cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-JURNAL LINGUISTIK
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Journal of Language and Translation Studies is an indexed, peer-reviewed, open-access, research journal for researchers, scholars, teachers, students, luminaries and policy makers associated with the professions of teaching, learning and assessing language, literature, linguistics and translation studies across the entire globe.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016" : 8 Documents clear
TEKNIK PERMAINAN ULAR TANGGA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INGGRIS DENGAN MENGGUNAKAN SIMPLE PRESENT TENSE PADA SISWA KELAS VII E SMP SUNARI LOKA KUTA Alit Putrini, Desak Ketut; Artawa, I Ketut; Pastika, I Wayan
JOURNAL OF LANGUAGE AND TRANSLATION STUDIES Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016
Publisher : S2 Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.564 KB)

Abstract

ABSTRACTThis research aims to determine how effective the application of techniques of playing snakes and ladders in improving students' ability to speak English, especially with the use of simple present tense in class VII E SMP Sunari Loka Kuta. The theories are used in this research, for instance the theory about teaching speaking skills by Richard (2008) and the theory of teaching grammar by Huddleston (1988).Before the study conducted with the technique of playing snakes and ladders, pre-test is given to determine the initial ability of students, so that the values obtained can be compared with the next cycle after a given learning the technique of playing snakes and ladders. The results of the quantitative data show that the use of techniques to play snakes and ladders can increase the ability of speaking English in class VII E SMP Sunari Loka Kuta. The results obtained by the students when given pre-test and post-test there was an increase over the technique of playing snakes and ladders applied. Aspects of the speaking ability as indicator in this research fluency, pronunciation, structure, vocabulary, and comprehension. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui seberapa efektif penerapan teknik bermain ular tanggadalam meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa, khususnya dengan menggunakansimple present tense pada kelas VII E SMP Sunari Loka Kuta. Landasan teori yang digunakan pada penelitian ini, yaitu teori tentang pengajaran keterampilan berbicara oleh Richard (2008) dan teori tentang pengajaran tata bahasa oleh Huddleston (1988).Sebelum dilaksanakan pembelajarandengan teknik bermain ular tangga, pre-test diberikan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sehingga nilai yang diperoleh dapat dibandingkan dengan siklus berikutnya setelah diberikan pembelajaran dengan teknik bermain ular tangga. Hasil data kuantitatif menunjukkan bahwa penggunaan teknik bermain ular tanggadapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas VII E SMP Sunari Loka Kuta.Hasil yang diperoleh oleh siswa pada saat diberikan pre-test danpost-test terjadi peningkatan selama teknik bermain ular tangga diterapkan. Aspek kemampuan berbicara yang dijadikan tolok ukur pada penilitian ini, yaitu kelancaran (fluency),pelafalan (pronunciation), tata bahasa (structure), kosakata (vocabulary), dan pemahaman (comprehension).
PEMAKAIAN TEKNIK MISTAKE BUSTER DALAM PEMBELAJARAN VERBA PAST TENSE PADA SISWA KELAS X AP 1 DI SMK PARIWISATA TRIATMA JAYA BADUNG Amtiran, Santi Yuliana; Artawa, I Ketut; Putra, Anak Agung
JOURNAL OF LANGUAGE AND TRANSLATION STUDIES Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016
Publisher : S2 Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.922 KB)

