cover
Contact Name
Suci tuty putri
Contact Email
Suci.putri@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
Suci.putri@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA
ISSN : 25410024     EISSN : 24773743     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia(JPKI) merupakan sarana pengembangan dan publikasi karya ilmiah bagi para peneliti, dosen dan praktisi keperawatan dan kesehatan. JPKI adalah jurnal cetak dan elektronik dengan sistem open access journal. JPKI menerbitkan artikel-artikel dalam lingkup keperawatan dan kesehatan secara luas namun terbatas terutama bidang pendidikan keperawatan. Artikel harus merupakan hasil penelitian, studi kasus, hasil studi literatur, konsep keilmuan, pengetahuan dan teknologi yang inovatif dan terbaharu dalam lingkup ilmu keperawatan baik dalam skala nasional dan internasional. Artikel akan ditelaah secara peer review oleh mitra bestari dari berbagai institusi.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
HUBUNGAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN ADVERSITY QUOTIENT WARGA BINAAN REMAJA DI LPKA KELAS II SUKAMISKIN BANDUNG Putra, M. Randi Gentamandika; Hidayati, Nur Oktavia; Nurhidayah, Ikeu
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 1 (2016): Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i1.2853

Abstract

ABSTRAKWarga binaan remaja memiliki hambatan dan tentangan yang lebih besar dibandingkan dengan remaja normal lainnya. Mereka lebih beresiko mengalami gangguan psikologis selama di LPKA, oleh karena itu Adversity Quotient menjadi salah satu aspek yang penting dimiliki warga binaan remaja dalam menghadapi hambatan tersebut. AQ dipengaruhi oleh daya saing, produktivitas, kreativitas, motivasi, dan belajar. Motivasi merupakan aspek yang masih jarang diberikan kepada warga binaan remaja, sehingga penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan motivasi berprestasi dengan adversity quotient pada warga binaan remaja di LPKA kelas II Sukamiskin Bandung.Rancangan peneliti an ini menggunakan metode deskriptif korelatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 84 orang. Instrumen yang digunakan adalah Adversity response profile (ARP) quick take untuk mengukur adversity quotient dan instrumen motivasi berprestasi dengan rentang nilai validitas 0,316-0,751 dan nilai reabilitas 0,926 untuk mengukur motivasi berprestasi. Data dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi untuk analisis univariat dan uji spearmen-rank  untuk analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa 47 responden mempunyai motivasi berprestasi yang rendah ( 56% ) serta 52 (61,9%) responden  mempunyai adversity quotient yang sedang. Analisis korelasi Spearmen – rank  menunjukan bahwa adanya hubungan antara motivasi berprestasi dengan adversity quotient dengan nilai r = 0,724 dan p value = 0,00.Simpulan dari penelitian ini terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dengan adversity quotient yang bersifat positif dengan tingkat keterikatan yang kuat dan signifikan.Pendekatan keperawatan melalui model ARCS serta dikolaborasikan dengan terapi kognitif merupakan intervensi keperawatan yang bisa digunakan dalam membantu meningkatkan motivasi berprestasi dan adversity quotient pada warga binaan remaja. Kata kunci       : adversity quotient, motivasi berprestasi, warga binaan remaja ABSTRACTJuvenile inmates have obstacles and challenges are greater than normal teenager, they are more at risk of psychological disorders during in LPKA. Adversity quotient is important aspect for juvenile inmates in period of custody. AQ affected by competitiveness, productivity, creativity, motivation, and learning process. Motivation is one of the aspects that still not adequately given to the adolescent in period of custody yet, so that the aim of this study is to see the relationship between achievement motivation and adversity quotient among juvenile inmates at  LPKA class II Sukamiskin Bandung. The method that used in this study is descriptive correlative with total sampling technique and total respondent are 84 adolescent. This study used Adversity Response Profile (ARP) quick take to measure adversity quotient and achievement motivation instrument as the instrument with the range of validity between 0,316 – 0,751 and reliability value 0,926 to measure achievement motivation. Data were analyzed by frequency distribution to analyze univariate and spearman-rank test to analyze bivariate. Result of this study showed that 47 (56%)  respondents have low achievement motivation and 42 (61,9%) respondents have moderate adversity quotien Spearmen-rank analysis showed that the relationship between achievement motivation and adversity quotient with r value = 0.724 and p value = 0.00.This study conclude that there is relation between achievement motivation and adversity quotient positively with strong and significant bond. Nursing approach by using ARCS model collaborated with cognitive therapy can be used as nursing intervention to increase achievement motivation and adversity quotient in adolescent in period of custody. Keyword : adversity quotient, achievement motivation, juvenile inmates
TINGKAT KEMANDIRIAN LANSIA DALAM ACTIVITIES DAILY LIVINGDI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA SENJA RAWI Rohaedi, Slamet; Putri, Suci Tuty; Kharimah, Aniq Dini
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 1 (2016): Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i1.2848

