko seseorang tertular HIV. Tujuan dari review ini adalah untuk mengkaji efektifitas pendekatan baru yang dikenal dengan pendekatan biomedik terhadap penurunan resiko tertular HIV. Melalui pencarian secara komprehensif di beberap sumber data seperti PubMed, Embase, Cochrane Library, clinicaltrials.gov, htpn.org, and meta-register dilakukan terutama berfokus pada studi yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris pada tahun 2005 sampai 2015. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukan bahwa pendekatan biomedik seperti pre-exposure prophylaxis (PrEP) dan post exposure prophylaxis (PEP) merupakan suatu pendekatan yang terbukti efektif dalam menurunkan penularan HIV terutama pada kelompok-kelompok dengan resiko tinggi seperti homoseksual atau heteroseksual. Sehingga, pemerintah Indonesia mungkin sudah bisa melakukan pengkajian yang dalam dan membuat pedoman tatalaksana pencegahan HIV dengan pendekatan ini. ABSTRACTThe number of new cases of Human Immunodeficiency Virus (HIV) infections has decreased significantly worldwide. However, in some regions such as Africa and South East Asian, new HIV infections remain high. Prevention strategies such as promoting condom use, male circumcision, and early HIV detection have been implemented well. However, all those approaches still putting people at high risk of HIV infection. The purpose of this review is to summarize current evidence about biomedical approach as an effective HIV prevention. A comprehensive computerized literature search was conducted using PubMed, Embase, Cochrane Library, clinicaltrials.gov, htpn.org, and meta-register to retrieved relevant literature published from 2005 to 2015 in English to review a current approach for HIV prevention. Biomedical approaches using antiretroviral drugs have shown good efficacy in the prevention of mother-child transmission for post exposure prophylaxis. Recent evidence has also found pre-exposure prophylaxis (PrEP) to be promising in preventing HIV. Both WHO and CDC recommended to integrate PrEP and post exposure prophylaxis for HIV prevention strategies. Health care policy needs to consider the biomedical approach to HIV prevention, especially in Indonesia. Therefore, Indonesia government may start to develop a clinical guideline and deeply assess the possibility to implement this approach in clinical practice.Keywords: biomedical approach, prevention, HIV, treatment
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA MADYA (13 -15 TAHUN) TENTANG DYSMENORRHEA DI SMPN 29 KOTA BANDUNG Andriyani, Septian; Sumartini, Sri; Afifah, Vevi Nur
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4746

