cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25034286     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan, memuat hasil-hasil penelitian yang berkenaan dengan segala aspek bidang ilmu Sumber Daya Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 230 Documents
Studi Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Ikan Lencam (Lethrinus lentjan) di Perairan Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan Pratiwi, Indah; Halili, .; Mustafa, Ahmad
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 3, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.959 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan di perairan Tanjung Tiram, Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan pada bulan November 2017 – Januari 2018. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa aspek biologi reproduksi ikan lencam yang meliputi hubungan panjang berat, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad, dan fekunditas. Contoh ikan diperoleh menggunakan bottom gill net dengan mesh size 1,5 inch dan 2,0 inch. Semua ikan yang tertangkap dijadikan sebagai contoh yang jumlahnya 151 ekor yang terdiri atas 25 ekor jantan dan 126 ekor betina. Sampel ikan tersebut diukur panjangnya menggunakan mistar ketelitian 0,5 mm dan ditimbang bobotnya menggunakan timbangan digital ketelitian 1 g. Kisaran contoh ikan jantan dan betina masing-masing 15,5 – 22,6 cm dan 11,8 – 24,5 cm. Pola pertumbuhan ikan lencam jantan bersifat alometrik positif mengikuti persamaan W = 2,89*10-5 L2,90, sedang betina bersifat alometrik negatif mengikuti persamaan W = 1,10*10-5L3,08. Nisbah kelamin jantan dan betina tidak seimbang, yaitu 1 : 5. Tingkat kematangan gonad ikan jantan didominasi TKG II, sedang betina didominasi TKG I. IKG ikan lencam betina (0,01 – 3,18) lebih besar dibandingkan ikan lencam jantan  (0,01 – 1,09). Ukuran pertama kali matang gonad ikan lencam betina lebih cepat mengalami matang gonad yaitu pada 180 mm (hermaprodit protogini), sedang jantan dicapai pada ukuran 208 mm. Potensi reproduksi  ikan  lencam  dengan  jumlah  telur  yang  dihasilkan  oleh  setiap  individu betina berkisar 8.674 –58.655 butir. Kata Kunci : Biologi Reproduksi, Lethrinus lentjan, Pola Pertumbuhan
Komposisi dan Jenis Makrozoobenthos (Infauna) Berdasarkan Ketebalan Substrat Pada Ekosistem Lamun Di Perairan Nambo Sulawesi Tenggara Sulphayrin, .; Ola, La Onu La; Arami, Hasnia
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 3, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.998 KB)

Abstract

Ketebalan substrat pada ekosistem lamun mempengaruhi jenis makrozoobenthos yang berasosiasi didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis makrozoobenthos (infauna) berdasarkan ketebalan substrat 20 cm, 15 cm dan 5 cm pada ekosistem lamun. Penelitian ini dilaksanakan di Pantai Nambo pada bulan September 2012.Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive pada tiga stasiun yang berbeda, setiap stasiun dibagi menjadi tiga sub stasiun dengan menggunakan transek kuadrat 3x3 m2.Metode pengambilan sampel dengan menggunakan transek kuadrat yang dilakukan tiga kali pengulangan. Organisme yang diperoleh selama penelitian, ditabulasi kemudian dianalisis secara deskriptif. Dari keseluruhan stasiun, jenis makrozoobentos yang ditemukan ketebalan substrat 20 cm terdapat 9 jenis dari kelas bivalvia dan 1 jenis kelas gastropoda, ketebalan substrat 15 cm terdapat 7 jenis dari kelas bivalvia, ketebalan substrat 5 cm terdapat 10 jenis dari kelas bivalvia dan 1 jenis kelas gastropoda.Kepadatan  makrozoobentos tertinggi terdapat pada stasiun I 15,40 ind/m² dan terendah pada stasiun II yaitu 4,96 ind/m². Indeks keanekaragaman berkisar antara 0,415-0,774. Indeks keseragaman berkisar antara 0,415-0,745. Indeks dominansi berkisar antara 0,267-0,477. Hasil pengukuran parameter kualitas perairan di Pantai Nambo masih mendukung kehidupan organisme makrozoobenthos.Kata Kunci : Makrozoobenthos, Kepadatan, Keanekaragaman, Keseragaman, Dominansi
Pengaruh Perbedaan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Bubu di Perairan Desa Haka Kecamatan Togo Binongko Kabupaten Wakatobi Wali, Muhidin; Halili, .; Kamri, Syamsul
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.743 KB)

