cover
Contact Name
Derry Ahmad Rizal
Contact Email
derry.rizal@uin-suka.ac.id
Phone
+628562577044
Journal Mail Official
prodisaafusap@gmail.com
Editorial Address
Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Telepon (0274) 512156 ext. 43109
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Religi: Jurnal Studi Agama-agama
Religi: Jurnal Studi Agama-Agama is an open access peer reviewed research journal published by Department of Religious Studies, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama is providing a platform for the researchers, academics, professional, practitioners and students to impart and share knowledge in the form of empirical and theoretical research papers, case studies, and literature reviews. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama welcomes and acknowledges theoretical and empirical research papers and literature reviews from researchers, academics, professional, practitioners and students from all over the world. This publication concern includes studies of world religions such as Islam, Christianity, Buddhism, Hinduism, Judaism, and other religions. Interdisciplinary studies may include the studies of religion in the fields of anthropology, sociology, philosophy, psychology, and other cultural studies.
Articles 249 Documents
Soteriologi Buddhis: Jalan Arhat dan Jalan Boddhisattva Novian Widiadharma; Lasiyo Lasiyo; Sindung Tjahjadi
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 1 (2023): Edisi Jurnal Vol. 19 No.1 Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v19i1.4396

Abstract

Soteriology is a branch of theology that studies salvation which provides a framework for understanding how individuals can achieve spiritual liberation and offers guidance on how to live a good life. The specific beliefs and practices associated with them may vary between different religions, but the concept of salvation is a common thread that exists across many religions. Soteriology is important in Buddhism because it provides a framework for attaining liberation from suffering and the cycle of rebirth. The ultimate goal of Buddhism is to attain Nirvāna, the state of complete liberation from suffering. The Catvāri Āryasatyānī (Four Noble Truths), Āryāṣṭānga mārga (Noble Eightfold Path), and other Buddhist teachings all contribute to the Buddhist soteriological framework. Hinayāna and Mahāyāna are two main branches of Buddhism that have different approaches to soteriology. The goal of Hinayāna soteriology is to attain the state of an Arhat, a state of complete personal liberation from suffering and rebirth. While Mahāyāna has the Bodhisattva concept. The ultimate aim of Mahāyāna soteriology is to attain Buddhahood, the state of perfect enlightenment, and use that attainment for the benefit of all sentient beings. They provide guidance for practitioners to develop ethical conduct, wisdom, and mindfulness to advance on the path to liberation.
Perayaan Sabat pada Gereja Masa Kini: Kajian Living Theology Ulangan 5: 12-15 Joni Tapingku
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 1 (2023): Edisi Jurnal Vol. 19 No.1 Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis ajaran Sabat secara teologis dalam Ulangan 5:12-15, dan bagaimana Gereja masa kini mempraktikkannya menjadi hari Minggu, dan larangan untuk beraktivitas apa pun pada hari Sabat. Untuk menjawab fokus penelitian ini, penelitian ini menggunakan pendekatan hermeunetika dengan interpretasi teks atau makna tertulis untuk mendapatkan makna dari teks keagamaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gereja masa kini mempraktikkan Sabat secara praktis menjadi hari Minggu karena argumen-argumen berikut. Pertama, Sabat dalam perspektif teks Ulangan 5:12-15 adalah Sabat merupakan hari yang diberkati Tuhan, namun yang dimaksud bukanlah 'harinya' yang berdurasi 24 jam, melainkan inti Sabat itu sendiri, yakni perhentian. Sehingga dipindah ke hari Minggu pun tetap relevan. Kedua, Sabat adalah hari untuk mengingat pembebasan Allah kepada umat-Nya. Kata Kunci: Sabat, Ulangan 5:12-15, Gereja Masa Kini Abstract: The purpose of this study is to analyze the theological teachings of the Sabbath in Deuteronomy 5:12-15, and how the Church today practices it to become Sunday, and prohibits any activity on the Sabbath. To answer the focus of this research, this study uses a hermeneutical approach with text interpretation or written meaning to get meaning from religious texts. This type of research is library research. The results of the research show that the modern Church practices Sabbath practically as Sunday because of the following arguments. First, the Sabbath in the perspective of the text of Deuteronomy 5:12-15 is the Sabbath is a day blessed by God, but what is meant is not the 'day' which lasts 24 hours, but the essence of the Sabbath itself, namely rest. So moving to Sunday is still relevant. Second, the Sabbath is a day to remember God's deliverance to His people. Keywords: Sabbath, Deuteronomy 5:12-15, The Church Today
Pembudayaan Agilitas Bisnis Pengusaha Muslim, Hindu dan Konghuchu Lukman R Fauroni; Khairul Imam; Erham Budi Wiranto
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 1 (2023): Edisi Jurnal Vol. 19 No.1 Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v19i1.4587