Abstract

ABSTRAK Dysmenorrhea  umum dirasakan oleh perempuan pada hari – hari pertama menstruasi. Tidak banyak yang menyadari bahwa dysmenorrhea yang  tidak biasa bisa menjadi salah  satu awal dari suatu penyakit misalnya endometriosis, sehingga perlu diberikan edukasi tentang dysmenorrhea sebagai upaya deteksi dini terjadinya kasus endometriosis. Angka Kejadian dysmenorrhea di Indonesia sendiri cukup tinggi mencapai  64,25 % yang terdiri dari 54,89% dysmenorrhea primer dan 9,36 % dysmenorrhea  sekunder tidak jauh berbeda dengan angka kejadian dysmenorrhea di Jawa Barat yaitu sebanyak 54,9 % wanita mengalami dysmenorrhea, terdiri dari 24,5%  mengalami dysmenorrhea ringan, 21,28% mengalami dysmenorrhea sedang dan 9,36% mengalami dysmenorrhea berat. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja madya usia 13 - 15 tahun tentang dysmenorrhea. Jumlah keseluruhan populasi dalam penelitian ini sebanyak 423 siswi yang terdiri atas siswi kelas VII sebanyak 256 orang dan  siswi kelas  VIII sebanyak 167orang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 206 sampel siswi yang diambil menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada kategori berpengetahuan baik, dengan hasil sebanyak 115 siswi (55,8%). Namun, masih ditemukan sebagian kecil siswi dalam kategori berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 22 siswi (10,7%) dan hampir setengahnya berpengetahuan kurang  yaitu sebanyak 69 siswi (33,5%). Dari hasil tersebut kategori berpengetahuan kurang masih hampir setengah jumlah responden. Oleh karena itu, diharapkan  pihak sekolah dapat bekerja sama dengan Puskesmas ataupun petugas kesehatan terkait dalam pemberian pendidikan kesehatan khususnya tentang  dysmenorrhea secara berkala kepada siswi SMPN 29 Kota Bandung. Kata kunci: Dysmenorrhea, Pengetahuan, Remaja Madya,  ABSTRACT Dysmenorrhea is commonly experienced by women at the beginning of the menstruation period. There are only few who realize that unusual dysmenorrhea can be an initial symptom of certain diseases, such as endometriosis, so that they should be educated about dysmenorrhea as an early warning effort to detect endometriosis cases. The number of dysmenorrhea in Indonesia is relatively high, in which it achieved 64.25 %. It consisted of 54.89% primary dysmenorrhea and 9.36 % secondary dysmenorrhea. Similar case was also found in West Java in which around 54.9 % women experienced dysmenorrhea. The figure consisted of 24.5% women experienced light dysmenorrhea, 21.28% women experienced moderate dysmenorrhea, and 9.36% of them experienced severe dysmenorrhea. The current research aims to discover the understanding of 13-15 years old adolescents on dysmenorrhea. There were total 423 female students involved in this research, which consisted of 256 seventh grade female students and 167 eighth grade female students. This research was categorized as descriptive quantitative research, which involved 206 female students as the research sample that were selected by employing Proportionate Stratified Random Sampling. The research result revealed that most of the students (115 students or 55.8%) were categorized to have good understanding on dysmenorrhea. However, it was also discovered that there were minority of the students (22 students or 10.7%) who were considered to have adequate understanding, while almost the half of the students (69 students or 33.5%) had limited understanding on dysmenorrhea. Based on the aforementioned result, it is found that almost half of the population still had limited understanding on the matter. Therefore, it is expected that the school administrators can cooperate with community health centers or medical practitioners in order to regularly educate the female students at SMPN 29 in Bandung mainly about dysmenorrhea. Keywords: Adolescents, Dysmenorrhea, Knowledge
Gambaran Tingkat Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial Tentang Infeksi Menular Seksual Pangaribuan, Santa Maria; Mardiah, Wiwi
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9423

Abstract

ABSTRAK Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang didapat melalui kontak seksual. Salah satu kelompok yang sangat beresiko mengalami penularan adalah wanita pekerja seks komersial. Jumlah wanita pekerja seks komersial yang mengalami IMS saat ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, salah satu penyebab peningkatan jumlah insiden IMS ini adalah kurangnya pengetahuan tentang Infeksi Menular Seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan wanita pekerja seks komersial tentang IMS. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 327 orang. Sampel diambil menggunakan teknik quota sampling sebanyak 85 sampel. Intrumen penelitian dibuat berdasarkan teori dan konsep tentang IMS dan telah di lakukan uji kontent uji validitas dan reliabilitas  dengan hasil sebagai berikut: koefisien validitas 0,276 sampai dengan 0,720 (sig. 0,05). Analisa data yang dilakukan menggunakan analisa data deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 44 responden (51,76%) memiliki pengetahuan yang cukup, 32 responden (37,65%) memiliki pengetahuan yang baik dan 9 responden (10,59%) masih kurang. Hasil prosentasi tersebut dapat ditunjukkan dari kontent sub variabel pengertian, penyebab, jenis dan gejala, dampak dan cara pencegahan IMS yang berada pada kategori baik dan cukup sedangkan cara kontent tentang penularan IMS berada pada kategori kurang, kondisi ini yang di asumsikan bahwa peningkatan IMS masih terus meningkat. Simpulan dari  penelitian ini, bahwa pengetahuan para wanita pekerja seks komersial  bervariasi, mereka belum memiliki pengetahuan tentang IMS secara komprehensif, sehingga disarankan untuk yang memiliki hasil pengetahuan cukup dan kurang melakukan upaya meningkatkan pengetahuannya sedangkan untuk yg sudah memiliki pengetahuan baik dapat menshare pada temannya secara rutin untuk meningkatkan pengetahuan tentang IMS, melalui bimbingan dan arahan dari petugas kesehatan.                                      ABSTRACT Sexually Transmitted Infections (STIs) are infections acquired through sexual contact. One group that is particularly at risk of transmission is a commercial sex worker. The number of commercial sex worker women who experience STIs is currently increasing compared to previous years, one of the causes of the increasing number of STI incidents is the lack of knowledge about sexually transmitted infections. This study aims to identify the knowledge of commercial sex workers women about STIs. This research is a quantitative descriptive research. The study population amounted to 327 people. Samples were taken using quota sampling technique of 85 samples. The research instrument is based on the theory and concept of IMS and has tested the validity and reliability test with the following result: validity coefficient 0,276 up to 0,720 (sig. 0,05). Data analysis conducted using descriptive data analysis. The result of the research shows that 44 respondents (51,76%) have enough knowledge, 32 respondents (37,65%) have good knowledge and 9 respondents (10,59%) still less. The result of the percentage can be shown from contents sub variable of understanding, , types and symptoms, impacts and ways of preventing STIs that are in good and sufficient category whereas contents about STI transmission are in the less category, this condition is assumed that the increase of STI is still increasing. Conclusions from this study, that the knowledge of women sex workers vary, they do not have comprehensive knowledge about the IMS, so it is advisable for those who have sufficient knowledge and less effort to increase knowledge while for those who already have good knowledge can menshare on his friends regularly to improve knowledge about STIs, through guidance and direction from health worker.  
APLIKASI TERAPI SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN HARGA DIRI RENDAH KRONIS DI RSMM JAWA BARAT Widianti, Efri; Keliat, Budi Anna; Wardhani, Ice Yulia
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7489

