cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Riset Gizi
ISSN : 2338154X     EISSN : 26571145     DOI : http://dx.doi.org/10.31983/jrg
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
Pengaruh Pemberian Konseling Gizi Terhadap Sisa Makanan Diet Rendah Garam di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr. W.Z. Johanes Kupang Erna Yulianti Lobo; Setyo Prihatin
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3245

Abstract

Latar Belakang : Informasi gizi yang kurang akan berpengaruh terhadap konsumsi makanan pasien, sehingga penting sekali anjuran makan bagi pasien. Konseling gizi diharapkan dapat menimbulkan kesadaran pasien terhadap asupan makanan Manfaat dari konseling gizi dapat membantu proses penyembuhan penyakit melalui perbaikan gizi, mencari alternatif pemecahan masalah dan memilih cara pemecahan masalah yang paling sesuai bagi pasien.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa makanan diet rendah garam di ruang rawat inap penyakit dalam RSUD Prof. DR. W.Z. Johanes KupangMetode : Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-group pre test - post test (rancangan pre-pasca test dalam satu kelompok) dimana dilihat sisa makanan diet pasien sebelum mendapat konseling gizi dan sesudah diberikan konseling gizi.Subyek penelitian yang digunakan sejumlah 30 pasien diamati sisa asupannya dengan metode comstok. Analisis bivariat yang digunakan adalah paired t-test.Hasil : Persentase sisa asupan makanan pokok sebelum konseling rata-rata sebesar 29.50% sedangkan setelah konseling sebesar 19.72%. Persentase sisa asupan lauk hewani sebelum konseling rata-rata sebesar 26.33% sedangkan setelah konseling sebesar 20.17%. Persentase sisa asupan lauk nabati sebelum konseling rata-rata sebesar 30.67% sedangkan setelah konseling sebesar 23.00%. Persentase sisa asupan sayuran sebelum konseling rata-rata sebesar 30.83% sedangkan setelah konseling sebesar 15.28%. Persentase sisa asupan buah sebelum konseling rata-rata sebesar 27.42% sedangkan setelah konseling sebesar 17.33%Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan makanan pokok dengan p-value 0.000. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi lauk hewani dengan p-value 0.003. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi lauk nabati dengan p-value 0.004. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi sayuran dengan p-value 0.000. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi buah dengan p-value 0.000.
Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi, Seng, Kejadian Stunting dan Sikap Pengasuhan dengan status Perkembangan Anak di PAUD Wilayah Kerja Puskesmas Tegowanu Zulva Wahananisanti; Enik Sulistyowati; Wiwik Wijaningsih
JURNAL RISET GIZI Vol 4, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v4i2.3267

Abstract

Latar belakang : Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang merupakan upaya pemberian layanan kepada anak usia 0-6 tahun melalui penitipan anak, kelompok bermain agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Stunting dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang anak.Faktor lain yang mempengaruhi adalah asupan zat besi dan seng serta pola asuh. Tujuan penelitian : Menjelaskan hubungan tingkat kecukupan zat besi, seng, kejadian stunting dan pola asuh dengan status perkembangan anak di PAUD wilayah kerja Puskesmas Tegowanu.Metode penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian bidang gizi masyarakat dengan pendekatan case control. Sampel penelitian adalah semua kasus dan kontrol dengan perbandingan 1 kasus dan 1 kontrol. Responden penelitian adalah ibu dari sampel. Data yang dikumpulkan meliputi tingkat kecukupan zat besi seng, kejadian stunting, dan sikap pengasuhan. Uji yang digunakan adalah Chi Square dengan α = 0,05.Hasil : Tingkat kecukupan zat besi yang kurang pada kelompok kemungkinan ada penyimpangan sebesar 85,7% dan kelompok sesuai tahap sebesar 52,4%. Tingkat kecukupan seng yang kurang pada kelompok kemungkinan ada penyimpangan sebesar 85,7% dan kelompok sesuai tahap sebesar 57,1%. Kejadian stunting pada kelompok kemungkinan ada penyimpangan sebesar 38,1% dan kelompok sesuai tahap sebesar 9,5%. Sikap pengasuhan negatif pada kelompok kemungkinan ada penyimpangan sebesar 52,4% dan kelompok sesuai tahap sebesar 33,3%.Kesimpulan : Ada hubungan antara tingkat kecukupan zat besi dengan status perkembangan (p=0,019, OR= 5,455). Ada hubungan antara tingkat kecukupan seng dengan status perkembangan (p=0,040, OR= 4,500). Ada hubungan antara kejadian stunting dengan status perkembangan (p=0,030, OR= 5,846). Tidak terdapat hubungan antara sikap pengasuhan dengan status perkembangan (p=0,212).Saran : Kepada tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas untuk melakukan penyuluhan tentang pentingnya kecukupan zat besi dan seng kepada ibu balita.
Gambaran Pengetahuan, Sikap, Praktik serta Identifikasi Bakteri Escherichia Coli Dan Staphylococus Aureus Pada Penjamah dan Makanan di PT PSA (Pelita Sejahtera Abadi) Lynda Puspita Sugiyono; Dyah Nur Subandriani
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3257

