cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 144 Documents
REDEFINISI PERAN GURU MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERMUTU Mukani Mukani
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.782 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.1.167-188

Abstract

Dikotomi secular science dan religious science merubah pola pikir masyarakat muslim dalam beragama. Dari periode klasik yang memandang Islam sebagai ajaran komprehensif, berubah menjadi sebuah pemahaman yang memandang Islam sebagai agama yang hanya berorientasi kepada ritual. Dipahami bahwa pendidikan adalah proses yang memiliki continuity dan secara sadar dilakukan untuk mempersiapkan generasi yang memiliki pengetahuan dan nilai secara seimbang. Di sisi lain, dampak negatif dari kehidupan modern tidak dapat dihindari lagi oleh manusia modern, terutama dari aspek pendidikan. Untuk itu, berbagai unsur pada pendidikan harus terus menjaga keterkaitan yang telah ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Partisipasi dan kepedulian masyarakat yang masih rendah terhadap kemajuan dunia pendidikan harus  diakhiri, seiring realisasi konsep school based management atau SBM. Aspek lain yang harus disiapkan adalah kualitas guru. Secara konsepsional, guru memiliki tiga fungsi, yaitu kognitif, moral dan inovatif. Agar menjadi sosok ideal di Indonesia, guru harus memenuhi delapan indikator, yaitu prinsip teologis, prinsip formal, prinsip fungsional, prinsip kultural, prinsip komprehensivitas, prinsip subtstansial, prinsip sosial dan prinsip identitas.
UPAYA MANAJERIAL PENGEMBANGAN KURIKULUM PROGRAM UNGGULAN DI MADRASAH ALIYAH Sudarsono Sudarsono
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (922.083 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.1.92-115

Abstract

Bahasa Indonesia:Peningkatan mutu pendidikan melalui program unggulan yang diselenggarakan di Madrasah Aliyah turut serta  meningkatkan kualitas output pendidikan nasional untuk merespon krisis dalam dimensi kualitas sumber daya manusia maupun krisis dalam bidang identitas dan moralitas manusia Indonesia. Tulisan ini berupaya untuk menyampaikan pandangan tentang upaya manajerial pengembangan kurikulum untuk program-program unggulan dalam konteks Madrasah Aliyah. Manajemen pengembangan kurikulum program unggulan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Perencanaan kurikulum yang dilakukan dalam mencapai tujuan kurikulum adalah kurikulum yang digunakan adalah kurikulum “SNP Plus X Adaptif Cambridge”, sehingga siswanya dapat mengikuti ujian Cambridge, sukses ujian nasional dan sukses OSN (olimpiade sains nasional). Dalam pelaksanaan kurikulum mengacu pada silabus dan RPP yang telah dirancang awal ajaran melalui workshop. Evaluasi kurikulum program unggulan dilaksanakan dalam bentuk evaluasi formatif dan evaluasi sumatif untuk mengukur keberhasilan peserta didik dan digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik. English:Quality of education improvement via special quality program in higher Islamic school has been participating in increasing the national education quality to respond multi-dimensional crisis, such as human resource quality and identity-morality issues. This paper attempts to provide opinion about managerial efforts in curriculum development for the special quality program in higher Islamic schools. The management involves planning, implementing, and evaluating curriculum. The planning is managed to under the framework of “SNP Plus X Adaptif Cambridge” curriculum so that the students are expected to pass The National Examination and National Science Olympiade. The implementation of curriculum refers to syllabus and lesson plans as a workshop product in the beginning of semester. The evaluation of curriculum makes use both formative and summative curriculum to maeasure students’ achievement and to provide feedbacks for them.
Telaah Komparatif Pengarusutamaan Gender dalam Pendidikan Islam di Saudi Arabia, Mesir, Malaysia, dan Indonesia Rohil Zilfa
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.618 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.264-287

