cover
Contact Name
Suci tuty putri
Contact Email
Suci.putri@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
Suci.putri@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA
ISSN : 25410024     EISSN : 24773743     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia(JPKI) merupakan sarana pengembangan dan publikasi karya ilmiah bagi para peneliti, dosen dan praktisi keperawatan dan kesehatan. JPKI adalah jurnal cetak dan elektronik dengan sistem open access journal. JPKI menerbitkan artikel-artikel dalam lingkup keperawatan dan kesehatan secara luas namun terbatas terutama bidang pendidikan keperawatan. Artikel harus merupakan hasil penelitian, studi kasus, hasil studi literatur, konsep keilmuan, pengetahuan dan teknologi yang inovatif dan terbaharu dalam lingkup ilmu keperawatan baik dalam skala nasional dan internasional. Artikel akan ditelaah secara peer review oleh mitra bestari dari berbagai institusi.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
Gambaran Dukungan Suami Dalam Pemberian ASI Eksklusif Handayani, Sri Lucky; Putri, Suci Tuty; Soemantri, Budi
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 2 (2015): Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v1i2.9750

Abstract

ABSTRAK          Pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan, nutrisi yang terkandung dari ASI eksklusif sangat penting bagi bayi sejak lahir sampai enam bulan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat serta untuk mencegah dari berbagai penyakit. Di indonesia, cakupan ASI eksklusifnya masih berada pada kisaran 54,3 %. Salah satu faktor yang mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif yaitu dukungan suami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya gambaran dukungan suami dalam pemberian ASI eksklusif yang dilakukan di wilayah Posyandu Padasuka RW 06 dan RW 12 Kelurahan Padasuka Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah ibu menyusui yang memiliki bayi  0-6  bulan  sebanyak  30  orang.  Teknik  sampling  yang  digunakan  adalah  teknik  accidental sampling selama 3 minggu. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup yang dimodifikasi oleh peneliti dari Teori Marcer. Hasil penelitian ini bahwa Ibu menyusui di Posyandu Padasuka ini sangat didukung dalam pemberian ASI secara eksklusif oleh suaminya,  sebagian  besar  responden  mendapatkan  dukungan  baik  sebanyak  19  orang  (63,3%), sebagian responden mendapatkan dukungan cukup 8 orang (26,7%), dan sebagian kecil responden mendapatkan dukungan kurang 3 orang (10,0%). Peneliti menyarankan agar para petugas kesehatan memberikan penyuluhan pentingnya ASI kepada suami sehingga suami lebih memahami dan sadar untuk memberikan dukungan pada ibu dalam menyusui secara eksklusif selama 6 bulan.  ABSTRACTThe impotance of breastfeeding (breast milk) only to infant from birt until the age of 6 month, nutrions from exclusif breastfeeding is very important for babies the growth and development of a healthy baby as well to prevent from various diseases. In indonesia, coverage of exclusive breastfeeding is still in the range of 54,3%. One of the factors that affect mother in giving exclusive breastfeeding   is the husband support. The purpose of this research was to find a description of husband support in giving exclusive breastfeeding in regional padasuka posyandu RW 06 and RW 12 villages padasuka city of bandung. This research uses descriptive quantitative method. Samples of this research are breastfeeding mother with babies 0-6 months. Sample was 30 respondents. The sampling technique used is accidental sampling for 3 weeks. Data was collection by questionnaires enclosed modified by  researchers from theory mercer. The Results of this study showed that mothers in padasuka posyandu is giving supported in exclusive breastfeeding by her husband. Mothers got good support were 3 people (63,3% ), quite good support were 8 (26,7%), and mother got less support from her husband were 3 people (10%). The researcher suggests health worker to improve health promotion to mothers and their husband on exclusive breastfeeding  by involving volunteer and society for better understand and conciosly to provide support to mother breastfeed exclusively until the age of 6 month. 
PENGETAHUAN SISWA KELAS X DAN XI TENTANG PENGGUNAAN EARPHONE DI SMA PASUNDAN 8 KOTA BANDUNG Rahmi, Upik; Achmad, Bayu Fandhi; Marliah, Napisatul
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4742