Abstract

Pendahuluan : Institusi jasa boga memiliki tanggung jawab yang besar dalam menyediakan makanan yang bermutu. Upaya pengamanan makanan sangat penting untuk meningkatkan mutu. Mutu makanan tidak hanya dilihat dari nilai gizi dan cita rasa, namun harus aman dari bahaya kimia, fisik, dan biologi termasuk mikroorganisme.  Bakteri yang paling banyak digunakan sebagai indikator sanitasi adalah Escherichia coli. Di dalam air maupun makanan yang terdeteksi adanya Escherichia coli yang bersifat patogen, jika termakan/terminum dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang bersifat enterotoksin. Bakteri ini biasanya terkontaminasi silang dari penjamah makanan (hidung, mulut, tangan), dan peralatan masak.Tujuan : Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, praktik serta identifikasi bakteri Escherichia coli dan Staphylococus aureus pada penjamah dan makanan yang diolah di PT PSA.Metode : Penelitan ini termasuk penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan di PT PSA (Pelita Sejahtera Abadi). Besar sampel 16 orang penjamah makanan dan 12 sampel makanan. Variabel penelitian meliputi pengetahuan, sikap dan praktik penjamah, serta identifikasi bakteri  Escherichia coli dan Staphylococus aureus pada penjamah dan makanan. Metode pengambilan data pengetahuan dan sikap melalui tanya jawab menggunakan kuesioner, praktik berdasarkan observasi menggunakan formulir chek list. Uji identifikasi bakteri Escherichiacoli dan Staphylococus aureus dilakukan di laboratorium fisiologi dan biokimia Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Waktu penelitian dilakukan pada bulan April  2010.Hasil : Sebanyak (56,3%) penjamah makanan memiliki tingkat pendidikan tamat SMA, dan rata-rata lama kerja 9, 19 tahun (± SD 2,37). Pengetahuan penjamah makanan  sebagian besar (62,5%) tergolong baik, sikap sebagian besar (68,7%) baik, dan praktik sebagian besar (56,3%) kurang. Hasil pemeriksaan identifikasi bakteri Escherichia coli pada makanan ditemukan positif pada sayur bobor bayam dan Staphylococcus aureus pada lauk hewani bandeng presto. Hasil pemeriksaan identifikasi bakteri Escherichia coli pada tangan penjamah makanan (50%) positif dan Staphylococcus aureus (25%) positif. Penjamah yang teridentifikasi bakteri Staphylococcus aureus juga teridentifikasi bakteri Eschericheria coli.Simpulan  : Pengetahuan dan sikap penjamah makanan di PT PSA sebagian besar baik, tetapi untuk praktik higiene personal masih kurang. Makanan yang diolah di PT PSA belum memenuhi syarat kesehatan karena  pada hasil identifikasi bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus positif pada makanan dan tangan penjamah. Ada hubungan antara praktik higiene personal penjamah dengan keberadaan bakteri  Escherichia coli pada tangan penjamah (p=0,001). Tidak ada hubungan antara praktik higiene personal penjamah dengan keberadaan bakteri Staphylococcus aureus pada tangan penjamah (p=0,088).
Hubungan Lama Bekerja, Motivasi dan Pengetahuan dengan Kemampuan Bidan Desa dalam Menginterpretasikan Hasil Penimbangan (N dan T) di Kabupaten Blora Maniek Indah Kurniatri; Astidio Noviardhi; Yuwono Setiadi
JURNAL RISET GIZI Vol 4, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v4i2.3263

