cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN DI KABUPATEN BANDUNG UTARA DAN BANDUNG BARAT MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Masri, Rina Marina; Yulianti, Vitri
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2447

Abstract

Meningkatnya kebutuhan dan persaingan dalam penggunaan lahan baik untuk keperluan produksi pertanian maupun untuk keperluan lainnya memerlukan pemikiran yang saksama dalam mengambil keputusan pemanfaatan yang paling menguntungkan dari sumberdaya lahan yang terbatas, dan sementara itu juga melakukan tindakan konservasinya untuk penggunaan masa mendatang.Evaluasi kemampuan lahan diarahkan untuk mengetahui potensi lahan bagi penggunaan lahan secara luas dan lestari berdasarkan cara penggunaan dan perlakuan yang paling sesuai sehingga dapat dijamin pemanfaatan lahan dalam waktu yang tidak terbatas.Klasifikasi faktor-faktor pembatas kemampuan lahan yang terdiri dari kemiringan lereng, tekstur tanah, kedalaman efektif, drainase tanah, erosi tanah, ancaman banjir, curah hujan, kerikil dan batuan kecil dijadikan sebagai masukan untuk memperoleh keluaran peta kelas kemampuan lahan dari hasil proses analisis spasial digital menggunakan sistem informasi geografis. Kata kunci: Evaluasi kemampuan lahan, Kabupaten Bandung, Sistem Informasi Geografis (SIG).
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KAWASAN EKOWISATA KAMPUNG BATU MALAKASARI SEBAGAI SUMBER BELAJAR GEOGRAFI Supriatna, Upi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i1.3363

Abstract

In the process of studying Geography, environment is important as a learning source to avoid the verbalism in learning process. To develop environment as a learning source we need learning device support. Based on that, the purpose of this study was to develop learning device with environment as a learning source. This research pick ecotourism area at Kampung Batu Malakasari as geographic learning source and to develop the learning device in that area. The learning device which developed in this study produced a practical worksheets which equipped with guidelines for teachers, and location overview. These worksheets and its support measured the validity based on didactical, constructional and technical specification. To measure the validity of learning device researcher used delphy method by asking four experts judgement. The worksheets of learning device of the research in Kampung Batu Malakasari had scored 4.56 (excellent), teacher’s guideline scored 4.60 (excellent), and location overview scored 4.54 (excellent). Thus the learning device for the activity in Kampung Batu Malakasari is adequate to be implemented in Geography learning in that location.Keywords: environment, a learning of source, develop a learning device
TEKANAN PENDUDUK TERHADAP LAHAN DI KECAMATAN SUKARAJA KABUPATEN SUKABUMI Ruhimat, Mamat
Jurnal Gea Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tekanan penduduk merupakan kekuatan yang mendorong penduduk, khususnya penduduk petani untuk memperluas lahan garapannya atau keluar dari lapangan kerja petanian. Fnomena ini terjadi karena pertumbuhan dan jumlah penduduk terus meningkat secara superekponensial, sementara di lain pihak luas lahan garapan dan kualitas lahan tidak mengalami peningkatan. Indeks tekanan penduduk (ITP) ditentukan oleh proporsi pendapatan petani yang bersumber dari aktifitas non pertanian, luas lahan rata-rata yang diperoleh oleh setiap penduduk petani untuk dapat hidup layak, proporsi penduduk yang menjadi petani, luas lahan total pertanian, dan tingkat pertumbuhan penduduk per tahun. Sumber data yang digunakan diambil dari data skunder. Hasil perhitungan berdasarkan data skunder menunjukkan bahwa indeks tekanan penduduk (ITP) untuk Kecukaraja Kabupaten Sukabumi adalah sebesar 13.34. Hal tersebut berarti bahwa dilihat dari tekanan penduduknya, Kecamatan Sukaraja sudah dikategorikan sebagai wilayah yang sudah tidak dapat lagi menampung penduduk baru. Kata kunci : tekanan penduduk terhadap lahan.
NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT CIGUGUR-KUNINGAN DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI SUMBER BELAJAR GEOGRAFI Aditya, Yuvenalis Anggi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v13i2.3353