Abstract

ABSTRAK Pemakaian earphone berlebihan dalam kurun waktu yang lama dapat menimbulkan ketulian permanen. Pada telinga yang terpapar bising dalam waktu yang lama dapat terjadi kerusakan sel-sel rambut di koklea saraf pendengaran yang memperburuk proses degenerasi saraf pendengaran. Remaja merupakan salah satu tingkat penggunaan earphone yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswa kelas X dan XI tentang penggunaan earphone di SMA Pasundan 8 Kota Bandung. Penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif dan rancangan penelitian cross sectional dengan instrumen kuesioner. Sampel yang diteliti adalah siswa kelas X dan XI pada usia 15-18 tahun dengan melibatkan 72 orang siswa kelas X dan 111 orang siswa kelas XI yang diambil dengan menggunakan teknik stratified random sampling dan dianalisis secara deskriptif dengan perhitungan distribusi frekuensi. Temuan penelitian ini menunjukkan yang berpengetahuan cukup sebanyak 41,5%, berpengetahuan baik sebanyak 38,8%, dan berpengetahuan kurang sebanyak 19,7%. Dapat disimpulkan, sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penggunaan earphone. Adapun rekomendasi dari penelitian ini adalah melakukan kegiatan penyuluhan oleh petugas kesehatan mengenai dampak dari alatalat elektronik atau audiovisual khusunya earphone yang di dalamnya mempelajari kesehatan pendengaran. Kata Kunci: Earphone, Gangguan pendengaran, Pengetahuan dan Remaja  ABSTRACT Excessively using earphone in a long period can cause permanent deafness. When ears are exposed to noise in a long time, it can damage hair cells in the cochlea of auditory nerves that worsen its degeneration process. The adolescence is considered using earphone in a long period. This study is intended to investigate X and XI grade students’ knowledge about the use of earphone, and was conducted in Pasundan 8 Senior High School Bandung. It is a descriptive quantitative study, employs cross sectional design and used questionnaire as the instrument. Specifically, this study involved 72 students of X grade and 111 students of XI grade, aged 15-18 years old, which were chosen using stratified random sampling technique. The obtained data were analyzed descriptively by using frequency distribution formula. The findings show that there were 41.5% students who have adequate knowledge, 38.8% students who have good knowledge, and 19.7% students who have lack knowledge about the use of earphone. To conclude most of the respondents have adequate knowledge about the use of earphone. Hence, the health professional is recommended to conduct more counseling on the impacts of electronic or audiovisual gadgets, especially earphone, in its relation to the health of hearing system.  Keywords: Adolescence, Earphone, Hearing Problem and Knowledge
Level of Anxiety and Depression in Post-Stroke Patients at DR. Hasan Sadikin Hospital Bandung Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Hernawaty, Taty
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9419