Abstract

ABSTRAKHarga diri rendah kronis merupakan salah satu diagnosis keperawatan yang sering ditemukan di rumah sakit jiwa. Prosentase pasien harga diri rendah kronis di ruang Arimbi periode Februari–April 2012 mencapai 90.4% dari jumlah total pasien. Jumlah pasien dengan diagnosis utama harga diri rendah kronis yang dikelola penulis sebanyak 22 orang. Tujuan penulisan karya ilmiah akhir ini adalah menguraikan aplikasi terapi spesialis keperawatan jiwa terhadap pasien harga diri rendah kronis. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi serial kasus dengan kombinasi tujuh paket terapi. Hasil aplikasi terapi spesialis keperawatan jiwa ini menunjukkan adanya penurunan tanda dan gejala, peningkatan kemampuan pasien, serta peningkatan kemampuan keluarga dalam merawat pasien harga diri rendah kronis. Kombinasi terapi individu (terapi kognitif perilaku dan logoterapi), terapi kelompok (terapi suportif kelompok) dan terapi keluarga (psikoedukasi keluarga) mampu menurunkan gejala, meningkatkan kemampuan pasien dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien harga diri rendah kronis. Rekomendasi : kombinasi terapi individu, terapi kelompok dan terapi keluarga sangat tepat diberikan pada pasien gangguan jiwa khususnya pasien harga diri rendah kronis dan diperlukan penelitian lebih lanjut.ABSTRACTChronic low self-esteem is one of the nursing diagnosis that is often found in psychiatric hospitals. Percentages of patients with chronic low self-esteem in the period Februari-April 2012 at Arimbi receached 90.4%. The number of patients with a primary diagnosis of chronic low self-esteem that was managed by writer as many as 22 people. The purpose of this final report is to describe the application of nursing specialist therapies on chronic low self-esteem patients. Methods which used was serial case study with combination of seven therapies packages. The results showed a decrease in the signs and symptoms, improvement of patient's ability and the ability of families in caring for patients of chronic low self-esteem. Effectiveness of therapy showed that the combination of individual therapy (cognitive behavioral therapy and logotherapy), group therapy (supportive group therapy) and family therapy (family psychoeducation) effectively reduce symptoms of chronic low self-esteem, improve the patient's ability and the ability of families in caring for patients of chronic low self-esteem. Recommendation: The combination of individual, group and family therapies is appropriate for the mental disorders patients, especially patients with chronic low self-esteem and this needs further research
PENGARUH CASE-BASED LEARNING TERHADAP PENGETAHUAN HIV/AIDS, STIGMA DAN PENERIMAAN MAHASISWA KEPERAWATAN PADA ODHA Wilandika, Angga
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7474

