cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 24429791     EISSN : 27154181     DOI : 10.33772/pharmauho
Core Subject : Health, Science,
Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo mengelola dan menerbitkan Jurnal Farmasi, Sains dan Kesehatan Pharmauho yang merupakan Jurnal ilmiah yang menyajikan artikel orisinal tentang pengetahuan dan informasi riset atau aplikasi dan perkembangan terkini yang berhubungan dengan kesehatan. Jurnal ini merupakan sarana publikasi dan pengembangan di bidang farmasi, sains dan kesehatan. Artikel dapat dikirimkan ke alamat kantor editor atau dengan menggunakan pendaftaran online Jurnal Pharmauho pada ojs.uho.ac.id. Informasi lengkap untuk pemuatan artikel dan petunjuk penulisan artikel tersedia di dalam setiap terbitan. Artikel yang masuk akan melalui proses seleksi editor.Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun (April dan September).
Arjuna Subject : -
Articles 134 Documents
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BOOKLET TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS WUA-WUA KOTA KENDARI TAHUN 2018 Sabarudin, Sabarudin; Kasmawati, Henny; Hamsidi, Rini; Madjid, Waode Istiqamah; Tendri Adjeng, Andi Nafisah
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2020): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v6i2.11501

Abstract

AbstrakDiabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah. Kepatuhan pengobatan yang rendah terhadap terapi pengobatan pada pasien DM tipe 2 dapat mengakibatkan peningkatan resiko biaya pengobatan serta peningkatan komplikasi penyakit. Salah satu cara untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian edukasi. Edukasi dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan pemberian booklet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan minum obat pasien DM tipe 2 sebelum dan setelah pemberian booklet dilihat dari kadar Glukosa Darah Sewaktu (GDS) dan skor Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) dan mengetahui hubungan antara kadar GDS dan skor MMAS-8 terhadap tingkat kepatuhan minum obat pasien DM tipe 2 di Puskesmas Wua-Wua Kota Kendari Tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental dengan sampel sebanyak 40 pasien DM tipe 2 yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 20 pasien kelompok kontrol dan 20 pasien kelompok intervensi. Kadar glukosa darah sewaktu dan skor MMAS-8 diukur sebelum dan setelah empat minggu pemberian intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kepatuhan minum obat pasien DM tipe 2 di Puskesmas Wua-Wua Kota Kendari sebelum dan setelah pemberian booklet. Berdasarkan kadar GDS, kelompok kontrol sebelum dan setelah pemberian booklet yaitu 296,2 mg/dL turun menjadi 261,85 mg/dL, sedangkan kelompok intervensi yaitu 275,7 mg/dL turun menjadi 198,1 mg/dL. Berdasarkan skor MMAS-8 pada kelompok kontrol sebelum dan setelah pemberian booklet yaitu 3,4 menjadi 2,35 sedangkan kelompok intervensi yaitu 4,45 menjadi 0,8. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat (r=0,783) antara kadar glukosa darah sewaktu dengan skor MMAS-8 pada pasien DM tipe 2 dalam menggambarkan tingkat kepatuhan pasien dengan taraf kepercayaan p=0,000 (p<0,05), dimana nilai p menunjukkan bahwa edukasi DM melalui pemberian booklet efektif membantu meningkatkan kepatuhan pasien yang dapat dilihat dari skor MMAS-8 rendah dan kadar GDS yang rendah.Kata kunci: DM Tipe 2,  MMAS-8, Booklet, Kepatuhan AbstractDiabetes mellitus (DM) is chronic metabolic disease characterized by increased blood glucose levels. Low medication compliance for treatment therapy in patients with type 2 diabetes can result in increased risk of treatment costs and increased disease complications. One way to improve adherence of treatment can be done by providing education. Education can be done in various ways one of them is by giving booklets. This study aims to determine the level of compliance for taking medication of patients with type 2 DM before and after the administration of the booklet seen from the level of Blood Glucose While (GDS) and Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) scores and determine the relationship between GDS levels and MMAS-scores 8 to the level of compliance for taking medication of patients with type 2 DM in Wua-Wua Health Center, Kendari City in 2018. This research is quasi-experimental study type with 40 patients with type 2 DM divided into 2 groups: 20 control group and 20 intervention group. Blood glucose levels and MMAS-8 scores were measured before and after four weeks of intervention. The results showed that there were differences in the level of compliance for taking medication of type 2 DM patients at Wua-Wua Health Center in Kendari City before and after the booklet was given. Based on the level of GDS, the control group before and after the administration of the booklet was 296.2 mg / dL down to 261.85 mg / dL, while the intervention group that was 275.7 mg / dL fell to 198.1 mg / dL. Based on MMAS-8 scores in the control group before and after the administration of the booklet, it was 3.4 to 2.35 while the intervention group was 4.45 to 0.8. The Spearman correlation test results showed that there was strong relationship (r = 0.783) between the blood glucose levels when with MMAS-8 scores in type 2 DM patients in describing the level of compliance of patients with level p = 0,000 (p <0.05), p-value indicates that DM education through effective booklet administration trust helps improve patient compliance which can be seen from low MMAS-8 scores and low GDS levels.Keywords: DM Type 2, MMAS-8, Booklet, Compliance
Uji Toksisitas Akut dengan Menggunakan Metode Brine Shrimp Lethaly Test (BSLT) dan penetapan kadar Fenolik dan Flavonoid Ekstrak dan Fraksi Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera) Yamin, Yamin; Sartinah, Ari; Arba, Muhammad; Candrayanti, Gusti Ayu Made
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2020): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v6i2.12759