Abstract

Penggunaan umpan pada alat tangkap bubu untuk menangkap ikan-ikan karang belum memberikan hasil tangkapan yang optimal, hal ini yang melatarbelakangi penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan umpan terhadap hasil tangkapan baik jumlah maupun jenis ikan pada alat tangkap bubu. Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Desa Haka Kecamatan Togo Binongko Kabupaten Wakatobi selama satu bulan yaitu pada bulan april-mei 2017. Metode yang digunakan adalah uji coba penangkapan ikan (experimental fishing) dengan rancangan acak kelompok (RAK) pada bubu dengan empat jenis umpan yang berbeda yaitu umpan kalomang (coenobita brevimanus), belut laut (macrotema caligans), ikan layang (decapterus russelli), dan ikan tongkol (auxis thazard). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa umpan kalomang memiliki hasil tangkapan lebih banyak baik dari jumlah maupun jenis bila dibandingkan dengan umpan belut, layang dan tongkol. Dari 1057 ekor dan 23 jenis ikan yang tertangkap pada bubu, ikan yang tertangkap dengan umpan kalomang sebanyak 299 ekor dan 21 jenis, umpan belut sebanyak 251 ekor dan 19 jenis, umpan layang sebanyak 264 ekor dan 20 jenis, sedangkan pada umpan tongkol ikan yang tertangkap sebanyak 243 ekor dan 21 jenis. Perbedaan jenis umpan berpengaruh nyata pada alat tangkap bubu.Kata Kunci: Alat Tangkap Bubu, Penggunaan Umpan, Perairan Haka.
Aspek Biologi Reproduksi Kerang Simping (Placuna placenta) di Perairan Desa Langere Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara Nisra, .; Bahtiar, .; Irawati, Nur
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.019 KB)

Abstract

Kerang simping merupakan kerang yang hidup di perairan dangkal dan substrat berlumpur dan memiliki jenis kelamin terpisah. Jantan dan betina dapat dibedakan dengan mengamati warna gonad. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek biologi reproduksi (tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas dan ukuran pertama kali matang gonad). Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan (Januari-Maret 2018) di Perairan Langere Kabupaten Buton Utara dimana dengan menggunakan metode aacak sederhana (simple random sampling) dan jumlah total sampel selama tiga bulan sebanyak 90 individu. Hasil penelitian menunjukkan tahap kematangan gonad kategori IV memiliki persentase yang tinggi dan cenderung mendominasi setiap bulannya. Nilai indeks kematangan gonad tertinggi dibulan Februari pada jantan sebesar 22,80% dan betina sebesar 8,69%, nilai IKG kerang simping jantan dan betina terjadi pada bulan Februari masing-masing sebesar 22,80% dan 8,69%. Fekunditas kerang antara 44.600-1.526.250 butir. Hasil análisis ukuran pertama kali matang gonad terdapat pada lebar ukuran cangkang 6,7 cm.Kata Kunci: Biologi Reproduksi, Placuna placenta, Perairan Langgere
Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Ikan Kakatua (Scarus rivulatus) di Perairan Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan Dayuman, .; Asriyana, .; Halili, .
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.394 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di perairan Tanjung Tiram Kabupaten Konawe Selatan pada bulan Januari sampai April 2018. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan faktor kondisi ikan kakatua. Sampel ikan diperoleh menggunakan jaring insang (gill net) dengan mesh size 1¼, 1½  dan 2 inci, dengan panjang jaring 80 m dan tinggi jaring 2 m. Jumlah sampel ikan yang tertangkap selama penelitian sebanyak 193 individu betina dan 47 individu jantan. Sampel ikan diukur panjangnya menggunakan mistar ketelitian 1 mm  dan ditimbang bobotnya menggunakan timbangan analitik ketelitian 0,01 g. Sebaran frekuensi panjang tertinggi ikan kakatua jantan didominasi ukuran 116 –126  mm (23,4%)  sedang sebaran frekuensi panjang  ikan 162 – 172 mm tidak ditemukan. Sebaran frekuensi panjang ikan kakatua betina tertinggi berada pada selang kelas  127 – 138 mm (31,12%) sementara frekuensi kelas terendah berada pada selang kelas  185 – 195 mm (1,55. Nilai b yang diperoleh dari hubungan panjang dan bobot ikan kakatua jantan sebesar 2,866 sedang pada betina sebesar 2,882. Pola pertumbuhan ikan ini adalah isometrik (b < 3,0). Faktor kondisi ikan kakatua jantan berkisar 0,80 – 2,81 sedang betina berkisar 1,08–3,05. Kata Kunci : Faktor kondisi, Pola pertumbuhan, Scarus rivulatus
Rasio Kelamin dan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Kakatua (Scarus rivulatus Valenciennes, 1840) di Perairan Desa Tanjung Tiram, Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan Aswady, Tri Utary; Asriyana, .; Halili, .
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.701 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan di perairan Tanjung Tiram pada bulan Januari - Juni 2018. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa aspek biologi ikan kakatua meliputi rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, dan ukuran pertama kali matang gonad. Contoh ikan diperoleh menggunakan bottom gill net mesh size 1¼, 1½  dan 2 inci, dan panjang jaring 80 m dan tinggi jaring 2 m. Semua ikan yang tertangkap dijadikan sampel yang jumlahnya 317 ekor yang terdiri atas ikan jantan 70 ekor dan ikan betina 247 ekor. Sampel ikan diukur panjangnya menggunakan mistar ketelitian 1 mm dan ditimbang bobotnya menggunakan timbangan analitik ketelitian 0,01 g. Pengamatan jenis kelamin dilakukan secara anatomi dengan melihat gonad jantan dan betina. Rasio kelamin antara jantan dan betina selama periode penelitian adalah 1:3,5 yang artinya tidak seimbang. Tingkat kematangan gonad pada ikan jantan dan betina didasarkan pada pembagian TKG ikan karang. Tingkat kematangan gonad ikan jantan dan betina didominasi TKG II. TKG IV tertinggi untuk ikan betina terdapat pada bulan Juni (23,08%), sedangkan ikan jantan (TKG IV) tertinggi terdapat pada bulan Januari (25%). Ikan jantan mengalami matang gonad pada 177 mm dan ikan betina pada 165 mm. Ikan kakatua di perairan Tanjung Tiram didominasi ikan betina yang mengindikasikan bahwa kelestarian suatu populasi masih dapat dipertahankan.Kata Kunci : Rasio kelamin, TKG, Ukuran pertama kali matang gonad, Scarus rivulatus  
Studi Keanekaragaman dan Kelimpahan Zooplankton di Perairan Teluk Staring Desa Wawatu Berdasarkan Kedalaman yang Berbeda di Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan Siro, La Ode; Salwiyah, .; Nurgayah, Wa
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.518 KB)

