cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Senyawa Antioksidan dari Ekstrak n-Heksana Daun Asam Jawa (Tamarindus indica L.) dari Banyuresmi, Garut - Indonesia Fidrianny, Irda; Zahidah, Ellis Siti; Hartati, Rika
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 39, No 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.126 KB)

Abstract

Pada proses metabolisme tubuh radikal bebas terbentuk secara alami, dalam jumlah tertentu diperlukan tubuh karena merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh. Jika tubuh terpapar radikal bebas berlebihan dan terus menerus dapat menyebabkan kerusakan sel bahkan kematian sel. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Berdasarkan beberapa penelitian, daun asam Jawa (Tamarindus indica L.) diketahui memilki efek antioksidan. Selain itu, daun asam Jawa telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan berbagai ekstrak daun asam Jawa dengan DPPH, menetapkan IC50 peredaman DPPH, menetapkan kadar fenol total, flavonoid total, karotenoid total dari masing-masing ekstrak, menganalisis korelasi fenol total, flavonoid total, dan karotenoid total terhadap aktivitas peredaman DPPH dan mengisolasi senyawa aktif antioksidan dari ekstrak daun asam Jawa. Simplisia daun asam Jawa diekstraksi dengan refluks menggunakan tiga pelarut dengan kepolaran meningkat yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol. Dilakukan pemantauan pada setiap ekstrak secara kromatografi lapis tipis (KLT). Uji aktivitas peredaman radikal bebas DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil), IC50 peredaman DPPH, penentuan flavonoid total, fenol total, karotenoid total dilakukan dengan spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan analisis korelasinya dengan aktivitas peredaman DPPH menggunakan metode Pearson. Ekstrak n-heksana difraksinasi secara kromatografi cair vakum (KCV). Fraksi ke-4-5 selanjutnya dilakukan subfraksinasi secara kromatografi kolom. Subfraksi 31 dimurnikan dengan KLT preparatif dan dilakukan uji kemurnian secara KLT. Simplisia daun asam Jawa (Tamarindus indica L.) mengandung flavonoid, fenol, terpenoid, steroid/triterpenoid. Ekstrak etanol daun asam Jawa (BJ ekstrak 1 % 0,81 g/mL) menunjukkan aktivitas peredaman DPPH tertinggi (66,74%) dengan IC50 peredaman DPPH 2,05 µg/mL, fenol total 6,17 g GAE/100 g, flavonoid total 3,22 g QE/100 g, karotenoid total 0,35% g BE/100 g. Satu senyawa antioksidan E diperoleh dari ekstrak n-heksana. Aktivitas peredaman DPPH ekstrak etanol daun asam Jawa berbeda bermakna terhadap ekstrak etil asetat dan ekstrak n-heksana (p<0.05). Golongan fenol merupakan kontributor utama pada aktivitas antioksidan ekstrak daun asam Jawa dengan metode DPPH. Senyawa antioksidan E merupakan senyawa aglikon flavonol yang mempunyai -OH bebas pada C-3 dan diduga mempunyai -OH bebas pada cincin A dan atau B.Kata kunci: antioksidan, DPPH, asam Jawa, daun, ekstrak n-heksana, isolat EAbstractIn metabolism process free radicals are formed naturally. The body needs a certain amount as a part of the bodys defense system. If body is exposed by free radicals excessively and continuously can cause cell damage and even cell death. Antioxidant are compounds that can inhibit the oxidation reaction by binding to free radicals and highly reactive molecules. Based on several studies, tamarind (Tamarindus indica L.) leaves were known to have the effect of antioxidants. In addition, tamarind leaves have been used by people for treating various diseases. This research aimed to test the antioxidant activity of various extracts of tamarind leaves by DPPH method, determine IC50 DPPH scavenging activity, total phenolic, total flavonoids, total carotenoid of each extract, analyze their correlation with DPPH scavenging activity and isolation antioxidant compound of tamarind leaves extract. Crude drug of tamarind leaves was extracted by reflux aparatus using three solvents with increasing polarity, n-hexane, ethyl acetate and ethanol. Each extract were monitored by TLC, IC50 DPPH scavenging activity, total phenolic, total flavonoids, total carotenoid of each extracts by ultraviolet-visible spectrophotometry and their correlation with DPPH scavenging activity by Pearson method. N-hexane extract was fractionated by vacuum liquid chromatography. Then fractions 4-5 were subfractionated by column chromatography. Subfraction 31 was purified using preparative thin layer chromatography (TLC) and purity test was performed by TLC. Crude drug of tamarind (Tamarindus indica L.) leaves contained flavonoids, phenolic compound, terpenoids, steroids / triterpenoids. Ethanol extract of tamarind leaves (MW 1 % extract was 0.81 g / mL) showed the highest DPPH scavenging activity (66.74 % ) with IC50 of DPPH scavenging activity 2.05 µg/mL. Total phenolic, flavonoid, carotenoid content were 6.17 g GAE/100 g, 3.22 g QE/100 g and 0.35 g BE/100 g, respectively. An antioxidant compound E was obtained from n-hexane extract. The antioxidant activity of ethanol extract significantly different with n-hexane extract and ethyl acetate extract (p<0.05). Phenolic compounds were the major contributor in tamarind leaves extract using DPPH assay. Antioxidant compound E was flavonol aglycone that had free -OH group in C-3 and expected had free -OH in ring A and or ring B.Keywords: antioxidant, DPPH, tamarind, leaves, n-hexane extract, isolate E
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI LIMA BELAS JENIS MUTU TEH HITAM ORTODOKS ROTORVANE DAN TEH PUTIH (CAMELLIA SINENSIS VAR. ASSAMICA) PADA STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 6538 Insanu, Muhamad; Maryam, Ida; Rohdiana, Dadan; Wirasutisna, Komar Ruslan
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 42, No 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.776 KB)