Abstract

ABSTRAKStigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA), terutama pada kalangan perawat merupakan permasalahan yang dapat memengaruhi perawatan dan kualitas hidup ODHA. Ketidaktahuan mengenai penyakit HIV/AIDS sejak perawat masih dalam masa pendidikan merupakan permasalahan yang dapat mengarahkan kepada stigma dan diskriminasi dalam perawatan ODHA. Upaya untuk mereduksi stigma negatif terhadap ODHA yang dilakukan oleh mahasiswa keperawatan dapat dilakukan melalui pemberian pengetahuan dengan metode case-based learning. Tujuan penelitian ini adalah teridentifikasinya pengaruh metode case-based learning terhadap pengetahuan mahasiswa keperawatan tentang HIV/AIDS, stigma dan penerimaan pada ODHA. Metode penelitian ini menggunakan quasi-experimental dengan rancangan penelitian single group pretest-posttest. Sebanyak 49 mahasiswa yang mengikuti pembelajaran pada mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah dilibatkan secara total sampling. Analisis deskriptif menggunakan mean, standar deviasi, persentase dan distribusi frekuensi. Sementara, analisis inferensial menggunakan Uji T. Hasil penelitian membuktikan adanya perbedaan dari pengetahuan mahasiswa tentang HIV/AIDS, stigma terhadap ODHA dan penerimaan mahasiswa pada ODHA sebelum dan sesudah case-based learning. Analisis lebih lanjut menemukan pengaruh signifikan (p 0,005) dari metode case-based learning terhadap pengetahuan, stigma dan penerimaan mahasiswa keperawatan.Hasil temuan ini dapat digunakan oleh kalangan akademisi dan praktisi kesehatan dalam pengembangan program pendidikan yang dapat meningkatkan pengetahuan, mereduksi stigma negatif terhadap ODHA dan meningkatkan kemauan untuk menerima ODHA dilingkungan mereka. Lebih lanjut dapat dikembangkan penelitian mengenai pengembangan strategi metode case-based learning dalam intervensi untuk menurunkan stigma yang lebih luas dan tidak terbatas hanya pada kalangan mahasiswa, melainkan pada petugas kesehatan yang langsung berhubungan dengan pasien terinfeksi HIV/AIDS ABSTRACTStigma and discrimination against people living with HIV/AIDS (PLWHA), especially came from nurses was a problem that can affect the quality of care and quality of life of PLWHA. Ignorance about HIV/AIDS since the nurses are still in education is a problem that can lead to stigma and discrimination in treatment for PLWHA. The efforts to reduce the negative stigma against PLWHA performed by nursing students can be done through the provision of knowledge with case-based learning methods. The purpose of this study is the identification of the influence of methods of case-based learning to the knowledge of nursing students about HIV/AIDS, stigma and acceptance of people living with HIV. The study employed a quasi-experimental study with single group pretest-posttest. The sample size comprised 94 nursing college students who was attended Medical-Surgical Nursing Course with total sampling. Descriptive analysis using mean, standard deviation, percentage and frequency distribution. Meanwhile, inferential analysis using T-test. The result was found the differences in nursing college student knowledge about HIV/AIDS, stigma against PLWHA and the acceptance to PLWHA, before and after case-based learning. Further analysis revealed a significant effect (p 0.005) of methods of case-based learning toward a knowledge of HIV/AIDS, stigma and acceptance of nursing students for PLWHA in neighborhood. These findings can be used by academic and health professionals, to develop education program strategic to increase the knowlegde of nursing college student about HIV/AIDS, to reduction thenegative stigma againts PLWHA, and to raise the acceptance toward PLWHA in neighborhood. The further research can be focus on the development strategry of case-based learning methode in interventions to reduce stigma broader, not limited to the nursing student, meanwhile for health care workers that directly work with HIV/AIDS infected patient. 

Page 4 of 16 | Total Record : 158