Claim Missing Document
Check
Articles

Level of Anxiety and Depression in Post-Stroke Patients at DR. Hasan Sadikin Hospital Bandung Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Hernawaty, Taty
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9419

Abstract

ABSTRAK            Pasien paska stroke dapat mengalami berbagai gejala sisa sehingga dibutuhkan perawatan dalam jangka waktu yang lama. Kondisi tersebut dapat menjadi penghambat dan sumber stress bagi pasien paska stroke. Stres dan depresi dapat menjadi penghambat dan memperberat kondisi pasien. Banyak faktor yang mempengaruhi kecemasan dan depresi pasien sehingga dapat berbeda-beda di berbagai tempat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kecemasan dan depresi di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sehingga dapat dijadikan bahan dasar dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif terhadap pasien paska stroke yang kontrol ke poliklinik saraf RS. Hasan Sadikin Bandung. Teknik sample yang digunakan adalah konsekutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hospital Anxiety Depression Scale (HADS). HADS memiliki kelebihan yaitu dapat mengukur kecemasan dan depresi dalam waktu yang sama. Data yang terkumpul akan dianalisa dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa 74% pasien paska stroke berada dalam kondisi kecemasan normal, 24% mengalami kecemasan ringan, 2% kecemasan sedang dan tidak ada yang mengalami kecemasan berat. Responden berada pada kondisi depresi ringan 8%, 92 % berada dalam kategori normal dan tidak ada satupun yang mengalami depresi sedang maupun berat. Hasil penelitian ini dapat dipengaruhi oleh karakteristik sebagian besar responden yang berusia pada tahapan dewasa madya, memiliki status menikah, dan tidak memiliki penyakit penyerta apapun. Kecemasan dan depresi sebagian besar pasien paska stroke berada dalam kondisi normal namun ada beberapa yang mengalami kecemasan dan depresi. Tenaga kesehatan khususnya perawat diharapkan dapat mengkaji dan memberikan intervensi terhadap kecemasan dan depresi sedini mungkin dengan memberikan konseling sebagai program tambahan dalam rehabilitasi. Keywords: Kecemasan, depresi, stroke  ABSTRACT Post-stroke patients may experience a variety of residual symptoms that require long-term treatment. These conditions can be a source of stress for patients post-stroke. Stress and depression can be aggravate the condition of the patient. There is many factors can affect anxiety and depression in patients so they can differ in different places. Therefore, this study was conducted to assess anxiety and depression in  post-stroke patients at Hasan Sadikin Hospital so that it can be used as a basic data of nursing intervention and implementation to match the conditions that exist there. This research was a descriptive study of post-stroke patients who control at the neurological polyclinic of Hasan Sadikin Hospital Bandung. The sample technique used consecutive sampling with a sample size of 50 people. The instrument used in this study was Hospital Anxiety Depression Scale (HADS). HADS is an instrument for assessing anxiety and depression at the same time in patients at the hospital. The collected data were analyzed by using frequency distribution. The results of this study showed that 74% of post-stroke patients were in normal anxiety states, 24% had borderline abnormal, 2% abnormal. There were 8% of respondens who had borderline abnormal,  92% were in the normal category and none of them had abnormal. The results of this study can be influenced by the characteristics of most respondents who are at middle age mature, married and do not have comorbidities so that his anxiety is low and his coping skills are good. Most of post-stroke patients had normal level of anxiety and depression, only some who experienced mild and severe level of anxiety and depression. Health workers, especially nurses are expected to early assess and provide intervention to anxiety and depression as early as possible by providing counseling as an additional program in rehabilitation.
Perbandingan Hematoma Pasca Kateterisasi Jantung Berdasarkan Penekanan Bantal Pasir dan Cold Pack Sari, Eka Afrima; Arifin, M Z; Fatimah, Sari
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9414