Abstract

ABSTRAK            Pasien paska stroke dapat mengalami berbagai gejala sisa sehingga dibutuhkan perawatan dalam jangka waktu yang lama. Kondisi tersebut dapat menjadi penghambat dan sumber stress bagi pasien paska stroke. Stres dan depresi dapat menjadi penghambat dan memperberat kondisi pasien. Banyak faktor yang mempengaruhi kecemasan dan depresi pasien sehingga dapat berbeda-beda di berbagai tempat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kecemasan dan depresi di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sehingga dapat dijadikan bahan dasar dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif terhadap pasien paska stroke yang kontrol ke poliklinik saraf RS. Hasan Sadikin Bandung. Teknik sample yang digunakan adalah konsekutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hospital Anxiety Depression Scale (HADS). HADS memiliki kelebihan yaitu dapat mengukur kecemasan dan depresi dalam waktu yang sama. Data yang terkumpul akan dianalisa dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa 74% pasien paska stroke berada dalam kondisi kecemasan normal, 24% mengalami kecemasan ringan, 2% kecemasan sedang dan tidak ada yang mengalami kecemasan berat. Responden berada pada kondisi depresi ringan 8%, 92 % berada dalam kategori normal dan tidak ada satupun yang mengalami depresi sedang maupun berat. Hasil penelitian ini dapat dipengaruhi oleh karakteristik sebagian besar responden yang berusia pada tahapan dewasa madya, memiliki status menikah, dan tidak memiliki penyakit penyerta apapun. Kecemasan dan depresi sebagian besar pasien paska stroke berada dalam kondisi normal namun ada beberapa yang mengalami kecemasan dan depresi. Tenaga kesehatan khususnya perawat diharapkan dapat mengkaji dan memberikan intervensi terhadap kecemasan dan depresi sedini mungkin dengan memberikan konseling sebagai program tambahan dalam rehabilitasi. Keywords: Kecemasan, depresi, stroke  ABSTRACT Post-stroke patients may experience a variety of residual symptoms that require long-term treatment. These conditions can be a source of stress for patients post-stroke. Stress and depression can be aggravate the condition of the patient. There is many factors can affect anxiety and depression in patients so they can differ in different places. Therefore, this study was conducted to assess anxiety and depression in  post-stroke patients at Hasan Sadikin Hospital so that it can be used as a basic data of nursing intervention and implementation to match the conditions that exist there. This research was a descriptive study of post-stroke patients who control at the neurological polyclinic of Hasan Sadikin Hospital Bandung. The sample technique used consecutive sampling with a sample size of 50 people. The instrument used in this study was Hospital Anxiety Depression Scale (HADS). HADS is an instrument for assessing anxiety and depression at the same time in patients at the hospital. The collected data were analyzed by using frequency distribution. The results of this study showed that 74% of post-stroke patients were in normal anxiety states, 24% had borderline abnormal, 2% abnormal. There were 8% of respondens who had borderline abnormal,  92% were in the normal category and none of them had abnormal. The results of this study can be influenced by the characteristics of most respondents who are at middle age mature, married and do not have comorbidities so that his anxiety is low and his coping skills are good. Most of post-stroke patients had normal level of anxiety and depression, only some who experienced mild and severe level of anxiety and depression. Health workers, especially nurses are expected to early assess and provide intervention to anxiety and depression as early as possible by providing counseling as an additional program in rehabilitation.
KEBUTUHAN SPIRITUAL KELUARGA DENGAN ANAK PENDERITA PENYAKIT KRONIS Sujana, Elva; Fatimah, Sari; Hidayati, Nur Oktavia
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7480

Abstract

ABSTRAKKeluarga dengan anak penderita penyakit kronis membutuhkan dukungan baik secara moril maupun spiritual. Dukungan akan kebutuhan spiritual tidak jarang dianggap hal yang kurang penting. Keluarga melaporkan belum terpenuhinya kebutuhan spiritual selama menunggu anak di rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kebutuhan spiritual manakah yang paling dibutuhkan keluarga dengan anak penderita penyakit kronis di ruang rawat inap anak RS Al Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Jumlah sampel 39 responden dengan teknik purposive sampling dengan kuesioner yang kembangkan dari konsep kebutuhan spiritual keluarga menurut Ruth A. Tanyi dengan nilai uji validitas 0,33-1 dan nilai reliabilitas 0,93. Analisis menggunakan analisis statistic deskriptif yang menghasilkan distribusi frekuensi serta persentase masing-masing dimensi kebutuhan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dimensi dengan kebutuhan tertinggi adalah kebutuhan terhadap keyakinan (57,4%), diikuti oleh kebutuhan terhadap kekuatan (57,1%), kebutuhan terhadap family’s preference (52,3%), kebutuhan terhadap spiritual anggota keluarga (41%), kebutuhan terhadap makna dan tujuan (39%), dan kebutuhan terhadap hubungan (37,8%). Penelitian ini menunjukan bahwa dimensi kebutuhan terhadap keyakinan merupakan dimensi kebutuhan spiritual keluarga yang dirasa paling utama oleh responden. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar perawat dapat meningkatkan pelayanan tentang asuhan keperawatan spiritual dengan pengembangan protap dengan memasukan enam dimensi ke dalam protab yang ada, disediakan ruang tunggu yang tenang untuk keluarga dalam beribadah, adanya konseling antara perawat dan keluarga, dan menyediakan bacaan-bacaan tentang kebutuhan spiritual keluarga. ABSTRACTFamilies with children with chronic illness need support both morally and spiritually. Support for spiritual needs is not uncommonly perceived as less important. The family reported not having fulfilled the spiritual needs while waiting for the child in the hospital. The aim of this research is to know the description of spiritual needs which is most needed family with children suffering from chronic illness in the inpatient room of RS Al Islam Hospital Bandung. This research used quantitative descriptive. Total sample 39 respondents with purposive sampling technique with a questionnaire developed from the concept of spiritual family needs according to Ruth A. Tanyi with validity test value 0,33-1 and reliability value 0,93. The analysis used descriptive statistic analysis which produces frequency distribution and percentage of each need dimension. The results of this study indicate that the dimension with the highest need is the need for confidence (57.4%), followed by the need for strength (57.1%), the need for family's preference (52.3%), the need for spiritual family members (41 %), Need for meaning and purpose (39%), and need for relationship (37.8%). This study showed that the dimension of need to belief is a dimension of the spiritual needs of families that are considered most important by the respondents. Based on the results of this study it is suggested that nurses can improve the service of spiritual nursing care with the development of protap by including six dimensions into the existing protab, provided a quiet waiting room for families in worship, counseling between nurses and families, and provide readings about The spiritual needs of the family. 
INTEGRATION COORDINATED SCHOOL HEALTH MODEL (CSH) AND FAMILY CENTERED NURSING (FCN) TO REDUCE AND PREVENT CHILDHOOD OBESITY Darmawati, Irma
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4747