Abstract

Zooplankton adalah organisme yang berperan penting terhadap produktivitas sekunder, karena sebagai penghubung produsen primer dengan konsumen yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan zooplankton berdasarkan kedalaman yang berbeda di Perairan Teluk Staring Desa Wawatu Kecamatan Moramo Utara. Pengambilan sampel dilakukan 3 kali dengan interval waktu 10 hari dalam sebulan pada bulan Agustus tahun 2017. Variabel utama dalam penelitian ini adalah keanekaragaman dan kelimpahannya zooplankton, sedangkan variabel pendukung adalah parameter fisika dan kimia yang diukur langsung dari tempat penelitian dan di laboratorium. Sampel zooplankton disaring menggunakan jaring plankton ukuran 25 μm. Stasiun I dekat pemukiman penduduk dan dermaga, Stasiun II dekat penambangan batu, dan  Stasiun III dekat wisata Pulau Lara. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, yaitu pada masing-masing stasiun terbagi dalam 3 variasi kedalaman yaitu 0,5, 5 dan 10 m. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan dari jumlah jenis zooplankton keseluruhan stasiun sebanyak (≥ 691 ind/L), ketiga stasiun pada stasiun I (31 genera), pada stasiun II (30 genera), sedangkan pada stasiun III (31 genera) zooplankton. Kelimpahan zooplankton berkisar 61.67-185 ind/L. Kelimpahan zooplankton didominasi kelas Crustacea (Copepoda). Berdasarkan spasial kelimpahan tertinggi zooplankton terdapat pada Stasiun I kedalaman 10 m. Sedangkan kelimpahan terendah zooplankton Stasiun I pada  kedalaman 0,5 m. Keanekaragaman zooplankton di perairan Teluk Staring Desa Wawatu keaneragamannya sedang, indeks keseragaman seimbang, dan indeks dominansi tidak ada mendominansi spesies lain                               Kata Kunci : zooplankton, kedalaman berbeda, fisika kimia, Teluk Staring desa Wawatu
Kepadatan dan Biomassa Chaetomorpha crassa yang Menempel pada Kappaphycus alvarezii dalam Jaring Kantung Apung di Perairan Pantai Lakeba Kota Bau-Bau Arnol, Deddy; Kasim, Ma'ruf; Irawati, Nur
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.585 KB)