Abstract

Latar Belakang : Kelor dikenal sebagai The Miracle Tree atau pohon ajaib. Hal ini didukung dengan fakta bahwa kelor terbukti secara ilmiah merupakan sumber gizi berkhasiat obat(Tutik et al., 2018).  M. oleifera sudah banyak digunakan sebagai sumber makanan dan telah digunakan sebagai obat selama berabad-abad lamanya, diantaranya penyakit kulit, infeksi pernapasan, infeksi telinga dan gigi, hipertensi, diabetes, kanker, antiinflamasi, antioksidan, hiperglikemia dan makanan suplemen. Tujuan : untuk menentukan nilai toksisitas kulit batang kelor (Moringa oleifera) dengan menggunakan metode  Brine Shrimp Lethaly Test (BSLT). Metode : Serbuk kulit batang kelor diekstraksi dengan cara maserasi. Fraksi diperoleh dengan metode cair-cair. Sifat toksik diuji dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethaly Test (BSLT). Kadar fenolik dikur dengan menggunakan metode reagen Folin-Ciocalteau. Kadar flavonoid dianalisis dengan metode kolorimeter Aluminium klorida. Hasil : Ekstrak metanol menunjukkan nilai toksik yang kuat dibandingkan dengan fraksi n-heksan dan air dengan nilai toksisitas sebesar 153,394 ppm. Kadar fenolik dan flavonoid yang tertinggi terdapat pada ekstrak metanol dengan kadar sebesar  509,91 g EAG/100 g sampel untuk fenolik dan 536,11  gEK/100 g sampel  untuk flavonoid. Kesimpulan : Kulit batang kelor memiliki sifat toksik dengan ekstrak metanol paling toksik, sehingga bias ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui senyawa yang paling bersifat toksik
Efektivitas Nutrasetikal Sebagai Penghambat Kanker Terhadap Progresivitas Kanker Payudara Agustin, Tesya
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i1.13524

Abstract

Kanker payudara merupakan pertumbuhan sel-sel abnormal di epitel duktus atau lobulus payudara sehingga menimbulkan keganasan pada jaringan payudara. Kanker payudara menjadi kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia. Keganasan ini dapat dihambat dengan mengonsumsi nutrasetikal, yakni perpaduan antara nutrisi dan farmasetikal. Nutrasetikal merupakan jenis makanan yang komposisi nutrisinya memiliki manfaat terhadap kesehatan, baik pencegahan maupun pengobatan suatu penyakit. Senyawa yang terkandung di dalamnya mampu melawan sel kanker dengan efek samping yang minimal. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui nutrasetikal yang berperan dalam pencegahan kanker payudara. Metode yang digunakan adalah literature review. Hasil yang didapatkan adalah jahe, kunyit, sayuran cruciferous, kedelai, tomat, bawang putih, jintan hitam, dan pomegranat memiliki aktivitas antikanker payudara. Maka, nutrasetikal memiliki potensi sebagai penghambat progresivitas sel kanker payudara yang efektif.
Penetapan Kadar Fenolik dan Flavonoid Ekstrak dan Fraksi Daun Ghoenu (Abelmoschus manihot L.) serta Uji Antiradikal Secara In Vitro Yamin, Yamin
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i1.16545

