cover
Contact Name
Tohir Zuhdi
Contact Email
tohirz@iainpurwokerto.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
a.sunhaji@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kependidikan
ISSN : 2355018X     EISSN : 25984845     DOI : -
Core Subject : Education,
Focus Jurnal Kependidikan is a periodical publication of scientific articles containing education. Scope Jurnal Kependidikan welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices.
Arjuna Subject : -
Articles 159 Documents
URGENITAS PEMAHAMAN BAHASA FIGURATIF DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN APRESIASI PUISI SISWA Supriyono, Supriyono
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.451 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i1.548

Abstract

The ability of appreciation of poetry is a person's ability and skill in recognizing and understanding poetry seriously, both the physical structure and the inner structure , so that the resulting understanding, appreciation, sensitivity of critical thinking, and feeling good sensitivity to enjoy the beauty of poetry including existing aesthetic in it. Many factors affect the ability of appreciation of poetry, including the understanding of figurative language. The ability to understand figurative language is one skill in understanding the language used by the poet to say anything unusual way, ie, it does not directly reveal the meaning of words or language are metaphors or meaningful emblem. The ability to understand figurative language has an important role in enhancing the ability of the student 's appreciation of poetry, because poetry is inseparable from figurative language. Figurative language (figurative language) causing poetry becomes attracted attention , causing freshness, life, and especially lead wishful picture clarity. Thus, in order to have the ability to better appreciation of poetry required considerable understanding figurative language because it includes figurative meaning or symbolism. Kemampuan apresiasi puisi merupakan kesanggupan dan kecakapan seseorang dalam mengenal dan memahami puisi secara sungguh–sungguh, baik struktur fisik maupun struktur batinnya, sehingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, serta kepekaan perasaan yang baik terhadap puisi termasuk menikmati keindahan estetik yang ada di dalamnya. Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan apresiasi puisi, diantaranya adalah pemahaman terhadap bahasa figuratif. Kemampuan memahami bahasa figuratif merupakan kecakapan seseorang dalam memahami bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa,yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasa bermakna kias atau bermakna lambang. Kemampuan memahami bahasa figuratif mempunyai peran penting dalam meningkatkan kemampuan apresiasi puisi siswa, dikarenakan puisi tidak terlepas dari bahasa figuratif. Bahasa kiasan (figurative language) menyebabkan puisi menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Dengan demikian agar memiliki kemampuan apresiasi puisi dengan baik diperlukan pemahaman bahasa figuratif yang cukup karena mencakup makna kias atau makna lambang.
PENDIDIKAN ISLAM DALAM USAHA MENGATASI KEMISKINAN Kholis, Nur
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.067 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.549

Abstract

Education is an absolute necessity for humans because through education they will acquire higher and exalted position. A country or region will be able to progress and develop if the people having higher knowledge and education. Therefore, education has a really significant role to overcome poverty. As we know, poverty is a common phenomenon in the community. It is a condition where the minimum physical needs for a normal life, especially food and health, cannot be achieved for a relatively long period of time. Poverty can be a very bad thing and give negative impacts on the survival of a person or the public. For that reason, to build a strong community and a strong need to be equipped with education. Pendidikan merupakan suatu keharusan dan mutlak bagi manusia, karena melalui pendidikan manusia akan memperoleh kedudukan atau derajat yang mulia. Negara atau wilayah akan dapat maju dan berkembang jika manusia sebagai penduduknya memiliki pengetahuan atau pendidikan yang tinggi. Kemiskinan merupakan hal yang sudah tidak asing lagi di lingkungan masyarakat. Kemiskinan adalah suatu kondisi di mana pemenuhan kebutuhan fisik minimum untuk suatu kehidupan normal khususnya makanan dan pemeliharaan kesehatan tidak cukup secara terus menerus atau berlangsung dalam periode waktu yang relatif lama. Kemiskinan dapat menjadi hal sangat buruk atau berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup seseorang maupun masyarakat. Oleh karena itu, untuk membangun masyarakat yang kokoh dan kuat perlu dibekali dengan adanya pendidikan. Dengan demikian pendidikan dapat mengatasi adanya kemiskinan.
HAKEKAT PENDIDIK DALAM PANDANGAN ISLAM Mukroji, Mukroji
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.173 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.550