Abstract

ABSTRAK Literatur review ini membahas integrasi beberapa model yang dapat digunakan untuk mengelola masalah obesitas pada anak usia sekolah. Obesitas bukan hanya masalah bagi kalangan dewasa, namun sekarang sudah menjadi masalah serius pada kalangan anak usia sekolah. Setiap tahun selalu terjadi peningkatan prevalensi yang dapat memicu masalah serius lainnya seperti diabetes dan hipertensi. Tulisan ini memberikan beberapa solusi dengan mengkombinasikan model  coordinated school health dan model family centered nursing. Berdasarkan hasil temuan, diketahui bahwa baiknya program kesehatan di sekolah dapat meningkatkan motivasi siswa dalam berperilaku sehat. Model Coordinated school health menawarkan konsep promosi kesehatan yang berfokus pada pembangunan kesehatan dan perubahan perilaku. Jika model ini digabungkan dengan model family centered in nursing yang diterapkan di rumah anak, maka diharapkan dapat menjadi sebuah konsep yang lengkap dan dapat meningkatkan motivasi anak untuk merubah perilaku kesehatannya. Literatur review ini mendiskusikan penjabaran gabungan kedua model tersebut dalam sebuah program yang dinamakan ABCD sebagai alternatif solusi mengelola masalah obesitas pada anak usia sekolah. Pada bagian akhir, tulisan ini menawarkan rekomendasi bagi puskesmas untuk menerapkannya dalam program UKS di Indonesia. Keywords: Anak Usia Sekolah, Model Coordinated school health, Obesitas, Sekolah ABSTRACT This paper literature reviewing about integration model which can use in manage children with obesity problem. Obesity not just a problem for an adult, now this is a serious problem in school age children too. Every year the prevalence always increasing, this can be trigger for another serious problem such as diabetes and hypertention. This paper suggest some solution with combine coordinated school health model and family centered nursing. Based on findings the good program in school will increasing student motivation in health behaviour. Coordinated school health model offering intervention for children based on the principle of promotion that sees improvements in health development and changing in health behaviour. If this model combine with the family centered in nursing in their home, it will be completed and it must be can increasing student motivation to change their behaviour. This literature review also discuss about the ABCD programe as alternative for obesity children in elementary school. The final section of this paper offers recommendations for possible way forward for the puskesmas in implementing UKS program in Indonesia. Keywords: Coordinated school health , Obesity children , School, School age children  
Pengetahuan dan Sikap Perawat dalam Memenuhi Kebutuhan Psikologis dan Spiritual Klien Terminal Kiran, Yuke; Dewi, Umi Sri Puspita
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9425