Abstract

Latar belakang : Interpretasi hasil penimbangan merupakan hal yang sangat penting dalam pemantauan pertumbuhan balita. Persentase balita yang naik berat badannya (N/D) merupakan indikator keberhasilan program. Masih banyak kader dan petugas kesehatan di Kabupaten Blora yang melakukan penilaian pertumbuhan berdasarkan kenaikan berat badan absolute. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama bekerja, motivasi dan pengetahuan dengan kemampuan bidan desa dalam menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T) di Kabupaten Blora.Metode : Penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara sistematik random sampling untuk mendapatkan sampel sejumlah 172 bidan desa. Semua data primer ( lama bekerja, motivasi, pengetahuan dan kemampuan interpretasi) diperoleh menggunakan kuesioner dengan metode wawancara. Analisis data menggunakan Chi Square.Hasil : Ada hubungan yang signifikan antara lama bekerja dengan kemampuan bidan desa dalam menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T) (p=0,021). Ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kemampuan bidan desa dalam menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T) (p=0,000). Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan kemampuan bidan desa dalam menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T) (p=0,005)Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara lama bekerja, motivasi dan pengetahuan dengan kemampuan bidan desa dalam menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T).
Gambaran Pola Pemberian Makanan Tambahan dan Kejadian Konstipasi pada Anak Usia 6-24 bulan di Kelurahan Pedurungan Tengah Semarang Setyo Prihatin
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3251

Abstract

Latar belakang : Masa batita (bawah tiga tahun) merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia sehingga sering disebut golden age. Pertumbuhan dan perkembangan pada usia ini menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Salah satu gangguan kesehatan yang banyak dihadapi oleh anak usia ini adalah konstipasi. Penelitian di Amerika, Eropa dan Asia didapatkan angka prevalensi konstipasi pada anak mencapai 0.7 - 29.6 %Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola makan dan kejadian konstipasi pada anak usia 6-24 di Kelurahan Pedurungan Semarang.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian descriptive yang bertujuan untuk mendeskripsikan pola makan dan kejadian konstipasi pada anak usia 6-24 bulan di Kelurahan Pedurungan Tengah Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dengan subjek penelitian anak usia 6-24 bulan berjumlah 41 yang diambil secara purposive random sampling. Pengambilan data meliputi recall 2x24 jam dan kuesioner kejadian konstipasi dilengkapi gambar Bristol Stool Chart.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pola makan sampel berupa ASI+MP-ASI. Sebagian besar pola makan sampel belum sesuai dengan anjuran Kemenkes RI. Pola makan MP-ASI meliputi jenis, frekuensi dan porsi/jumlah pemberian MP-ASI. Kejadian konstipasi sampel sebesar 34.1% dengan tipe feses 1 dan 2. Sebanyak 57.1% sampel mengalami konstipasi dengan frekuensi 3x dalam satu bulan dari waktu penelitian.Kesimpulan : Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan pada pihak pemerintahan Kelurahan dan Puskesmas untuk mengadakan penyuluhan mengenai pola pemberian MP-ASI yang sesuai dengan anjuran Kemenkes RI tentang MP-ASI tahun 2010 pada ibu-ibu balita khususnya ibu anak usia 6-24 bulan.
Efektifitas Rainbow Smoothies terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pasien DM Tipe 2 di Klub Senam Prolanis Bina Sehat Mandiri Cepu Endah Wuryaningrum; Mohammad Jaelani; Sunarto Sunarto
JURNAL RISET GIZI Vol 4, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v4i2.3268