Abstract

Abstrak Agama-Agama, karena dimensi transendentalnya yang kuat, sering dianggap kurang mendukung aktivitas duniawi, termasuk bisnis. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi teologi ekonomi dan agilitas pengusaha yang justru bersumber dari ajaran-ajaran keagamaan. Studi dilakukan terhadap umat Muslim di Kotagede Yogyakarta, Hindu di Denpasar, dan dan Konghucu di Lasem. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi kemudian dianalisis secara kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa para pelaku ekonomi dan pengusaha dari ketiga agama yaitu Islam, Hindu dan Konghucu, menggunakan keyakinan teologis sebagai pembentuk dan penggerak motif berekonomi termasuk dalam mempengaruhi semangat dalam berusaha. Agilitas bisnis pengusaha Muslim ditandai dengan karakteristik modal sosial berpola bounding yaitu ikatan-ikatan yang dibentuk dari tradisi sosial keagamaan muslim seperti kumpulan, menjenguk orang sakit, ta’ziyah, dan pergaulan di tempat usaha (pasar). Sedangkan agilitas bisnis Hindu dibangun dari ajaran Dharma, Catur Purusa Artha, dan Panca Sradha. Adapun agilitas bisnis pengusaha Konghucu ditopang oleh karakter worldview ajaran Konfusius yang sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan horizontal antara sesama manusia. Agilitas bisnis para pengusaha Muslim, Hindu dan Konghucu didorong oleh teologi ekonomi yang mereka hayati. Kata kunci: teologi ekonomi, agilitas bisnis, Muslim, Hindu, Konghucu Abstract Religions are frequently viewed as being opposed to worldly pursuits, such as business, because of their essential transcendental character. This study aims to explore economic theology and business agility, which are actually manifestations of religious doctrine. Muslims in Kotagede, Yogyakarta, Hindus in Denpasar, and Confucians in Lasem were the subjects of the study. Data were gathered through observations and interviews; then qualitative analysis was performed. According to this study, economic actors and entrepreneurs from the three major religions use their theological convictions to influence their economic motivations, especially their level of entrepreneurship. The features of social capital with a bounding pattern, namely bonds invented from Muslim socio-religious traditions such as meetings, visiting sick people, ta'ziyah, and association at the site of business (market), characterize the business agility of Muslim entrepreneurs. As compared to this, Hindu business agility is based on the Dharma, Catur Purusa Artha, and Panca Sradha teachings. The worldview of Confucius' teachings, which place significant emphasis on the value of sustaining relationships between human beings, supports the entrepreneurial agility of Confucian entrepreneurs. The economic theology of Muslim, Hindu, and Confucian entrepreneurs drives their economic agility. Keyword: economic theology, business agility, Muslim, Hindu, Confucianism
AGENSI TRADISI LALABET PESANTREN ANNUQAYAH DAERAH LUBANGSA, GULUK-GULUK, SUMENEP, MADURA TERHADAP NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA Abd Warits
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v18i1.4689