Abstract

Basically, Islamic education is a continuous, sustainable, and everlasting process of human life. Duties and functions of education are targeted at learners who continue to grow and evolve dynamically, starting from the womb until the end of life. Educational success cannot be separated from the educators, who are essentially the people having the responsibility to educate, guide, direct and lead their learners to get of success both in this world and in the hereafter. Therefore, qualified educators and professionals should have specific criteria and requirements that must be met in order to achieve the purpose of life, and also the properties that adorn his personal duty and responsibility as educators in the view of Islam. A good educator is a person who pays attention to the duties and responsibilities to the students, based on faith and piety to God, and also able to develop the potentials of either the inner or outer (physical, psychological, and spiritual). Pada hakikatnya, pendidikan Islam adalah suatu proses yang berlangsung secara kontinyu dan berkesinambungan dalam kehidupan manusia dan berlangsung sepanjang hayat. Tugas dan fungsi pendidikan memiliki sasaran pada peserta didik yang senantiasa tumbuh dan berkembang secara dinamis, mulai dari kandungan sampai akhir hayatnya dan keberhasilan pendidikan tidak lepas dari aspek pendidik. Pendidik pada hakekatnya adalah orang yang telah mendapatkan amanat dan mempunyai tanggung jawab dunia akherat dalam mendidik, membimbing, mengarahkan dan mengantarkan peserta didik ke gerbang kesuksesan baik di dunia maupun di akherat. Oleh karena itu untuk menjadi pendidik yang berkualitas dan profesional harus memiliki kriteria dan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi dalam rangka pencapaian tujuan hidup dan juga sifat-sifat yang menghiasi pribadinya dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai pendidik dalam pandangan Islam. Pendidik yang baik adalah pendidik yang memperhatikan tugas dan tanggung jawabnya terhadap peserta didik, yang dilandasi iman dan taqwa kepada Allah SWT, dan juga mampu mengembangkan potensi yang ada baik lahir maupun batin (jasmani, psikis, maupun rohani).
KONSEP MANAJEMEN KELAS DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN Sunhaji, Sunhaji
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.532 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.551

Abstract

Classroom management is an integral part of the professional ability that should be mastered by a teacher. Managing a class is one of the basic skills of teaching that aims at achieving and maintaining an optimum learning atmosphere, meaning that this ability is closely connected to teachers’ professional ability to create favorable conditions, pleasant learners and a healthy learning discipline. The learning process will always take place in a classroom scene. The scene should be created and developed as a means of effective learning. This of course must be supported by the ability of a teacher to manage his/her class. Pengeloaan kelas merupakan bagian integral dari kemampuan profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru, mengelola kelas merupakan salah satu keterampilan dasar mengajar yang bertujuan untuk mewujudkan dan mempertahankan suasana pembelajaran yang optimal, artinya kemampuan ini erat hubungannya dengan kemampauan profesional guru untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan, menyenangkan peserta didik dan menciptakan disiplin belajar secara sehat. Proses pembelajaran akan selalu berlangsung dalam suatu adegan kelas. Adegan kelas itu perlu diciptakan dan dikembangkan menjadi wahana bagi berlangsungnya pembelajaran yang efektif. Hal ini tentu saja harus didukung oleh kemampuan guru dalam mengelola kelas.
MANAJEMEN PENINGKATAN AKHLAK MULIA DI SEKOLAH BERBASIS ISLAM Nursanti, Ririn
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.446 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.552