Abstract

ABSTRAK Kateterisasi jantung merupakan prosedur untuk mendiagnosis dan/atau mengevaluasi arteri koroner. Pada akhir prosedur, dilakukan pelepasan femoral sheath dan penekanan manual maupun mekanik pada arteri femoralis untuk mengontrol perdarahan hingga tercapai hemostasis. Teknik penekanan yang tidak adekuat pada sisi akses arteri setelah kateterisasi jantung merupakan salah satu penyebab terjadinya hematoma. Ditemukan kejadian hematoma pada pasien pasca kateterisasi jantung yang timbul beberapa waktu setelah penekanan mekanik bantal pasir. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ukuran hematoma dalam waktu 24 jam pasca kateterisasi jantung berdasarkan penekanan mekanik bantal pasir dan cold pack.  Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan pendekatan after-only non-equivalent control group design. Subjek penelitian adalah 20 orang pasien pasca kateterisasi jantung yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dengan penekanan mekanik cold pack selama 20 menit setelah pelepasan femoral sheath dan kelompok kontrol dengan penekanan mekanik bantal pasir 2,5 Kg selama 6 jam setelah pelepasan femoral sheath. Kejadian hematoma dilihat setelah penekanan manual, penekanan mekanik, dan setiap jam selama 24 jam. Perbedaan kejadian hematoma dilihat dengan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna ukuran hematoma setelah penekanan manual, penekanan mekanik dan setiap jam dalam waktu 24 jam pada pasien pasca kateterisasi jantung yang menggunakan bantal pasir maupun cold pack (ρ 0,05). Pada kelompok eksperimen ukuran hematoma mengecil di akhir jam ke-24 dan pada kelompok kontrol ukuran hematoma membesar di akhir jam ke-24. Penggunaan penekanan mekanik cold pack dapat mengurangi risiko hematoma sebagaimana bantal pasir, sehingga cold pack dapat digunakan sebagai pilihan alat tekan mekanik pada pasien pasca kateterisasi jantung.  ABSTRACT Cardiac catheterization is a procedure to diagnose and/or  evaluate coronary arteries. At the end of procedure, performed manual and mechanical compression on the femoral artery to control bleeding until homeostasis is achieved. Inadequate compression techniques on the arterial access after cardiac catheterization is one of the causes of hematoma. Found in hematoma incidence in patients after cardiac cathetherization that arise  after mechanical compression using sandbags. The purpose of this study was to compare the size of the hematoma within 24 hours after cardiac catheterization using sandbags and cold pack mechanical compression. The study design was a comparative study with after-only non-equivalent control group design. Research subjects included of 20 after cardiac catheterization patients were divided into an experimental group with cold pack mechanical compression for 20 minutes after femoral sheath release and control group with sandbags mechanical compression for 6 hours after femoral sheath release. Incidence of hematoma was observed after manual compression, mechanical compression, and every hour for 24 hours. Mann-Whitney test was used to see the difference the incidence of hematoma of both of groups. The results showed no significant difference in the size of the hematoma after manual compression, mechanical compression, and every hour within 24 hours after cardiac catheterization in both of groups (ρ 0.05). But the size of the hematoma in the end of observation time was smaller in experiment group, and bigger in the control group. The use ofcold pack mechanical compressions could reduce the risk of hematoma as well as sandbags. Thus, cold pack could be used as an alternative mechanical compression tool in patients with post cardiac catheterization. 
MOTIVASI MAHASISWI KEPERAWATAN DALAM PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI SEBAGAI DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Sari, Eka Afrima
KEPERAWATAN Vol 4, No 1 (2016): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.106 KB)

Abstract

Abstract - The incidence of Breast Cancer is the second highest cancer in Indonesia, positioning after cervix cancer, which has annually increased. Detecting cancer as earlier as possible, as well as doing the good treatment, can lead in better wellness and longer life expectancy. Women who have been high risk for this case or older than 20 years are encouraged in doing breast cancer self-assessment (Periksa Payudara Sendiri/ Sadari) routinely. However, motivation is highly needed. This research was conducted to identify the motivation among female nursing students in doing Sadari. This descriptive research had involved 121 respondents. Data was collected by using questionnaire and analyzed by T score. The result was categorized into two levels of motivation namely high motivation and low motivation. The results show that more than a half of respondents (53.72%) had low motivation in doing Sadari. More than 50% of them (52.89%) had low intrinsic motivation as slightly same as low extrinsic motivation (51.24%). These results describe that the motivation of female nursing students in doing Sadari has to be improved in order to prevent lately detecting of breast cancer. Keyword: breast cancer, motivation, sadari  Abstrak - Kanker payudara merupakan penyakit kedua terbanyak setelah kanker serviks di Indonesia serta memiliki kecenderungan untuk meningkat dari tahun ke tahun. Dengan adanya kecenderungan ini, wanita yang berisiko tinggi atau berumur lebih dari dua puluh tahun dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin. Dengan dideteksinya kanker payudara secara dini serta penanganan yang cepat dan tepat dapat memberikan kesembuhan dan harapan hidup yang lebih baik (operable dan curable). Adanya hambatan dalam melakukan Sadari baik dari dalam diri individu maupun dari luar diri individu, diperlukan adanya motivasi untuk melaksanakan Sadari tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai motivasi mahasiswi keperawatan dalam pelaksanaan Sadari. Penelitian ini dilakukan pada 121 orang mahasiswi keperawatan dengan jenis penelitian deskriptif dan instrumen yang digunakan berupa kuisioner. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan skor T kemudian dikategorikan menjadi motivasi tinggi dan motivasi rendah. Hasil penelitian menggambarkan bahwa motivasi mahasiswi keperawatan dalam pelaksanaan Sadari termasuk dalam kategori rendah (53.72%), dengan motivasi intrinsik rendah (52.89%) dan motivasi ekstrinsik rendah (51,24%). Berdasarkan hasil penelitian, maka motivasi mahasiswa keperawatan perlu ditingkatkan agar mahasiswi keperawatan dapat memanfaatkan Sadari sebagai upaya deteksi dini kanker payudara. Kata Kunci : kanker payudara, motivasi, sadari
Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Masyarakat Pangandaran Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Mirwanti, Ristina
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.949 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.3840