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya usia harapan hidup penduduk dapat menyebabkan peningkatan jumlah lansia dari tahun ketahun. Peningkatan jumlah lansia akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti meningkatnya penyakit degeneratif dan kanker yang menyebabkan penurunan produktifitas lansia. Penurunan produktifitas pada lansia terjadi karena penurunan fungsi, sehingga dapat menyebabkan lansia mengalami penurunan kemandirian dalam melaksanakan kegiatan harian.Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran tingkat kemandirian dalam memenuhi activities daily living.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 21 lansia yang berusia 60 – 69 tahun di Panti Sosial Tresna Wredha Senjarawi. Instrumen menggunakan barthel index.Teknik analisa data menggunakan distribusi frekuensi.Hasil penelitian gambaran tingkat kemandirian lansia (60 – 69 tahun) dalam memenuhi activities daily living menunjukan bahwa sebagian besar lansia sebanyak 15 orang (72%) termasuk dalam ketergantungan sebagian, 3 orang (14 %) termasuk mandiri dan3 orang (14%) termasuk dalam ketergantungan total. Bahwa sebagian besar lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Senjarawi memiliki ketergantungan sebagian dalam menjalani aktifitas kehidupannya.Diharapkan dapat dikembangkan program – program kesehatan bagi lansia yang dapat meningkatkan kemandirian lansia. Kata Kunci : kemandirian, lansia activities daily living  ABSTRACTThe increase in people’s life expectancy may result to the rise in elderly people population from year to year. The rise number in elderly people will lead to various health problems such as the increase of degenerative diseases and cancer that affect the decline in elderly people’s productivity. The decrease in elderly people’s productivity is caused by the reduction in function so that it will lead to the decrease in elderly people’s independence level in following daily activities. The purpose of this research is to identify elderly people’s independence level in fulfilling activities of daily living. The current research employed descriptive quantitative, which also applied total sampling as the technique to collect data. The samples were 21 elderly people (aged 60 – 69 years old) in Senjarawi Social Residential. Barthel index was utilized as the research instrument, while frequency distribution was also employed to analyze the research data. The research result on elderly people’s independence level (aged 60–69 years old) in fulfilling activities daily living revealed that most of elderly people, 15 persons (72%), were considered to be partially dependent, 3 persons (14 %) were categorized as independent, while the other 3 persons (14%) were considered as fully dependent. Based on the findings. That most of elderly people in Senjarawi Social Residential are considered as partially dependent. Suggests that healthcare programs for elderly people should be developed in order to improve elderly people’s independence. Keywords: independence, elderly people activities daily living
PENERAPAN EDUKASI TERSTRUKTUR MENINGKATKAN SELF EFFICACY DAN MENURUNKAN IDWG PASIEN HEMODIALISA DI RSUD INDRAMAYU Wayunah, Wayunah; Saefulloh, Muhammad; Nuraeni, Wiwin
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 1 (2016): Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i1.2941