Abstract

Latar Belakang  : Diabetes melitustipe 2 merupakan penyakit diabetes melitus  dengan penyebab utama adalah pola makan (life style) yang tidak sehat. Pengaturan terapi diet memegang peranan penting dalam pengendalian kadar gula darah. Rainbow smoothies adalah salah satu modifikasi diet yang disajikan sebagai minuman segar kaya nutrisi, tinggi serat dan rendah IG serta dapat menurunkan kadar gula darah pasien DM tipe 2.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas rainbow smoothies terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM Tipe 2 di klub senam.Metode  : Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan randomized pre test-post test control group design. Subyek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan pengukuran kadar gula darah puasa sebanyak 3 kali selama 10 hari. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk, kemudian dianalisis dengan uji repetead measure test.Hasil : Data yang dikumpulkan berdistribusi normal dan menunjukkan adanya penurunan kadar gula darah secara bermaknasebelum dan sesudah perlakuan (p0,05). Penurunan kadar gula darah pada kelompok perlakuanyang diberi rainbow smoothies paling efektif hingga 43,75%  dibandingkan dengan kelompok kontrol. Terdapatperbedaan nilai rata-rata kadar gula darah pasien DM Tipe 2.
Perbedaan Status Gizi Penerima PMT Pemulihan Dengan Penerima Pmt Penyuluhan pada Penderita Gizi Buruk di Kabupaten Jepara Sarimah, Sarimah; Hutagalung, Sihol Pardumuan
Jurnal Riset Gizi Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Balita yang berstatus gizi buruk akan menyebabkan gangguan pada proses pertumbuhan, struktur dan fungsi otak, imunitas serta kualitas kesehatan secara keseluruhan, sehingga akan menciptakan generasi yang lemah secara fisik dan mental.Tujuan penelitian : Mengetahui perbedaan status gizi antara balita gizi buruk penerima PMT pemulihan dengan balita gizi buruk penerima PMT penyuluhan di Kabupaten Jepara.Metode : Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi sebanyak 90 balita terdiri dari 45 sampel dari Kecamatan Kembang dan 45 sampel dari Kecamatan Bangsri. Analisis data dengan SPSS 16 , Uji Repeted Measure Anova digunakan untuk mengetahui perbedaan  status  gizi    sampel setelah satu bulan, dua bulan, tiga bulan pemberian PMT  baik kelompok sampel penerima PMT Pemulihan maupun kelompok sampel penerima PMT Penyuluhan, dan uji Independent t – test untuk mengetahui    perbedaan status     gizi antara kelompok sampel penerima PMT pemulihan dengan kelompok sampel penerima  PMT penyuluhan setelah satu bulan, setelah dua bulan, dan setelah tiga bulan.Hasil : Secara statistik terdapat perbedaan status gizi balita pada kelompok sampel  penerima PMT Pemulihan sebelum dan sesudah menerima PMT dengan p value = 0.000. Pada kelompok sampel penerima PMT Penyuluhan tidak ada perbedaan bermakna p value = 0.103. Dari uji statistik diperoleh hasil bahwa tidak  bermakna  perbedaan status gizi antara balita gizi buruk kelompok penerima PMT Pemulihan dengan balita gizi buruk kelompok penerima PMT Penyuluhan setelah 1 bulan dengan p value = 0. 706 ( p value> 0.05 ), setelah 2 bulan tidak ada perbedaan bermakna dengan p value = 0.063, setelah 3 bulan terdapat perbedaan bermakna status gizi  antara kelompok sampel penerima PMT Pemulihan dengan kelompok sampel penerima PMT Penyuluhan dengan p value = 0.019.Kesimpulan : Perbedaan status gizi  antara balita gizi buruk penerima PMT  pemulihan dengan penerima PMT penyuluhan bermakna secara statistik setelah tiga bulan. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi PMT pemulihan perlu disertai dengan program pendampingan PMT  agar paket PMT  yang diberikan tepat sasaran. 
Perbedaan Asupan Energi dan Protein Pasien Skizofrenia Non Pasung dan Post Pasung di Rumah Sakit Jiwa dr. Amino Gondohutomo Semarang Nursani Rumahorbo; Heni Hendriyani; Mohamad Jaelani
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3237