Abstract

ABSTRAKTulisan ini membahas tentang gambaran dan penerapan pembelajaran verba past tense melalui teknik mistake buster pada siswa kelas X AP 1 di SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung. Teknik ini membantu para guru untuk mengajarkan tata bahasa terutama pembelajaran verba past tense untuk anak SMK. Teknik ini juga dapat membantu guru mengecek tingkat pemahaman siswa terhadap aturan-aturan gramatika dan meningkatkan keterampilan writing dan production skills.Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mendapatkan rata-rata nilai di atas KKM, yaitu 76. Pada tahap pratindakan kemampuan rata-rata siswa 59,05, pada tahap siklus I kemampuan rata-rata siswa meningkat menjadi 67,34 dengan kategory baik. Dengan diadakannya siklus II sebagai perbaikan siklus I, nilai rata-rata siswa menjadi 79,23 dengan kategori baik. Namun masih ada tiga orang siswa yang masih mendapat nilai di bawah KKM. Ditemukan bahwa ada tiga jenis kesalahan dalam penulisan kalimat past tense oleh siswa kelas X AP 1 SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung yaitu (1) kesalahan penggunaan auxiliary be dalam past tense, (2) kesalahan penggunaan bentuk regular/irregular verb, (3) dan kesalahan penggunaan bentuk negative dan interogative sentences dalam past tense. Berdasarkan observasi yang dilakukan diketahui bahwa ketiga siswa tersebut tidak aktif, malas, dan tidak menyukai pelajaran bahasa Inggris. ABSTRACTThis paper discussed the overview and implementation of past tense verbs learning through mistake buster technique in the class X AP 1 of tourism vocational school Triatma Jaya Badung. This technique helps teachers to teach grammar especially past tense verbs learning for students of SMK. This technique also helps teacher to check student’s understanding about grammatical rules and improving writing and production skills.The results shows that the students get an average value of KKM, which is 76. But there are three students who still get scored below the KKM. The average result on pre-action test was 59,05, at the stage of the first cycle of average ability students increased to 67.34 with category well. With the holding of the second cycle as improvements in the first cycle, the average value of 79.23 by the students into either category. Found three types of errors in writing the sentence past tense by students of class X AP 1 of tourism vocational school Triatma Jaya Badung: (1) improper use of auxiliary be in the past tense, (2) misuse of the form of regular / irregular verb, (3) and misapplication form interrogative negative and sentences in the past tense. Based on observations made known that all three students are not active, lazy, and do not like the English lessons.
HASIL ANALISIS DATA KUANTITATIF DAN KUALITATIF PADA TES KEMAMPUAN PEMAHAMAN AFIKS PESERTA DIDIK KELAS VIIIA SMP PGRI 7 DENPASAR PADA TAHAP SIKLUS II Bintang Suryaningsih, A.A. Istri Agung; DarmaLaksana, I Ketut; Satyawati, Made Sri
JOURNAL OF LANGUAGE AND TRANSLATION STUDIES Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016
Publisher : S2 Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.434 KB)