Abstract

Paham radikalisme, ektremisme dan terorisme sudah mulai merangsek ke lembaga pendidikan, sekolah umum, termasuk pesantren dari berbagai tipologinya (tradisional, modern dan konvergensi). Radikalisme dan ektremisme merupakan dua hal yang seringkali yang menghantui pikiran setiap masyarakat. Pesantren selalu diterpa badai meski esensinya pesantren selalu menguatkan nilai moderasi beragama dengan tradisi dan budayanya dalam paradigma masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa melalui tradisi lalabet atau takziyah. Penelitian ini akan mengungkap dua hal: Pertama, bagaimana potret dan impelementasi tradisi lalabet di pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, Guluk-guluk Sumenep dalam membumikan nilai –nilai moderasi beragama. Kedua, bagaimana agensi tradisi lalabet pesantren terhadap aktualisasi nilai-nilai moderasi beragama. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Artikel ini menggunakan model penelitian lapangan (field Research) dengan objek Tradisi Lalabet di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, Guluk-guluk Sumenep dan agensi perspektif Anthony Giddens. Hasil dari penelitian ini menghasil tradisi lalabet di pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, Guluk-guluk Sumenep, Madura menjadi salah satu agensi di dalam membumikan nilai moderasi beragama. Di antaranya; komitmen kebangsaan, akomodatif terhadap budaya lokal melalui tahlil, yasin dan khataman, toleransi terhadap musibah yang menimpa orang lain (empati). Selain itu, pembumian kearifan lokal tradisi lalabet di Pondok Pesantren Annuqayah dimotivasi oleh kiai, aturan pesantren, dan agensi dan strukturasi pengurus pesantren dan santri.
Pembunuhan Pertama Manusia dalam Kitab Suci; Kajian Komparatif Al-Qur’an dan Bible Afwadzi, Benny
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 1 (2024): Vol. 20 No. 1 (2024) Pemikiran, Moderasi dan Isu Agama Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i1.2718

Abstract

Artikel ini fokus mengkaji pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia yang dilakukan oleh Qābīl kepada Hābīl dalam Al-Qur’an dan Bible. Kisah ini dituturkan oleh Al-Qur’an (meskipun anonim) dalam Q.S. al-Mā’idah [5]: 27-31 dan oleh Bible dalam Kitab Kejadian 4: 1-26. Dengan tujuan memperoleh hasil yang komprehensif dan menunjukkan perbedaan serta persamaan antara kedua tradisi yang berbeda, penulis menggali data dari berbagai kitab tafsir Al-Qur’an dan juga tafsir atas Bible, begitu pula artikel-artilel jurnal yang berkaitan dengan ini. Penulis menyimpulkan bahwa cerita dalam Bible ditulis secara lebih lengkap. Meskipun demikian, ada beberapa konten cerita yang tidak dipaparkan oleh Bible ternyata disebutkan oleh Al-Qur’an, misalnya dialog antara Qābīl dengan Hābīl dan pengutusan burung gagak. Secara lebih luas, bisa dikatakan bahwa dua kitab suci ini sebenarnya membawa materi sendiri-sendiri yang saling melengkapi satu sama lain. Benang merah keduanya hanya berkisar pada proses pengurbanan, penerimaannya, dan pembunuhan Hābīl oleh Qābīl. Gaya penuturan yang berbeda ini dikarenakan tujuan yang berbeda. Al-Qur’an menginginkan adanya ibrah atas cerita yang disebutkannya, akan tetapi Bible lebih pada cerita yang cenderung lebih lengkap dan kronologis.This article focuses on examining the first murder in the history of mankind by Cain against Abel in the Al-Quran and the Bible. This story is told by the Qur'an (although anonymous) in the Q.S. al-Mā'idah [5]: 27-31 and by the Bible in the Book of Genesis 4: 1-26. With the aim of obtaining comprehensive results and showing the differences and similarities between the two different traditions, the author explores data from various interpretations of the Al-Qur'an and also the interpretation of the Bible, likewise journal articles relating to this. The author concludes that the story in the Bible is written more fully. Even so, there are some story content that is not described by the Bible which is actually mentioned by the Qur'an, for example the dialogue between Cain and Abel and the sending of the crow. More broadly, it can be said that these two scriptures actually carry separate materials that complement one another. The common thread of the two only revolves around the process of sacrifice, acceptance, and killing of Abel by Cain. These different styles of narrative are due to different purposes. The Qur'an wants ibrah (teachings) on the stories it mentions, but the Bible is more of a story which tends to be more complete and chronological.
Kesakralan Darah Menurut Saksi-Saksi Yehuwa; Analisa Hierofani Mircea Eliade Maulana, Abdullah Muslich Rizal; Nuriz, M. Adib Fuadi; Rahmafani, Dhea
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 1 (2024): Vol. 20 No. 1 (2024) Pemikiran, Moderasi dan Isu Agama Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i1.3570