Abstract

Latar belakang: Fenomena pemasungan pada penderita skizofrenia, yang sering diasosiasikan sebagai gila dan layak dikucilkan dari interaksi social tampak masih terjadi. Tindakan pemasungan ini dapat mempengaruhi, sehingga akan berdampak pada tingkat asupan energi dan protein.Tujuan: Mengetahui perbedaan asupan energi dan protein pasien skizofrenia non pasung dan post pasung di Rumah Sakit Jiwa Dr Amino Gondohutomo SemarangMetode: Penelitian ini berjenis eksplanatif komparatif dengan rancangan cross sectional. Dilakukan pada pasien skizofrenia non pasung dan post pasung di Rumah Sakit Jiwa Dr Amino Gondohutomo Semarang umur 18 tahun, bisa diajak berkomunikasi, sudah tenang saat makan, menderita skizofrenia bukan dengan ketergantungan obat, dan bersedia menjadi sampel. Total sampel 60 orang dibagi dua kelompok yaitu 30 pasien skizofrenia non pasung, dan 30 pasien skizofrenia post pasung. Tingkat asupan energi dan protein diperoleh melalui metode recall 3x24 jam, diuji dengan independent sample t-test.Hasil: penelitian menunjukkan tingkat asupan protein skizofrenia non pasung dan post pasung berbeda signifikan yaitu 1.798 k.kal pada kelompok non pasung dan 1.761 k.kal pada kelompok post pasung dengan nilai p =0,012. Rata-rata asupan protein pasien skizofrenia non pasung adalah 65,59 gr, sedangkan pada post pasung adalah 63,28 gr dengan nilai p = 0,023. Tingkat asupan energi dan protein pada kelompok pasien skizofrenia non pasung adalah lebih tinggi daripada kelompok pasien post pasung.Kesimpulan: Terdapat perbedaan tingkat asupan energi dan protein pasien skizofrenia post pasung dan non pasung di Rumah Sakit Jiwa Dr Amino Gondohutomo Semarang.
Pengaruh Konseling Gizi terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Diet DM pada Pasien DM Tipe-2 di Puskesmas Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Suci Handayani; Ria Ambarwati; Susi Tursilowati
JURNAL RISET GIZI Vol 4, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v4i2.3264

Abstract

Latar belakang : Angka kejadian Diabetes Melitus  meningkat dari tahun ke tahun, edukasi gizi adalah salah satu pilar utama pengelolaan  Diabetes Melitus. Konseling gizi bertujuan membuat perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku makan sesuai dengan kebutuhan pasien.Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konseling gizi terhadap pengetahuan dan kepatuhan diet DM pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di puskesmas Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora.Metoda: Jenis penelitian quasi experimentdengan non-equivalent control group. Pengambilan sampel dengan metode non probability samplingsebanyak 30 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan data sekunder dan data primer. Analisa data menggunakan uji statistik independent t-testuntuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan kepatuhan diet DM sebelum dan sesudah konseling gizi antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh konseling gizi terhadap pengetahuan dan kepatuhan diet DM pada pasien DM tipe-2.Kesimpulan: Disimpulkan konseling gizi dapat mempengaruhi pengetahuan dan kepatuhan diet DM.
Pemanfaatan Limbah Ampas Tahu Sebagai Upaya Diversifikasi Pangan di Masyarakat Yuwono Setiadi; Ria Aambarwati
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3253