Abstract

ABSTRAK Pengetahuan dan sikap perawat dalam memenuhi kebutuhan psikologis dan spiritual klien terminal penting dikuasai oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Kebutuhan klien pada stadium lanjut suatu penyakit, tidak hanya memerlukan perawatan secara fisik saja, tetapi memerlukan juga dukungan tentang kebutuhan psikologis dan spiritual. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap perawat dalam memenuhi kebutuhan psikologis dan spiritual pada klien terminal. Metode penelitian  yang digunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan  cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana di Ruang III, Ruang X, Ruang XIII, dan ICU Rumah Sakit Tingkat II Dustira dengan sampel berjumlah 70 perawat. Teknik yang digunakan adalah total sampling.Terdapat dua variable yaitu pengetahuan dan sikap perawat. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil uji validitas dan reliabilitas didapatkan 34 item valid. Analisis data dibagi menjadi dua tahapan, yaitu 1)univariat untuk melihat distribusi frekuensi; dan 2) bivariat untuk melihat hubungan. Hasil penelitian didapatkan bahwa hampir setengah responden (42,9 %) berpengetahuan baik, hampir setengah responden (41,4 %) berpengetahuan cukup, dan sebagian kecil responden (15,7 %) berpengetahuan kurang. Sebagian besar responden (61,4 %) memiliki sikap  yang mendukung dan hampir setengahnya responden (38,6 %) memiliki sikap  yang tidak mendukung. Hasil chi-square test diperoleh  p- value 0,798 α 0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap perawat dalam memenuhi kebutuhan psikologis dan spiritual. Bagi perawat diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal kepada klien dengan penyakit terminal terutama dalam hal psikologis dan spiritual dengan cara melibatkan keluarga. Untuk meningkatkan pengetahuan, perawat bisa mengikuti in service training atau seminar minimal sebanyak 3 kali.  ABSTRACT Knowledge and attitudes of nurses to meet the psychological and spiritual needs of the client important terminal controlled by nurses in providing nursing care. The client needs at an advanced stage of disease, treatment requires not only physically alone, but requires also the support of the needs psychological and spiritual. The aim of this study was to determine the relationship between knowledge and attitude of nurses to meet the psychological and spiritual needs of the clients of the research terminal. This study uses descriptive correlation with a cross-sectional approach in this study are all nurses in Space III, Space X, XIII space, and ICU Hospital Level II Dustira with the sample amounted to 70 nurses.Tehnik used is total sampling.Terdapat two variables, namely knowledge and the attitude of nurses. Methods of data collection using the questionnaire. Validity and reliability of test results obtained 34 valid items. Analysis of the data is divided into two stages, namely to see the univariate and bivariate frequency distribution to see the connection. The research found that nearly half of respondents (42.9%) knowledgeable good, almost half of respondents (41.4%) knowledgeable enough, and a small proportion of respondents (15.7%) less knowledgeable. Most respondents (61.4%) have a supportive attitude and almost half of the respondents (38.6%) had the attitude that does not support. Chi-square result test was obtained p-value 0.798 α 0.05, which means there is no correlation between knowledge and attitude of nurses in psychological and spiritual needs. For nurses is expected to provide optimum nursing care to clients with terminal illnesses, especially in terms of psychological and spiritual in a way involving family. To improve knowledge, nurses can follow in-service training or seminar training at least 3 times.  
Perbandingan Hematoma Pasca Kateterisasi Jantung Berdasarkan Penekanan Bantal Pasir dan Cold Pack Sari, Eka Afrima; Arifin, M Z; Fatimah, Sari
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9414

