Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan is an international social religious research journal, focuses on social sciences, religious studies, and local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject.
The subject covers literary and field studies with various perspectives i.e. philosophy, culture, history, education, law, art, theology, sufism, ecology and much more.
Articles
452 Documents
PENDIDIKAN AGAMA DALAM KULTUR SEKOLAH DEMOKRATIS: POTENSI MEMBUMIKAN DERADIKALISASI AGAMA DI SEKOLAH
Jannet, Herly
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.23.1.223
This study aimed in general to determine and describe the religious education in a democratic school culture is one of potential strategies in disseminating religious de-radicalization in schools. Applying qualitative naturalistic approach with case study, this study focused the location in Christian High School Urimessing Ambon. The object of this research was the all democratic phenomena found in the process of teaching and learning of Christian education. The results of this study can be described as follows: religious education in a democratic school culture has the potential to disseminate de-radicalization because the learning process optimized the attitude of critical thinking on freedom, independence, and accountability that were assumed to build the belief, attitude and norm of student to: (1) deepen and believe their own religious teachings; (2) commit to transform their religious teacgings in their daily life, both individually and socially; and (3) become the real who got off from violence and anarchy in realizing their objectives.***Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan Pendidikan Agama dalam kultur sekolah demokratis sebagai salah satu strategi membumikan deradikalisasi agama di sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif naturalistik dengan strategi studi kasus dan mengambil tempat penelitian di SMA Kristen Urimessing Ambon. Objek penelitian ini adalah keseluruhan gejala demokratis dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama Kristen. Hasil penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut, Pendidikan Agama dalam kultur sekolah demokratis berpotensi membumikan deradikalisasi, karena dalam proses belajar mengajar mengoptimalkan sikap kebebasan berpikir kritis, kemandirian, dan akuntabilitas sehingga dapat membentuk keyakinan, sikap dan norma peserta didik untuk: (1) mendalami dan meyakini ajaran agamanya sendiri; (2) berkomitmen mentransformasikan ajaran agamanya secara baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial bermasyarakat; dan (3) memberi teladan secara konkret tidak terjebak menggunakan kekerasan dan anarkisme dalam mewujudkan keinginan.
DINAMIKA WACANA FORMALISASI SYARIAT DALAM POLITIK: IKHTIAR MENEMUKAN RELEVANSI RELASI AGAMA DAN NEGARA PERSPEKTIF INDONESIA
Iqbal, Mahathir Muhammad
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.22.1.260
This research is an effort to find the relevance of the relationship between religion and the state are ideal. Because the formalization of Islamic shariah issue in political discourse is an interesting study in the relation between religion and state. By using the library approach, this article analyzes the involvement of the state in regulating citizens to implement Islamic shariah in Indonesia. Neutrality of the state to be the key in finding the relationship of both. Theoretically, this study provides an explanation that neutrality is not only understood as a state of devotion to give the rights of citizens to pray by faith, but also to limit citizens. For the implementation of shariah will be established and run well, when the state has a neutrality. So the state does not attract Islamic shariah becomes an official policy or state laws (shariah formalization). So also a Muslim can bring religion into the political circle, but only in the level of political ethics.***Penelitian ini merupakan ikhtiar untuk menemukan relevansi hubungan agama dan negara yang ideal. Sebab Isu formalisasi syariat Islam dalam politik menjadi kajian menarik dalam wacana relasi agama dan negara. Dengan menggunakan pendekatan pustaka, artikel ini menganalisis keterlibatan negara dalam mengatur warga negara untuk mengimplementasikan syariat Islam di Indonesia. Adanya netralitas negara menjadi kunci dalam menemukan relasi keduanya. Secara teoritis, studi ini memberikan penjelasan bahwa netralitas tidak hanya dipahami sebagai pengabdian negara untuk memberikan hak-hak warga negara untuk berdoa berdasarkan iman, tetapi juga untuk membatasi warga negara. Sebab dalam pelaksanaan syariat akan dapat mapan dan berjalan dengan baik, manakala negara memiliki netralitas. Sehingga negara tidak menarik syariat Islam menjadi sebuah kebijakan resmi atau peraturan negara (formalisasi syariat). Dengan begitu seorang Muslim dapat membawa agama ke dalam lingkaran politik, tetapi hanya dalam tingkat etika politik.