Abstract

ABSTRAKCamellia sinensis (L.) Kuntze atau teh merupakan tumbuhan yang berasal dari suku theceae, digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.  Secara tradisional teh digunakan sebagai obat kumur hal ini diperkuat oleh beberapa penelitian sebelumnya yang membuktikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri yang ada pada rongga mulut antara lain Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri dari lima belas mutu teh hitam dan teh putih yang diekstraksi dengan pelarut yang berbeda kepolaran. Serbuk simplisia daun teh diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut dengan kepolaran yang meningkat, yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak difraksinasi menggunakan ekstraksi cair-cair. Seluruh ekstrak dan fraksi diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus ATCC6538 menggunakan metode mikrodilusi dan difusi agar. Fraksi yang paling kuat aktivitas antibakterinya diuji menggunakan biaoautografi. Hasil percobaan menunjukkan ekstrak etanol teh putih memiliki aktivitas antibakteri yang paling kuat dengan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) 78,13 μg/mL, sedangkan berbagai macam ekstrak teh hitam KHM-nya bervariasi antara 625-2500 μg/mL. Fraksi etil asetat dari ekstrak etanol teh putih memiliki aktivitas paling kuat dengan nilai KHM 156,25 μg/mL. Hasil bioautografi fraksi etil asetat menunjukkan hambatan pertumbuhan bakteri S. aureus pada nilai Rf 0,5 dan 0,76. Berdasarkan reaksi warna kedua nilai Rf ini termasuk golongan  flavonoid.Kata kunci: antibakteri, Staphylococcus aureus, teh putih, teh hitam orthodoxEVALUATION ON ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF FIFTEEN DIFFERENT CLASSES OF ORTHODOX ROTORVANE BLACK TEA AND WHITE TEA (CAMELLIA SINENSIS VAR. ASSAMICA) AGAINST STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 6538ABSTRACTCamellia sinensis (L.) Kuntze or tea is a plant belonging to Theaceae family. It can be classified into four different classes, which are black tea, oolong tea, green tea and white tea. Traditionally, tea was used as a mouthwash. It was strengthened by previous researches; tea had antibacterial activity especially against bacteria that live in the oral cavity such as Staphylococcus aureus. The aim of this study was to evaluate the antibacterial activity of 15 different classes of black tea and white tea which were extracted by various organic solvents. The crude drugs were obtained by maceration using three different solvents, which were n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The extract was fractionated by liquid-liquid extraction. All extracts and fractions were evaluated their antibacterial activity using microdilution and disc diffusion. The strongest antibacterial fraction was continued to bioautography assay. Based on the result the ethanol extract of white tea showed the strongest activity with the Minimum Inhibition Concentration (MIC) was 78.13 μg/mL while the other extracts of black tea were ranged between 625-2500 μg/mL. Ethyl acetate fraction of white tea ethanol extract had MIC value which was 156.25 μg/mL.  Bioautography showed the rf values of 0.5 and 0.76 inhibited the growth of bacteria. Based on spot test, they were flavonoid compounds.Keywords: antibacterial, Staphylococcus aureus, white tea, orthodox black tea
Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Kulit Batang Ketapang (Terminalia Catappa L.) Sumintir, Sumintir; Wirasutisna, Komar Wirasutisna Ruslan; Suganda, Asep Gana; Sukandar, Elin Yulinah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 1 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.578 KB)