Abstract

Makroepifit Chaetomorpha crassa merupakan alga filamen berbentuk menyerupai benang dan menggumpal. alga ini sering ditemukan sekaligus mendominasi sebagai epifit pada aktivitas budidaya rumput laut. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kepadatan dan biomassa Chaetomorph crassa yang menempel pada talus Kappaphycus alvarizzi di Perairan Pantai Lakeba Kota Bau-Bau. Penelitian ini dilakukan dengan metode budidaya jaring kantung apung. Hasil penelitian menunjukan bahwa Chaetomorpha crassa melimpah diawal penelitian yaitu pada pengamtan hari ke-10 dimana nilai kepadatan dan biomassa tertinggi diperoleh sebanyak 11 ind/m² dengan bobot 30,4 gram sedangkan pada pengamatan hari ke-20 mengalami penurunan dengan jumlah penempelan diperoleh sebanyak 5 ind/m² dengan bobot 18 gram. Pengamatan hari ke-30  dan hari ke-40 penempelan mengalami penurunan yang sangat  drastis dimana tidak ditemukannya individu yang menempel. Hasil penugukuran parameter fisika dan kimia perairan selama  penelitian diperoleh suhu berkisar 28-30°C kecepatan arus berkisar 0,082-0,311 m/detik salinitas berkisar antara 30-32 %o, nitrat berkisar 0,0092-0,0425 mg/L, fosfat berkisar 0,0017-0,0037 dan DO 5,3-7,4 mg/L.                Kata kunci : Biomassa dan Kepadatan C haetomorpha crassa, Jaring kantung apung, Kappaphycus alvarezii
Struktur Komunitas Makroaga pada Media Bioreeftek di Perairan Desa Puasana, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan Suharjo, La Ode; Nadia, La Ode Abdul Rajab; Salwiyah, .
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.48 KB)

Abstract

Alga merupakan salah satu sumber daya alam hayati laut yang bernilai ekonomis dan  memiliki peranan ekologis sebagai produsen dalam rantai makanan dan tempat pemijahan bagi biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas makroalga pada media bioreeftek di perairan Desa Puasana Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian menunjukkan komposisi jenis makroalga yang ditemukan yaitu 9 jenis, diantaranya 1 jenis dari kelas Phaeophyta, 5 jenis dari kelas Rhodophyt, dan 3 jenis dari kelas Chlorophyta. Kepadatan makroalga stasiun I, II dan III yaitu 3.55, 2.77 dan 2.44. Keanekaragaman jenis makroalga tergolong pada kategori rendah berkisar antara 1.47, 1.34 dan 1.04, dominansi jenis makroalga pada stasiun I adalah  0.25, stasiun II, 0,26 dan 0,36 pada stasiun III. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa erat hubungannya antara dan komposisi jenis makroalga yang ditemukan pada media bioreeftek. Stasiun I dengan habitat pasir berlumpur banyak ditemukan kelas Phaeophyta jenis Padina australi, stasiun II ditemukan kelas Rhodophyta jenis Acanthopora muscoides dengan habitat patahan karang sedikit berpasir dan beberapa kelas Phaeophyta jenis Padina australis. Stasiun III dengan habitat fragmen karang atau pecahan karang mati, jenis makroalga yang ditemukan beranekaragam dari kelas Chlorophyta, Rhodophyta, dan Phaeophyta. Hasil pengukuran kualitas perairan yang diperoleh kisaran suhu (30  ̶  31 oC), kecerahan (100  ̶  80 %), kecepatan arus (0.026  ̶  0.020 m/s), and salinitas (34  ̶  30 ppt).Kata Kunci :  Makroalga,  kepadatan, keseragamaan, dominansi, pada media     bioreeftek. 
Tingkat Akumulasi Nikel pada Kerang Bulu (Anadara antiquata) di Perairan Pesisir Dawi-Dawi Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka Zakir, Ahmad; Hamid, Abdul; Emiyarti, .
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.927 KB)

Abstract

Logam berat yang terdapat di perairan pesisir Pomalaa berasal dari adanya aktivitas pertambangan dan reklamasi pantai dengan mengunakan limbah bekas smelter. Logam berat dari aktivitas pertambangan oleh industri nasional pertambangan masuk melalui muara sungai menuju ke perairan pesisir, selain itu dengan adanya reklamasi pantai yang menggunakan material dari limbah tambang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar nikel pada kerang bulu. Penelitian ini dilaksanakan di perairan pesisir Dawi-Dawi Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka pada bulan Desember 2017 sampai Januari 2018. Analisis logam berat nikel dilakukan di Laboratorium Kimia Terpadu Institut Pertanian Bogor dengan menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometric). Hasil analisis laboratorium diperoleh kadar nikel pada kolom air, kerang bulu dan sedimen berturut-turut berkisar 0,87 – 1,08 mg/L, 9,62 – 27,97 mg/kg dan 325,55 – 359,54 mg/kg. Berdasarkan hasil analisis laboratorium, kadar nikel telah melewati baku mutu kualitas air untuk biota laut (0,05 mg/L). Semakin dekat dengan lokasi pengelolaan nikel (sumber pencemar) maka kadar nikel pada sedimen, kolom air, dan tubuh kerang bulu semakin tinggi.Kata Kunci: Anadara antiquata,  Kolaka, Nikel, Pomalaa

Page 11 of 23 | Total Record : 230