cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
ISLAM SEBAGAI ADIKUASA Hj. Salmah Intan Hj. Salmah Intan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2832

Abstract

Negara adikuasa merupakan negara yang berkuasa yang memiliki wilayah kekuasaan yang mampu bekehendak dan mempunyai pengaruh yang amat besar. Adikuasa Islam memiliki pengaruh, kekuatan besar, wilayah kekuasaan dan memiliki kehendak untuk mengatur wilayah tersebut yang pada masa lalu telah terjadi cukup alamat yang dimulai abad ke 8 M. s/d 13 M. yang puncak kejayaannya pada masa dinasti Abbasiyah. Islam sebagai adikuasa berlangsung cukup lama, sejak kepemimpinan Rasulullah di Yastrib dan dijadikannya sebagai kota madinah al-Nabawi, disinilah mulai muncul peradaban baru yang menjadi adikuasa bagi Islam yang bleum pernah terjadi dan tidak pernah disangka-sangka sebelumnya dalam kancah sejarah Islam. Selanjutnya Islam sebagai adikuasa terus berlanjut pada periode khulafa al-Rasyidin, masa bani Umayyah sampai kepada masa bani Abbasiyah.Faktor-faktor penyokong Islam sebagai adikuasa terbagi menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor intern meliputi ajaran dan nilai Islam, watak bangsa Arab, penguasaan strategi dan medan, berkembangnya pemikiran rasional agamais, berkembangnya sains (ilmu pengetahuan dan teknologi), profesionalisme, pemakaian mazhab muktazilah sebagia mazhab resmi daulah Abbasiyah. Faktor ekstern antara lain kelemahan Bizantium dan Persia, alasan ekonomi serta kedekatan etnis.
KONTRIBUSI ABU BAKAR TERHADAP PERKEMBANGAN ISLAM Muhammad Dahlan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 5 No 2 (2017): Rihlah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v5i2.4166

Abstract

Abu Bakar memberikan pertimbangan tentang kariteria pengganti Nabi.  mengajukan dua tokoh Quraisy, Umar bin Khattab dan  Abu Baidah bin Jarrah, untuk dipilih salah satunya. Orang-0rang Ansar sangat terkesan dengan penjelasan Abu Bakar dan tampak berharap kepadanya, namun segera Umar bin Khattab berdiri dan mengajukan Abu Bakar sebagai pengganti Nabi. Pasalnya, bahwa Abu Bakar jauh lebih tepat dari pada dirinya. Sebab, menurutnya, Abu Bakar adalah orang kepercayaan Nabi, jika beliau uzur menjadi imam shalat, maka Abu Bakar diminta untuk menggantikannya. Atas dasar itu, hadirin tidak keberatan menerima Abu Bakar sebagai Khalifah. Abu Bakar menjabat sebagai khalifah selama dua tahun. Dalam masa pemerintahan tersebut, ia melanjutkan misi ekspedisi Usama bin Zaid yang telah dipersiapkan Rasulullah pada masa hidupnya, mengambalikan kaum muslimin dalam ajaran Islam yang benar dan memerangi kaum murtad, mengumpulkan Alqur’an dalam satu mushaf, dan mengirim pasukan ke Irak dan Syam untuk menyebarkan ajaran Islam.
Madrasah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam (Sistem dan Perkembangannya Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan) Rahmat Rahmat
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 1 No 01 (2014): Mei
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v1i01.649

Abstract

Madrasah is analternative educational institution for the parents to be the venue for the education of her son. The number of madrasah from one period to the next government has developed. Therefore, policy makers and others involved in the educational process at the school should pay attention to the learning systemas the early history of its formation.The Growth madrasah in Indonesia against the back drop of two factors; First, factors renewal of Islamic thought which responded by breathing santri who studied in the Middle East. The second is response to the Dutch government's education policy. The development of madrasah before and after independence is determined policy authorities. Before independence policies adopted by the colonial government to wards education oriented to streng  the rule of Islam in Indonesia. After independence, the Indonesian government to law the madrasah education with a number of regulations and legislation
Kontroversi Sekitar Kekhalifaan Ali Bin Abi Thalib Soraya Rasyid
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 2 No 01 (2015): MEI
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v2i01.1352