Abstract

Ketapang (Terminalia catappa L.) banyak digunakan sebagai obat tradisional. Informasi mengenai aktivitas antimikroba dari kulit batang ketapang sejauh ini belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antimikroba ekstrak etanol kulit batang ketapang. Kulit batang diekstraksi dengan metode refluks menggunakan pelarut etanol. Ekstrak difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, kloroform, dan etil asetat. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi agar. Ekstrak etanol simplisia kering kulit batang ketapang menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) masing-masing 200 μg/cakram dan 300 μg/cakram. Fraksi etil asetat merupakan fraksi yang paling aktif dengan KHM 50 μg/cakramterhadap S. aureus dan C. albicans. Satu mikrogram fraksi etil asetat setara dengan 1,27x10-3 μg tetrasiklin HCl dan setara dengan 2,1x10-4 μg ketokonazol. Aktivitas antimikroba ekstrak etanol simplisia kering lebih tinggi daripada ekstrak etanol simplisia segar. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas antimikroba paling tinggi dan semua fraksi menunjukkan aktivitas antimikroba yang lebih rendah daripada antibiotik pembanding.Kata kunci : ketapang, antimikroba, fraksi etil asetat, Candida albicans, Staphylococcus aureus “Ketapang” (Terminalia catappa L.) had been widely used as a folk medicine. Antimicrobial activity of “ketapang” bark had not been reported. The aim of this research was to investigate antimicrobial activity of ethanol extract of “ketapang” bark. The bark was extracted by refflux method, using ethanol as solvent. The extract was fractionated by liquid-liquid extraction method, using n-hexane, chloroform, and ethyl acetate as solvents. Antimicrobial activity was tested by agar disc diffusion method. Dried crude drug ethanolic extract of “ketapang” bark showed antimicrobial activity against Staphylococcus aureus and Candida albicans with minimum inhibition concentration (MIC) of 200 μg/disc and 300 μg/disc, respectively. The ethyl acetate fraction had highest antimicrobial activity against S. aureus and C. albicans with MIC of 50 μg/disc. A microgram of ethyl acetate fraction was equivalent to 1.27 x 10-3 μg tetracycline hydrochloride and 2.1 x 10-4 μg ketoconazole, respectively. Antimicrobial activity of dried crude drug was higher than fresh crude drug ethanolic extract. The ethyl acetate fraction had highest antimicrobial activity and all fractions showed lower activity than standard antibiotics.Keywords: ketapang, antimicrobial, ethyl acetate fraction, Candida albicans, Staphylococcus aureus
Uji Efek Antihiperurikemia Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata L.) pada Tikus Betina Galur Wistar Sukandar, Elin Yulinah; Adnyana, I Ketut; Readi, Septa
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.118 KB)