Abstract

Pembentukan karakter peserta didik merupakan tanggung jawab dalam prosespembelajaran yang dilakukan. Pembentukkan karakter peserta didik dapat dilakukan dengan cara mengenalkannya pada budaya lokal. Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat lokal mengandung nilai-nilai kearifan. Berdasarkan latar belakang tersebut maka salah satu upaya dalam membentuk karakter peserta didik adalah menggali nilai-nilai kearifan lokal. Hasil penelitian ini dijadikan sebagai sumber belajar geografi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal yang ada di masyarakat Cigugur, khususnya masyarakat AKUR (Adat Karuhun Urang) dalam bentuk pengelolaan lahan dan tradisi yang ada kemudian mengidentifikasikannya dalam pembelajaran geografi. pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode etnometodologi. Penelitian dilakukan dengan cara wawancara yang mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi tentang masyarakat AKUR Cigugur, sehingga penelitian ini dipusatkan pada kegiatan sehari-hari masyarakat AKUR Cigugur dalam mengelola lahan dan hubungannya dengan alam lingkungan sekitarnya berupa tradisi yang masih dipegang teguh oleh masyarakat tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan nilai-nilai kearifan lokal yang berhubungan dalam pelestarian lingkungan hidup. Adapun nilai-nilai yang merupakan temuan dari penelitian ini adalah: Nilai Integritas Keruangan, Nilai Adaptasi Ekologi, Nilai Keselarasan, Nilai Keseimbangan, Nilai Kesinambungan, Nilai Ketaatan, Nilai Kebersamaan, Nilai Gotong royong, dan Nilai Budaya. Temuan nilai-nilai ini kemudian diidentifikasi menjadi sumber belajar geografi. Identifikasi nilai kearifan lokal dilakukan dengan cara mengklasifikasikan nilai-nilai tersebut sesuai dengan jenis sumber belajar, kemudian menerapkannya menjadi RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) pada KD (Kompetensi Dasar) Menganalisis pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan.Kata kunci : Nilai-nilai Kearifan Lokal, Pelestarian Lingkungan Hidup. Sumber BelajarGeograf
UPAYA PEMELIHARAAN LINGKUNGAN OLEH MASYARAKAT DI KAMPUNG SUKADAYA KABUPATEN SUBANG Taufiq, Ahmad
Jurnal Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkungan yang terpelihara baik di Kampung Sukadaya dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup masyarakatnya. Untuk itu, diperlukan kajian upaya yang dilakukan oleh masyarakat terhadap pemeliharaan lingkungan di Kampung Sukadaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif verifikatif. Hasil penelitian menunjukkan, nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat Kampung Sukadaya dapat menjadikan lingkungan alam Sukadaya tetap lestari. Nilai-nilai kearifan lokal pemeliharaan lingkungan di Kampung Sukadaya adalah nilai adaptasi lingkungan, nilai tanggung jawab, nilai kesadaran lingkungan, dan nilai kerja sama. Nilai-nilai kearifan lokal sebagai upaya pemeliharaan lingkungan di Kampung Sukadaya tercermin dari aktifitas warga dalam memelihara sumber mata air, memelihara kelestarian hutan rakyat, memelihara kebersihan lingkungan dan semangat gotong royong masyarakat.Kata Kunci: Pemeliharaan Lingkungan
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN DENGAN MEMANFAATKAN KEBUN RAYA KUNINGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR Nuryana, Heru
Jurnal Gea Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber belajar merupakan kompenen yang tidak dapat dipisahkan dari tercapainya keberhasilan suatu pembelajaran. Lingkungan merupakan salah satu komponen yang dapat menjadi alternatif sebagai sumber belajar. Keberadaan Kebun Raya Kuningan memiliki potensi sebagai sumber belajar, karena salah satu tujuan dibangunnya Kebun Raya Kuningan adalah sebagai pengembangan fasilitas pendidikan untuk meningkatkan kepedulian dan apresiasi masyarakat terhadap upaya konservasi tumbuhan dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi, mengetahui pemanfaatan, membuat desain pembelajran geografi, dan mengkaji efektivitas pemanfaatan Kebun Raya Kuningan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran geografi dengan menggunakan metode deskriptif dan metode kasus. Sampel dalam penelitian ini adalah Kebun Raya Kuningan, siswa kelas XI IPS 1 SMA negeri 1 Pasawahan, dan guru geografi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, instrumen tes, intrumen lembar kerja siswa (LKS), studi literatur, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian diketahui Kebun Raya Kuningan memiliki potensi sebagai sumber belajar yaitu faktor lingkungan dan manusianya. Pemanfaatan Kebun Raya Kuningan sebagai sumber belajar masih rendah hanya 40,5% guru geografi sudah memanfaatkannya. Desain pembelajaran geografi yang dirancang yaitu menggunakan metode penugasan atau resitasi dengan teknik berkunjung (field trip). Dari hasil penilaian pembelajaran 83,9% siswa memperoleh nilai di atas kriteria ketuntasan m in imal (KKM), sehingga Kebun Raya Kuningan berada pada tingkat “efektif” sebagai sumber belajar.Kata kunci: desain pembelajaran, pembelajaran, sumber belajar.
STUDI KOMPARATIF PENGGUNAAN MEDIA PETA TEMATIK DENGAN MEDIA CD INTERAKTIF TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS BAHAN AJAR POLA KEGIATAN EKONOMI PENDUDUK, PENGGUNAAN LAHAN, DAN POLA PEMUKIMAN (Studi Kasus SMP Negeri 1 Haurwangi Kabupaten Cianjur) Suhandi, Didi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v13i2.3393