Abstract

ABSTRAK Kateterisasi jantung merupakan prosedur untuk mendiagnosis dan/atau mengevaluasi arteri koroner. Pada akhir prosedur, dilakukan pelepasan femoral sheath dan penekanan manual maupun mekanik pada arteri femoralis untuk mengontrol perdarahan hingga tercapai hemostasis. Teknik penekanan yang tidak adekuat pada sisi akses arteri setelah kateterisasi jantung merupakan salah satu penyebab terjadinya hematoma. Ditemukan kejadian hematoma pada pasien pasca kateterisasi jantung yang timbul beberapa waktu setelah penekanan mekanik bantal pasir. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ukuran hematoma dalam waktu 24 jam pasca kateterisasi jantung berdasarkan penekanan mekanik bantal pasir dan cold pack.  Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan pendekatan after-only non-equivalent control group design. Subjek penelitian adalah 20 orang pasien pasca kateterisasi jantung yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dengan penekanan mekanik cold pack selama 20 menit setelah pelepasan femoral sheath dan kelompok kontrol dengan penekanan mekanik bantal pasir 2,5 Kg selama 6 jam setelah pelepasan femoral sheath. Kejadian hematoma dilihat setelah penekanan manual, penekanan mekanik, dan setiap jam selama 24 jam. Perbedaan kejadian hematoma dilihat dengan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna ukuran hematoma setelah penekanan manual, penekanan mekanik dan setiap jam dalam waktu 24 jam pada pasien pasca kateterisasi jantung yang menggunakan bantal pasir maupun cold pack (ρ 0,05). Pada kelompok eksperimen ukuran hematoma mengecil di akhir jam ke-24 dan pada kelompok kontrol ukuran hematoma membesar di akhir jam ke-24. Penggunaan penekanan mekanik cold pack dapat mengurangi risiko hematoma sebagaimana bantal pasir, sehingga cold pack dapat digunakan sebagai pilihan alat tekan mekanik pada pasien pasca kateterisasi jantung.  ABSTRACT Cardiac catheterization is a procedure to diagnose and/or  evaluate coronary arteries. At the end of procedure, performed manual and mechanical compression on the femoral artery to control bleeding until homeostasis is achieved. Inadequate compression techniques on the arterial access after cardiac catheterization is one of the causes of hematoma. Found in hematoma incidence in patients after cardiac cathetherization that arise  after mechanical compression using sandbags. The purpose of this study was to compare the size of the hematoma within 24 hours after cardiac catheterization using sandbags and cold pack mechanical compression. The study design was a comparative study with after-only non-equivalent control group design. Research subjects included of 20 after cardiac catheterization patients were divided into an experimental group with cold pack mechanical compression for 20 minutes after femoral sheath release and control group with sandbags mechanical compression for 6 hours after femoral sheath release. Incidence of hematoma was observed after manual compression, mechanical compression, and every hour for 24 hours. Mann-Whitney test was used to see the difference the incidence of hematoma of both of groups. The results showed no significant difference in the size of the hematoma after manual compression, mechanical compression, and every hour within 24 hours after cardiac catheterization in both of groups (ρ 0.05). But the size of the hematoma in the end of observation time was smaller in experiment group, and bigger in the control group. The use ofcold pack mechanical compressions could reduce the risk of hematoma as well as sandbags. Thus, cold pack could be used as an alternative mechanical compression tool in patients with post cardiac catheterization. 
PENGARUH FAKTOR DEMOGRAFI TERHADAP QUALITY OF NURSING WORK LIFE (QNWL) PERAWAT RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH BANDUNG Puspita, Asih Purwandari W; Susilaningsih, F Sri; Somantri, Irman
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7475