Abstract

Daun sirsak (Annona muricata L.) digunakan secara tradisional untuk menangani berbagai penyakit termasuk untuk menurunkan asam urat. Dalam penelitian ini telah dilakukan uji antihiperurikemia ekstrak etanol daun sirsak dosis 100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb dan 400 mg/kg bb pada tikus Wistar betina yang diberi asam urat 1 g/kg bb dan kalium oksonat 200 mg/kg bb. Hasil menunjukkan ekstrak etanol daun sirsak dosis 100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb dan 400 mg/kg bb dapat menurunkan kadar asam urat dalam serum yang berbeda bermakna terhadap kontrol (p<0,05) tetapi tidak meningkatkan ekskresi asam urat dalam urin dibandingkan kontrol (p>0,05).Kata kunci: Annona muricata L., antihiperurikema, asam urat. Soursop (Annona muricata L.) leaves have been used traditionally for treatment some diseases including to decrease uric acid. The objective of this research is to test antihyperuricemic effect of soursop leaves extract at a dose of 100 mg/kg bw, 200 mg/kg bw, and 400 mg/kg bw in female Wistar rats that induced by uric acid 1 g/kg bw and potassium oxonate 200 mg/kg bw. Those doses could decrease uric acid level in the serum (p<0.05) but did not increase excretion uric acid in the urine (p>0.05) compared to control groups.Keywords: Annona muricata L., antihyperuricemic, uric acid.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL AKAR, BUNGA, DAN DAUN TURI (SESBANIA GRANDIFLORA L. POIR) Kurniati, Neng Fisheri; Garmana, Afrillia Nuryanti; Aziz, Nur
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 42, No 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.428 KB)

Abstract

ABSTRAKPada masa kini semakin banyak ditemukan kasus infeksi terhadap bakteri dan jamur termasuk terhadap mikroba yang resisten. Pengembangan agen antimikroba baru perlu dilakukan dan salah satunya dapat berasal dari bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan antijamur ekstrak etanol akar, bunga, dan daun turi (Sesbania grandiflora L. Poir) terhadap mikroba uji, di antaranya Staphylococcus aureus, Methicilin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Candida albicans. Aktivitas antibakteri dan antijamur ditentukan dengan metode mikrodilusi untuk mendapatkan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) masing-masing ekstrak terhadap mikroba uji. Selanjutnya dilakukan penentuan sifat kombinasi dari ekstrak yang potensial sebagai antimikroba dengan obat sintetik seperti vankomisin atau meropenem dengan metode difusi agar menggunakan pita kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga ekstrak etanol bagian tanaman turi, hanya bagian daun yang memiliki aktivitas antimikroba, yaitu terhadap S. aureus, MRSA, dan C. albicans. Aktivitas ekstrak etanol daun turi terhadap MRSA memiliki KHM dan KBM yang paling rendah secara berturut-turut yaitu 64 dan 2048 μg/mL. Kombinasi ekstrak etanol daun turi dengan vankomisin atau meropenem terhadap MRSA bersifat aditif.Kata kunci: Antibakteri, Antijamur, Sesbania grandiflora L. Poir, KHM, KBMANTIBACTERIAL AND ANTIFUNGAL ACTIVITIES OF ETHANOL EXTRACT OF THE ROOTS, FLOWERS, AND LEAVES OF TURI (SESBANIA GRANDIFLORA L. POIR)ABSTRACTNowadays, the cases of infection by bacteria and fungi including resistant microbes are increasing. The development of new antimicrobial agents needs to be done and one of them can be derived from natural sources. This study aims to determine antibacterial and antifungal activity of ethanol extract of the roots, flowers, and leaves of turi (Sesbania grandiflora L. Poir) against some microbes including Staphylococcus aureus, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, and Candida albicans. Antibacterial and antifungal activity was determined by microdilution method to obtain the value of Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal/Fungicidal Concentration (MBC) of each extract against tested microbes. Furthermore, the determination of the extract with potential activity in combination with synthetic drugs (i.e. vancomycin or meropenem) using agar diffusion method by using paper strips. Of the three ethanol extracts of different part of turi, only the leaves part have a potential antimicrobial activity against S. aureus, MRSA, and C. albicans. The lowest values of MIC and MBC were showed in the ethanol extract of turi leaves against MRSA which were 64 dan 2048 μg/mL, respectively. The combination of the ethanolextract of turi leaves with vancomycin or meropenem against MRSA showed an additive interaction.Keywords: Antibacterial, Antifungal, Sesbania grandiflora L. Poir, MIC, MBC
Antitumor Activity of Soursop (Annona muricata L.) Leaves On Prostate Cancer Cell Line Zuhrotun, Ade; Abdullah, Rizky; Thamrin, Meiliana; Febriliza, Resti
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.726 KB)