ISLAM DAN OTORITAS KEAGAMAAN
Rumadi, Rumadi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.20.1.183
Is religion possible to grow without any authority? Generally people responded the question with two speculative answers: “religion can be and grow without any authority” and “religion can not be and grow without any authority”. The first opinion is based on the argumentation that religion constitutes a divine total comprehension. It does not need any other than the submission of human being to God. Meanwhile, the second opinion is based on the argumentation that religion constitutes individual rights to communicate and submit to God, but in social sphere the development of religion needs “distributors” having credibility to speak and transmit religious messages. However, in fact, religious authority is not a static one, but dynamic. Levels of religious authority and inter relation between the authority levels is a part of the dynamics.***Mungkinkah agama tumbuh tanpa otoritas?Pada umumnya jawaban atas pertanyaan ini ada dua:”agama dapat tumbuh tanpa otoritas” dan “agama tidak dapat tumbuh tanpa otoritas”, Pandangan pertama didasarkan pada argumentasi bahwa agama merupakan pemahaman total terhadap ketuhanan. Yang dibutuhkan dalam konteks ini adalah ketundukan terhadap Tuhan semata. Sementara pandangan kedua didasarkan pada argumentasi bahwa agama merupakan hak individual untuk berkomunikasi dan menyerahkan diri kepada Tuhan,namun di dalam lingkup sosial perkembangan agama membutuhkan “penyebar” yang memiliki kredibilitas untuk berbicara dan menyampaikan pesan-pesan agama. Namun demikian, dalam kenyataannya otoritas agama bukan merupakan hal yang statis, namun dinamis. Tingkat otoritas keagamaan dan inter relasi antar tingkat-tingkat otoritas merupakan bagian dari dinamika tersebut.
THE DEVELOPMENT OF ISLAMIC SOCIETY BASED ON CELESTIAL BUSINESS
Safei, Agus Ahmad
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.24.1.606
Empirically, Islamic society in Indonesia —as the majority of the population— hasnot been able to compete with the various advantages possessed by Islamic societies in other countries, particularly in the developed ones. Academically, the conceptual references on the development of Islamic society are relatively hard to find. These facts warrant both empirical and academic efforts to develop the concepts and formulas of Islamic society development, especially regarding its economical aspect. This report will further describe the importance of a formula for developing Islamic society, based on celestial business (al-mubaya’ah al-samawiyah), and how it can be a solution to the problem of economical dis¬advantages in Islamic societies. This research used literary method that conducted by analyzing various literatures relevant with the topic of the research. The findings show that conceptually, the celestial business (business with God) formula is relevant for the development of the economic aspect of Islamic societies. This formula offers equilibrium between the satisfaction of material and spiritual needs, or the physical and spiritual needs. On the higher level, it can be an alternative formula to develop the economic aspect of any Islamic society.
***
Secara empirik, masyarakat Islam Indonesia –sebagai penduduk mayoritas– masih jauh dari berbagai keunggulan dibandingkan dengan sesama umat dari negara-negara lain, terutama negara-negara maju. Secara akademik, referensi terkait dengan rujukan konseptual tentang pengembangan masyarakat Islam juga relatif sulit ditemukan. Fakta ini menuntut adanya ikhtiar empirik dan akademik untuk melahirkan berbagai formula pengembangan masyarakat Islam, khususnya pada aspek ekonomi. Tulisan ini memaparkan pentingnya formula pengembangan masyarakat Islam yang bertumpu pada “bisnis langitan” ( al-mubāya'ah al-samāwiyah). Pada level yang lebih luas formula ini dapat menjadi solusi atas problem ketertinggalan ekonomi masyarakat Islam. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan berbagai bentuk literatur yang diposisikan setara terkait dengan topik utama penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara konseptual, formula “celestial business” (berbisnis bersama Tuhan) relevan untuk diterapkan dalam pengembangan masyarakat Islam pada aspek ekonomi. Formula ini menawarkan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan aspek material dan spiritual, jasmani dan ruhani. Lebih lanjut, formula ini dapat menjadi formula alternatif dalam upaya pengembangan ekoomi masyarakat Islam.