Abstract

ABSTRACTThis research aimed at finding out how far the use of intensive method could help the students in grade VIIIA of SMP PGRI 7 Denpasar, this is also to improve their ability especially in using and adding affixes in noun and verb. The data source was taken from the test which is called by pretest and post-test. The data is collected from student in grade VIIIA. Some theoretical frameworks are used in this research, such as the theory of morphology generative by Aronoff (2011) and theory of intensive method by Iskandarwassid (2013). The result of quantitative data on cycle II showed that the use of intensive method could improve students ability especially in adding affixes with noun (plural and singular) and verb (present tense, continous tense, and past tense). The result of the students on cycle II, it can be seen from mean score which was 92.08 and it is categorized into good level. This research also supported by the qualitative data. From the qualitative data, it was showed that the students could answer the missing sentences. Besides, the students could use affixes in steam and root well. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menemukan sejauh mana penerapan dari metode intensif dapat membantu peserta didik kelas VIIIA SMP PGRI 7 Denpasar untuk meningkatkan kemampuan mereka khususnya dalam penggunaan dan penambahan afiks pada nomina dan verba. Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil tes berupa pre-tes dan postes. Data yang terkumpul berasal dari peserta didik kelas VIIIA. Dalam penelitian ini, digunakan teori morfologi generatif dari Aronoff (2011) dan metode intensif dari Iskandarwassid (2013). Hasil data kuantitatif pada siklus II menunjukkan bahwa penggunaan metode intensif dalam pembelajaran afiks dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dalam hal menambahkan afiks pada2nomina (tunggal dan jamak) dan verba (pada present tense, continous tense, dan past tense). Hasil nilai rata-rata pada siklus II dari peserta didik yaitu 92.08 yang dapat dikategorikan sebagai sangat baik. Penelitian ini juga didukung oleh data kualitatif. Dari data kualitatif dapat dilihat bahwa peserta didik mampu menjawab dengan baik kalimat rumpang dan menggunakan afiks pada nomina serta verba.
PERAN SEMANTIS SUBJEK DALAM KLAUSA BAHASA MUNA Said, Rahmat; Artawa, I Ketut; Satyawati, Made Sri
JOURNAL OF LANGUAGE AND TRANSLATION STUDIES Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016
Publisher : S2 Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.405 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji beberapa peran semantis subjek dalam klausa bahasa Muna. Dalam berbagai bahasa, klausanya dimungkinkan memiliki sejumlah peran semantis. Begitu pula dengan bahasa Muna. Dalam tuturan sehari-hari, klausa merupakan unsur terpenting karena mengandung predikasi. Predikat sebagai penentu maksud pembicaraan. Di dalam klausa tersebut, subjeknya dapat saja berupa agen atau pasien. Dalam teori RRG, agen dan pasien dikatakan sebagai peran umum, yaitu ACTOR dan UNDERGOER. Kedua peran semantis ini dapat saja hadir dalam satu klausa ataupun dapat hadir dalam satu klausa sekaligus. Hal itulah yang diuraikan dalam penelitian ini. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan karena sumber data yang berupa data lisan berasal dari penutur atau informan. Penelitian ini menggunakan metode simak dan metode cakap dengan teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik rekam atau teknik catat, serta teknik pemancingan. Selanjutnya, data dianalisis dengan metode agih dan metode padan dengan teknik dasar bagi unsur langsung (BUL) sehingga analisis peran semantis subjek terlihat jelas. Analisis peran semantis subjek dalam klausa bahasa Muna mengacu pada teori Role and Reference Grammar (RRG). Hasil yang ditemukan, yaitu klausa bahasa Muna memiliki tiga peran semantis subjek, yaitu (1) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis ACTOR, (2) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis UNDERGOER, dan (3) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis ACTOR sekaligus UNDERGOER. Klausa dengan peran semantis ACTOR sekaligus UNDERGOER dapat berupa klausa refleksif dan klausa resiprokal. Argumen UNDERGOER sebagai SUBJEK klausa dapat berupa entitas [-human] dan [+human]. ABSTRACTThis research to describe severally subject semantical roles in the clauses of Munansese language. In the another language, its clause enabling to have a number semantical role, like Munanese language. In discourse, clause is the constitute primary element because clause have predicate. Predicate as determining as talk intention. In that clause, that subject come as agent or patient. In RRG theory, agent and patient is as semantic macro role, which ACTOR and UNDERGOER. The semantical role just can be present deep one clause or even get attending in one clause at a swoop. The thing to described deep observational. This research included the a kualitative descriptive research. This research constitute field research because data source that as data of oral from speaker or informan. This research used simak and cakap method with sadap, simak libat cakap, rekam and pemancingan technic. Hereafter, the data analysis by agih method and padan method with technic base for bagi unsur langsung (BUL) to make the subject semantical role is clear. Analysis subject semantical role in the Munanese language clause points on Role and Reference Grammar (RRG) theory. Found result, Munanese language clause has three subject semantical roles, which is (1) clauses with SUBJECT as ACTOR , (2) clauses with SUBJECT as UNDERGOER, and (3) clauses with SUBJECT is ACTOR and UNDERGOER. The clause semantical role ACTOR and UNDERGOER can as creflexive clause and resiprokal clause. The
TRANSLATION OF FIGURATIVE SENSES IN BIANGKELADI INTO ENGLISH IN THE MASTERMIND Taopan, Talita Kum; Sudipa, I Nengah; Gde Sosiowati, I Gusti Ayu
JOURNAL OF LANGUAGE AND TRANSLATION STUDIES Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016
Publisher : S2 Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.107 KB)