Abstract

Soursop (Annona muricata L.) leaves were used as a traditional drug for many diseases such as cancer.  Statistical data from one cancer hospital in Jakarta in the period of 2005 and 2007 showed that prostate cancer has become one of ten common cancer cases in ambulatory patients. This research was conducted to investigate the potency of an herbal drug for prostate cancer. The soursop leaves were extracted by maceration and fractionated by liquid-liquid extraction. The activity of all samples was then tested by Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) and MTT assay using prostate cell line, LNCaP. The result showed that soursop leaves extract and all fractions had a cytotoxic activity to Artemia salina L. larvae (LC50<1000 ìg/ml). The MTT assay showed that soursop leaves extract, n-hexane and ethyl acetate fractions had a proliferative effect to LNCaP cell line (IC50<350 ìg/ml). Whereas, water fraction had no effect up to 400 ìg/ml. Ethyl acetate fraction showed the best antitumor activity because its LC50 and IC50 values were the lowest. It can be suggested that soursop leaves showed antitumor activity and had a prospective to be developed as herbal drug for prostate cancer therapy.Keywords: Soursop leaves, Annona muricata L., Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), LNCaP AbstrakDaun sirsak (Annona muricata L.) banyak digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai macam penyakit seperti kanker. Berdasarkan data statistik dari salah satu rumah sakit kanker di Jakarta pada periode 2005 hingga 2007, menunjukkan bahwa kanker prostat telah menjadi 1 dari 10 macam kasus kanker yang umum diderita oleh pasien ambulatori. Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki potensi dari obat herbal untuk kanker prostat. Daun sirsak diekstraksi dengan cara maserasi dan fraksinasi menggunakan ekstraksi cair-cair. Aktifitas dari keseluruhan sampel kemudian diuji menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dan uji MTT dengan kultur sel kanker, LNCaP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak dan seluruh fraksinya memiliki aktifitas sitotoksik terhadap larva Artemia salina L. dengan LC50<1000 ìg/ml. Hasil dari pengujian MTT menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak dari fraksi n-heksana dan etil asetat memiliki efek proliferatif pada kultur sel LNCaP (IC50 < 350 ìg/ml). Sedangkan fraksi air dari daun sirsak hingga konsentrasi 400 ìg/ml tidak menunjukkan adanya efek yang sama. Fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas antitumor yang paling baik karena memiliki nilai LC50 dan IC50 yang paling rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daun sirsak menunjukkan adanya aktivitas antitumor dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat herbal untuk terapi kanker prostat.Kata kunci : Daun sirsak, Annona muricata L., Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), LNCaP
Korelasi Konsentrasi Serum HS-CRP, Adiponektin dan Cystatin-c dengan LDL Teroksidasi sebagai Petanda Aterosklerosis pada Pria Sindroma Metabolik Kusmiati, Meti; Kartawinata, Tutus Gusdinar; Kaniawati, Marita
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 4 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan uji korelasi antara konsentrasi serum hs-CRP, Adiponektin dan Cystatin-C dengan LDL teroksidasi sebagai petanda aterosklerosis pada pria sindroma metabolik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi konsentrasi serum antara hs-CRP dengan LDL teroksidasi dengan nilai r=0,316 dan p=0,022, korelasi konsentrasi serum Adiponektin dengan LDL teroksidasi dengan nilai r= -0,177 dan p=0,046 dan korelasi konsentrasi serum Cystatin-C dengan LDL teroksidasi dengan nilai r= 0,317 dan p= 0,022.Kata kunci : Sindroma Metabolik, hs-CRP, Adiponektin, Cystatin-CAbstractThe correlation test has been conducted between serum concentration of hs-CRP, Adiponectin and Cystatin-C with oxidized LDL as a marker of Atherosclerosis in male metabolic syndrome. The other research result has shown there was a correlation between the serum concentration of hs-CRP with oxidized LDL by value of r = 0.316 and p = 0.022, correlation of serum concentration of oxidized LDL Adiponectin by value of r = -0.177 and p = 0.046 and the correlation of serum concentration of Cystatin-C with oxidized LDL by value of r = 0.317 and p = 0.022.Keywords : Metabolic Syndrome, hs-CRP, Adiponectin, Cystatin-C
Kesesuaian Informasi Kontraindikasi Obat Gastrointestinal Untuk Pasien Geriatri Pada Berbagai Sumber Informasi Tersier Wirasuta, I Made Agus Gelgel; Danuswari, Anak Agung Febi; Larasanty, Luh Putu Febriyana
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 39, No 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.195 KB)