Abstract

Latar Belakang: Ampas tahu memiliki sifat yang cepat basi dan berbau tidak sedap (langu). Pemanfaatan tepung ampas tahu yang disubstitusikan ke dalam pembuatan brownies kukus adalah untuk mengganti sebagian tepung terigu dan digunakan untuk lebih meningkatkan kandungan gizi dari brownies.Tujuan: mengetahui nilai gizi brownies kukus dengan substitusi tepung ampas tahu serta daya terimanya.Metode: Penelitian dilakukan 3 tahap, yaitu: pembuatan tepung ampas tahu,  pembuatan brownies kukus, pengujian nilai gizi  serta daya terimanya. Pada penelitian ini dibuat brownies kukus dengan substitusi tepung ampas tahu  0%, 5%, 15%, 25%, 35%, 45%. Disain penelitian ini adalah eksperimen murni dengan Rancangan Acak Lengkap 1 (satu) faktor, yaitu konsentrasi substitusi serta 6 (enam) taraf perlakuan, yaitu:  0%, 5%, 15%,25%,35%, 45%. Jumlah ulangan 2 kali. Variabel yang diukur adalah mutu gizi (proximate) dan daya terimanya. Analisis data menggunakan ANOVA (Analysis of Varians) dan ANOVA Repetead Measure.Hasil: Pensubstitusian tepung ampas tahu kedalam pembuatan brownies kukus  meningkatkan mutu gizi dari brownies kukus, brownies kukus yang paling disukai dan bernilai gizi tinggi/baik adalah brownies dengan substitusi tepung ampas tahu 25%.Kesimpulan: tidak ada perbedaan mutu  gizi serta adanya perbedaan daya terima brownies kukus dengan substitusi tepung ampas tahu pada berbagai konsentrasi.Saran: perlu adanya perlakuan pendahuluan yang berupa pengukusan bahan baku tepung ampas tahu agar aroma langu yang ada pada produk dapat dikurangi.

Page 4 of 47 | Total Record : 466


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2025): November 2025 Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025 Vol. 13 No. 1 (2025): Mei 2025 Vol 12, No 2 (2024): November 2024 Vol. 12 No. 2 (2024): November 2024 Vol 12, No 1 (2024): Mei 2024 Vol. 12 No. 1 (2024): Mei 2024 Vol 11, No 2 (2023): November (2023) Vol. 11 No. 2 (2023): November (2023) Vol. 11 No. 1 (2023): Mei 2023 Vol 11, No 1 (2023): Mei 2023 Vol 10, No 2 (2022): November (2022) Vol. 10 No. 2 (2022): November (2022) Vol 10, No 1 (2022): Mei (2022) Vol. 10 No. 1 (2022): Mei (2022) Vol. 9 No. 2 (2021): November (2021) Vol 9, No 2 (2021): November (2021) Vol. 9 No. 1 (2021): Mei (2021) Vol 9, No 1 (2021): Mei (2021) Vol 8, No 2 (2020): November (2020) Vol 8, No 1 (2020): Mei (2020) Vol 7, No 2 (2019): November (2019) Vol 7, No 1 (2019): Mei (2019) Vol 6, No 2 (2018): November (2018) Vol 6, No 1 (2018): Mei (2018) Vol 5, No 2 (2017): November (2017) Vol 5, No 1 (2017): Mei (2017) Vol. 5 No. 1 (2017): Mei (2017) Vol 5, No 1 (2017): Mei (2017) Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol. 4 No. 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei (2016) Vol. 4 No. 1 (2016): Mei (2016) Vol. 3 No. 2 (2015): November(2015) Vol 3, No 2 (2015): November(2015) Vol 3, No 1 (2015): Mei (2015) Vol. 3 No. 1 (2015): Mei (2015) Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol. 2 No. 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol. 2 No. 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol. 1 No. 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol. 1 No. 1 (2013): Mei 2013 More Issue