THE RECONSTRUCTION OF ISLAMIC THEOLOGY IN THE UNITY OF SCIENCES
Yusriyah, Yusriyah
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.23.2.286
As a result of the processes of thinking on theological concept, Islamic theology may change according to its social dynamics. In the contemporary, theology can be studied by interdisciplinary sciences, which eventually theology became the source of the birth of some sciences. Hence, the science produced by the understanding of monotheism will produce peaceful religion for the universe (raḥmatan li ’l-‘ālamīn). The data presented in this article derived from the study applying literature review on the related topics of writing. Applying qualitative approach, this article showed that religion and science have a point of tangency. Science helps to facilitate human beings in their religious living. Concerning to faith, science activities can strengthen the faith and arise the motivation to express something in recognizing more toward God as the center of unity of existence (tawḥīd). In order to integrate the belief and sciences, it is needed the effort of islamization of science and the effort to reconstruct theology into a format that make it possible to dialogue with the reality of current development of thinking.***Sebagai hasil dari pemikiran konsep teologis teologi Islam dapat berubah sesuai dengan dinamika sosial. Dalam era kontemporer teologi dapat dikaji oleh ilmu-ilmu interdisipliner, yang akhirnya teologi merupakan sumber lahirnya beberapa ilmu sehingga ilmu yang dihasilkan oleh pemahaman tawḥīd akan menghasilkan agama damai bagi alam semesta (raḥmatan li ’l-‘ālamīn). Data yang disajikan dalam artikel ini berasal dari penelaahan terhadap literatur yang terkait dengan topik penulisan. Dengan pendekatan kualitatif artikel ini menunjukkan bahwa agama dan sains memiliki titik singgung. Ilmu membantu memfasilitasi manusia dalam kehidupan keagamaannya. Dengan iman, kegiatan ilmiah dapat memperkuat iman dan membuat motivasi untuk mengekspresikan sesuatu yang dapat menambah pengakuan terhadap Allah sebagai pusat kesatuan eksistensi (tawḥīd). Untuk mewujudkan ketersinggungan antara iman dan ilmu maka perlu islamisasi ilmu pengetahuan dan juga dalam upaya untuk merekonstruksi teologi ke format yang dapat berdialog dengan realitas perkembangan pemikiran yang berlangsung hari ini.
INDONESIAN ISLAMIC EDUCATION: TOWARDS SCIENCE DEVELOPMENT
Ja'far, Handoko
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.23.2.309
Education as the root of civilization has an important role in preparing human resources toward the effort of developing sciences. Nowadays, Moslem in the world are are divided into two attitudes: resisting and refusing the development of sciences. Both of the attitutes are needed to bridge wisely. It meant no one is burdened in facing modern sciences by the ways of appreciating the modern sciences, applying them appropriately and learning from the history of the development of knowledge in the glory age of Islam. This article tried to confirm that science as a result of education, is not only the representation of civilization but also the demonstration of the high value of civilization. In Indonesia, the idea to reconstruct the model of Islamic education is getting stronger in accordance with the development of modern education. In this context, the clasical knowledge as heritance needed to be transformed into the modern one. Transformation is something unavoidable by the institutions of Islamic education.***Pendidikan -sebagai akar peradaban- memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia menghadapi perkembangan ilmu. Saat ini, sikap umat Islam terbelah menjadi dua: menolak dan menerima perkembangan ilmu. Kedua sikap ini perlu ditengahi secara bijaksana. Caranya, merasa tidak terbebani dalam menghadapi sains modern dengan memberikan apresiasi dan menerapkannya secara benar. Di samping itu, dengan cara belajar dari sejarah perkembangan ilmu di masa kejayaan Islam. Artikel ini berusaha menegaskan bahwa ilmu pengetahuan sebagai buah dari pendidikan, tidak hanya menjadi representasi peradaban tetapi juga mampu menunjukkan tingginya nilai peradaban. Di Indonesia, gagasan untuk merekonstruksi model pendidikan Islam menguat seiring dengan perkembangan pendidikan modern. Dengan demikian, meskipun pengetahuan klasik merupakan warisan, namun perlu dilakukan transformasi ilmu yang selaras dengan dunia modern. Perubahan merupakan hal yang tidak dapat dihindari oleh lembaga pendidikan Islam.