Abstract

ABSTRAK Jumlah kasus chronic kidney disease yang harus menjalani terapi hemodialisa sejumlah 400 pasien dari 1.000.000 penduduk di Indonesia (Situmorang, 2013). Pemantauan keberhasilan hemodialisa diukur dari Inter Dialilytic Weight Gain (IDWG) yang tidak lebih dari 4 % berat kering. Nilai IDWG yang melebihi dari normal menimbulkan gejala edema, sesak nafas, dan rasa tidak nyaman. Salah satu kepatuhan pasien dalam mempertahankan IDWG adalah self efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh edukasi terstruktur terhadap self efficacy dan IDWG pada pasien hemodialisa. Desain penelitian quasi experimen, dengan pendekatan pretest-posttest with control group. Pemilihan sampel menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel 38 pasien hemodialisa dibagi dua kelompok 22 kelompok intervensi dan 16 kelompok kontrol. Edukasi diberikan dengan gambar dan video dalam media LCD proyektor dan leaflet. IDWG diukur dengan observasi berat badan sedangkan self efficacy menggunakan kuesioner. Uji statistik menggunakan uji t-dependen dan t-independen. Hasil penelitian menunjukkan pemberian edukasi terstruktur pada kelompok intervensi meningkatkan self efficaccy untuk mengontrol intake cairan antar waktu dialysis (p=0,000, α=0,05), dan menurunkan IDWG (p=0,04, α=0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol penerapan edukasi meningkatkan self efficacy (p=0,03, α=0,05), namun tidak menurnkan IDWG (p=0,053, α=0,05). Hasil analisis lanjut menggunakan uji t-independen pada kedua kelompok ditemukan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam self efficacy dan IDWG (p 0,05). Edukasi terstruktur berpengaruh dalam meningkatkan self efficacy dan menurunkan IDWG. Kata kunci : self efficacy, IDWG, edukasi terstruktur ABSTRACT The number of chronic kidney disease with hemodialysis therapy was 400 patients of 1,000,000 population in Indonesia (Situmorang, 2013). The success hemodialysis was monitored by Inter Dialilytic Weight Gain (IDWG) and the criteria was not more than 4 % of dry weight. An excess of IDWG value would cause the symptoms of edema, shortness of breath, and discomfort. Self efficacy was one of patient compliance in maintaining IDWG. The aim of this study was to analyze the effect of a structured education on self-efficacy and IDWG in hemodialysis patients. The study used quasi experimental design, with pretest-posttest control group approach. The sample was selected by purposive sampling technique. The sample was 38 patients, divided into intervention group (22 patients) and control group (16 patients). The intervention of structured education was use pictures and videos by LCD projector and leaflets. IDWG was measured by weight observation, while self-efficacy by questionnaire. The statistical test used t-dependent and t-independent. The result showed that structured education increased self efficaccy to control fluid intake on inter dialysis time (p = 0.000, α = 0.05) and decreased IDWG value (p = 0.04, α = 0.05) in the intervention group. While the intervention increased self efficaccy to control fluid intake on inter dialysis  time (p = 0.03, α = 0.05) and decreased IDWG value (p=0,053, α=0,05) in the control group. The results of further analysis used an independent t-test, showed that there were not a significant differences in self-efficacy and IDWG (p 0.05) between intervention and control group. The structured education caused an increasing of self-efficacy and a decreasing of IDWG value. Keyword : self efficacy, IDWG, structured education
GAMBARAN STIGMA MASYARAKAT TERHADAP KLIEN GANGGUAN JIWA DI RW 09 DESA CILELES SUMEDANG Purnama, Gilang; Yani, Desy Indra; Sutini, Titin
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 1 (2016): Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i1.2850