Abstract

ABSTRAKInsidensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) di Indonesia semakin meningkat. Hal ini berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat tentang pencegahan PJK masih kurang termasuk faktor risiko PJK yang mungkin dimilikinya. Pangandaran merupakan daerah pesisir pantai di Jawa Barat yang belum memiliki pelayanan yang memadai sehingga deteksi dini faktor risiko PJK pada masyarakatnya belum maksimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko PJK pada masyarakat pangandaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study yang dilakukan pada 87 masyarakat Pangandaran dengan mengkaji faktor risiko PJK seperti riwayat penyakit sebelumnya, tingkat aktivitas, usia, pekerjaan, pemeriksaan gula darah, kadar kolesterol, pengukuran lingkar perut dan body Mass Index (BMI). Berdasarkan hasil deteksi dini tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar masyarakat Desa Pangandaran berada pada status nutrisi overweight (47,1%) dan memiliki lingkar perut yang kelebihan ringan (36,8%), tidak berolahraga (64%), memiliki kadar gula darah normal (69%), dan kadar kolesterol tinggi (74,7%). Sedangkan tekanan darah sebagian besar masyarakat desa Pangandaran adalah normal (60,9%). Masyarakat Pangandaran memiliki faktor risiko PJKdiantaranya overweight, kelebihan lingkar perut, kurang beraktivitas, dan hiperkolesterolemia. Oleh karena itu, petugas kesehatan diharapkan dapat memberikan pendidikan kesehatan mengenai pencegahan PJK terutama untuk mengatasi hiperkolesterolemia, overweight dan kelebihan lingkar perut yaitu dengan beraktivitas yang cukup dan menjaga pola diet.Kata kunci: Faktor risiko, Pangandaran, Penyakit Jantung Koroner.  ABSTRACTIncidence of Coronary Heart Disease (CHD) in Indonesia has increased. This relates to the level of public awareness on the prevention of CHD is still less including CHD risk factors that may be held. Pangandaran is a coastal area in West Java that has not had adequate services so that early detection of risk factors for CHD in the community has not been maximized. This study was conducted to identify risk factors of CHD in Pangandaran society. This research is a quantitative descriptive research with cross sectional study approach conducted on 87 Pangandaran community by examining CHD risk factors such as previous disease history, activity level, age, occupation, blood glucose examination, cholesterol level, measurement of abdominal circumference and body mass index (BMI). Based on the results of early detection it can be seen that most of the people of Pangandaran Village are in overweight nutritional status (47.1%) and have abdominal circumferences that are overweight (36.8%), not exercised (64%), have normal blood glucose (69%), and high cholesterol (74.7%). While the blood pressure of most people in Pangandaran village is normal (60.9%). Pangandaran community has risk factors for CHD including overweight, excess abdominal circumference, lack of activity, and hypercholesterolaemia. Therefore, health workers are expected to provide health education on the prevention of CHD, especially to overcome hypercholesterolemia, overweight and excess abdominal circumference that is with enough activity and maintain diet patterns.Keywords: Coronary Heart Disease, Pangandaran, Risk factors
LITERASI KESEHATAN PASIEN HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Kurniawan, Titis
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 16, No 2 (2020): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v16i2.364