Abstract

ABSTRACTSome textual materials are occasionally using figurative language. Figurative language is used in any form of communication, such as in daily conversation, articles in newspaper, advertisements, novels, poems, etc. The aim of this study is to analyze the translation procedures applied in translating figurative senses taken from a short story entitled Biangkeladi and translated into The Mastermind. Based on the analysis, there are two common procedures applied; there are transposition and modulation. By considering the figurative senses, the translator should have more attention to choose the lexicon used in TL and the lexicon used is appropriate to convey the meaning in TL ABSTRAKBeberapa teks ada kalanya menggunakan gaya bahasa majas, yang digunakan dalam berbagai ragam komunikasi, seperti dalam percakapan sehari- hari, dalam tulisan artikel, Koran, majalah, novel, puisi dan lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis prosedur penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan tulisan bergaya bahasa majas yang diambil dari sebuah cerita pendek berjudul Biangkeladi dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai bahasa target. Dari hasil penelitian, terdapat dua prosedur penerjemahan yang dipakai, yaitu Transposition dan Modulation. Dengan memperhatikan penggunaan gaya bahasa majas, seorang penerjemah akan memilih kata yang tepat untuk digunakan pada bahasa target dan kata yang digunakan dapat mengimplementasikan arti dari bahasa sumber
STRUKTUR DAN PERAN SEMANTIK VERBA MENYENTUH BAHASA BALI SUBTIPE MELAKUKAN-TERJADI: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI (MSA) Novita dewi, Anak Agung Alit; Sudipa, I Nengah
JOURNAL OF LANGUAGE AND TRANSLATION STUDIES Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016
Publisher : S2 Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.372 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis leksikon-leksikon verba tindakan yang memiliki makna menyentuh dalam bahasa Bali. Jenis data dalam penelitian ini adalah data lisan yang berupa tuturan bahasa Bali dari penutur bahasa Bali itu sendiri. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dengan teknik rekam dan teknik lanjutan berupa teknik catat. Teori Meta Bahasa Semantik (MSA) dan Peran Umum (Macro Role) digunakan untuk menganalisis data secara kualitatif melalui metode padan dan metode agih. Hasil analisis data disajikan dengan menggunakan metode formal dan informal.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat leksikon-leksikon verba menyentuh bahasa Bali yang memiliki polisemi maknamelakukan-terjadi. Polisemi makna tersebut ditinjau dari sudut hasil tindakan terhadap entitas berupa pengaruh fisik baik goodmaupun pengaruh fisik buruk bad. Setiap leksikon memiliki metabahasa yang ditinjau dari sudut cara kerja leksikon verba tersebut meliputi arah gerakan, jumlah gerakan, keceptan gerakan, kekuatan dari tindakan tersebut, ciri entitas yang dikenai tindakan, dan bagian tubuh yang digunakan sebagai instrumen ataupun benda yang dijadikan instrumen. Peran semantik terdiri atas peran umum argumen semantik dan peran khusus argumen semantik.Subtipe melakukan-terjadi memiliki peran khusus semantik agen, pasien, instrumen, dan lokasi dengan analisis berlapis ataupun analisis umum.Hasil analisis makna dan peran semantik dapat dilihat pada contoh leksikon verba berikut ini.Mingseg adalah tindakan menekan menggunakan kuku ibu jari hingga entitas menjadi hancur dan pada umumnya dilakukan untuk entitas kutu. Leksikon mingseg menghadirkan dua argumen yang menduduki peran umum sebagai actor dan undergoer. Peran khusus actor adalah sebagai agen yang mengendalikan peristiwa secara langsung. Peran khusus undergoer adalah sebagai pasien yang mendapatkan pengaruh fisik langsung dari agen.ABSTRACTThis study is aimed to analyze the lexicons of verb ‘do’ having meaning of ‘touching’ within in Balinese language. The type of the data in this research is spoken data of the Balinese language speaker. Data was collected by applying scruitinizing method in the form of recording and note taking techqniques. Natural Semantics Metalanguage and Macro Role theories were used to analyze the data qualitatively. The results of the data analysis were presented by applying formal and informal methods.The results of this study indicates that lexicons of verb ‘do’ having meaning of ‘touching’ within in Balinese language consist of the polisemy primitives primes ‘do’ and ‘happen’. The polysemy meaning of the lexicons was identified from the results of the action against the entity in the form of physical effects, both good and bad effects. The metalanguage of each lexicon was analyzed based on the entity, instrument, result, and the process of the action such as the direction of the motion, the amount of the motion, the speeand the power of the motion.Thesemantic roles of the lexiconsconsisted of macro-rolesand thematic- roles. The thematic roles of ‘do’ and ‘happen’ types are agent, patient, instrument, and locative.The results of the analysis of the semantic meaning and roles can be seen in the following example. ‘Mingseg’is a pressing action using the thumb nail to the entity being crushed and generally done to fleas. Lexicon ‘mingseg’ presents two arguments occupying macro-role as an actor and undergoer. The thematic role of the actor is the agent that controls the events directly. The thematic role of the undergoer is as the patient who received a direct physical effect of the agent. 
STRUKTUR DAN PERAN NOMINA INTI KLAUSA RELATIF BAHASA INGGRIS Putri Utami, Ni Putu Cahyani; Artawa, Ketut; Mas Indrawati, Ni Luh Ketut
JOURNAL OF LANGUAGE AND TRANSLATION STUDIES Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016
Publisher : S2 Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.055 KB)