Abstract

Bahasa Indonesia:Artikel ini menganalisis pengarusutamaan gender ditinjau dari perspektif perbandingan pendidikan bagi perempuan di beberapa negara Asia dan Afrika, di mana kondisinya memiliki persamaan dalam konstruksi sosiokultur, dan pengaruh interpretasi keagamaan yang dijadikan instrumen legitimasi superioritas laki-laki sangat tampak. Hal ini mempengaruhi ruang gerak perempuan pada wilayah publik, termasuk hak untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian ini adalah analisis komparatif tentang konstruksi sosial tentang perbedaan gender yang melahirkan ketidakadilan (gender inequalities) di Indonesia, Malaysia, Mesir dan Saudi Arabia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mulanya di beberapa negara di Asia (termasuk Indonesia) masih terjadi domestifikasi dan subordinasi pada perempuan, yang mana hal tersebut dibatasi dengan interpretasi agama yang selektif dan tradisional, sehingga mereka tidak mudah mengenyam pendidikan. Namun, dalam perkembangannya, terjadi peningkatan dalam keterlibatan perempuan di bidang pendidikan melalui pengarusutamaan gender oleh pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia di beberapa negara tersebut. Regulasi-regulasi yang telah ditetapkan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam masalah ketidaksetaraan gender yang terjadi. Pengarusutamaan gender merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia yang terkorelasi dengan pendidikan Islam. Di Indonesia, hal yang menjadi perhatian Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia adalah dengan menetapkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Madrasah. English:This article examines gender-mainstreaming effort from a perspective of comparative women education in several Asian and African countries, in which the countries have common socioculture condition and religious interpretation positioning male superiority over female. This situation affects female’s roles in public sphere, including female’s rights in pursuing higher degree of education. This study comparatively analyzes social contruction giving birth to gender inequalities in Indonesia, Malaysia, Egypt, and Saudi Arabia. The result of this study indicates several Asian countries (including Indonesia), at the beginning, experienced domestification and subordination of women due to traditional and selective religious interpretation, resulting difficulties to access to education for women. However, in its development, women has been increasingly involved in education through gender mainstreaming efforts by governments in order to develop human capacity in the countries. Several regulations indicates government’s serious efforts in solving the gender inequalities issues. This gender mainstreaming effort has become a part of human development strategy intergrated in Islamic education. In Indonesia, this issue got attention from Minister of Women Empowerment and Children Protection by issuing Ministry regulation No 11 of year 2010 regarding the Principality of Gender Mainstreaming in Madrasah.
ULAMA’ DAN KONTESTASI PENGETAHUAN DALAM SUDUT PANDANG AL QUR’ĀN Imron Mustofa
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.729 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.68-93

Abstract

Bahasa Indonesia:Ulama` merupakan predikat psikologis proses mental dan tujuan, penguasaan data konkret dan ketercapaian hakekat pengetahuan universal. Artikel merespon beberapa pertanyaan epistemologis tentang ulama, seperti asal muasal ilmu seorang ulama, peranan ilmu, cara memperoleh pengetahuan, dan tolok ukur keilmuan. Temuan dari tulisan ini adalah, pertama, ‘Ulamā` dalam Islam dipandang sebagai suatu representasi makna dari individu atau golongan yang bergelut dalam aktifitas mental-spiritual, guna mampu mengenal, membedakan, menilai dan menyimpulkan makna pokok dari realitas, bentuk, mode, kuantitas, substansi dan esensi sesuatu. Kedua, Untuk dapat, dikatakan ‘ulamā` seseorang harus memiliki kualifikasi yang sangat ketat. Ketiga, proses seorang ‘ulama` untuk mendapatkan kesimpulan melewati tahap persepsi oleh persepsi sensoris kemudian disalurkan kepada persepsi mental. Keempat, dengan segala kualifikasi, instrumen dan klasifikasi pengetahuannya seorang ulama’ dituntut mampu menjangkau dimensi-dimensi universal, permanen, personal, spiritual dari tujuan pendidikan dan organisasi ilmu pengetahuan serta mampu merealisasikannya dalam segala aspek partikular, sosial dan segala aspek lainnya hingga menjadi insān kāmil. English:Abstract:‘Ulamā` is a psychological predicate of mentality processes and purposes, mastering concrete information and achieving the essence of universal knowledge. This article responds several epistemological questions about ulama, such as their source of knowledge, functions of the knowledge, how to get the knowledge, and their standards of knowledge. Findings of this paper are, first of all, ‘Ulamā` in Islamic perspective is individual or group representation who deal with mental-spiritual activities in purpose of identifying, distinguishing, evaluating, and concluding the essence of reality, formats, modes, quantity, substance, and essence of a thing. Second, therefore, in order to get a predicate of ‘Ulamā`, one must have a very st frict qualification. Third, ‘Ulamā` gain their knowledge from thr step of sensory perception towards mental steps. Last, with qualification that one has, instruments and classification of knowledge belongs to ‘Ulamā` must reach universal, permanent, personal, and spiritual dimensions of aims of education and knowledge structure to realize it in all particular, social, and other aspects to achieve the state of insān kāmil.
PENGEMBANGAN KAPASITAS INSTITUSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA DI MADRASAH: PENDEKATAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT Mo'tasim Mo'tasim
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.237 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.206-226