Abstract

Ali’s era was colored by rebellion and chaos which were started from the death of Uthman Ibn Affan. That problem wasn’t resolved by Ali, had resulted the emergence of Jamal war, Siffin war, and there is also a challenge from Khawarij sect to the government of Ali. Jamal war occurred because of the involvement of the various interests from the people who had participated in the war, for example Aisha group involved because of the interests of Abdullah ibn Zubair and Talhah. In the other hand, the reason of Ali involved to that war is just because to maintained the existence of legitimate caliphate and the interests of Muslims. While the Siffin war happened for insubordination of Muawiyah Ibn Abi Sufyan and the sense of discontent against the existence Caliphate and Ali’s political policy against Usman. The war was ended with the tahkim to Ali, and Mu'awiyah got more benefits from that. The loses of Ali not only because the dismissal of him as caliph, but there are a lot of loses that Ali Caliph got, like some of his followers retreated and out of Ali’s line, because they disagree with the tahkim which was originated from the habit of jahiliyah. Those who came out had known as the Khawarij who always opposed Ali and Muawiyah.
PERANAN SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN DALAM PERKEMBANGAN ISLAM DI BIMA Saidin Hamzah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 1 (2016): JUNI
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2600

Abstract

Muhammad Salahuddin lahir dalam lingkungan istana dan dibesarkan oleh para ulama. Dari didikan ulama inilah sehingga membentuk kepribadian sultan sampai tumbuh dewasa. Muhammad Salahuddin di nobatkan menjadi Sultan setelah kematian saudaranya Abdul Azis dan mendapatkan pelajaran dari ulama di daerah dan luar daerahnya sehingga pada masa kepemimpinanya Islam di Bima mengalami perkembangan.  dalam mengembangan Islam di Bima Sultan melakukan pembaharuan sehingga pada masanya Islam di Bima mengalami kejayaan. Adapun hal-hal yang dilakukan oleh Sultan adalah membagun lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun  non formal, dan masjid-masjid. dalam menunjang kemajuan daerah Bima Sultan membiayai dan memberikan beasiswa kepada remaja yang sekolah di timur tengah dan bagi mereka yang memiliki kemampuan dalam bidang agama.
ELIT POLITIK DAN KETERLIBANNYA DALAM PIMILUKADA DI KOLAKA UTARA Surayah Rasyid
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 5 No 1 (2017): Rihlah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3185

Abstract

Orientasi politik di kalangan elit politik dalam pemilukada setidaknya dapat dilihat pada dua hal, yaitu orientasi yang bersifat pragmatis dan yang bersifat ideologis. Orientasi pragmatis adalah dimana elit-elit politik memposisikan dirinya sebagai “elit lokal” untuk berjuang memenangkan pemilihan yang dilakukan sekali dalam lima tahunan itu. Dalam konteks ini elit-elit politik akan memaksimalkan usahanya untuk memperoleh kekuasaan karena itu yang menjadi orientasi politik. Sementara orientasi ideology, elit politik yang terjun ke gelanaggang politik merupakan panggilan hati untuk mengawal proses demokratisasi agar tercipta masyarakat yang aman, tentaram, adil dan makmur. Atau dengan bahasa agama, bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar. Jika dilihat kedua orientasi tersebut, maka orientasi yang bersifat pragmatisme ini lebih dominan dibandingkan dengan yang bersifat ideology. Kepentingan pragmatis motivasinya bisa beragam sesuai dengan keragaman kepentingan dan orientasi elit tersebut. Dan orientasi politik di kalangan elit bisa beragam motivasinya. Motivasi itu  ada yang karena ingin berkuasa, ada karena ingin mencari nafkah lewat politik, ada karena ingin mengembangkan wawasan kebangsaan,  dan ada pula karena ingin terkenal. Tetapi dari hasil penelitian mnunjukan bahwa motivasi kekuasaanlah yang paling dominan dari pada yang lain.
Tradisi A’rera’ pada Masyarakat Petani di Desa Datara Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa (Suatu Tinjauan Sosial Budaya) Soraya Rasyid
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 2 No 01 (2014): OKTOBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v2i01.1343