Abstract

Moral crisis phenomena experienced by our students are at alarming level. Educational institutions come as enlighten bodies to anticipate such situations by optimizing each part of learning environments in order to build student’s characters comprehensively. There is a need of breakthrough innovation of reliable management programs so that the students can get their ready-to-life skills to face the nowadays phenomena as well as the future ones. This article will elaborate the descriptive study of how to manage noble-character improvements particularly in Islamic School. The study shows that the management of improving noble character in the Islamic School must be performed through the following stagess: planning, organizing, mobilizing, and monitoring. The strategy that can be chosen to implement character-educations management in Islamic schools are as follows: 1) Achieve teachers' commitment to the implementation of moral education (teacher component), 2) Integrate character education into the curriculum (curriculum component), 3) Creating a financial plan in favour of the implementation of moral education (financing component), and 4) Designing and creating a school culture based on moral education (management component). Krisis akhlak yang melanda peserta didik saat ini menjadi fenomena sosial yang cukup memprihatinkan. Lembaga pendidikan sebagai pengemban fungsi konservatif/penyadaran diharapkan dapat memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar untuk melaksanakan proses pendidikan akhlak secara optimal. Sehingga diperlukan upaya inovatif untuk mengembangkan pendidikan akhlak tersebut agar mampu menghasilkan peserta didik yang ready for life di era globalisasi dengan manajemen yang handal. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan manajemen peningkatan akhlak mulia khususnya di sekolah Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen peningkatan akhlak mulia di sekolah harus melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengawasan. Adapun strategi yang dapat dilakukan dalam mengimplementasikan manajemen pendidikan akhlak di sekolah Islam adalah dengan melalui: 1) Mewujudkan komitmen guru dalam pelaksanaan pendidikan akhlak (komponen guru), 2) Mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam kurikulum (komponen kurikulum), 3) Membuat rencana pembiayaan yang berpihak pada pelaksanaan pendidikan akhlak (komponen pembiayaan), dan 4) Mendesain dan menciptakan budaya sekolah berbasis pendidikan akhlak (komponen pengelolaan.
PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA: ANTARA ASA DAN REALITA Purnomo, sutrimo
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.081 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.553

Abstract

The implementation of character education for a nation is an absolute thing that must be realized, including in Indonesia. This is because the purpose of education is to form the character of the noble human being. A nation that has qualified generation supported with their good morals will be a great nation, be upheld by other nations, and become a prosperous nation. Character development was nationally declared by Susilo Bambang Yudhoyono in 2010 with the hope that the quality of Indonesian human character would increase. Over time, however, it turns out that the reality is far from the hope. Many immoral conducts are conducted by students. This indicates that the implementation of character education in Indonesia has not been entirely successful. The problem is actually not on the values of the characters that are offered, but it is on the process of conveying and transferring the character that needs to be repaired and upgraded in order to be more effective. In addition, all educators and people in general need to understand the urgency and the concept of character education in order to have clear and definite direction when implementing this character education. Therefore, there should be an effective character education as an alternative solution in dealing with problems of character education in this country. This is really needed to achieve its goal to create a good quality young people both in moral and intellectual and to achieve nation dignity. Pelaksanaan pendidikan karakter bagi suatu bangsa merupakan hal mutlak yang harus diwujudkan termasuk Indonesia, karena tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk membentuk insan yang berakhlak mulia. Ketika suatu bangsa memiliki generasi yang berkualitas yakni dengan akhlak mereka yang baik, maka bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang besar, dijunjung tinggi oleh bangsa lain, dan menjadi bangsa yang sejahtera. Pembangunan Karakter secara nasional dideklarasikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 dengan harapan kualitas karakter manusia Indonesia semakin meningkat. Namun seiring berjalannya waktu ternyata realita berbicara lain. Justru kini banyak terjadi tindakan amoral yang pelakunya berasal dari kalangan pelajar. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia belum sepenuhnya berhasil. Permasalahannya bukan pada nilai-nilai karakter yang ditawarkan, akan tetapi proses menyampaikan dan mentransfer karakter itulah yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan agar dapat berjalan dengan efektif. Selain itu, setiap pendidik atau masyarakat pada umumnya perlu untuk memahami urgensi dan konsep pendidikan karakter agar pada saat mentransfer karakter tersebut telah memiliki arah yang jelas dan pasti. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendidikan karakter yang efektif sebagai solusi alternatif dalam menghadapi permasalahan pendidikan karakter di negeri ini sehingga tujuan pendidikan karakter yang diharapkan yakni demi tercipta generasi muda yang berkualitas baik secara moral maupun intelektual serta bisa menjadi bangsa yang bermartabat dapat tercapai.
MANAJEMEN GURU MODEL GUARDIAN ANGEL MENURUT MUNIF CHATIB Khasanah, Ni’matul
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.582 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.554