Abstract

Bahasa Indonesia:Pengembangan kapasitas institusi dan sumber daya manusia di madrasah merupakan misi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam dewasa ini. Namun, manajerial kelembagaan madrasah masih belum memenuhi ekspektasi yang diharapkan jika dilihat dari kreativitas dan inovasinya. Melihat fenomena tersebut, kiranya upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif dalam mencapai tujuan pendidikan adalah mutlak membutuhkan budaya manajemen yang kualitas melalui Total Quality Management (TQM) adalah salah satu alternatif. Dengan manajemen tersebut, diharapkan efektifitas pola kerja di madrasah akan dapat terwujud secara menyeluruh. Artikel ini mengkaji tentang peran kepala madrasah dalam mengembangkan kapasitas institusi dan sumberdaya manusia melalui pendekatan TQM. Artikel ini mendeskripsikan penerapan TQM  dengan library research melalui analisis deskriptif non-statistik sebagai penyajian datanya.  Sebagai kesimpulan, kepemimpinan dan manajerial kepala madrasah berperan penting dalam menentukan  kebutuhan lembaga dan menyusun visi, misi dan tujuan lembaga. Di sisi lain, efektifitas TQM ditentukan oleh kemampuan kepala madrasah dalam hal manajerial, gagasan pembaharuan, efektifitas proses pembelajaran, pengelolaan tenaga kependidikan yang baik, partisipasi warga madrasah dan masyarakat, akuntabilitas dan motivasi untuk mewujudkan tim kerja yang solid.English:Institutional and human capacity development in madrasah is central in developing islamic education quality nowadays. However, the institutional management in madrasah has not yet meet the expectation from its creativity and innovation. Based upon the phenomenon, this paper offers   Total Quality Management (TQM) as an alternative to create conducive atmosphere in madrasah for achieving educational purposes. The management expects holistic-effective workflow in madrasah. This article focuses on the role of madrasah principal in developing institutional and human capacity through the TQM. With library research, this article describes the TQM implementation and provides descriptive non-statistical analysis in providing the data. As a conclusion, the madrasah principal’s leadership and managerial role are the very important factors to decide intitutional needs and constructing institutional visions-missions-aims. In addition, the TQM effectiveness depends on the principal’s ability in managing, offering innovation, creating effective learning activities, managing staffs, involving stakeholders, promoting accountability, and motivating people for a solid teamwork.
ULAMA PEREMPUAN DAN DEDIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM (Telaah Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah) Rohmatun Lukluk Isnaini
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.052 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.1.1-19

Abstract

Bahasa Indonesia:Istilah ulama biasanya identik dengan laki-laki, namun disini Rahmah El-Yunusiyah bisa disebut dengan ulama karena banyak hal yang melekat pada dirinya bisa merepresentasikan sebagai seorang alim yang mempunyai kapasitas keilmuan yang mumpuni tentang agama, sikap progresifnya untuk memperjuangkan kaumnya hingga pengakuan dari masyarakat luas baik di Indonesia hingga dunia internasional terhadap kiprahnya dalam pembaharuan pendidikan bagi perempuan. Tulisan ini menelaah pemikiran Rahmah El-Yunusiyah tentang pendidikan perempuan dijamannya melalui penelusuran buku-buku teks sejarah dan berbagai literatur. Penulis berusaha menyajikan gambaran sejarah perjuangan pendidikan bagi perempuan yang telah dilakukan Rahmah El-Yunusiyah sebagai fakta sejarah tentang peran penting perempuan dalam bersosial masyarakat sehingga perlu untuk terus diperjuangkan hingga saat ini. Sebagaimana yang telah dilakukan Rahmah El-Yunusiyah sebagai pembaharu pendidikan bagi perempuan dengan mendirikan sekolah khusus perempuan dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kontribusinya dalam memperjuangkan pendidikan perempuan sangat besar, terlihat sekarang perempuan Indonesia telah dapat secara mudah untuk dapat mengakses pendidikan. Betapa perempuan sebagai tiang negara memiliki andil besar dalam menentukan masa depan bangsa. English:The term ulama is usually identical to men. However, Rahmah El-Yunusiyah is also called as an ulama because several factors attached to her such as representation as an alim with religious knowledge capacity, progressive attitudes for her community development, and the recognition of wider community both in Indonesia and in international regarding her work in woman education reform. This paper examines Rahmah El-Yunusiyah’s consideration about female education in the past through historical texts and related literatures. The author attempt to present a historical overview of El-Yunusiyah’s struggle for women's education as the historical facts about the important role of women in society. El-Yunusiyah was as a reformer of woman education who set up woman school of the primary level up to the university level. Her great contribution in education is now visible that Indonesian women have easy access to education. This effort shows that women as a pillar of the state has a big responsibility to determine the future of the nation.
Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Berbasis Adiwiyata pada Mata Pelajaran Fiqih di MTsN Tambakberas Jombang Mukani Mukani; Teto Sumarsono
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.387 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.181-200