Abstract

ABSTRAKStigma merupakan label negatif yang melekat pada tubuh seseorang yang diberikan oleh masyarakat dan dipengaruhi oleh lingkungan. Stigma salah satu faktor penghambat dalam penyembuhan klien gangguan jiwa.Cileles adalah suatu Desa dengan jumlah klien gangguan jiwa yang meningkat setiap tahunnya.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran stigma masyarakat terhadap klien gangguan jiwa di RW 09 Desa Cileles.Desain penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian 253 Kepala Keluarga dan Sampel 155 responden dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuisoner Community Attitudes toward the Mentally Ill dan instrumentnya valid dan reliabel.Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi dan skor median.Stigma terdiri dari 4 domain, masing-masing domain skornya 10 – 50. Hasil penelitian menunjukan domain otoriterisme mediannya 34 dengan IQR2, selanjutnya adalah komponen berdasarkan domain kebajikan dengan nilai skor 33 dengan IQR 2, kemudian domain ideologi komunitas kesehatan mental dengan skor 33 dengan IQR 4 dan yang paling rendah domain pembatasan sosial dengan nilai 27 dengan IQR 7. Hal tersebut dapat berarti bahwa lebih banyak responden yang menganggap bahwa klien gangguan jiwa harus diperlakukan dengan kasar.Penelitian ini bisa disimpulkan bahwa domain otoriterisme adalah domain stigma yang paling tinggi dan pembatasan sosial adalah domain yang paling rendah. Hasil penelitian ini perlu di tindak lanjuti dengan memberikan intervensi yang tepat sesuai dengan domain-domain yang ada Kata kunci : Gangguan Jiwa, Masyarakat, Stigma.  ABSTRACTStigma is a negative label attached to the body of someone who is paid by the public and influenced by the environment. Stigma one of the inhibiting factor in the healing of clients with mental disorders. Cileles is a village with a number of clients with mental disorders is increasing every year.  This research aims to describe the stigma against mental illness clients in RW 09 Cileles.This research used descriptive quantitative design. Population consisted of 253 heads of household and involved 155 respondents were taken with stratified random sampling. This research used Community Attitudes toward the Mentally Ill Questionnaire and the instrument was valid and reliable. Data Analyzed with descriptive analysis and used median score.Stigma is composed of four domains, each domain likelihood score is 10-50. Research results from obtained that the median score on the domain of authoritarianism is 34 with IQR 2, next is a component based on the domain of virtue with a score of 33 with IQR 2, then based on the ideological aspect mental health community with a score of 33 with IQR 4 and the lowest is based on aspects of social restrictions with value 27 with IQR 7. This result indicated that majority of respondent considered that patient with mental ill should be treated rudely.To concluded, authoritarianism domain is the highest domain stigma and social restrictions are the domain of the lowest. The results of this study need to be followed up with appropriate interventions in accordance with existing domains. Keyword : Mental Illness, Society, Stigma 
GAMBARAN KEJADIAN POSTPARTUM BLUES PADA IBU NIFAS BERDASARKAN KARAKTERISTIK DI RUMAH SAKIT UMUM TINGKAT IV SARININGSIH KOTA BANDUNG Fitriana, Lisna Anisa; Nurbaeti, Siti
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 1 (2015): Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v1i1.2479

Abstract

ABSTRAKPostpartum blues merupakan fenomena yang terjadi pada hari-hari pertama postpartum. Puncak gejala postpartum blues terjadi pada hari ke-3 sampai ke-5 postpartum dengan durasi mulai dari beberapa jam sampai beberapa hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Gambaran Kejadian Postpartum Blues Pada Ibu Nifas Berdasarkan Karakteristik di Rumah Sakit Umum TK IV  Sariningsih Kota Bandung. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive consecutive Sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 40 responden. Intrumen penelitian menggunakan instrument baku yaitu instrument EPDS (Edinburg Postnatal Depression Scale) dengan jumlah soal 10 pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya mengalami postpartum blues ringan (42,5%) dan hampir setengahnya (35,0%) mengalami postpartum blues berat. Berdasarkan usia hampir setengahnya ringan dan berat (30,0%), berdasarkan pendidikan sebagian kecil ringan (20,0%), berdasarkan jumlah paritas sebagian kecil ringan (25,0%), berdasarkan jenis persalinan hampir setengahnya berat (27,5%), berdasarkan jumlah penghasilan perbulan hampir setengahnya ringan (37,5%), berdasarkan pekerjaan hampir setengahnya ringan (30,0%), berdasarkan status kehamilan sebagian kecil ringan (22,5%) dan berdasarkan dukungan sosial hampir setengahnya ringan (35,0%). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hampir setengahnya ibu nifas di Rumah Sakit Umum TK IV Sariningsih Kota Bandung mengalami postpartum blues ringan dan berat. Adapun rekomendasi dari penelitian ini adalah diadakannya penyuluhan tentang cara mengatasi postpartum blues.Kata Kunci : Kejadian Postpartum Blues, Karakterististik Ibu Nifas
GAMBARAN PELAKSANAAN KEGIATAN KEBERSIHAN TANGAN OLEH PETUGAS KESEHATAN DI RUMAH SAKIT DUSTIRA CIMAHI Ningsih, Shely Silfia Ratna; Noprianty, Richa; Somantri, Irman
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7486