Abstract

Pasien hemodialisis harus menjalankan berbagai pengobatan untuk mengurangi gejala yang dirasakannya. Dalam menjalankan pengobatan tersebut, pasien hemodialisis perlu menjalankan self-management. Berbagai penelitian menunjukan bahwa banyak pasien hemodialisis yang tidak patuh dalam menjalankan self-management. Literasi kesehatan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kepatuhan pasien dalam pengobatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengidentifikasi literasi kesehatan pasien hemodialisis. Tekhnik sampel yang digunakan adalah Concecutive sampling dengan jumlah 129 orang. Kriteria inklusi Pasien hemodialisis yang memiliki kesadaran penuh disertai tanda-tanda vital stabil. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan dari HLS-EU-Q47 pada pasien dialisis yang dikembangkan oleh Martin et.al. (2012). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar sebagian besar responden memiliki literasi kesehatan yang cukup yaitu 96 orang (74,4%) dan 33 orang memiliki literasi yang baik (25,6%).  Item yang dirasakan cukup mudah oleh responden adalah mencari informasi kesehatan di semua ruang lingkup, memahami informasi dalam pencegahan penyakit, menilai informasi kesehatan di semua lingkup, serta menggunakan informasi dalam promosi kesehatan. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah sebagian besar pasien hemdoialisis memiliki literasi kesehatan yang cukup, tetapi masih ada beberapa item yang dirasakan masih sulit untuk dilakukan pasien. Perawat diharapkan dapat membantu untuk meningkatkan literasi pasien dengan memberikan edukasi, motivasi dan evaluasi secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Pemberdayaan Perawat Dalam Penyusunan Media Edukasi Berbasis Buklet Bagi Pasien Hemodialisis Sri Hartati Pratiwi; Eka Afrima Sari; Titis Kurniawan
Media Karya Kesehatan Vol 2, No 1 (2019): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.707 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v2i1.19519

Abstract

Pasien hemodialisis harus menjalankan berbagai pengobatan. Berbagai penelitian menjelaskan bahwa sebagian besar pasien hemodialisis tidak patuh dalam menjalankan self-management. Ketidakpatuhan pasien dalam menjalankan pengobatan dapat memperburuk kondisi pasien sehingga kualitas hidupnya akan menurun. Petugas kesehatan khususnya perawat harus memberikan edukasi dan evaluasi terhadap kepatuhan pasien dalam menjalankan self-management. Media yang tepat dibutuhkan untuk menjalankan program yang efektif. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menyusun media buklet panduan dan catatan harian pasien hemodialisis. Media buklet panduan dan catatan harian akan lebih efektif apabila sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. Program Pengabdian Pada Masyarakat ini dilakukan dengan menggunakan metodeFocus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 14 orang perawat hemodialisisdi Jawa Barat.Berdasarkan hasil FGD tersebut, terdapat beberapa materi yang dibutuhkan dalam buklet pasien hemodialisis yaitu informasi mengenai penyakit (gagal ginjal), hemodialisis, pengobatan, pembatasan asupan cairan dan diet, serta cacatan harian yang berisi catatan asupan cairan dan diet, catatan hasil lab dan perkembangan berat badan..Penggunaan buklet panduan dan catatan harian pasien hemodialisis sepenuhnya memandirikan pasien dalam mengelola kondisi kesehatannya. Keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam menjalankan self-management. Keluarga dapat mengingatkan pasien untuk mengisi dan mengevaluasi catatannya sendiri dan memberikan motivasi untuk tetap menjaga asupan cairan dan diet. Kata kunci : Buklet, catatan harian, edukasi, hemodialysis.
Persepsi Terhadap Penyakit pada Pasien Hemodialisis di Bandung Sri Hartati Pratiwi; Eka Afrima Sari; Titis Kurniawan
Sehat MasadaJurnal Vol 14 No 2 (2020): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v14i2.136