Abstract

Saksi-Saksi Yehuwa adalah sebuah gerakan anti-trinitarian yang tengah berkembang secara global dengan sejumlah doktrin teologis yang kontras dengan denominasi Kristen pada umumnya. Melihat Saksi-Saksi Yehuwa lebih dekat diperlukan untuk mewujudkan peta diskusi teologis yang lebih baik dalam Kristologi, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan kesucian darah dalam pandangan Saksi-Saksi Yehuwa mengikuti skema Hierophany yang dirumuskan oleh Mircea Eliade (wafat 1986). Guna mencapai itu, penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis dalam bentuk analisis wacana dan konten untuk menemukan inti pembahasan yang terkait dengan subjek. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesakralan darah dalam denominasi Saksi-Saksi Yehuwa dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari Hierofani, mewujudkan manifestasi dari item suci dengan konteks teologis Saksi-Saksi Yehuwa ynag memaknai Kehidupan itu sendiri. Kedudukan Darah yang ditinggikan dalam Saksi-Saksi Yehuwa menyiratkan larangan pembunuhan dan konsumsi darah dalam bentuk apapun, termasuk perawatan medis melalui transfusi darah. Selain itu, Saksi-Saksi Yehuwa juga percaya bahwa darah Yesus yang tertumpah ketika ia mati mengarah pada kesucian darah, melambangkan penebusan umat manusia secara global.
Taubat sebagai Sarana untuk Mewujudkan Manusia Humanis, Liberasi, dan Transendensi Perspektif Islam-Kristen Fachruli Isra Rukmana Rukmana; Sri Kurniati Yuzar
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 1 (2023): Edisi Jurnal Vol. 19 No.1 Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini memaparkan terkait konsep taubat sebagai media pengampunan dosa yang dapat memberikan nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan spiritualitas. Manusia dengan segala bentuk perbuatan yang dinilai telah melanggar aturan agama ditetapkan sebagai dosa yang akan dihisab dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan pada hari akhir. Dalam perspektif Islam, Allah telah memberikan petunjuk ajaran bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat sebagai bentuk penembusan atas segala perbuatan dan perilakunya yang telah menyimpang dari ketetapan agama. Tidak hanya dalam teologi Islam, pada agama Kristen juga dikenal konsep penembusan dosa yang dilakukan oleh Tuhan Bapa dengan mengorbankan putra tunggalnya yaitu Yesus Kristus dengan cara disalib. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis-deskriptif dengan menerapkan pendekatan kepustakaan (library research). Secara khusus, penelitian ini beranjak dari dua model data yakni data primer dan data sekunder. Beranjak dari permasalahan tersebut, pertama, bagaimana konsep dosa dalam kacamata agama, kedua, pengampunan dosa yang dilakukan oleh pemeluk agama Islam dan Kristen kepada Tuhannya, ketiga, seperti apa sistem untuk meneguhkan nilai-nilai taubat agar dapat mewujudkan sikap humanisasi, liberasi, dan transendensi. Penerapan konsep taubat yang dilakukan dengan sempurna pada setiap manusia yang beragama, tidak hanya memberikan dampak bagi diri pribadi. Namun, hal ini juga mencakup hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Kesempurnaan taubat yang diterapkan pada manusia untuk kembali ke jalan yang diridhoi Tuhan, melahirkan nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi yang mampu menyongsong kembali harkat martabat manusia. Dengan demikian, manusia yang berdosa dapat kembali suci seperti awal mula dilahirkan di muka bumi.
Membangun Kerukunan Beragama di Era Pluralisme: Kontribusi Konsep John Hick Theguh Saumantri
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 1 (2023): Edisi Jurnal Vol. 19 No.1 Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v19i1.4414