Abstract

ABSTRAKKeselamatan pasien merupakan variabel untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan keperawatan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencegah infeksi rumah sakit dengan menjaga kebersihan tangan dengan teknik enam langkah dan lima momen di rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan kebersihan tangan oleh petugas kesehatan di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam Pria Rumah Sakit Dustira Cimahi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan metode observasional. Sampel penelitian ini berjumlah 288 kali pengamatan kegiatan oleh petugas kesehatan (dokter, perawat dan mahasiswa praktek) yang terbagi pada shift pagi dan shift sore dengan 84 pengamatan, dan shift malam berjumlah 120 kali pengamatan. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi dengan menggunakan work sampling. Hasil menggambarkan bahwa : 1) sebelum kontak dengan pasien sebagian besar hand hygiene tidak dilakukan oleh mahasiswa yaitu sebesar 89,8 % pada shift malam, 2) sebelum tindakan terhadap pasien sebagian besar hand hygiene tidak dilakukan oleh mahasiswa sebanyak 89,8% pada shift malam, 3) sesudah kontak dengan pasien sebagian besar kegiatan hand hygiene dilakukan tidak sempurna oleh dokter sebanyak 75% pada shift sore, 4) sesudah kontak dengan cairan tubuh pasien sebagian besar hand hygiene dilakukan tidak sempurna oleh mahasiswa sebanyak 82,4% pada shift pagi, dan 5) sesudah kontak dengan lingkungan pasien sebagian besar hand hygiene dilakukan tidak sempurna oleh dokter sebanyak 75% pada shift sore. Berdasarkan hasil observasi, ketidak patuhan pelaksanaan kegiatan kebersihan tangan disebabkan karena media yang digunakan kurang memadai seperti campuran air pada sabun yang terlalu banyak, tisu yang jarang tersedia, antiseptik berbasis alkohol murni sehingga menimbulkan bau yang menyengat dan terasa panas ditangan serta lengket. Disarankan bagi pihak rumah sakit untuk memperhatikan kembali sarana dan prasarana untuk menunjang kebersihan tangan dan bagi petugas kesehatan disarankan untuk membaca kembali standar operasional prosedur (SOP) dari setiap tindakan yang akan dilakukan, karena setiap tindakan yang dilakukan ada SOP untuk mencuci tangan. ABSTRACTPatient safety is a variable for measuring and evaluating the quality of nursing services. One of the effort that should be done is to prevent hospital infections with hand hygiene using six-step hand hygiene technique and five moments at the hospitalization rooms. This study aims to describe the implementation of hand hygiene practice by healthcare provider in patient safety activities atmale medical ward on Dustira Cimahi Hospital. The study was a descriptive exploratory with the observational method. The research sample numbering 288 times observation activities from health workers (doctors, nurses, and students college) that divided on the morning shift totaling 84 observation activities, totaling 84 observations afternoon shift and night shift activities amounted to 120 times the observation activities. The instrument of this study using observation tool which contains a table check list on the implementation of hand hygiene by using work sampling.The overall results describe that: 1) not doing hand hygiene activities before making contact with the patient, were 89,8% for college students at the night shift, 2) before taking action at the patient most of the hand hygiene activities were not done 89,8% for college students in night shift, 3) after making contact with the patient, most of the hand hygiene activities were not perfect carried out, 75% for doctors in the afternoon shift, 4) after making contact with patients body fluids most of the hand hygiene activities were not done 82,4% for the college students in the morning shift, and 5) after making contact with the patient's environment most of the hand hygiene activities were not perfect carried out, 75% for doctors in the afternoon shift. Based on the observation, disobedience on implementation of hand hygiene due to insufficient media used liketoo much water in the mixture of water and soap, tissue is rarely available, pure alcohol-based hand rub is causing bad smell, hot at the skin and sticky hands. It is advised for the hospital to pay attention at infrastructure that support hand hygiene, and for health workers is advised to re-read the standard operating procedures (SOP) on any action to be performed, for every action there is SOP towash the hand. 
GRIEF OF CHILDREN AT PRESCHOOL AGE Anina, Heni Nur
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4748