Abstract

Ghoenu (Abelmoschus manihot L) merupakan tanaman tropis dari family Malvaceae yang dimasyakat selain digunakan sebagai sayuran juga digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional. Secara empiris, rebusan daun ghoenu (A. manihot L) digunakan sebagai penurun kolesterol, analgetik, obat sakit ginjal, maag. Ghoenu mengandung metabolit sekunder antara lain flavonoid, asam amino, nukleosida, polisakarida, asam organik, steroid, minyak volatil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mentukan kadar fenolik dan flavonoid ekstrak dan fraksi daun Ghoenu (Abelmoschus manihot L) serta uji antioksidan secara in vitro menggunakan DPPH (1-1-diphenyl-2-picrahidrazyl). Daun ghoenu diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Pengukuran kandungan fenolik total ditentukan dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteau, kadar flavonoid ditentukan dengan menggunakan metode kolorimeter kompleks aluminium klorida, serta aktivitas antiradikal ditentukan dengan menggunakan metode DPPH. Fraksi etil asetat menunjukkan kadar fenolik dan flavonoid yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak metanol, fraksi n-heksana dan fraksi air dengan kadar berturut-turut sebesar 28,476 g EAG/100 g sampel, 26,098 g EAG/100 g sampel, 15,905 g EAG/100 g sampel, 7,397 g EAG/100 g sampel untuk fenolik dan 49,812 g EK/100 g sampel, 44,198 g EK/100 g sampel, 41,898 g EK/100 g sampel dan 24,042 g EK/100 g sampel. Fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 7,42 µg/mL.
Uji Aktivitas Analgesik Gel Bulung Boni (Caulerpa sp.) Terhadap Mencit Putih (Mus musculus) erika putri jayantini
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i2.14882

Abstract

Pain is an uncomfortable sensory and emotional feeling, associated with (threatening) tissue damage. Analgesics are substances that reduce or dispel pain without eliminating consciousness (the difference with general anesthesia). Animals that are commonly used as experimental animals are menci (Mus musculus) and white mice (Rattus novergicus). The purpose of this study was to determine the comparison of the onset of each boni gel concentration tested. The research carried out in the form of experimental by using the hot plate method. The results showed that there was no onset of boni gel with a concentration of 0.25% because the curve was still interesting. The onset obtained in boni gel with a concentration of 0.5% is occurred at the 90th minute where the area under the curve is 4248 which shows the percent of activity owned. The onset obtained in boni gel with a concentration of 0.75% is occurred at the 90th minute where the area under the curve is 5112 which shows the percent of activity owned. The greater the concentration given, the greater the arising analgesic effect. Of the three concentrations, the most effective analgesic effect was 0.75%, where analgesic activity occurred at 90 minutes by 135.902% with an SD value of 154.156 and RSD value of 113.4317%. 
REVIEW: AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN AKALIFA (Acalypha wilkesiana Müell. Arg.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli Astrina Fuji Nurfadilah; Imam Adi Wicaksono; Tina Rostinawati
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i2.15881

Abstract

Escherichia coli (E. coli) merupakan bakteri gram negatif yang bersifat anaerob fakultatif. E. coli merupakan penyebab utama penyakit Infeksi Saluran Kemih (ISK) dengan persentase 80-95% dan diare sebesar 25%. Saat ini, E. coli telah mengalami resisten terhadap beberapa antibiotik sehingga perlu dilakukan upaya untuk mencari senyawa baru yang berpotensi sebagai antibakteri. Daun akalifa (Acalypha wilkesiana Müell. Arg.) mempunyai aktivitas antibakteri yang lebih baik dibandingkan dengan bawang putih, daun sirsak, daun sirih, serta buah maja. Daun akalifa mengandung senyawa tannin, saponin, flavonoid, fenol serta alkaloid sebagai antibakteri. Tujuan dari literature review ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun akalifa terhadap bakteri E. coli yang dapat dilihat dari diameter zona hambat dan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) serta Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM). Ekstrak daun akalifa diperoleh dengan metode ekstraksi maserasi, perkolasi, refluks dan soklet menggunakan pelarut air, etanol, methanol, etil asetat, n-hexan dan aseton. Ekstrak daun akalifa mempunyai akivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dengan zona hambat terbesar yaitu 30,2 mm pada konsentrasi ekstrak 10 mg/ml dan nilai KHM 20 μg/ml pada konsentrasi ekstrak 10 mg/ml serta KBM 5 mg/ml pada konsentrasi ekstrak 20 mg/ml dengan menggunakan metode soklet pelarut etanol.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit dan Biji Jeruk Siam Kintamani (Citrus nobilis (L) dalam Berbagai Jenis Pelarut Putu Ika Indah Indraswari; Gusti Ayu Oviani
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i2.15890