Abstract

Bahasa Indonesia:Setiap individu memiliki peran dengan lingkungan sekitarnya dan dapat menciptakan perubahan, terutama tentang kebersihan lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan dari lingkup terkecil, yaitu keluarga, sekolah dan madrasah. Artikel ini membahas pembelajaran mata pelajaran fiqih berbasis program adiwiyata yang dilaksanakan di MTsN Tambakberas Jombang dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karakter peserta didik MTsN Tambakberas terhadap kepedulian lingkungan terintegrasi dengan baik melalui pelajaran fiqih dan mata pelajaran lainnya. Sehingga pada mata pelajaran apapun peserta didik akan tetap diingatkan dan dimotivasi untuk selalu peduli dan cinta kepada lingkungannya. Hal ini disebabkan oleh dua usaha, yaitu pembiasaan dan partisipasi. Implementasi pembelajaran fiqih dalam pembentukan karakter peduli lingkungan dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melalui pemberian materi yang terintegrasi dengan mata pelajaran dan juga praktik di lapangan.English:Everyone has environmental role to create changes, especially in creating cleanliness. Environmental concerns may begin from the smallest scopes, such as family and school or madrasah. This article deals with Islamic jurisprudence learning with concerns of Adiwiyata achievement in MTsN Tambakberas Jombang. This study is using qualitative approach and is conducted at di MTsN Tambakberas Jombang. The result shows that students’ attitudes toward environmental issues is satisfying through integration of the issues in Islamic jurisprudence class and other classes. Therefore, in any classes, students are always motivated to love and responsible with their environment. This is a result of two efforts, habitual development and participation. Islamic jurisprudence class contributes in the character building of environmental concerns, either through integrating the concerns into the teaching materials and practice in the fields.
DEMOKRATISASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PANDANGAN KH. ABDUL WAHID HASYIM Moh. Ismail
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.718 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.315-336

Abstract

Bahasa Indonesia:Perkembangan demokrasi dalam masyarakat menghendaki pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan oleh masyarakat terutama peserta didik. Pendidikan model lama yang menganggap peserta didik sebagai gentong yang diisi semuanya oleh pendidik atau yang oleh Paulo Friere dikatakan dengan sistem bank, perlu diganti dengan sistem pendidikan yang dapat mengembangkan kemampuan rakyat (people empowerment). Pada dasarnya, prinsip demokrasi itu memberi hak semua orang untuk mengambil keputusan dan memandang semua orang mempunyai posisi yang setara. Oleh karena itu, dalam demokrasi harus ada yang namanya kebebasan, harus ada penghormatan akan martabat orang lain, harus ada persamaan dan juga harus dapat menjamin tegaknya keadilan. Di Indonesia, KH. Abdul Wahid Hasyim berusaha menghadirkan konsep pendidikan Islam yang demokratis dalam rangka menjembatani permasalahan-permasalahan sosial terkini yang ada. Pendidikan Islam yang demokratis memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk terlibat langsung dalam mengembangkan kemampuannya, sehingga siswa bisa menjadi manusia yang kritis dan kreatif. English:The development of democratic society deserves education based upon societal needs, especially from students’ need perspectives. Traditional education with -in Freire’s terms- Banking education needs to be substituted by people empowerment education. Basically, democracy provides every individual the same rights to decide as everyone is in the equal position. Therefore, freedom is required in democracy as well as respects to others, and justice guarantee. Indonesia’s KH. Abdul Wahid Hasyim attempts to display democratic Islamic education in purpose of solving contemporary social problems. The education provides opportunity to every students in directly involving activities for skill development; therefore the students are able to be more critical and creative. 
INTERNALISASI NILAI-NILAI RELIGIUS BERBASIS MULTIKULTURAL DALAM MEMBENTUK INSAN KAMIL Muh. Khoirul Rifa'i
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.964 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.1.116-133