Abstract

A'rera tradition ' for Village Community Datara Tompobulu District of Gowa implemented with the advanced preparation in advance as set the correct time, prepare supplies such as tools required during the event. Furthermore a'rera executed alternately with each other. This means that each participant or person engaged in activities that a'rera turn to assisted working the fields or gardens. This rule was made not in writing but based on agreement among participants a'rera musawarah. From a social point of view of culture, tradition a'rera ' can change the structure of society in the new forms, eventually evolved tarap their lives for being able to cultivate the land and paddy plantation they become productive. In addition, the social impact they caused on increasing their agricultural productivity through a'rera tradition is increasing joints life better than ever before. A'rera indirectly give the feel of a very conducive life because through a'rera means' they can help each other and feel the social dimension within each petani.Tujuan implementation a'rera tradition' for rural communities Datara Tompobulu District of Gowa aims to to facilitate the implementation of agricultural work, finish work in the garden to the maximum, foster a sense of brotherhood and mutual help instill among fellow farmers and residents in the village Datara. A'rera tradition should be preserved and developed in order to maintain the erosion of local heritage because it genitas this legacy is a legacy that is capable members positive color in building lifestyle of the farming community in particular and society in general Indonesia.
ARTIKULASI ISLAM DALAM KEBERAGAMAN BUDAYA DI TANAH LUWU (Resolusi Konflik dalam Perspektif Islam) Rahmat Souli
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 1 (2016): JUNI
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2573

Abstract

Konflik yang terjadi di tanah Luwu diltarbelakangi persoalanpersoalan sepele dan bersifat individual kemudian berkembang menjadi persoalan yang  mengatasnamakan kelompok etnis dan agama, disusupi perbedaan kepentingan, baik kepentingan ekonomi maupun kepentingan sosial budaya. Dari berbagai persoalan yang berakumulasi akhirnya menimbulkan konflik yang menelan koraban nyawa dan harta. Sebagai Umat terbesar di tanah Luwu, umat Islam selayaknya mengambil peran  mengantisipasi konflik melalui penelusuran makna Islam, baik secara konsepsi maupun secara faktual (realitas sejarah). Konsepsi tentang  bergaul dalam masyarakat yang beraneka ragam (plural) etnis dan agama sesungguhnya telah dikemukakan dalam al-Qur’an dan hadis Nabi. Secara faktual dapat dibaca pada kisah Rasulullah dan pengikut-pengikutnya dalam rangka menebarkan kedamaian. Sebagai sarana dalam mensosialisasikan pemaknaan Islam (artikulasi Islam) adalah lewat jalur pendidikan agama dengan jalan penyesuaian kurikulum.
Pemerintahan Demokrasi Persfektif Masyarakat Tomanurung Kedatuan Luwu Syamzan Syukur
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 1 No 01 (2014): Mei
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v1i01.667

Abstract

This paper reveals that the public administration of Tomanurung at Kedatuan Luwu that appeared in the XI-XV century has been implementing democracy model of government. Despite the model of that democratic government was not exactly same with democracy right now, but it's interesting that people in the government as supporting traditional communities have been able to devise a system of government where the people have a hand in determining the model or system of government. Supporting community has reached the stage of thinking that people have the right communities in making decisions that can change their lives through the representation of all groups. Community of Tomanurung at Kedatuan Luwu without the outside influences hase dispensing system of democratic governance. Democracy interpreted to allow citizens to participate, either directly or through representatives in formulating and developing the system of government. So, democracy of kedatuan Luwu take the last model of democracy that democracy is understood to allow citizens to participate through representatives.
Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam (Kasus Madrasah Nidham al-Mulk) Hasaruddin Hasaruddin
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 2 No 01 (2015): MEI
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v2i01.1364

Abstract

In the history of human life, there is always requires the progress and development in order to improve their living standards. For that matter, there are the ideas about transfer, preservation and development of human culture, in order to improve the quality of human resources in the future. Therefore, in the history of the growth and development of society, education is a great topic which is always gets an attention in order to improve the human resources, trough by the times.Nidham al-Mulk who was very concerned with the progress and development of society, had strived to continuously maintained and improved the human resources in his era. In that time, education implemented in various mosques, but because the number of students and in order to maintain the quality of worshipping to the God then, Nidham al-Mulk founded madrasah to response the demands of society in order to study well, namely Nidhamiah.

Page 10 of 22 | Total Record : 218