Abstract

Perawat sebagai SDM dengan jumlah terbanyak di rumah sakit,mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan dan kualitas rumah sakit. Untuk bisa mencapai tujuan rumah sakit memerlukan perawat yang memiliki komitmen organisasi dan kinerja yang baik, Quality of Nursing Work Life (QNWL) adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi komitmen dan kinerja perawat. Permasalahan perawat di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung (RSMB) terindikasi memiliki Quality of Nursing Work Life (QNWL) kurang baik yang berdampak pada kurang baiknya komitmen dan kinerja perawat. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut terkait QNWL perawat RSMB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran QNWL perawat RSMB, mengetahui gambaran demografi beserta pengaruhnya terhadap QNWL perawat RSMB Penelitian deskriptif cross- sectional survey ini, melibatkan 94 perawat yang diambil dengan cara kuantitatif. Data dikumpulkan dengan kuesioner, dan dianalisis menggunakan uji non-parametrik Mann Whitney. Penelitian ini dilakukan pada akhir bulan Januari 2017 di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. ‘Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perawat di RSMB memiliki nilai QNWL secara keseluruhan dan dimensi-dimensi QNWL yang berada dalam kategori baik. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tiga faktor demografi berpengaruh signifikan terhadap QNWL perawat, yaitu: faktor jenis kelamin (p=0.04), umur (p=0.006) dan lama bekerja sebagai perawat (p=0.009). Sedangkan, dari segi status pernikahan (p=0.71), tingkat pendidikan (p=0.71) dan lama bekerja sebagai perawat di RSMB (p=0.173) tidak berpengaruh signifikan. Implikasi penelitian ini adalah perlu adanya upaya perbaikan komponenkomponen dan faktor-faktor QNWL yang masih bermasalah. Kunci utama terletak pada upaya penerapan sistem penilaian kinerja perawat yang dihubungkan dengan jenjang karir perawat dan sistem penggajian perawat. ABSTRACTNurses as the highest number of human resources in hospital have an important role in achieving the goals and qualities of hospital. In order to achieve the goals, hospitals require nurses who are committed to the organization and have a good performance. Quality of Nursing Work Life (QNWL) is one of the important factors which affect the nurses’ organizations’ commitment and performance. The problem of nurses at Muhammadiyah Hospital Bandung (RSMB) can be identified from the low number of nurses’ QNWL which affect the nurses’ commitment and performance. Therefore, further researches related to QNWL in RSMB nurses are needed. This study aimed to investigate the nurses’QNWL in RSMB, discover demographic factors and its influence on nurses’ QNWL in RSMB. This descriptive cross-sectional survey was conducted on 94 nurses taken by a quantitative manner. The Data were collected through questionnaire and analyzed using non-parametric test of Mann Whitney. This research was conducted at the end of January 2017 at Muhammadiyah Hospital Bandung.The results of this research showed that nurses at Muhammadiyah Hospital Bandung overall have a good level of Quality of Nursing Work Life (QNWL) in each dimensions. The results also showed that three demographic factors significantly influence QNWL of nurses, which are gender (p = 0:04), age (p = 0.006) and length of work as a nurse (p = 0.009). Meanwhile, there is no significant relationship in terms of marital status (p= 0.71), educational level (p= 0.71) and length of work as nurses in RSMB (p=0.173). The implication of this research is the need to improve the problematic components dan factors of QNWL. The main key lies in promoting the evaluation performance system linked to the nurses’ career development opportunities and nurses’ salary.
Gambaran Tingkat Stres Pada Anak Usia Sekolah Menghadapi Menstruasi Pertama (Menarche) di SDN Gegerkalong Girang 2 Kholifah, Ai
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 2 (2015): Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v1i2.9751

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010, kejadian menstruasi pertama (menarche) di Indonesia usia 13-14 tahun (37,5%) rata-rata usia menarche di perkotaan 11-12 tahun (30.3%) dan usia menarche dipedesaan 15-16 tahun (32.2%). Tujuan dari Penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran tingkat stres pada anak usia sekolah menghadapi menstruasi pertama (menarche) di Sekolah Dasar Negeri Gegerkalong Girang 2. Adapun jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriftif kuntitatif, lokasi penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Gegerkalong Girang 2 dan dilaksanakan pada bulan Mei 2013. Sampelnya adalah siswa perempuan dari kelas VI A sampai kelas VI C dengan jumlah total sampel 50 responden. Teknik penelitian menggunakan total sample dan menggunakan analisis univariat dengan menggunakan instrument kuisioner yang sudah diuji validitas, reabilitas dan diadopsi dari DASS 42. Hasil tingkat stres yang belum menstruasi dari 35 responden paling banyak pada kategori ringan 19 siswi (54.3%). Tingkat stres yang sudah menstruasi dari 15 responden, banyak pada kategori normal 10 siswi (66.6%) untuk tingkat stress yang belum dan sudah menstruasi berat dan sangat berat tidak ada di responden. Dari hasi penelitian dapat disimpulkan bahwa memiliki perbedaan antara tingkat stres yang belum dan sudah menstruasi, khususnya saat menghadapi menstruasi pertama (menarche)  ABSTRACTBased on the data of Basic Health Research (RISKESDAS) in 2010, the incidence of menarche in Indonesia aged 13-14 years (37.5%) the average age of menarche in urban 11-12 years (30.3%) and menarche age in rural area 15 -16 years (32.2%). The purpose of this research is to know the description of stress level in school age children facing menarche first at State Elementary School of Gegerkalong Girang 2. The type of research used is descriptive research kuntitatif, the location of research conducted at State Elementary School Gegerkalong Girang 2 and implemented in May 2013. The sample is female students from grade A to grade VI C with total sample 50 respondents. The research technique used total sample and used univariate analysis by using questionnaire instrument that has been tested the validity, reliability and adopted from DASS 42. The result of stress level that has not menstruation from 35 respondents at most in light category 19 students (54.3%). Stress level of menstruation from 15 respondents, many in the normal category of 10 students (66.6%) for stress levels that have not been heavy and severe menstruation and very heavy not in the respondents. From the results of the study can be concluded that have differences between stress levels that have not been and already menstruating, especially when facing the first menstruation (menarche)
TINGKAT ODOR PASIEN KANKER SERVIKS MENURUT PETUGAS KESEHATAN DI RSHS BANDUNG Mardiah, Wiwi; Iskawati, Melda; Sutini, Titin
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4743