Abstract

Peneltian ini bertujuan untuk menguraikan konsep pluralisme agama yang dikemukakan oleh John Hick dan relevansinya dalam membangun kerukunan beragama di era pluralisme. Dalam konsepnya, Hick menekankan pentingnya menghargai perbedaan agama dan memandang bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama-sama Penelitian ini merupakan jenis kajian pustaka dengan menggunakan pendekatan filosofis yang bertujuan untuk mengkaji ide dan gagasan tokoh John Hick dalam membangun kerukunan beragama di era pluralisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pluralisme agama Hick dapat menjadi landasan dalam membangun kerukunan beragama melalui tindakan konkret seperti dialog antaragama, pengembangan kesadaran bahwa agama bukan satu-satunya jalan menuju kebenaran, dan pengakuan terhadap hak asasi manusia yang universal. Selain itu, pluralisme agama juga merupakan realitas sosial yang harus diakui dan dikelola dengan baik untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan toleran. Oleh karena itu, pembangunan kerukunan beragama di era pluralisme memerlukan pemahaman yang mendalam tentang pluralisme agama dan upaya konkret untuk menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Agama sebagai Inspirasi Perdamaian dan Anti Kekerasan pada Masyarakat Multikultural Perspektif Islam Dwi Afriyanto; Anatansyah Ayomi Anandari
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 1 (2023): Edisi Jurnal Vol. 19 No.1 Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v19i1.4424

Abstract

Multikulturalisme meliputi pemahaman, penghayatan, dan penghargaan terhadap budaya sendiri, serta rasa hormat dan rasa ingin tahu terhadap budaya etnik orang lain. Berkembangnya agama telah melewati dinamika yang sangat fenomenal dari segi ideologi, agama, intelektual, ekspresi dan gerakan sosial karena faktor internal dan eksternal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filosofis dan sosiologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran agama sebagai sumber inspirasi perdamaian dan anti-kekerasan dalam masyarakat multikultural dari perspektif Islam. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai keagamaan, seharusnya agama menjadi inspirasi perdamaian, yang tidak dipolitisasi dalam membenarkan tindak kekerasan. Agama berperan sebagai inspirasi perdamaian dan anti kekerasan di berbagai negara Indonesia. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa agama dapat menjadi sumber inspirasi perdamaian dan anti-kekerasan dalam masyarakat multikultural jika dijalankan dengan benar. Namun, pada kenyataannya, terdapat kasus-kasus dimana agama digunakan untuk membenarkan kekerasan dan konflik. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dan interpretasi yang benar mengenai pesan perdamaian dan anti-kekerasan dalam agama. Agama dapat menjadi solusi atau menjadi sumber masalah dalam menghadapi tantangan masyarakat multikultural.
Melampaui dari Sebuah Simbol Semangka: Memahami Konflik Palestina-Israel dalam Instagram Henky Fernando; Yuniar Galuh Larasati
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v19i2.4486

Abstract

Diseminasi isu-isu konflik Palestina-Israel dalam media sosial Instagram tidak hanya merupakan sebuah ekspresi simbolik, tetapi juga memuat orientasi makna yang begitu kompleks dan kontekstual. Namun konteks tersebut belum dibahas secara ilmiah dalam studi-studi yang pernah dilakukan sebelumnya. Selain merespon kekurangan dari studi-studi yang pernah dilakukan, studi ini juga didasarkan pada pertanyaan bagaimana orientasi makna konflik Palestina-Israel yang diseminasikan dengan menggunakan simbol-simbol semangka dalam Instagram. Untuk merefleksikan dan menjawab pertanyaan tersebut studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam mengivestigasi situasi, kondisi, dan preferensi makna konflik Palestina-Israel yang diseminasikan dalam tagar #semangka dalam Instagram. Studi menyoroti tiga temuan penting; Pertama, diseminasi isu-isu konflik Palestina-Israel dalam Instagram dengan menggunakan simbol-simbol semangka berorientasi pada makna-makna yang bersifat evaluatif terhadap implikasi konflik. Kedua, diseminasi isu-isu konflik Palestina-Israel dalam Instagram dengan menggunakan simbol-simbol semangka berorientasi pada makna-makna yang bersifat rekomendatif sebagai resolusi konflik. Ketiga, diseminasi isu-isu konflik Palestina-Israel dalam Instagram dengan menggunakan simbol-simbol semangka berorientasi pada makna-makna yang bersifat progresif sebagai preferensi hidup pasca konflik.