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh proses pembelajaran yang kurang maksimal, yang  hanya menekankan kepada kemampuan peserta didik untuk menghafal  yang sifatnya kognisi.  Peserta didik dipaksa untuk mampu mengingat berbagai teori dan konsep, tanpa diutamakan untuk memahami teori dan konsep yang diingatnya itu untuk diaplikasikan dalam kehidupan  sehari-hari.  Peserta didik kurang dilatih untuk memiliki keterampilan berpikir kritis, sehingga setelah mereka lulus, hanya pintar secara teoritis tetapi miskin aplikasi. Mengingat fungsi media pembelajaran cukup besar  dalam proses pembelajaran, maka  upaya yang dapat dilakukan yaitu mencoba mencari alternatif  penggunaan  media pembelajaran yang tepat.  Dalam pelaksanaan penelitian dipilih dua media pembelajaran yaitu “media peta tematik” dan “media CD interaktif”, yang secara teoritis diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari kedua media pembelajaran yaitu “media  peta tematik”dan “media CD interaktif”.  Penelitian dilakukan kepada peserta didik kelas VII dengan sampel penelitian masing-masing 39 orang dari “kelas eksperimen-1” dan “kelas eksperimen-2”.  “Kelas eksperimen-1” diberi perlakuan  melalui proses pembelajaran dengan mengunakan “media  peta tematik”, sedangkan “kelas eksperimen-2” proses pembelajarannya menggunakan “media CD interaktif”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “kelas eksperimen-1” yang proses pembelajarannya menggunakan “media  peta tematik” mengalami peningkatan sebesar 28,62 %, dan “kelas eksperimen-2” yang proses pembelajarannya menggunakan “media CD interaktif meningkat 22,67 %. Hal ini berarti terdapat  perbedaan 5,95%. Hal ini menunjukkan  bahwa penggunaan “media peta tematik” relatif lebih baik  untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada peserta didik dibanding dengan penggunaan “media CD interaktif” walaupun perbedaannya hanya 5,95. Kata kunci: media peta tematik, keterampilan berpikir kritis.
UTILIZATION KOLONG TIN MINING TO IMPROVE KNOWLEDGE AND ATTITUDE STUDENTS FOR ENVIRONMENT (Quasi Experiment Students In Class XI SMAN 1 Sungaiselan Central Bangka Bangka Belitung Islands) Susanti, Hartini
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v15i2.3545