Abstract

ABSTRAK Karakteristik luka kanker serviks adalah nyeri, odor, pendarahan, eksudat yang banyak, gatal, dan infeksi pada luka. Bau atau odor terjadi ketika luka sudah mengalami nekrotik akibat hilangnya vaskularisasi atau terjadi infeksi oleh mikroorganisme. Odor merupakan hal yang mengganggu petugas kesehatan saat merawat luka kanker serviks. Odor yang ditimbulkan bisa sampai tidak sadarkan diri pada petugas kesehatan, sehingga perlu dilakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran tingkat odor menurut petugas kesehatan saat merawat luka kanker serviks. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara sampling jenuh dengan sampel sebanyak 41 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa odor scale dari Sucker dengan rentang 0-6 yang akan dipersepsikan oleh petugas kesehatan yakni perawat dan bidan. Analisis dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden memilih skala odor 4 bau kuat (51,22 %), hampir setengah respoden memilih skala odor 5 bau sangat kuat (29,27 %), sebagian kecil memilih skala odor 3 bau sedang (17,07 %), dan sebagian kecil memilih skala odor 2 bau lemah (2,44 %), dan tidak ada satupun responden yang memilih skala odor sangat lemah dan sangat-sangat kuat. Tingkat odor menurut petugas kesehatan sebagian besar pada skala 4 yaitu bau kuat. Berdasarkan hasil penelitian berbagai variasi tingkat odor pada pasien kanker serviks karena adanya nekrosik pada area genitalia ekternal maupun interna yang berbeda beda. Petugas kesehatan dapat melakukan manajemen odor dengan membersihkan area yang terkena nekrosis pada luka kanker dan pengelolaan lingkungan di sekitar pasien. Kata kunci : Bau, Luka kanker serviks, Odor  ABSTRACT The characteristics of the cervical cancer injuries are pain, odor, bleeding, many exudates, itching, and infection in the wound. Smell or odor occurs when the wound had been necrotic due to loss of vascularization or infection by microorganisms. The presence of malodor can disturb health professionals when they are caring for patients with cervical cancer wounds. This situation may cause discomfort leads to unconsciousness among those practitioners. This study aimed to describe the odor level based on health practitioners’ perspectives when they treated cervical cancer wounds. This research used descriptive quantitative research methods. Sampling was conducted using total sample that recruited 41 respondents. The instrument used an odor scale from Sucker (2007) which ranged from 0-6 as perceived by health workers that nurses and midwives. Data was analysed using a single descriptive statistics with frequency distribution. Findings demonsrated that more than half respondents have chosen scale 4 with strong odor (51.22%). Half of them chose scale 5 with very strong odor (29.27%), a fraction opt scale 3 with distinct odor (17.07%), and a small pick scale 2 with weak odor (2.44%), and none of the respondents who chose a very weak odor scale and extremely odor. The odor level was largely classified on scale 4 with strong odor. Based on the results of odor level was variation in cervical cancer patients for their necrotic the external genitalia or internal area that was different. Suggestions of research is health workers can do the management of odor by cleaning the wound area affected by cancer and manage the environment around the patient. Keyword:  Cervical cancer wounds, Odor Smell

Page 5 of 16 | Total Record : 158