Abstract

ABSTRAKKlausa relatif bahasa Inggris (KRBI) secara umum memiliki struktur klausa yang kompleks. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang memiliki struktur klausa relatif dan pronomina relatif yang beragam. Penelitian ini bertujuan meneliti KRBI secara mendalam, yaitu struktur dan jenis KRBI, peran nomina inti, dan relasi gramatikal yang diperoleh nomina inti. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak yang didukung oleh teknik catat dan metode agih digunakan di dalam menganalisis data yang didukung dengan teknik bagi unsur langsung serta metode distribusional. Di dalam menyajikan data, penelitian ini menggunakan metode informal.Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pada strukturnya, KRBI dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu struktur KRBI tipe formal dan struktur KRBI tipe relasional. Secara tipologi, KRBI dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu klausa relatif restriktif dan klausa relatif non-restriktif. Berdasarkan posisi nomina inti, KRBI termasuk ke dalam tipe postnominal, yaitu klausa relatif yang terletak setelah nomina inti. Adapun relasi gramatikal yang diperoleh nomina inti dari klausa relatif dalam bahasa Inggris: (1) SUBJ klausa utama sekaligus SUBJ klausa relatif, (2) OBJ klausa utama sekaliagus SUBJ pada klausa relatif, dan (3) OBL pada klausa utama sekaligus SUBJ pada klausa relatif. ABSTRACTThis study is aimed to examine the structure and the type of relative clause in English, the role of the noun head and grammatical relations derived noun of the relative clause in English. Lexical Functional Grammar Theory or LFG and the theory of typology are applied in this study. Qualitative method is commonly used in this study. Observation method is used to collect the data, while the distributional method is conducted to analyze the data. The result of the data is presented with informal method.The results showed that based on the structure, relative clause in English can be devided into two types, they are formal and relational type. In typology, relative clause in English can be devided into restrictive and non-restrictive relative clause. English relative clause is a post-nominal type based on the position of the head noun, because the relative clause is located after the noun and it can fill two function in the main clause and in the relative clause. The grammatical relations derived noun of the relative clause in English are: (1) SUBJ in main clause as well as in relative clause, (2) OBJ in the main clause as well as in the relative clause, and (3) OBL in the main clause and SUBJ in relative clause.
KESANTUNAN BAHASA PEREMPUAN PADA NOVEL TEMPURUNG KARYA OKA RUSMINI Astrini Utami, Ni Nyoman; Simpen, I Wayan; Gde Sosiowati, I Gusti Ayu
JOURNAL OF LANGUAGE AND TRANSLATION STUDIES Vol 2 No 1 (2016) Maret 2016
Publisher : S2 Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.705 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan dari prinsip kesantunan oleh tokoh perempuan pada novel Tempurung karya Oka Rusmini dan mencari faktor-faktor yang mendorong tokoh perempuan untuk melanggar serta menaati prinsip kesantunan. Tempurung merupakan novel yang didominasi dengan tokoh perempuan dan dengan latar belakang kebudayaan Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik catat.Data yang sudah dikumpulkan dianalisis menggunakan metode padan. Penyajian hasil analisis menggunakan metode informal. Hasil menunjukkan bahwa terdapat pelanggaran dan penaatan pada maksim permufakatan, maksim kesimpatisan, maksim penerimaan, maksim kesederhanaan, maksim kebijaksanaan, dan maksim kedermawanan. Faktor-faktor yang mendorong pelanggaran prinsip kesantunan yaitu, keinginan untuk meminimalisir pilihan dari penutur untuk petutur, menuturkan tuturan secara langsung, jarak sosial, dan memberikan kerugian pada orang lain. Sementara faktor-faktor yang mendorong untuk menaati prinsip kesantunan yaitu, menambahkan keuntungan, keinginan untuk memberikan penghargaan, meminimalisasi penghargaan untuk diri sendiri, dan menghargai keputusan orang lain atau petutur. ABSTRACTThis study isaimed at determining the application of the politeness principle by female characters in the novel Tempurung by Oka Rusmini and finding the factors that encourage female characters to violate and apply the principal politeness. Tempurung is a novel dominated by female characters with the background of the culture of Bali.This study used qualitative approach. Observation method and note taking technique were used in collecting data, while the identity method was conducted to analyze the data. The result of data is presented by using informal method. The results showed that there were violations and compliance of tact maxim, generosity maxim, approbation maxim, modesty maxim, agreement maxim, and sympathy maxim. Factors that encourage the violation of the politeness principle are the desire to minimize the other’s or addresses’s option, the direct speech, social distance, and inflicting damage on the others. While factors that female characters obey the politeness principle are to maximize benefit to others, maximize appreciation to others, minimize appreciation to self, and respect the descisions of others.

Page 1 of 1 | Total Record : 8