PESANTREN SAINS: EPISTEMOLOGY OF ISLAMIC SCIENCE IN TEACHING SYSTEM
Yusuf, Mohamad Yasin
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.23.2.280
Muslims around the world mostly was under the domination of the West in the mastery of science and technology. Establishing educational institutions that are based on science and technology is one of the ways to solve the problem.This study had the purpose to examine the epistemology of science in the teaching system in SMA Trensains boarding school Tebuireng Jombang. Applying the method of field research through qualitative approach and philosophical analyses, this study revealed that SMA Trensains Tebuireng Jombang applied "Islamic Science" in which science is constructed based on the revelation of God. It is meant that in Islamic epistemology, revelation and the Sunnah are the sources which are inspiring for building sciences. It is hoped that the building the Islamic epistemology of science will bear pious Muslim generation in religious field and proficient in science and technology, and it will impact to the glory of Islamic civilization in the future.***Pada umumnya, umat Islam di dunia ini berada di bawah dominasi Barat dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Pendirian lembaga pendidikan yang didasarkan pada ilmu dan teknologi merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut. Kajian ini bertujuan untuk meneliti epistemologi ilmu dalam sistem pengajaran di SMA Trensains di pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Dengan menggunakan metode penelitian lapangan dan dengan pendekatan penelitian kualitatif serta analisis filosofis, kajian ini menemukan bahwa SMA Trensains Tebuireng Jombang menerapkan Sains Islam, di mana ilmu dibangun berdasar wahyu Tuhan. Maksudnya adalah bahwa dalam epistemologi Islam wahyu dan sunnah adalah sumber yang memberikan inspirasi bagi pembangunan ilmu pengetahuan. Diharapkan pembangunan epistemologi Islam untuk ilmu pengetahuan akan melahirkan generasi Muslim yang shalih dalam bidang agama dan ahli dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang pada gilirannya akan memberikan dampak bagi kejayaan peradaban Islam di masa yang akan datang.
KINERJA, DAYA TARIK, DAN KEPUTUSAN NASABAH PADA BAITUL MAL WAT TAMWIL DI PROVINSI JAMBI
Rahman, Adi;
Desmaryani, Susi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.24.1.599
The development of Baitul Mal wa Tamwil (BMT) in Jambi Province in recent years is quite dynamic. Some are well developed, while some others are not. The purpose of this study was to determine the performance, appeal and customers’ decision on BMT in Jambi Province. The method used was descriptive analysis. The population of this research was 5616 customers from 33 BMT. Sampling technique used was quota sampling as many as 171 samples from 9 BMT. The result obtained from the average value of all the answers on capital variable is 3.65, which means that the variable of sharia capital is in good category. Appeal variable average value is at 4.01, which means good. Customers’ decision variable is also in good category, with an average value of 3.95. This shows that the presence of BMT is generally accepted by the public and potential to develop well, especially in the segment of Micro, Small and Medium Enterprises (SMEs).