Abstract

The background of this research is the fact that the management of improving teacher‟s professionalism is still not effective. The role of teacher as planner, implementer, and developer of curriculum is also not optimal. Management of teachers is needed because teachers have a significant role in the success of learning process. This research was aimed at knowing Guardian Angel‟s concept of teacher management suggested by Munif Chatib and how it develops according to him. The implementation of Guardian Angel model of teacher management was presented through a testimony and direct interviews with Guardian Angel‟s trainees. This research used qualitative approach by studying Munif Chatib‟s books and direct interviews. Data were analyzed with content analysis, which included: (1) literary study of Munif Chatib‟s books, (2) description of Guardian Angel model of teacher management by Munif Chatib. This research found that (1) the concept of Guardian Angel teacher management uses humanistic approach, especially in regard to schedules of consultation, teaching strategies, and assessment through four kinds of teacher reports, including reports of morals, creativity, lesson plan, and student‟s learning results; (2) the basis used is the cornerstone of the scientific human resources and philosophical foundation that teachers carry out the work of teaching, which includes planning, teaching, evaluating, and learning. The first three points are teacher‟s obligations, while the last is their right. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya keprihatinan manajemenpeningkatan profesionalitas guru yang belum berjalan efektif. Peranan guru sebagai perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum yang belum optimal. Manajemen guru diperlukan mengingat bahwa peran guru amat signifikan bagi setiap keberhasilan proses pembelajaran.Penelitian ini mengungkap tentang manajemen guru Guardian Angel menurut Munif Chatib. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep manajemen guru model Guardian Angel menurut Munif Chatib, dan berkembangannya Guardian Angel dalam pemikiran Munif Chatib. Implementasi manajemen guru model Guardian Angel dihadirkan melalui testimoni dan wawancara langsung dengan peserta pelatihan Guardian Angel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan melakukan kajian terhadap buku - buku karya Munif Chatib dan wawancara langsung. Teknik anaisis data content analysis. Analisis meliputi: (1) kajian pustaka buku-buku karya Munif Chatib, (2) mendeskripsikan manajemen guru model Guardian Angel dalam pemikiran Munif Chatib.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) konsep model manajemen guru Guardian Angel menggunakan pola pendekatan manajemen humanis, terutama dalam jadwal konsultasi, strategi mengajar dan penilaian melalui empat rapor guru, yaitu rapor akhlak, rapor kreativitas, rapor lesson plan dan rapor hasil belajar siswa (2) landasan yang digunakan adalah landasan keilmuan sumber daya manusia dan landasan filosofi bahwa profesi guru mengemban pekerjaan manajemen, yaitu perencanaan , mengajar dan mengevaluasi dan belajar. Tiga hal pertama difahami sebagai kewajiban, sedangkan belajar dimaknai sebagai hak bagi seorang guru (3) Guardian Angel sebagai manajemen quality control yang meliputi: lesson plan, konsultasi, observasi dan umpan balik.
IMPLEMENTASI SISTEM PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DAULAH ABBASIYAH DAN PADA MASA SEKARANG Wahyuningsih, Sri
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.141 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.555

Abstract

Savvy generation having good morality can evaluate or criticize themselves and their surroundings hence ideas and discoveries for the advancement of Islam in the future will arise. To realize such a condition, it is necessary to improve the curriculum and Islamic education system. It was a fact that the birth of Islam was followed by the birth of Islamic education and teaching.Education and teaching of Islam continued to grow and develop starting from the time of first four-Caliphs to reach its peak at the period of Daulah Abbasiyah. This glory could be reached because Islamic system of education during the Daulah Abbasiyah in Baghdad could bear the heyday of Islam with developments in all fields, especially in the fields of science. Many great and famous scientists of various disciplines aligned with scientists from western countries were born in the era. Generasi yang cerdas berakhlakul karimah dapat mengevaluasi atau mengkritik diri dan lingkungannya sehingga melahirkan ide dan penemuanpenemuan untuk kemajuan Islam pada masa yang akan datang, maka perlu penyempurnaan dalam kurikulum dan sistem pendidikan Islam. Sejak lahirnyah agama Islam, lahir pula pendidikan dan pengajaran Islam. Pendidikan dan pengajaran Islam itu terus tumbuh dan berkembang dimulai dari masa khulafaur-rasyidin sampai pada puncaknya yaitu masa Daulah Abbasiyah. Ssistem pendidikan Islam pada masa Daulah Abbasiyah di Baghdad, karena seperti yang kita ketahui bahwa puncak kejayaan Islam dengan perkembangan di segala bidang khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan yang sangat pesat sampai melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar dan terkenal dalam berbagai disiplin ilmu sejajar dengan ilmuwan dari negarabarat.
SISTEM PENGANGGARAN PENDIDIKAN TINGGI DARI OLD PUBLIC MANAGEMENT MENUJU NEW PUBLIC MANAGEMENT Santosa, A. Budi
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.936 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.556