Abstract

ABSTRAK Berkabung adalah respon seseorang terhadap kehilangan. Pada anak-anak, efek dari kehilangan sama dengan pada dewasa, tapi anak-anak mengekspresiakan rasa duka mereka dengan yang cara berbeda dan hal ini sulit difahami oleh orang dewasa. Pemahaman anak-anak pada kematian tergantung pada usia dan tahap perkembangan mereka. Artikel ini membahas tentang berkabung (grief) pada anak usia prasekolah (2-5 tahun) mencakup perbedaan antara ‘normal grief’ dan ‘complicated grief’, gejala dari ‘complicated grief’, dan penatalaksanaan berkabung pada anak usia di kelompok usia ini. Pembahasan mengenai hal ini penting untuk meminimalisir efek dari berkabung. Efek berkabung pada anak di usia ini dapat berlanjut pada tahap perkembangan selanjutnya. Anak-anak yang berkabung dapat mengalami gejala emosi dan perilaku tertentu. Gejala-gejala tersebut dapat bertahan sampai remaja dan dewasa. Metode pencarian literatur secara komprehensif telah dilakukan dengan menggunakan piranti pencarian berbasis elektronik, yaitu: MEDLINE (EBSCO), CINAHL, Joanna Briggs Institute (Ovid), Proquest (Nursing and Allied Health Source), Pubmed, find@flinders, and Google Scholar. Perbedaan antara ‘normal grief’ and ‘complicated grief’ berkaitan dengan intensitas dan durasi berkabung. Penatalaksanaan berkabung pada anak usia prasekolah dapat menggunakan tehnik storytelling, creative arts, musik, dance/movement therapy, bermain, berinteraksi dengan anak menggunakan mainan dan games, melukis, melihat foto-foto, and memorabilia. Konsep ‘kekekalan’ dari kematian sangat sulit difahami oleh anak usia prasekolah. Mereka mungkin berpikir bahwa mendiang akan kembali. Selain itu, walaupun sesama anak usia prasekolah, namun setiap anak adalah unik. Maka, keefektifan dari penatalaksaan tergantung pada pilihan intervensi yang sesuai dengan anak tersebut. Memberikan kenyamanan secara fisik, memberikan dukungan emosional, komunikasi dan meyakinkan bahwa mereka disayangi dan tidak sendiri adalah poin-poin penting dalam penatalaksanaan berkabung pada anak usia prasekolah. Kata kunci : Anak-anak, Berkabung, Usia prasekolah  ABSTRACT Grief is someone’s response to loss. In children, the effect of loss is identical with adults, but they express the grief differently and this is hard to be understood by adults. Children’s understanding of death depends on their age and stage of development. This paper will discuss about grief of children at preschool age (2-5 years old) including the differences between ‘normal grief’ and ‘complicated grief’, the symptoms ‘complicated grief’, and the management. It is important to discuss grief of children at this age because the effect may progress to the next stage of development. Grieving children could suffer from certain emotional and behavioral symptoms that could persist into adolescent and adulthood.  Method: a comprehensive literature search was conducted using electronic searching tools and databases: MEDLINE (EBSCO), CINAHL, Joanna Briggs Institute (Ovid), Proquest (Nursing and Allied Health Source), Pubmed, find@flinders, and Google Scholar. Discussion: The distinction between normal and complicated grief was related to the intensity and duration of the grief, and to the reactions having a negative functional impact on the child. Managing grief of preschool age children could be by storytelling, arts, music, dance/movement therapy, play, interact with the child by using toys and games, painting, old photos, and memorabilia. Conclusion: The permanency of death is a very difficult concept to grasp for children at preschool age. They may still think that the deceased will return. The effectiveness of the treatment is depending on the choice of interventions which appropriate for the child as each child is unique. Providing physical comfort, emotional support, communication and reassurance that they are cherished and not alone are the critical points in assessing grieving children at preschool age. Keywords: Children, Grief, Preschool age
Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Diare Pada Anak Usia Balita Di Kelurahan Padasuka Kosasih, Chaerunnisa; Sulastri, Afianti; Suparto, Tirta Adikusuma; Sumartini, Sri
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 2 (2015): Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v1i2.9746