Abstract

Tin mining pit is formed due to mining activities in Kecamatan Sungaiselan. One of the ways to prevent the spread of damage caused by the tin mining activities is to foster the knowledge and attitude towards the environment to the society. Through knowledge and attitude, it is expected that the society would aware in maintaining the quality of the environment thus it can minimize the impact of the damage. Knowledge and attitude towards the environment can be tought in a formal institution to the students thus they are expected to spread their knowledge and attitude to their parents and to the society. The way to cultivate knowledge and attitude of the students is to make the tin mining as a source of learning by analyzing the effect of learning resources on knowledge and attitude, also the advantages and disadvantages of learning through field studies and the medium of film /video by using quantitative approach through experimental method. The sample of this research is 54 second semester students from XI IS SMAN 1 Sungaiselan, year 2014/2015. The data were collected by using test, worksheets, and questionnaires. The data were analyzed by using statistical normality test, homogeneity and T test with SPSS version 21. The statistical results showed: 1) there are differences in knowledge and attitude by using the medium of film /video before and after treatment, 2) there are differences in knowledge and attitudes by usingg field studies method before and after treatment, 3) recommend using the environment as the source of learning.Keywords: Kolong Tin Mining, Learning Resources, Knowledge, Attitude.
MENANAMKAN KONSEP DASAR KONSERVASI LAHAN MELALUI PEMBELAJARAN GEOGRAFI Ningrum, Epon
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2453

Abstract

Lahan adalah sumberdaya potensial yang memiliki arti penting dan kedudukan strategis. Artinya, keberadaan lahan sangat mempengaruhi kehidupan manusia, baik sebagai tempat tinggal dan wahana aktivitas ekonomi maupun secara politis-teritoris. Dengan demikian, sangat penting pengaturan lahan secara yuridis formal baik pada tataran institusional maupun pemanfaatannya pada tataran empiris, agar keberadaan lahan sebagai sumberdaya terjaga kelestariannya. Lahan sebagai sumber daya memiliki kemampuan dan peluang bagi pemanfaatannya. Penggunaan lahan (land use) sudah seharusnya memperhatikan potensi dan daya dukung lahan. Penggunaan IPTEK dan kepedulian masyarakat dalam pengelolaan lahan sangat menentukan keberadaan lahan sebagai sumberdaya. Agar sumberdaya lahan terjaga kelestariannya, maka manusia sebagai pengelolanya harus memiliki kesadaran akan konservasi lahan. Pengetahuan, pemahaman, dan kepedulian serta partisipasi masyarakat dalam konservasi lahan sangat penting ditumbuh kembangkan sejak dini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan. Tujuan pendidikan adalah menyiapkan calon warga masyarakat yang memiliki keunggulan partisipatif, termasuk di dalamnya partisipasi dalam konservasi lahan. Pendidikan secara operasional dinyatakan dalam bentuk pembelajaran, maka melalui kegiatan pembelajaran tersebut pengetahuan, pemahaman, dan kepedulian serta pembiasaan berpartisipasi dapat dikembangkan. Dalam pembelajaran geografi, lahan dipandang sebagai permukaan bumi yang dimaknai sebagai ruang. Ruang, lahan, tanah atau permukaan bumi merupakan laboratorium bagi geografi dan menjadi sumberdaya bagi kehidupan manusia. Untuk itu, maka pembelajaran geografi hendaknya dikemas dalam proses pembentukan sikap dan penanaman konsep konservasi lahan agar keberadaannya terlestarikan.  Kata kunci: konsep, konservasi, kelestarian, lahan, tanah, ruang, sumberdaya, dan pembelajaran geografi.
ENVIRONMENT CONTENT IN THE CULTURE PUBLIC HIGH SCHOOL IN CIMAHI AS EFFORTS TO GROW THE STUDENTS ECOLOGICAL INTELLIGENCE Mainaki, Revi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v17i1.6234

Abstract

The environmental damage becomes a problem that must be considered globally, especially in Indonesia. Cimahi as one of the cities in Indonesia, supporting the activities of West Java Province because of its strategic location, the preservation of the environment needs to be maintained. The high impact of the environmental damage is seen from the people with diseases due to environmental degradation as well as industrial growth and lack of green open space, make it must be vigilant. Through survey method with qualitative approach, descriptive data analysis techniques, data collected through interviews, documentation studies, and literature study, this research aims to measure the environmental content in secondary school culture at Cimahi, because it can, at least, develop students’ ecological intelligence who are at age range 12-18 years where intelligence is very vulnerable to form. As for the environmental content classification in school culture is classified into low (1,000-2,093), moderate (2,094-3,186), and high (3,187-4, 28). Based on the results of the research, most of the secondary schools are in the moderate and high classification, the highest aspect is exemplary of principles, teachers, and educators in providing examples of school environment preservation, while the lowest aspect is in the school physical environment and environment preservation based participatory activities.