***
Perkembangan Baitul Mal wa Tamwil (BMT) di Provinsi Jambi dalam beberapa tahun terakhir cukup dinamis, ada yang yang berkembang dengan baik namun ada juga yang sulit berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menge¬tahui bagaimana kinerja, daya tarik dan keputusan nasabah pada BMT di Provinsi Jambi. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif. Jumlah populasi sebanyak 5616 nasabah dari 33 BMT, teknik pengambilan sampel menggunakan kuota sampling sebanyak 171 sampel dari 9 BMT. Hasil yang diperoleh dari nilai rata-rata semua jawaban pada variabel permodalan adalah sebesar 3.65, yang berarti variabel permodalan syari’ah termasuk pada kategori baik, begitu juga pada variabel daya tarik, nilai rata-ratanya berada pada 4.01 yang berarti baik, dan variabel keputusan nasabah juga berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata 3.95. Hal ini menunjukan bahwa keberadaan BMT secara umum diterima dengan baik oleh masyarakat dan berpotensi untuk berkembang baik terutama di segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
THE DEVELOPMENT OF SCIENCES IN AL-QUR'AN PERSPECTIVES
Soleha, Soleha;
Adrian, Adrian
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.23.2.287
This research applied the method of interpretation and bi ’l-ra'y approach. It tried to reinvent the spirit of the Qur'an and Hadith to push humankind to develop science integratively and to make it beneficial for human beings and nature. The research confirmed that human beings as khalīfah fi ’l-arḍ, was given the right and freedom to explore what is on this earth and its contents with all its potential. Even in the Qur'an, Allah has made available all materials for the development of science, al ayah al-kawniyyah verses. Al-Qur'an as a resource of knowledge in Islam stated that one of the advantages human beings from the others is that they were endowed reason to search and explore science for the progress of human beings.***Penelitian ini dengan menggunakan metode interpretasi dan pendekatan bi ’l-ra'y, mencoba untuk menciptakan kembali semangat Qur'an dan Hadits untuk mendorong manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara integratif dan membantu untuk manusia dan alam. Penelitian ini menegaskan bahwa manusia sebagai khalīfah fi ’l-arḍ, diberi hak dan kebebasan untuk dieksplorasi apa yang ada di bumi ini dan isinya dengan semua potensinya. Bahkan dalam al-Qur'an Allah telah menyediakan bahan-bahan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, yang tentunya di sisi lain dengan ayat kawniyyah. Al-Qur'an sebagai sumber pengetahuan dalam Islam yang menyatakan bahwa salah satu keuntungan manusia dibandingkan makhluk yang lain adalah diberikan pikiran untuk mencari dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan untuk kemajuan manusia.
THE LESS-INTERRESTED OF ISLAMIC BANK FOR ISSUING SUKUK: Factors and Recommendations
Awaludin, Taufik;
Syauqi Beik, Irfan;
Ismal, Rifki
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/ws.24.1.693
This study attempts to identify dominant factors for banks to issue sukuk and emission features. Applying interviews and Analytic Network Process, this paper Found that the sub-elements which are dominant in influencing IB less interested in issuing sukuk, namely: averse selection/amount cost of fund (management), investment rating companies (investor), the results of using sukuk funds (regulation) and profitability condition (finance). Meanwhile, the sub-elements which are dominant in determining the features of the issuance of sukuk are: macroeconomic condition (emission values), expectations of investors (return)), the contract and the structure of sukuk (collateral), managing mismatch (period), and company liquidity (payment term). The method used in this reseach is the Analytic Network Process (ANP). This study will identify the aspects of emission factors and features.***Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi faktor-faktor dominan dalam persoalan sukuk dan ciri-ciri pengeluarannya. Menerapkan teknik wawancara dan proses jejaring analitis, makalah ini menemukan bahwa sub-sub elemen yang dominan mempengaruhi kurang menariknya IB dalam persoalan sukuk, adalah: menolak seleksi/jumlah pembiayaan (manajemen), rating investasi perusahaan (investor), hasil-hasil penerapan pembiayaan sukuk (regulasi) dan kondisi profitabilitas (keuangan). Sementara itu, sub-sub elemen yang dominan dalam menentukan ciri-ciri pengeluaran sukuk adalah: kondisi makro ekonomi (nilai pengeluaran), ekspektasi dari investor (keuntungan), kontrak dan struktur sukuk (jaminan), pengelolaan yang tidak sebanding (waktu) dan likuiditas perusahaan (syarat-syarat pembayaran). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analytic Network Process (ANP). Penelitian ini akan mengidentifikasi aspek faktor emisi dan fitur. ANP adalah teori matematika dalam pengambilan keputusan yang mampu menganalisis pengaruh melalui asumsi untuk memecahkan berbagai masalah.