Abstract

ABSTRAK     Penyakit diare sampai saat ini masih merupakan penyebab kematian utama didunia. Menurut data (WHO, 2009) terhitung 5-10 juta kematian/tahun, besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Bila dilihat per kelompok umur, diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Peran ibu sangatlah penting dalam mencegah terjadinya diare. Pengetahuan ibu tentang diare dapat mempengaruhi cara ibu dalam menangani diare di rumah. Semakin baik pengetahuan ibu, semakin baik pula cara ibu dalam menangani diare, dengan begitu ibu dapat  menurunkan angka kejadian diare pada balita di masa yang akan datang. Oleh karena itu penelitian ini sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang diare pada anak usia balita di Kelurahan Padasuka. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, yang dilakukan di Kelurahan Padasuka Kecamatan Cibeunying Kidul Kota Bandung pada bulan Juni 2015 dengan jumlah sampel 90 orang dengan menggunakan teknik stratifiled random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 60% responden memiliki pengetahuan baik, 38% responden memiliki pengetahuan cukup dan 2% responden memiliki pengetahuan kurang. Penguasaan pengetahuan ibu tentang diare yang paling baik yaitu terletak pada materi tentang pencegahan diare sebanyak 80%, sementara untuk penguasaan pengetahuan ibu yang paling kurang yaitu terletak pada materi tentang makanan yang dihindari yaitu sebanyak 64%.Hal ini kemungkinan dikarenakan sudah sering adanya informasi mengenai pencegahan diare yang disampaikan melalui penyuluhan kesehatan oleh tenaga kesehatan, namun untuk penyampaian/penyuluhan mengenai makanan pada saat terkena diare sangat jarang disampaikan.   ABSTRACTDiarrhea disease is still the leading cause of death in the world. According to the data (WHO, 2009) since there are about 5-10 million death cases per year. This becomes a serious problem since there are many illness and death cases caused by diarrhea. Seen from the group age, the prevalence of diarrhea spread is detected to toddler (1-4 years old) which is 16.7%. Mother's role is very important in preventing diarrhea. Mother's knowledge on diarrhea can affect the way the mother in addressing diarrhea at home. The better knowledge of the mother, the better the way the mother in dealing with diarrhea, so the mother can reduce the incidence of diarrhea in children under five in the future. Therefore, this study is very important to do. This study is intended to investigate mothers’ knowledge about diarrhea in toddler in Kelurahan Padasuka, Cibeunying Kidul Sub-district, Bandung. The study was conducted in June 2014 and involved 90 people as samples. In specific, this study employs descriptive quantitative, which used stratified random sampling technique and used questionnaire as the instrument. The findings show that 54 respondents (60%) have good knowledge, 34 respondents (38%) have adequate knowledge, and 2 respondents (2%) have lack knowledge about diarrhea. Besides that, most respondents have most understanding on diarrhea prevention (80%), but they have least understanding on food to avoid diarrhea (64%). This likely is due to the frequent lack of information on the prevention of diarrhea are delivered through health counseling by health workers, but for delivery/counseling about food when diarrhea is rarely delivered.
Critical Thingking and Decision Making Skills Based Learning Methods at The Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran Sari, Citra Windani Mambang; Fitri, Siti Yuyun Rahayu; Widianti, Efri
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9415