Abstract

Penggunaan obat gastrointestinal meningkat seiring penurunan fungsi sistem gastrointestinal pada populasi geriatri. Informasi kontraindikasi merupakan salah satu informasi keamanan yang diperlukan bagi pasien geriatri. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Informasi Spesialite Obat (ISO), British National Formulary (BNF), dan Drug Information Handbook (DIH) merupakan sumber informasi tersier yang memuat informasi keamanan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian informasi kontraindikasi obat gastrointestinal untuk populasi geriatri pada sumber informasi tersier dengan Beers List sebagai pustaka acuan.Penelitian dilakukan dengan studi kepustakaan pada informasi kontraindikasi penggunaan obat gastrointestinal untuk pasien geriatri pada sumber literatur tersier. Sampel obat gastrointestinal diperoleh dari pendataan pada buku Farmakologi Dasar dan Klinik, diperoleh 20 jenis obat yang informasi keamanan tercantum pada keempat sumber informasi tersier yang digunakan. Informasi kontraindikasi 20 obat tersebut didata pada masing-masing sumber informasi tersier, kemudian dikonfirmasi silang dengan informasi pada Beers List, sehingga diperoleh persentase kesesuaian informasi kontraindikasi pada masing-masing sumber informasi tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 20 jenis obat gastrointestinal yang digunakan dalam penelitian tidak dikontraindikasikan untuk populasi geriatri. Informasi pada Beers List juga menyatakan bahwa penggunaan obat tersebut tidak dikontraindikasikan pada populasi geriatri, sehingga informasi kontraindikasi penggunaan obat gastrointestinal pada keempat sumber informasi tersier sesuai dengan informasi yang tercantum pada Beers List.Kata kunci: geriatri, informasi keamanan, obat gastrointestinal.AbstractUses of gastrointestinal drugs was increased as the decline in the function of the gastrointestinal system in the geriatric population. Contraindication information is one of the safety information that is required for geriatric patients. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Informasi Spesialite Obat (ISO), the British National Formulary (BNF), and the Drug Information Handbook (DIH) is a tertiary drug information source that includes information of safety drug use. This study aims is to determine the suitability of the information gastrointestinal drug contraindications to the geriatric population in various tertiary resources with Beers List as its reference library.This research are literature study on the use of contraindicated information of gastrointestinal drugs for geriatric patients at tertiary literature sources. Gastrointestinal drug samples listed from Basic and Clinical Pharmacology book, obtained 20 types of generic drug that safety information contained in the all of tertiary resources are used in this study. Contraindications information of those drug in each tertiary resources, then cross confirmed with the information on Beers List, in order to obtain the percentage of suitability of contraindicated information in each tertiary resources.The results showed that 20 type of gastrointestinal drugs used in this study were not contraindicated in geriatric population. Information on the Beers List also states that the use of the drug is not contraindicated in the geriatric population. It is concluded that the contraindicated information of gastrointestinal drug use in geriatric population in IONI, ISO, DIH and BNF is in accordance with the information listed on the Beers List.Keywords: geriatric, gastrointestinal drug, safety information
Isolasi Flavonoid dari Daun Durian (Durio Zibethinus Murr., Bombacaceae) Fidrianny, Irda; Wijaya, Sienny; Insanu, Muhamad; Ruslan, Komar
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 36, No 1 & 2 (2011)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.435 KB)