Abstract

Penelitian yang dilakukan adalah studi pendahuluan yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan bagian buah yang tidak dikonsumsi yaitu bagian kulit dan biji jeruk siam Kintamani. Pada studi yang dilakukan juga perbandingan penggunaan tiga jenis pelarut yaitu etanol 96%, etanol 70%, dan N-Hexan sehingga dapat diketahui jenis pelarut yang paling baik dalam mengambil komponen antioksidan alami dari kulit dan biji jeruk, yaitu alkaloid dan flavonoid. Dari hasil pengujian antioksidan dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-picrylhydrazyl) diketahui bahwa kulit jeruk memiliki kemampuan aktivitas antioksidan yang lebih baik dari pada biji jeruk. Ekstrak kulit jeruk dengan pelarut Ethanol 96% memiliki daya hambat radikal paling besar diantara ekstrak lainnya walaupun keseluruhan ekstrak memiliki aktivitas antioksidan yang sangat lemah ketika dihitung dengan metode IC50..This research is a preliminary study which aims to determine the ability of the fruit that is not consumed, the skin and seeds of Kintamani Orange. In this study also conducted a comparison of the use of three types of solvents, ethanol 96%, ethanol 70%, and N-Hexan so that it can be know which type of solvent is best in taking natural antioxidant components from orange peel and seeds, alkaloids and flavonoids. From the results of antioxidant testing using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method, it was found that orange peels had better antioxidant activity than orange seeds. The orange peel extract with 96% Ethanol solvent had the greatest radical inhibition power among other extracts even though the whole extract had very weak antioxidant activity when analyze by the IC50 method.
Secondary Metabolites Identification and Antioksidan Activity of Rukam (Flacourtia rukam Zoll. & Mor.) Leaf Shoots From East Kalimantan Paula Mariana Kustiawan
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i2.20379

Abstract

Rukam (Flacourtia rukam Zoll. & Mor.) is one of the forest plants from East Kalimantan which has the characteristic of edible fruit and red leaf shoots. There is still no research on the compounds and activities of the leaf shoots of F. rukam. The aim of this study was to identify secondary metabolites of F.rukam leaf shoots and their antioxidant activity. Qualitative phytochemical testing methods with color changes were carried out to identify secondary metabolites. Antioxidant activity test was determined by using DPPH method (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Phytochemical test results from leaf shoots of F.rukam showed the presence of alkaloids, flavonoids, triterpenoids, tannins and carbohydrates. The antioxidant activity of F.rukam leaf shoots at concentrations of 25, 50, 100 μg/mL was 84, 86, 88% compared to vitamin C 92,94, 95%. This showed that the leaf shoots of F. rukam have a promising potential for antioxidant activity.
Perbandingan Kadar Kurkumin Di Rimpang Kunyit (Curcuma Longa L.) Pada Beberapa Lokasi Tumbuh Di Pulau Lombok Dwiki Setyo Nugroho; Dyke Gita Wirasisya; Agus Dwi Ananto
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i2.11997

Abstract

Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan tanaman yang sering digunakan untuk pengobatan di Indonesia. Tanaman ini memiliki kandungan kurkumin yang memiliki bergam aktivitas farmakologis. Perbedaan lokasi tumbuh dapat mempengaruhi kadar metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar kurkumin dari sebuk simplisia rimpang kunyit yang diambil di beberapa daerah di pulau lombok, sampel diekstrak menggunakan pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1:10 antara serbuk dengan pelarut, kemudian pelarut diuapkan untuk mendapatkan ekstrak kental. Kadar kurkumin dihitung dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil perhitungan diperoleh kadar kurkumin tertinggi yaitu Kabupaten Lombok Utara sebesar 39,5341 g/ 100g, diikuti oleh Kabupaten Lombok Barat sebesar 28,8039 g/ 100g, Kabupaten Lombok Tengah sebesar 18,5185 g/ 100g, dan Kabupaten Lombok Timur 8,0655 g/ 100g. Dilanjutkan validasi data berupa parameter perolehan kembali SD, CV, LoD dan LoQ dengan hasil yang baik.
Antidiabetic Assay from Clusiaceae Family by Inhibition of α-Glucosidase and α-Amylase Enzyme Activity Nuraini Puspitasari
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i2.20898

Abstract

Diabetes mellitus which is indicated by high amount of glucose in blood became one of serious problem in Indonesia. Inhibition of enzymes responsible for causing liberation of glucose level considered to have important role in overcoming Diabetes mellitus. Activity of α-glucosidase and α-amylase enzyme inhibition assay was held to 13 species from Clusiaceae family. α-glucosidase enzyme inhibition assay used acarbose as positive standard and showed 91.17 μg/mL of IC50 value. Those which had IC50 value less than Acarbose were 14 sampels with IC50 value ranged in 22,89 to 89,91 μg/mL. Meanwhile, The most potent inhibition activity of α-amylase were methanol extract of Clusiaceae family ranged from 6.48 to 40.39μg/mL