Abstract

Bahasa Indonesia:Globalisasi membawa dampak pada persaingan keunggulan di aspek-aspek kehidupan. Dalam konteks pendidikan, persaingan mendapatkan pendidikan terbaik dalam prestasi akademis telah menjadi semacam kompetisi. Di sinilah muncul tuntutan dari beberapa pihak pengguna pendidikan untuk memunculkan keunggulan manusia melalui konsep insan kamil di dunia pendidikan. Insan kamil dapat dibentuk jika manusia saling menghormati dan menjalankan ajaran agamanya dengan murni dan konsekuen. Nilai religius multikultural merupakan nilai urgen untuk diinternalisasikan kepada peserta didik karena nilai tersebut akan mampu menjadikan peserta didik menjadi lebih toleran dan lebih religius bahkan mengamalkan ajaran agamanya dan menyentuh afeksi dan psikomotoriknya. Kertas kerja ini membahas tentang Internalisasi nilai religius multikultural dengan membentuk budaya religius multikultural sehingga pada akhirnya anak didik akan terbiasa mengamalkan nilai-nilai religius dan akan menjadi anak didik yang menghormati sesamanya bahkan dengan yang lain agama.English:Globalization brings competition in life aspects. In terms of education, rivalry in going to the best education for best academic achievement provider has become a kind of competition. This emerges demands from education users to emerge human excellence through the concept of insan kamil (honorific personality) in education. Honorific personality can be forms when human being respect each other and practice religions purely and consequently. The religious-multicultural values are urgently internalized to students as it promotes tolerance and religiousity so that the religious practice is alive in students’ affective and psychomotoric domains. This working paper is dealing with internalization process of religious-multicultural values by creating the culture of religiousity and multiculture to form the habit of respecting, despite with those from different religions.
Rekontekstualisasi Sejarah: Kontribusi Lembaga Pendidikan Islam terhadap Dakwah Rasulullah SAW Musaddad Harahap; Lina Mayasari Siregar
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1373.067 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.2.288-308

Abstract

Bahasa Indonesia:Tulisan ini mencoba menyelami kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam merangkai ajaran-ajaran Islam menjadi satu kesatuan yang utuh lewat pendidikan. Selama kurun 23 tahun Islam sudah menjadi ajaran yang mapan penuh dengan rahasia keilmuan, sehingga Islam dijuluki sebagai agama yang rahmatallil’alamin. Dengan pendekatan studi pustaka, penelitian ini memaparkan keberhasilan Nabi SAW dalam menyampaikan risalah kenabian yang sangat didukung oleh tempat-tempat yang representatif dalam mengajarkan pada waktu itu. Tempat-tempat yang dimaksud telah mengalami akulturasi budaya sebelum datangnya isalm dan terus berkembang bersamaan kedatangan Islam itu sendiri. Mengenai tempat yang berakultrasi dengan Islam adalah kuttab dan rumah, sementara yang tumbuh bersama dengan Islam itu sendiri adalah masjid dan suffah. Keempat lembaga pendidikan Islam yang disebutkan menjadi saluran utama yang digunakan Nabi SAW dalam mendidik para sahabatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang peduli dengan pendidikan dan sangat fleksibel terhadap kondisi dan situasi bagaimana agar proses pendidikan itu dapat berjalan. Kontribusi lembaga pendidikan Islam selain mampu menciptakan perubahan mendasar dalam konteks keagamaan dan kehidupan sosial juga menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka (inkulsif) terhadap perubahan sosial selama tidak bertetangan dengan aqidah. English: This paper attempts to examine the success of Prophet Muhmmad PBUH in arranging Islamic teachings into a set through education. Within 23 years, Islam emerged into an established teaching and full of hidden knowledge, making Islam gets predicate of blessing for the universe. Through literary study, this research explains the success of the prophet in delivering prophetic messages with support of representative teaching places at the period. The places acculturated with the coming of Islam and keep growing along with the development of Islam. Kuttab and house has acculturated with Islam and Mosques and Suffah have grown together with Islam. The four kind of places became main channels for the prophet PBUH in educating his companions. Therefore, it can be concluded that Islam is a religion with high education concerns and quite flexible towards condition and situation where the educational process takes place. Islamic educational institution is not only creating fundamental change in religious and social life, but also making Islam as an inclusive religion to social changes as long as the changes are not contradictory to Islamic faith. 

Page 6 of 15 | Total Record : 144