Abstract

Daun durian (Durio zibethinus Murr., Bombacaceae) secara tradisional banyak digunakan untuk menurunkan demam. Penelitian dan publikasi mengenai kandungan kimia daun durian masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk menelaah kandungan kimia daun durian. Simplisia daun durian diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut berturut-turut n-heksana, etil asetat dan etanol. Ekstrak etanol difraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair dengan menggunakan pelarut eter, etil asetat dan butanol. Fraksi butanol dimurnikan secara kromatografi kertas preparatif. Sedangkan fraksi eter dimurnikan secara kromatografi lapis tipis preparatif. Isolat dikarakterisasi dengan penampak bercak spesifik, spektrofotometri ultraviolet - sinar tampak dan pereaksi geser. Dari ekstrak etanol diperoleh isolat S yang menunjukkan dua puncak pada 257 tim, 357 nm dan isolat W yang menunjukkan puncak pada 268 nm dan 313 nm. Isolat S merupakan golongan senyawa ilavonol 3-OH tersubstitusi dengan gugus OH pada atom C-5, C-7, C-3’ dan C-4’. Isolat W merupakan senyawa golongan flavon dengan gugus OH pada atom C-5, C-77 dan C-4.
Efektivitas Preventif Omeprazol Terhadap Efek Samping Tukak Lambung Antiinflamasi Non Steroid (Asetosal) pada Tikus Galur Wistar Betina Sigit, Joseph Iskendiarso; Ribkah, Ribkah; Soemardji, Andreanus Andaja
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.768 KB)

Abstract

Obat antiinflamasi non steroid (OAINS) memiliki efek samping utama dalam penggunaan berulang, yaitu tukak lambung. Penggunaan OAINS dengan dosis tinggi (dosis anti rematik artritis) meningkatkan resiko terkenanya tukak lambung. Pemberian obat anti tukak lambung seperti omeprazol dapat mengobati dan mencegah tukak lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas preventif omeprazol terhadap efek samping tukak lambung OAINS, asetosal pada dosis anti rematik artritis. Efektivitas preventif omeprazol ditentukan secara in vivo pada tikus galur Wistar betina. Tikus dibagi menjadi kelompok yang mendapat OAINS uji (asetosal) pada dosis anti rematik artritis saja dan kelompok yang mendapat omeprazol sebagai terapi preventif, kemudian diberikan asetosal pada dosis anti rematik artritis. Perlakuan diberikan selama tujuh hari, kemudian tukak lambung yang terjadi dievaluasi menggunakan skor jumlah tukak, keparahan tukak dan persen kejadian tukak lambung, dan dibandingkan antar kelompok perlakuan secara statistik. Dihitung indeks tukak tiap klompok untuk menilai tingkat tukak lambung yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan, efektivitas preventif omeprazol terhadap efek samping tukak lambung dari asetosal adalah sebesar 10,68 %.Kata kunci: OAINS, asetosal, efek samping, indek tukak. Non steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) have prominent side effect in repeated use, peptic ulcer. Indication of NSAIDs in high dose (rheumatic arthritis’ dose) increase the risk of peptic ulcer. Administration of antipeptic ulcer medicine-omeprazol could prevent and healing peptic ulcer. The aim of this study was to observe the effectivity of omeprazol’s prevention to peptic ulcer side effect of NSAIDs, asetosal in rheumatic arthritis’ dose. The effectivity of omeprazol’s prevention determined in vivo in female Wistar rats. Rats were divided into group given asetosal only in rheumatic arthritis’s dose and group given omeprazol preventively then asetoal in rheumatic arthritis’s dose. Treatment be given for seven days, then formed peptic ulcer could be evaluated by scoring of ulcer amount and ulcer severity formed and then the datas of the difference beetween two groups are evaluated staticly. Ulcer index each group were determined for determining ulcer damage. The results showed that the effectivity of omeprazol’s prevention to peptic ulser side effect of acetosal as an peptic ulser inhibition was 10.68 %.Keywords: NSAID, acetosal, adverse effect, ulcer index.

Page 2 of 26 | Total Record : 254