Abstract

Budget implementation in government agencies has not been effective even though legislation has mandated that performance-based budgeting should be implemented gradually starting in 2005. Some researches on budgeting found a disregard for the prerequisites for the successful implementation of performance-based budgeting, which includes participation, competence, and the clear documents and budgeting procedures. In Indonesia, the reform of budgeting begins with the issuance of Act No. 17 of 2003 on State Finance and Act No. 25 of 2004 on National Development Planning System, which is a product of legislation that became a milestone of reform in national planning and budgeting. In universities in Indonesia budget management system changes begins to be applied especially after the implementation of autonomy in the management of higher education institutions, namely since the issuance of Government Regulation on Higher Education as State-Owned Legal Entity (BHMN), Public Service Agency (BLU), even the latter leads to the State University-Owned Legal Entity(PTN-BH). The change of financial management is not without reason, but is intended to more financial management of performance-oriented, transparent and accountable, the estuary of the increasing good governance. Pelaksanaan anggaran di instansi pemerintah selama ini belum efektif, padahal undang-undang telah mengamanatkan bahwa pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja hendaknya dapat dilaksanakan secara bertahap mulai tahun 2005. Beberapa hasil penelitian tentang penganggaran menunjukan adanya pengabaian terhadap prasayarat keberhasilan pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja, yang antara lain ditentukan oleh faktor-faktor pendukung seperti partisipasi, kompetensi, dan adanya kelengkapan dokumen dan prosedur penganggaran secara jelas. Di Indonesia, reformasi bidang penganggaran diawali dengan terbitnya Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undangundang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional merupakan produk undang-undang yang menjadi tonggak sejarah reformasi di bidang perencanaan dan penganggaran nasional. Di lingkungan perguruan tinggi Indonesia perubahan sistem manajemen anggaran mulai diterapkan terutama setelah dilaksanakannya otonomi dalam pengelolaan lembaga pendidikan tinggi, yaitu sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah tentang Perguruan Tinggi sebagai BHMN, BLU, bahkan yang terakhir ini mengarah pada PTN-BH. Perubahan arah pengelolaan keuangan tersebut tidak tanpa alasan, namun dimaksudkan agar pengeloaan keuangan lebih berorientasi pada kinerja, transparan dan akuntabel, yang muaranya tentu pada meningkatnya good governance.
KEDUDUKAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH Su’dadah, Su’dadah
Jurnal Kependidikan Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Kelompok Kajian Pendidikan Ikatan Alumni IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.903 KB) | DOI: 10.24090/jk.v2i2.557

Abstract

The role of education is very crucial, especially when focused on the efforts to develop its positive potentials of human beings. Through the education process positive potentials of human beings are expected to create motivation and creativity that can result in a number of activities such as thinking (science) and creating new findings in various fields. Thus man can make himself as being cultured and civilized. To achieve this purpose, the education process should always be directed to developm individual potentials, so that human beings are able to understand and know their identity and responsibility as a living creature. Peran pendidikan menjadi amat krusial, terutama apabila dititikberatkan pada upaya untuk mengembangkan potensi positifnya. Potensi positif yang dimiliki manusia itu melalui proses pendidikan diharapkan dapat menciptakan motivasi dan daya kreasi yang dapat menghasilkan sejumlah aktivitas berupa pemikiran (ilmu pengetahuan), merekayasa temuan-temuan baru dalam berbagai bidang. Dengan demikian manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk yang berbudaya dan berperadaban. Untuk mencapai maksud tersebut proses pendidikan harus selalu diarahkan pada usaha pengembangan potensi individu, sehingga manusia tersebut sampai dapat memahami dan mengetahui jati diri dan tanggung jawabnya sebagai mahluk hidup.

Page 6 of 16 | Total Record : 159