Abstract

Gagal ginjal terminal yang dialami pasien hemodialisis dapat menimbulkan berbagai perubahan dalam kehidupannya. Persepsi yang positif terhadap penyakit dapat membantu pasien hemodialisis dalam menerima keadaannya dan meningkatkan motivasi untuk menjalankan berbagai tindakan pengobatan. Apabila pasien hemodialisis memiliki persepsi yang negatif terhadap penyakit, maka akan cenderung mudah mengalami berbagai masalah psikologis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi terhadap penyakit pada pasien hemodialisis di Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada pasien hemodialisis di salah satu Rumah Sakit di Bandung. Teknik sample yang digunakan adalah consecutive sampling sebanyak 126 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis dan memiliki tanda-tanda vital yang stabil. Instrumen yang digunakan untuk mengukur persepsi terhadap penyakit adalah kuesioner persepsi penyakit singkat (Brief-IPQ) yang dikembangkan oleh Broadbant, et.al. tahun 2005, dan sudah dilakukan back translate ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hemodialisis memiliki persepsi terhadap penyakit yang negatif (50,4%). Sebagian besar pasien merasakan berbagai dampak penyakit terhadap kehidupannya dan mengalami perubahan secara emosional semenjak mengalami gagal ginjal terminal. Persepsi terhadap penyakit yang negatif pada pasien hemodialisis dapat mempengaruhi kualitas hidup, angka kesakitan dan capaian pengobatan yang dijalaninya. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan keluarga dan sosial. Petugas kesehatan khususnya perawat diharapkan dapat memberikan edukasi dan konseling pada pasien hemodialisis untuk meningkatkan persepsi pasien terhadap penyakit.
The Distinction of Inhibiting Factors among Patients who Actively and Inactively Participate in Phase II Cardiac Rehabilitation Megalita Dwika Stevani; Aan Nuraeni; Eka Afrima Sari
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.907 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i2.550

Abstract

Background: Cardiac rehabilitation (CR) is an important post-acute management for Cardiovascular Heart Disease (CHD) patients. CR has benefits, such as preventing recurrence and improving patients physically. However, the CR participation rate is low. This condition can produce negative effects, such as recurrence and depression. There are inhibiting factors contribute to the CR participation. The purpose of this study is to identify the distinction of inhibiting factors in patients who actively and inactively participate in phase II CR in Bandung. The result will be as advices to improve policy and nursing intervention to improve the participation number of phase II CR in Bandung. Method: This study used comparative design with cross-sectional approach on 72 respondents who recruited by using purposive sampling at a hospital in Bandung, Indonesia. Data were collected by using Cardiac Rehabilitation Barrier Scale (validity r = 0.46-0.55 and reliability 0.887). Data were analyzed by using descriptive frequency and comparative analysis by using Mann-Whitney. Result: It was showed that there were two significant differences between both of the group in terms of health services aspect (p-value = 0.002) and time (p-value = 0.001). However there were no significant differences between both of the group in logistics aspect (p-value = 0.134), and functional status aspect (p-value = 0.057). It indicates that there were distinctions in inhibiting factors on health services and time aspects. Conclusion: There were differences in the health services, which was related to the lack of CR information and also time aspects, which was related to the lack of CR facilities in remote areas. Therefore, providing information about CR and community or home-based CR are needed.
Spiritual Needs of Post-Stroke Patients in the Rehabilitation Phase Sri Hartati Pratiwi; Eka Afrima Sari; Ristina Mirwanti
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 6 No. 3 (2018): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1598.552 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i3.989

Abstract

Post-stroke patients experience in various disturbances including physical, psychological and spiritual aspect. Post-stroke patients in the rehabilitation phase focus more on physical needs while the unfulfilled spiritual needs can reduce the patient's health condition. Therefore, it takes action to meet the spiritual needs of patients. This study was conducted to identify the spiritual needs among post-stroke patients.The descriptive quantitative was used among post-stroke patients in Neurological Polyclinic and stroke center in one of the Hospital in Bandung in 2017. The sampling technique used was consecutive sampling with 83 samples included post-stroke patients who have full awareness and didnot experience of aphasia. The instrument of this study used Spiritual Needs Questionnaire (SpNQ) which consists of 4 dimensions including religious, peace, self-existence, and dimension of the giving needs. SpNQ had a validity coefficient of 0.73 and r 0.75. Data were analyzed using frequency distribution. The results showed that the most of respondents feel the spiritual need in all dimensions. In the religious dimension, the majority of respondents desired to pray with others, to move closer to God and participate in various religious activities (98.8%). In the dimension of peace showed the most of respondents desired to be more cherished by others (96.4%). The most perceived item of respondents were forgiving someone from the past in the dimension of self-existence (98.8%) and a solace for others in the dimension of the giving needs (98.8%). The conclusion from this study was most respondents feel the spiritual needs in all dimensions. Based on these results, nurses are expected to provide advice to people around the patients to invite them in various religious activities. Nurses supposed more expressing affection to them and involving the patients in some family activities.
Telehealth Blood Pressure Monitoring Models In Hypertensive Patients: A Scoping Review Ahmad Ihsan Fathurrizki; Adinda Putri Lestari; Wafiq Nurul Azizah; Eka Afrima Sari
Journal of Nursing Care Vol 5, No 1 (2022): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v5i1.37002