Abstract

ABSTRAK Metode pembelajaran yang diberikan sangat berpengaruh dalam kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mahasiswa perawat dalam mengambil keputusan. Kemampuan berfikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan ini merupakan dua hal yang dapat dijadikan dasar untuk melihat kompetensi lulusan perawat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan pada mahasiswa Fakultas Keperawatan. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 151 mahasiswa. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian adalah Lebih dari setengah responden (66,2 %) memiliki kemampuan berpikir kritis diatas rata-rata kelompok (M=186,19, SD=33,92). Lebih dari setengah responden memiliki keterampilan mengambil keputusan di atas rata-rata kelompok (M=94.92, SD=9.52). Sebagian kecil responden dengan IPK 3.01-3.25 memiliki kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan diatas rata-rata kelompok. Sebagian kecil responden latar belakang jurusan IPA memiliki kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan diatas rata-rata kelompok. Kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum akademik sehingga terwujud perawat profesional.  ABSTRACT Methods of learning in nursing students affect the ability of critical thinking skills and student nurses in making decisions. The ability of critical thinking and decision making skills are the two things that can be used as a basis to see competence of nurse graduates. The aim of this study is to identify the critical thinking skills and decision making skills in student Faculty of Nursing, Universitas Padjadjaran. The research method is quantitative descriptive with a sample of 151 students. Data analysis using frequency distribution. Results of the study were more than half of the respondents (66.2%) have the ability to think critically above the group average (M = 186.19, SD = 33.92). More than half of respondents have a decision-making skills in the above average group (M = 94.92, SD = 9.52). A small portion of respondents with a GPA of 3.01 to 3.25 to have critical thinking skills and decision making skills above the group average. A small portion of respondent background science majors have the critical thinking skills and decision making skills above the group average. The ability of critical thinking and decision making skills should be incorporated into the academic curriculum as soft skills to realize a professional nurse. 
LOST TO FOLLOW-UP : REASONS AND TRUE OUTCOME FOR PATIENTS ON ARV TREATMENT IN TERATAI CLINIC BANDUNG INDONESIA Haroen, Hartiah; Puspitasari, Tita Sri; Borne, B Van Den; Sari, Citra Windani Mambang
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7476

Abstract

Klinik RSHS Teratai HIV telah merawat pasien dari September 2004 sampai Desember 2009, sebanyak 2.060 ODHA dan 1290 menerima ARV (63%). Selama periode ini, sebesar 11% (141 orang) kehilangan kontak lebih tinggi dari keseluruhan persentase di Indonesia yaitu 10,7% (Depkes, 2009). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki hasil yang benar dan faktor hilang tindak lanjut ARV di klinik RSHS Teratai ARV. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam dengan 25 pasien HIV / AIDS bawah pengobatan ARV di klinik Teratai RSHS dan mangkir sejak tahun 2009 yang tinggal di daerah Bandung. Informan dipilih secara acak dan dihubungi untuk kunjungan rumah untuk diwawancarai oleh pewawancara yang berpengalaman. Peneliti melakukan wawancara mendalam di rumah pasien sekitar 60 menit. Data direkam oleh pita digital direkam, ditranskrip dan dicetak oleh dua peneliti bidang independen menggunakan analisis tematik.Hasil penelitian ini menunjukkan tujuh tema yang pengetahuan yang tidak benar, optimisme yang tidak realistis, masalah aadministratif, perasaan efek samping negatif, masalah interpersonal, masalah kecanduan, dan kurangnya perawatan diri. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan tindakan pencegahan melalui rincian kontak pasien, meminta pasien persetujuan untuk dihubungi, telepon, kunjungan rumah setelah 3 minggu kehilangan kontak, dan menyarankan pasien untuk mendaftar ke klinik ART lebih dekat dengan rumah mereka , dan mengembangkan sistem reminder untuk mengingatkan pasien untuk mengambil ARV tepat waktu. ABSTRACTTeratai clinic HIV RSHS has treated patients from September 2004 to December 2009, as much as 2060 PLWHA and 1290 receive ARV (63%). Over this period, 11% (141) were lost to follow-up that is higher than overall lost to follow up percentage in Indonesia which is 10.7% (MOH annually report December 2009). The aim of this study was to investigate the true outcomes and factors of lost follow up to ARV. This study used indepth interview method to 25 HIV/AIDS patients under ARV treatment in the Teratai clinic RSHS and lost to follow up since 2009 who lived in Bandung area. Informants were randomly selected and contacted for a home visit to be interviewed by experienced interviewer. The interviewers obtained verbal informed consent and conducted an in depth interview in the patients home. Interview took about 60 minutes. Data were recorded by digital tape recorded, transcribed and scored by two field researchers independently using thematic analysis. The result of this study shows seven themes which are incorrect knowledge, unrealistic optimism, administrative problems, feeling of negative side effect, interpersonal problem, addiction problem, and lack of self-care. Therefore, it is important to develop preventive measure through up-dating patients’ contact details, ask patients consent to be contacted, up date phone contact, home visit after 3 weeks lost of contact, advice patients to register to ART clinic closer to their homes, and develop a reminding system to remind patients to take ARV on time. 

Page 2 of 16 | Total Record : 158