Abstract

The main global cause of death in the world is non-communicable diseases (NCDs). One of NCD is hypertension. Increased hypertension during the Covid-19 pandemic is associated with risk factors for lifestyle changes, social restrictions, lack of physical activity, and stress. Therefore, a remote blood pressure control system is needed to monitor the patient’s health status. The purpose of writing this literature review is to provide an overview of health care practices with remote monitoring of blood pressure of hypertension patients based on online management with telemonitoring. the method used is scoping review with the inclusion criteria of articles were published from 2017 – 2021, used the research designs of Randomized Control Trial and Study Experimental, and were published in English and Indonesian. Articles selections were using PRISMA Flow Diagram 2009 and selection for eligibility were using. The Joanna Briggs Institute Critical Appraisal. Four articles were included in the study and 1037 articles were excluded from the study. It was found that telehealth blood pressure monitoring carried out in hypertensive patients was home and online blood pressure management, TASMINH (Telemonitoring and Self-Management in the Control of Hypertension), and scale-up blood pressure. Telemonitoring was found to be significant in reducing and monitoring patients with home care-based hypertension Self-Monitoring Blood Pressure (SMBP) at home using a digital sphygmomanometer accompanied by direct monitoring of doctors and nurses via the internet can be a solution for monitoring blood pressure during a pandemic.
Co-Authors Aan Nuraeni Adinda Putri Lestari Ahmad Ihsan Fathurrizki Anggi Jamiyanti Annisa Nurbaiti Rahmah Arifin, M Z Atlastieka Praptiwi Aulia, Hannifa Dwi Bambang Aditya Nugraha Bambang Aditya Nugraha Carissa Muthia Putri Nugroho Cecep Eli Kosasih Chairunnisa, Afina Chandra Isabella Hostanida Purba Citra Windani Mambang Sari Constantius Augusto Daila Dahlia Rojabani Dandi Trianta Barus Delia Amalia Deshita Rimadania Desri Kristina Silalahi Dien Rahmawati Diena Yudiarti Dwi, Tia E, Ermiati Ermiati Ermiati Ermiati Ermiati Fadillah, Jasmine Fasya Fatimah, Sari Filiyanti Halim GERALDI, ARIK Hamidah . Hamjah, Apip Harun, Hasniatisari Harun, Hasniatisari Hesti Platini Hesty Susanti Husneni Mukhtar Iwan Shalahuddin Karina, Grashiva Putri Kusnahadi Susanto lukman, dede Maria Komariah Maria komariah Megalita Dwika Stevani Mira Trisyani Mujahidah, Shafira Aulia Musawi, Husein Nita Fitria Nur'aeni, Yuni Nursiswati Puspita, Tita Putri Noor Kholisoh Purnama Wati Putwi Rizki Sakinah Rahayu Merdekawati Rahmania, Sina Sabila Rahmawati, Syifa Eka Ramdani Ramdani Ristina Mirwanti Ristina Mirwanti Ristina Mirwanti, Ristina Rohaeti, Sri Elis Rohayanti, Yanti Rojabani, Daila Dahlia Salsabilla, Sausan Zahrah Salwa Sandra Pebrianti Sandra Pebrianti Sarah Arnika Simatupang Sari, Yuyun Kartika Sastianingsih, Siska Seizi Prista Sari Setiani, Haniifah Sheizi Prista Sari Sicilia, Asha Grace Sifva Fauziah Siska Sastianingsih Sri Hartati Pratiwi SUDIYONO, OOY ARIE Sutandi, Andi Suto Setiyadi Taty Hernawaty Teuku Zulkarnain Muttaqien Titis Kurniawan Titis Kurniawan Trias Eka Nurlela Tsauroh, Salsabila Fiqrotu Tuti Pahria Urip Rahayu Wafiq Nurul Azizah Willy Anugrah Cahyadi Windiramadhan, Alvian Pristy Wistara, Adli Yoga Pujiraharjo Yosilistia, Yosilistia Yusshy Kurnia Herliani Yusshy Kurnia Herliani Yusshy Kurnia Herliani, Yusshy Kurnia Yutantri, Savitri Kartika